of 32 /32
TERAPI BERMAIN PADA ANAK PRE SCHOOL & SCHOOL DENGAN DHF BINAWAN INSTITUTE OF HEALTH SCIENCES JAKARTA 2011 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

TERAPI BERMAIN UNIK

Embed Size (px)

DESCRIPTION

perawatan

Text of TERAPI BERMAIN UNIK

TERAPI BERMAINPADA ANAK PRE SCHOOL & SCHOOLDENGAN DHF

BINAWAN INSTITUTE OF HEALTH SCIENCESJAKARTA2011

BAB IPENDAHULUAN

A. Latar BelakangHospitalisasi merupakan keadaan dimana orang sakit berada pada lingkungan rumah sakit untukm mendapatkan pertolongan dalam peawatan atau pengobatan dalam perawatan atau pengobatan sehingga dapat mengatasi atau meringankan penyakitnya. Tetapi pada umumnya hospitalisasi dapat menimbulkan ketegangan dan ketakutan serta dapat menimbulkan ketegangan dan ketakutan serta dapat menimbulkan gangguan emos atau tingkah laku yang mempengaruhi kesembuhan dan perjalanan penyakit anak selama dirawat dirumah sakit. Hospitalisasi pada anak akan memberikan dampak negatif seperti trauma, cemas dan ketakutan.Bermain adalah bagian integral dari masa kanak-kanak, media yang unik untuk memfasilitasi perkembangan ekspresi bahasa, ketrampilan komunikasi, perkembangan emosi, ketrampilan sosial, ketrampilan pengambilan keputusan, dan perkembangan kognitif pada anak-anak (Landreth, 2001). Bermain juga dikatakan sebagai media untuk eksplorasi dan penemuan hubungan interpersonal, eksperimen dalam peran orang dewasa, dan memahami perasaannya sendiri. Bermain adalah bentuk ekspresi diri yang paling lengkap yang pernah dikembangkan manusia. Erikson (Landreth, 2001) mendefinisikan bermain sebagai suatu situasi dimana ego dapat bertransaksi dengan pengalaman dengan menciptakan situasi model dan juga dapat menguasai realitas melalui percobaan dan perencanaan. Sementara Landreth (2001) mendefinisikan terapi bermain sebagai hubungan interpersonal yang dinamis antara anak dengan terapis yang terlatih dalam prosedur terapi bermain yang menyediakan materi permainan yang dipilih dan memfasilitasi perkembangan suatu hubungan yang aman bagi anak untuk sepenuhnya mengekspresikan dan eksplorasi dirinya (perasaan, pikiran, pengalaman, dan perilakunya) melalui media bermain. International Association for Play Therapy (APT), sebuah asosiasi terapi bermain yang berpusat di Amerika, dalam situsnya di internet mendefinisikan terapi bermain sebagai penggunaan secara sistematik dari model teoritis untuk memantapkan proses interpersonal dimana terapis bermain menggunakan kekuatan terapiutik permainan untuk membantu klien mencegah atau menyelesaikan kesulitan-kesulitan psikososial dan mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal (www.a4pt.org). Beberapa definisi terapi bermain tersebut mengarah pada beberapa hal penting, yaitu: (a) tipe dan jumlah permainan yang digunakan; (b) konteks permainan; (c) partisipan yang terlibat; (d) urutan permainan; (e) ruang yang digunakan; (f) gaya bermain; (g) tingkat usaha yang dicurahkan dalam permainan. Terapi bermain adalah pemanfaatan permainan sebagai media yang efektif oleh terapis, untuk membantu klien mencegah atau menyelesaikan kesulitan psikososial dan mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal, melalui kebebasan eksplorasi dan ekspresi diri.Melihat pentingnya bermain bagi seorang anak terutama anak yang mengalami hospitalisasi, maka kelompok akan mengadakan terapi bermain dengan sasaran usia preschool ( >3 tahun sampai 6 tahun) dan School (> 6 tahun sampai 12 tahun) yang berada diruang rawat inap anak RSUD Budi Asih Lantai 6 Timur. Kelompok berharap dengan diadakannya terapi bermain ini, anak yang dirawat tetap dapat tumbuh dan berkembang secara optimal sesuai tahap tumbuh kembangnya.

B. Tujuan a. Tujuan umumAnak diharapkan dapat melanjutkan tumbuh kembangnya, mengembangkan aktifitas dan kreatifitas melalui pengalaman bermain dan beradaptasi efektif terhadap stress karena penyakit dan dirawat.

b. Tujuan Khusus1. Meningkatkan volume cairan di dalam tubuh anak2. Merangsang kemauan anak untuk mengkonsumsi minuman yang dapat membantu mempercepat proses penyembuhan3. Gerakan motorik halusnya lebih terarah4. Mengembangkan kognitifnya5. Mampu meningkatkan kemampuan mewarnai yang dimiliki oleh anak6. Mampu bersosialisasi dan berkomunikasi dengan teman yang dirawat di ruang yang sama7. Mampu mengurangi kejenuhan selama dirawat di RS 8. Mampu beradaptasi secara efektif terhadap stress karena sakit dan dirawat dirumah sakit

BAB IITINJAUAN TEORI

A. Konsep Dasar Bermaina. PengertianBermain merupakan cerminan kemampuan fisik, intelektual, emosional, dan social dan bermain merupakan media yang baik untuk belajar karena dengan bermain, anak-anak akan berkata-kata (berkomunikasi), belajar menyesuaikan diri dengan lingkungan, melakukan apa yang dapat dilakukannya, dan mengenal waktu, jarak serta suara (Wong, 2000).Bermain adalah suatu kegiatan yang dilakukan dengan atau tanpa mempergunakan alat yang menghasilkan atau memberikan informasi, memberi kesenangan maupun mengembangkan imajinasi anak (Anggani Sudono, 2000).Bermain sama dengan bekerja pada orang dewasa, dan merupakan aspek terpenting dalam kehidupan anak serta merupakan satu cara yang paling efektif untuk menurunkan stress pada anak, dan penting untuk kesejahteraan mental dan emosional anak (Champbell dan Glaser, 1995). Bermain tidak sekedar mengisi waktu tetapi merupakan kebutuhan anak seperti halnya makanan, perawatan dan cinta kasih. Dengan bermain anak akan menemukan kekuatan serta kelemahannya sendiri, minatnya, cara menyelesaikan tugas-tugas dalam bermain (Soetjiningsih, 1995).Dari beberapa pengertian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa bermain merupakan aspek penting dalam kehidupan anak yang mencerminkan kemampuan fisik, intelektual, emosional, dan social anak tersebut. Walaupun tanpa mempergunakan alat yang menghasilkan atau memberikan informasi, memberi kesenangan maupun mengembangkan imajinasi anak, dalam bermain anak akan menemukan kekuatan serta kelemahannya sendiri, minatnya, serta cara menyelesaikan tugas-tugas dalam bermain. b. Fungsi BermainFungsi utama bermain adalah merangsang perkembangan sensoris-motorik, perkembangan intelektual, perkembangan social, perkembangan kreativitas, perkembangan kesadaran diri, perkembangan moral dan bermain sebagai terapi.1. Perkembangan Sensoris MotorikPada saat melakukan permainan, aktivitas sensoris-motorik merupakan komponen terbesar yang digunakan anak dan bermain aktif sangat penting untuk perkembangan fungsi otot. Misalnya, alat permainan yang digunakan untuk bayi yang mengembangkan kemampuan sensoris-motorik dan alat permainan untuk anak usia toddler dan prasekolah yang banyak membantu perkembangan aktivitas motorik baik kasar maupun halus.2. Perkembangan IntelektualPada saat bermain, anak melakukan eksplorasi dan manipulasi terhadap segala sesuatu yang ada di lingkungan sekitarnya, terutama mengenal warna, bentuk, ukuran, tekstur dan membedakan objek. Pada saat bermain pula anak akan melatih diri untuk memecahkan masalah. Pada saat anak bermain mobil-mobilan, kemudian bannya terlepas dan anak dapat memperbaikinya maka ia telah belajar memecahkan masalahnya melalui eksplorasi alat mainannya dan untuk mencapai kemampuan ini, anak menggunakan daya pikir dan imajinasinya semaksimal mungkin. Semakin sering anak melakukan eksplorasi seperti ini akan semakin terlatih kemampuan intelektualnya.3. Perkembangan SocialPerkembangan social ditandai dengan kemampuan berinteraksi dengan lingkungannya. Melalui kegiatan bermain, anak akan belajar memberi dan menerima. Bermain dengan orang lain akan membantu anak untuk mengembangkan hubungan social dan belajar memecahkan masalah dari hubungan tersebut. Pada saat melakukan aktivitas bermain, anak belajar berinteraksi dengan teman, memahami bahasa lawan bicara, dan belajar tentang nilai social yang ada pada kelompoknya. Hal ini terjadi terutama pada anak usia sekolah dan remaja. Meskipun demikian, anak usia toddler dan prasekolah adalah tahapan awal bagi anak untuk meluaskan aktivitas sosialnya dilingkungan keluarga.4. Perkembangan KreativitasBerkreasi adalah kemampuan untuk menciptakan sesuatu dan mewujudkannya kedalam bentuk objek dan/atau kegiatan yang dilakukannya. Melalui kegiatan bermain, anak akan belajar dan mencoba untuk merealisasikan ide-idenya. Misalnya, dengan membongkar dan memasang satu alat permainan akan merangsang kreativitasnya untuk semakin berkembang.5. Perkembangan Kesadaran DiriMelalui bermain, anak mengembangkan kemampuannya dalam mengatur mengatur tingkah laku. Anak juga akan belajar mengenal kemampuannya dan membandingkannya dengan orang lain dan menguji kemampuannya dengan mencoba peran-peran baru dan mengetahui dampak tingkah lakunya terhadap orang lain. Misalnya, jika anak mengambil mainan temannya sehingga temannya menangis, anak akan belajar mengembangkan diri bahwa perilakunya menyakiti teman. Dalam hal ini penting peran orang tua untuk menanamkan nilai moral dan etika, terutama dalam kaitannya dengan kemampuan untuk memahami dampak positif dan negatif dari perilakunya terhadap orang lain6. Perkembangan MoralAnak mempelajari nilai benar dan salah dari lingkungannya, terutama dari orang tua dan guru. Dengan melakukan aktivitas bermain, anak akan mendapatkan kesempatan untuk menerapkan nilai-nilai tersebut sehingga dapat diterima di lingkungannya dan dapat menyesuaikan diri dengan aturan-aturan kelompok yang ada dalam lingkungannya. Melalui kegiatan bermain anak juga akan belajar nilai moral dan etika, belajar membedakan mana yang benar dan mana yang salah, serta belajar bertanggung-jawab atas segala tindakan yang telah dilakukannya. Misalnya, merebut mainan teman merupakan perbuatan yang tidak baik dan membereskan alat permainan sesudah bermain adalah membelajarkan anak untuk bertanggung-jawab terhadap tindakan serta barang yang dimilikinya. Sesuai dengan kemampuan kognitifnya, bagi anak usia toddler dan prasekolah, permainan adalah media yang efektif untuk mengembangkan nilai moral dibandingkan dengan memberikan nasihat. Oleh karena itu, penting peran orang tua untuk mengawasi anak saat anak melakukan aktivitas bermain dan mengajarkan nilai moral, seperti baik/buruk atau benar/salah.7. Bermain Sebagai TerapiPada saat dirawat di rumah sakit, anak akan mengalami berbagai perasaan yang sangat tidak menyenangkan, seperti marah, takut, cemas, sedih, dan nyeri. Perasaan tersebut merupakan dampak dari hospitalisasi yang dialami anak karena menghadapi beberapa stressor yang ada dilingkungan rumah sakit. Untuk itu, dengan melakukan permainan anak akan terlepas dari ketegangan dan stress yang dialaminya karena dengan melakukan permainan anak akan depat mengalihkan rasa sakitnya pada permainannya (distraksi) dan relaksasi melalui kesenangannya melakukan permainan. Dengan demikian, permainan adalah media komunikasi antar anak dengan orang lain, termasuk dengan perawat atau petugas kesehatan dirumah sakit. Perawat dapat mengkaji perasaan dan pikiran anak melalui ekspresi nonverbal yang ditunjukkan selama melakukan permainan atau melalui interaksi yang ditunjukkan anak dengan orang tua dan teman kelompok bermainnya.

c. Klasifikasi Bermain1. Berdasarkan Isi Permainana. Social affective playInti permainan ini adalah adanya hubungan interpersonal yang menyenangkan antara anak dan orang lain. Misalnya, bayi akan mendapatkan kesenangan dan kepuasan dari hubungan yang menyenangkan dengan orang tuanya atau orang lain. Permainan yang biasa dilakukan adalah Cilukba, berbicara sambil tersenyum dan tertawa, atau sekadar memberikan tangan pada bayi untuk menggenggamnya, tetapi dengan diiringi berbicara sambil tersenyum dan tertawa. Bayi akan mencoba berespons terhadap tingkah laku orang tuanya misalnya dengan tersenyum, tertawa, dan mengoceh.b. Sense of pleasure playPermainan ini menggunakan alat yang dapat menimbulkan rasa senang pada anak dan biasanya mengasyikkan. Misalnya, dengan menggunakan pasir, anak akan membuat gunung-gunungan atau benda-benda apa saja yang dapat dibentuknya dengan pasir . Bisa juga dengan menggunakan air anak akan melakukan macam-macam permainan, misalnya memindah-mindahkan air ke botol, bak, atau tempat lain. Ciri khas permainan ini adalah anak akan semakin asyik bersentuhan dengan alat permainan ini dan dengan permainan yang dilakukannya sehingga susah dihentikanc. Skill play Sesuai dengan sebutannya, permainan ini akan meningkatkan ketrampilan anak, khususnya motorik kasar dan halus. Misalnya, bayi akan terampil memegang benda-benda kecil, memindahkan benda dari satu tempat ke tempat yang lain, dan anak akan terampil naik sepeda. Jadi, keterampilan tersebut diperoleh melalui pengulangan kegiatan permainan yang di lakukan. Semakin sering melakukan latihan, anak akan semakin terampil.d. Games atau permainanGames atau permainan adalah jenis permainan yang menggunakan alat tertentu yang menggunakan perhitungan atau skor. Permainan ini bisa dilakukan oleh anak sendiri atau dengan temannya. Banyak sekali jenis permainan ini mulai dari yang sifatnya tradisional maupun yang modern.misalnya, ular tangga, congklak, puzzle, dan lain-lain.e. Unoccupied behaviourPada saat tertentu, anak sering terlihat mondar-mandir, tersenyum, tertawa, jinjit-jinjit, bungkuk-bungkuk, memainkan kursi, meja, atau apa saja yang ada di sekelilingnya. Jadi, sebenarnya anak tidak memainkan alat permainan tertentu, dan situasi atau obyek yang ada di sekelilingnya yang di gunakannya sebagai alat permainan. Anak tampak senang, gembira, dan asyik dengan situasi serta lingkungannya tersebut .f. Dramatic playSesuai dengan sebutannya, pada permainan ini anak memainkan peran sebagai orang lain melalui permainannya. Anak berceloteh sambil berpakaian meniru orang dewasa, misalnya ibu guru, ibunya, ayahnya, kakaknya, dan sebagainya yang ingin ia tiru. Apabila anak bermain dengan temannya, akan terjadi percakapan di antara mereka tentang peran orang yang mereka tiru. Permainan ini penting untuk proses identifikasi anak terhadap peran tertentu .

2. Berdasarkan Karakter Sociala. Onlooker playPada jenis permainan ini, anak hanya mengamati temannya yang sedang bermain, tanpa ada inisiatif untuk ikut berpartisipasi dalam permainan. Jadi, anak tersebut bersifat pasif, tetapi ada proses pengamatan terhadap permainan yang sedang dilakukan temannya.b. Solitary play Pada permainan ini, anak tampak berada dalam kelompok permainan, tetapi anak bermain sendiri dengan alat permainan yang dimilikinya, dan alat permainan tersebut berbeda dengan alat permainan yang digunakan temannya, tidak ada kerja sama, ataupun komunikasi dengan teman sepermainannya.c. Parallel playPada permainan ini, anak dapat menggunakan alat permainan yang sama, tetapi antara satu anak dengan anak lainnya tidak terjadi kontak satu sama lain sehingga antara anak satu dengan anak lain tidak ada sosialisasi satu sama lain. Biasanya permainan ini dilakukan oleh anak usia toddler.d. Associative playPada permainan ini sudah terjadi komunikasi antara satu anak dengan anak lain, tetapi tidak terorganisasi, tidak ada pemimpin atau yang memimpin permainan, dan tujuan permainan tidak jelas. Contoh permainan jenis ini adalah bermain boneka, bermain hujan-hujanan dan bermain masak-masakan.e. Cooperative playAturan permainan dalam kelompok tampak lebih jelas pada permainan jenis ini, juga tujuan dan pemimpin permainan. Anak yang memimpin permainan mengatur dan mengarahkananggotanya untuk bertindak dalam permainan sesuai dengan tujuan yang diharapkan dalam permainan tersebut. Misalnya, pada permainan sepak bola, ada anak yang memimpin permainan, aturan main harus dijalankan oleh anak dan mereka harus dapat mencapai tujuan bersama, yaitu memenangkan permainan dengan memasukkan bola ke gawang lawan mainnya.

B. Konsep Dasar Preschoola. Anak usia Preschool ( >3 tahun sampai 6 tahun)Sejalan dengan pertumbuhan dan perkembangannya, anak usia prasekolah mempunyai kemampuan motorik kasar dan halus yang lebih matang dari pada anak usia toddler. Anak sudah lebih aktif, kreatif dan imajinatif. Demikian juga kemampuan berbicara dan berhubungan social dengan temannya semakin meningkat.Oleh kerena itu jenis permainan yang sesuai adalah associative play, dramatic play dan skill play. Anak melakukan permainan bersama-sama dengan temannya dengan komunikasi yang sesuai dengan kemampuan bahasanya. Anak juga sudah mampu memainkan peran orang tua tertentu yang diidentifikasinya, seperti ayah, ibu dan bapak atau ibu gurunya. Permainan yang menggunakan kemampuan motorik (skill paly) banyak dipilih anak usia prasekolah.b. Reaksi Hospitalisasi1. Sering bertanya2. Menangis perlahan3. Tidak kooperatif terhadap petugas kesehatan4. Kehilangan kontrol5. Pembatasan aktivitasSering kali dipersepsikan anak sekolah sebagai hukuman, sehingga ada perasaan malu, takut sehingga menimbulkan reaksi agresif, marah, berontak,tidak mau bekerja sama dengan perawat.

C. Konsep Dasar Schoola. Anak usia sekolah (> 6 tahun sampai 12 tahun)Kemampuan social anak usia sekolah semakin meningkat. Mereka lebih mampu bekerja sama dengan teman sepermainannya. Seringkali pergaulan dengan teman menjadi tempat belajar mengenal norma baik atau buruk. Dengan demikian, permainan pada anak usia sekolah tidak hanya bermanfaat untuk meningkatkan ketrampilan fisik atau intelektualnya, tetapi juga dapat mengembangkan sensitivitasnya untuk terlibat dalam kelompok dan bekerja sama dengan sesamanya. Mereka belajar norma kelompok sehingga dapat diterima dalam kelompoknya. Sisi lain manfaat bermain bagi anak usia sekolah adalah mengembangkan kemampuannya untuk bersaing secara sehat. Bagaimana anak dapat menerima kelebihan orang lain melalui permainan yang ditunjukkannya.Karakteristik permainan untuk anak usia sekolah dibedakan menurut jenis kelaminnya. Anak laki-laki lebih tepat jika diberikan mainan jenis mekanik yang akan menstimulasi kemampuan kreativitasnya dalam berkreasi sebagai seorang laki-laki, misalnya mobil-mobilan. Anak perempuan lebih tepat diberikan permainan yang dapat menstimulasinya untuk mengembangkan perasaan, pemikiran dan sikapnya dalam menjalankan peran sebagai seorang perempuan, misalnya alat untuk memasak dan boneka.b. Reaksi Hospitalisasi1. Perawatan di rumah sakit memaksakan meninggalkan lingkungan yang dicintai, keluarga, kelompok sosial sehingga menimbulkan kecemasan2. Kehilangan kontrol berdampak pada perubahan peran dalam keluarga, kehilangan kelompok sosial, perasaan takut mati, kelemahan fisik3. Reaksi nyeri bisa digambarkan dgn verbal dan non verbal

BAB IIIKEGIATAN BERMAIN

A. Rancangan bermainKegiatan terapi bermain yang kelompok buat kali ini bertema Cepat sembuh dengan banyak minum. Kegiatan ini terdiri dari 3 sesi yaitu : pada sesi pertama tentang pemaparan cerita mengunakan boneka tangan yang menceritakan tentang pentingnya mengkonsumsi banyak air bagi penderita DHF. Pada sesi kedua, peserta diajak untuk berlomba menghabiskan air mineral yang disediakan oleh kelompok. Pada sesi ketiga, anak diajak untuk mewarnai gambar buah-buahan yang sudah disediakan. Pemilihan warna pada sesi ktiga ini tidak dibatasi. Kemudian gambar yang telah selesai diwarnai, diberikan tali untuk digantung ditempat tiap tidur anak.

B. Media dan Alat1. Boneka Tangan2. Air mineral gelas3. Gambar yang akan diwarnai4. Pensil Warna5. Tali

C. Sasarana. Kelompok usia : Preschool ( >3 tahun sampai 6 tahun) School (> 6 tahun sampai 12 tahun)b. Jumlah anak : 4 orangc. Kriteria anak : 1. Anak usia Preschool ( >3 tahun sampai 6 tahun) dan School (> 6 tahun sampai 12 tahun) 2. Anak dengan DHF yang tidak bedrest 3. Anak yang tidak memiliki masalah intoleransi aktivitas

D. Waktu Pelaksanaana. Hari / Tanggal : Kamis, 20 Januari 2011b. Waktu : Pukul 10.00 s/d 11.00c. Tempat : Ruang rawat inap anak RSUD Budi Asih Lantai 6 TimurWaktu yang dipilih untuk memberikan permainan ini pada anak, yaitu pada saat anak tersebut sedang santai, atau tidak pada waktu makan dan tidur, misalnya pada pagi hari sekitar pukul 10.00 atau pada sore hari sekitar pukul 15.00. Durasi atau lamanya bermain adalah sekitar 40 menit untuk menghindari anak merasa bosan dengan permainan tersebut.

E. Pengorganisasian1. Leader : Silva Roslina Niode, S.Kep2. Co Leader : Dedi Prihartono, S.Kep 3. Observer : Ririn Syahrain, S.Kep4. Fasilitator : Diah Kurnisari, S.Kep Refina Anggraini Pertiwi, S.Kep

F. Pembagian Tugas1. Leader : Dedi Prihartono, S.Kep Peran Leadera. Katalisator, yaitu mempermudah komunikasi dan interaksi dengan jalan menciptakan situasi dan suasana yang memungkinkan klien termotivasi untuk mengekspresikan perasaannyab. Auxilery Ego, sebagai penopang bagi anggota yang terlalu lemah atau mendominasic. Koordinator, yaitu mengarahkan proses kegiatan kearah pencapaian tujuan dengan cara memberi motivasi kepada anggota untuk terlibat dalam kegiatan2. Co Leader : Silva Roslina Niode, S.KepPeran Co Leadera. Mengidentifikasi issue penting dalam prosesb. Mengidentifikasi strategi yang digunakan Leaderc. Mencatat modifikasi strategi untuk kelompok pada sesion atau kelompok yang akan datingd. Memprediksi respon anggota kelompok pada sesion berikutnya3. Fasilitator : Diah Kurnisari, S.KepRefina Anggraini Pertiwi, S.KepPeran Fasilitatora. Mempertahankan kehadiran pesertab. Mempertahankan dan meningkatkan motivasi pesertac. Mencegah gangguan atau hambatan terhadap kelompok baik dari luar maupun dari dalam kelompok4. Observer : Ririn Syahrain, S.KepPeran Observera. Mengamati keamanan jalannya kegiatan play therapyb. Memperhatikan tingkah laku peserta selama kegiatanc. Memperhatikan ketepatan waktu jalannya kegiatan play therapyd. Menilai performa dari setiap tim terapis dalam memberikan terapi

G. Setting Tempat

Setting tempat untuk pemaparan cerita menggunakan boneka tangan

Keterangan : : Pemain : Fasilitator : Observer : Anak

Setting tempat untuk Permainan Keterangan : : Leader : Co Leader : Fasilitator : Observer

: Anak

H. HambatanHambatan yang mungkin ditemui dalam permainan ini, antara lain : Anak tidak mau bermain karena sakit yang dia rasakan Anak kurang mau berinteraksi dengan orang lain selain orang tuanya Anak merasa bosan dengan permainan yang diberikan

BAB IVPENUTUP

A. KesimpulanBermain merupakan aspek penting dalam kehidupan anak yang mencerminkan kemampuan fisik, intelektual, emosional, dan social anak tersebut, tanpa mempergunakan alat yang menghasilkan atau memberikan informasi, memberi kesenangan maupun mengembangkan imajinasi anak, dimana dalam bermain anak akan menemukan kekuatan serta kelemahannya sendiri, minatnya, serta cara menyelesaikan tugas-tugas dalam bermain. Bermain bagi anak adalah suatu kebutuhan selayaknya bekerja pada orang dewasa, oleh sebab itu bermain di rumah sangat diperlukan guna untuk mengatasi adanya dampak hospitalisasi yang diasakan oleh anak. Dengan bermain, anak tetap dapat melanjutkan tumbuh kembangnya tanpa terhambat oleh adanya dampak hospitalisasi tersebut.

B. Saran1. Orang tuaSebaiknya orang tua lebih selektif dalam memilih permainan bagi anak agar anak dapat tumbuh dengan optimal. Pemilihan permainan yang tepat dapat menjadi poin penting dari stimulus yang akan didapat dari permainan tersebut. Faktor keamanan dari permainan yang dipilih juga harus tetap diperhatikan.

2. Rumah SakitSebagai tempat pelayanan kesehatan, sebaiknya rumah sakit dapat meminimalkan trauma yang akan anak dapatkan dari hospitalisasi dengan menyediakan ruangan khusus untuk melakukan tindakan.

3. MahasiswaMahasiswa diharapkan dapat tetap membantu anak untuk mengurangi dampak hospitalisasi dengan terapi bermain yang sesuai dengan tahap tumbuh kembang anak. Karena dengan terapi bermain yang tepat, maka anak dapat terus melanjutkan tumbuh kembang anak walaupun dirumah sakit.

LAPORAN KEGIATAN TERAPI BERMAINdi RUANG ANAK RSUD BUDI ASIH LANTAI VI TIMUR

A. Kegiatan BermainKegiatan terapi bermain yang kelompok buat kali ini bertema Cepat sembuh dengan banyak minum. Kegiatan ini terdiri dari 3 sesi yaitu : sesi pertama adalah bermain peran menggunakan boneka tangan, boneka tangan yang dipergunakan ada 5 buah yang digerakkan oleh 3 orang. Pada sesi pertama ini, menceritakan tentang pentingnya mengkonsumsi banyak air bagi penderita DHF. Peserta tampak antusias menyaksikan pertunjukkan bermain peran ini, dan peserta tampak tertawa ketika penderita DHF (siro) terpasang infus dengan menggunakan infus set yang kelompok buat sendiri dari kertas dan benang wol.Sesi kedua adalah perlombaan menghabiskan air mineral yang telah disediakan oleh kelompok. Air mineral yang telah disediakan sudah terlebih dahulu dihias oleh kelompok menggunakan kertas warna-warni. Air mineral gelas tersebut dibagikan kepada masing-masing anak, satu orang anak mendapatkan 1 gelas air mineral yang berisi 250 ml. Tujuan dari permainan ini bukan untuk mencari pemenang, tetapi untuk memotivasi anak agar minum yang banyak, namun tetap ditentukan pemenang dalam perlombaan ini. Dalam perlombaan di sesi kedua ini yang menghabiskan air mineral terlebih dahulu adalah an.Ro kemudian an.M. Untuk an.Y dan an.Ri, keduanya tidak menghabiskan air mineral yang telah disediakan oleh kelompok, tetapi an.Y lebi banyak meminum air mineral tersebut. Di sesi ketiga yaitu lomba mewarnai gambar buah-buahan yang sudah disediakan yaitu strawberry dan jeruk, pemilihan warna pada sesi ketiga ini tidak dibatasi. An.Ro, an.M dan an.Y memilih gambar jeruk untuk mereka warnai sedangkan an.Ri memilih gambar strawberry. Usia antara an.Ro dan an.M setara, mereka termasuk anak school sehingga di sesi ketiga ini mereka lebih cepat selesai dan lebih rapi dalam mewarnai. Untuk an.Y dan an.Ri keduanya masih preschool sehingga dalam mewarnai masih butuh motivasi dan bimbingan dari ibunya. Namun keempat peserta menyelesaikan gambar yang mereka pilih dengan baik. Setelah selesai mewarnai, fasilitator memasang tali pada setiap gambar yang diwarnai dan dikembalikan kepada anak untuk kenang-kenangan.Kegiatan terapi bermain yang kelompok buat ini terdiri dari empat orang peserta. Karena keterbatasan jumlah pasien yang menderita DHF, maka kelompok tidak dapat peserta yang setara usianya. Namun peserta yang mengikuti terapi bermain ini telah sesuai dengan sasaran yang dibuat oleh kelompok yaitu preschool dan school. Dari empat orang peserta tersebut, dua orang adalah anak preschool yang berusia 4 tahun dan dua orang adalah anak school yang berusia 7 tahun dan 9 tahun. Keempat peserta tersebut tidak bedrest dan tidak mengalami gangguan aktivitas karena yang diperbolehkan oleh CI ruangan untuk ikut dalam terapi bermain adalah pasien yang kondisinya sudah mulai membaik dan trombositnya sudah mengalami peningkatan.Waktu pelaksanaan terapi bermain ini adalah jam 10 pagi setelah dilakukannya pengukuran tanda-tanda vital. Saat sesi pertama sekitar 20 menit, sesi kedua sekitar 7 menit, sesi ketiga sekitar 15 menit. Secara keseluruhan lamanya terapi bermain ini adalah 55 menit. Setelah ketiga sesi tersebut selesai, kelompok membagikan souvenir kepada peserta. Peserta dipanggil satu persatu berdasarkan pemenang dari lomba minum air mineral dan diberikan satu souvenir. Souvenir yang diberikan kepada peserta adalah gelas minum untuk menunjang agar anak banyak minum. Setelah dibagikan souvenir tersebut, leader memberikan pesan kepada peserta bahwa gelas minum tersebut digunakan untuk minum supaya cepat sembuh dan cepat pulang ke rumah.

B. Evaluasi1. Hambatan yang ditemui dalam terapi bermain ini, antara lain : Anak tidak fokus saat pertunjukkan boneka tangan Anak tidak mau menyelesaikan permainan yang sedang berlangsung Anak kurang mau berinteraksi dengan orang lain selain orang tuanya dihadapan banyak orang2. Kekurangan dalam terapi bemain ini, antara lain : Pemilihan peserta terapi bermain yang kurang sesuai (rentang usia yang terlalu jauh) dikarenakan keterbatasan jumlah pasien yang menderita DHF Meja pertunjukkan boneka tangan yang terlalu tinggi menyebabkan peserta agak kesulitan dalam melihat pertunjukkan tersebut Posisi tempat duduk peserta terapi yang tidak sesuai dengan yang sudah direncanakan sehingga penempatan fasilitator menjadi kurang tepat3. Hal yang harusnya dilakukan untuk menangani hambatan yang ada dan menimalkan kekurangan yang ada, antara lain : Saat pertunjukkan boneka tangan, libatkan anak dalam percakapan pertunjukkan tersebut. Pemain dalam hal ini sudah melibatkan peserta dalam percakapan dipertunjukkan boneka tersebut seperti siro kemana ya teman-teman? Fasilitator terus memotivasi anak untuk menyelesaikan permainan (lomba minum air mineral). Saat lomba minum air mineral ini, an.Y dan an.Ri tidak menghabiskan air mineralnya, tidak hanya fasilitator yang memberikan semangat kepada peserta untuk menghabiskan minumannya tetapi semua anggota kelompok. Melibatkan anak dalam setiap permainan dengan terus memotivasinya dan menstimulus anak agar anak mau berinteraksi dengan orang lain. Dalam hal ini, leader sebagai pemimpin dalam terapi bermain ini mengajak anak untuk menyebutkan buah apa yang mereka gambar dan meminta anak untuk menyebutkan warna pada gambar yang telah diwarnai. Dalam terapi bermain ini, terdapat dua anak preschool dan dua anak school. Untuk mengatasi perbedaan ini, maka kelompok mengatasinya dengan tetap menggabungkan peserta dalam satu permainan, namun untuk hasilnya antara anak preschool dan school tidak dapat dibandingkan karena kemampuannya berbeda. Maka untuk hasil dari permainan yang dilombakan adalah membandingkan antar tingkat usia yang setara, preschool dengan preschool dan school dengan school. Meja tempat pertunjukkan yang terlalu tinggiseharusnya dapat diatasi dengan menempatkan peserta sejajar dengan meja tempat pertunjukkan atau kelompok dapat memilih meja pertunjukkan yang lebih rendah. Posisi tempat duduk peserta yang awalnya di atur anak usia preschool dengan preschool dan school dengan school menjadi tidak sesuai karena penempatan peserta yang tidak dibimbing oleh kelompok pada awal peserta masuk ke ruangan. Hal ini diatasi dengan fasilitator duduk disamping depan peserta dan peserta yang lebih besar (school) ditempatkan ditengah karena dianggap bisa cepat beradaptasi. Peserta yang lebih kecil ditempatkan didepan dan didampingi oleh ibunya agar dapat lebih terkontrol.

STRATEGI PELAKSANAAN

A. ImplementasiLangkah kegiatan1. Persiapan Membuat kontrak dengan klien yang sesuai dengan indikasi Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan2. Orientasi Salam terapeutikSalam dari terapis kepada klien Evaluasi/validasiMenanyakan perasaan klien saat ini KontrakTerapis menjelaskan waktu/durasi, tempat, serta tujuan kegiatan3. Tahap kerja Bermain peran Lomba Minum air putih Mewarnai4. Tahap terminasi Evaluasio Terapis menanyakan perasaan klien setelah mengikuti Play therapyo Terapis memberikan pujian atas keberhasilan anak Tindak lanjutTerapis menganjurkan klien untuk sering minum, walaupun tidak hanya air putih agar mempercepat proses penyembuhan

B. Strategi Komunikasi1. Persiapana. Membuat kontrak dengan klien yang adab. Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan2. Orientasia. Salam terapeutikSelamat pagi adik-adik! Perkenalkan..kami adalah kakak-kakak mahasiswa/i STIKes Binawan Jakarta yang sedang praktek di ruangan ini. Perkenalkan nama kakak Dedi Prihartono..Adik-adik boleh panggil kakak dengan kak Dedi sebelah kanan kakak adalah kak silva, kak Refina, kak Diah dan kak Ririn.b. Evaluasi/validasiBagaimana kabarnya pagi ini?Bagaimana tidurnya semalam? nyenyak atau tidak?c. KontrakAdik-adik, sesuai dengan janji kita kemarin bahwa hari ini kita akan menceritakan tentang seorang anak yang malas minum dan akhirnya anak tersebut menjadi lama sembuhnya. Setelah kita mendengarkan cerita itu, kita akan mewarnai gambar yang sudah kakak siapkan kemudian nanti kita gantung ditempat tidur adik-adik ya. Kita akan melakukannya di ruangan ini selama 40 menit. Tujuan dari permainan ini adalah agar adik-adik cepat sembuh. Apakah adik-adik setuju?3. Tahap Kerja I :Baiklah adik-adik.. Permainan ini ada aturannya yaitu yang menghabiskan segelas air putih tercepat adalah juara satu dan akan mendapatkan bintang besar, yang mengahabiskan segelas air putih kedua tercepat adalah juara dua dan akan mendapatkan bintang sedang, sedangkan yang terakhir adalah juara tiga dan akan mendapatkan bintang kecil! Cara bermainya adalah setiap adikadik akan mendapatkan segelas aqua dan pada hitungan ketiga adik-adik langsung minum aquanya dan menghabiskan aquanya secepat mungkin, dan tidak boleh tumpah atau dibuang, kalau seandainya sudah tidak sanggup lagi untuk menghabiskan aquanya adikadik bisa bilang pada kakakkakaknya supaya aquanya di ambil dan diukur sisa aquanya.. Semangat ya semuanya.. Siapa mau dapat bintang besar? Bagus..Ayo kita mulai..Satu..dua..tiga!Ayo..kalian pasti bisa! Nah..bagus..tinggal sedikit lagi.. Ayo.. Semangat semuanya!Wah..bagus sekali..ternyata kalian bisa menghabiskan aquanya! Hebat! Kalau begitu,semuanya akan mendapatkan hadiah Kalian hebat!Tahap Kerja II :Sekarang kita akan melanjutkan dengan mewarnai. Kakak kakak akan membagikan gambarnya kepada setiap orang. Siapa yang pertama kali selesai, akan mendapatkan hadiah dari kakak kakak. Siap ???? Di mulai dari sekarang!!!4. Tahap Terminasia. Evaluasi INah.. sekarang, bagaimana perasaan kalian setelah mengikuti permainan tadi?Apakah semuanya senang? Baiklah.. kalian semua sangat hebat karena bisa menghabiskan aquanya..Tepuk tangan buat semuanyaEvaluasi IINah sekarang , bagaimana perasaan adik adik setelah mewarnai? apakah semuanya senang ?b. Tindak lanjutAdik-adik, setelah ini, adik-adik banyak minum air ya, tapi ingat tidak hanya air putih saja...karena minum air itu sangat bagus untuk mempercepat proses penyembuhan adik-adik yang sedang sakit demam berdarah. Semuanya mau sembuh kan? Mau cepat bertemu dengan teman-temannya kan? dan kakak berpesan bermain lah mainan yang dapat mengembangkan kreatifitas adik adik semua.c. Kontrak yang akan datang.Baiklah adik-adik sampai disini permainan kita kali ini. Ingat ya jangan lupa banyak minum biar kalian cepat sembuh dan cepat pulang, kemudian bertemu dengan teman-teman kalian.Baiklah adik-adik, sekarang kakak-kakak disini mau keruangan perawat dulu ya..selamat beristirahat semuanya..besok kita ketemu lagi..

ANGGARAN DANA

NoNama BarangJumlahHarga SatuanJumlah

1.Boneka Tangan2Rp 12.500,-Rp 25.000,-

2.Kertas Origami2Rp 5.000,-Rp 10.000,-

3.Isolasi1Rp 2.500,-Rp 2.500,-

4.FotocopyRp 3.000,-

5.PrintRp. 20.000,-

6.Souvenir4Rp 5.000,-Rp 20.000,-

7.Air mineral gelas4Rp 500,-Rp 2000,-

8.Tali1Rp 2000,-

9.Double tape1Rp 8.000,-

DAFTAR PUSTAKA

Stuart, Gail and Laraia, Michele. (1998). Principles and practice of psychiatric nursing. St. Louis: Mosby.Internet. http://klinis.wordpress.com/2007/08/30/penerapan-terapi-bermain-bagi-penyandang-autisme-1/. Downloaded on Wednesday, 14th April 2010 at 04.00 p.m.Internet. http://konsultanmainan.multiply.com/journal/item/5/Terapi_Bermain. Downloaded on Wednesday, 14th April 2010 at 03.30 p.m.Internet. http://id.shvoong.com/medicine-and-health/pathology/1916947-terapi-bermain/ Downloaded on Wednesday, 14th April 2010 at 03.45 p.m.Supartini, Yupi. (2004). Konsep Dasar Keperawatan Anak. Jakarta: EGC.Wong, Donna L. (2003). Clinical Manual of Pediatric Nursing. USA: Mosby.