Zine 2 Majalah Ganesha

  • View
    18

  • Download
    3

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Zine

Text of Zine 2 Majalah Ganesha

  • Lazimnya mahasiswa kampusku yang sudah memiliki himpunan, aktivitasku tak lebih dari memakmurkan himpunanku dengan permainan kartuku yang payah. Yang lebih menarik adalah aku datang saja tanpa repot-repot mencari tau asal usul hari pers. Baru setelah aku pulang dari diskusi selepas nonton aku terpikir untuk mencari tau. Dan jadilah ini. Opini singkat dan ngawurku tentang hari pers.

    Hari Pers (?)

    Yang kutau, Hari Pers selalu diikhtiarkan untuk dirayakan dengan meriah. Tidak tanggung-tanggung, Presiden langsung yang akan hadir, bukan sekretarisnya atau ajudannya. Pun juga tahun ini, perayaan Hari Pers Nasional (HPN) digelar di Lombok, NTB. Bahkan tahun ini diadakan sail of journalist dimana para jurnalis berlayar dari Makassar menuju Lombok dengan mengadakan berbagai seminar jurnalistik. Ironisnya adalah, ditengah

    majalah ganesha zine #02 | 01

    Beberapa waktu lalu, tepatnya pada Rabu 10 Februari 2016, unitku, Majalah Ganesha merayakan Hari Pers yang jatuh pada satu hari sebelumnya. Berkolaborasi dengan unit-unit media lain, kami mengadakan acara nonton bareng f ilm tentang pers berjudul ?Revolution will not be televised?. Film tersebut bercerita tentang pemberontakan di Venezuela yang berusaha menggulingkan Presiden Hugo Chavez. Menariknya, kup tersebut berhasil karena peran pers yang menguasai opini publik. Ya meski hanya bertahan sebentar. Aku bukan mau bahas f ilmnya, tapi perayaan hari pers itu sendiri. Aku, yang merupakan anggota dari unit media bahkan tidak mengetahui pada bulan apakah diantara 12 nama bulan yang berjejer rapi di kalender, hari pers diperingati. Sepertinya aku cuma anggota abal-abal yang kurang baca.

    oleh: Wisang

  • megahnya perayaan HPN, koran cetak yang merupakan bagian dari pers Indonesia tengah dilanda badai hebat revolusi digital. Tiras menurun drastis. Bahkan, koran legenda seperti Sinar Harapan pun mengumumkan tidak akan lagi menelurkan harian cetak. Ada lagi yang menurutku lebih ironis di HPN. Saat kutelisik lebih jauh mengenai sejarah ditetapkannya, ternyata 9 Februari dipil ih berdasarkan lahirnya sebuah organisasi wartawan bernama Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), yang berdiri pada 9 Februari 1946. Sebuah organisasi yang niat awal pembentukannya adalah untuk mengimbangi berita-berita kolonial yang menyudutkan. Sampai disini t idak ada masalah bagiku. Namun ternyata penetapan hari lahir PWI sebagai hari pers dilakukan pada masa orde baru, tepatnya pada tahun 1985. Pada masa itu pers telah dibekuk dan PWI telah menjadi organisasi pemerintah. Disinilah masalah muncul, seolah-olah pemerintah ingin memanfaatkan momentum penetapan hari pers ini untuk memberikan legitimasi kepada PWI sebagai organisasi wartawan yang mendukung pemerintah. Lagi, adalah bahwa PWI merupakan sebuah organsasi wartawan yang keanggotaannya harus dilamar. Tidak semua wartawan merupakan anggota PWI.

    Logikanya menurutku seperti ini, wartawan merupakan bagian dari pers, dan PWI merupakan bagian dari wartawan. Jadi agak aneh jika menjadikan momen munculnya yang sebagian itu menjadi peringatan kelahiran suatu kesatuan yang utuh. Toh peringatan Ulangtahun Ofek tidak dilakukan ketika dia menjadi Ketua Majalah Ganesha, atau peringatan ulang tahun Rey tidak dilakukan saat ia terpil ih menjadi Ketua TPBersatu. Ulangtahun mereka diperingati pada hari dimana mereka baru saja mbrojol dari perut emak masing-masing. Mengapa harus hari lahirnya

    organisasi wartawan? Mengapa bukan hari lahir Serikat Penerbit Suratkabar (SPS) yang lahir berdekatan dengan PWI yaitu pada tanggal 8 Juni 1946? Padahal tujuan pendiriannya juga untuk mengimbangi pemberitaan kolonial sehingga PWI dan SPS sering disebut kembar siam. Mengapa? Jangan tanya aku, karena aku pun tak tau.

    Seharusnya hari pers diperingati dengan mengambil momentum lahirnya pers Indonesia yang benar-benar Indonesia. Dalam artian pendirinya orang Indonesia dan mewakili suara rakyat dan perjuangan Indonesia. Singkatnya, hari pers seharusnya diperingati dengan momentum lahirnya pers nasional, bukan lahirnya organisasi wartawan yang terbatas. Lagipula penetapan hari pers pada momentum lahirnya PWI pada 1946 seolah mengangkangi sejarah pers sebelum kemerdekaan. Pada awal abad 20, menurutku sudah lahir pers nasional yang pertama, yaitu koran cetak bernama ?Medan Prijaji? yang dirintis oleh Raden Mas Tirto Adhi Soerjo. Meski t idak bertahan sampai kemerdekaan, ?Medan Prijaji? telah memunculkan gelumbang perlawanan baru dan lebih mematikan terhadap kolonialisme Belanda. Medio 1912-1945 menjadi saksi akan pentingnya peran pers nasional dalam memperjuangkan kemerdekaan. Menilik statusnya sebagai ?yang pertama? dan dampak pendirian serta suaranya dalam memperjuangkan kepentingan bangsa, mungkin tanggal penerbitan ?Medan Prijaji? yang pertamalah yang seharusnya dijadikan sebagai momentum untuk peringatan Hari Pers Nasional. Ah aku terlalu banyak membaca Pram. Aku ralat, mungkin tanggal berdirinya Majalah Ganeshalah yang seharusnya dijadikan momentum Peringatan Hari Pers Nasional.

    Eh ngomong-ngomong, kapan ya ulang tahun Majalah Ganesha?

    majalah ganesha zine #02 | 02

  • majalah ganesha zine #02 | 03

    Apasih definisi itu? Ketika kita belajar tentang suatu hal, tak jarang kita harus memulainya dengan memahami definisi hal tersebut. Apalagi dalam pembicaraan suatu ilmu, sudah pasti diawali dengan pembahasan mengenai def inisi obyek ilmu tersebut. Definisi adalah pengetahuan yang kita perlukan untuk menjelaskan pengertian kata agar tidak terjadi kesimpang siuran dalam penggunaannya. Mendefinisi adalah menyebut sekelompok karakteristik suatu kata sehingga kita dapat mengetahui pengertiannya serta dapat membedakan kata lain yang menunjuk pada obyek yang lain pula.1 Mendefinisi harus dimulai dengan mengenali karekteristik kata. Karakteristik tersebut t idak lain adalah genera (jenis) dan

    dif ferentia (pembeda). Mengapa perlu genera? Genera dibutuhkan untuk mendekatkan kita pada obyek yang akan didefinisikan. Oleh karena itu pemilihan genera harus dalam lingkup yang terkecil sehingga saat kita beri dif ferentia (pembeda) kita langsung sampai pada pengertian obyek yang akan kita definisikan. Misalnya mendefinisi ?elang? harus dimulai dengan

    Manusia itu Apa?

    burung, mendefinisi ?mawar? harus dimulai dari bunga, dan seterusnya. Salah satu hal yang dapat dijadikan dif ferentia (pembeda) adalah sifat yang melekat pada obyek yang akan didefinisikan.

    Dalam logika ada sebuah batasan yang sangat terkenal tentang manusia yakni ?binatang yang berpikir?.2 Definisi yang seperti ini sudah sah secara logika karena telah memiliki unsur genera dan dif ferentia. Sesuai dengan contoh definisi diatas genera bagi manusia adalah binatang dan dif ferentianya adalah ` yang berpikir?. Sifat yang dimiliki manusia, yaitu berpikir dipil ih sebagai dif ferentia karena tidak ada binatang lain yang berpikir. Sehingga dengan memilih binatang sebagai genera, kita langsung sampai pada pengertian manusia.

    Seharusnya.Tapi aku jadi berpikir, apa benar

    binatang lain tidak bisa berpikir? Mungkin saja mereka bisa berpikir, namun dengan cara mereka sendiri. Mungkin saja, apa yang disebut manusia sebagai insting adalah cara berpikir binatang yang tidak manusia mengerti. Jangan-jangan mereka sedang menertawai kesombongan manusia yang berpikir hanya manusia sahajalah yang dapat berpikir. Mungkin dalam setiap embikan kambing, kokokan ayam jantan saban subuh, dan eongan kucing yang sering kena tendang manusia, terselip nada ejekan akan definisi manusia yang didefinisikan oleh manusia sendiri dengan penuh kesombongan.

    Apalagi sekarang jaman sudah semakin edan. Manusia dengan sombongnya

  • majalah ganesha zine #02 | 04

    menyakiti binatang lain, bahkan makhluk lain. Tak ketinggalan bumi milik bersama pun dirusak semena-mena. Atas nama takhta, wanita, dan tentunya harta. Aku bayangkan pasti sekarang binatang bukan hanya mengejek saja, tapi sudah pada tahap menertawai manusia, yang mendefinisikan diri sebagai binatang yang berpikir namun tidak menggunakan pikirannya untuk bertindak. Kelakuan si binatang yang berpikir ini memang sudah keterlaluan, perang dimana-mana, hutan ditebangi, binatang-bintang diburu, bumi dikeruk habis, yang kuat menindas yang lemah, kejahatan dimana-mana, dan masih banyak lagi kelakuan buruk si binatang yang berpikir ini. Salah satu manusia yang menyadari kelakuan buruk golongannya adalah penyair favoritku, Mas Dwi Danto, dalam tembangnya yang berjudul ?Bebal? mencoba mengingatkan kita semua akan kelakuan buruk kita sebagai binatang berakal, salah satu bait l iriknya seperti ini :

    ?? ? .Jika bumi adalah ibu, kita manusia memperkosa ibunya

    Setiap hari, setiap jam, setiap menit, setiap detik

    Jika laut adalah ibu, kita manusia memperkosa ibunya

    Setiap hari, setiap jam, setiap menit, setiap detik

    Jika hutan adalah ibu, kita manusia memperkosa ibunya

    Setiap hari, setiap jam, setiap menit, setiap detik? ? ..?

    Mungkin binatang, tumbuhan dan bumi sedikit terhibur menyaksikan masih ada anak manusia yang sadar akan perilakunya, bahkan membikin tembang untuk menyadarkan saudara-saudaranya yang lain. Aku juga senang ada Mas Dwi Danto yang menyuarakan isi hatiku lewat petikan gitarnya. Soalnya, akhir-akhir ini aku sering berpikir, tentang aku yang seorang manusia, tentang alam, tentang binatang, tentang tumbuhan, tentang bagaimana seharusnya manusia sebagai binatang yang berpikir berperilaku. Mungkin definisi binatang yang berpikir hanya berlaku di kalangan manusia. Aku jadi geli sendiri membayangkan para binatang memprotes definisi sombong itu

    melihat kelakuan manusia yang bertindak tanpa berpikir. Hanya mengikuti nafsu belaka. Jika para binatang dapat bertemu dalam suatu kongres akbar, tentu mereka akan menyusun gerakan protes dan perlawanan terhadap manusia si binatang yang berpikir. Para binatang, dengan cara pikir