Click here to load reader

tugas kelompok JSA

  • View
    279

  • Download
    19

Embed Size (px)

Text of tugas kelompok JSA

Job Safety Analysis (JSA)Tugas SMK3

Oleh:

DESTIARA CAHYA SAPUTRA SYARIF HIDAYATULLAH AMBAR WAHYUDI ANTON H ISHAK

FAKULTAS ILMU KESEHATAN MASYARAKAT PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS RESPATI INDONESIA JAKARTA 2011BAB I

PENDAHULUAN

Keselamatan dan kesehatan kerja atau K3 merupakan hal yang tidak terpisahkan dalam sistem ketenagakerjaan dan sumber daya manusia. Keselamatan dan kesehatan kerja tidak saja sangat penting dalam meningkatkan jaminan sosial dan kesejahteraan para pekerjanya akan tetapi jauh dari itu keselamatan dan kesehatan kerja berdampak positif atas keberlanjutan produktivitas kerjanya. Oleh sebab itu isu keselamatan dan kesehatan kerja pada saat ini bukan sekedar kewajiban yang harus diperhatikan oleh para pekerja, akan tetapi juga harus dipenuhi oleh sebuah sistem pekerjaan. Dengan kata lain pada saat ini keselamatan dan kesehatan kerja bukan semata sebagai kewajiban, akan tetapi sudah menjadi kebutuhan bagi setiap para pekerja dan bagi setiap bentuk kegiatan pekerjaan (http:://www.google.co.id/keselamatan kerja,2008). Pencapaian keselamatan dan kesehatan kerja tidak lepas dari peran ergonomi, karena ergonomi berkaitan dengan orang yang bekerja, selain dalam rangka efektivitas dan efisiensi kerja (Sedarmayanti, 1996). Ergonomi yaitu sebagai salah satu ilmu yang berusaha untuk menyerasikan antara faktor manusia, faktor pekerjaan dan faktor lingkungan. Dengan bekerja secara ergonomis maka diperoleh rasa nyaman dalam bekerja, dihindari kelelahan, dihindari gerakan dan upaya yang tidak perlu serta upaya melaksanakan pekerjaan menjadi sekecil kecilnya dengan hasil yang sebesar-besarnya. (Soedirman,1989). Apabila seseorang pekerja dalam melakukan pekerjaan mengangkat, menurunkan dan membawa barang dilakukan secara langsung tanpa bantuan alat apapun dapat menjadi risiko terjadinya kecelakaan pada pekerja seperti nyeri atau cidera pada pinggang. Low Back Pain (LBP) atau nyeri pinggang merupakan rasa nyeri yang terjadi di daerah punggung bagian bawah dan dapat menjalar ke kaki terutama bagian belakang dan samping luar. Keluhan utama nyeri pinggang akibat teknik atau sikap kerja yang salah dapat berupa pegal dipinggang yang sudah bertahun-

tahun, pinggang terasa kaku, sulit digerakkan, dan terus-menerus lelah. (Sitorus, 1996: 57). Nyeri pada pinggang dan tulang belakang merupakan penyebab tersering diantara semua kelainan kronis dalam menyebabkan pembatasan aktivitas masyarakat berusia dibawah 45 tahun dan menduduki peringkat ketiga setelah penyakit kelainan jantung dan arthritis serta rematik pada usia 45 hingga 65 tahun. Penyelidikan memperlihatkan bahwa hampir 80% penduduk Amerika menderita nyeri pinggang selama masa dewasa dan sebagai penyebab tidak masuk kerja yang menduduki urutan kedua setelah infeksi respiratorius atas. Suatu penyelidikan yang diadakan di Inggris memperlihatkan bahwa dari tahun 1980 sampai 1990, waktu kerja yang hilang akibat nyeri pinggang tiga kali lipat lebih besar daripada akibat pemogokan kerja (Seller, H.R.1987: 23). Pada tahun 1985, WHO menyatakan bahwa 2%-5% dari karyawan di negara industri tiap tahun mengalami Low Back Pain, dan 15% dari absenteisme di industri baja serta di perusahaan dagang disebabkan karena nyeri pinggang. Data statistik nasional Amerika Serikat memperlihatkan angka kejadian sebesar 15%-20% pertahun. Pekerjaan mengangkat menjadi penyebab terlazim nyeri pinggang bawah, yang menyebabkan 80% kasus. Sebanyak 90% kasus nyeri pinggang bukan disebabkan oleh kelainan organik, melainkan oleh kesalahan posisi tubuh dalam bekerja. Di inggris tiap hari ada 50.000 orang lebih tidak masuk kerja karena nyeri pinggang. Nyeri pinggang menyebabkan lebih banyak waktu hilang dari pada pemogokan kerja, sebanyak 20 juta hari kerja karenanya.(Imrie, D. 1991:47). Prevalensi nyeri pinggang pada pekerja Indonesia, sampai saat ini belum pernah dilaporkan secara keseluruhan. Dari data mengenai pasien yang berobat ke klinik Neurologi Rumah Sakit Pondok Indah Jakarta menunjukkan bahwa jumlah pasien diatas usia 40 tahun yang datang dengan Low Back Pain ternyata jumlahnya cukup banyak.prevalensi nyeri pinggang penduduk laki-laki pada umumnya adalah 18,2% sedangkan pada penduduk wanita 13,6% (Hadinoto,S.1991:136).

Menurut data Departemen Tenaga Kerja Amerika Serikat (Accident Facts, 1990), cedera tulang belakang adalah salah satu yang paling umum terjadi (22% dari semua kecelakaan kerja yang terjadi) dan paling banyak membutuhkan biaya untuk pengobatannya. Salah satu penyebab dari cedera ini adalah overload yang dipikul oleh tulang belakang (> 60%) dan 60% dari overload ini disebabkan oleh pekerjaan mengangkat barang, 20% pekerjaan mendorong atau menarik barang dan 20% akibat membawa barang. Disamping itu juga dilaporkan bahwa 25% kecelakaan disebabkan karena aktvitas angkat-angkut; 50-60% cedera pinggang disebabkan karena aktivitas mengangkat dan menurunkan material (Pulat,1992). Pekerja yang mengangkat beban berat akan mengalami kemungkinan cedera punggung 8 kali lipat dari pekerja yang hanya mengangkat barang secara tidak terus menerus. Oleh karena itu dibutuhkan adanya penerapan prinsip-prinsip ergonomi pada pekerjaan yang menggunakan kemampuan otot. Selain itu juga didapat hasil penelitian di Rumah Sakit Dr. Soetomo pada perawat akibat salah angkat dan atau angkut dapat menimbulkan cedera muskuloskeletal dimana 45,5% perawat yang diteliti pernah mengalami cedera punggung (Erwin Dyah N,2006).

BAB II MASALAH Perkembangan teknologi saat ini begitu pesatnya, sehingga peralatan sudah menjadi kebutuhan pokok pada berbagai lapangan pekerjaan. Artinya peralatan yang penting dalam dan teknologi merupakan lain penunjang untuk terjadi upaya meningkatkan bila kita kurang produktivitas akan

berbagai jenis pekerjaan. Disamping itu disisi dampak negatifnya, bahaya potensial yang mungkin timbul.

waspada menghadapi

Hal ini tidak akan terjadi jika dapat diantisipasi pelbagai risiko yang mempengaruhi kehidupan para pekerja. Pelbagai risiko tersebut Penyakit Antisipasi adalah kemungkinan yang ini terjadinya Penyakit Akibat Kerja, berhubungan dengan harus dilakukan oleh pekerjaan semua dan Kecelakaan

Akibat Kerja yang dapat menyebabkan kecacatan atau kematian. pihak dengan cara penyesuaian antara pekerja, proses kerja dan lingkungan kerja. Pendekatan ini dikenal sebagai pendekatan ergonomik. Salah satu masalah ergonomi yang terjadi adalah pada pekerja bidang angkat-angkut salah satunya adalah nyeri pada otot punggung

yang digunakan untuk bekerja. Keluhan yang biasa diderita pekerja dibidang angkat-angkut adalah pada sistem muskuloskeletal. Keluhan muskuloskeletal adalah keluhan pada bagian-bagian otot skeletal yang dirasakan oleh seseorang mulai dari keluhan sangat ringan sampai sangat sakit. Apabila otot menerima beban statis secara berulang dan dalam waktu yang lama, akan dapat menyebabkan keluhan berupa kerusakan pada sendi, ligamen dan tendon. Keluhan hingga kerusakan inilah yang biasanya diistilahkan dengan musculoskeletal disorders (MSDs) atau cedera pada system muskuloskeletal (Grandjean, 1993; Lemasters, 1996). Bagian otot yang sering dikeluhkan adalah otot rangka (skeletal) yang meliputi otot leher, bahu, lengan, tangan, jari, punggung, pinggang dan otot-otot bagian bawah. Masalah lain mengenai K3 yang timbul pada pekerja angkat angkut di gudang adalah seperti tertiban barang, terjatuh dari ketinggian pada saat meletakkan barang di rak penyimpanan secara manual, kaki tertabrak lori, tangan atau kaki terjepit barang.

BAB III TINJAUAN PUSTAKA 3.1. Pengertian Keselamatan dan Kesehatan Kerja Keselamatan berasal dari bahasa Inggris yaitu kata safety dan biasanya selalu dikaitkan dengan keadaan terbebasnya seseorang dari peristiwa celaka (accident) atau nyaris celaka (nearmiss). Kesehatan berasal dari bahasa Inggris health, yang dewasa ini tidak hanya berarti terbebasnya seseorang dari penyakit, tetapi pengertian sehat mempunyai makna sehat secara fisik, mental dan juga sehat secara sosial. Dengan demikian pengertian sehat secara utuh menunjukkan pengertian sejahtera (well-being). Sebagaimana kita ketahui bahwa umumnya manusia selalu mempunyai pekerjaan (work, occupation) dan sebagian besar waktunya berada dalam situasi bekerja sehingga dapat terjadi manusia akan menderita

penyakit menderita

yang

mungkin

disebabkan

oleh

pekerjaannya

atau

penyakit yang berhubungan dengan pekerjaannya.

Karena alasan tersebut berkembang ilmu yang dikenal dengan kesehatan kerja (occupational health). Jadi dapat dikatakan bahwa Keselamatan dan Kesehatan Kerja adalah suatu pendekatan ilmiah dan praktis dalam mengatasi potensi bahaya dan risiko kesehatan dan keselamatan yang mungkin terjadi. Dengan kata lain hakekat dari Keselamatan dan Kesehatan Kerja adalah tidak berbeda dengan pengertian bagaimana kita mengendalikan risiko (risk management) agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan. Keselamatan dan kesehatan kerja ( K3 ) sangat dibutuhkan dalam kegiatan industri, hal-hal yang melatar belakangi yaitu bahwa setiap aktifitas industri selalu mengandung bahaya dan risiko keselamatan dan kesehatan kerja, bahaya dan risiko tersebut akan menimbulkan konsekuensi, apabila K3 tidak dikelola dengan baik, maka akan menimbulkan kerugian. Kerugian-kerugian tersebut berupa aset perusahaan dari yang paling ringan sampai kepada kehancuran, dari sisi pekerja dari cacat / sakit yang teringan sampai kepada korban jiwa, sedangkan dari segi lingkungan dari tingkat pencemaran ringan sampai bencana. Tujuan keselamatan dan kesehatan kerja yaitu menciptakan kondisi kerja yang aman dan sehat sehingga mencegah terjadinya luka-luka, penyakit, dan kecelakaan yang dapat menimbulkan kerugian baik material maupun non material, mencegah terjadinya penurunan kesehatan atau gangguan lainnya (cacat, cidera) pada pekerja yang diakibatkan oleh potensi ba