27
KORUPSI DI DIREKTORAT JENDERAL PAJAK Pendahuluan Rentetan kasus dugaan korupsi pajak yang melilit Gayus Tambunan, Bahasyim Assifie, dan yang terakhir Dhana Widyatmika mengingatkan banyak orang bahwa perang terhadap korupsi tak boleh berhenti. Munculnya jejeran nama pegawai negeri yang masih muda dan menduduki jabatan biasa dalam skandal korupsi mengisyaratkan adanya transformasi korupsii. Upaya pencegahan dan pemberantasan perlu dilakukan bukan hanya oleh pemerintah, tapi juga peran masyarakat itu sendiri. Sebagai tumpuan penerimaan Negara (sekitar 70% penerimaan APBN), instansi Direktorat Jenderal Pajak dikenal sebagai “lahan basah” dalam praktik tindak pidana korupsi. Karena itu, tulisan ini akan membahas modus serta upaya pencegahan dan pemberantasan korupsi di instansi Direktorat Jenderal Pajak. Sebelumnya kita perlu mengetahui kondisi Direktorat Jenderal Pajak di Indonesia. Secara garis besar, kondisi DJP dapat dibagi menjadi dua yaitu era pra modernisasi dan era modernisasi DJP. A. Era Pra Modernisasi Direktorat Jenderal Pajak Reformasi DJP pertama kali terjadi pada tahun 1983 dengan mengubah sistem pemungutan pajak dari Official Assessment System menjadi Self Assesment System. Pada waktu itu Kantor Pajak masih dinamakan Kantor Inspeksi Pajak. Kemudian pada tahun 1989, Kantor Inspeksi Pajak diubah menjadi Kantor Pelayanan Pajak (KPP) yang menjalankan fungsi pelayanan untuk jenis Pajak Penghasilan (PPh) dan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sedangkan KPPBB (Kantor Pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan) yang berfungsi sebagai kantor pelayanan untuk jenis

Tugas Seminar Pemberantasan Korupsi

Embed Size (px)

Citation preview

Page 1: Tugas Seminar Pemberantasan Korupsi

KORUPSI DI DIREKTORAT JENDERAL PAJAK

Pendahuluan

Rentetan kasus dugaan korupsi pajak yang melilit Gayus Tambunan, Bahasyim Assifie, dan

yang terakhir Dhana Widyatmika mengingatkan banyak orang bahwa perang terhadap korupsi tak

boleh berhenti. Munculnya jejeran nama pegawai negeri yang masih muda dan menduduki jabatan

biasa dalam skandal korupsi mengisyaratkan adanya transformasi korupsii. Upaya pencegahan dan

pemberantasan perlu dilakukan bukan hanya oleh pemerintah, tapi juga peran masyarakat itu

sendiri. Sebagai tumpuan penerimaan Negara (sekitar 70% penerimaan APBN), instansi Direktorat

Jenderal Pajak dikenal sebagai “lahan basah” dalam praktik tindak pidana korupsi. Karena itu, tulisan

ini akan membahas modus serta upaya pencegahan dan pemberantasan korupsi di instansi

Direktorat Jenderal Pajak.

Sebelumnya kita perlu mengetahui kondisi Direktorat Jenderal Pajak di Indonesia. Secara

garis besar, kondisi DJP dapat dibagi menjadi dua yaitu era pra modernisasi dan era modernisasi DJP.

A. Era Pra Modernisasi Direktorat Jenderal Pajak

Reformasi DJP pertama kali terjadi pada tahun 1983 dengan mengubah sistem pemungutan

pajak dari Official Assessment System menjadi Self Assesment System. Pada waktu itu Kantor Pajak

masih dinamakan Kantor Inspeksi Pajak. Kemudian pada tahun 1989, Kantor Inspeksi Pajak diubah

menjadi Kantor Pelayanan Pajak (KPP) yang menjalankan fungsi pelayanan untuk jenis Pajak

Penghasilan (PPh) dan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sedangkan KPPBB (Kantor Pelayanan Pajak

Bumi dan Bangunan) yang berfungsi sebagai kantor pelayanan untuk jenis Pajak Bumi dan Bangunan

(PBB) dan Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan/atau Bangunan (BPHTB).

Fungsi pemeriksaan dijalankan oleh Karikpa (Kantor Pemeriksaan dan Penyidikan Pajak) yang

sebelum tahun 1994 disebut Unit Pemeriksaan dan Penyidikan Pajak (UP3) dan Kantor Penyuluhan

dan Pengamatan Potensi Perpajakan (KP-4) yang sebelum tahun 2001 disebut Kantor Penyuluhan

sebagai fungsi penyuluhan.

Stuktur organisasi pada fungsi pelayanan di KPP Pra Modern berdasarkan jenis pajak seperti

Seksi PPh Badan, PPh Perseorangan, PPh Pemotongan Pemungutan, dan PPN. Pada struktur ini

fungsi pelayanan dilakukan oleh KPP namun pemeriksaan juga dilaksanakan oleh KPP selain Karikpa,

Fungsional Kanwil, dan Fungsional Kantor Pusat DJP sehingga terjadi fungsi ganda. Begitu juga

Page 2: Tugas Seminar Pemberantasan Korupsi

dengan pelayanan tidak bersifat satu atap (one stop service) karena mengingat jenis pajak PPh dan

PPN diadministrasikan oleh KPP sedangkan jenis pajak PBB dan BPHTB oleh KP. PBB. Pengajuan

keberatan sebelum modern diproses di KPP disamping Kanwil dan Kantor Pusat DJP, hal ini

memunculkan dualisme fungsi, karena yang memeriksa adalah KPP dan proses penyelesaian

keberatan juga dilakukan di KPP untuk aristasi KPP. Hal inilah yang mendorong dibentuknya KPP

Modern.

B. Era Modernisasi DJP

Untuk memberikan pelayanan dan pengawasan yang lebih baik, DJP memerlukan dukungan

teknologi informasi yang memadai. Sejalan dengan perkembangan teknologi informasi dan

organisasi DJP, Sistem Informasi Perpajakan (SIP), yang digunakan sejak tahun 1994, sudah tidak

memadai untuk melayani dan mengawasi Wajib Pajak secara menyeluruh. Oleh karena itu dalam

pembentukan Kanwil dan KPP WP Besar pada tahun 2002, SIP dikembangkan menjadi Sistem

Administrasi Perpajakan Terpadu (SAPT) yang berbasis struktur organisasi berdasarkan fungsi.

Selain itu, masih terdapat kelemahan dalam sistem pelaporan Wajib Pajak yaitu pelaporan

secara manual mengharuskan fiskus untuk melakukan perekaman ulang yang rawan kesalahan serta

memerlukan sumber daya yang tidak sedikit. Melalui pengembangan teknologi informasi, DJP

mengembangkan beberapa program yang bertujuan untuk meningkatkan pelayanan kepada Wajib

Pajak berupa e-SPT dan e-Filing. Dalam sistem pembayaran pajak juga ditemukan beberapa masalah

antara lain pemalsuan Surat Setoran Pajak (SSP). Untuk mencegah hal ini, DJP mengembangkan

sistem pembayaran secara elektronik yang dikenal dengan sistem Monitoring Pelaporan

Pembayaran Pajak (MP3).

Adapun langkah-langkah modernisasi yang dilakukan oleh DJP antara lain:

1. Reformasi Ketentuan Peraturan Perpajakan

Salah satu Reformasi perpajakan jilid pertama yaitu reformasi bidang peraturan perpajakan.

Hasilnya berupa diundangkannya UU No. 28 Tahun 2007 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara

Perpajakan (KUP) dan UU No. 36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan melalui proses panjang dan

melibatkan stake holder termasuk pengusaha yang mencerminkan keadilan dan kesetaraan

kedudukan antara fiskus dan Wajib Pajak. Penurunan tarif, penekanan cost of compliance, law

enforcement yang lebih tegas kepada Wajib Pajak tidak patuh, kesataraan fiskus dan Wajib Pajak

merupakan poin-poin dalam tax reform UU PPh.

Page 3: Tugas Seminar Pemberantasan Korupsi

2. Reformasi Pelayanan Kepada Wajib Pajak

- Tersedianya Account Representatives (AR) sebagai ujung tombak pelayanan dan perantaran

antara DJP dengan WP yang mengemban tugas melayani setiap Wajib Pajak dalam hal antara

lain pertama membimbing/menghimbau WP dan memberikan konsultasi teknis perpajakan.

Kedua, memonitor penyelesaian pemeriksaan pajak, proses keberatan, serta mengevaluasi hasil

banding. Ketiga, melakukan pemuktahiran data WP dan menyusun profil WP. Keempat,

menginformasikan ketentuan perpajakan terbaru, Kelima, memonitor kepatuhan WP melalui

pemanfaatan data & SAPT (Sistem Administrasi Perpajakan Terpadu). Keenam, menyelesaian

permohonan surat keterangan yang diperlukan WP. Ketujuh,menganalisis kinerja wajib pajak.

Kedelapan, merekonsiliasi data Wajib Pajak dalam rangka intensifikasi. Dengan demikian setiap

WP dapat menanyakan hak dan kewajiban perpajakannya kepada setiap AR di KPP Pratama yang

telah ditunjuk untuk masing-masing WP sesuai dengan wilayah kelurahan

- Pembentukan contact center : complain center, call center, non filers activation center. Dimana

pengaduan yang diterima oleh complain center akan dikoordinasikan dengan unit terkait dan

akan ditindaklanjuti dalam waktu 3 hari kerja dan jenis-jenis pengaduan termasuk mengenai

pelayanan, konsultasi, pemeriksaan, keberatan dan banding. Adapun media penyampaian

pengaduan dapat melalui e-mail, pos, nomor telpon bebas biaya, atau langsung.

- Sarana, prasarana, dan pendukung lainnya yang lebih modern meliputi: Pertama, Help Desk

dengan teknologi knowledge base pada Tempat Pelayanan Terpadu atau dikenal TPT (service

counter), Kedua, pelayanan dengan menggunakan sistem komunikasi dan teknologi informasi

terkini yang dikenal dengan sebutan e-system antara lain e-payment (pembayaran pajak secara

on line), e-registrasion (pendaftaran wajib pajak melalui internet), e-filling (pelaporan pajak

melalui internet), e-spt (pengisian SPT dengan program yang telah disediakan DJP), dan e-

counseling (konsultasi secara on line). Ketiga, Built in control system: pemanfaatan sistem

teknologi informasi untuk pengawasan internal termasuk pengawasan data.

3. Reformasi Organisasi

Dalam struktur yang modern ini terdapat perbedaan yang cukup radikal dan signifikan yakni

yang dulunya struktur organisasi KPP Pra Modern berdasarkan jenis pajak diubah menjadi

berdasarkan fungsi guna debirokratisasi pelayanan seperti Seksi Pelayanan dan Seksi Pemeriksaan

dibentuk secara terpisah. Pelayanan perpajakanpun sudah mulai satu atap (one stop service) karena

semua jenis pelayanan perpajakan baik jenis pajak PPh, PPN, PBB, dan BPHTB dilakukan di KPP

Pratama sedangkan untuk KPP WP Besar dan KPP Madya hanya jenis pajak PPh dan PPN, sehingga

Page 4: Tugas Seminar Pemberantasan Korupsi

menyebabkan adanya peleburan KP.PBB ke KPP Pratama. Proses penyelesaian keberatan hanya ada

di tingkat Kanwil, mengingat di Kanwil tidak menjalankan fungsi pemeriksaan lagi karena fungsi

pemeriksaan sepenuhnya dilaksanakan oleh KPP Modern yang menyebabkan pula dileburnya

Karikpa ke KPP Modern.

Organisasi Kanwil dan KPP disusun berdasarkan fungsi, yang meliputi fungsi pelayanan,

penyuluhan, pengawasan, penagihan dan pemeriksaan Seorang staf DJP Account

Representative (AR) akan bertanggungjawab melayani dan mengawasi seluruh hak dan

kewajiban perpajakan WP tertentu sehingga WP akan mendapat kemudahan pemenuhan

hak dan kewajiban perpajakannya Fungsi keberatan dan penyidikan berada di Kanwil

sementara fungsi pelayanan, pengawasan, Penagihan dan pemeriksaan berada di KPP (tidak

ada Kantor Pemeriksa dan Penyidikan Pajak tersendiri dalam Kanwil)

Page 5: Tugas Seminar Pemberantasan Korupsi

4. Reformasi SDM

Reformasi perpajakan di segala lini yang telah disusun oleh DJP akan sia-sia jika tanpa

dukungan dari pihak eksternal maupun dari pihak internal. Reformasi bidang SDM

sebenarnya juga sudah dimulai melalui Reformasi Etika, Moral, Integritas pada Tahun 2002.

Namun, dalam rangka mewujudkan visi dan misi Ditjen Pajak, peningkatan mutu dan

militansi pegawai mutlak diperlukan. Dengan begitu, kombinasi dari integritas (moral, etika)

yang baik dan kemampuan (mutu dan militansi) yang cemerlang merupakan nilai [value]

yang harus dimiliki oleh setiap pegawai Ditjen Pajak.

C. Modus Korupsi di Direktorat Jenderal Pajak

1. Pertama, melakukan nego terhadap pemeriksa/pemungut pajak. Artinya bila pajak

perusahaan ada 10, maka akan terjadi negosiasi sehingga hanya 5 pajak yang dibayar.

2.Kedua, penyelesaian keberatan yang dilakukan pada tingkat direktorat keberatan dan

banding dengan telah dibicarakan terlebih dahulu angkanya. "Itu juga kurang lebih seperti

tadi (poin pertama) tetapi telah berada pada direktorat keberatan dan banding."

Page 6: Tugas Seminar Pemberantasan Korupsi

3.Ketiga, penyelesaian keberatan pada tingkat pengadilan pajak. Hal ini dilakukan apabila

keberatan dari wajib pajak tidak bisa diselesaikan pada tingkat direktorat keberatan banding.

Ketika tiba di pengadilan banding, akan ada dua kemungkian. Apabila banding diterima

artinya negara kalah. Sebaliknya, ketika banding ditolak artinya negara menang.

Persoalannya, petugas pajak yang ditunjuk mewakili negara di pengadilan pajak sebagai

penelaah banding kadangkala tidak pernah hadir." Dengan begitu, sambungnya, putusan

banding itu tidak diketahui penelaah banding, apalagi eksekusinya.

4.Keempat, banyaknya konsultan pajak gelap (bukan pajak gelapnya) yang bertindak tidak

sesuai perintah dari institusi.

5.Kelima, menahan Surat Ketetapan Pajak oleh oknum direktorat pajak, yang hanya bisa

dikeluarkan dengan deal-deal tertentu.

Personalia, berhubungan dengan masalah kepegawaian, dalam hal ini ditengarai adanya jual

beli jabatan, rekrutmen dan penempatan. Hal ini dilakukan dengan memanfaatkan

kekuasaan untuk menentukan jabatan seseorang melalui penyuapan, nepotisme dan

pengaruh untuk mendapatkan suatu jabatan. Modus ini lazim terjadi pada posisi "basah",

misalnya oknum pejabat pajak pada kantor pemeriksa pajak tertentu, yang bisa "dijual" oleh

oknum pejabat yang menguasai personalia, dan "dibeli untuk investasi" bagi yang

memerlukan posisi tersebut.

Karena pajak merupakan lumbung pendapatan negara, sektor itu merupakan yang paling

rentan terjadi korupsi. Jika pemerintah mampu merealisasikan penerimaan pajak pada 2011

mencapai Rp 872,6 triliun atau naik 26 persen dari tahun sebelumnya, dapat diartikan

bahwa potensi pajak yang seharusnya menjadi penerimaan negara masih sangat besar.

Tetapi, angka statistik penerimaan pajak menunjukkan gejala yang aneh.

Mengapa realisasi penerimaan pajak pada 2010 hanya berkisar Rp 648 triliun, atau mencapai

target 98,12 persen? Di sisi yang lain, pemerintah selalu optimistis bahwa pertumbuhan

ekonomi akan selalu berada di atas angka enam persen.

Logikanya, dengan pertumbuhan ekonomi yang baik, transaksi keuangan meningkat dan

akan berimplikasi kepada penerimaan pajak yang meningkat pula. Lantas, mengapa pula

penerimaan pajak bisa tidak sesuai dengan target?

Pejabat direktorat pajak dengan mudah menunjuk bahwa masalah tidak tercapainya realisasi

Page 7: Tugas Seminar Pemberantasan Korupsi

pajak disebabkan masih banyaknya wajib pajak yang tidak taat membayar pajak. Pejabat

pajak, tampaknya, lupa bahwa nakalnya petugas pajak turut memberikan kontribusi atas

penerimaan sektor pajak yang fluktuatif. Perlu diingat bahwa dalam hubungan antara

petugas pajak dan wajib pajak, tidak ada wilayah transparan yang dapat diketahui publik

sehingga praktik kongkalikong antara petugas pajak dan wajib pajak tidak dapat diidentifikasi

dengan mudah.

Sebagaimana tabiat suap pada umumnya, yang mengetahui adanya suap menyuap antara

satu pihak dan yang lain adalah lingkaran yang mengetahui langsung praktik itu. Oleh karena

itu, dalam rezim anti suap, yang menjadi pemantik bagi terbongkarnya praktik atau skandal

suap adalah para whistle-blower atau justice collaborator yang memiliki informasi faktual

atas kejahatan

itu.

Dengan demikian, jika aparat penegak hukum ingin dapat membongkar skandal pajak secara

mudah, memberikan perlindungan terhadap whistle-blower adalah langkah yang tidak bisa

diabaikan.

Titik Paling Rawan Sebagaimana dilansir oleh Menteri Keuangan Agus Martowardojo, titik

rawan korupsi pajak adalah wilayah tempat pegawai pajak memiliki akses langsung terhadap

wajib pajak. Bentuknya bisa bermacam-macam, sesuai dengan fungsi dan wewenang yang

diatur dalam struktur di Direktorat Jenderal Pajak, termasuk di direktora keberatan dan

banding pajak. Pada direktorat itu, Gayus dan Dhana bekerja dan ditengarai mengeruk

banyakuang dari para wajib pajak. Direktorat lain yang sama rentannya adalah pada

direktorat pemeriksaan dan penagihan, direktorat intelijen dan penyidikan, serta direktorat

ekstensifikasi dan penilaian. Kesemua direktorat ini membuka akses yang besar bagi pegawai

pajak untuk bertemu langsung dengan wajib pajak. Karena itulah, peluang terjadinya

kongkalikong menjadi lebih besar. Semua direktorat di atas memungkinkan petugas pajak

melakukan ancaman, intimidasi, pemerasan, atau suap-menyuap agar pembayaran pajak

tidak sebesar yang seharusnya dibayarkan kepada negara. Bahkan, untuk skandal pajak yang

semestinya masuk ke ranah hukum, oknum petugas pajak dapat menjadikan itu sebatas

persoalan administratif belaka.

Terakhir, restitusi pajak atau pembayaran kembali pajak lebih oleh negara kepada wajib

pajak merupakan celah korupsi yang lain. Pada sektor itu, bukan hanya petugas pajak yang

memiliki otoritas tertentu yang dapat ’’bermain’’, tetapi petugas administrasi juga dapat

menggunakan akses dan pengetahuannya untuk kepentingan memanipulasi restitusi pajak.

Modus yang umum terjadi dalam kasus korupsi restitusi pajak adalah petugas pajak menjadi

Page 8: Tugas Seminar Pemberantasan Korupsi

konsultan bagi perusahaan tertentu menyediakan bukti-bukti fiktif transaksi jual beli, dan

membantu secara langsung penagihan restitusi pajak kepada negara.

Jika pemerintah ingin serius memberantas mafia pajak, pada sektor-sektor itulah seharusnya

reformasi difokuskan. Caranya, menempatkan aktor-aktor berintegritas untuk menjadi

pengendali utama pada sektor tersebut. Dengan begitu, para petugas pajak yang nakal akan

menemui kesulitan untuk melakukan anti korupsi. Perlu dipahami, korupsi sektor pajak

bukan hanya melibatkan satu dua orang, akan tetapi sudah merupakan organisasi kejahatan

yang harus diputus mata rantainya. Penempatan orang-orang yang berintegritas pada sektor

yang rawan korupsi akan membuka jalan bagi program reformasi birokrasi yang dijalankan

pemerintah

D. Kasus

(Dari Yudi)

Kasus 1

Menjelang berakhirnya batas waktu penyampaian SPT Tahunan Tahun 2011, Bagong,

seorang Account Representative di KPP Antah Berantah kedatangan seorang ibu yang merupakan

Wajib Pajak. Ibu tersebut yang bernama ibu Diana merupakan direktur dari beberapa CV yang

bergerak di bidang penjualan barang-barang elektronika untuk perkantoran. Karena merasa

kesulitan untuk mengisi SPT akhirnya ibu Diana menemui Bagong untuk meminta bantuan.

Bagong menjelaskan kepada ibu Diana bahwa mengisi SPT adalah tugas dari wajib pajak

yang bersangkutan. Account Representative hanya membimbing bagaimana cara untuk

mengisikannya. Tetapi, ibu Diana bersikeras bahwa dirinya tidak dapat mengisinya dan meminta

pertolongan kepada Bagong untuk membuatkan SPT Tahunan, sekaligus juga untuk beberapa badan

usahanya yang lain. Bagong menyarankan kepada ibu Diana untuk menggunakan jasa konsultan

pajak untuk mengelola kewajiban perpajakannya, namun ibu Diana lebih memilih meminta bantuan

Bagong karena lebih percaya terhadap Bagong.

Pada akhirnya, Bagong luluh untuk membantu ibu Diana untuk membuatkan SPT Tahunan

atas badan usaha yang dimilikinya. Bagong merasa membantu ibu Diana dengan tulus, namun

ternyata ketulusan Bagong justru dibalas dengan sepucuk amplop dan senyum indah dari ibu Diana.

Pada kesempatan selanjutnya, ternyata Bagong secara rutin membuatkan SPT baik masa maupun

tahunan dari badan-badan usaha milik ibu Diana.

Kasus 2

Page 9: Tugas Seminar Pemberantasan Korupsi

KPP Antah Berantah menerbitkan SPPT PBB untuk tahun 2009. SPPT untuk nilai PBB di atas

nominal tertentu seharusnya dibagikan secara langsung oleh pegawai KPP bersangkutan ke Wajib

Pajak. Dalam sebuah kasus, terdapat sebuah objek pajak yang mengalami kenaikan NJOP sehingga

nilai NJOP nya menjadi melebihi satu milyar rupiah. Efek dari kenaikan tersebut adalah nilai jual kena

pajak dari obyek pajak tersebut menjadi dua kali nilai jual kena pajak sebelumnya sehingga nilai PBB

terutang dari obyek pajak tersebut menjadi dua kali lipat nilai PBB terutang tahun sebelumnya.

Wajib pajak atas objek pajak tersebut merasa keberatan atas nilai PBB terutang dan tidak

bersedia menerima SPPT tersebut. Hal ini dimanfaatkan oleh pegawai KPP bersangkutan dengan

menawarkan jasa untuk menguruskan pengurangan PBBnya. Pegawai tersebut berpesan kalau

misalnya wajib pajak tersebut berharap untuk dibantu silakan menghubungi kembali.

Beberapa hari kemudian, wajib pajak tersebut menghubungi pegawai KPP yang

menemuinya. Selain karena ketidaktahuan tentang prosedur dan peraturan perpajakan, wajib pajak

tersebut mempertimbangkan bahwa pastinya proses pengurangan akan lebih cepat apabila

dilakukan lewat pegawai KPP yang menemuinya. Wajib pajak tersebut pada akhirnya setuju untuk

menggunakan jasa pegawai KPP yang menemuinya untuk menguruskan proses pengurangan PBB

atas objek pajak yang dimilikinya.

Kasus 3

Kampret adalah pegawai seksi pengolahan data di KPP Antah Berantah. Tugas Kampret

sehari-hari adalah menginput data-data alat keterangan wajib pajak. Alat keterangan wajib pajak

adalah data-data perpajakan wajib pajak selain yang dilaporkan dalam Surat Pemberitahuan Pajak.

Data alat keterangan antara lain adalah data yang disampaikan oleh Pejabat Pembuat Akta Tanah

berkaitan dengan jual beli tanah yang dilakukan orang per orang.

Pada suatu ketika Kampret mendapatkan tugas untuk menginput data-data alat keterangan

dari Tuan Besar. Tuan Besar adalah pengusaha setengah kaya di Kota Antah Berantah yang berusaha

untuk menjadi kaya dengan cara-cara yang curang. Dalam alat keterangan yang diperoleh oleh

Kampret tersebut bahwa Tuan Besar telah melakukan penjualan tanah beserta bangunan rumah

seluas 750 m2 yang diketahui baru tahun lalu selesai dibangun. PPh dan BPHTB atas penjualan tanah

dan rumah tersebut telah ditunaikan, akan tetapi diketahui bahwa PPN atas Kegiatan Membangun

Sendiri yang dilaksanakan oleh Tuan Besar pada tahun lalu belum ditunaikan. Atas kegiatan

membangun sendiri tersebut seharusnya terutang PPN yang wajib ditunaikan oleh Tuan Besar.

Page 10: Tugas Seminar Pemberantasan Korupsi

Kampret merasa dapat memanfaatkan situasi ini untuk memeras Tuan Besar. Kampret

kemudian menghubungi Tuan Besar untuk membicarakan masalah ini. Kampret menyatakan kepada

Tuan Besar bahwa Kampret akan melakukan pengurangan nilai data alat keterangan yang akan

diinputnya asalkan Tuan Besar memberikan beberapa persen dari keuntungan pengurangan tersebut

kepada dirinya.

Sebab Ketiga Kasus

Ketiga ilustrasi kasus di atas pada dasarnya adalah kejadian-kejadian yang tidak sering terjadi

di DJP setelah modernisasi. Namun, ketiga kasus di atas adalah kasus-kasus yang sangat mungkin

terjadi mengingat sistem yang ada tidak terlalu kuat untuk mencegah. Apabila kesempatan tersebut

datang, dan kedua pihak, pegawai dan wajib pajak setuju, maka kasus tersebut akan sangat mudah

terealisasi.

Kasus pertama terjadi karena kurangnya integritas pegawai. Wajib pajak merasa lebih

menguntungkan apabila dia membayar jasa pegawai daripada menghabiskan waktunya untuk

mengisi atau menggunakan jasa konsultan. Pegawai lain baik rekan sejawat maupun atasan bisa

tidak tahu atau tahu tetapi membiarkan. Pengawasan yang kurang dari rekan serta atasan serta

penegakan disiplin yang tidak tegas merupakan faktor utama terjadinya kasus pertama.

Kasus kedua dan ketiga adalah pemerasan yang dilakukan oleh oknum pegawai. Kasus ini

lebih terjadi karena kurangnya pengetahuan Wajib Pajak atas peraturan perpajakan. Pada KPP

modern di Kota-Kota yang terawasi dengan baik, kasus ini mestinya sudah tidak terjadi lagi. Namun

pada KPP yang jauh dari jangkauan pengawasan, dan dominasi pegawai-pegawai dengan mental

lama masih sangat kental, hal ini sangat mungkin terjadi. Terdapat dua sebab utama dari terjadinya

kasus kedua, yaitu pertama, masih bercokolnya mental-mental jahiliyah pada sebagian pegawai yang

tidak segera dibersihkan dan justru menular ke pegawai yang lain. Sedangkan yang kedua, jauhnya

jangkauan pengawasan pada KPP yang bersangkutan.

Solusi untuk ketiga kasus

Pengawasan pada KPP – KPP di seluruh Indonesia harus diperbaiki. Penyebaran bagian

disiplin setiap KPP bisa jadi langkah yang sangat baik. Pengawasan ini harus juga didukung dengan

penegakan aturan yang tegas. Sistem reward and punishment di DJP juga masih harus diperbaiki.

Sistem reward harus bisa lebih secara langsung mengkorelasikan prestasi dan penghargaan.

Page 11: Tugas Seminar Pemberantasan Korupsi

Fakta menunjukkan kasus-kasus di atas lebih sering terjadi pada KPP yang jauh dari

pengawasan. Sehingga faktor utama yang mesti diperbaiki adalah perhatian dari DJP terhadap

kantor pelayanannya di seluruh wilayah Indonesia.

(Dari Ian)

KASUS 1

A adalah pejabat penandatangan SPM di KPP X. Dalam pengadaan barang-barang kantor, A memiliki

satu rekanan yang selalu dipilih karena memberikan komisi dari tiap pengadaan tersebut. Apabila

bukan rekanan tersebut yang dipilih, maka A tidak mau menandatangani dokumen SPM, sehingga

dana pengadaan tidak dapat dicairkan dari KPPN. Bendahara di KPP X juga terkena dampaknya ketika

bendahara tahu bahwa pengerjaan dokumen SPM sebetulnya tidak benar, tetapi tidak dapat

menolak karena A adalah atasan langsung bendahara tersebut.

Modus:

1. Partner merupakan usaha perorangan yang memiliki banyak NPWP.

2. Pengadaan selalu dilakukan melalui penunjukkan langsung.

Solusi:

1. Whistleblowing system.

2. Membuat jabatan bendahara menjadi fungsional.

KASUS 2

B adalah seorang pegawai di KPP X. Selain bekerja sebagai pegawai, B juga ternyata memilki usaha

sampingan membantu WP mengisi SPT Tahunan dan menerima komisi dari pekerjaan tersebut.

Modus:

Page 12: Tugas Seminar Pemberantasan Korupsi

1. Membawa pulang banyak form SPT yang disediakan pelayanan.

Solusi:

1. Whistleblowing system.

(Dari Adit)

Kasus 1

Modus : Kegiatan Membangun Sendiri (KMS)

Fiskus mengetahui adanya potensi dari PPN KMS dari KMS yang dilakukan oleh WP. Namun

bukannya membuat himbauan agar WP segera menyetorkan PPN KMS tsb ke kas negara, malah

menawarkan agar WP menyetorkan sejumlah uang kepada fiskus agar KMS ditutupi. Atau tetap

menyetor PPN KMS tapi tidak pada nilai yag seharusnya atas saran fiskus, sebagai gantinya fiskus

mendapat imbalan dari WP.

Kelemahan : Tidak adanya kontrol selain dari KPP terhadap PPN KMS atas KMS yang dilakukan

oleh WP. Walaupun Pemda memiliki unsur pengawasan dalam IMB yang dilakukan WP, namun tidak

hanya sebatas IMB saja. Tidak ada cross check dan pertukaran data KMS antara Pemda dan pihak

DJP di daerah.

Solusi : Adanya pertukaran data secara berkala mengenai KMS yang ada di suatu daerah

antara Pemda dan DJP. Data yang terkumpul akan diadministrasikan oleh Kanwil DJP yang

terintegrasi dengan portal DJP sehingga mampu dimonitor dari Kantor Pusat. Sehingga KMS yang

menjadi potensi harus segera dihimbau oleh tiap AR yang bertanggung jawab terhadap wilayah

kerjanya. Serta nilai KMS yang seharusnya terutang mampu dipastikan keakuratannya dari data yang

diperoleh Pemda.

Kasus 2

Modus : Penagihan Piutang Pajak dengan Surat Paksa oleh JSPN

WP yang mempunyai utang pajak namun tidak melunasi s.d batas waktu yang ditentukan akan

dilakukan penagihan seketika dan sekaligus dengan adanya Surat Paksa. Surat Paksa yang

disampaikan JSPN kepada WP terkadang dimanfaatkan sebagai upaya mengambil keuntungan. JSPN

akan menawarkan kepada WP untuk menitipkan senilai uang untuk melunasi utang pajaknya

tersebut. WP yang tidak mengetahui administrasi penyetoran pajak dan merasa tersudut dengan

Page 13: Tugas Seminar Pemberantasan Korupsi

ancaman denda dan hukuman biasanya akan dengan mudah tertipu modus tersebut. JSPN akan

mengambil uang dari WP untuk kepentingan pribadi tanpa menyetorkannya ke kas negara. Ataupun

modus lain untuk memperhalus operasi mereka agar dianggap ada bukti pencairan piutang pajak

adalah dengan membuat SSP palsu (kasus di KPP Surabaya ............ ).

Kelemahan : Tanpa adanya pengecekan pencairan kohir piutang pajak antara data KPP dan

Kanwil maupun Kantor Pusat secara berkala yang ditunjang dengan basis data pembayaran seperti

NTPN.

Solusi :

Kasus 3

Modus : Menitip pelaporan SPT Masa oleh WP kepada fiskus

Pada akhir2 pelaporan SPT Masa tiap bulannya sering terjadi penumpukan antrian WP yang akan

melaporkan SPT Masa nya. Karena WP khawatir telat lapor dan akan dikenasi STP, terkadang WP

berupaya agar bagaimana caranya SPT bisa terlapor dengan memperoleh tanda terima. Terkadang

ada petugas yang secara sengaja menampung berkas2 SPT Masa dari WP untuk dikumpulkan dan

berjanji pada WP akan diberikan tanda terima tertanggal hari yang sama dengan imbalan kepada

fiskus tersebut.

Kelemahan : Kurang teraturnya sistem antrian yang ada di TPT, dan kurangnya sosialisasi kepada

WP agar jangan mengantri untuk melaporkan SPT Masa pada hari2 terakhir pelaporan, apalagi untuk

SPT Masa yang sudah diketahui status NIHIL.

Solusi : Memberikan pengertian terus menerus bagi WP untuk melaporkan pada awal2

bulan bagi SPT Masa dengan status NIHIL.

Selain itu juga dengan memberikan batasan pelaporan bai tiap WP ada 9 SPT Masa. Karena logikanya

tiap WP akan membawa 3 set SPT Masa yang akan dilaporkan tiap bulannya, kecuali akan

melaporkan Pembetulan SPT Masa.

Page 14: Tugas Seminar Pemberantasan Korupsi

Selain itu, memberikan perhatian khusus pada petugas keamanan agar benar2 bertugas

sebagaimana mestinya bukannya malah makin memperkeruh suasana dengan tidak berada di

tempat atau malah bekerjasama dengan petugas yang ‘nakal’ tersebut.

Dilakukan penambahan loket antrian untuk 3 hari terakhir pelaporan SPT Masa sebagaimana Surat

Edaran Dirjen Pajak yang seringkali tidak dilaksanakan.

Reformasi Administrasi

Sejak dilakukanyan pembaruan nasional (tax reform) tahun 1983,pemerintah secara terus menerus

berupaya menyempurnakan sistem perpajakan nasional. Selain dilakukan terhadap kebijakan

perpajakan dan undang-undangnya,perbaikan juga mencakup administrasi perpajakan. Reformasi

yang terus berjalan hingga kini,tetap harus dilaksanakan dan mempertimbangkan beberapa krite-

ria,diantaranya adalah fisibilitas administrasi perpajakan.

Fisibilitas administrasi perpajakan menuntut agar sistem perpajakan yang baik mampu memi-

nimalisasi biaya administrasi (administrasion cost) dan biaya kepatuhan (compliance cost). Lebih

jauh lagi,administrasi perpajakan harus di integrasikan sebagai bagian dari kebijakan perpajakan

nasional.

Secara teknis,perbaikan administrasi perpajakan dapat dilakukan dengan cara menyederhanakan

sistem dan prosedur perpajakan guna memudahkan para wajib pajak memenuhi kewajiban

perpajakanya,serta mempermudah aparatur pajak dalam melakukan pengawasan. Berdasarkan

penelitian dapat diketahui bahwa sistem administrasi perpajakan yang baik ternyata cukup berperan

dalam meningkatkan laju penerimaan pajak dan mencegah praktek korupsi.

Dalam rangka reformasi perpajakan,DJP mencanangkan program PINTAR (Project for Indonesian Tax

Administration Reform),yang pada intinya adalah melakukan penyempurnaan dari information

technology (IT) overhaul untuk tax administration.

Sejatinya program PINTAR bertujuan untuk menerapkan pengawasan yang komprehensif sehingga

bisa memperbaiki proses bisnis,memaksimalkan efisiensi sumber daya manusia dan meningkatkan

kinerja. Program ini sudah dimulai tahun 2010 dan berakhir di tahun 2014 tapi manfaatnya belum

dirasakan secara maksimal oleh masyarakat.

Page 15: Tugas Seminar Pemberantasan Korupsi

(i) Tentunya proses-proses tersebut menuntut kesiapan dan membutuhkan jangka waktu

yang panjang. Hingga saat ini pengalaman reformasi birokrasi yang berjalan sesuai

tahapan tersebut baru dimiliki oleh Departemen Keuangan. Rezising dalam struktur

organisasi dan golden shake hand bagi pegawai yang tidak lulus kompetensi merupakan

beberapa kondisi yang terjadi di internal Departemen Keuangan. Peningkatan

renumerasi yang kemudian diterima di Departemen Keuangan diikuti dengan perbaikan

SOP dan peningkatan layanan dan juga peningkatan pengawasan. Karena seperti diakui

sendiri oleh Menteri Keuangan, berapa pun peningkatan gaji yang diterima oleh pegawai

di Departemen Keuangan tetap belum cukup untuk menghalangi perilaku yang korup

karena begitu banyaknya godaan-godaan atau pun tawaran-tawaran suap yang berpuluh

bahkan beratus kali lebih besar daripada kenaikan gaji yang diterimanya. Namun

setidaknya dengan kenaikan gaji tersebut tidak ada alasan bagi pegawai di Departemen

Keuangan untuk melakukan korupsi akibat desakan

(ii) http://www.setneg.go.id/index.php?

Itemid=219&id=2259&option=com_content&task=viewekonomi (Corruption by needs).

E. Sebab Korupsi di Direktorat Jenderal Pajak

Sila klik link berikut untuk referensi ya:

http://www.scribd.com/doc/71137253/Contoh-Kasus-Pajak

http://www.docstoc.com/docs/20335241/1-Pola-Pola-Korupsi-di-Dirjen-Pajak-Korupsi-Sistemik-

Dalam

http://adhiecn.blogspot.com/2011/02/korupsi-yang-terjadi-di-bidang-pajak.html

http://gsetiyaji.files.wordpress.com/2007/09/jurnal-ekonomi-indonusa.pdf

F. Upaya Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi di Direktorat Jenderal Pajak

Page 16: Tugas Seminar Pemberantasan Korupsi

1. Perbaikan sistem mutasi

Tidak boleh ada pegawai yang menempati pos yang sama lebih dari dua tahun,

mencegah dia membuat “jaringan”, saya ambil contoh jika dia dua tahun di bagian pelayanan di

kota yang sama,dia “bisa” akrab dan “memelihara” WP, dan bisa jadi “konsultan pajaknya” WP.

2. Pengendalian Internal yang efektif

Penerapan pakta integritas bagi seluruh pegawai, dengan mengucapkan sumpah untuk

bekerja secara profesional dan secara moral rela mengundurkan diri bila di kemudian hari

terbukti menyimpang dari ketentuan yang berlaku; memperkenalkan layanan satu atap satu

pintu (one stop services) dengan menyederhanakan prosedur layanan, mengedepankan

transparansi melalui pengumuman persyaratan, dan besarnya biaya pengurusan baik dalam

lingkup perizinan maupun yang bukan perizinan serta waktu penyelesaian yang cepat dan batas

waktu yang jelas

3. Whistle-blowing

Membuka saluran khusus (hot line atau semacam online monitoring system khusus

mafia pajak) untuk menampung informasi dari masyarakat terkait mafia pajak. Di samping itu,

KPK/ Satgas harus pro aktif mengkampanyekan komitmennya dalam memberantas mafia pajak

dengan harapan banyak whistleblower yang memberikan informasi atau minimal bisa mendidik

masyarakat untuk lebih aware. Mekanisme perlindungan dan penghargaan

kepada whistleblower yang memberikan informasi penting juga perlu dipersiapkan.

4. Reward and Punishment

Pemberian tunjangan kinerja, yakni pemberian uang tambahan yang didasarkan prestasi

kerja bagi setiap individu pegawai. Sumber dana yang dapat digunakan adalah melalui

penghapusan semua honor dan memberlakukan pemberian satu honor menyeluruh kepada

pegawai yang didasarkan pengukuran atas prestasi kerja; melakukan Analisis Jabatan dan

Evaluasi Jabatan dimana di dalamnya terdapat banyak kegiatan mulai dari penyusunan peta

jabatan, job description, spesifikasi jabatan, pengukuran beban kerja, klasifikasi jabatan,

persyaratan/kompetensi jabatan, job grading dan assesment pegawai; (ii) review

ketatalaksanaan (business process) agar tersusun Standard Operating Procedure (SOP) yang lebih

efisien dan efektif dengan mengoptimalkan teknologi informasi dan komunikasi; (iii) penilaian

Page 17: Tugas Seminar Pemberantasan Korupsi

(assesment) status dan kebutuhan SDM; (iv) penetapan Key Performance Indicator (KPI) setiap

jabatan atau unit kerja; dan (v) perumusan besaran remunerasi sesuai bobot tugas, wewenang,

dan tanggung jawab (nilai jabatan) dalam rangka penegakan reward & punishment.

5. Carrot and stickPendekatan carrot and stick adalah salah satu pendekatan yang memandang

penanganan korupsi secara hitam putih. Walaupun sangat kaku dalam implementasi,

namun sering kali efektif untuk menciptakan iklim kondusif dalam penegakkan disiplin

aparatur, khususnya dalam hal ini adalah aparatur perpajakan. Dengan pendekatan

kesejahteraan sebagaimana yang diterapkan di Singapura, maka aparatur perpajakan tidak

diberi peluang untuk mencari pembenaran atas tindak pidana korupsi yang dilakukannya.

Pendapatan bersih (net take home pay) yang layak diharapkan mampu memberikan

garansi perilaku yang positif para aparatur dan menghindari segala bentuk penyimpangan. Jika

penghasilan (carrot) sudah dipenuhi secara manusiawi, maka penegakan hukum (stick) juga

wajib dilakukan secara tegas dan konsisten.

Pendekatan stick diharapkan akan menimbulkan efek jera yang hebat pada

para pelaku korupsi. Singapura dan China telah menunjukkan praktek ini dengan tingkat

keberhasilan yang diakui. Kebijakan terkait lain yang menjadi alternatif di luar kebijakan

sektor adalah menyangkut reformasi birokrasi.

6. Pemutihan7. Pembuktian terbalik

(iii) http://www.setneg.go.id/index.php?Itemid=219&id=2259&option=com_content&task=viewekonomi (Corruption by needs).

Kesimpulan

Page 18: Tugas Seminar Pemberantasan Korupsi

Kondisi DJP : Faisal

Modus : Yudi

Kasus : Adit

Sebab : Rina

Solusi : Iryan

Moderator : Defi

Powerpoint : Adit

Compile+print : Rina

Tambahan dari Faisal

Penyebab maraknya kasus korupsi di Direktorat Jenderal Pajak didukung oleh beberapa hal, yakni adanya kesempatan yang mendorong pegawai pajak untuk menggunakan jabatan atau kewenangannya untuk memperoleh keuntungan pribadi, Undang-undang perpajakan yang tidak sepenuhnya mendukung upaya pemberantasan korupsi, tidak adanya reward and punishment, serta kurangnya pengawasan terutama di daerah luar Jawa.

Ada beberapa modus dalam kasus korupsi yang sering terjadi dalam DJP. Pertama, jual beli lahan basah oleh bagian kepegawaian. Dalam hal ini pegawai pajak membayar kepada bagian kepegawaian agar ditempatkan pada posisi jabatan yang mendatangkan uang. Biasanya dilakukan oleh pegawai yang memiliki watak serakah. Sekalipun sudah mendapatkan gaji dan tunjangan yang cukup besar, tetapi masih saja mencari uang tambahan yang tidak halal. Hal ini juga dilakukan oleh pegawai pajak yang tidak mau terlempar ke “lahan kering” ataupun ke kantor pelayanan pajak yang berada nun jauh disana. Biasanya pegawai pajak menyuap ke bagian kepegawaian agar tidak dimutasi/dipindahkan dari posisi dan tempat bekerjanya selama ini. Atau sekalipun harus dipindahkan, agar dipindahkan ke tempat yang diinginkannya.

Modus yang berikutnya adalah praktik pemerasan oleh pegawai pajak kepada wajib pajak. Hal yang lazim terjadi adalah ketika pegawai pajak meminta sejumlah “uang lelah” untuk jasa pengurusan administrasi perpajakan. Biasanya agar pengurusan administrasi perpajakan lebih cepat selesai pegawai pajak meminta sejumlah uang kepada wajib pajak. Karena wajib pajak sangat membutuhkan administrasi perpajakan yang diurusnya, maka mau tidak mau wajib pajak akan

Page 19: Tugas Seminar Pemberantasan Korupsi

memberikan uang kepada petugas pajak. Contohnya adalah ketika wajib pajak yang bergerak di bidang usaha jasa konstruksi datang ke kantor pelayanan pajak untuk meminta Surat Keterangan Fiskal. Surat ini merupakan salah satu persyaratan yang harus dipenuhi oleh kontraktor agar dapat ikut lelang tender di pemerintahan. Apabila kontraktor tidak memiliki surat keterangan fiskal yang diterbitkan oleh Direktur Jenderal Pajak maka tidak dapat mengikuti lelang tender. Karena kontraktor sangat membutuhkan Surat Keterangan Fiskal secepatnya, maka biasanya petugas pajak meminta sejumlah uang agar pengurusannya bisa dipercepat.

Modus yang lainnya adalah negosiasi antara pegawai pajak dengan Wajib Pajak yang saling menguntungkan. Modus ini biasanya dilakukan oleh Wajib Pajak yang meminta pengurangan besarnya pajak yang harus dibayarnya dengan membayar sejumlah uang kepada petugas pajak untuk memanipulasi data SPT nya. Selain itu negosiasi juga dilakukan oleh Wajib Pajak yang mengajukan keberatan, agar keberatannya diterima maka sejumlah uang dikeluarkan untuk menyuap petugas pajak. Adanya peraturan perpajakan yang menyatakan bahwa Wajib Pajak yang kalah dalam banding di pengadilan pajak juga membuat Wajib Pajak mau tidak mau harus memenangkan kasusnya. Hal itu dilakukan dengan melakukan negosiasi dengan petugas pajak, agar memenangkan kasusnya di pengadilan pajak.

Untuk mengatasi masalah tersebut di atas, Direktorat Jenderal Pajak sudah melakukan upaya reformasi birokrasi seperti remunerasi pegawai pajak dan online payment. Akan tetapi hal itu dirasa belum cukup untuk mengatasi permasalahan yang tergolong pelik ini. Selain upaya tersebut perlu dilakukan upaya-upaya lain seperti pemberian reward and punishment agar mendorong pegawai pajak untuk berprestasi dan bagi pegawai yang melakukan kesalahan harus dihukum tidak hanya dengan pasal-pasal KUHP tetapi juga dengan pasal berlapis agar memberikan efek jera. Upaya yang juga perlu dilakukan adalah perbaikan peraturan-peraturan perpajakan agar konsisten satu dengan yang lain tidak saling bertentangan dan juga tidak memberatkan bagi Wajib Pajak. Selain itu, kesadaran untuk tidak memberikan suap terhadap pegawai pajak juga perlu terus disosialisasikan. Hal ini, misalnya, dapat diwujudkan dengan penandatanganan nota kesepahaman antara Kepala Dinas, pengusaha, dan Direktorat Jenderal Pajak. Selain itu, seluruh pemangku kepentingan juga harus memperhatikan dan melakukan pengawasan terhadap praktik pungutan pajak, bukan hanya penggunaan pajak.