XII-Is.2_Doddy Purwoharyono_Tugas Sejarah-BPUPKI Dan PPKI

  • View
    471

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of XII-Is.2_Doddy Purwoharyono_Tugas Sejarah-BPUPKI Dan PPKI

BPUPKI dan PPKIOleh: Doddy Purwoharyono XII IS 2 SMAN 47 Jakarta Tahun Ajaran 2010/2011

Pembahasan BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia)/Dokuritsu Junbi Cosakai PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia)/Dokuritsu Junbi Inkai

BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia)/ Dokuritsu Junbi Cosakai

Latar belakang dan sebab Tujuan pembentukan Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) Hasil kerja dari BPUPKI

Latar belakang dan sebab Tujuan pembentukan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) Hasil kerja dari PPKI

PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) /Dokuritsu Junbi Inkai

Latar belakang dan sebab Tahun 1944, kedudukan Jepang dalam perang Pasifik semakin terdesak. Angkatan Laut Amerika Serikat dipimpin Laksamana Nimitz berhasil menduduki posisi penting di Kepulauan Mariana seperti Saipan, Tidian dan Guan yang memberi kesempatan untuk Sekutu melakukan serangan langsung ke Kepulauan Jepang

Jatuhnya pulau Saipan ke tangan pasukan Amerika Serikat merupakan ancaman langsung bagi Jepang. Maka pada tanggal 9 September 1994 Perdana Menteri Koiso memberikan janji kemerdekaan bagi rakyat Indonesia. Kekalahan Jepang dalam Perang Pasifik semakin jelas, sehingga tanggal 1 Maret 1945 Jendral Kumakici Herada mengumumkan pembentukan BPUPKI

Badan ini bertujuan untuk mempelajari dan mempersiapkan hal-hal penting mengenai masalah tata pemerintahan Indonesia Merdeka. Terdiri dari 60 orang bangsa Indonesia dan 7 orang bangsa Jepang. Diketuai oleh KRT Radjiman Widyodiningrat, R Surono sebagai wakil dan Ichibangase sebagai pengawas dari Jepang Diresmikan 29 Mei 1945

Tujuan pembentukan Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI)

Hasil kerja dari BPUPKI Rapat Pertama Antara Rapat Pertama dan Kedua Rapat Kedua

Rapat Pertama Rapat pertama diadakan di gedung Chuo Sangi In di Jalan Pejambon 6 Jakarta yang kini dikenal dengan sebutan Gedung Pancasila. Pada zaman Belanda, gedung tersebut merupakan gedung Volksraad, lembaga DPR pada jaman kolonial Belanda. Rapat dibuka pada tanggal 28 Mei 1945 dan pembahasan dimulai keesokan harinya 29 Mei 1945 dengan tema dasar negara. Pada rapat pertama ini terdapat 3 orang yang mengajukan pendapatnya tentang dasar negara.

Pada tanggal 29 Mei 1945, Mr. Muhammad Yamin dalam pidato singkatnya mengemukakan lima asas yaitu: 1. peri kebangsaan 2. peri ke Tuhanan 3. kesejahteraan rakyat 4. peri kemanusiaan 5. peri kerakyatan Pada tanggal 31 Mei 1945, Prof. Dr. Mr. Soepomo mengusulkan lima asas yaitu 1. persatuan 2. mufakat dan demokrasi 3. keadilan sosial 4. kekeluargaan 5. musyawarah

Pada tanggal 1 June 1945, Soekarno mengusulkan lima asas pula yang disebut Pancasila yaitu: a. kebangsaan Indonesia b. internasionalisme dan peri kemanusiaa c. mufakat atau demokrasi d. kesejahteraan sosial e. Ketuhanan yang Maha Esa Kelima asas dari Soekarno disebut Pancasila yang menurut beliau bilamana diperlukan dapat diperas menjadi Trisila atau Tiga Sila yaitu: a. Sosionasionalisme b. Sosiodemokrasi c. Ketuhanan yang berkebudayaan Bahkan masih menurut Soekarno, Trisila tersebut di atas bila diperas kembali disebutnya sebagai Ekasila yaitu merupakan sila gotong royong.

Antara Rapat Pertama dan Kedua Sampai akhir rapat pertama, masih belum ditemukan kesepakatan untuk perumusan dasar negara, sehingga akhirnya dibentuklah panitia kecil untuk menggodok berbagai masukan. Panitia kecil beranggotakan 9 orang dan dikenal pula sebagai Panitia Sembilan Setelah melakukan kompromi antara 4 orang dari kaum kebangsaan (nasionalis) dan 4 orang dari pihak Islam, tanggal 22 Juni 1945 Panitia Sembilan kembali bertemu dan menghasilkan rumusan dasar negara yang dikenal dengan Piagam Jakarta (Jakarta Charter)

Rapat Kedua Rapat kedua berlangsung 10-17 Juli 1945 dengan tema bahasan bentuk negara, wilayah negara, kewarganegaraan, rancangan Undang-Undang Dasar, ekonomi dan keuangan, pembelaan negara, pendidikan dan pengajaran. Dalam rapat ini dibentuk Panitia Perancang Undang-Undang Dasar beranggotakan 19 orang dengan ketua Ir. Soekarno, Panitia Pembelaan Tanah Air dengan ketua Abikoesno Tjokrosoejoso dan Panitia Ekonomi dan Keuangan diketuai Mohamad Hatta.

Latar belakang dan sebab Pada tanggal 7 Agustus 1945, BPUPKI atau Dokurtsu Junbi Cosakai dibubarkan oleh Jepang karena dianggap terlalu cepat mewujudkan kehendak Indonesia merdeka dan mereka menolak adanya keterlibatan pemimpin pendudukan Jepang dalam persiapan kemerdekaan Indonesia. Pada tanggal itu pula dibentuk PPKI atau Dokuritsu Junbi Inkai, dengan anggota berjumlah 21 orang terdiri dari 12 orang dari Jawa, 3 orang dari Sumatra, 2 orang dari Sulawesi, 1 orang dari Kalimantan, 1 orang dari Nusa Tenggara, 1 orang dari maluku, 1 orang dari Tionghoa. PPKI diketuai oleh Ir Soekarno, wakil ketuanya adalah Moh Hatta dan penasehat Ahmad Subardjo.

Tujuan pembentukan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) Tugas PPKI adalah menyusun rencana kemerdekaan Indonesia yang telah dihasilkan BPUPKI. PPKI pada dasarnya dibentuk oleh pemerintah pendudukan Jepang sebagai upaya untuk menarik simpati dari berbagai golongan. PPKI secara simbolik dilantik oleh Jendral Terouchi dengan mendatangkan Ir. Soekarno, Drs. M. Hatta dan juga Rajiman Wedyodiningrat (mantan ketua BPUPKI) ke Saigon pada tanggal 9 Agustus 1945.

Hasil kerja dari PPKI Adapun hasil kerja sidang PPKI pada tanggal 18 Agustus 1945 adalah menghasilkan 3 keputusan penting demi kelangsungan kehidupan bangsa dan negara yang baru merdeka, antara lain: a. mengesahkan UUD Negara b. memilih dan mengangkat Ir. Soekarno sebagai presiden dan Drs. M. Hatta sebagai wakil presiden RI c. membentuk Komite Nasional untuk membantu tugas presiden sebelum DPR/ MPR terbentuk.