Click here to load reader

The Planners #6 - Tourism

  • View
    222

  • Download
    0

Embed Size (px)

DESCRIPTION

An electronic portfolio consisted of assignments, paperworks, final project, etc, by the students of Urban and Regional Planning Bandung Institute of Technology, Indonesia

Text of The Planners #6 - Tourism

  • theplanners

    ePortfolio

    Pariwisata

    Volume 06 - Januari 2012

  • PelindungADHAMASKI PANGERAN

    Penanggung JawabGILANG PAMUNGKASFITRIA AYU VIDAYANI

    FANNI HARLIANI

    REDAKSI

    Pemimpin RedaksiPRIYADI NUGROHO ARDI

    RecruiterDINURRAHMA KEMALA

    Tim EditorFAIZI ZAHARI

    DINDA PRIHATSHANDITADHIO NANDIWARDHANA

    Quality CheckGEMA SATRIA

    THANKS TOKontributor

    FAIZI ZAHARIPUTRI SUGIH PERMATASARI

    Fitria Ayu VidayaniSilva Berlus Coni

    CATHELYA Y. H. SILAEN

    Powered by

    Front Cover courtesySitu Gunung #01

    http://www.flickr.com/photos/rubahkelabu/4271208610/sizes/z/in/photostream/

    /redaksi_.

    19 | THE PLANNERS Januari 2012

    Hei, Hai!!!!

    Alhamdulillah, The Planners edisi keenam ini akhirnya bisa terbit. Dengan seman-gat tahun baru, tim The Planners memberikan yang terbaik demi pembaca setia kami. Tetap sebagai sebuah portofolio, The Planner menyajikan karya-karya Ma-hasiswa Teknik Planologi ITB tentang Pariwisata.

    Hadir dengan topik utama Pariwisata, The Planners kali ini memperlihatkan po-tensi-potensi pariwisata yang dimiliki oleh Indonesia. Tidak hanya potensi pari-wisata Indonesia, The Planners edisi ini juga memperlihatkan berbagai macam wisatawan yang terdapat di Indonesia. Semoga The Planners kali ini tetap men-jadi panjangan tangan dari apa yang telah mahasiswa Planologi ITB kerjakan

    Selamat Menikmati!!!!

    Salam

    theplanners

    ePortfolio

    JAN/12

    Assalammualaikum wr. Wb

    Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah SWT akhirnya the planners e-portfolio edisi keenam telah terbit. Sama seperti edisi-edisi sebelumnya, majalah online ini merupakan karya dari mahasiswa Perencanaan Wilayah dan Kota ITB yang juga merupakan anggota HMP PL ITB. Majalah ini bertujuan untuk Memperkenalkan bidang ilmu keplanologian kepada masyarakat umum dan Membagi wawasan dan informasi yang terkandung dalam tugas-tugas kuliah yang telah dikerjakan oleh warga HMP. Diharapkan dengan hadirnya majalah ini, isu-isu mengenai per-encanaan wilayah dan kota menjadi lebih dikenal secara mendalam.

    Pada edisi keenem kali ini isu yang diangkat adalah mengenai pariwisata. Indo-nesia merupakan Negara kepulauan yang memiliki panorama alam yang sangat indah, selain itu juga kaya akan nilai budaya dan sejarah. Potensi akan pari-wisata yang besar ini merupakan salah satu kekayaan yang harus dilestarikan dan dikembangkan. Dalam majalah the planners kali ini, akan dibahas mengenai berbagai topik mengenai pariwisata Indonesia. Semoga dengan pembahasan ini kita dapat lebih mencintai pariwisata Indonesia. Selamat menikmati!

    Wassalammualaikum wr. Wb

    FITRIA AYU VIDAYANIKepala Divisi Keprofesian HMP PL ITB 2011/2012

    PRIYADI NUGROHO ARDIEditor In Chief - The Planners

    DIVISI KEPROFESIANHMP Pangripta Loka ITB

    Labtek IX-A Gedung SAPPK-ITBJalan Ganesha 10, Bandung

    INDONESIA

  • Contents

    Januari 2012 THE PLANNERS | 20

    /tour-ism_./

    01.2012

    4 KATA KITAMengapa Perencanaan Pariwisata itu Penting? 6PROFIL WILAYAH DAN KOTAPengembangan Wisata Tambang KotaSawahlunto

    10 FOKUSPengelolaanEkowisata Pesisir

    13WHATS ONYOUR MIND?Opini Mahasiswa 17POTRETGaleri Foto

    WOYM

    14 FOKUSPeran Serta Pen-duduk Asli dalam Pengembangan Pariwisata di Pulau Kecil

    18 TUGAS AKHIRIdentifikasi Karakter-istik Wisatawan dan Komunitas Kreatif dalam Pengembangan Ekowisata di Kawasan Wisata Bandung Selatan

    PO-TRET

  • Kata Kita

    MengapaPerencanaan

    Pariwisata Itu Penting?

    whereas some erosion and pollution of resources is caused by great numbers of visitors, most damage is caused by

    lack of plans, policies, and action to prepare for economic growth (Gunn, 1994)

    oleh Faizi Zahari 154 09 038

    4 | THE PLANNERS Januari 2012

  • Pariwisata merupakan salah satu devisa negara yang perlu diperhatikan. Tiap tahunnya pariwisata menyumbang sekitar 5% dari PDRB nasional atau sekitar 150-an triliyun rupiah. Dengan kekayaan alam yang dimiliki Indonesia, sebenarnya pariwisata di Indonesia cukup menjanjikan. Namun, dalam keberjalan pariwisata tersebut masih belum maksimal jika dibandingkan dengan potensi yang dimiliki.

    Jika dibandingkan Jepang, pariwisata kita kurang dilirik sebagai tujuan oleh masyarakat dunia. Padahal, potensi pari-wisata Indonesia jauh lebih besar dari Je-pang. Hal ini disebabkan oleh perencanaan yang kurang pada pariwisata Indonesia. Dalam artikel ini akan dijelaskan mengapa pariwisata penting untuk direncanakan.

    Dewasa ini, industri pariwisata makin kompetitif. Fenomena pariwisata makin kompleks dari yang pernah terpikir sebe-lumnya. Makin gencarnya tujuan-tujuan wisata yang memberikan promosi membuat persaingan di industri ini makin ketat. Ketatnya persaingan tersebut menunjukan pentingnya untuk merencanakan pariwisata agar dapat bersaing secara global.

    Pariwisata yang tidak direncanakan akan berdampak pada banyak aspek, yang pertama adalah dampak fisik. Peren-canaan pariwisata yang kurang baik atau bahkan tidak direncanakan akan mengaki-batkan rusaknya lingkungan. Pengelolaan yang kurang baik juga dapat mengaki-batkan pencemaran terhadap alam dalam kurun waktu tertentu. Hal tersebut sangat bertentangan dengan prinsip perencanaan pariwisata yaitu prinsip berkelanjutan.

    Selain itu, pariwisata juga mempen-garuhi seluruh komunitas yang terlibat di dalamnya. Industri pariwisata dapat mem-buka peluang kerja baru bagi penduduk sekitar. Namun apabila tidak direncanakan dengan baik, hal ini akan berdampak pada aspek sosial budaya pada masyara-kat setempat. Aspek sosial budaya ini penting untuk diperhatikan karena pada dasarnya pariwisata ditujukan untuk ma-nusia sebagai proses pembelajaran sosial sesuai dengan konsep people-centered development (David Korten, 1987). Namun, pada pariwisata yang tidak terencana, manusia hanya dijadikan faktor produksi.

    Industri pariwisata mempunyai siklus naik-turun. Menurut Butler (1980), muara pada siklus tersebut ada tiga. Pertama,

    industri ini akan berujung pada stagnansi; yaitu kondisi dimana pariwisata tidak mengalami penurunan atau peningka-tan, hanya dalam kondisi datar. Kedua, pariwisata akan berujung pada kondisi kemerosotan. Ketiga, industri pariwisata pada kondisi pemulihan setelah menurun. Pariwisata yang direncanakan dengan baik adalah pada kondisi yang ketiga, dimana akan terjadi peremajaan apabila dalam kondisi stagnan sehingga akan meningkat kembali. Sedangkan dampak pada pengorganisasian yang kurang akan bermuara pada kondisi kemerosotan yang bukan tidak mungkin akan berujung pada kebangkrutan.

    Dari beberapa contoh di atas, dapat di-tarik kesimpulan bahwa perencanaan pari-wisata menjadi penting karena kerusakan lingkunan ataupun kegagalan pertumbuhan ekonomi akibat pariwisata hanya sebagian kecil disebabkan oleh banyaknya jumlah pengunjung. Secara signifikan, hal tersebut disebabkan oleh kurangnya perenca-naan dan kebijakan maupun persiapan menghadapi pertumbuhan ekonomi melalui pariwisata itu sendiri.

    Kata Kita

    Januari 2012 THE PLANNERS | 5

    1

    http

    ://m

    atan

    ews.c

    om/2

    010/

    03/3

    0/w

    isata

    -geo

    logi

    /

    1. LUMPUR PANAS walau sebuah bencana, tetap dapat menjadi sebuah potensi wisata

    2. SOUVENIR menjadi kewajiban untuk dibawa pulang para wisatawan

    2http:/

    /sou

    thce

    lebe

    s.wor

    dpre

    ss.c

    om/2

    008/

    06/2

    4/so

    mba

    -opu

    -kaw

    asan

    -bel

    anja

    -bua

    h-ta

    ngan

    -di-m

    akas

    sar/

  • Profil Wilayah dan Kota

    PENGEMBANGANWISATA TAMBANG

    KOTA SAWAHLUNTOOleh Putri Sugih Permatasari 154 08 049

    Kota Sawahlunto selama ini dikenal sebagai salah satu kota penghasil batu bara terbesar dan tertua di Indonesia. Aktivitas pertambangan batu bara memang telah dilakukan di kota ini sejak zaman penjajahan Belanda. Namun, sejak berkurangnya produksi batu bara di kota ini, muncul beberapa persoalan yang mendorong terjadi pergeseran fungsi wilayah, di antaranya penurunan proses dan aktivitas pertambangan batu bara. Instalasi pemrosesan dan pengangkutan tambang dirasakan sudah tidak lagi sepadan dengan produk dan nilai batu bara yang dihasilkan. Aktivitas pertambangan di kota ini pada akhirnya mencapai batasnya. Kini Kota Sawahlunto seolah-olah mati tanpa adanya aktivitas ekonomi pertambangan.

    Kota Sawahlunto sendiri tidak dapat mengembangkan diri sebagai kota yang dina-mis. Beberapa komponen fisik serta fasilitas dan pelayanan di kota ini sangatlah terbatas, sehingga tidak dapat lagi memenuhi kebutu-han masyarakatnya. Kota lama Sawahlunto kini cenderung terlantar dan hanya menjadi museum peninggalan kejayaan pertamban-gan batu bara masa lalu, tanpa melibatkan dinamika yang seharusnya dimiliki sebuah kota. Banyak perumahan peninggalan masa lalu merosot kualitasnya tanpa mengalami per-baikan atau bahkan perawatan. Sementara itu, terjadi kerusakan lingkungan perbukitan di sekitar kota Sawahlunto yang disebabkan oleh munculnya hunian penduduk yang justru mengganggu keseimbangan ekologis.

    KOTA WISATA TAMBANG SAWAHLUNTO

    Segala persoalan tersebut membuat Pemerintah Kota Sawahlunto berencana untuk mengembangkan sumber ekonomi alternatif yang berasal dari bidang pariwisata. Kota Sawahlunto akan ditetapkan menjadi Kota Wisata Tambang. Wisata tambang yang direncanakan untuk dikembangkan di kota ini adalah wisata dalam rangka menelusuri dan merekonstruksi masa lampau, membangun imajinasi masa lampau untuk menumbuhkan inspirasi bagi masa depan. Jadi, semua peninggalan kegiatan pertambangan harus dipandang sebagai pelajaran signifikan yang memberikan kearifan bagi kehidupan masa depan.

    Dengan ditetapkannya visi Sawahlunto tahun 2020 menjadi Kota Wisata Tambang yang Berbudaya, tujuan pengembangan

    Kota Sawahlunto dititikberatkan pada pengembangan pariwisata. Tujuan lain dari kebijakan pengembangan ini adalah peningkatan kualitas kota, sehingga dapat sekaligus bermanfaat bagi masyarakat di kota ini. Kawsan pertambangan digarap sebagai daya tarik wisata karena merupakan keunikan dan keunggulan Sawahlunto di kawasan Sumatera Barat. Hal ini juga diperkuat dengan kemampuan kawasan ini untuk dikembangkan menjadi pusat latihan pertambangan dan penelitian batu bara dengan memanfaatkan pengalaman serta peninggalan tambang batu bara yang tersisa. Kegiatan pertambangan juga telah mewariskan berbagai instalasi dan fasilitas yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan wisata dan sekaligus menjadi objek wisata, seperti jaringan jalan, jaringan rel dan stasiun KA, telekomunikasi, pelayanan kesehatan (RS Sawahlunto), instalasi air bersih (yang pada awalnya dibangun untuk

    mendukung operasional kegiatan tambang) yang dapat dikembangkan dan dialihfungsi-kan untuk keperluan pariwisata.

    PERKEMBANGAN WISATA TAMBANG SAWAHLUNTO

    Namun, pengembangan wisata tambang yang telah dilaksanakan sejak tahun 2002 belum memberikan perkembangan yang signifikan. Perwujudan Kota Sawahlunto menjadi Kota Wisata Tambang juga belum tampak jelas. Pengembangan yang dilakukan belum komprehensif, sebatas memanfaatkan peninggalan benda-benda sejarah dari zaman Hindia Belanda. Perencanaan Kota Wisata Sawahlunto selayaknya lebih dari sekedar menyelamatkan benda-benda warisan peninggalan Belanda dan nilai sejarah penam-bangan. Dengan demikian, perlu perencanaan yang matang untuk mewujudkan Kota Wisata yang terintegrasi dan berkelanjutan.

    6 | THE PLANNERS Januari 2012

    PETA Kota Sawahlunto

  • Profil Wilayah dan Kota

    Dalam mewujudkan Kota Wisata Tambang yang berkelanjutan, perlu diketahui potensi wisata wilayah setempat. Potensi inilah yang akan dijadikan sebagai modal pengembangan wisata dan dapat menjadi nilai jual daerah. Selain itu, perlu diidentifikasi komponen yang dibutuhkan oleh kota ini dalam mendukung perwujudan Kota Wisata Tambang.

    Berdasarkan konsep pengembangan tujuan wisata Gunn (2002), terdapat beberapa komponen, yakni komponen daya tarik, ak-sesibilitas, fasilitas pelayanan, dan aktor yang terlibat. Berikut ini penerapan konsep tersebut dalam pengembangan Wisata Tambang Kota Sawahlunto.

    DAYA TARIK

    Untuk mengembangkan daya tarik wisata, perlu diidentifikasi terlebih dahulu objek-objek wisata yang berpotensi memunculkan daya tarik wisatawan sehingga dapat ditentukan komponen yang bisa dikembangkan. Secara umum, objek wisata yang ada dikategorisasi-kan menjadi dua, yaitu: objek wisata tambang dan wisata bangunan bersejarah. Objek wisata Kota Sawah Lunto dapat diklasifikasi-kan menjadi 6 kelompok (cluster) seperti yang dipaparkan pada gambar berikut.

    Pengelompokkan tersebut tidak terlepas dari komponen penyusun, yakni objek wisata, baik yang menjadi daya tarik inti maupun daya tarik pendukung, aksesibilitas, fasilitas (sarana dan prasarana pendukung), pengala-man yang ditawarkan. Penjabaran komponen-komponen tersebut dapat dilihat pada tabel dibawah.

    AKSESIBILITAS

    Akses menuju Kota Sawahlunto dibedakan

    menjadi 2, yaitu aksesibilias eksternal dan ak-sesibilitas internal. Aksesibilitas eksternal meru-pakan akses dari luar menuju Kota Sawahlunto, sedangkan akses internal adalah akses dalam Kota Sawahlunto menuju objek wisata. Komponen aksesibilitas dibedakan menjadi moda transportasi dan infrastruktur terbangun. Dari daerah lain, Kota Sawah lunto dapat diakses dari pintu masuk Bandara Internasional Minangkabau yang terletak di Padang dan Terminal Regional Aur Kuning di Bukittinggi. Dari Padang, perjalanan ke Kota Sawahlunto ditempuh melalui perjalanan darat lintas suma-tera yang melewati Solok. Dari terminal Alur Kuning di Bukittinggi, perjalanan ke Sawah-lunto juga dilalui dengan menempuh perjala-nan darat melewati Kabupaten Tanah Datar.

    Moda transportasi dari Padang Ke Sawahlunto menggunakan bisa angkutan umum. Moda ini terbatas dan frekuensi keberangkatan juga rendah. Begitu pula dari Bukittinggi menuju Sawahlunto. Untuk jangkauan pelayanan internal, jarak antarobjek wisata relatif dekat dan dapat ditempuh dengan berjalan kaki. Hingga saat ini belum ada moda transportasi umum yang tersedia.

    FASILITAS

    Pengembangan pariwisata harus didukung oleh ketersediaan fasilitas dalam menunjang kebutuhan wisatawan. Adapun fasilitas-fasilitas

    Januari 2012 THE PLANNERS | 7

    KomponenKelompok

    I II III IV V VI

    Daya Tarik Inti Rumah PejabatBelanda

    Kantor UtamaPengelolaPenambangan

    Tunnel MuseumKereta Api

    3 Silo RSUD

    Daya Tarik Pendukung

    Gereja,komplekrumahpejabat,bangunanbersejarahlainnya

    Komplekperumahanpejabatpengelolapenambangan

    MuseumgudangRansum

    Masjid AgungSawahlunto,kereta apiwisata

    Jaringan BeltConveyor,Panorama

    Bangunanbersejarah,panorama

    Aksesibilitas Pusat Kota Jalan LokalUtara pusatkota

    Jalan lokaltimur pusatkota

    Jalan lokalbarat pusatkota

    Jalan provinsiutara pusatkota

    Jalan provinsiarah MuaraKalaban

    Pengalaman SejarahkemegahanKotaSawahluntopada masadulu

    Pengetahuanpengontrolankegiatanpenambangandari kantorutama danberistirahat ditaman kota

    Pengetahuanprosespenambangandaripersiapanhinggapenggalian

    SejarahperkeretapianKotaSawahluntodanpengalamanmenaiki KAwisata sampaiMuaraKalaban

    Pengetahuanprosespengangkutanbatu bara darilokasipenambangan

    PemandangankotaSawahluntosecarakeseluruhan

    SaranaPendukung

    Hotel,restoran,bank, pasar,terminal

    Taman kota Belum ada Kereta apiwisata,puskesmas

    Kantor polisi,resor

    RSUD

    KLUSTER, Objek wisata Kota Sawah Lunto

    TABEL kluster Objek wisata Kota Sawahlunto

  • Profil Wilayah dan Kota

    Berdasarkan tabel di atas, secara umum fasilitas pendukung wisata Kota Sawahlunto masih memiliki banyak kekurangan, seperti tidak adanya pusat informasi sebagai penunjuk arah di lokasi wisata dan pemasaran, ako-modasi yang sangat terbatas, ruang parkir yang belum disediakan secara khusus, tidak adanya pusat perbelanjaan cendera mata, serta pelayanan PDAM yang masih rendah. Hal ini menujukkan bahwa salah satu kelemahan wisata di Kota Sawahlunto adalah ketersediaan fasilitas atatu sarana pendukung yang rendah.

    AKTOR

    Aktor yang terlibat dalam pengemban-gan wisata tambang di Kota Sawahlunto di antaranya Pemerintah Provinsi Sumatera Barat, Pemerintah Kota Sawahlunto beserta Dinas Pariwisata dan Pertambangan, dan lapisan masyarakat setempat. Keterlibatan Pemerintah Provinsi berupa akomodasi pembangunan Jalan yang menghubungkan dan membuka akses dengan wilayah sekitar. Pemerintah Kota Sawahlunto beserta Dinas pariwisata dan Dinas Pertambangan berperan dalam hal merumuskan kebijakan-kebiajkan yang terkait pengembangan Kota Wisata Tambang Sawahlunto, yang kemudian diturunkan dalam bentuk program-program pembangunan kawasan wisata. Dari segi masyarakat, pemahaman mengenai wisata tambang juga masih sangat rendah, yakni masih sebatas pada pariwisata dapat dikembangkan dari wisata alam dan rekreasi. Oleh sebab itu, dukungan dari masyarakat masih cukup rendah dalam mewujudkan Kota Sawahlunto sebagai Kota Wisata Tambang. Akibatnya, pengembangan ekonomi lokal yang seharusnya berasal dari masyarakat belum bisa dilaksanakan karena masyarakat itu sendiri belum terlibat lebih jauh dalam pengembangan kawasan wisata ini.

    KESIMPULAN

    Dari uraian di atas, maka disimpulkan bahwa pengembangan Kota Wisata Tambang Sawahlunto merupakan pengembangan wisata yang unik dan berpotensi untuk menarik banyak wisatawan, baik domestik maupun asing. Akan tetapi, pengembangan yang dilakukan masih banyak menjumpai kekurangan, misalnya dalam perencanaan aksesibilitas dan fasilitas pendukung yang dinilai belum memadai. Sam-pai saat ini, pengembangan wisata tambang untuk kawasan internal Kota Sawahlunto pun masih belum terintegrasi dan dipertanyakan keberlanjutannya. Masih banyak yang harus dibenahi dari segi fisik, ekonomi, sosial, maupun kelembagaan setempat. Dalam pengembangan pariwisata di Kota Sawahlunto, seharusnya bentuk-bentuk intervensi yang melandasi terwujud dalam bentuk inventervensi fisik untuk mewadahi berbagai aktivitas, pengembangan ekonomi lokal untuk mendukung hasil-hasil yang diperoleh melalui intervensi fisik, serta rehabili-tasi sosial dan pengembangan kelembagaan yang diharapkan dapat memperbaiki tingkat sosial struktur lokal yang ada.

    No Fasilitas Keterangan

    1 Pusat Informasi Belum Tersedia

    2 Akomodasi Hanya 2 buah hotel melati dan restoran kelasbawah

    3 Perparkiran Masih menggunakan bahu jalan

    4 Pasar dan pusat Perbelanjaan Beum ada pusat perbelanjaan cindera mata

    5 Fasilitas Keamanan Terdapat 1 polisi resort dan komando distrikmiliter

    6 Fasilitas Kesehatan RSUD dan 1 puskesmas

    7 Listrik, Telekomunikasi, dan Air Bersih

    Layanan PDAM rendah

    8 Drainase dan persampahan Fasilitas persampahan memadai, dilewati sungai

    9 Taman Terdapat taman kota sebagai tempatperisitirahatan

    10 Sarana Ibadah Sarana ibadah cukup

    8 | THE PLANNERS Januari 2012

    TABEL, fasilitas Objek wisata Kota Sawahlunto

    Pengembangan Kota Wisata Tambang Sawahlunto meru-pakan pengembangan wisata yang unik dan berpotensi untuk menarik banyak wisa-tawan, baik domestik maupun asing. Akan tetapi, pengem-bangan yang dilakukan masih banyak menjumpai kekuran-gan

  • Urban

    Talkshow

    Advertisement

    Diskusi ultra-seru dan menarik seputar isu terpanas di sekitar tempat ting-gal kita, mengenai wilayah dan kota. Menghadirkan pembicara-pembicara dari kalangan mahasiswa, LSM, komunitas, kepala pemerintah kota, pelaku

    usaha, dosen ahli dan masih banyak lagi!

    Isu-isu yang lalu:-PLTSa Gedebage-Sengketa Baksil-Jalur Sepeda di Kota?-Green Infrastructure-dan masih banyak lagi..Setiap hari Sabtu dua minggu sekaliPkl 10.00 pagidi 100,4 FM KLCBS Bandungacara ini merupakan kerja sama antara

    DIVISI KEPROFESIANHMP Pangripta Loka ITB

    Pertanyaan dapat dikirim melalui SMSpada saat siaran ke

    0811-224-JAZZ (5299)Info lebih lanjut dan kerja sama

    Nusaiba Adzilla 0852-9478-3710

    http

    ://w

    ww

    .flic

    kr.c

    om/p

    hoto

    s/cu

    ba

    ga

    llery

    /57

    49

    74

    25

    37

    /siz

    es/l

    /in/

    pho

    tost

    rea

    m/

  • PERAN SERTA PENDUDUK ASLI

    Indonesia merupakan salah satu negara kepulauan yang memiliki lebih dari 17.504 pulau. Oleh karena itu diperlukan perha-tian yang cukup serius dalam mengembangkan kawasan pesisir, terlebih lagi sebagian dari wilayah pesisir ini merupakan daerah perba-tasan dengan negara tetangga yang menjadi muka depan bagi negara Indonesia. Pulau-pu-lau yang terdapat di perairan Indonesia sangat beragam, mulai dari yang besar hingga yang kecil, baik berpenghuni maupun tidak berpen-ghuni. Jumlah pulau kecilnya pun tidak sedikit, lebih dari 10.000 pulau merupakan pulau kecil.

    Pulau-pulau kecil ini memiliki potensi yang cukup besar untuk dikembangkan, khusus-nya untuk pengembangan pariwisata, sep-erti keanekaragaman hayati, budaya, dan lain-lain. Potensi yang besar ini perlu dike-lola dengan baik agar dapat mendatangkan keuntungan bagi berbagai pihak, khusus-nya bagi masyarakat asli pulau tersebut.

    Masyarakat asli pulau kecil dapat dikatakan sebagai pemilik dari pulau tersebut. Kemiski-nan, rendahnya pendidikan dan pengetahuan serta kurangnya informasi sebagai akibat keterisolasian pulau-pulau kecil merupakan karakteristik dari masyarakat pulau-pulau kecil. Oleh karena itu, pengembangan pari-wisata di pulau kecil harus memiliki prinsip pengembangan masyarakat, yang paling tidak dapat meningkatkan kesejahteraan masyara-kat atau penduduk asli di bidang ekonomi dan budaya serta pembangunan daerah.

    Pengembangan pariwisata berbasis par-tisipasi masyarakat sebaiknya menjadi dasar dalam mengembangkan potensi pulau ke-cil. Program pengembangan ini seharusnya mengikutsertakan masyarakat, baik dalam pembangunannya maupun dalam hal pemeli-haraan dan menjaga kelestarian lingkungan.

    PARTISIPASI MASYARAKAT

    Proses pelibatan masyarakat harus dimulai dari tahap perencanaan. Hal ini akan me-numbuh rasa tanggung jawab dan memiliki di dalam diri masyarakat. Hal ini menjadi pent-ing karena akan menentukan keberhasilan dan keberlanjutan pengembangan pariwisata di pulau-pulau tersebut. Selain itu juga dibutuhkan

    kejujuran dan keterbukaan untuk memperoleh kepercayaan dari pihak lain yang terlibat dalam proses partisipasi. Masyarakat harus di fasilitasi dalam keterlibatannya, termasuk menginformasikan konsekuensi dan keterli-batan, dan menunjukkan bagaimana partisipasi masyarakat dapat menjadi nilai tambah.

    Partisipasi Masyarakat dapat dibagun di-awali dengan pencerdasan kepada masyara-kat mengenai manfaat partisipasi serta kon-sekuensi dari partisipasi tersebut. Setelah itu perlu ditumbuhkan komunikasi yang baik antar stakeholder dalam pengembangan pariwisata di pulau kecil ini. Selain itu, peran langsung masyarakat juga harus dapat didorong untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

    Menurut Peraturan Menteri Kebudayaan Dan Pariwisata Nomer: Km.67 / Um.001 /Mkp/ 2004 Tentang Pedoman Umum Pengem-bangan Pariwisata Di Pulau-Pulau Kecil, pengembangan pariwisata di pulau-pulau kecil harus dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi peningkatan kese-jahteraan masyarakat lokal sekaligus melihat-kan peran aktif masyarakat sejak awal proses pengembangan pariwisata. Hal ini sejalan dengan konsep pengembangan pariwisata berbasis masyarakat (Community Based Tour-ism Development). Peningkatan peran serta masyarakat dilakukan antara lain dengan:

    Memprioritaskan peluang kerja dan usaha bagi masyarakat lokal.

    Membantu peningkatan pengetahuan dan ketrampilan masyarakat, antara lain me-lalui program pelatihan untuk menunjang usaha pariwisata.

    Membangun hubungan kemitraan antara pengusaha dan masyarakat dalam rangka pemanfaatan hasil-hasil produk lokal.

    Mewujudkan sikap saling menghargai dan menghormati di antara pengusaha dan masyarakat.

    Memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk menanamkan modal melalui kepemilikan saham perusahaan.

    Partisipasi masyarakat dalam pembangu-nan pariwisata di pulau-pulau kecil merupakan suatu pendekatan yang mempertimbangkan

    OlehFitria Ayu Vidayani 15408034

    10 | THE PLANNERS Januari 2012

    DALAM PENGEMBANGAN PARIWISATADI PULAU KECIL

    Fokus

    Studi kasus: Pulau Gili Trawangan, Gili Air, dan Gili Meno, Lombok

  • Fokus

    kebutuhan sosial, lingkungan, dan pelay-anan tidak saja kepada wisatawan, tetapi juga kepada masyarakat lokal pulau. Dalam pengertian yang lebih umum, partisipasi men-garah pada pemberdayaan masyarakat lokal dalam menentukan tujuan pembangunannya dan memahami harapan serta fokus perhatian mereka terhadap pariwisata. Pengembangan pariwisata di pulau-pulau kecil harus men-dukung budaya tradisional dengan menun-jukan penghargaan dan penghormatan nilai agama, adat istiadat masyarakat setempat.

    Selain dalam pengembangan pariwisata, masyarakat juga dapat berperan dalam pembinaan dan pengendalian pengemban-gan pariwisata. Pada Peraturan Menteri Kebudayaan Dan Pariwisata Nomer: Km.67 / Um.001 /Mkp/ 2004 Tentang Pedoman Umum Pengembangan Pariwisata Di Pulau-Pulau Kecil,disebutkan bahwa dalam rangka meningkatkan koordinasi dan kerjasama antar pihak dalam pengembangan pariwisata di pulau-pulau kecil, Pemerintah Daerah perlu membentuk suatu kelembagaan yang bersifat kolaboratif dengan beranggotakan unsur Pemerintah Daerah, Swasta, dan Masyarakat, dengan tugas pokok:

    Mengarahkan pelaksanaan pengemban-gan pariwisata di pulau kecil agar sesuai dengan prinsip-prinsip pengelolaan yang ditentukan

    Mengkoordinasikan kebijakan Pemerintah Pusat dengan kebijakan Pemerintah Dae-rah yang berhubungan dengan pengem-bangan pariwisata di pulau kecil.

    Menetapkan kebijakan yang dapat mendorong pengembangan pariwisata di pulau kecil dengan mengintegrasikan kepada kebijakan Pemerintah Pusat.

    Melakukan penilaian terhadap investasi pengembangan Pariwisata di pulau kecit.

    Melakukan pengendalian dan penga-wasan.

    PARTISIPASI YANG TELAH DILAKUKAN OLEH MASYARAKAT GILI TRAWANGAN, GILI AIR, DAN GILI MENO

    Gili Trawangan, Gili Air, dan Gili Meno dikembangkan menjadi kawasan pariwisata oleh masyarakat setempat sejak tahun 1980-an, sebagai respons permintaan wisatawan yang datang ke pulau-pulau ini. Masyarakat semula membangun sarana penunjang pari-wisata berupa bungalow atau penginapan sederhana dan restoran di pinggir pantai. Kepemilikan dan pengelolaannya berbagai sa-rana dan akomodasi di tiga gili berbeda satu sama lain. Gili air dan gili meno kepemilikan sarana akomodasi pariwisata berupa bun-galow, penginapan sederhana, dan restoran sebagian besar milik penduduk asli dan pen-gelolaannya dilakukan secara campuran (joint) antara penduduk asli dan orang asing. Semen-tara di gili trawangan fasilitas dan akomodasi pariwisata lebih lengkap terdiri dari pengi-napan, hotel kelas melati, dan hotel bintang satu sampai dengan empat yang bertaraf in-ternasional. Hotel bertaraf internasional di gili trawangan biasanya memiliki status PMA atau kerjasama dengan pengusaha nasional yang pengelolaannya dilakukan secara profesional dengan menunjuk GM (general manager). Se-mentara itu, hotel melati dan bungalow/pen-ginapan sederhana pengelolaannya dilakukan langsung oleh pemilik atau membayar tenaga profesional orang indonesia.

    Untuk Gili Trawangan, ditinjau secara kes-eluruhan, jumlah penduduknya saat ini diper-kirakan mencapai 979 jiwa dengan jumlah kepala keluarga sebanyak 299 KK. Jumlah ini terdistribusi pada lingkungan permukiman yang ada. Penduduk usia bekerja (15-45 tahun) sekitar 48,11% dari jumlah penduduk secara keseluruhan. Penduduk yang bekerja sebagai petani (petani pemilik dan buruh tani) sekitar 33,78%. Selain petani yang bekerja sebagai

    Januari 2012 THE PLANNERS | 11

    1. PENGINAPAN-PENGINAPAN yang terdapat di Gili Trawangan

    2. ALAT TRANSPORTASI CIDOMO, transportasi yang terdapat di ketiga Gili

    1

    2

  • 12 | THE PLANNERS Januari 2012

    nelayan 1,88%, sisanya adalah pengusaha hotel dan penginapan, pedagang, karyawan hotel dan pekerjaan jasa lainnya. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa pariwisata menjadi salah satu sumber mata pencaharian bagi masyarakat Gili Trawangan.

    Masyarakat di tiga pulau itu,terutama Gili Trawangan, punya inisiatif tinggi untuk menjaga kelestarian dan mengembangkan pariwisata daerahnya. Di Gili Trawangan ada satuan tu-gas pengaman laut yang dibentuk penduduk. Pengunjung dan warga dilarang membawa kendaraan bermotor dan tidak diperbolehkan menggunakan plastik. Di Gili Trawangan (be-gitu juga di dua gili yang lain), tidak terdapat kendaraan bermotor, karena tidak diizinkan oleh aturan lokal. Sarana transportasi yang lazim adalah sepeda dan cidomo, kereta kuda sederhana yang umum dijumpai di Lombok. Cidomo ini mirip dengan delman yang biasa dijumpai di Pulau Jawa. Alat transportasi ini disewakan oleh masyarakat setempat untuk para wisatawan. Penyewaan sepeda atau ci-domo menjadi salah satu mata pencaharian bagi masyarakat. Selain sebagai mata penca-harian, penyewaan sepeda dan cidomo ini juga merupakan solusi yang dikembangkan oleh masyarakat sebagai penghuni asli Pulau Gili ini untuk tetap mempertahankan kelestarian ling-kungannya. Untuk bepergian ke dan dari ketiga gili itu, penduduk biasanya menggunakan ka-pal bermotor danspeedboat yang juga biasa disewakan oleh masyarakat.

    ANALISIS

    Berdasarkan Peraturan Menteri Kebuday-aan Dan Pariwisata Nomor: Km.67 / Um.001 /Mkp/ 2004 Tentang Pedoman Umum Pengem-bangan Pariwisata Di Pulau-Pulau Kecil menge-nai peran serta masyarakat dalam pengem-bangan pariwisata yang telah dijabarkan sebelumnya dan dibandingkan dengan data dan informasi yang didapatkan terkait dengan partisipasi masyarakat, maka terdapat beber-apa langkah yang telah dilakukan dengan baik dan ada pula langkah-langkah yang belum di-lakukan atau dikembangkan. Masyarakat telah turut aktif dan terlibat dalam pengembangan

    pariwisata seperti mengembangkan pengi-napan dan usaha lain yang menjadi akomo-dasi penting bagi kegiatan pariwisata seperti transportasi. Masyarakat atau penduduk asli juga mendapat prioritas peluang kerja dan usaha dari bidang ini. Hubungan kemitraan an-tara pengusaha dan masyarakat dalam rangka pengembangan fasilitas pariwisata sudah cuk-up baik, namun untuk pengembangan peman-faatan hasil-hasil produk lokal belum terdengar keberhasilannya.

    Namun, yang belum menjadi perhatian adalah peningkatan kualitas pendidikan ma-syarakat atau peningkatan pengetahuan dan ketrampilan masyarakat, antara lain melalui program pelatihan untuk menunjang usaha pari-wisata. Program-program pencerdasan ma-syarakat belum terlalu dikembangkan sehingga modal pariwisata yang paling diunggulkan oleh ketiga Pulau Gili ini ialah masih keinda-han alamnya saja, dan belum mengembangkan kebudayaan masyarakat atau produk-produk lokal sebagai daya tarik wisata.

    KESIMPULAN

    Dari konsep dan kasus yang telah dijabar-kan sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa pengembangan pariwisata pulau kecil yang berbasis masyarakat telah diaplikasikan di ketiga pulau kecil, yaitu Gili Trawangan, Gili Air, dan Gili Meno di Lombok, meskipun ma-sih ada kekurangan di dalamnya. Partisipasi masyarakat dapat dilihat dari awal pengem-bangan pariwisata yang dilakukan oleh ma-syarakat untuk menjawab permintaan dari para wisatawan. Seiring perkembangan sek-tor pariwisata di ketiga pulau ini, masyarakat asli masih memiliki peran dengan bekerjasama dengan pengusaha pendatang atau investor dalam mengembangkan usaha penginapan dan rumah makan. Masyarakat asli juga men-jalankan perannya untuk menjadi penjaga kele-starian alam dan lingkungan dengan berbagai peraturan di sana. Salah satu contohnya pela-rangan kendaraan bermotor demi kelestarian lingkungan. Masyarakat juga mampu memberi-kan solusi sekaligus menjadi mata pencaharian dengan menyewakan alat transportasi ramah

    lingkungan seperti sepeda dan cidomo. Namun upaya pencerdasan atau pembinaan dan pela-tihan bagi masyarakat belum dapat membawa produk kebudayaan lokal sebagai salah satu daya tari wisata.

    REKOMENDASI

    Perlu adanya program pelatihan bagi masyarakat atau penduduk asli untuk dapat mengambangakan potensi lain berupa produk-produk lokal agar menjadi daya tarik wisata di Pulau Gili. Pelatihan ini bisa berupa pelatihan keterampilan, maupun pembinaan masyarakat agar dapat mengembangkan potensi pari-wisata secara mandiri. Hal ini bertujuan agar potensi yang ada di pulau tersebut tidak hanya dimanfaatkan oleh pengusaha pendatang tapi juga oleh masyarakat asli Pulau Gili Trawan-gan, Gili Air, dan Gili Meno agar dapat menin-gkatkan kesejahteraan masyarakat.

    Fokus

  • Whats/On/YourMind??

    Januari 2012 THE PLANNERS | 13

    Apa sih yang paling penting dari pariwisata mengingat anda sebagai calon perencana?

    WENA ANGGANA 154 09 077Yang paling penting adalah menyeimbangkan kebu-tuhan masyarakat sekitar dengan pembangunan. Jadi tidak terjadi ketimpangam antara keinginan devel-oper dengan masyarakat sekitar. Ini juga dapat mem-permudah jalannya pembangunan juga menghindari konflik antar developer dengan masyarakat

    HAFNITA LINDA LIZA MONA 154 09 070Pemasaran dan Infrastruktur. Karena tanpa pemasaran kita tak akan tahu bahwa ter-dapat sebuah tempat pariwisata di suatu tempat. Juga dibutuhkan kemudahan infra-struktur untuk mengakses tempat itu

    MOKHAMAD BAROKAH RAMADHAN 15409027Daya Tarik Pariwisata pada dasarnya, seperi apa yang dimiliki oleh pantai berbeda dengan gunung, baru dilanjutkan dengan infrastruktur yang ada, aksesibilitasnya, toiletnya, dan lain-lain

    ANDIEN DIANA 154 09 044semua itu bermula dari aksesibilitasnya tentu, gini lho, misal pariwisata di Garut Selatan, tempat itu sangat berpotensi dalam hal pariwisata, tapi karena kurang-nya aksesibilitas, pembangunan pariwisatanya jadi terhambat

    MARCELLINA RAGATRISNI 154 09 025infrastruktur, biar lebih nyaman ada di sana. Lalu kalau infrastrukturnya bagus, para wisatawan akan menceritakan hal itu ke temannya. Hal ini terus berlanjut dan akan memajukan pariwisata tersebut

  • Indonesia merupakan negara yang memiliki kekayaan bahari yang luar biasa. Namun perkembangan ekowisata Indonesia saat ini tidak sebanding dengan potensi wisata alam yang besar tersebut. Dicanangkannya tahun 2003 sebagai Tahun Bahari, membuka peluang lebih besar untuk mengembangkan ekowisata bahari, yang mengoptimalkan keseimbangan pemanfaatannya wilayah laut bagi pariwisata sekaligus menghasilkan devisa yang besar.

    Perkembangan ekowisata Indonesia saat ini tidak sebanding dengan potensi wisata sumber daya alam yang besar, mengingat ke-anekaragaman hayati Indonesia yang sangat kaya. Menurut Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam, Koes Saparjadi, dalam sambutannya pada acara penandatan-ganan kerjasama antara Departemen Kehu-tanan (Dephut) dengan ASITA (Association of Indonesian Tour and Travel Agency), upaya menjual taman nasional, taman suaka alam, taman buru dan suaka margasatwa yang semuanya dikelola Dephut, terkendala fasilitas perhubungan. Hal tersebut terjadi akibat belum adanya pemahaman akan fungsi dan potensi sumber daya alam yang dapat dikembangkan sebagai sumber pemasukan negara dari sektor ekowisata, mengingat ekowisata memang bu-kan wisata massal, melainkan wisata eksklusif.

    Pesisir Kecamatan Muara Gembong di Ka-bupaten Bekasi memiliki sumber daya pesisir yang berlimpah sehingga dapat dimanfaatkan sebagai objek wisata. Sungai yang lebar dan landai mengelilingi hutan bakau dan daerah tambak, serta lokasi yang cukup strategis yakni dekat dengan Kota Jakarta menjadi potensi pengembangan ekowisata bahari ini.

    PESISIR MUARAGEMBONG

    Kecamatan Muaragembong terletak di Ka-bupaten Bekasi. Dengan kondisi sungai yang ada di daerah tersebut, menjadikan sungai sebagai salah satu sarana transportasi yang cukup vital. Di sepanjang sungai masih terdapat hutan bakau yang rimbun walaupun sebagian sudah beralihfungsi menjadi tambak udang dan ikan bandeng. Banyaknya biota yang menandai hutan bakau juga dapat dikembang-kan seperti kepitiing bakau dan burung-burung yang singgah pada musim tertentu.

    Untuk memasuki Muara Gembong, terdapat tiga muara besar, yakni Muara Bendera, Muara Mati dan Muara Bungin. Nelayan bi-

    asanya membawa ikan hasil tangkapannya untuk kemudian dipasarkan di sekitar muara tersebut. Para pedagang tidak hanya men-jual ikan dari para nelayan, tapi juga menjual udang hasil dari tambak-tambak yang ada di sekitarnya.

    Variasi wisata yang dapat dinikmati di daerah tersebut antara lain adalah hutan bakau, burung-burung migran, kepiting bakau serta masih terdapat biawak juga monyet. Para wisatawan juga dapat berbelanja di sepanjang sungai serta bersama-sama dan di-mungkinkan memasak ikan segar di rumah pen-duduk. Kehidupan masyarakat di sepanjang sungai juga menjadi ciri khas tersendiri karena mereka berasal dari berbagai wilayah di In-donesia meskipun didominasi penduduk Betawi. Hal ini yang menjadikan menarik disebabkan terjadinya asimilasi kebudayaan. Pemerintah sudah memiliki rencana dalam pengalokasian ruang untuk kawasan ekowisata ini, namun masih belum dilaksanakan karena konsentrasi pemerintah masih pada nilai ekonomi tambak yang memberikan hasil secara langsung bagi masyarakat. Sedangkan pemahaman ma-syarakat mengenai pariwisata saat ini belum nampak di kecamatan Muara Gembong.

    PELUANG DAN TANTANGAN PENGELOLAAN

    Ada lima pedoman yang harus dikenali dan dipatuhi oleh para pelaku ekowisata. Lima pedoman tersebut adalah pendidikan, pem-belaan, pengawasan, keterlibatan komunitas setempat dan yang terakhir perlindungan. As-pek pendidikan menjadi bagian utama dalam pengelolaan ekowisata dikarenakan memba-wa misi sosial untuk menyadarkan keberadaan manusia, lingkungan dan akibat yang timbul jika terjadi kesalahan dalam manajemen pem-berdayaan lingkungan global. Dalam pen-jabarannya, seringkali berbenturan dengan perhitungan ekonomis atau terjebak dalam metode pendidikan yang kaku. Pembangunan infrastruktur pariwisata secara berlebihan jus-tru pada akhirnya menyebabkan perlindungan terhadap keunikan kawasan wisata menjadi tersisih dikalahkan oleh industri pariwisata mas-sal. Padahal salah satu tujuan ekowisata harus mampu menjabarkan nilai kearifan lingkungan dan sekaligus mengajak orang untuk menghar-gai apapun yang terjadi walaupun tampak sederhana. Dengan kesederhanaan itulah ma-syarakat dapat mempertahanan kelestarian alamnya.

    Fokus

    14 | THE PLANNERS Januari 2012

    PengelolaanEkowisata Pesisir

    Studi kasus: Pesisir Muaragembong Kabupaten Bekasi

    Ada lima pedoman yang harus dikenali dan dipatuhi oleh para

    pelaku ekowisata. Lima pedo-man tersebut adalah pendidikan,

    pembelaan, pengawasan, keter-libatan komunitas setempat dan

    yang terakhir perlindungan.

    OlehSilva Berlus Coni 15408033

  • Tidak semua wilayah Pesisir Muara Gem-bong memiliki potensi pariwisata yang dapat dikembangkan. Untuk keberhasilan usaha ekowisata di wilayah tersebut ditentukan atas faktor berikut:

    1. Pemilihan lokasi harus memiliki keunikan dan dapat dijangkau alat transportasi yang ramah lingkungan,

    2. Perencanaan ekowisata dan persiapan yang melibatkan masyarakat lokal untuk menjalankan ekowisata sebagai usaha bersama,

    3. Keterlibatan masyarakat lokal dalam pengembangan usaha dan pengelolaan kegiatan ekowisata,

    4. Interpretasi alam dan budaya lokal yang baik dengan membekali diri dengan pengetahuan geografi, adat istiadat, ke-biasaan dan budaya yang berlaku,

    5. Kemampuan untuk menciptakan rasa aman dah nyaman kepada wisatawan sekaligus juga memberikan pembelajaran kepada mereka untuk membantu pelestarian sum-ber daya alam, menghargai privacy dan kehormatan masyarakat setempat, dan

    6. Menjalin hubungan kerja yang berkelan-jutan dengan pemerintah dan organisasi lain yang terlibat baik langsung maupun tidak langsung.

    Dari ke enam hal yang tersbut di atas, maka Kecamatan Muara Gembong memiliki peluang pada :

    1. Ketersediaan Sungai yang luas.Wisata yang dianjurkan adalah wisata memanfaat perahu untuk mengelilingi Pesisir Muaragembong. Ini dapat dijadikan sebagai wisata masal dengan dijadikan menjadi satu paket, para wisatawan diberangkatkan dari Marina Ancol

    2. Kehidupan masyarakat lokal yang dapat diajak serta dalam pengembangan pari-wisata iniselama ini sebagai buruh tambak seba-gian masyarakat hanya mendapat keun-tungan kecil dari segi ekonomi, dengan dilibatkan dalam kepariwisaan, mer-eka dapat menjadi majikan unruk dirinya sendiri.

    Kendala utama dari pengembangan Wisata bahari ini adalah pada kondisimasyarakat yang masih sederhana dan miskin serta ber-pendidikan rendah (rata-rata SD) sehingga mementingkan mendapatkan uang sesaat, kurang faham terhadap pelestarian lingkun-gan maupun pariwisata. Kendala ke dua adlah keamanan, karena selama ini wilayah tersebut susah dijangkau, maka ada beberpa tempat yang diduga rawan keamanan, kendala yang terbesar adalah dari para petambak yang um-umnya bukan penduduk Muara Gembong, mer-eka umumnya tinggal di Jakarta, dan kurang peduli dengan kemajuan masyarakat muara gembong. Sehingga kemungkinan bekerjasama untuk menyiapkan sebaian wilayahnya bagi pariwisata diragukan.

    Prinsip ekowisata menurut Masyarakat Ekowisata Indonesia antara lain:

    1. Memiliki kepedulian, tanggung jawab dan komitmen terhadap pelestarian ling-kungan.

    2. Pengembangan harus didasarkan atas musyawarah dan persetujuan masyarakat setempat,

    3. Memberikan manfaat kepada masyara-kat setempat,

    4. Peka dan menghormati nilai-nilai sosial budaya dan tradisi keagamaan yang dia-nut masyarakat setempat,

    5. Memperhatikan peraturan perundang-undangan di bidang lingkungan dan kepariwisataan..

    Beberapa hal yang perlu diperhatikan

    Fokus

    Januari 2012 THE PLANNERS | 15

    PARIWISATA PESISIR membutuhkan pengelolaan agar pariwisata tersebut

    bisa berjalan

  • dalam pengelolaan ekowisata berbasis-kan masyarakat adalah partisipasi, gender, transparansi, pengambilan keputusan, proses perencanaan dan promosi. Sedangkan dalam pengelolaan ekowisata penting menjalin ker-jasama dengan kantor pariwisata pemerintah daerah/nasional, Lembaga Swadaya Ma-syarakat, industri pariwisata yang mapan, universitas dan lembaga penelitian, kelompok masyarakat lain, organisasi internasional dan terakhir dengan media massa.

    REKOMENDASI

    Dalam pengelolaan ekowisata kawasan Pe-sisir Muaragembong, penting menjalin kerjasa-ma dengan lembaga-lembaga lain sebagai mitra kerja seperti :

    Kantor pariwisata pemerintah daerah mau-pun nasional, serta badan-badan mana-jemen sumberdaya alam, khususnya yang membidangi hutan dan taman nasional,

    Lembaga Swadaya Masyarakat, khususnya yang bergerak di bidang lingkungan, us-aha kecil dan pengembangan masyarakat tradisional,

    Industri pariwisata yang mapan, khususnya operator perjalanan wisata,

    Universitas dan lembaga penelitian, Kelompok masyarakat lain, termasuk yang

    memiliki sejarah dengan pariwisata lokal, serta

    Organisasi inernasional, lembaga penyan-dang dana baik pemerintah maupun non-pemerintah, organisasi kebudayaan dan lain-lain.

    Media massa, baik cetak maupun elektronik (radio dan televisi).

    16 | THE PLANNERS Januari 2012

    Fokus

  • CAP VISA, koleksi tersendiri bagi para twisatawan mancanegara

    NASI GUDEG, makanan nikmat,incaran wisatawan

    TOUR GUIDE, will guide your tourwith her cuteness

    Januari 2012 THE PLANNERS | 17

    PO

    TR

    ET

    BACKPACKING menjadi salah satu pilihan pariwisata yang sedang

    digemari

  • Sektor pariwisata tidak dapat lagi diang-gap sebagai sektor pelengkap. Hal ini di-karenakan dewasa ini sektor pariwisata telah memberikan dampak yang cukup besar terhadap perekonomian dan pembangunan suatu wilayah,contohnya terjadi di Kota Band-ung dan Kabupaten Bandung. Sektor pariwisata juga menjadi sektor yang membentuk citra dari suatu wilayah di mata masyarakat luas. Selain itu, sektor pariwisata merupakan sektor yang memiliki multiplier effect, yang dapat mem-bangkitkan sektor-sektor lainnya, seperti perta-nian, industri, perrdagangan, dan lainnya.

    Salah satu kawasan wisata yang dapat dite-mukan di Kabupaten Bandung adalah Kawasan Bandung Selatan. Kawasan Bandung Selatan adalah sebuauh kawasan agro di Kabupaten Bandung yang memanfaatkan potensi perta-nian, pemandangan alam, serta budaya yang dimiliki oleh petani. Pengembangan kawasan wisata agro di Kawasan Bandung Selatan memiliki tiga tujuan, seperti yang dituangkan dalam pasal 63 Peraturan Daerah Kabupaten Bandung No. 6 Tahun 2006, yaitu:

    memperluas was an pengetahuan, pen-galaman, rekreasi, dan hubungan usaha di bidang pertanian,

    memposisikan pariwisata sejalan dengan fungsi budi daya pertanian dan permuki-man pedesaan,

    dan meningkatkan lama tinggal wisa-tawan dan belanja wisatawan yang ber-dampak pada pendapatan masyarakat melalui pengembangan ekonomi rakyat.

    Tujuan-tujuan tersebut sejalan dengan konsep ekowisata yang menekankan pada edukasi, konservasi, dan keberlanjutan dari lingkungan dan masyarakat lokal.

    Masyarakat perkotaan, dalam hai ini ma-syarakat Kota Bandung, yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Bandung, cend-erung jenuh dengan kegiatana perkotaan yang berorientasi pada kegiatan ekonomi dengan tingkat kepadatan penduduk yang relative tinggi, yang menjadi keseharian mereka. Tidak lupa sebagai sebuah kota yang menjadi tujuan wisata, Kota Bandung menjadi kta yang terke-

    nal kemacetannya pada akhir minggi dan hari libur. Hal ini semakin mendorong masyarakat Kota Bandung bergerak mencari tujuan wisata yang lebih alamiah. Masyarakat Kota Bandung merasa butuh untuk kembali bersentuhan denga alam, karena kejenuhan rutinitasnya dan meng-harapkan tantangan dan kegembiraan muncuk di alam bebas. Salah satunya adalah berbagai objek dan daya tarik wisata alam di Kawasan Wisata Bandung Selatan, Kabupaten Bandung. Hal inilah yang mendorong pengembangan ekowisata di Kawasan Wisata Bandung Selatan

    Ekowisata adalah kegiatan wisata yang memeberikan dampak langsung terhadap konservasi kawasan, berperan dalam pem-berdayaan ekonomi masyarakat lokal, serta mendorong konservasi dan pembangunan berkelanjutan. Jenis wisata ini berbeda den-gan wisata konvensional yang mengeksploitasi bentuk-bentuk kehidupan yang ada di daerah wisata tersebut.

    Menurut Damanik dan Weber, ekowisatawan adalah segmmen wisatawan yang memiliki mo-tif, minat, dan ketertarikan pada hal-hal khu-susu di daerah tujuan wisata, terutama pada kegiatan konservasi alam dan budaya yang menjadi pusat kegiatan wisatanya. Kelompok ini menunjukan kepedulian terhadap lingkun-gannya sehingga mereka hanya menggunakan sumber daya alam secara hemat dan berkon-tribusi terhadap daerah tujuan, salah satunya dengan membangkitkan lapangan pekerjaan dan perkonomiannya. Karakteristik utamanya adalah masyarakat perkotaan yang memiliki keingintahunan tentang alam di daerah tujuan-nya dan berpendidikan serta berjiwa petual-ang.

    Kota Bandung memiliki banyak sekali ko-munitas kreatif, terutama yang terbentuk atas dasar kesamaan hobi atau intersest pribadi. Komunitas-komunitas kreatif ini melakukan ke-giatannya secara bersama-sama pada waktu-waktu tertentu, karena sifat komunitas yang tidak mengikat. Komunitas kreatif menjadi focus pembahasan dalam tulisan ini adalah komuni-tas kreatif yang terbentuk atas dasar interest

    Identifikasi Karakteristik Wisatawan dan Komunitas Kreatif dalam Pengembangan Ekowisata di Ka-wasan Wisata Bandung Selatan

    Tugas Akhir

    Oleh Cathelya Y.H. Silaen (15407049)

    18| THE PLANNERS Januari 2012

    Studi Kasus: Kawah Cibuni dan Situ Patengan

    Sektor pariwisata tidak dapat lagi dianggap sebagai sektor

    pelengkap. Hal ini dikarenakan dewasa ini sektor pariwisata telah memberikan dampak

    yang cukup besar terhadap per-ekonomian dan pembangunan

    suatu wilayah

  • Tugas Akhir

    SITU PATENGAN, kawasanpariwisata di Bandung Selatan

    Januari 2012 THE PLANNERS | 19

    pribadi anggotanya terhadap pariwisata berkelanjutan. Komunitas Kreatif seperti ini adalah komunitas orang yang memiliki peng-hargaan khusus terhadap lingkungan dalam melakukan kegiatan wisatanya. Contoh komu-nitas kreatif yang memiliki sifat tersebut, yang ada di Kota Bandung antara lain Geotrek In-donesia, Komunitas Aleut, Bandung Trails, dan lain lain.

    Tulisan ini berfokus pada identifikasi kara-kteristik wisatawan dan komunitas kreatif se-bagai komponen pengembangan ekowisata di Kawasan Wisata Bandung Selatan. Penelitian terhadap karakteristik wisatawan dan komu-nitas kreatif tersebut berguna dalam upaya pengembangan wisata alam yang ada di Kawasan Wisata Bandung Selatan, sesuai dengan konsep ekowisata, sebagai masukan bagi pengembangan ekowisata di berbagai objek dan daya tarik wisata alam di Kawasan Wisata Bandung Selatan.

    KESIMPULAN

    Kawasan Wisata Bandung Selatan adalah sebuah kawasan wisata yang didominasioleh objek dan daya tarik wisata alam, antara lain perkebunan, hutan, mata air panas, kawah, dan gunung. Selain potensi alam, kawasan ini juga memiliki sisi sejarah yang unik untuk dija-dikan daya tarik wisata. Kawasan ini juga me-miliki daya tarik lain, yaitu daya tark geologis seperti bongkaha-bongkahan batu magnetis di Gunung Sadu, yang memiliki cerita tersendiri yang membuatnya tidak hanya sekedar batu biasa. Berbagai potensi wisata yang tidak hanya sebagai tujuan rekreasi, namun juga sebagai tujuan wisata yang berkelanjutan, seperti ekowisata.

    Perbedaan mendasar dari wisatawan peserta Geotrek Cibuni dan wisatawan ob-jek wisata lainnya adalah wisatawan peserta

    geotrek mayoritas berusia lebih dewasa, den-gan tingkat pendidikan dan pendapatan yang lebih tinggi serta memiliki perencanaan keuan-gan untuk berwisata. Sementara itu wsatawan biasa mayoritas berusia lebih muda dengan tingkat pendidikan dan pendapatan yang ren-dah, dan tidak memiliki perencanaan keuan-gan untuk berwisata. Hal ini aka terkait pada perbedaan pola dan persepsi wisatawan.

    Perbedaan profil mendasar wisatawan me-nyebabkan perbedaan pola perjalanan wisa-tawan perbedaan mendasar dari wisatawan Geotrek Cibuni dan wisatawan objek wisata biasa, dari segi pola perjalanan, adalah motivasi perjalanan dan frekuensi kunjungan. Wisatawan peserta geotrek mempunyai moti-fasi perjalan yang lebih bermakna daripada hanya sekedar berekreasi belaka. Ada moti-vasi edukasi berupa menambah pengetahuan, ketertarikan terhadap objek wisata alam dan keingintahuan terhadap tempat tempat baru. Hal ini juga dilihat pada frekuensi kunjungan wisatawan yang baru pertama kali.

    Perbedaan mencolok dari wisatawan peser-ta Geotrek Cibuni dengan wisatawan biasa dari segi persepsi adalah cara pandang mer-eka terhadap kawasan wisata dan penerapan sustainable tourism selama perjalanan mereka. Wisatawan peserta geotrek lebih kritis dalam menilai kawasan wisata. Hal ini terkait dengan profil dasar mereka yang lebih mapan dari-pada wisatawan biasa. Mereka juga menilai kawasan wisata lebih mapan daripada hanyak sekedar wisata alam tempat berekreasi sep-erti penialian wisatawan biasa. Hal ini terkait dengan wawasan yang mereka dapatkan se-lama bergeotrek.

    Perbedaan lainnya adalah penerapan wisata berkelanjutan selama perjalanan mer-eka masing-masing. Wisatawan peserta Geo-trek Cibuni adalah wisatawan-wisatawan yang

    http://w

    ww

    .flickr.com/p

    hotos/cikguya

    ng/2

    78

    74

    75

    70

    7/

  • Tugas Akhir

    merasa ikut ber-tanggung jawab dengan destinasi wisata, karena se-lain edukasi, mer-eka memegang prinsip konservasi dalam perjalanan-nya. Prinsp tersebut dijalankan dalam bentuk interaksi dengan masyarakat, penerapan konsep 3R, kontribusi pele-starian alam dan budaya. Berbeda dengan wisatawan biasa, mereka may-oritas peduli terha-dap kebutuhan ber-wisata pribadinya saja.

    Hasil analisis kesesuaian yang dilakukan terhadap karakteristik wisa-tawan peserta

    geotrek, wisatawan biasa, dan ekowisatawan yang dilansir oleh The International Ecotourism Society (TIES) menunjukkan bahwa yang memi-liki potensi pasar ekowisata adalah wisatawan yang melakukan perjalan bersama komunitas kreatif, dalam hal ini adalah Geotrek Indo-nesia. Profil dasar wsatawan Geotrek Cibuni memenuhi semua karakteristik ekowisatawan yang terlampir pada TIES tahun 2000. Begitu pula dengan pola perjalan, dimana wisatawan Geotrek Cibuni memenuhi semua karakteris-tik ekowisatawan. Dari segi persepsi terlihat bahwa wisatawan Geotrek Cibuni lebih kri-tis dalam memandang berbagai komponen kepariwisataan dan tuntutan terhadap produk ramah lingkungan dan ramah social yang lebih tinggi daripada wisatawan biasa.

    REKOMENDASI

    Rekomendasi untuk Geotrek Indonesia

    Meningkatkan penyebaran informasi, baik publikasu tur maupun diskusi-diskusi mengenai jalur wisata dan berbagai

    keilmuan terkait lainnya, di Facebook atau di situs Getrek Indonesia, serta mer-ambah ke media lainnya seperti media cetak dan radio

    Menciptakan komunikasi yang lebih kon-tinu antanggota dengan berbagai diskusi dan kegiatan ringan untuk meneruskan proses pembelajaran dan sharing berb-agai wawasan bagi setiap anggotanya

    Meningkatkan peran masyarakat lokal dalam setiap kunjungan, bukan hanya sebagai penyedia jasa yang dibutuhkan, tapi juga sebagai interpreter yang men-genal dengan baik daerah yang dikun-jungi oleh wisatawan

    Menyediakan interpretasi bilingual, kare-na warga negara asng yang tinggal di Indonesia juga tertari untuk mengikuti Tur

    Rekomendasi untuk Pengelola Objek dan Daya Tarik Wisata

    Meningkatkan kualitas fasilitas penunjang pariwisata, seperti lahan parker, ak-sesibilitas, sarana amanitas, kebersihan, dan kenyamanan di objek wisata

    Memperkenalkan ekowisata atau wisata berkelanjutan pada wisatawan yang berkunjung, bukan hanya pelabelan, na-mun juga dalam pengelolaannya

    Melibatkan masyrakat lokal dalam per-encanaan hingga pengelolaan dan me-ningkatkan kapasitas masyarakat loka

    Menggukakan keuntungan financial un-tuk kepentingan konservasi alam dan budaya

    Rekomendasi untuk Pemerintah

    Meningkatkan aksesibilitas menuju ka-wasan wisata dengan kualitas jalan yang lebih baik dan jumlah moda transportasi yang perlu di tambah

    Memberi peluang kepada komunitas kreatif sebagai media penarik wisa-tawan yang berpotensi sebagai ekow-isatawan dan menjalin kerjasama untuk menggerakan pasar wisata kea rah yang lebih berkelanjutan

    Menjalin kerjasama dengan pengelola kawasan wisata untuk menerapkan kon-sep ekowisata dalam kegiatan kepari-wisataan yang berjalan

    20 | THE PLANNERS Januari 2012

    http

    ://a

    leut

    .wor

    dpre

    ss.c

    om/2

    011/

    04/1

    1/po

    tens

    i-geo

    wisa

    ta-k

    awah

    -cib

    uni/

    KAWAH CIBUNI, pariwisata Bandung Selatan yang menarik banyak

    pengunjung

  • KuesionerTA, Tesis, Penelitian

    menggunung?

    http

    ://w

    ww

    .flic

    kr.c

    om/p

    hoto

    s/m

    iha

    elcm

    rk/5

    07

    20

    49

    46

    0/s

    izes

    /l/i

    n/p

    hoto

    stre

    am

    /

    Jangan sedih,Tidak perluFrustrasi!

    http

    ://w

    ww

    .flic

    kr.c

    om/p

    hoto

    s/a

    ria

    da

    viso

    n/2

    89

    09

    68

    66

    4/s

    izes

    /l/i

    n/p

    hoto

    stre

    am

    /

    Advertisement

    Kami siap membantu!

    PELAYANAN SURVEIHubungiFanni Harliani 0856 215 4887

    DIVISI KEPROFESIANHMP Pangripta Loka ITB

  • SEE YOU

    AT

    THE NEXT

    EDITION

    OF

    theplanners

    ePortfolio

    Keprofesian HMP PL ITB (C) 201