of 116/116
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id commit to user TUGAS AKHIR KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN GALERI SENI URBAN YOGYAKARTA DENGAN PENEKANAN PADA PENCITRAAN BENTUK BANGUNAN KONTEMPORER Disusun oleh: Tomy Arief [I0205120] Dosen Pembimbing: Ir. A. Farkhan, MT Amin Sumadyo, ST.MT JURUSAN ARSITEKTUR FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2010

TUGAS AKHIR KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN · tugas akhir konsep perencanaan dan perancangan galeri seni urban yogyakarta dengan penekanan pada pencitraan bentuk bangunan kontemporer

  • View
    27

  • Download
    2

Embed Size (px)

Text of TUGAS AKHIR KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN · tugas akhir konsep perencanaan dan perancangan...

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    TUGAS AKHIR

    KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

    GALERI SENI URBAN YOGYAKARTA DENGAN PENEKANAN PADA PENCITRAAN BENTUK BANGUNAN KONTEMPORER

    Disusun oleh: Tomy Arief

    [I0205120]

    Dosen Pembimbing: Ir. A. Farkhan, MT

    Amin Sumadyo, ST.MT

    JURUSAN ARSITEKTUR FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET

    SURAKARTA 2010

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user    

     

    DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS SEBELAS MARET FAKULTAS TEKNIK JURUSAN ARSITEKTUR

    PENGESAHAN TUGAS AKHIR

    GALERI SENI URBAN YOGYAKARTA DENGAN PENEKANAN PADA

    PENCITRAAN BENTUK BANGUNAN KONTEMPORER

    DISUSUN OLEH : TOMY ARIEF NIM. I0205120

    SURAKARTA, 26 OKTOBER 2010

    Telah Diperiksa dan Disetujui Oleh

    PEMBIMBING TUGAS AKHIR

    MENGESAHKAN,

    PEMBIMBING I

    IR. A. FARKHAN, MT

    NIP. 19600101 199003 1 001

    PEMBIMBING II

    AMIN SUMADYO, ST, MT

    NIP. 19720811 200012 1 001

    PEMBANTU DEKAN I FAKULTAS TEKNIK UNS

    IR. NOEGROHO JARWANTI, MT

    NIP. 19561112 198403 2 007

    KETUA JURUSAN ARSITEKTUR FAKULTAS TEKNIK UNS

    IR. HARDIYATI, MT

    NIP. 19561209 198601 2 001

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    x

    DAFTAR GAMBAR Gambar 2.1 Pengumpulan Karya Seni Dalam Suatu Galeri II-1

    Gambar 2.2 Pameran Hasil Karya Seni Dalam Suatu Galeri II-1

    Gambar 2.3 Konservasi Karya Seni Dalam Suatu Galeri II-2

    Gambar 2.4 Konservasi Karya Seni Dalam Suatu Galeri II.2

    Gambar 2.5 Kritik Sosial dalam Muatan Seni Urban II-7

    Gambar 2.6 Seni yang Menghampiri Masyarakat di Ruang Publik II-8

    Gambar 2.7 Mural yang berisi Kritik atas Kontroversi RUU APP II-9

    Gambar 2.8 Grafitti di Bounes Aires Argentina yang Bergaya Stencil II-10

    Gambar 2.9 Urban Toys yang Merupakan Crossover dari Berbagai

    Macam Karakter

    II-11

    Gambar 2.10 Karya Seni Instalasi II-12

    Gambar 2.11 Performance Art yang Memadukan Seni Pertunjukan dan

    Instalasi

    II-13

    Gambar 2.12 Interior Imatra II-19

    Gambar 2.13 Eksterior Imatra II-19

    Gambar 2.14 Interior Guggenheims Gallery II-19

    Gambar 2.15 Venna Venturi House II-20

    Gambar 2.16 Peta Kotamadya Yogyakarta II-20

    Gambar 2.17 Instalasi Pada Biennale II-25

    Gambar 2.18 Performance pada Gelaran Perfurbance II-25

    Gambar 2.19 Gelaran Kode Pos Art Project II-27

    Gambar 2.20 Peta Pembagian Kawasan Kotamadya Yogyakarta II-28

    Gambar 2.21 Peta Rencana Pemanfaatan Lahan Kotamadya

    Yogyakarta

    II-29

    Gambar 2.22 Entrance Selasar Sunaryo II-30

    Gambar 2.23 Interior Selasar Sunaryo II-30

    Gambar 2.24 Aksonometri Rumah Seni Cemeti II-31

    Gambar 2.25 Interior Rumah Seni Cemeti II-32

    Gambar 3.1 Struktur Organisasi Galeri Seni Uban III-3

    Gambar 4.1 Alternatif Lokasi IV-1

    Gambar 4.2 Site Terpilih IV-3

    Gambar 4.3 Pola Kegiatan Galeri Seni Urban IV-6

    Gambar 4.4 Bagan Hubungan Ruang Makro IV-14

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    xi

    Gambar 4.5 Bagan Hubungan Ruang Mikro IV-16

    Gambar 4.6 Analisa Pencapaian IV-20

    Gambar 4.7 Analisa Penentuan ME dan SE IV-21

    Gambar 4.8 Analisa Matahari IV-22

    Gambar 4.9 Analisa Kebisingan IV-23

    Gambar 4.10 Analisa View IV-24

    Gambar 4.11 Analisa Sirkulasi IV-27

    Gambar 4.12 Contoh Bangunan Kontemporer yang Menganut Double

    Coding

    IV-33

    Gambar 4.13 Sistem Jaringan Air Bersih dengan Down Feed

    Distribution

    IV-40

    Gambar 4.14 Sistem Pembuangan Air Kotor IV-41

    Gambar 4.15 Sistem Instalasi Tenaga Listrik IV-44

    Gambar 5.1 Site Terpilih V-1

    Gambar 5.2 Konep ME/SE dan Sirkulasi V-4

    Gambar 5.3 Sclupture pada Jalur Pedestrian V-5

    Gambar 5.4 Lebar Jalur Sirkulasi Kendaraan V-5

    Gambar 5.5 Lebar Jalur Sirkulasi Pedestrian V-6

    Gambar 5.6 Respon Iklim pada Massa Pendidikan dan Pengelolaan V-6

    Gambar 5.7 Respon Iklim pada Massa Kegiatan Pameran V-7

    Gambar 5.8 Peletakan Vegetasi Mengelilingi Site V-7

    Gambar 5.9 Zoning Berdasarkan Noise V-8

    Gambar 5.10 Arah Orientasi Bangunan V-8

    Gambar 5.11 Konsep Zonifikasi Site V-9

    Gambar 5.12 Gubahan Massa Kelompok Kegiatan V-10

    Gambar 5.13 Gubahan Massa Gabungan V-11

    Gambar 5.14 Konsep Pola Tata Letak Massa Bangunan V-12

    Gambar 5.15 Ekspresi dan Citra Bangunan V-12

    Gambar 5.16 Persilangan Antar Langgam V-13

    Gambar 5.17 Pola Jalan Setapak V-13

    Gambar 5.18 Pondasi Footplate V-14

    Gambar 5.19 Modul Struktur V-14

    Gambar 5.20 Struktur Kantilever V-15

    Gambar 5.21 Struktur Kuda-kuda Baja V-15

    Gambar 5.22 Luminary Track V-15

    Gambar 5.23 Aplikasi Luminary Track V-16

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    xii

    Gambar 5.24 Lampu LED dan Pemainan Warna Ambient V-17

    Gambar 5.25 Konsep Sistem Air Bersih V-17

    Gambar 5.26 Konsep Pembuangan Air Kotor V-18

    Gambar 5.27 Konsep Instalasi Listrik V-18

    Gambar 5.28 Pemadam Kebakaran Busa V-19

    Gambar 5.29 Pemadam Kebakaran Tepung Kering V-19

    Gambar 5.30 Jenis Kamera CCTV V-20

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    ix

    DAFTAR TABEL .

    Tabel 1.1. Jumlah Komunitas Seni Urban Yogyakarta I-4

    Tabel 2.1. Perbandingan Seni Urban dan Seni Mainstream II-9

    Tabel 2.2. Perbandingan Antara Modernisme dan Postmodernisme II-17

    Tabel 4.1. Analisa Pemilihan Lokasi IV-2

    Tabel 4.2. Penentuan Kelompok Kegiatan dan Pelaku Kegiatan IV-7

    Tabel 4.3. Penentuan Kebutuhan Ruang Berdasarkan Analisa

    Kegiatan

    IV-7

    Tabel 4.4. Perhitungan Besaran Ruang dan Program Ruang IV-10

    Tabel 4.5. Perencanaan Ruang Dalam IV-17

    Tabel 4.6. Perencanaan Ruang Luar IV-19

    Tabel 4.7. Analisa Zonifikasi Kelompok Kegiatan IV-25

    Tabel 4.8. Alternatif Jenis Sirkulasi IV-26

    Tabel 4.9. Alternatif Massa Dasar Bangunan IV-28

    Tabel 4.10. Alternatif Tata Massa Bangunan IV-28

    Tabel 4.11. Alternatif Organisasi Massa Bangunan IV-29

    Tabel 4.12. Ciri Khas Langgam/Gaya Arsitektur yang Pena Eksis di

    Indonesia

    IV-32

    Tabel 4.13. Macam Pencahayaan IV-37

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    vi

    DAFTAR ISI Halaman Judul i

    Lembar Pengesahan ii

    Ucapan Terima Kasih iii

    Kata Pengantar v

    Daftar Isi vi

    Daftar Tabel ix

    Daftar Gambar x

    [BAB I] Pendahuluan

    A. Judul I-1

    B. Pemahaman Judul I-2

    C. Latar Belakang I-3

    D. Permasalahan I-7

    D.1. Umum I-7

    D.2. Khusus I-7

    E. Tujuan Dan Sasaran I-7

    F. Lingkup Penulisan I-8

    F.1. Lingkup Materi I-8

    F.2. Lingkup Wilayah I-8

    G. Metoda Pengumpulan Data dan Pembahasan I-8

    H. Sistematika Penulisan I-10

    [BAB II] Tinjauan Pustaka

    Galeri Seni, Seni Urban, Ruang Publik, Kontemporer Dan Kota Yogyakarta

    A. Galeri Seni II-1

    A.1. Pemahaman Galeri II-1

    A.2. Perkembangan Fungsi Galeri II-1

    A.3. Macam Galeri Seni II-3

    A.4. Lingkup Kegiatan Galeri II-5

    B. Seni Urban II-5

    B.1. Pemahaman Seni Urban II-5

    B.2. Macam Seni Urban II-9

    C. Ruang Publik II-14

    C.1. Ruang Publik Dalam Elemen Kota II-14

    C.2. Ruang Publik Untuk Galeri Seni Urban

    II-14

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    vii

    D. Bentuk Kontemporer II-15

    D.1. Pemahaman Kontemporer II-15

    D.2. Kontemporer Sebagai Bagian dari Gerakan Postmodern II-16

    D.3. Kontemporer dalam Arsitektur II-18

    E. Tinjauan Kota Yogyakarta II-20

    E.1. Keadaan Geografi dan Klimatologis II-20

    E.2. Potensi Kota Yogyakarta II-21

    E.3. Perkembangan Seni Urban di Yogyakarta II-23

    E.4. Rencana Pemanfaatan Ruang Kota Yogyakarta II-28

    F. Studi Kasus Galeri Seni II-30

    F.1. Selasar Sunaryo Art Space Bandung II-30

    F.2. Rumah Seni Cemeti Yogyakarta II-31

    [BAB III] Galeri Seni Urban Yogyakarta yang Direncanakan

    A. Pengertian III-1

    B. Tujuan III-1

    C. Fungsi, Motivasi dan Peranan Galeri Seni Urban III-1

    D. Lingkup Pelayanan III-2

    E, Status Kelembagaan III-2

    F. Pengelola Galeri Seni Urban III-3

    G. Kegiatan yang Diwadahi III-3

    H. Pameran dan Koleksi III-4

    I. Pelaku Kegiatan III-5

    [BAB IV] Proses Penentuan Konsep Perencanaan dan Perancangan

    Galeri Seni Urban Yogyakarta Dengan Penekanan Pada Pencitraan Bentuk Bangunan

    Kontemporer

    A. Analisa Makro

    IV-1

    A.1. Proses Penentuan Pemilihan Lokasi IV-1

    A.2. Proses Penentuan Pemilihan Tapak IV-3

    B. Analia Mikro IV-4

    B.1. Analisa Pola Kegiatan IV-4

    B.2. Analisa Peruangan IV-7

    B.2.1. Analisa Kebutuhan Ruang IV-7

    B.2.2. Analisa Besaran Ruang IV-10

    B.2.3. Analisa Pola Hubungan Ruang IV-14

    B.2.4. Analisa Persyaratan dan Perencanaan Ruang IV-16

    B.3. Analisa Penentuan Sistem ME dan SE

    IV-19

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    viii

    [BAB V] Konsep Perencanaan Dan Perancangan

    Galeri Seni Urban Yogyakarta Dengan Penekanan Pada Pencitraan Bentuk Bangunan

    Kontemporer

    A. Konsep Pemilihan Lokasi dan Site V-1

    B. Konsep Peruangan V-1

    C. Konsep ME/SE dan Sirkulasi Tapak V-4

    D. Konsep Klimatologi V-6

    E. Konsep Kebisingan V-7

    F. Konsep Orientasi V-8

    G. Konsep Zoifikasi Site V-9

    H. Konsep Gubahan Massa V-9

    I. Konsep Bentuk dan Tampilan Bangunan V-12

    J. Konsep Landscape Bangunan V-13

    K. Konsep Sistem Struktur V-14

    L. Konsep Pencahayaan V-15

    M. Konsep Sistem Utilitas Bangunan V-17

    Daftar Pustaka xiii

    Lampiran

    B.4. Analisa Konsep Klimatologi IV-21

    B.5. Analisa Kebisingan IV-23

    B.6. Analisa View dan Orientasi IV-24

    B.7. Analia Zonifikasi Kelompok Kegiatan IV-24

    B.8. Analisa Sirkulasi IV-26

    B.9. Analisa Gubahan Massa IV-27

    B.10. Analisa Bentuk dan Tampilan Bangunan IV-31

    B.11. Analisa Penentuan Landscape Bangunan IV-33

    B.12. Analisa Sistem Struktur IV-35

    B.13. Analisa Sistem Pencahayaan IV-37

    B.14. Analisa Sistem Utilitas Bangunan IV-40

    B.14.1. Analisa Sistem Air Bersih IV-40

    B.14.2. Analisa Sistem Air Kotor IV-40

    B.14.3. Analisa Sitem Penghawaan IV-41

    B.14.4. Analisa Sistem Pengamanan Terhadap Bahaya Kebakaran IV-42

    B.14.5. Analisa Sistem Instalasi Listrik IV-44

    B.14.6. Analisa Sistem Pennangkal Petir IV-45

    B.14.7. Analisa Sistem Keamanan Aset Pameran IV-46

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

     

    I‐1 

     

    BAB I Galeri Seni Urban Yogyakarta Dengan Penekanan pada Pencitraan Bentuk Bangunan Kontemporer

    [BAB I] PENDAHULUAN

    A. Judul

    Galeri Seni Urban Yogyakarta Dengan Penekanan Pada Pencitraan Bentuk Bangunan

    Kontemporer

    B. Pemahaman Judul • Galeri: Berasal dari bahasa latin (galeria) yaitu ruang beratap dengan satu sisi

    terbuka. Di Indonesia galeri sering diartikan sebagai ruang atau bangunan tersendiri

    yang digunakan untk memamerkan karya seni. (Ensiklopedia Nasional Indonesia.

    PT. Cipta Adi Pustaka. Jakarta. 1989)

    • Seni urban: Urban art adalah seni yang mencirikan perkembangan kota, dimana

    perkembangan itu kemudian melahirkan sistem di masyarakat yang secara struktur

    dan kultur berbeda dengan struktur dan kultur masyarakat pedesaan.

    (bandungcreativecityblog.wordpres.com)

    • Citra: Image,kesan atau gambaran penghayatan yang menangkap arti bagi

    seseoang. (Y.B Mangunwijaya. 1998. Wastu Citra. Jakarta: Gramedia Pustaka

    Utama).

    • Kontemporer: (1) semasa, sezaman; (2) bersamaan waktu, dalam waktu yang sama;

    (3) masa kini, dewasa ini.( Badudu-Zein, 1994:714)

    Pemahaman Galeri Seni Urban Yogyakarta Dengan Penekanan Pada Pencitraan Bentuk

    Bangunan Kontemporer:

    Galeri seni yang menjadi wadah bagi seluruh elemen masyarakat Yogyakarta pada

    khususnya untuk dapat mengekspresikan semangat urbannya malalui karya seni juga

    sebagai ruang publik alternatif dengan kekhasan pada pencitraan bentuk bangunan

    kontemporer

    C. Latar Belakang Permasalahan Urban art atau seni urban telah menjadi fenomena tersendiri di Indonesia. Seni urban

    mulai muncul pada era 1990-an akhir dan terus berkembang meluas pada 2000-an.

    Pada awal kemunculan mutakhirnya, di era pemerintahan rezim otoritarian kapitalistik

    Orba masih berada pada puncak-puncak kekuasaan, dekade akhir 1990-an, seni

    urban masihlah berupa gerakan kecil-kecilan, sporadis, kurang massif dan hanya

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

     

    I‐2 

     

    BAB I Galeri Seni Urban Yogyakarta Dengan Penekanan pada Pencitraan Bentuk Bangunan Kontemporer

    dikerjakan sebagai semacam kegiatan “gerilya”1. Seni urban adalah karya seni yang

    galerinya ditampilkan pada ruang publik yang tidak terjamah, mengkritisi keadaan

    masyarakat sekaligus sebagai ajang komunikasi antar masyarakat. Lebih luasnya seni

    urban dapat dipahamai sebagai berikut:

    “Urban art lahir karena adanya kerinduan untuk merespon kreativitas masyarakat yang

    tinggal di daerah perkotaan dengan segala problematikanya. Maka munculah usaha dari

    sekelompok orang untuk memamerkan dan mendatangkan seni ditengah-tengah

    masyarakat dengan cara melakukan kebebasan berekspresi di ruang publik. Ekspresi yang

    ditampilkan adalah ekspresi yang mencoba memotret permasalahan-permasalahan yang

    kerap terjadi dan mendominasi masyarakat urban mencakup masalah sosial, ekonomi,

    politik dan budaya. Melalui media seni dan dilatarbelakangi oleh pertumbuhan dan

    kapitalisasi kota itu sendiri. Zaman sekarang seni bukan lagi sebuah representasi yang

    ditampilakan digaleri saja, tapi sebuah media ekspresi yang bertarung di fasilitas publik

    dengan media lainnya seperti iklan di TV, billboard iklan, poster promosi, baliho dan lain-

    lain. Semua media ekspresi tersebut mendominasi dihampir setiap fasilitas publik.

    Urban art berhasil memangkas hubungan yang berjarak antara publik sebagai apresiator

    dengan sebuah karya seni. Menggantikan fungsi seni yang tadinya agung, klasik, murni,

    tinggi serta tradisional. Seni diposisikan sebagai sesuatu yang konservatif dan sarat

    dengan nilai pengagungan. Urban art berhasil meruntuhkan nilai-nilai tersebut dengan

    cara menghadirkannya ke tengah publik melalui media-media yang erat dengan keseharian

    masyarakat kota. Tujuan urban art lebih berakar pada perbedaan sikap politik, anti kemapanan, vandalisme dan perlawanan terhadap sistem dominan dimasyarakat”.2

    Selain itu, seni urban juga dapat ditafsirkan sebagai perlawanan terhadap seni

    modern yang sudah diproduksi, didistribusikan dan dikonsumsi secara kapitalistik.

    Ketika seni rupa sudah masuk ke sistem pasar masyarakat kapitalistik, karya seni rupa

    diproduksi, didistribusikan dan dikonsumsi secara kapitalistik. Seni urban juga

    berusaha untuk melakukan pergeseran dari pengertian negatif seni rupa tinggi (high

    art). Seni rupa tinggi (high art) adalah seni rupa yang terpisah dengan publik luas yang

    hanya dipajang atau terisolasi di ruangan privat seniman, yang diasumsikan sebagai

    bukan ruang publik: seperti gallery, museum, art shop; tidak diarahkan untuk

    kepentingan membangun dialog dengan masyarakat tetapi lebih mengedepankan

                                                                1 iicul.wordpress.com/2008/08/15/jalan-seni-jalanan-yogyakarta/

    2 bandungcreativecityblog.wordpress.com ditulis oleh Addy Handy 

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

     

    I‐3 

     

    BAB I Galeri Seni Urban Yogyakarta Dengan Penekanan pada Pencitraan Bentuk Bangunan Kontemporer

    unsur estetik dan artistik yang diinginkan oleh individu pekerja seninya; lebih terkesan

    menjujung tinggi seni untuk seni dan tidak mencangkup persoalan ekstraestetik3.

    Di Indonesia sendiri seni urban berkembang pesat khususnya di kota-kota besar

    dengan keheterogenitas penduduknya. Kota-kota seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta

    dan Surabaya menjadi telah pusat perkembangan seni urban di Indonesia. Diantara

    kota-kota besar tersebut, kota yang paling pesat perkembangan seni urbannya adalah

    Yogyakarta.

    Seperti diketahui, Yogyakarta telah lama dikenal sebagai kota dengan nuansa seni

    dan budaya yang kental. Di kota inilah lahir seniman-seniman terkenal Indonesia

    seperti Affandi, Rusli, Y.B Mangunjaya, Hendra Gunawan dan masih banyak lagi. Kota

    Yogyakarta juga merupakan contoh ideal dimana seni dan budaya modern

    kontemporer yang diusung oleh para pendatang dapat berafiliasi dan membaur dengan

    seni budaya tradisonal masayarakat setempat.

    Perkembangan seni urban di Yogyakarta dimulai sejak tahun 1997 dengan

    komunitas Apotik Komik sebagai pelepopornya. Komunitas Apotik Komik pertama kali

    menghadirkan seni ke ranah publik dengan menempelkan “mural” berupa komik pada

    kain dan triplek yang kemudian dipamerkannya di luar ruangan. Selanjutnya Apotik

    Komik gencar mengadakan praktek berkesenian di ruang publik, tidak hanya

    berkegiatan sendirian, tetapi juga dengan melibatkan mayarakat setempat seperti

    dalam proyek Koe Pos Art Project dan Kampung Sebelah Art Project.

    Pada tahun yang sama juga lahir komunitas Lembaga Budaya Kerakyatan Taring

    Padi yang merupakan gabungan dari para pekerja seni dan mahasiswa ISI Yogyakarta.

    Kelompok Lembaga Budaya Kerakyatan Taring Padi adalah kelompok yang secara

    intens menciptakan karya-karya yang mereka tempatkan pada ruang publik. Tujuan

    mereka sangat jelas, memakai ruang publik untuk mempresentasikan karya-karya

    mereka yang sarat dengan pesan-pesan sosial, agar karya-karya tersebut bisa

    dikomunikasikan kepada masyarakat luas. Mereka memakai seni rupa sebagai media

    untuk penyadaran kepada masyarakat. Aktivitas seni rupa LBK Taring Padi dibagi

    dalam dua kecenderungan, yaitu yang bersifat praksis yang biasanya dilakukan

    bersama masyarakat, dan kecenderungan lain adalah penciptaan karya-karya

    individual. Praksis adalah aktivitas antara seniman dan komunitas masyarakat yang

                                                                3 Makalah yang disampaikan pada Diskusi Mural Kota Yogya, Kerja Sama Jogja Fine Art

    Community-Harian Bernas dan kemudian dipublikasaikan secara luas dalam Harian

    Bernas

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

     

    I‐4 

     

    BAB I Galeri Seni Urban Yogyakarta Dengan Penekanan pada Pencitraan Bentuk Bangunan Kontemporer

    mempergunakan media seni rupa. Aktivitas ini bertujuan untuk membangun kesadaran

    baru bagi masyarakat akan permasalahan-permasalahan yang dihadapinya4.

    Hingga saat ini komunitas seni urban Yogyakarta telah berkembang dengan pesat

    termasuk didalamnya para penggiat seni kontemporer. Tidak ada data yang pasti

    mengenai jumlah komunitas seni urban di Yogyakarta dikarenakan sifat komunitas ini

    yang tidak terikat dan bebas. Tapi berdasarkan dokumentasi yang dilakukan komunitas

    Gelaran Budaya yang kemudian dipublikasikan dalam Gelaran Almanak Seni Rupa

    Jogja 1999-2009, setidaknya ada 101 komunitas seni yang masih aktif di Yogyakarta

    dengan perincian sebagai berikut:

    Tabel 1.1 Jumlah Komunitas Seni Urban Yogyakarta

    Jenis Kesenian Jumlah Komunitas

    Seni Lukis 11

    Seni Patung 1

    Seni Grafis 8

    New Media Art/Performance Art 6

    Fotografi 11

    Film 64

    Jumlah 101

    Data di atas belum mencangkup komunitas-komunitas yang bergerak secara ‘bawah

    tanah’ serta para penggiat seni yang beraktifitas secara individu.

    Festival serta acara-acara kesenian juga semakin banyak diadakan untuk

    merespon perkembangan komnitas-komunitas seni urban di Yogyakarta dan semuanya

    mendapatkan antusiasme besar dari mayarakat Yogyakarta sendiri. Tercatat ada 22

    gelaran seni yang memiliki lingkup Kota Yogyakarta dan 6 diantaranya bersifat rutin

    (Gelaran Almanak Seni Rupa Jogja 1999-2009, Gelaran Budaya, 2009). Gelaran yang

    bersifat rutin itu adalah Biannale Jogja, Perfurbance, Festival Kesenian Yogya (FKY),

    Jogja Art Fair, Beber Seni Yogyakarta dan Fetival Film Dokumenter Yogyakarta.

    Tapi perkembangan komunitas seni urban ini tidak dibarengi dengan

    perkembangan wadah yang dapat menampung ekspresi berkesenian komunitas ini.

    Galeri seni seharusnya cukup potensial untuk dapat menjadi wadah tersebut. Tapi

    galeri tersebut telah dimasuki oleh prinsip-prinsip komersialisme. Karya seni yang                                                             4 www.karbonjournal.org dalam Seni rupa (dalam ruang) Publik ditulis oleh FX Harsono

    Sumber: Gelaran Almanak Seni Rupa Jogja 1999-2009, Gelaran Budaya, 2009

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

     

    I‐5 

     

    BAB I Galeri Seni Urban Yogyakarta Dengan Penekanan pada Pencitraan Bentuk Bangunan Kontemporer

    ditampilkan lebih bertujuan untuk mencari keuntungan tanpa memperdulikan adanya

    apresiasi dari masyarakat luas. Galeri-galeri tersebut didesain secara eksklusif, megah

    dan angkuh dimana hanya kalangan-kalangan tertentu saja yang dapat masuk ke sana.

    Padahal karya seni diciptakan untuk dinikmati dan diapresiasi oleh semua kalangan

    tanpa memperdulikan status, kedudukan dan strata sosial masyarakat. Hal inilah yang

    mendorong para penggiat seni urban lebih memilih melakukan kesenian di ruang

    publik. Tidak ada wadah legal yang dapat diajak bekerjasama dan berkompromi.

    Akibatnya, aktifitas berkesenian yang mereka lakukan sering mendapat cap buruk oleh

    sebagian kalangan. Salah satu bentuk seni urban, yaitu mural telah lama mendapat

    label negatif dari masyarakat yang lebih konservatif. Mural dianggap sebagai aktifitas

    yang merugikan, tidak tertib bahkan terkadang dikategorikan sebagai tindak kriminal.

    Padahal bagi penggiatnya, mural bertujuan untuk lebih memberikan warna bagi

    kotanya sendiri selain itu juga berfungsi bagai kritik sosial dan yang lebih penting

    adalah untuk membawa seni untuk lebih dekat kepada masyarakat sehingga dapat

    diapresiasi secara luas.

    Lain lagi dengan performance art yang diwakili oleh teater dan sajian musik

    jalanan. Orang-orang yang berkecimpung dalam dunia performance art jalanan jelas

    sekali kesulitan untuk dapat berkarya dan menampilkan karyanya kepada publik.

    Seandainya mereka terpaksa untuk pentas, mereka akan melakukannya di jalanan,

    tempat-tempat parkir, pelataran mall dan halaman-halaman bangunan publik.

    Masalahnya sama seperti pada mural, kegiatan yang mereka lakukan telah mendapat

    label “aneh”. Pemusik jalanan digeneralisasikan sebagai pengemen sedangkan pentas

    performance art harus “kucing-kucingan” dengan aparat.

    Disini diperlukan perubahan paradigma fungsi galeri dari sekedar sebagai runag

    pamer menjadi ruang untuk seni itu sendiri. Galeri tidak hanya mengemban misi

    dokumentasi saja tapi juga misi eksplorasi dan edukasi. Artinya galeri seni harus dapat

    mengakomodasi kegiatan-kegiatan berkesenian seperti penciptaan karya,

    mendokumentasikannya dan kemudian mengapresiasikannya. Di Yogyakarta sendiri

    terdapat sekitar 47 galeri seni dimana 28 diantaranya merupakan bangunan yang

    murni berfungi sebagai galeri seni dan sisa 19 lainnya adalah ruang pamer yang

    bergabung dengan fungsi bangunan lain. Diantara 47 galeri terebut 11 diantaranya

    dikategorikan sebagai galeri yang teraktif dan hanya 7 galeri yang merupakan galeri

    publik (bukan kepunyaan pribadi). (Gelaran Almanak Seni Rupa Jogja 1999-2009,

    Gelaran Budaya, 2009).

    Ruang publik dalam arti yang sungguh-sungguh murni adalah ruang yang memang

    tidak boleh dikuasai oleh pihak atau kelompok tertentu siapapun. Karena itu dengan

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

     

    I‐6 

     

    BAB I Galeri Seni Urban Yogyakarta Dengan Penekanan pada Pencitraan Bentuk Bangunan Kontemporer

    sendirinya bersifat terbuka, sekuler dan non-partisan. Di ruang-ruang bersifat seperti

    inilah seni urban tumbuh dan berkembang. Hal tersebut dikarenakan seni urban

    bukanlah merupakan hasil pemikiran pribadi saja, tetapi ada proses dialog, komunikasi

    dan brainstorming dalam proses penciptaanya yang kemudian karyanya harus dapat

    diapresiasi oleh masyarakat luas

    Image galeri saat ini yang cenderung tertutup, eksklusif dengan target segmentif

    tidak sesuai dengan semangat seni urban. Untuk itu galeri seni harus dapat menjadi

    atau setidaknya memiliki sifat seperti ruang publik. Sifat interaktif ruang publik yang

    dihadirkan melalui ruang-ruang eksterior terbuka, elemen pembentuk ruang yang

    fleksibel serta tidak massif dan penempatan lokasi yang familiar dengan kehidupan

    urban masyarakat setempat. Semua hal tersebut dimaksudkan agar galeri seni dapat

    dikunjungi oleh lapisan masyarakat manapun tanapa ada batasan strata sosial

    sehingga tercipta dialog antara seniman--melalui karya seninya--dengan masyarakat

    lewat proses apresiasi.

    Suatu galeri seni yang merefleksikan apa yang dipamerkan di dalamnya haruslah

    memiliki jiwa dari seni yang diwadahinya. Jiwa dari seni urban adalah ’kekinian’,

    universal dan kebebasan apresiasi. Sama dengan jiwa yang diusung oleh bentuk-

    bentuk kontemporer.

    Kontemporer memiliki jiwa pencarian bentuk, jati diri dan ciri khas. Dalam

    arsitektur sendiri, kontemporer dapat diartikan sebagai ’kekinian’. Sebagai bagian dari

    gerakan post modern yang merupakan counter culture dari paham modern, bentuk

    kontemporer memiliki kekhasan pada bentuk yang mengundang berbagai macam

    ekspresi bagi yang mengapresiasikannya. Bentuknya tidak terikat oleh langgam

    tertentu dengan pemahaman bentuk yang bervariasi Ciri-cirinya mengacu pada

    pluralisme, dekonstruksionisme, multikulturalisme, post-kolonialisme den feminisme

    (Yasraf Amir Piliang, 2006: 75). Hal ini selaras dengan jiwa seni urban itu sendiri, jiwa

    seni yang bebas dengan apresiasi yang bebas dari para penikmatnya dan tidak

    memiliki kekhususan ataupun keberpihakan pada aliran seni tertentu. Seni urban juga

    siap menerima masukan-masukan baru baik dalam bentuk dan ciri khas guna

    menentukan jati dirinya sendiri.

    Bentuk-bentuk kontemporer mungkin belum dapat diterima dan diapresiasi oleh

    budaya Indonesia, tapi setidaknya bentuk kontemporer yang terkesan aneh, baru dan

    tidak lazim akan menarik minat masyarakat serta memberikan ciri khas dan hal yang

    akan menjadi ikon bagi suatu karya arsitektural.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

     

    I‐7 

     

    BAB I Galeri Seni Urban Yogyakarta Dengan Penekanan pada Pencitraan Bentuk Bangunan Kontemporer

    Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa perkembangan seni urban di

    Yogyakarta belum diimbangi oleh adanya wadah untuk menampung kegiatan

    berkesenian para pelakunya. Oleh karena itu diperlukan suatu galeri seni urban yang

    tidak hanya memiliki misi dokumentasi saja, tetapi juga berperan dalam poses

    penciptaan, memamerkan dan pengapresiasian suatu karya seni. Galeri seni yang

    memiliki sifat ruang publik sehigga tidak segmentif serta dapat menciptakan suatu

    dialog yang bebas dan demokratis.

    D. Permasalahan

    D.1. Umum

    Bagaimana merencanakan dan merancang galeri yang dapat mewadahi ekspresi

    dari seni urban kontemporer sekaligus berfungsi sebagai ruang publik alternatif bagi

    masyarakat dengan mengutamakan pada pencitraan bentuk bangunan yang

    kontemporer sesuai dengan semangat seni urban itu sendiri.

    D.2. Khusus

    • Menentukan lokasi tapak site yang mudah dicapai serta ikonik bagi masyarakat

    Yogyakarta

    • Menentukan building massa, orientasi, sirkulasi dan tata vegetasi yang dapat

    menciptakan suasana interaktif sebagai ruang publik

    • Menentukan tampilan bangunan yang mencitrakan bentuk bangunan yang

    kontemporer

    • Menentukan sistem strukur yang mendukung pemanfaatan dan peruntukan

    ruang secara maksimal serta pembentukan bentuk bangunan yang

    kontemporer

    E. Tujuan dan Sasaran

    1. Tujuan Mewujudkan suatu rancang bangun yang dapat mewadahi keinginan masyarakat

    untuk menikmati “kepublikannya secara demokratis” dan mengekspresikan

    ekspresi estetiknya lewat seni urban yang semua hal tersebut akhirnya diwujudkan

    oleh suatu Galeri Seni Urban

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

     

    I‐8 

     

    BAB I Galeri Seni Urban Yogyakarta Dengan Penekanan pada Pencitraan Bentuk Bangunan Kontemporer

    2. Sasaran Sasaran dari penulisan konsep ini adalah :

    a. Rumusan penentuan lokasi site perencanaan melalui penyesuaian terhadap

    prinsip desain arsitektural yang sesuai dengan kebutuhan bagi kegiatan dalam

    galeri seni urban

    b. Rumusan konsep pola tata massa dan pola sirkulasi yang sesuai bagi wadah

    kegiatan dengan suasana interaktif sebagai ruang publik

    c. Rumusan konsep tampilan bangunan yang dapat mencitrakan suatu bentuk

    bangunan kontemporer disertai system struktur yang mendukungnya

    F. Lingkup Penulisan

    F.1. Lingkup Materi

    Penulisan dilakukan melalui pendekatan pengungkapan permasalahan, analisa

    dan sintesa secara arsitektural serta hal-hal yang berkaitan dengan konsep

    perencanaan desain yang akan direncanakan (faktor teknis), sedangkan faktor-faktor

    non-teknis dan disiplin ilmu lain merupakan faktor pendukung serta masukan yang

    berguna bagi kesempurnaan pembahasan.

    F.2. Lingkup Wilayah

    Wilayah yang menjadi potensi terpilih sebagai wilayah studi yaitu Kota

    Yogyakarta. Maka langkah-langkah yang akan diambil selanjutnya yaitu :

    a. Identifikasi potensi yang dimiliki wilayah studi yang mendukung untuk

    perencanaan galeri seni urban di wilayah tersebut, untuk menentukan site

    yang potensial bagi perencanaan desain

    b. Pengamatan dan analisa kondisi fisik dan non-fisik site untuk kelayakannya

    sebagai site perencanaan desain

    G. Metode Pengumpulan Data

    Metode yang akan dilakukakan guna mendapatkan data yang akan diunakan untuk

    proses dasar penyusunan sebuah konsep. Dalam hal ini teradapat beberapa metode yang

    dilakukan guna tujuan tersebut, terdiri dari metode pengumpulan data primer dan

    sekunder.

    G.1. Metode Pengumpulan Data Primer

    • Melalui survey terhadap komunitas-komunitas seni urban serta galeri-galeri

    yang telah ada, survey yang dilakukan guna mendapatkan data pendukung

    berupa data statistik fakta-fakta tentang perkembangan seni urban yang

    terdapat di Yogyakarta.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

     

    I‐9 

     

    BAB I Galeri Seni Urban Yogyakarta Dengan Penekanan pada Pencitraan Bentuk Bangunan Kontemporer

    • Melakukan studi banding untuk menentukan preseden. Studi banding

    dilakukan terhadap bangunan galeri-galeri yang sesuai dengan konsep Galeri

    Seni Urban yang direncanakan dan kegiatan-kegiatan para penggiat seni

    urban.

    G.2. Metode Pengumpulan Data Sekunder

    G.2.1 Studi Literatur

    • Mencari referensi buku yang berkaitan dan representatif dengan konsep

    sebuah Galeri Seni Urban dan bentuk kotemporer.

    • Mencari buku di perpustakaan baik perpustakaan umum, dan perpustakaan

    jurusan Senirupa

    • Mencari referensi kasus konsep perancangan yang sudah ada sebelumnya

    • Mencari refrensi mengenai seni urban melalui pencarian di internet

    • Mencari buku-buku yang berkaitan dengan seni urban melalui toko buku

    G.3. Metode Mengolah Data

    Terdapat beberapa langkah dalam mengolah data yang didapat baik data primer

    maupun data sekunder, diantaranya:

    G.3.1 Penyortiran Data

    Menyortir data-data yang diperlukan, penyortiran dilakukan sesuai

    dengan aspek penekanan galeri seni urban yang ingin dirancang.

    G.3.2 Korelasi data

    Mengkorelasikan/menghubungkan antara data yang satu dengan data

    yang lainnya, data primer dan data sekunder.

    G.3.3 Pemaparan Data

    Memaparkan hasil data yang didapat yang disajikan dalam beberapa bentuk,

    diantaranya:

    • Deskripsi data

    • Gambar

    • Dokumentasi

    • Tabel

    • Grafik

    • Dll

    G.3.4 Analisis Data

    • Analisa data yang didapat di lapangan (data primer) dengan data yang didapat

    melalui refrensi (data sekunder)

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

     

    I‐10 

     

    BAB I Galeri Seni Urban Yogyakarta Dengan Penekanan pada Pencitraan Bentuk Bangunan Kontemporer

    • Menganalisa data, guna mendapatkan aspek-aspek yang sesuai dengan

    dasar-dasar karakter bentuk kontemporer.

    • Membagi tiap-tiap data yang didapat kedalam pokok-pokok pembahasan dan

    dijadikan sebagai data pendukung.

    • Mencari benang merah antara ekspresi estetis seni urban dari data yang

    didapat dengan arsitektur yang mencitrakan bentuk kontemporer berdasarkan

    data yang sudah didapat

    G.3.5 Menarik kesimpulan

    H. Sistematika Pembahasan

    Tahap I

    Mengemukakan latar belakang masalah, permasalahan dan persoalan, tujuan dan

    sasaran pembahasan, metoda pembahasan, dan sistematika penulisan.

    Tahap II Mengeksplorasi teori-teori dalam seni urban dan perkembangannya khususnya di

    Yogyakarta, serta pemikiran ruang publik untuk galeri seni.

    Tahap III

    Mengeksplorasi prinsip kontemporer dalam kaitannya dengan arsitektur. Melakukan

    pendalaman terhadap prinsip-prinsip desain serta semangat kontemporer sebagai

    bagian dari gerakan post-modern secara khusus dan mengkaitkannya dengan konsep

    desain yang dibutuhkan pada pewadahan kegiatan seni, terutama seni urban.

    Tahap IV

    Menjabarkan preseden Galeri Seni serta wadah-wadah pengembangan dan pusat seni

    yang telah ada di dunia dan Indonesia, sebagai studi banding dan kajian referensional

    bagi tahap perumusan konsep.

    Tahap V

    Proses penentuan konsep perencanaan dan perancangan melalui analisa yang

    dimulai dengan analisa mikro (analisa kegiatan), Kebutuhan dan besaran ruang) dan

    berlanjut ke analisa makro (analisa pemilihan site dan pengolahannya)

    Tahap VI

    Mengungkapkan konsep perencanaan dan perancangan yang merupakan hasil akhir

    dari proses analisa untuk kemudian ditransformasikan dalam wujud desain fisik

    bangunan.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    II‐1 

     

    BAB II Galeri Seni Urban Yogyakarta Dengan Penekanan pada Pencitraan Bentuk Bangunan Kontemporer

    [BAB II] TINJAUAN PUSTAKA GALERI SENI, SENI URBAN, RUANG PUBLIK, KONTEMPORER DAN KOTA

    YOGYAKARTA A. Galeri Seni

    A.1 . Pemahaman Galeri

    Galeri diartikan sebagai ruang/bangunan tersendiri yang digunakan untuk

    memamerkan karya seni. Lalu selain itu juga memberi pelayanan dalam bidang seni

    baik itu konsultasi ataupun workshop yang dapat menumbuhkan jiwa seni dalam

    masyarakat.

    A.2 . Perkembangan Fungsi Galeri

    Perkembangan galeri seni dapat dilihat bahwa fungsi awalnya adalah

    memamerkan hasil-hasil seni agar dapat dikenal oleh masyarakat. Dengan demikian

    terlihat adanya usaha :

    • Mengumpulkan hasil-hasil karya seni sebagai koleksi

    • Memamerkan hasil-hasil karya seni agar dikenal masyarakat

    • Memelihara hasil-hasil karya seni agar tidak rusak (bersifat memelihara/konservasi)

    Terjemahan dari fungsi baru yang terjadi adalah sebagai berikut.

    Sebagai tempat mengumpulkan karya seni,

    yaitu dengan melakukan penyimpanan karya seni

    pada ruang penyimpanan yang pada akhirnya dapat

    dipamerkan kembali. Sebagai contoh karya-karya seni

    rupa koleksi Galeri Nasional Indonesia yang sebagian

    besar di tempatkan di ruang penyimpanan (storage)

    yang sudah memenuhi persyaratan peyimpanan

    karya seni rupa karena ruang penyimpanan tersebut

    sudah dilengkapi dengan fasilitas mesin penyejuk

    ruangan, alat pengatur suhu udara, lemari kayu,

    panel geser, panel kawat dan panel kayu, serta

    dilengkapi juga dengan alarm system sebagai sarana

    pengamanannya.

    Sebagai tempat memamerkan hasil karya seni

    agar dikenal masyarakat. Ini merupakan fungsi utama

    sebuah galeri, sehingga pada umumnya ruang yang

    Gambar 2.1 Pengumpulan Karya Seni Dalam Suatu Galeri Sumber: Dokumetasi Pribadi 

    Gambar 2.2 Pameran Hasil Karya Seni Dalam Suatu Galeri Sumber: Dokumetasi Pribadi

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    II‐2 

     

    BAB II Galeri Seni Urban Yogyakarta Dengan Penekanan pada Pencitraan Bentuk Bangunan Kontemporer

    digunakan sebagai temapt memamerkan karya seni ini memiliki bentuk-bentuk ruang

    yang menarik,baik dari segi pencahayaan yang menggunakan lampu-lampu spot, warna

    dinding yang kontras dengan lukisan yang menempel di dinding sehingga membuat

    karya seni tersebut hidup.

    Sebagai tempat memelihara hasil karya seni

    agar tidak rusak. Ruang yang digunakan untuk

    memelihara karya seni ini biasa disebut dengan ruang

    restorasi-konservasi. Pekerjaan konservasi-restorasi

    dilakukan pada Laboratarium Konservasi dengan

    fasilitas penerangan lampu polikhromatis dan ultra-

    violet. Bersikulasi udara, ber- AC, dan dialiri air

    distilasi. Laboratarium ini juga dilengkapi tabung-

    tabung gelas yang berfungsi sebagai wadah atau alat

    ukur/ analisa, alat-alat ukur elektronik dan komputer pendukung untuk analisa dan

    simulasi pekerjaan teknis mekanis. Alat mikrokopis, alat kontrol klimotologi, ruang

    fumigasi serta alat pendingin untuk membasmi jamur atau serangga juga melengkapi

    laboratorium ini.

    Sebagai tempat

    mengajak/mendorong/meningkatkan apresiasi

    masyarakat. Dimana pada umumnya karya-karya

    seni yang dipamerkan tersebut memilki sebuah arti

    yang ingin disampaikan oleh seniman kepada

    masyarakat, sehingga dengan itu, masyarakat dapat

    mengapresiasi karya-karya yang dipamerkan

    tersebut apakah itu berlebihan atau tidak.. Ruang-

    ruang yang digunakan sudah tentu merupakan ruang

    pameran itu sendiri dimana karya-karya seniman dipamerkan untuk masyarakat.

    Sebagai tempat transaksi jual beli untuk merangsang kelangsungan hidup seni.

    Ini merupakan salah satu kegiatan yang utama pada galeri seni. Walaupun dalam

    keadaan yang sesungguhnya kegiatan ini tidak seperti kegiatan jual beli di pasar

    dengan tingkat kebisingan tinggi dan biasanya pelaku dari kegiatan ini adalah seorang

    kolektor benda seni. Kegiatan ini juga menggunakan ruang khusus dimana kolektor

    dan seniman dapat menggunakan ruang tersebut untuk melakukan transaksi jual beli.

    Pada hakekatnya galeri seni berfungsi sebagai servis bagi public bidang seni

    rupa. Servis pelayanan ini menunjukan aktivitas utama yang mempengaruhi sifat dan

    yang menjadi dasar falsafahnya. Servis dimaksudkan dengan memberi pelayanan bagi

    K

    Bentuk 

    Gambar 2.3 Konservasi Karya Seni Dalam Suatu Galeri Sumber: Dokumetasi Pribadi

    Gambar 2.4 Apresiasi Masyarakat Akan Karya Seni Sumber: Dokumetasi Pribadi 

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    II‐3 

     

    BAB II Galeri Seni Urban Yogyakarta Dengan Penekanan pada Pencitraan Bentuk Bangunan Kontemporer

    kepuasan public baik sebagai kelompok social maupun individu sebagai seniman

    ataupun masyarakat umum. Oleh sebab itu servis harus memenuhi:

    • Kepuasan fisik yang merupakan kepuasan yang dicapai oleh panca indera, yaoitu

    penglihatan, perasaan, dan peraba.

    • Kepuasan psikis, yang merupakan kepuasan jiwa sebagai reaksi pada suasana dan

    kesan dari bangunan dan pelayanan yang diberikan baik oleh pengelola/pegawai

    maupun materi seninya

    A.3. Macam Galeri Seni

    Sebenarnya belum ada klasifikasi yang jelas mengenai macam-macam galeri seni

    terlebih akan materi khusus yang dipublikasikan, akan tetapi dengan pendekatan

    bentuk, sifat dan isinya yang menonjol, beberapa menggolongkan sbb:

    a. Galeri seni berdasarkan bentuk

    Tradisional art gallery yaitu suatu galeri yang aktifitasnya diselenggarakan

    pada selasar-selasar atau lorong-lorong panjang. Walaupun bentuk galeri ini

    yang tradisional, tetapi belum tentu juga karya seni yang dipamerkan berupa

    karya-karya yang dinilai sebagai karya seni yang lama atau kuno sehingga

    berkesan tradisional.

    Modern art gallery yaitu suatu galeri dengan perencanaan ruang secara

    modern atau merupakan kompleks bangunan. Kompleks bangunan ini

    biasanya terdiri dari beberapa ruang pameran. Sebagai contoh adalah Galeri

    Nasional Indonesia yang memeilki beberapa masssa bangunan dengan fungsi

    sebagai ruang pameran dan kegiatan pendukung lainnya. Karya-karya yang

    dipamerkan pada Modern art gallery biasanya adalah sebuah karya seni yang

    modern atau kontemporer. Sehingga hal ini sesuai dengan perencanaan ruang

    b. Galeri seni berdasarkan sifat kepemilikan

    Privat art gallery merupakan suatu galeri yang merupakan milik perseorangan

    atau sekelompok orang. Pada galeri ini biasanya karya-karya yang dipamerkan

    berasal dari pemilik galeri ini sendiri yang juga merupakan seorang seniman.

    Seniman ini sudah tentu adalah seorang seniman yang sudah terkenal,

    sehingga mereka berani untuk membuka galeri sendiri yang karyanya juga

    hasil karya mereka sendiri tanpa takut galeri tersebut akan dikunjungi banyak

    orang atau tidak, karena setiap orang memiliki pandangan sendiri-sendiri

    terhadap karya mereka. Pemilik lain privat galeri ini biasanya merupakan

    sebuah institusi dimana karya-karya yang dipamerkan berasal dari institusi itu

    sendiri, baik dari siswa maupun staf-staf pengajarnya.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    II‐4 

     

    BAB II Galeri Seni Urban Yogyakarta Dengan Penekanan pada Pencitraan Bentuk Bangunan Kontemporer

    Public art gallery, yaitu suatu galeri yang merupakan milik pemerintah dan

    terbuka untuk umum. Untuk galeri ini karya-karya yang dipamerkan

    bermacam-macam sesuai dengan keinginan seniman untuk membuat suatu

    karya seni. Sehingga karya yang dipamerkan biasanya sesuai dengan kondisi

    atau trend yang pada waktu itu sedang muncul. Pengguna dari galeri berasal

    dari bermacam-macam seniman baik yang sudah terkenal maupun yang

    belum terkenal, tua atau muda dan dengan berbagai macam bentuk aliran

    yang dianutnya.

    c. Galeri seni berdasarkan isi atau materi seni

    Gallery of primitive art, yaitu suatu galeri yang menyelenggarakan aktifitas di

    bidang seni primitive. Hal ini biasanya digunakan untuk mempertahankan

    budaya suatu bangsa yang muncul pada saat jaman prasejarah hingga dikenal

    sampai luar negeri. Yang mana kebudayaan ini mungkin menjadi sesuatu yang

    menarik dikalangan pecinta seni dari luar dan dalam negeri tersebut. Karena

    bentuk kesenian ini masih natural dan belum terjamah dari luar pada saat

    budaya tersebut dulu ada.

    Gallery of classical art, yaitu suatu galeri yang menyelenggarakan aktifitas di

    bidang seni klasik. Seni ini menggambarkan bentuk-bentuk budaya tradisional

    di suatu bangsa. Untuk Indonesia sendiri memilki banyak sekali suku sehingga

    ragam budaya yang muncul juga semakin banyak.

    Gallery of modern art, yaitu suatu galeri yang menyelenggarakan aktifitas di

    bidang seni modern. Dalam seni modern bentuk karya seni yang dipamerkan

    biasanya mengandung maksud atau arti yang mengkritik sesuatu baik itu

    budaya, sosial, ataupun politik suatu bangsa dan dengan itu maka karya seni

    tersebut pasti sejalan beriringan dengan perkembangan jaman atau bisa

    disebut karya seni yang kekinian. Sehingga dengan adanya karya ini seseorang

    dapat mengerti tujuan dari karya ini dibuat.

    Berdasarkan macam seni yang disajikan beberapa galeri (yang sudah umum)

    biasanya merupakan galeri seni terwujud (2D/3D) dengan macam karya seni

    rupa berupa seni lukis (galeri seni lukis), fotografi (galeri fotografi), batik

    (galeri/museum batik), instalasi-instalasi dsb.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    II‐5 

     

    BAB II Galeri Seni Urban Yogyakarta Dengan Penekanan pada Pencitraan Bentuk Bangunan Kontemporer

    A.4. Lingkup Kegiatan Galeri

    Ada beberapa penggolongan kegiatan yang biasa dijumpai di Galeri Seni, antara

    lain :

    a. Kegiatan Rekreasional

    Pameran sebagai alternative tujuan rekreasi yang mendidik bagi masyarakat,

    diadakan secara rutin dan menjadi kegiatan utama yang bertujuan untuk

    memperkenalkan dan menjual hasil karya seni lukis kontemporer.

    b. Kegiatan Pendidikan

    • Diikuti oleh masyarakat umum peminat seni atau para seniman muda lewat

    kursus pendalaman seni.

    • Para pengamat seni yang ingin melakukan studi baik secara teori maupun

    praktek.

    • Pengadaan seminar, acara diskusi. studi l iteratur lewat perpustakaan

    maupun melalui dunia maya yang menunjang perkembangan seni lukis

    kontemporer.

    • Eksperimen-eksperimen yang dapat dilakukan di workshop atau studio yang

    disediakan setelah menambah wawasan melalui studi demi memantapkan

    ide-ide baru bagi para seniman.

    c. Kegiatan Pendukung :

    Adanya sebuah pagelaran seni yang dapat dijadikan sebagai pembukaan pameran

    dan juga menarik minat pengunjung untuk dating.

    B. Seni Urban

    B.1. Pemahaman Seni Urban

    Pada dasarnya seni urban dapat dilihat sebagai fenomena. Wilayah-wilayah

    urbanlah yang kerap menjadi medan bagi para penggiat seni urban untuk menuangkan

    ekspresi dan ide gagasannya. Keinginan untuk berkesenian di tempat-tempat yang

    tidak memungkinkan, membuat wilayah urban menjadi wilayah yan representaif dan

    juga variatif untuk menjadi media visualisasi seni. Bahwa wilayah urban lebih dekat

    dengan realita kehidupan masyarakat maka terdapat kebebasan berekspresi lebih

    bebas dari pada ruang pameran atau galeri yang memiliki batasan akses oleh

    masyarakat.

    Seni inipun, pada akhirnya, menjadi bagian dari kehidupan masyarakat secara

    langsung. Para pelaku seni ini tanpa disadari telah memproduksi budayanya sendiri,

    budaya urban. Lantas muncul apa yang disebut dengan pemaknaan. Pemaknaan yang

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    II‐6 

     

    BAB II Galeri Seni Urban Yogyakarta Dengan Penekanan pada Pencitraan Bentuk Bangunan Kontemporer

    terjadi ketika masyarakat mengamati dan pada akhirnya menjustifikasi bahwa para

    pelaku ini sedang memproduksi apa yang menjadi hasil dari seni urban dengan

    mengambil, menarik dan mengdokumentasikannya.

    Penjelasan yang lebih menarik mengenai seni urban dapat dilihat dari kutipan

    berikut ini:

    Urban art adalah seni yang mencirikan perkembangan kota, dimana

    perkembangan itu kemudian melahirkan sistem di masyarakat yang secara

    struktur dan kultur berbeda dengan struktur dan kultur masyarakat pedesaan.

    Saat ini seni bukan lagi sekedar berlatar belakang tradisi tapi justru lebih

    merespon tradisi-tradisi baru terutama di daerah perkotaan yang secara

    demografis dihuni oleh anggota masyarakat yang sangat heterogen.

    Urban art lahir karena adanya kerinduan untuk merespon kreativitas

    masyarakat yang tinggal di daerah perkotaan dengan segala problematikanya.

    Maka munculah usaha dari sekelompok orang untuk memamerkan dan

    mendatangkan seni ditengah-tengah masyarakat dengan cara melakukan

    kebebasan berekspresi di ruang publik. Ekspresi yang ditampilkan adalah

    ekspresi yang mencoba memotret permasalahan-permasalahan yang kerap

    terjadi dan mendominasi masyarakat urban mencakup masalah sosial,

    ekonomi, politik dan budaya. Melalui media seni dan dilatarbelakangi oleh

    pertumbuhan dan kapitalisasi kota itu sendiri. Zaman sekarang seni bukan

    lagi sebuah representasi yang ditampilakan digaleri saja, tapi sebuah media

    ekspresi yang bertarung di fasilitas publik dengan media lainnya seperti iklan

    di TV, billboard iklan, poster promosi, baligo dan lain-lain. Semua media

    ekspresi tersebut mendominasi dihampir setiap fasilitas publik.

    Urban art berhasil memangkas hubungan yang berjarak antara publik sebagai

    apresiator dengan sebuah karya seni. Menggantikan fungsi seni yang tadinya

    agung, klasik, murni, tinggi serta tradisional. Seni diposisikan sebagai sesuatu

    yang konservatif dan sarat dengan nilai pengagungan. Urban art berhasil

    meruntuhkan nilai-nilai tersebut dengan cara menghadirkannya ke tengah

    publik melalui media-media yang erat dengan keseharian masyarakat kota.

    Bila menarik elemen lokal dalam urban art, lukisan di bak truk dan becak

    adalah contoh urban art.

    Tujuan urban art lebih berakar pada perbedaan sikap politik, anti kemapanan,

    vandalisme dan perlawanan terhadap sistem dominan dimasyarakat. Bentuk

    konkret urban art bisa bermacam-macam sepanjang karya seni itu mengusung

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    II‐7 

     

    BAB II Galeri Seni Urban Yogyakarta Dengan Penekanan pada Pencitraan Bentuk Bangunan Kontemporer

    spirit dinamika urban. Di kota Bandung kita bisa melihat semua ekspresi

    semangat urban itu dalam berbagai bentuk. Seperti komunitas musik punk

    yang kerap menggelar street gigs di bawah jembatan layang Pasupati,

    seniman tradisi yang rutin menggelar kesenian pencak silat di taman

    Cikapayang atau juga lukisan-lukisan mural ditiang-tiang jembatan layang

    Pasupati.

    Pada akhirnya urban art berhasil dikomodifikasi oleh komunitasnya sendiri.

    Bentuk-bentuk kesenian terutama seni mural dan grafiti sekarang terutama di

    kota Bandung lambat laun berhasil menjadi sesuatu yang mempunyai nilai

    ekonomis. Banyak para seniman mural dan grafiti yang mengekspresikan ide

    mereka dengan para pemilik distro atau clothing di Bandung. Para pemilik

    distro ini memfasilitasi para seniman tersebut dengan menyediakan

    space/lahan untuk berekspresi. Selain memberikan nilai estetika pada toko,

    mereka juga ikut memberikan penyaluran terhadap keinginan seniman

    tersebut untuk berkarya.

    (http://bandungcreativecityblog.wordpress.com).

    Dalam konteks politiknya, seni urban

    juga dapat ditafsirkan sebagai perlawanan

    terhadap seni modern yang sudah diproduksi,

    didistribusikan dan dikonsumsi secara

    kapitalistik. Ketika seni rupa sudah masuk ke

    sistem pasar masyarakat kapitalistik, karya

    seni rupa diproduksi, didistribusikan dan

    dikonsumsi secara kapitalistik. Karya seni

    akan menjadi barang komoditi, tak ubahnya

    seperti barang hasil produksi manufaktur.

    Karya seni rupa diproduksi oleh produsen,

    yakni para pekerja seni rupa, demi tujuan produksi kapitalistik. Karya seni rupa

    diproduksi untuk ide-ide individual si pekerja seni rupa untuk memenuhi hukum

    ekonomis, berupa kebutuhan, permintaan dan penawaran akan jenis-jenis komoditi

    seni rupa yang sedang up to date di pasaran seni rupa.

    Demikian juga cara distribusinya, karya-karya seni rupa hanyalah komoditi, maka

    ia akan memasukan pasaran yang kapitalistik dan diperjualbelikan secara kapitalistik,

    seperti laiknya souvenir dan barang kerajinan, hanya saja sayangnya pasar benda seni

    ini terbatas karena komoditi yang dijual diproduksi satuan dan tidak secara massif.

    Gambar 2.5 Kritik Sosial dalam Muatan Seni Urban Sumber: propagraphic-movement.blogspot.com

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    II‐8 

     

    BAB II Galeri Seni Urban Yogyakarta Dengan Penekanan pada Pencitraan Bentuk Bangunan Kontemporer

    Dalam sistem distribusi karya seni yang kapitalistik, pekerja seni rupa tak lebih seperti

    produsen. Ada jaringan pedagang perantara; para kritikus dan kurator yang berperanan

    sebagai pembuat iklan dan memberikan penaksiran dan penilaian nilai jual; ada

    kolektor lokal dan internasional yang merupakan kalangan terbatas pemonopooli juar-

    beli komoditi; ada pasar terbuka dan tertutup untuk men-display komoditi yang akan

    dijual bisa di museum pribadi, ruang pamer pribadi, gallery, ruang pamer umum,

    artshop. Akibatnya karya seni rupa tidak bisa dinikmati secara bebas oleh semua

    warga masyarakat, tetapi dapat dinikmati secara terbatas, cukup diapresiasi dan

    dikonsumsi oleh kalangan atas pemilik kapital. Oleh kerena ia merupakan komoditi

    yang diproduksi secara kapitalistik, maka keberadaannya –baik yang berupa

    artitistik/estetika dan muatan tema atau pesan yang diproduksi– diarahkan dan

    ditentukan secara kapitalistik juga, yakni ditentukan oleh kepentingan jaringan

    pedagang seni rupa dan tuntutan-tuntutan pasar. Situasi semacam inilah yang

    kemudian memunculkan geliat perlawanan seni urban terhadap dominasi seni modern

    yang kapitalistik.

    Sementara itu, seni urban juga berusaha

    untuk melakukan pergeseran dari pergertian

    negatif seni rupa tinggi (high art). Seni rupa

    tinggi (high art) adalah seni rupa yang terpisah

    dengan publik luas, atau dalam bahasanya ‘seni

    rupa modern makin terpisah jauh dari

    masyarakat; yang hanya dipajang atau terisolasi

    di ruangan privat seniman, yang diasumsikan

    sebagai bukan ruang publik: seperti gallery,

    museum, art shop; tidak diarahkan untuk

    kepentingan membangun dialog dengan masyarakat tetapi lebih mengedepankan

    unsur estetik dan artistik yang diinginkan oleh individu pekerja seninya; lebih terkesan

    menjujung tinggi seni untuk seni dan tidak mencangkup persoalan ekstraestetik. Di sini

    seni urban memindahkan inti seni rupa modern yang terkurung di ruang privat seniman

    menuju ke ruang publik, mencoba membangun dialog dengan masyarakatnya dan

    memperkecil monolog pekerja seni dengan karyanya; mencoba mencangkup

    persoalan ekstra estetik berupa persoalan sosial politik yang berkembang di

    masyarakatnya.

    Adapun perbedaan seni urban dengan seni mainstream secara umum adalah

    sebagai berikut:

    Gambar 2.6 Seni yang Menghampiri Masyarakat di Ruang Publik Sumber: www.karbonjournal.com

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    II‐9 

     

    BAB II Galeri Seni Urban Yogyakarta Dengan Penekanan pada Pencitraan Bentuk Bangunan Kontemporer

    Tabel 2.1 Perbandingan Seni Urban dan Seni Mainstream

    B.2. Macam Seni Urban

    Seperti halnya seni secara umum, seni urban dapat dikelompokan menjadi dua

    bagian besar, yaitu seni rupa (baik dua dimensi maupun tiga dimensi) dan seni

    pertunjukan.

    a. Seni rupa dua dimensi

    • Mural

    Mural dan dalam seni mainstream

    secara umum dapat juga diartikan

    sebagai seni lukis dan memiliki

    pemahaman sebagai cangkupan visual

    ekspresi sesorang. Secara lebih jelas

    dapat disebutkan bahwa seni lukis

    adalah penggunaan garis, warna,

    tekstur, ruang dan bentuk pada suatu

    bidang dua dimensional yang disusun sedemikian rupa sehingga terbentuk

    sebuah harmoni. Hal ini bertujuan untuk menciptakan suatu image yang

    merupakan pengucapan pengalaman artistik serta pengekspresian ide-ide

    dan emosi.

    SENI URBAN SENI MAINSTREAM

    Media-media yang dekat dengan

    keseharian publik

    Media-media konvensional

    Massa, merakyat, peluang dialog Tinggi, adiluhung, murni, tradisional

    Temporal, dangkal

    Mengorbankan ruang untuk mengejar

    kebadian

    Mengoptimalkan ruang sebesar-

    besarnya

    Proses imajinasi tentang pertemuan

    langsung sebuah kualitas produk

    Spontan, ekspresif dan responsif Berpotensi abadi

    Penggiat merupakan mereka yang

    aktif dalam masyarakat

    Penggiat cenderung merupakan

    individu-individu yang memiliki

    kepentingan kolektif

    Sumber: Analisa Pribadi 

    Gambar 2.7 Mural yang berisi Kritik atas Kontroversi RUU APP Sumber: Dokumetasi Pribadi

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    II‐10 

     

    BAB II Galeri Seni Urban Yogyakarta Dengan Penekanan pada Pencitraan Bentuk Bangunan Kontemporer

    Perbedaan mural dengan seni lukis yang konvensional adalah media dan

    pesan yang ingin disampaikan . Dalam mural, media yang biasa digunakan

    adalah tembok besar di ruang publik dan dikerjakan menggunakan cat

    tembok atau cat kayu bahkan cat atau pewarna apapun juga seperti kapur

    tulis atau alat lain. Sementara pesan yang ingin disampaikan biasanya

    berupa kritik sosial mengenai kota dengan berbagai macam dinamika

    kehidupannya. Dalam mural, visual yang disajikan merupakan hasil dialog,

    tukar pendapat dan brainstorming dari sekelompok orang bukan bersiat

    rohaniah yang individu. Aktor media pun lebih bervariasi dan berusaha

    memanfaatkan berbagai macam media yang dekat dengan masyarakat

    agar karyanya dapat diapresiasi secara luas.

    • Grafitti

    Hampir sama dengan mural, graffiti

    juga menggunakAn tembok-tembok

    besar sebagai media ekspresinya.

    Bedanya graffiti biasa dikerjakan

    menggunakan cat/spray semprot

    kaleng. Visual dalam graffiti berupa

    tulisan-tulisan atau sandi yang hanya

    dipahami golongan tertentu. Biasanya

    karya ini menunjukan ketidakpusan

    terhadap keadaan social yang mereka

    alami. Selain itu graffiti juga berfungsi sebagai identifikasi kekuasaan lewat

    tulisan, sarana pemberontakan, sarana ekspresi ketakutan terhadap

    keadaan sosial politik dan sarana keteneran seseorang atau suatu

    kelompok.

    • Seni Grafik

    Seni grafik adalah seni yang membuat gambar dua dimensi dengan alat

    cetak (klise). Dalam hal ini seorang pencipta dapat memasukan uinsur-

    unsur estetis dalam karyanya. Dalam Seni urban seni grafik ini

    direpesentasikan melalui poster-poster yang berisi himbauan ataupun

    propaganda akan hal tertentu.

    • Seni Fotografi

    Seni yang menggunakan alat sebuah kamera yang digunakan untuk

    mencari momen-momen penting ataupun unik dalam kehidupan. Biasanya

    Gambar 2.8 Grafitti di Bounes Aires Argentina yang Begaya Stencil Sumber: www.wikipedia.com

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    II‐11 

     

    BAB II Galeri Seni Urban Yogyakarta Dengan Penekanan pada Pencitraan Bentuk Bangunan Kontemporer

    objek yang diambil dalam konteks uRban adalah kehidupan sehari-hari

    kaum perkotaan, kesenjangan serta protes dan kritik atas hal yang terjadi

    di daerah perkotaan.

    b. Seni Rupa Tiga Dimensi

    • Urban Toys

    Merupakan seni patung dan artefaknya seni urban. Urban Toys untuk

    pertama kalinya diperkenalkan oleh orang-orang Jepang dan Hongkong,

    dan mulai berkembang pada tahun 90an-akhir ke kawasan lainnya (Eropa

    dan Amerika Serikat), banyak desainer-desainer dari barat juga akhirnya

    terlibat dalam keasikan membuat “mainan ini”, karena mungkin fleksibilitas

    dan adaptasi dari benda ini yang sangat luar biasa, sehingga sewaktu

    waktu benda ini bisa berubah menjadi apapun, dan dan dapat di silangkan,

    atau dikawinkan dengan tokoh tokoh yang sudah ada, dan popular

    (Superhero, Corak Bendera Negara, atau malah art sekalipun).

    Urban toys biasanya dibuat dari plastik, dibuat secara terbatas dari mulai

    500 sampai 2000 pcs per designnya, tetapi pada awalnya untuk model

    prototype awal dan limited series dibuat dari resin. Ada juga yang terbuat

    dari kayu karet dll, Sebagian orang mengungkapkan bahwa urban toys

    merupakan sebuah penganti kanvas bagi seorang seniman untuk

    mengekspresikan feeling seninya ke dalam sebuah karya.

    Gambar 2.9 Urban Toys yang Merupakan Crossover dari Berbagai Macam Karakter Sumber: Dokumetasi Pribadi

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    II‐12 

     

    BAB II Galeri Seni Urban Yogyakarta Dengan Penekanan pada Pencitraan Bentuk Bangunan Kontemporer

    • Seni Instalasi

    Seni instalasi merupakan seni tiga

    dimensi, dimana pada karya-karya

    instalasi ini memiliki maksud yang ingin

    disampaikan oleh seniman walaupun

    dapat juga diartikan berbeda-beda oleh

    setiap orang. Seni instalasi yaitu

    (installation = pemasangan) seni yang

    memasang, menyatukan, dan

    mengkontruksi sejumlah benda yang

    dianggap bisa merujuk pada suatu

    konteks kesadaran makna tertentu.

    Biasanya makna dalam persoalan-

    persoalan sosial-politik dan hal lain yang

    bersifat kontemporer diangkat dalam

    konsep seni instalasi ini.

    Hal penting lain yang cukup signifikan dalam Karya Seni Rupa Instalasi

    adalah dimana proses berkarya merupakan kesatuan unit penilaian yang

    turut menentukan ukuran dan nilai seni. Unsur “peristiwa” atau tepatnya

    proses kejadian suatu peristiwa telah dianggap sebagai representasi

    sehingga di sini secara otomatis akan terjadi kontak antara objek dan

    penonton. Secara kebentukan Seni Rupa Instalasi masih merupakan

    sebuah seni yang mengalami banyak perkembangan, mulai dari ekspresi

    yang dilahirkan hingga pada tingkat praktisnya. Seperti penggunaan efek

    teknologi multimedia, gerakan-gerakan (kinetik), mesin, lampu (laser),

    music,tari (gerak) dan video sampai pada respon terhadap alam yang

    dibentuk dalam efek sebuah perakitan atau penginstalan.

    c. Seni Pertunjukan

    • Seni theater

    Dalam seni urban, seni theater tidak lagi semata-mata mencari bahasa

    tubuh lewat pertunjukan-pertunjukannya, melainkan juga mulai

    menawarkan tubuh grafis yang menghasilkan metafor-metafor lewat

    permainan tubuh dan bayangan tubuh. Ruang dikonstruksi tak lagi sekedar

    panggung, melainkan lewat proyeksi tubuh dan bayangannya.

    Gambar 2.10 Karya Seni Instalasi Sumber: Dokumetasi Pribadi

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    II‐13 

     

    BAB II Galeri Seni Urban Yogyakarta Dengan Penekanan pada Pencitraan Bentuk Bangunan Kontemporer

    • Seni tari

    Seni tari pun telah berubah esensinya dalam seni urban. Sebuah

    pertunjukan dengan kesadaran grafis yang ikut menentukan eksekusi

    visual. Tema-tema yang dimunculkan adalah tema-tema

    kekerasan,penyiksaan pada diri sendiri. Makna dari pertunjukannya adalah

    usaha menciptakan pencerahan bersama lewat tubuh yang tersakiti yang

    bisa di hayati langsung oleh penonton.

    • Breakdance

    Merupakan salah satu seni urban yang berasal dari barat. Bermula dari

    budaya musik hip-hop kaum kulit hitam di Amerika. Breakdance

    memadukan gerakan tari yang dinamis dengan musik hip-hop yang

    menghentak. Gerakannya cenderung dekat dengan tanah, penuh dengan

    atraksi akrobatik dan terkesan patah-patah. Bisa dikatakan sebagai

    sebagai penggabungan dengan beladiri capoeira.

    • Trethek

    Seni urban asli Indonesia yang merupakan salah satu jenis musik yang

    pada awalnya dimanfaatkan untuk ronda-ronda malam di lorong-lorong

    kampung atau kota-kota besar di Jawa Tengah. Jenis musik ini didominasi

    oleh alat musik yang terbuat dari bahan bambu.

    • Performance Art

    Secara lebih luas gejala atau

    bentuk karya seni telah berpadu

    antara seni pertunjukan (teater,

    tari, musik dan lain-lain) dan seni

    rupa. Secara teknik aturan baku

    dalam seni gerak (pertunjukan)

    maupun seni rupa tidak lagi

    dipersoalkandan cenderung

    memiliki unsur improvisasi yang

    tinggi. Umpamanya juga

    dilakukan atas respon konteks

    sosial dan politik, situasi atau kondisi yang ada saat ini. Perfomance art

    merupakan gejala akan kecenderungan seni kontemporer saat ini, sehingga

    yang terlintas ini memiliki kaitan yang erat pula dengan keragaman seni

    instalasi.

    Gambar 2.11 Performance Art yang Memadukan Seni Pertunjukan dan Instalasi Sumber: Dokumetasi Pribadi

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    II‐14 

     

    BAB II Galeri Seni Urban Yogyakarta Dengan Penekanan pada Pencitraan Bentuk Bangunan Kontemporer

    C. Ruang Publik

    C.1. Ruang Publik dalam Elemen Kota

    Ruang publik dalam arti yang sungguh-sungguh murni adalah ruang yang

    memang tidak boleh dikuasai oleh pihak atau kelompok tertentu siapapun. Karena itu

    dengan sendirinya bersifat terbuka, sekuler dan non-partisan. Secara fungsi ruang

    publik adalah suatu ruang yang berfungsi mewujudkan keseimbangan kehidupan

    manusia. Dari segi pribadi, keseimbangan kehidupan dapat tercipta dengan

    menyalurkan ekspresi dan opini pribadi dalam suasana kebersamaan. Dari segi

    masyarakat, ruang publik dibutuhkan untuk menyeimbangkan kehidupan warga kota

    yang heterogen.

    Elemen ruang publik dalam kota sebagai tempat interaksi masyarakat yang

    bebas dikembangkan oleh Habermas, seorang tokoh aliran Frankurt, melalui konsep

    the free public sphere (ruang publik yang bebas), di mana masyarakat memiliki akses

    atas setiap kegiatan publik. Habermas melihat perkembangan wilayah yang bebas dari

    sensor dan dominasi. Wilayah itulah yang disebut dengan public sphere, yakni wilayah

    yang memungkinkan kehidupan sosial kita untuk membentuk opini publik yang relatif

    bebas.

    Penekanan praktek dalam public sphere yakni pertukaran pandangan yng

    terbuka dan diskusi mengenai masalah-masalah kepentingan umum dengan

    tujuaannya untuk membentuk kepekaan umum (sense of public). Mereka yang terlibat

    di dalam percakapan public sphere adalah orang-orang yang privat. Bukan orang

    dengan kepentingan bisnis, professional, pejabat maupun politikus.

    Tujuan dari ranah publik adalah menjadikan manusia mampu merefleksikan

    dirinya secra kritis, baik secara politis, ekonomis dan budaya. Karena menurut

    Habermas, tidak ada suatu apapun di dunia ini yang tidak lepas dari unsur

    kepentingan, sekalipun ilmu pengetahuan. Maka struktur masyarakat yang

    emansipatif di mana setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk

    berpartisipasi dalam mengambil keputusan bagi dirinya sendiri adalah struktur yang

    ideal.

    C.2. Ruang Publik untuk Galeri Seni Urban

    Seperti kebanyakan seniman lainnya di kota, para penggiat seni urban juga ingin

    menampilkan hasil ekspresi dan gagasannya kepada khalayak ramai melalui sarana

    ruang yang masih tersisa di sudut-sudut kota. Sebagai seorang seniman secara naluri

    pasti ingin menampilkan karyanya kepada publik, karena ada kerinduan dalam diri

    seniman tersebut untuk dapat berinteraksi dan berdialog dengan khalayak.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    II‐15 

     

    BAB II Galeri Seni Urban Yogyakarta Dengan Penekanan pada Pencitraan Bentuk Bangunan Kontemporer

    Meletakan seni urban dalam ruang publik berarti menjadikan ruang publik

    tersebut sebagai galerinya. Akses yang tidak terbatas dari khalayak menjadikan seni

    urban memiliki kesempatan yang lebih besar untuk berkomunikasi dengan masyarakat

    sekaligus mendapatkan responnya secara objektif. Bila seni tradisional terobsesi pada

    keabadiaan, maka seni urban terobsesi pada pemanfaatan ruang seluas-luasnya.

    Memang belum tersedia infrastruktur maupun media untuk menjelaskan apa itu

    seni urban kepada masyarakat. Maka saat ini dibutuhkan suatu ruang yang dapat

    dijadikan mediasi bagi para seniman dan masyarakat untuk dapat memahami

    semangat seni uban itu sendiri. Suatu ruang yang bebas dari hagemoni kekuasaan

    dimana setiap pendapat dapat berkembang secara demokratis tapi tetap bertanggung

    jawab.

    Secara khusus ruang publik adalah dialog antara arsitektur dan senirupa dalam

    proses penciptaannya, dengan melibatkan masyarakat dalam permasalahan perkotaan

    dan seni budaya, baik lokal maupun global.

    D. Bentuk Kontemporer

    D.1. Pemahaman Kontemporer

    Secara umum kontemporer dapat diartikan sebagai masa kini, sewaktu,

    sezaman, waktu yang sama dengan pengamat masa kini. Sementara dalam Kamus

    Umum Bahasa Indonesia susunan Badudu dan Sutan Muhammad Zein terdapat tiga

    arti leksikal tentang kata kontemporer, yaitu (1) semasa, sezaman; (2) bersamaan

    waktu, dalam waktu yang sama; (3) masa kini, dewasa ini. Untuk menjelaskan lebih

    lanjut, Badudu memberikan satu contoh kalimat, yakni “Seni kontemporer tidak

    bertahan lama” (Badudu-Zein, 1994:714). Dengan contoh ini Badudu ingin

    menegaskan bahwa seni kontemporer adalah seni yang akan bertahan sezaman saja.

    Dengan demikian, kata masa kini juga berarti sezaman, masa saat sekarang.

    Dari makna leksikal di atas tampak bahwa masalah waktu kesezamanan

    dan/atau kekinian merupakan batasan tegas konsep tersebut. Pengertian ini jelas

    masih sangat umum, bahkan bisa dikatakan ambigu. Bersifat umum sebab tidak

    merujuk pada suatu genre, paham, ideologi dan lain-lain. Sementara itu, batasan

    waktu masa kini sebagai pengertian kontemporer juga bersifat ambigu. Contohnya

    dalam wacana seni rupa Indonesia. Tim penulis buku Sejarah Seni Rupa yang diketuai

    Kusnadi, misalnya, menggunakan istilah kontemporer untuk seni rupa zaman

    kemunculan Raden Saleh (Kusnadi, 1979:143). Beberapa tahun kemudian, yaitu Thun

    1973 kata kontemporer sbagai sebuah istilah digunakan lagi dalam sebuah pameran

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    II‐16 

     

    BAB II Galeri Seni Urban Yogyakarta Dengan Penekanan pada Pencitraan Bentuk Bangunan Kontemporer

    patung betajuk “Pameran Pertama Patung Kontemporer Indonesia”. Kata kontemporer

    yang digunakan dalam tajuk pameran ini digagas G. Sidharta untuk menggantikan kata

    modern---awalnta bertajuk “Pameran Pertama Patung Modern Indonesia.

    Dengan demikian bisa ditegaskan bahwa kata kontemporer bukan merupakan

    istilah yang merujuk pada sebuah aliran atau gaya, melainkan hanya sebuah aktivitas

    yang dianggap terkini pada setiap zaman oleh para pengamat yang hidup pada setiap

    zaman bersangkutan.

    D.2. Kontemporer Sebagai Bagian dari Gerakan Postmodern

    Dalam ranah bentuk dan gaya, kontemporer sndiri sering dihubungkan dengan

    sebuah gejala yang membedakan dirinya dari bentuk dan gaya sebelumnya, yaitu

    modern. Gaya kontemporer dikategorikan sebagai karya yang dihasilkan oleh

    paradigma postmodern, sehingga beberapa pihak acap menyulih istilah kontemporer

    dengan postmodern. Kontemporer dapat diartikan sebagai bentuk dan gaya yang

    memiliki kecenderungan berbeda dengan bentuk dan gaya modern.

    Selanjutnya, bentuk dan gaya dengan kecenderungan tersebut bisa

    diidentifikasikan dengan terlebih dahulu menjelaskan apa yang dimaksud dengan

    postmodern itu sendiri. Tapi, istilah ini sulit dipahami tanpa membandigkan dengan

    paradigma yang mendahuluinya, yaitu modern. Dalam menjelaskan hubungan-

    hubungan ini orang sering menumpangtindihkan beberapa istilah, yani modern,

    modernitas,modernism, postmodern, postmodernitas dan postmodernisme. Untuk itu

    sebelumnya istilah-istilah ini perlu didefinisikan dengan jelas. Yasraf Amir Piliang

    (2006: 75) menjelaskan istilah-istilah tersebut dengan menunjukan perbedaan-

    perbedaan sebagai berikut:

    a. Modern – Postmodern

    Istilah ini mengacu pada waktu, era, zaman dan semangat zaman. Postmodern

    dapat diartikan waktu, era, zaman dan semangat zaman setelah modern.

    b. Modernitas - Postmodernitas

    Istilah ini mengacu pada kondisi, eadaan, situasi, umum, realitas dunia kehidupan.

    Modernitas memilikiciri kemajuan (progress), integrasi, keterpusatan, kontinuitas

    dan kebaruan.

    Postmodern memiliki ciri nostalgia, pastiche, disitegrasi, fragmentasi, heterogenitas

    dan decentering.

    c. Modernisme - Postmodernisme

    Istilah ini mengacu pada gerakan (movement), gaya (style), ideology,

    kecenderungan, metode cara hidup dan keyakinan.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    II‐17 

     

    BAB II Galeri Seni Urban Yogyakarta Dengan Penekanan pada Pencitraan Bentuk Bangunan Kontemporer

    Modernisme mengacu pada universalitas, internasionalisme, inperialisme,

    etnosentrisme, dan rasisme.

    Postmodern mengacu pada pluralisme, dekonstruksionisme multikulturalisme, pos-

    kolonialisme den feminisme.

    Tampak dari pendefinisian di atas bahwa istilah modern berbanding lurus

    dengan modernitas dan modernisme. Istilah ini kemudian berbanding terbalik dengan

    postmodern, postmodernitas dan postmodernisme. Mengacu pada penjelasan dan

    pemosisisan ini bentuk dan gaya yang mengacu pada postmodern (kontemporer)

    adalah bentuk dan gaya yang bisa dibedakan denga bentuk dan gaya pada paadigme

    modern. Lebih rinci, Baret (1994: 109-112) melalui Sabana (2002: 18) membedakan

    konsep modernisme dan postmodernisme melalui tabel berikut:

    Tabel 2.2 Perbandingan Antara Modernisme dan Postmodernisme

    Modernisme Postmodernisme

    Memutuskan rantai masa lalu Meminjam masa lalu untuk konteks yang

    baru

    Eksposisi inovasi individual (originalitas) Eklektik

    Orientas medium Orientas tema, medium lebih bebas

    Merendahkan budaya populer Banyak menimba budaya populer

    High art Low dan High Art

    Menolak kecenderungan sosial dalam seni Kepedulian terhadapkejadian sehari-hari

    (sosial) dan juga politik. Demistifikasi

    realitas

    Meyakini komunikasi universal Tidak meyakini komunikasi universal

    Art for art’s sake Sikap kritis dan skeptik seniman terhadap

    kesenian dan zamannya.

    Isu-isu kelas sosial, ras gender, usia,

    bangsa, alam, agama, lingkungan dan

    sebagainya

    Formalisme Kritis terhadap formalisme

    Menara Gading Merakyat

    Keabadian Kesementaraan

    Budaya local (tradisi) kurang dihiraukan Sadar budaya lokal (tradisi)

    Karya “tertutup” atau objektifitas karya Karya “terbuka” atau konstektualitas karya

    Raionalisme sebagai referensi Kritis terhadap rasionalisme

    Sumber: Baret (1994: 109-112) melalui Sabana (2002: 18)

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    II‐18 

     

    BAB II Galeri Seni Urban Yogyakarta Dengan Penekanan pada Pencitraan Bentuk Bangunan Kontemporer

    D.3. Kontemporer dalam Arsitektur

    Arsitektur kontemporer sendiri diartikan sebagai langgam arsitektur yang

    memperhatikan kekinian. Yulianto Sumalyo dalam bukunya yang berjudul Arsitektur

    Modern menerangkan perkembangan arsitektur pada akhir abad XX yang merupakan

    zaman globalisasi dimana industri negara sudah semakin maju dan kemudian

    meningkat menjadi zaman industri-informatika yang semakin kompleks. Kadang-

    kadang pengelompokan dan pemberian bentuk suatu gedung baru, tidak dapat

    mengikuti kecepatan perkembangannya. Berbagai gedung tinggi dan “gedung pintar” di

    Jakarta juga cukup banyak yang termasuk dalam kategori tidak dapat dikelompokan

    dalam suatu aliran arsitektur, atau sebaliknya berbagai aliran arsitektur seperti

    misalnya Cubism, Monumentalisme, Art-Deco, Post-Modernism tercakup di dalamnya.

    Sedangkan menurut Andra Matin, kontemporer diartikan sebagai arsitektur kini.

    Karena menurut Andra Matin, dalam merancang ia selalu berubah agar setiap

    rancangannya dapat terus berkembang, ada sesuatu yang baru dan memiliki ide segar.

    Arsitektur kontemporer dapat juga diartikan sebagai arsitektur yag mengadopsi isu-isu

    kekinian.

    Dari segi gaya dan bentuk, arsitektur kontemporer yang merupakan bagian dari

    postmodern merupakan budaya tandingan (counter culture) dari arsitektur modern.

    Sebagai respon dari kebosanan akan arsitektur modern yang isotropis, homogen,

    monoton, anti ornament, anti metafora, anti humoris, mono simbolik dan berestetika

    mesin maka lahirlah arsitekur postmodern dengan perwujudan gaya kontemporer yang

    mengutamakan elemen gaya hibrida (ketimbang yang murni), komposisi paduan

    (ketimbang yang bersih), bentuk distorsif (ketimbang yang utuh), ambigu (ketimbang

    yang tunggal), inkonsisten (ketimbang yang konsisten), serta kode ekuivokal

    (ketimbang monovokal). (Complexity and Contradiction in Arch, Robert Venturri)

    Dari segi konsep, arsitektur kontemporer memiliki konsep metafora, historitas,

    ekletisme, regionalisme, adhocism, semantik, perbedaan gaya, pluralism, sensitivisme,

    ironisme, parodi dan tradisionalisme. Selain itu juga memiliki sifat-sifat

    hibrida,kompleks, terbuka, kolase, ornamental, simbolis dan humoris. Ciri khas yang

    paling menonjol dari arsitektur kontemporer adalah double coding, yaitu memuat kode

    dan gaya yang berbeda dalam satu bangunan. Merupakan campuran eklektis antara

    tradisional/modern, popular/tinggi, barat/timur, sederhana/kompleks. (The Language

    of Postmodern Architecture, Charles Jenks).

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    II‐19 

     

    BAB II Galeri Seni Urban Yogyakarta Dengan Penekanan pada Pencitraan Bentuk Bangunan Kontemporer

    Contoh karya arsitektur postmodern bergaya

    kontemporer dapat terlihat jelas lewat Imatra

    (Vouksennsiska Church) yang di desain oleh Hugo

    Alvar Henrik Aalto. Aalto, berasal dari Finandia,

    merupakan salah satu arsitek yang berpengaruh pada

    abad 20, mengkombinasikan bangunan rancangannya

    dan furnishings clear functionalism dengan bentuk

    yang tidak biasa dan kadang justru berlawanan

    dengan funGsionalisme itu sendiri. Karya terkenalnya

    yang lain adalah Baker House (1947), Villa Mairea

    (1938-39), Synatsallo Town Hall (1950-1952), dll.

    Imatra merupakan salah satu karya terbaik dari Aalto. Rancangan Aalto untuk gereja ini juga tidak

    seperti lazimnya gereja-gereja yang ada. Kombinasi

    lengkungan-lengkungan bagian dari kurva dan garis-

    garis lurus satu dengan yang lain tidak sejajar seperti

    bangunan lainnya, sehingga menghasilkan bentuk

    denah yang tidak teratur.

    Dinding dari susunan tersebut membentuk

    bidang, bidang kontras satu dengan lainnya, pada

    ruang dalam dinding dengan denah tak beraturan

    tersebut, ke depan dimana terdapat altar semakin

    mengecil. Disini dapat dilihat ciri khas post-modern

    space dimana kombinasi komponen bangunan, adalam

    hal ini dinding, dapat menghasilkan penciptaan serta

    pembentukan ruang yang terkomposisi dengan unik.

    Ciri Aalto yang sederhana tapi berbeda dengan

    bangunan lain juga dapat ditemukan pada bangunan

    ini.

    Dari sisi eksterior, Imatra sangat terlihat tidak

    lazim untuk ukuran sebuah gereja atap-atap

    melengkung miring dengan ketinggia yang berbeda

    mendominasi point of interest dari bangunan ini. Kalau

    dicermati memang agak aneh dan tidak mendukung

    fungsinya sebagai gereja. Tapi, memang itulah ciri dari arsitektur post-modern, dimana

    karya arsitektur bukanlah sebagai produk massal.

    Gambar 2.12 Interior Imatra Sumber: Microsoft Encarta Reference Library

    Gambar 2.13 Eksterior Imatra Sumber: Microsoft Encarta Reference Library

    Gambar 2.14 Interior Guggenheims Gallery Sumber: Microsoft Encarta Reference Library

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    II‐20 

     

    BAB II Galeri Seni Urban Yogyakarta Dengan Penekanan pada Pencitraan Bentuk Bangunan Kontemporer

    Yang lainnya adalah desain Guggenheims Gallery Space di New York karya arsitek

    terkenal Fank Lloyd Wright. Disini diperlihatkan desain spiral setinggi enam lantai

    dimana terdapat skylight berkaca besar diantara tengah-tengah spiral tersebut yang

    menyinari setiap karya seni yang dipajang di setiap lantainya.

    Dapat dipahami pendesainan bentuk spiral ini merupakan pengekspresian dari

    tujuan pembentukan ruang tersebut sebagai galeri seni yang menuntut bentuk ruang

    yang dinamis, unik serta yang terpenting juga dapat menonjolkan karya-karya seni yang

    dipamerkan di dalamnya.

    Terakhir adalah karya Robert Venturi

    Architecture Firm, yaitu Venna Venturi House

    yang terletak di Pennsylvania. Sebuah rumah

    yang mencerminkan sebuah bentuk yang

    fungsional dimana nilai keindahan justru

    tecipta dari pengekspresian ruang di dalamnya.

    Ruang yang menuntut kesederhanaan dan

    fungsi semata sehingga menghasilkan bentuk

    yang simple dan tidak bertele-tele tetapi tetap

    memiliki nilai estetika.

    E. Tinjauan Kota Yogyakarta

    E.1. Keadaan Geografis dan Klimatologis

    Kota Yogyakarta secara umum terletak 7° 49' 26" - 7° 15' 24" Lintang Selatan

    dan 110° 24' 19" - 110° 28' 53" Bujur Timur.

    Yogyakarta terdiri dari 14 Kecamatan and 45

    Kelurahan dengan luas total area 32.5 km² atau

    1.2% dari luas total Provinsi DIY Yogyakarta.

    Kotamadya Yogyakarta memiliki ketinggian 25

    sampai dengan 200 m diatas permukaan laut

    dengan tingkat kemirinagn 0 – 2%.Kontur paling

    curam dapat ditemukan pada bantaran kali Code

    dan Winongo. Temperatur rata-rata berkisar antara

    26,6°C sampai dengan 28,8°C sedagkan

    temperatur minimum mencapai 18°c dan

    temperatur maksimum dapat mencapai 35° C.

    Kelembapan udara rata-rata adalah 74% dengan kelambapan minimum 65% dan

    kelambapan maksimum 85%.

    Gambar 2.15 Venna Venturi House Sumber: Microsoft Encarta Reference Library

    Gambar 2.16 Peta Kotamadya Yogyakarta Sumber: Atlas Yogyakarta, DPU DIY

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    II‐21 

     

    BAB II Galeri Seni Urban Yogyakarta Dengan Penekanan pada Pencitraan Bentuk Bangunan Kontemporer

    Curah hujan bervariasi antar 33mm sampai dengan 496mm. Curah hujan diatas

    300mm terjadi pada bulan Januari, Februari dan April. Curah hujan tertinggi yaitu

    496mm biasa terjadi pada bulan Februari dan curah hujan terendah berkisar antara

    3mm smpai dengan 24mm terjadi pada bulan Mei sampai Oktober. Curah hujan

    tahunan rata-rata adalah 1855mm.

    Secara administrasi, Kotamadya Yogyakarta berbatasan dengan Kabupaten

    Kulonprogo dan Kabupaten Magelang di sebelah Barat, Kabupaten Klaten di Sebelah

    Timur dan Utara serta Kabupaten Bantul di sebelah Selatan.

    E.2. Potensi Kota Yogyakarta

    Yogyakarta identik sebagai kota dengan identitas seni dan budaya yang kental.

    Dengan banyaknya perguruan tinggi yang mengkhususkan studinya di bidang seni

    ditambah dengan karakteristik masyarakat Yogyakarta yang kritis tapi mau menerima

    perubahan menjadikan kota ini memiliki iklim yang sangat kondusif untuk berkesenian.

    Munculnya komunitas-komunitas seni, sanggar, galeri serta museum-museum seni

    menandakan pesatnya perkembangan berkesenian di kota ini.

    Yogyakarta mempunyai potensi yang cukup besar dalam bidang budaya,

    pariwisata dan perdagangan, dan secara umum potensi kota Yogyakarta saat ini

    digambarkan sebagai berikut:

    a. Sosio Kependudukan

    Seiring bertambahnya laju pertumbuhan penduduk akan diikuti juga dengan

    pertumbuhan laju ekonomi dan bisnis yang semakin gegas. Dengan demikian akan

    pendapatan perkapita akan semakin meningkat.

    Yogyakarta sebagai salah satu kota yang paling terkenal di Indonesia mulai menjadi

    pusat berbagai macam kegiatan, baik yang berskala lokal, regional, nasional atau

    bahkan intenasional tidak terlepas dari hal tersebut. Yogyakarta mempunyai tingkat

    laju pertumbuhan penduduk terhitung antara tahun 2000-2005 sebesar