Tantangan Dan Harapan Keanekaragaman

  • View
    263

  • Download
    24

Embed Size (px)

DESCRIPTION

keanekaragaman

Text of Tantangan Dan Harapan Keanekaragaman

STUDI MANDIRI I (BIO 743)Dosen Pembina :Prof. Dr. H. Yusuf AbdurrajakGEOMIKROBIOLOGI EMAS Diangkat dari Artikel Berjudul :THE GEOMICROBIOLOGY OF GOLD Ditulis olehFrank Reith1, Maggy F Lengke2, Donna Falconer3, David Craw3 and Southam4OlehSITI SUNARIYATINIM: 109662627743KPS: DB1O015007Program Doktor Pendidikan BiologiPROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGIPROGRAM PASCA SARJANAUNIVERSITA NEGERI MALANGJanuari 2010VI. TANTANGAN DAN HARAPAN KEANEKARAGAMAN HAYATI INDONESIAKONDISI KEANEKARAGAMAN HAYATI INDONESIAWilayah Republik Indonesia yang terdiri dari 17.058 pulau itu memiliki keanekaragaman tumbuhan, hewan jasad renik yang tinggi, termasuk tingkat endemisnya. Keanekaragaman yang tinggi akan menghasilkan kestabilan lingkungan yang mantap. Keanekaragaman ekosistem, tercakup di dalamnya genetik, jenis beserta lingkungannya Keanekaragaman ekosistem merupakan keanekaragaman hayati yang paling kompleks. Berbagai keanekaragaman ekosistem yang ada di Indonesia misalnya ekosistem hutan, lahan basah, mangrove, terumbu karang, padang lamun dan berbagai ekosistem lainnya yang terbentang dari mulai gunung sampai ka laut.Keanekaragaman hayati menyediakan berbagai barang dan jasa, mulai dari pangan, energi, dan bahan produksi hingga sumber daya genetik bahan dasar pemuliaan tanaman komoditas serta obat. Selain itu keanekaragaman hayati juga berfungsi untuk mendukung sistem kehidupan, seperti menjaga kualitas tanah, menyimpan-memurnikan dan menjadi reservoir air, menjaga siklus pemumian udara, siklus karbon, dan nutrisi.Indonesia menduduki posisi yang penting dalam peta keanekaragaman hayati dunia karena termasuk dalam sepuluh negara dengan kekayaan keanekaragaman hayati tertinggi (Primack etal, 1998). Indonesia merupakan negara kepulauan yang terielak dalam lintasari distribusi keanekaragaman hayati benua Asia (Pulau Jawa, Sumatera dan Kalimantan) dan benua Australia (Pulau Papua) dan sebaran wilayah paralihan Wallacea (Pulau Sulawesi, Maluku dan Nusa Tenggara) yang memiliki keanekaragaman hayati yang kaya dengan tingkat kekhasan yang tinggi dengan tingkat endemisme masing-masing, seperti pada Tabel 7.1TAB EL 7.1 KEANEKARAGAMAN HAYAT1 PADA TIAP REGION DAN TINGKAT ENDEMISNYAPutauBurung (jenis)Endemik(%)Maroalla (jenis)Endemik(%)Reptil(jenis)Endemik(%)Tumbuhan (Jenis)Endemik (%)Papua602521255822335103055Maluku21033691798183806Sulawesi24230411277221503Kalimantan2893211460117265207Jawa Bali36271331217386305Sumatera4662194102171182011Sumber: Departemen Kehutanan, 1994Indonesia juga memiliki kekayaan spesies satwa yang sangat tinggi, walaupun Indonesia hanya memiliki luas daratan sekitar 1,3 persen dari luas daratan dunia (Milttermeier et 1.1997). Indonesia memiliki sekitar 12 persen (515 jenis) dari total jenis binatang menyusui (mamalia), 7,3 persen (511 jenis) dari total reptil dan 17persen (1531 jenis) dari total jenis bunjng di dunia, 270 jenis Amphibi, 2827 jenis ikan tidak bertulang belakang: serta 47 jenis ekosistem. Selain itu sebagai bagian terbesar di kawasan Indo Malaya, Indonesia merupakan salah satu dad 12 pusat distribusi keanekaragaman genetik tanaman atau yang lebih dikenal sebagai Vavilov Centre.Keanekaragaman hayati Indonesia mangalami erosi yang tinggi, yang apabila tidak sagera dihentikan akan merosot terus menerus. Sekitar 20-70 persen habitat asli telah lenyap (Bappenas, 1993). Walaupun sulit dipastikan. diperkirakan satu spesies punah setiap harinya (KLH, 1997) Sementara penyusutan keanekaragaman genetik, terutama di spesies liar, belum terdokumentasi dengan baik padahal sumber daya genetik yang ada belum dimanfaatkan secara optimal untuk kesejahteraan rakyat.UPl (2006) mengatakan penyelamatan kenekaragaman hayati menjadi keperiuan yang sangat mendesak. "Bahkan suatu keharusan," tegasnya. Menurutnya, jika penyelamatan tidak segera dilakukan maka keberadaan manusia akan terancam. Berdasarkan data dan fakta yang ada, terlihat bahwa keanekaragaman hayati terus menerus mengalami kemerosotan. "Hutan tropika yang menjadi gudang keanekaragaman hayati telah menyusut lebih dan setengahnya," paparnya. Bahkan menurutnya lahan pertanian juga telah mengalami degradasi, baik kualitas maupun kuantitasnya. Ditambahkannya, menjadi satu ancaman yang serius bagi manusia karena bila seandainya hanya tersedia satu jumlah varietas padi, yang akhimya punah. Varietas padi yang merupakan komponen pangan utama, yang menyusun 26% penyediaan pangan manusia, sangat tergantung pada keanekaragaman hayati,"tambahnya. Salah satu tujuan Lokakarya ini adalah mengevaluasi keberhasilan dan kegagalan tindakan yang telah dilakukan dalam upaya mengatasi ancaman-ancaman terhadap keragaman hayati di Indonesia.Keanekaragaman hayati di ujung tanduk, begitulah keadaan keanekaragaman hayati pada tingkatan global, di seluruh dunia. Tidak berbeda keadaannya di Indonesia. Bangsa di bagian dunia manapun akan tergantung pada keanekaragaman hayati untuk kelangsungan hidupnya. Keanekaragaman hayati merupakan suatu fenomena alam mengenai keberagaman makhluk hidup, dan kompleks ekologi yang menjadi tempat hidup bagi makhluk itu. Keanekaragaman hayati dengan pengertian seperti itu mencakup interaksi antara berbagai bentuk kehidupan dan dengan lingkungannya, yang membuat bumi ini menjadi tempat yang layak huni dan mampu menyediakan jumlah besar barang dan jasa bagi kehidupan dan kesejahteraan manusia.Walaupun demikian, keanekaragaman hayati terus-menerus mengalami kemerosotan. Keanekaragaman hayati terdapat di berbagai ekosisem, baik yang terestrial (daratan) maupun yang akuatik. Di kedua bentuk ekosistem ini, keanekaragaman hayati menghadapi ancaman serius. Hutan tropika yang menjadi gudang keanekaragaman hayati te'ah menyusut lebih dari setengahnya. Lahan pertanian telah mengalami degradasi, baik kualitasnya maupun kuantitasnya. Hampir dua pertiga lahan pertanian telah terdegradasi. Ancaman dan kerusakan juga dialami oleh terumbu karang, mangrove dan kehidupan laut lainnya. Dengan kondisi keanekaragaman hayati seperti ini, manusia yang sadar akan pentingnya dan sadar akan adanya ancaman terhadap keanekaragaman hayati telah melakukan upaya.Berbagai penyebab penurunan keanekaragaman hayati di berbagai ekosistem antara lain konversi lahan, pencemaran, exploitasi yang berlebihan, praktik teknologi yang merusak, masuknya jenis asing, dan perubahan iklim. Berikut beberapa illustrasi kerusakan keanekaragaman hayati pada tingkat ekosistem, jenis spesies dan genetik:Kerusakan EkosistemEkosistem hutan mengalami ancaman berupa penebangan hutan (deforestasi), fragmentasi dan konversi menjadi bentuk pemanfaatan lain. Berdasarkan data Bank Dunia 2001 diperkirakan bahwa penggundulan hutan di Indonesia mencapai 1,6 juta ha/tahun atau tiga ha per menit (Bank Dunia, 2001) hingga dua juta ha/tahun (Forest Watch Indonesia, 2001). Jika penggundulan hutan terjadi secara terus menerus, maka akan mengancam spesies flora dan fauna dan merusak sumber penghidupan masyarakat.Pembukaan jalan dalam kawasan yang dilindungi lebih banvak membawa dampak negatif bagi lingkungan. Saat ini kekhawatiran banyak pihak akan dampak dan pembangunan jalan di kawasan lindung akan terulang kembali karena adanya rencana pembangunan jalan Ladia Galaska yang memotong kawasan Ekosistrem Leuser di Provinsi Nagroe Aceh Danassalam, yang meliputi antara lain hutan lindung, hutan konservasi (taman bum dan taman nasional), hutan produksi dan lain sebagainya.Indonesia mempunyai lahan basah (termasuk hutan rawa gambut) teriuas di Asia, yaitu 38 juta ha yang tersebar mulai dan bagian timur Surhatera, Kalimantan, Sulawesi, Jawa. Maluku sampai Papua. Tetapi luas lahan basah tersebut telah menvusut menjadi kurang lebih 25,8 juta ha (Suryadipatra, 1994). Penyusutan lahan basah dikarenakan berubahnya fungsi rawa sebesar 37,2 persen dan mangrove 32,4 persen.Luas hutan mangrove berkurang dari 5,2 juta ha tahun 1982 menjadi 3,2 juta ha tahun 1987 dan menciut lagi menjadi 2,4 juta ha tahun 1993 akibat maraknya konversi mangrove menjadi kawasan budi daya (Suryadiputra, 1994, Dahurietal, 2001).Luas terumbu karang Indonesia diduga berkisar antara 50.020 Km2 Moosa dkk. 1996 dalam KLH, 2002) hingga 85.000 Km2 (Dahuri 2002). Hanya sekitar 6 persen terumbu karang dalam kondisi sangat baik, diperkirakan sebagian terumbu karang Indonesia akan hilang dalam 10-20 tahun dan sebagian lainnya akan hilang dalam 20-40 tahun. Rusaknya terumbu karang mempunyai dampak pada masyarakat pesisir, misalnya berkurangnya mata pencaharian nelayan kecil. Kepunahan SpesiesSatu spesies diperkirakan punah setiap harinyra (KMNNLH, 1997). Inventarisasi yang dilakukan oleh badan-badan internasional, seperti International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) dapat dijadikan indikasi tentang keterancaman spesies. Pada 1988 sebanyak 126 spesies burung, 63 spesies binatang lahnya dinyatakan berada di ambang kepunahan (BAPPENAS, 1993). Pada 2002, Reef data List IUCN menunjukan 772 jenis flora dan fauna terancam punah, yaitu terdiri dari 147 spesies mamalia, 114 burung, 28 reptilia, 68 ikan; 3 moluska, dan 28 spesies lainnya serta 384 spesies tumbuhan. Salah satu spesies tumbuhan yang baru-baru ini juga dianggap telah punah adalah ramin (Ganystylus bancarrus). Spesies tersebut sudah dimasukkan ke dalam Appendix III Convention of International Trade of Endeggered Species of Flora and Fauna (CITES). Sekitar 248 spesies tanaman dinyatakan mulai langka, di antaranya banyak yang merupakan kerabat dekat tanaman budidaya. Paling tidak 52 spesies keluarga anggrek (Orchidaceae) dinyatakan langka.Kepunahan jenis di Indonesia terutama disebabkan oleh degradasi habitat (deforestasi, perubahan peruntukan lahan), bencana (kebakaran eksploitasi secara tidak bijaksana (perburuan pemanenan liar) dan masuknva spesies asing invasif serta perdagangan satwa liar.Perdagangan satwa liar menjadi ancaman serius bagi kelestarian satwa liar Indonesia. Lebih dari 90 persen satwa yang dijual di pasar adalah hasil tangkapan dari alam, bukan hasil penangkaran. Lebih dari

Search related