terapi-terapi komplementer

Embed Size (px)

DESCRIPTION

tugas makalah buat pembelajaran keperawatan

Text of terapi-terapi komplementer

1

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Terapi komplementer dan kedokteran alternatif semakin meningkat dan diterima oleh masyarakat. Di Amerika serikat terapi komplementer dan kedokteran alternatif adalah lingkup yang luas dari sumber penyembuhan yang meliputi sistem kesehatan, modalitas dan praktek yang didasari oleh teori dan kepercayaan mereka. Atau secara sederhana, pengobatan komplementer bisa diartikan metode penyembuhan yang caranya berbeda dari pengobatan konvensional di dunia kedokteran, yang mengandalkan obat kimia dan operasi. Di Amerika terapi komplementer kedokteran dibagi empat jenis terapi : Chiropractic , teknik relaksasi, terapi masase dan akupunktur, lainnya terapi komplementer yang dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan. Banyak terapi modalitas yang digunakan pada terapi komplementer mirip dengan tindakan keperawatan seperti teknik sentuhan, masase dan manajemen stress. Berikut macam macam dari terapi komplementer dan kedokteran alternatif : masase, diet , terapi musik, vitamins, produk herbal, teknik relaksasi, imagenary, humor, terapi sentuhan. Akupuntur, acupressure, chiropractice, dukungan kelompok, hipnotis, meditasi, aromatherapy, yoga , biofeedback. Dari hasil penelitian pendapat mahasiswa perawat tentang terapi komplementer yang direkomendasikan untuk perawat adalah : masase, terapi musik, diet, teknik relaksasi, vitamin dan produk herbal. Bagi perawat yang tertarik mendalami terapi komplementer dapat memulai dengan tindakan tindakan keperawatan atau terapi modalitas yang berada pada bidang keperawatan yang dikuasai secara mahir berdasarkan perkembangan teknologi terbaru dan jangan lupa untuk membaca peraturan peraturan tentang terapi komplementer yang berlaku, seperti permenkes 1109/Menkes/Per/IX/2007, karena lain negara lain peraturan dan masalah terapi komplementer ini menjadi inspirasi bagi perumus RUU Praktik Keperawatan (keep the spirit)

2

1.2 Tujuan Umum Tujuan umum dalam penelitian ini adalah untuk memahami bidang-bidang dari terapi komplementer.

1.3 Tujuan khusus Adapun tujuan khusus dalam makalah ini adalah untuk: 1. Menjelaskan speech and language terapi, Physioterapy. 2. Occupational terapy 3. Chinese medical treatment 4. Ayurvedic treatment 5. Western herbal terapy

3

BAB II PEMBAHASAN

2.1. Speech And Language Terapy Terapi (dalam Yunani: ), atau pengobatan, adalah remediasi

masalah kesehatan, biasanya mengikuti diagnosis. Orang yang melakukan terapi disebut sebagai terapis. Dalam bidang medis, kata terapi sinonim dengan kata pengobatan.Di antara psikolog, kata ini mengacu kepada psikoterapi. Terapi pencegahan atau terapi Profilaksis adalah

pengobatan yang dimaksudkan untuk mencegah munculnya kondisi medis.Sebagai contoh adalah banyaknya vaksin untuk mencegah infeksi penyakit. Terapi abortive adalah pengobatan yang dimaksudkan untuk menghentikan kondisi medis dari perkembangan lebih lanjut.Pengobatan yang dilakukan pada tanda-tanda paling awal dari munculnya penyakit, seperti gejala sakit kepala migrain, adalah sebuah terapi abortive. Terapi supportive adalah suatu terapi yang tidak merawat atau memperbaiki kondisi yang mendasarinya, melainkan meningkatkan

kenyamanan pasien. Dampak negative Selain Efek terapi (dampak positif) yang diinginkan dari sebuah pengobatan, terapis juga dapat menyebabkan dampak negatif yang tidak diharapkan. Ketika dampak negatif yang ditimbulkan lebih kecil/lemah dari dampak positifnya, maka hal itu sering disebut sebagai Efek samping.Efek samping merupakan hasil dari dosis atau prosedur yang tidak tepat (yang biasanya disebabkan oleh kesalahan medis).Beberapa efek samping hanya muncul pada awal/permulaan perawatan, ketika peningkatan dan penghentian perawatan. Penggunaan obat atau intervensi medis lainnya yang merupakan kontraindikasi dapat meningkatkan risiko efek samping.Beberapa pasien terkadang menghentikan terapi karena efek samping yang ditimbulkannya.Tingkat keparahan dari efek samping ini bervariasi, mulai dari rasa mual hingga dapat mengakibatkan kematian. Efek samping yang umum terjadi di

4

antaranya perubahan berat badan, perubahan tingkat enzim, perubahan patologis yang terdeteksi pada level mikroskopis, makroskopis, atau psikologis. Efek samping dapat menyebabkan perubahan yang dapat dipulihkan kembali maupun permanen, termasuk peningkatan atau penurunan kerentanan individu terhadap obat / bahan kimia, makanan, atau prosedur tertentu (misalnya interaksi terhadap obat).

2.1.1. Pengertian Terapi Wicara Terapi wicara adalah suatu ilmu/kiat yang mempelajari perilaku komunikasi

normal/abnormal yang dipergunakan untuk memberikan terapi pada penderita gangguan perilaku komunikasi, yaitu kelainan kemampuan bahasa, bicara, suara, irama/kelancaran, sehingga penderita mampu berinteraksi dengan lingkungan secara wajar. Kelainan kemampuan bahasa, bicara, suara, irama/kelancaran terjadi karena adanya penyakit, gangguan fisik, psikis ataupun sosiologis. Kelainan ini dapat timbul pada masa prenatal, natal maupun post natal. Selain itu penyebabnya bisa dari Heriditer, Congenital maupun Acquired. Kelainan berkomunikasi dibedakan menjadi: 1. Kelainan Bicara 2. Kelainan Bahasa 3. Kelainan Suara 4. Kelainan Irama/Kelancaran

2.1.2. Kelainan Bicara Merupakan salah satu jenis kelainan berkomunikasi yang ditandai adanya kesalahan proses produksi bunyi bicara, baik itu yang terjadi pada POA (Point Of Articulation) dan/atau MOA (Manner OF Articulation). Disaudia. Gangguan bicara/artikulasi yang berhubungan dengan adanya kesulitan/gangguan feedback auditory, dapat terjadi karena gangguan pendengaran. Dislogia. Kelainan berkomunikasi yang disertai kerusakan mental. Rendahnya kecerdasan menyebabkan kesulitan dalam mengamati serta mengolah dalam pembentukan konsep dan pengertian bahasa. Disartria. Kelainan bicara akibat gangguan koordinasi otot-otot organ bicara sehubungan adanya kerusakan/gangguan sistem syaraf pusat maupun perifer.

5

Disglosia. Kelainan bicara akibat adanya kelainan bentuk dan/atau struktur organ bicara, khususnya organ artikulator. Dislalia. Gangguan artikulasi yang disebabkan ketaknormalan di luar organ wicara dan bukan dikarenakan kerusakan sistem syaraf pusat maupun perfer dan psikologis tapi merupakan gangguan fungsi artikulasi.

2.1.3. Kelainan Bahasa Merupakan salah satu jenis kelainan berkomunikasi, dimana penderita mengalami kesulitan/kehilangan kemampuan dalam proses simbolisasi bahasa. Kelainan ini diakibatkan oleh adanya kerusakan otak dan diartikan sebagai kerusakan sebagian atau seluruh dari pemahaman bahasa, perumusan, penggunaan bahasa. Tidak termasuk gangguan yang dihubungkan dengan berkurangnya sensor primer, keadaan mental yang memburuk dan gangguan psikis.

Afasia Perkembangan/Anak Afasia Dewasa

2.1.4. Kelainan Suara Gangguan suara yang utamanya disebabkan oleh aksi atau perilaku pita suara, intensitas suara dan/atau kualitas suara yang tidak sesuai untuk individu tersebut dalam kaitannya dengan usia, jenis kelamin atau lingkungan.

Kelainan kenyaringan suara Kelainan nada suara Kelainan kualitas suara

2.1.5. Kelainan Irama/Kelancaran Stuttering/Gagap. Gangguan kelancaran bicara yang berupa adanya pengulangan,

perpanjangan, penghentian pada kata dan suku kata. Cluttering. Gangguan bicara yang ditandai dengan adanya irama sangat cepat sehingga terjadi misartikulasi dan sulit dimengerti. Palilalia. Kecenderungan mengulang kata atau phrase pada waktu mengucapkan kalimat.

6

2.2. Occupational Terapy 2.2.1. Pengertian Terapi Okupasi Terapi Okupasi adalah terapi untuk meningkatkan okupasional seseorang; dalam hal ini mencakup aktifitas keseharian seperti menulis, keterampilan tangan, belakar di kelas, bersosialisai, berpakaian, rawat diri, bermain, memanjat. berayun, melompat, mengemukakan ide, menyusun tugas, dan sebagainya. Untuk melakukan okupasional tersebut diperlukan koordinasi gerak, atensi dan konsentrasi, kekuatan, otot, keseimbangan. kemampuan berinteraksi sesial, reflex, kendali diri, dan sebagainya. Peran Terapi Okupasi adalah membantu menungkatkan kemampuan tersebut diatas melalui aktifitas terapeutik yang sesuai dengan program terapi anak sehingga dapat melakukan aktifitas keseharian dengan mandiri.

2.2.2. Jenis-jenis gangguan yang memerlukan terapi okupasi - Gangguan konsentrasi - Gangguan motorik (gerak, clumsiness) - Kesulitan belajar - Gangguan sensori (tidak mau dipeluk, takut ketinggian, gangguan keseimbangan) - Ganggan tumbuh kembang (terlambat bicara, terlambat berjalan) - Gangguan perilaku dan emosi (tantrum/marah-marah) - Gangguan interaksi sosial (menghindari kontak mata, asyik bermain sendiri) - Hiperaktif - Keterbelakangan mental - Kelumpuhan otak/keterlambatan perkembangan pada otak (Cerebral Palsy)

2.2.3. Metode Sensori Integrasi Terapi okupasi memiliki beberapa metode terapi yang salah satunya adalah metode Sensori Integrasi. Metode ini membantu anak untuk dapat memproses inputinput sensori yang ada di sekitarnya, yang masuk melalui indera penglihatan, pengecapan, peraba, proprioseptif dan vestibular sehingga menghasilkan output berupa

7

respons yang sesuai. Metode ini diperkenalkan pertama kali oleh Jean Ayres, Ph.D., OTR, seorang terapis okupasi dari Amerika Serikat pada tahun 1972 Metode Sensori Integrasi (SI) membantu proses sensori seseorang untuk meningkatkan kemampuan beratensi dan berkonsentrasi, mengkoordinasikan gerakan, berinteraksi dengan orang lain atau lingkungan, kemampua mengendalikan emosi, menumbuhkan rasa percaya diri, kemampuan akademis seperti membaca, menulis, memahami materi pelajaran, mengemukakan ide, dan sebagainya. SARANA memfasilitasi pelaksanaan metode SI dengan penyediaan alat dan media terapi yang terstandarisasi secara internasional serta didukung oleh terapis profesional yang berkompeteng yang telah mengikuti seminar dan worksh