Download docx - Protap OBGYN

Transcript
Page 1: Protap OBGYN

PERSALINAN PRE TERM

Batasan: Berat badan lahir kurang dari 2500 gram, atau Bayi yang lahir pada umur kehamilan kurang dari 37 minggu.

Kriteria Diagnosis:1) Subyektif : Pasen mengeluh adanya kontraksi uterus seperti mau melahirkan

sebelum kehamilan aterm.2) Obyektif :

Adanya kontraksi uterus minimal 2 kali dalam 10 menit, pembukaan lebih atau sama dengan 2 cm dan penipisan lebih atau sama dengan 50 % dan ditemukan pembawa tanda (darah campur lendir), atau

Adanya pembukaan serviks yang bermakna yaitu : ada kemajuan pembukaan yang diperiksa oleh pemeriksa yang sama dalam selang waktu 2 jam.

Penatalaksanaan:1)Tirah baring ke satu sisi2)Monitor kontraksi uterus dan denyut jantung janin.3)Cari kemungkinan penyebab terjadinya persalinan pre term :

a. Sistitis.b. Pielonefritis.c. Bakteriuria asimptomatis.d. Inkompetensi serviks, dll

4)Tentukan umur kehamilan lebih pasti dengan :a. Anamnesisb. Pemeriksaan klinisc. Kalau perlu lakukan pemeriksaan ultrasonografi (USG)

5)Pemberian tokolitik pada prinsipnya diperlukan, tapi dengan berbagai pertimbangan a. Tokolitik tidak diberikan pada keadaan-keadaan :

Adanya infeksi intra-uterin Adanya solusio plasenta. Adanya lethal fetal malformation Adanya kematian janin dalam rahim (KJDR).

b. Keputusan pemberian tokolitik pada kasus-kasus Diabetus Militus (DM), Hipertensi dalam kehamilan, Insufisiensi plasenta dan dugaan adanya pertumbuhan janin terhambat (PJT) harus dilakukan penilaian kesejahteraan janin terlebih dahulu atau dikonsultasikan kepada Supervisor

c. Pemberian Tokolitik dengan memakai : MgS04 (Magnesium Sulfat). Ritodrine (lihat protap pemakaian Ritodrine)

d. Pemberian Glukokortikoid pada umur kehamilan kurang dari 35 minggu : Deksametason 5 mg intra muskular (im), 4 dosis setiap 6 jam yang

dapat diulang 1 minggu kemudian. Glukokortikoid tidak boleh diberikan apabila ada tanda-tanda infeksi.

Protokol Pemberian Tokolitik Pada Persalinan Pre Term1) Protokol Pemberian Magnesium Sulfat (MgSO4)

a. Dosis awal 4 gr MgSO4 10% atau 40 ml MgSO4 10% dalam larutan Dekstrose 5 dalam 0,9% normal salin, diberikan intravena pelan-pelan

IGst Agung MAP,S.Ked1

Page 2: Protap OBGYN

dalam 15 menit.b. Dosis lanjutan dipertahankan 2 gr/jam atau 40 gr MgSO4 20% dalam

1000 ml Dekalitrosa 5% atau dalam 0,9% normal salin dan diberikan 50 ml/jam.

c. Dosis MgSO4 dinaikkan I gr/jam sampai kontraksi uterus kurang dari I kali tiap 10 menit atau maksimum dosis 4 gr/jam tercapai.

d. Setelah dosis efektif untuk menghilangkan kontraksi uterus tercapai, pertahankan dosis tersebut selama 12 jam.

e. Setelah 12 jam dosis pemeliharaan dipertahankan, dosis MgSO4

diturunkan 0,5 gr/jam tiap 30 menit sampai mencapai dosis 2 gr/jam atau 50 ml/jam dan dipertahankan sampai 24 jam.

f. Selama pemberian MgSO4 refleks patela dan tanda vital diperiksa setiap I jam, serta keseimbangan cairan masuk dan cairan keluar setiap 4 jam.

g. Jika kontraksi uterus timbul kembali setelah dosis efektif diturunkan, maka dosis MgSO4 tersebut dinaikkan kembali sampai tercapai dosis dimana kontraksi uterus kurang dari I kali 10 menit atau maksimal dosis 4 gr/jam.

h. Dosis MgSO4 2 gr/jam dipertahankan selama 24 jam, kemudian 30 menit sebelum infus dilepas berikan 2 gr MgSO4 20% intramuskuler masing-masing I gr di bokong kanan dan I gr di bokong kiri, dan pemberian yang sama dilanjutkan setiap 6 jam sampai 24 jam.

i. Pemberian MgSO4 dikatakan gagal bila setelab 4 jam dari tercapainya dosis maksimum MgSO4 kontraksi uterus tetap berlangsung, refleks patela menghilang atau terjadi depresi pemafasan.

j. Selama pemberian MgSO4, batasi cairan masuk intravena 125 ml/jam dan monitor cairan masuk dan produksi urine.

2) Protokol Pemberian Ritodrine

a. Dosis inisial diberikan intravena 50 mcg atau I ampul dilarutkan dalam 500 ml dekstrose 5%, diberikan 10 tetes/menit, kemudian dinaikkan 50 mcg setiap 10 menit sampai kontraksi hilang atau maksimum dosis 350 mcg/menit dan dipertahankan selama 12 jam.

b. Setelah 12 jam dosis pemeliharaan dipertahankan, dosis diturunkan 50 mcg setiap 30 menit sampai dosis minimal 100 mcg/menit dan dipertahankan selama 24 jam.

c. Ritodrine oral diberikan 30 menit sebelum infus dihentikan, diberikan 2 tablet tiap 4 jam, maksimum 12 tablet, sampai 24 jam kemudian. Ritodrine oral dapat diberikan sampai umur kehamilan 36 minggu atau lebih untuk mempertahankan kehamilan.

d. Jika kontraksi uterus muncul kembali setelah dosis diturunkan, maka dosis dinaikkan 50 mcg/menit setiap 10 menit samapai kontraksi uterus hilang atau maksimum dosis 350 mcg/menit dan dipertahankan selama 12 jam.

e. Pemberian ritrodrine dianggap gagal apabila dalam 4 jam setelah tercapai dosis maksimum atau 350 mcg/menit kontraksi uterus tetap berlangsung.

f. Selama pemberian ritodrine harus observasi tanda vital, keluhan penderita, den jantung janin, dan keseimbangan cairan masuk dan cairan keluar.

g. Jika timbul efek samping obat, dosis diturunkan 50 mcg/menit sampai dosis minimal yang dianjurkan dan jika setelah I jam diobservasi tetap terjadi efek samping maka pemberian obat harus dihentikan.

KEHAMILAN POST TERM

IGst Agung MAP,S.Ked2

Page 3: Protap OBGYN

Batasan:Adalah kehamilan yang berlangsung melebihi 42 minggu (294 hari) atau melebihi dua minggu dari perkiraan tanggal persalinan dihitung mulai hari pertama haid terakhir (HPHT) menurut rumus Naegle.

Diagnosis:1. Diagnosis kehamilan post term ditegakkan apabila kehamilan sudah berlangsung melebihi 42 minggu (294 hari).2. Syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk dapat menegakkan diagnosa

kehamilan post term antara lain:a. HPHT jelas.b. Dirasakan gerakan janinnya pada umur kehamilan (UK)16-18 minggu.c. Terdengar denyut jantung janin (normal 10-12 minggu dengan dopler,

dan 19-20 minggu dengan fetoskop).d. Umur kehamilan yang sudah ditetapkan dengan ultrasonografi pada

umur kehamilan kurang dari atau sama dengan 20 minggu e. Test kehamilan (urin) sudah positip dalam 6 minggu pertama telat haid.

PenatalaksanaanPada dasarnya penatalaksanaan kehamilan post term adalah merencanakan pengakhiran kehamilan.

Cara mengakhiri kehamilan:Cara pengakhiran kehamilan, tergantung dari hasil pemeriksaan kesejahteraan janin dan penilaian pelvik skore (PS).1) Bila kesejahteraan janin baik (NST Baik).

a. PS lebih atau sama dengan 5, dilakukan drips oksitosin.b. PS kurang dari 5, dilakukan pemantauan serial Non Stres Test(NST) dan

USG tiap satu minggu, sampai umur kehamilan 44 minggu atau sampai PS lebih atau sama dengan 5.

2) Bila kesejahteraan janin mencurigakan :a. PS lebih atau sama dengan 5 :

Dilakukan oksitosin drip dengan pemantauan kardio tokografi (KTG).

Bila terdapat tanda-tanda insufisiensi plasenta, persalinan diakhiri dengan seksio sesaria (SC).

b. PS kurang dari 5 dilakukan pemeriksaan ulangan keesokan harinya : Bila tetap hasilnya mencurigakan, dilakukan oxytocin chalenge test

(OCT) :o Bila hasil pemeriksaan OCT (+) dilakukan SCo Bila hasil pemeriksaan OCT (-)dilakukan pemeriksaan serial

sampai 44 minggu /PS lebih dari 5o Bila hasil pemeriksaan OCT meragukan/tidak memuaskan

dilakukan pemeriksaan OCT ulangan keesokan harinya Bila hasilnya baik, dilakukan pemeriksaan serial sampai 44

minggu /PS lebih dari 53) Bila kesejahteraan janin jelek.(terdapat tanda-tanda insufisiensi plasenta dari

NST/OCT), dilakukan SC4) Kehamilan dengan preeklampsia, PJT dan diabetes melitus gestasi tidak

boleh dibiarkan sampai melebihi 40 minggu

IGst Agung MAP,S.Ked3

Page 4: Protap OBGYN

KETUBAN PECAH DINI

Batasan:Ketuban Pecah Dini (KPD) adalah pecahnya selaput ketuban secara spontan pada saat belum inpartu, bila diikuti satu jam kemudian tidak timbul tanda-tanda awal persalinan.

Gejala Klinis/Diagnosis

1) Anamnesis:a. Kapan keluarnya cairan, wama dan baub. Adakah partikel-partikel di dalam cairan (lanugo dan vernik)

2) Inspeksi : keluar cairan pervaginam3) Inspikulo : bila fundus uteri ditekan atau bagian terendah digoyangkan,

keluar cairan dari ostium uteri intemum (OUI)4) Pemeriksaan dalam :

a. Ada cairan dalam vagina.b. Selaput ketuban sudah pecah.

5) Pemeriksaan laboratorium :a. Dengan lakmus, menunjukkan reaksi basa (perubahan menjadi warna

biru).b. Mikroskopis, tampak lanugo atau vernik kaseosa (tidak selalu

dikerjakan).Catatan :Beberapa hal yang perlu diperhatikan pada KPD adalah :1) Saat ketuban pecah ditentukan berdasarkan anamnesis diketahui pasti kapan

ketuban pecah.2) Kalau anamnesis tidak dapat memastikan kapan ketuban pecah, maka saat

ketuban pecah adalah saat penderita masuk rumah sakit (MRS)3) Kalau berdasarkan anamnesis pasti bahwa ketuban sudah pecah lebih dari 12

jam, maka di kamar bersalin dilakukan observasi selama dua jam. Bila setelah dua jam tidak terdapat tanda-tanda inpartu dilakukan terminasi kehamilan.

Komplikasi

1) Infeksi intrauterin.2) Tali Pusat menumbung.3) Kelahiran prematur.4) Amniotic Band Syndrome (kelainan bawaan akibat ketuban pecah sejak

hamil muda).

PenatalaksanaanPrinsip penanganan Ketuban Pecah Dini adalah memperpanjang kehamilan sampai paru-paru janin matang atau dicurigai adanya/terdiagnosis khorio amnionitis.

A.KPD Dengan Kehamilan Aterm.

1) Diberikan antibiotika prafilaksis, Ampisilin 4 x 500 mg selama 7 hari2) Dilakukan pemeriksaan "admision test" bila hasilnya patologis dilakukan

terminasi kehamilan3) Observasi temperatur rektal setiap 3 jam, bila ada kecenderungan

meningkat lebih atau sama dengan 37,6° C, segera dilakukan terminasi4) Bila temperatur rektal tidak meningkat, dilakukan observasi selama 12

jam. Setelah 12 jam bila belum ada tanda-tanda inpartu dilakukan IGst Agung MAP,S.Ked

4

Page 5: Protap OBGYN

terminasi.5) Batasi pemeriksaan dalam, dilakukan hanya berdasarkan indikasi

obstetrik6) Bila dilakukan terminasi, lakukan evaluasi PS :

a. Bila PS lebih atau sama dengan 5, dilakukan induksi dengan oksitosin drip.

b. Bila PS kurang dari 5, dilakukan pematangan servik dengan Misoprostol 50 µgr setiap 6 jam oral maksimal 4 kali pemberian

B.KPD Dengan Kehamilan Pre Term.

1) Penanganan Di rawat di RS2) Diberikan antibiotika : Ampicillin 4 x 500 mg selama 7 hari.3) Untuk merangsang maturasi paru diberikan kortikosteroid (untuk UK

kurang dari 35 minggu) : Deksametason 5 mg setiap 6 jam.4) Observasi di kamar bersalin :

a. Tirah baring selama 24 jam, selanjutnya dirawat di ruang obstetri.b. Dilakukan observasi temperatur rektal tiap 3 jam, bila ada

kecenderungan terjadi peningkatan temperatur rektal lebih atau sama dengan 37,6° C, segera dilakukan terminasi.

5) Di ruang Obstetri :a. Temperatur rektal diperiksa setiap 6 jam.b. Dikerjakan pemeriksaan laboratorium : leukosit dan laju endap darah

(LED) setiap 3 hari.6) Tata cara perawatan konservatif :

a. Dilakukan sampai janin viableb. Selama perawatan konservatif, tidak dianjurkan melakukan

pemeriksaan dalamc. Dalam observasi selama 1 minggu, dilakukan pemeriksaan USG

untuk menilai air ketuban: Bila air ketuban cukup, kehamilan diteruskan. Bila air ketuban kurang (oligohidramnion), dipertimbangkan

untuk terminasi kehamilan.d. Pada perawatan konservatif, pasen dipulangkan pada hari ke-7

dengan saran sebagai berikut : tidak boleh koitus. tidak boleh melakukan manipulasi vagina. segera kembali ke RS bila ada ke!uar air lagi

e. Bila masih keluar air, perawatan konservatif dipertimbangkan dengan melihat pemeriksaan lab. Bila terdapat leukositosis / peningkatan LED lakukan terminasi

Terminasi Kehamilan:1) Induksi persalinan dengan drip oksitosin.2) Seksio sesaria bila prasyarat drip oksitosin tidak terpenuhi atau bila drip

oksitosin gagal.3) Bila skor pelvik jelek, dilakukan pematangan dan induksi persalinan dengan

Misoprostol 50 µgr oral tiap 6 jam, maksimal 4 kali pemberian.

PRE EKLAMPSIA RINGANIGst Agung MAP,S.Ked

5

Page 6: Protap OBGYN

Batasan:Timbulnya hipertensi yang disertai protein urine dan/atau oedem setelah umur kehamilan 20 minggu.

Gejala Klinis:1) Hipertensi.

a. Tekanan darah sama dengan atau lebih dari 140/90 mmHg dan kurang dari 160/ll0 mmHg.

b. Kenaikan tekanan darah sistolik lebih atau sama dengan 30 mmHg.c. Kenaikan tekanan darah diastolik lebih atau sama dengan 15 mmHg.2) Protein uria 0,3 gr/L dalam 24 jam atau secara kwalitatif sampai (+ +)

Penatalaksanaan

1)Rawat Jalan (Pada Umur Kehamilan Kurang Dari 37 minggu)

a. Banyak istirahat (berbaring /tidur miring).b. Diet biasa.c. Dilakukan pemeriksaan fetal assessment (USG dan NST) setiap 2

minggu.d. Pemeriksaan laboratorium : darah lengkap, homosistein, urine lengkap,

fungsi ginjal, gula darah acak.e. Kunjungan ulang setiap 1 minggu.f. Jika terdapat peningkatan protein uri dirawat sebagai preeklamsi berat

2)Rawat Tinggal :

a. Kriteria untuk rawat tinggal : Hasil fetal assessment meragukan atau jelek dilakukan terminasi Kecenderungan menuju gejala pre-eklamsia berat (timbul salah satu

atau lebih gejala pre-eklampsia berat). Bila dalam dua kali kunjungan tidak ada perbaikan (2 minggu).

b. Evaluasi/pengobatan selama rawat tinggal. Tirah baring total. Pemeriksaan Laboratorium :

Darah lengkap Homosistein Fungsi hati/ginjal Urine lengkap.

Dilakukan fetal Assessment (USG dan NST) Dilakukan pemeriksaan indeks gestosis

3)Evaluasi hasil pengobatan

Pada dasarnya evaluasi pengobatan dilakukan berdasarkan hasil dari fetal assessment. Bila didapatkan hasil :a. Jelek, dilakukan terminasi kehamilan.b. Ragu-ragu, dilakukan evaluasi ulang NST kesejahteraan janin, 1 hari

kemudian.c. Baik :

Penderita dirawat sekuran-kurangnya 4 hari. Bila preterm penderita dipulangkan. Bila aterm dengan PS baik lebih dari 5 dilakukan terminasi dengan

oksitosin dripd. Bila didapatkan keluhan subyektif seperti di bawah ini dirawat sebagai

IGst Agung MAP,S.Ked6

Page 7: Protap OBGYN

preeklamsia berat : Nyeri ulu hati. Mata berkunang-kunang Irritable Sakit Kepala.

e. Bila umur kehamilan aterm (lebih dari 37 minggu) langsung dilakukan terminasi kehamilan

PRE EKLAMPSIA BERAT

IGst Agung MAP,S.Ked7

Page 8: Protap OBGYN

Batasan:Suatu komplikasi kehamilan yang ditandai dengan timbulnya hipertensi lebih atau sama dengan 160/110 mmHg disertai protein uria pada umur kehamilan 20 minggu atau lebih.

Gejala Klinis :Bila didapatkan satu atau lebih gejala di bawah ini :1) Tekanan darah sistol lebih atau sama dengan 160 mmHg dan diastol lebih

atau sama dengan 110 mmHg. Tekanan darah ini tidak turun walaupun ibu hamil sudah dirawat dan menjalani tirah baring.

2) Protein uria lebih dari 5 gram dalam 24jam atau kualitatif +4 (++++)3) Oligouria, jumlah produksi urine kurang dari 500 cc dalam 24 jam yang

disertai kenaikan kadar kreatinin darah.4) Adanya keluhan subyektif:

a. Gangguan visus : mata berkunang-kunangb. Gangguan serebral : kepala pusingc. Nyeri epigastrium, pada kuadran kanan atas abdomen.d. Hiper refleks.

5) Adanya sindroma HELLP (Hemolysis, Elevated Liver enzyme, Low Platelet count)

6) Sianosis7) PJT

Diagnosis1) Umur kehamilan 20 minggu atau lebih.2) Didapatkan satu atau lebih gejala-gejala pre-eklampsia berat.

Diagnosis Banding

1) Hipertensi kronik dalam kehamilan.2) Kehamilan dengan sindroma nefrotik.3) Kehamilan dengan payah jantung.

PenatalaksanaanA.Perawatan Konservatif1) Bila umur kehamilan kurang dari 37 minggu tanpa adanya tanda-tanda

impending eklampsia atau keluhan subyektif dengan keadaan janin baik.2) Pengobatan dilakukan di kamar bersalin (selama 24 jam).

a. Tirah baring.b. Infus ringer laktat yang mengandung 5% dekstrose, 60-125 cc/jam.c. Pemberian MgSO4 :

Dosis awal MgSO4 20 %, 4 gr i.m.,dilanjutkan dengan MgSO4

50 % 5 gr i.m. Dosis pemeliharaan : MgSO4 50 %, 5 gr tiap 4 jam sampai 24

jam. Ingat harus selalu tersedia Calsium glukonas 10% sebagai

antidotum.d. Diberikan antihipertensi, yang digunakan adalah :

Bila sistole lebih atau sama dengan 180 mmHg atau diastole lebih atau sama dengan 110 mmHg digunakan injeksi satu ampul Clonidin yang dilarutkan dengan 10 cc larutan. Mula-mula disuntikkan 5 cc perlahan-lahan selama 5 menit, 5 menit kemudian tekanan darah diukur, bila belum ada penurunan maka diberikan lagi 5 cc i.v. dalam 5 menit sampai tekanan darah diastole normal, dilanjutkan dengan Nifedipin 3 x 10 mg

IGst Agung MAP,S.Ked8

Page 9: Protap OBGYN

Bila tekanan darah sistole kurang dari 180 mmHg dan diastole kurang dari 110 mmHg antlhipertensi yang diberikan adalah Nifedipin 3 x 10 mg.

e. Dilakukan pemeriksaan laboratorium tertentu (fungsi hati dan ginjal) dan jumlah produksi urine 24 jam

f. Konsultasi dengan bagian penyakit dalam, bagian mata, bagian jantung dan bagian lain sesuai dengan indikasi.

3) Pengobatan dan evaluasi selama rawat tinggal di ruang bersalin (selama 24 jam di ruang bersalin)a. Tirah baringb. Medikamentosa :c. Pemeriksaan Laboratorium :

Darah lengkap dan hapusan darah tepi Homosistein Fungsi ginjal dan hati Urine lengkap Produksi urine 24 jam, penimbangan BB setiap hari/indeks

gestosisd. Diet biasae. Dilakukan penilaian kesejahteraan janin (USG/NST/doppler USG)

4) Perawatan konservatif dianggap gagal bila :a. Adanya tanda-tanda impending eklampsia (keluhan subyektif)b. Kenaikan progresif dari tekanan darahc. Adanya sindroma HELLPd. Adanya kelainan fungsi ginjale. Penilaian kesejahteraan janin jelek

5) Penderita boleh pulang bila :Penderita sudah mencapai perbaikan dengan tanda-tanda pre ekiamspsia ringan, perawatan dilanjutkan sekurang-kurangnya selama 3 hari lagi.

6) Bila keadaan penderita tetap, dilakukan pematangan paru dilanjutkan dengan terminasi

B.Perawatan Aktif

1) Indikasi:a. Hasil penilaian kesejahteraan janin jelek.b. Adanya keluhan subyektifc. Adanya sindroma HELLP.d. Kehamilan aterm (lebih atau sama dengan 37 mg).e. Apabila perawatan konservatif gagal.f. Dalam 24 jam setelah pengobatan konservatif di kamar bersalin

tekanan darah tetap lebih atau sama dengan 160/110 mmHg.2) Pengobatan medisinal:

a. Segera rawat inap.b. Tirah baring miring ke satu sisi.c. Infus ringer laktat yang mengandung Dekstrose 5% dengan 60-125

cc/jam.d. Pemberian anti kejang MgS04

e. Pemberian Anti Hipertensi berupa Clonidin intra vena (iv). dilanjutkan dengan Nifedipin 3 x 10 mg atau Metildopa 3 x 250 mg, dapat dipertimbangkan bila :

IGst Agung MAP,S.Ked9

Page 10: Protap OBGYN

Sistol lebih atau sama dengan 180 mmHg. Diastol lebih atau sama dengan 110 mmHg.

3) Pengobatan Obstetrik.a. Sedapat mungkin sebelum perawatan aktif, pada setiap penderita

dilakukan pemeriksaan kesejahteraan janin.b. Tindakan seksio sesaria dikerjakan bila :

Hasil kesejahteraan janin jelek. Penderita belum inpartu dengan PS jelek (kurang dari 5). Kegagalan drip oksitosin.

c. Induksi dengan drip oksitosin dikerjakan bila NST baik & PS baik.d. Pada PE Berat persalinan harus terjadi dalam 24 jam

IGst Agung MAP,S.Ked10

Page 11: Protap OBGYN

EKLAMPSIA

Batasan:Eklampsia adalah kelainan akut pada ibu hamil, saat hamil tua, persalinan atau masa nifas ditandai dengan timbulnya kejang atau koma, di mana sebelumnya sudah menunjukkan gejala-gejala pre-eklamsia (Hipertensi, edema, proteinuria).

Patogonesis:Sama dengan pre-eklampsia, dengan akibat yang lebih serius pada organ-organ hati, ginjal, otak, paru Jantung, yakni terjadinya nekrosis dan perdarahan pada organ-organ tersebut.

Gejala Klinis:1) UKlebih dari20minggu.2) Tanda-tanda pre-eklamsia (hipertensi, proteinuria).3) Kejang-kejang dan atau koma, saat persalinan atau sampai 10 hari saat nifas4) Kadang-kadang disertai dengan gangguan fungsi organ

Pemeriksaan dan Diagnosis:1) Pemeriksaan laboratorium.

a. Protein dalam air seni.b. Fungsi organ hepar, ginjal, jantung.c. Hemostasis.

2) Konsultasi dengan disiplin lain kalau dipandang perlu.a. Kardiologib. Neurologic. Anestesiologid. Neonatologi

Diagnosis Banding:Kehamilan disertai kejang oleh karena sebab-sebab yang lain misalnya :1) Febril convulsion (panas +).2) Epilepsi (anamnesa epilepsi +).3) Tetanus (kejang tonik/kaku kuduk).4) Meningitis/ensefalitis (pungsi lumbal).

Penatalaksanaan:Prinsip pengobatan:1) Menghentikan kejang-kejang yang terjadi dan mencegah kejang-kejang

ulangan.2) Mencegah dan mengatasi komplikasi.3) Memperbaiki keadaan umum ibu maupun anak seoptimal mungkin.4) Pengakhiran kehamilan/persalinan mempertimbangkan keadaan ibu.

A.Obat-obat untuk anti kejang

1) MgSO4, protokol sama dengan pemberian MgSO4 pada Pre Eklampsia

berat, diteruskan sampai 24 jam pasca persalinan atau 6 jam bebas

kejang.

2) Syarat :a. Refleks patela harus positipb. Tidak ada tanda-tanda depresi pernapasan (respirasi lebih dari 16

kali/menit)c. Produksi urine tidak kurang dari 25 cc/jam atau 150 cc/6jam

3) Apabila ada kejang-kejang lagi, diberikan sekali saja MgS04, dan bila IGst Agung MAP,S.Ked

11

Page 12: Protap OBGYN

masih timbul kejang lagi maka diberikan Pentotal 5 mg/Kg berat badan/i.v. pelan-pelan.

4) Bila ada tanda-tanda keracunan, MgSO4 diberikan antidotum Kalsium Glukonas 10%, 10 cc i.v. pelan-pelan selama 3 menit atau lebih.

5) Apabila diluar sudah diberikan pengobatan diazepam, maka dilanjutkan pengobatan dengan MgSO4.

B.Mencegah Komplikasi :

1) Obat-obat anti hipertensi, bila sistole lebih atau sama dengan 180 mmHg atau diastole lebih atau sama dengan 110 mmHg digunakan injeksi 1 amp. Klonidin (lihat pre-eklamsia berat).

2) Diuretika, hanya diberikan atas indikasi :a. Edema paru-parub. Kelainan fungsi ginjal (bila faktor pre-renal sudah teratasi) diberikan

Furosemid inj. 40 mg/im.3) Kardiotonika, diberikan atas indikasi :

a. Adanya tanda-tanda payah jantungb. Edema paru : diberikan digitalisasi cepat dengan cedilanid

4) Antibiotika, diberikan Ampisilin 3 kali I gr iv.5) Antipiretika, diberikan Xylomidon 2 cc/im dan atau kompres alkohol.

C.Memperbaiki keadaan umum ibu

1) Infus RL/Dextrose 5 %2) Pasang CVP untuk pemantauan keseimbangan cairan3) Pemberian kalori (Dektrose 10%)4) Koreksi keseimbangan asam basa (pada keadaan asidosis maka diberikan

Na. Bic/Meylon 50 meq/i.v).

D.Perawatan Penderita dengan Koma:

1) Monitoring kesadaran dan dalamnya koma memakai Glasgow - Pittsburg - Coma Scale

2) Pada perawatan koma, perlu diperhatikan pencegahan dekubitus dan makanan penderita.

3) Pada koma yang lama, bila nutrisi tidak mungkin; cukup diberikan dalam bentuk Naso Gastric Tube (NGT).

E.Pengobatan Obstetrik:

Sikap terhadap kehamilan:1) Sikap dasar adalah semua kehamilan dengan eklamsia harus diakhiri

tanpa memandang umur kehamilan dan keadaan janin.2) Bilamana diakhiri:

Sikap dasar adalah kehamilan diakhiri bila sudah terjadi stabilisasi (pemulihan). Stabilisasi hemodinamik dan metabolisme ibu dicapai dalam 4-8 jam setelah salah satu atau lebih keadaan di bawah ini :a. Setelah pemberian obat anti kejang terakhir.b. Setelah kejang terakhirc. Setelah pemberian obat-obat anti hipertensi terakhir.d. Penderita mulai sadar (responsif dan orientasi).

3) Cara terminasi kehamilan :a. Induksi persalinan bila hasil KTG Normalb. Drip Oksitosin; dengan syarat PS sama dengan atau lebih dari 5

IGst Agung MAP,S.Ked12

Page 13: Protap OBGYN

c. Seksio Sesaria bila :Syarat drip oksitosin tidak dipenuhi atau adanya kontraindikasi drip

oksitosinPersalinan belum terjadi dalam waktu 12 jamBila hasil KTG patologis

4) Perawatan pasca persalinan :a. Bila persalinan terjadi pervaginam, monitoring tanda-tanda vital

dilakukan sebagaimana lazimnyab. Pemeriksaan laboratorium dikerjakan setelah 24 jam persalinan

Prognosis :Prognosis eklampsia ditentukan oleh Kriteria Eden (tahun 1922)1) Koma yang lama,2) Nadi diatas 120 per menit,3) Suhu diatas 103° F,4) Desakan darah sistolik diatas 200 mmHg,5) Kejang lebih dari 10 kali,6) Proteinuria lebih 10 gr/liter, dan7) Tidak ada edema.Bila didapatkan dua atau lebih dari gejala tersebut, maka prognosis ibu adalah buruk.

IGst Agung MAP,S.Ked13

Page 14: Protap OBGYN

DM GESTASI (DMG)

Batasan Adanya intoleransi karbohidrat, baik ringan (Toleransi Glukosa Terganggu = TGT), maupun berat (Diabetes Mellitus) yang terjadi atau diketahui pertama kali pada saat kehamilan berlangsung.Tidak memandang apakah pasen dikelola dengan insulin/perencanaan makan saja, diabetes mellitus tersebut menetap setelah persalinan atau pasen yang sudah mengidap diabetes mellitus sebelum hamil.Cara Penapisan:

a. Sasaran penapisan adalah semua ibu hamil baik yang berisiko/tidak berisiko.

b. Faktor risiko DMG : Riwayat Kebidanan:

Beberapa kali keguguran Riwayat pemah melahirkan anak mati tanpa sebab yang jelas Riwayat pemah melahirkan bayi dengan cacat bawaan Pernah pre-eklamsia Polihidramnion

Riwayat Ibu: Umur ibu hamil lebih dari 30 tahun Riwayat DM dalam keluarga Pemah DMG pada kehamilan sebelumnya Infeksi saluran kemih berulang-ulang sebelum hamil

c. Waktu penapisan Untuk ibu hamil yang berisiko penapisan dilakukan pada umur

kehamilan kurang dari 24 minggu (pertemuan pertama dengan ibu hamil).

Bila hasilnya negatip, pemeriksaan diulang pada umur kehamilan 24-26 mg.

Untuk ibu hamil yang tidak berisiko penapisan dilakukan pada umur kehamilan 24-26 minggu.

d. Cara Penapisan Pemeriksaan gula darah sewaktu atau dengan tes toleransi glukosa

3) Persiapan Penapisan:Pasien harus makan yang mengandung cukup karbohidrat minimal 3 hari sebelumnya kemudian puasa 8-12 jam, baru dilakukan pemeriksaan gula darah, puasa pada pagi hari setelah itu diberikan beban glukosa 75 gram dalam 200 ml air, dua jam setelah itu diambil contoh darah vena untuk dipastikan pemeriksaan gula darah 2 jam.

IGst Agung MAP,S.Ked14

Page 15: Protap OBGYN

WANITA HAMIL

Makanan cukup karbohidrat + 3 hari Puasa 8-12 jam

Gula darah puasa

Glukosa 75 gram

Glukosa – Plasma Vena dua jam

Kriteria Diagnosis Menurut WHOGlukosa Plasma Vena (mg/dl)

Puasa 2 jamNormalDiabetes MellitusTGT

< 100> 140

100-139

< 140> 200

140-199 Catatan : TGT tetap dikelola sebagai DMG.

IGst Agung MAP,S.Ked15

Page 16: Protap OBGYN

KEHAMILAN DAN PENYAKIT JANTUNG

Batasan :

Kehamilan yang disertai dengan gangguan fungsi jantung (Pregnancy complicated by impaired heart funation)

Pengaruh Penyakit Jantung Terhadap KehamilanPrinsip : Jantung tidak mampu memberikan nutrisi dan oksigenasi pada janin yang sedang tumbuh.1) Akibatnya untuk bayi

a. Abortusb. Prematuritasc. PJTd. Cacat bawaane. Asfiksia janin intrauterinef. Tumbuh kembang janin akan terhambat setelah lahir

2) Untuk ibu

Terjadi payah jantung (Decompensatio Cordis = DC) kematian meningkat

Pembagian Klinik Penyakit Jantung Pada Kehamilan

Klas DeskripsiKlas I Tidak ada keluhanKlas II Bekerja berat-sedang, mengakibatkan sesak, dyspnoe

d'effortKlas III Kerja ringan, mengakibatkan sesakKlas IV Sesak terus menerus

Kira-kira 90 % dari kehamilan dengan penyakit jantung termasuk klas I dan II hanya 10 % yang berada dalam klas III dan IV (angka kematian ibu 80 %)

Saat-saat Kritis1) Hiperemesis Gravidarum :

Mual, muntah dan intake menurun, terjadi hemokonsentrasi, sedangkan metabolisme dan konsurnsi 02 menmgkat, paru-paru sulit mengembang, menyebabkan beban jantung menmgkat.

2) Umur Kehamilan 32-34 minggu :

Terjadi puncak hidremia (25-50%), mengakibatkan beban jantung menmgkat.

3) Partus Kala II

Venus return meningkat, shunt berhenti, mengakibatkan beban jantung tiba-tiba menmgkat.

4) Puerperium :

a. Dini (3-5hari) :Shunt yang berhenti, mengakibatkan volume darah yang kembali ke jantung mendadak meningkat.

b. Lanjut :Bahaya infeksi puerperalis, endometritis, infeksi organ lain, berlanjut menyebar secara hematogen, mengakibatkan sub akut bakterial endokarditis (SBE).

IGst Agung MAP,S.Ked16

Page 17: Protap OBGYN

PenatalaksanaanA. Waktu ANC

1) Kehamilan boleh diteruskan bila penyakit jantung fungsional klas I & II. Bila klas III & IV dipertimbangkan abortus provocatus medicinalis

2) Perawatan bersama kardiologi3) Pencegahan terhadap :

a. Anemia defisiensi besib. Infeksic. Toksemia gravidarumd. Obesitase. Pekerjaan fisik, cemas, aritmia

B. Waktu Inpartu

1) Kala I : a. Induksi persalinan atas indikasi obstetrik (bukan karena DC)b. Berikan digitalisasi cepat, bila ada tanda-tanda akut DC seperti

Nadi lebih dari110 kali permenit Sesak, respirasi lebih dari 28-30 kali permenit Ronki basal paru-paru Suara jantung (S 1 ) mengeras Gallop rhythm Paroksismal atrial tachycardia

2) Kala II :a. Dipercepat dengan forsep ekstraksib. Seksio sesaria dikerjakan atas indikasi obstetric. Hindari trauma berlebihan dan infeksid. Didampingi seorang kardiolog

3) Kala III :Cegah akut refluk darah ke jantung dengan cara Fowler (gravitasi) dan pemasangan torniquet pada kedua tungkai.

C. Waktu Puerperium

1) Bed rest, dirawat 5-10 hari mengingat bahaya DC akut dan SBE2) Kalau perlu berikan sedatif3) Cegah konstipasi4) Laktasi dibatasi untuk DC klas III dan IV oleh karena :

a. Menyusui, komplikasi berupa lecet pada niple, terkena infeksi, berlanjut inenjadi mastitis, mengakibatkan SBE

b. Menyusui, mengakibatkan keseimbangan cairan berubah, menimbulkan dehidrasi (pada DC, cairan harus seimbang)

D. Keluarga Berencana

1) Bila jumlah anak sudah cukup dianjurkan kontap (MOW/MOP)2) Bila menolak kontap, dianjurkan memakai IUD3) Sebaiknya anak tidak lebih dari dua.

IGst Agung MAP,S.Ked17

Page 18: Protap OBGYN

PLASENTA PREVIA

Batasan:Suatu keadaan dimana insersi plasenta di segmen bawah uterus (SBR) sehingga menutupi sebagian atau seluruh ostium uteri internum pada kehamilan 28 minggu atau lebih.

Pembagian (Berdasarkan derajat penutupan OUI)1) Plasenta previa totalis.2) Plasenta previa partialis.3) Plasenta previa marginalis.4) Plasenta letak rendah.

Gejala Klinis:1) Kehamilan 28 minggu atau lebih dengan perdarahan pervaginam yang

sifatnya tidak nyeri, darah segar2) Keadaan umum sesuai dengan banyaknya perdarahan terjadi3) Sering disertai dengan kelainan letak janin4) Bagian terendah masih tinggi/tidak masuk pintu atas panggul (PAP)

Diagnosis:1) Anamnesis :

Hamil 28 minggu atau lebih dengan perdarahan pervaginam tanpa nyeri, berulang, merah segar, berulang.

2) Gejala Klinis (lihat gejala klinis).3) Menentukan letak plasenta.

a. USG, dilakukan dalam keadaan kantung kencing terisi secukupnyab. Menentukan asal perdarahan untuk menyingkirkan kemungkinan yang

bukan plasenta previa (inspikulo). Dilakukan bila perdarahan sudah berhenti.

c. Periksa Dalam d. Double Set Up (DSU/Examination in theatre) yaitu pemeriksaan dalam

dikamar operasi dengan persiapan seksio sesaria.

PenatalaksanaanSemua penderita yang datang dengan perdarahan antepartum tidak boleh dilakukan VT di VK kecuali kemungkinan plasenta previa sudah disingkirkan dan diagnosis solusio plasenta sudah ditegakkan.

A. Penanganan Aktif

1) Tujuannya adalah segera melahirkan anak (terminasi)2) Indikasi :

a. Jika perdarahan merembes dan diagnose sudah ditegakkan Plasenta Previa langsung seksio sesaria tanpa DSU, dengan memperhatikan keadaan umum ibu, perbaikan keadaan umum dilakukan dalam waktu relatif cepat. Lakukan konsultasi dengan anastesi selama menunggu persiapan operasi sampai memungkinkan untuk dilakukan operasi,

b. Gawat janin, perdarahan aktif dan banyak dengan evaluasi bertahap (perdarahan profuse lebih dari 500 cc dalam 30 menit)

3) Double Set Up (DSU)a. Batasan

Examination in theater Merupakan cara pemeriksaan yang akurat tentang hubungan

antara plasenta dengan OUIIGst Agung MAP,S.Ked

18

Page 19: Protap OBGYN

b. Indikasi

Dilakukan hanya bila kehamilan akan diakhiri Kehamilan aterm Kehamilan preterm dimana perawatan konservatif diputuskan

gagal, yaitu : perdarahan masih merembes keluar dari vagina, perdarahan bercak, akan tetapi menyebabkan penurunan

HB lebih dari 2gr% dengan pemeriksaan serial 3 kali tiap 6 jam.

Diagnosis plasenta previa dari USG meragukan (inkonklusif) Adanya perdarahan pervaginam yang tidak aktif pada saat inpartu

dengan kecurigaan plasenta letak rendah / plasenta marginalisc. Persiapan

Persiapan darah Tim kamar operasi sudah siap operasi (operator, asisten dan

instrumen menggunakan gaun operasi)d. Prosedur dan tata laksana

Pasien dikerjakan di meja operasi dengan posisi litotoni Kandung kencing dikosongkan Masukkan 2 jari kedalam vagina, raba setiap bagian dari fornik,

apakah teraba ada plasenta antara jari dengan bagian terbawah janin (bantalan)

Bila tidak teraba bantalan, maka jari dimasukkan ke cervical os dan raba sekitarnya hingga teraba ujung plasenta

Bila tidak ada teraba plasenta, diagnosis plasenta previa dapat disingkirkan

Bila ujung plasenta teraba, tetapi tidak meluas sampai di servical os, dan tidak ada perdarahan pecahkan ketuban, dan tunggu partus pervaginam (sesuai penatalaksanaan plasenta previa parsialis)

Bila teraba plasenta, hentikan pemeriksaan dan lakukan SCa. Interpretasi hasil temuan saat DSU :

Bila plasenta previa totalis, dilakukan seksio sesaria Bila plasenta previa parsialis, dilakukan amniotomi. Pada

keadaan ini seksio dilakukan bila: Setelah 12jam tak terjadi persalinan Terjadi perdarahan lagi Terjadi gawatjanin Terjadi febris (infeksi intra uterin)

Bila tak teraba plasenta, dilakukan inspikulo untuk melihat asal perdarahan, bila perdarahan berasal dari OUI tetap dilakukan amniotomi, selanjutnya sama dengan penatalaksanaan plasenta previa parsialis

B. Perawatan Konservatif

1) Dilakukan pada bayi prematur (EFW kurang dari 2500 gr dan atau umur kehamilan kurang dari 37 minggu) dengan syarat bayi hidup dengan perdarahn sedikit/berhenti

2) Cara perawatan konservatifa. Observasi di kamar bersalin IRD selama 24 jam

IGst Agung MAP,S.Ked19

Page 20: Protap OBGYN

b. Keadaan umum ibu diperbaiki, berikan transfusi sampai HB lebih dari 10 gr%

c. Berikan kortikosteroid untuk maturitas paru janin (menjaga kemungkinan perawatan konservatif gagal), dengan deksametasone 5 mg, 4 kali tiap 6 jam.

d. Bila perdarahan berhenti penderita dipindahkan ke ruangan setelah sebelumnya dilakukan USG di IRD

e. Observasi Hb setiap hari, tensi, nadi denyut jantung janin, perdarahan setiap 6 jam.

f. Perawatan .konservatif gagal bila terjadi perdarahan berulang (penanganan aktif).

g. Penderita dipulangkan bila tidak terjadi perdarahan ulang setelah dilakukan mobilisasi.

h. Nasehat waktu pulang : Istirahat. Dilarang koitus/manipulasi vagina. MRS bila terjadi perdarahan lagi. Periksa ulang (ANC) I minggu kemudian.

C. Berdasarkan hasil pemeriksaan USG persalinan direncanakan sebagai berikut :

1) Bila plasenta menutupi OUI, tunggu sampai kehamilan aterm kemudian USG ulang (dipertimbangkan) bila hasil tetap, persalinan direncanakan secara seksio sesaria.

2) Bila plasenta letaknya normal, ditunggu inpartu, persalinan diharapkan normal.

LETAK SUNGSANG

IGst Agung MAP,S.Ked20

Page 21: Protap OBGYN

Batasan:Disebut letak sungsang apabila janin membujur dalam uterus dengan bokong/kaki pada bagian bawah.Tergantung dari bagian mana yang terendah, dapat dibedakan menjadi :1) Presentasi bokong mumi2) Presentasi bokong kaki3) Presentasi kaki

Diagnosis:1) Pemeriksaan Fisik

a. Palpasi Leopold I : Kepala/ballotement di fundus. Leopold II : Teraba punggung disatu sisi dan bagian kecil disisi

lain. Leopold III-IV : Bokong teraba di bagian bawah uterus.

b. Pemeriksaan dalam.2) Pemeriksaan Penunjang:

a. Ultrasonografi, diperlukan untuk : Konfirmasi letak janin, bila pemeriksaan fisik tidak jelas. Menentukan letak plasenta. Menentukan kemungkinan cacat bawaan.

b. Foto Rontgen (bila perlu), untuk : Menentukan posisi tungkai bawah. Konfirmasi letak janin serta fleksi kepala. Menentukan kemungkinan adanya kelainan bawaan anak.

Penanggulangan Letak Sungsang

A. Waktu Hamil (Antenatal)

1) Pada umur kehamilan 28-30 minggu, mencari kausa.a. USG:

Plasenta previa. Kelainan kongenital. Kehamilan ganda. Kelainan uterus.

b. Ukuran dan evaluasi panggul. Bila tidak ditemukan kelainan, dilakukan perawatan konservatif, dan rencana persalinan lebih agresif.

2) Bila hasil pemeriksaan USG tidak menemukan kelainan, maka dilakukan a. Knee chest position.b. Versi luar (bila tidak ada kontra indikasi), dilakukan pada umur

kehamilan lebih atau sama dengan 37 minggu3) Bila versi luar berhasil, kontrol 1 minggu lagi, dan dikelola sebagai

presentasi kepala.4) Bila versi luar gagal, kontrol kembali 1 minggu, dicoba versi luar sekali

lagi.

B. Waktu Persalinan

1) Pada kasus dimana versi luar gagal/janin tetap letak sumgsang, maka penatalaksanaan persalinan lebih waspada.

2) Persalinan pervaginam diberi kesempatan asal tidak ada hambatan pada pembukaan. Urutan cara persalinan :

IGst Agung MAP,S.Ked21

Page 22: Protap OBGYN

a. Usahakan spontan Bracht.b. Manual aid/Lovset-Mauriceau.c. Total ekstraksi (harus dipertimbangkan terlebih dahulu).

3) Persalinan diakhiri dengan seksio sesaria bila :a. Persalinan pervaginam diperkirakan sukar dan berbahaya

(disproporsi feto pelvik atau Skor Zachtuchni Andros kurang dari 3).

Skor Zachtuchni Andros :

ParameterNilai

0 1 2ParitasPernah letak sungsangPBBUsia kehamilanStationPembukaan serviks

PrimiTidak> 3650

gr> 39 mg

< -32 cm

Multi1kali

3629-317638 mgg

-23 cm

2kali> 3176< 37 mgg

-1 atau >4 cm

Syarat : ZA hanya berlaku untuk kehamilan aterm atau pbb > 2500

gram Skor kurang dari 3 : persalinan perabdominal Skor 4 : perlu evaluasi lebih cermat Skor 5 atau lebih : persalinan pervaginam

b. Tali pusat menumbung pada primi/multigravida.c. Didapatkan distosiad. Umur kehamilan:

Prematur (EFBW kurang dari 2.000 gr) Post date (umur kehamilan lebih dari: 42 minggu)

e. Nilai anak (hanya sebagai pertimbangan). Riwayat persalinan yang lalu : BOH. HSVB.

f. Komplikasi kehamilan dan persalinan : Hipertensi dalam kehamilan. Ketuban Pecah Dini.

PARTUS KASEP

IGst Agung MAP,S.Ked22

Page 23: Protap OBGYN

Batasan:Partus kasep adalah suatu keadaan dimana persalinan mengalami kemacetan dan berlangsung lama sehingga menimbulkan komplikasi baik pada ibu ataupun anaknya.

Gcjala Klinis:1) Komplikasi pada Anak.

a. Kaput suksedanium besar.b. Fetal Distress.c. Kematian Janin.

2) Komplikasi pada Ibu

a. Vagina/Vulva edema.b. Porsio edema.c. Ruptura Uteri.d. Febris.e. Ketuban hijau.f. Dehidrasi.

3) Tanda-tanda infeksi intrauterin:

Kriteria Gibbs: temperatur rektal lebih dari 37,8°C disertai dengan 2 atau lebih tanda-tanda berikut :a. Maternal tachycardia (lebih dari 100 kali permenit).b. Fetal tachycardia (lebih dari 160 kali permenit).c. Uterine Tendernessd. Foul Odour of Amniotic Fluide. Maternal leucocytosis (lebih dari 15.000 cel / mm3)

4) Tanda-tanda ruptura uteri :

a. Perdarahan melalui OUE.b. His hilang.c. Bagian anak mudah teraba dari luar.d. VT : Bagian terendah janin mudah didorong ke stas.e. Robekan dapat meluas ke servik dan vagina.

5) Tanda-tanda gawat Janin :

a. Air ketuban bercampur mekonium.b. Denyut jantung janin bradikardia/takikardia/ireguler.c. Gerak anak berkurang.

Diagnosis :Diagnosis ditegakkan berdasarkan ditemukannya partus lama yaitu terdapat perpanjangan dari fase-fase persalinan ditambah dengan gerak akibat dari partus lama yaitu :1) Kelelahan ibu dan dehidrasi.2) Kaput suksedonium / Vulva edema.3) Infeksi intra uterin.4) Ruptura uteri.5) Gawat janin.

Penatalaksanaan:1) Perbaikan keadaan umum ibu.

a. Pasang infus & kateter urine.b. Beri cairan kalori dan elektrolit.

Normal salin, 500 cc. Dekalitrose 5-10%, 500 cc

IGst Agung MAP,S.Ked23

Page 24: Protap OBGYN

c. Koreksi asam basa dengan pemeriksaan gas darah.d. Pemberian antibiotika berspektrum luas :

Ampicillin 3 kali I gr/hari i.v. dilanjutkan 4 kali 500 mg po selama 3 hari.

Metronidazole 3 x 1 gr supositoria selama 5-7 hari.e. Pemberian obat penurun panas :

Xylomidon 2 cc im.2) Terminasi kehamilan:

Pengakhiran kehamilan tergantung syarat dan kontra indikasi saat itu.

KEHAMILAN / PERSALINAN DENGANJARINGAN PARUT UTERUS

IGst Agung MAP,S.Ked24

Page 25: Protap OBGYN

Batasan :Kehamilan yang disertai riwayat seksio sesaria sekali/lebih atau pasca miomektomi/kornuektomi pada kehamilan sebelumnya.

Hal-hal yang perlu dijawab :1) Apa indikasi SC sebelumnya ?2) Berapa kali SC sebelumnya ?3) Jenis sayatannya bagaimana ?4) Apakah ada komplikasi pada SC sebelumnya ?5) Apakah pemah melahirkan pervaginam sebelumnya ?

Alur Penanganan Kehamilan / Persalinan Dengan Jaringan Parut Uterus:

IGst Agung MAP,S.Ked25

Page 26: Protap OBGYN

Indikasi Jumlah Jenis Komplikasi

Bekas SC

Jenis sayatan

Klasik / korpore > 2 kali seksio

SC TP

38 minggu

Menetap/Berulang Indikasi Operasi

Ada penyulit seperti : letsu, KPD ,plasenta previa

Tak berulang

Penyulit Kehamilan (+)

Kehamilan 42 minggu Tunggu spontan

Kehamilan aterm Inpartu

Distosia/gawat janinNilai kemajuan

Persalinan

Baik

SC / SterilPervaginam (dengan Kala II dipercepat)

KEMATIAN JANIN DALAM RAHIM (KJDR)

IGst Agung MAP,S.Ked26

Page 27: Protap OBGYN

Batasan :Kematian janin dalam rahim adalah kematian janin dalam uterus yang beratnya, 500 gr atau lebih, usia kehamilan telah mencapai 20 minggu atau lebih.

Yang perlu diperhatikan :1) Kejadian KJDR mengambil porsi hampir 50% dari jumlah kematian

perinatal2) Kejadian ini merupakan trauma berat bagi penderita dan keluarga serta

menunjukkan kegagalan satu aspek pelayanan obstetri ; simpati, empati serta perhatian terhadap guncangan emosional penderita dan keluarganya harus diberikan perlakuan tersendiri. Yakinkan bahwa besar kemungkinan dapat lahir pervaginam.

3) KJDR ini bisa terjadi saat hamil (prematur atau aterm), saat inpartu (partus lama/partus kasep, belitan tali pusat dll) dengan sebab yang bisa jelas dan bisa juga tidak diketahui sebabnya.

4) Kecuali terjadi saat inpartu maka penundaan evakuasi diperlukan untuk mempersiapkan fisik dan mental penderita dan keluarganya serta persiapan untuk terminasi (sebaiknya jangan lebih dari 2 minggu setelah kematian janin).

5) Jika persalinan tidak terjadi segera setelah kematian janin, terutama pada kehamilan lanjut, koagulopati maternal dapat terjadi, bila kematian janin berlangsung lebih dari 2 minggu, walaupun koagulopati ini jarang terjadi sebelum empat sampai enam minggu setelah KJDR.

KJDR saat Inpartu.1) Penyebabnya bisa karena partus lama atau partus kasep, belitan tali pusat,

insufisiensi plasenta, solusio plasenta, letak sungsang dengan after coming head (badan lahir, kepala nyangkut), kelainan kongenital dll.

2) Pada partus lama dan kasep, maka pasien biasanya dalam keadaan kelelahan, dehidrasi dan kemungkinan infeksi.

3) Sambil melakukan simpati, empati serta konseling, persiapan untuk memperbaiki keadaan umum ibu misalnya : pemberian cairan infus, anti biotika dan persiapan donor darah kalau perlu dll.

4) Prinsip melahirkan anak dengan sesedikit mungkin trauma pada ibu5) Kalau bisa lahirkan anak dengan utuh6) Kalau KJDR pada kala I dapat dilakukan drip oksitosin dan menunggu lahir

spontan biasa.7) Kilau tidak bisa spontan lakukan embriotomi .dengan cara : perforasi dan

kranioklasi, dekapitasi, eviserasi, bisection.8) Setelah kelahiran anak dicari penyebab kematiannya dan dilakukan evaluasi

untuk kepentingan kehamilan berikutnya.

Diagnosis:1) Klinis :

Bayi tak bergerak, Perut mengecil, Berat badan ibu menurun, Ada krepitasi, Kalau keluar air ketuban akan berwama coklat kemerahan kental.

2) Denyut jantung janin tak terdeteksi baik dengan funduskop dan Doppler3) Pemeriksaan human chorionic gonadotropin (hCG) urine menjadi negatif

beberapa hari setelah kematian janin4) Diagnosis pasti dengan USG, tidak ditemukan pulsasi jantung. Dapat

IGst Agung MAP,S.Ked27

Page 28: Protap OBGYN

ditemukan gambaran Deformed or collapsed head, dan overlapping the skull bones.

Laboratorium yang diperlukan :1) Golongan darah ABO dan Rhesus2) Hematokrit3) Fibrinogen4) Waktu perdarahan5) Waktu pembekuan6) Hitung trombosit

Penanganan :1) Konservatif/pasif :

a. Rawat jalanb. Menunggu persalinan spontan 1-2 mingguc. Pematangan serviks : misoprostol, estrogend. Pemeriksaan kadar hematokrit, trombosit dan fibrinogen tiap minggu

2) Aktif :

a. Dilatasi serviks dengan : batang laminaria balon kateter (Foley Catheter)

b. Induksi : misoprostol prostaglandin tablet vagina (Prostin E) oksitosin

3) Perawatan Rumah Sakit :

a. Bila harus segera ditanganib. Bila ada gangguan pembekuan darah (Koagulopati)c. Bila ada penyulit infeksi berat

Penyulit :1) Koagulopati2) Infeksi3) Perforasi

Catatan :Informed Consent diperlukan sebelum tindakan

IGst Agung MAP,S.Ked28

Page 29: Protap OBGYN

Skema Penanganan KJDR :

K J D R

Faal hemostasis Donor

Inpartu Tidak inpartu

Kasep* Tidak kasep Keadaan Serviks

Pertimbangan Embriotomi/S

C

Kelola Partograf WHO Matang Belum Matang

Misoprostol, EstrogenProstin E

Spontan / Embriotomi/SC** Induksi

Matang Belum Matang

Laminaria Foley Chateter

Catatan : Inpartu kasep, misalnya : sisa dukun Seksio sesaria dapat merupakan pilihan, misalnya : pada letak lintang

IGst Agung MAP,S.Ked29

Page 30: Protap OBGYN

KEHAMILAN KEMBAR

Batasan:Kehamilan kembar adalah kehamilan dengan lebih dari satu embrio/anak dalam satu Gestasi.

Fakta:1) Hukum Helin, kejadian : Twin/kembar dua : 1 : 89,

Triplet : 1 : 892,

Quadriplet : 1 : 893,

Quintiplet : 1 : 894 dan seterusnya.

2) Ada tipe : identik/monovuler/dizygotik/homolog, 30% fratemal/biovuler/dizygotik/heterolog, 70%

3) Faktor : bangsa, umur, paritas herediter (dizygotik, dari pihak ibu)

4) Kembar monozygot : cenderung lebih kecil, kemungkinan KJDR,

cacat bawaan, sering timbul arterio-venous shunt.

5) Cara Membedakan :

Kembar homolog Kembar heterologPlasenta 1 (70%)

2 (30%)2 (100%)

Khorion 1(70%)2 (30%)

2(100%)

Amnion 1(70%)2 (30%)

2(100%)

Tali pusat 2 2Seks Sama Bisa lainRupa Sama Tidak samaSidikjari Sama Tidak sama

6) Komplikasi pada ibu : anemia, preeklampsia persalinan prematur inersia/atonia uteri plasenta previasolusio plasenta perdarahan post partum

7) Komplikasi pada anak : BBLR KJDR Cacat bawaan (kembar siam) morbiditas dan mortalitas perinatal distosia : kelainan letak, "interlocking"

Diagnosa :1. Pemeriksaan Leopold - uterus lebih besar, teraba 3 bagian besar2. Dua denyut jantung janin, ditempat berbeda3. Konfirmasi dengan USG

IGst Agung MAP,S.Ked30

Page 31: Protap OBGYN

Penanganan :1) Saat ANC

a. Perawatan antenatal seperti biasa, antisipasi kemungkinan komplikasi di atas

b. Lebih banyak istirahat saat kehamilan 7 bulan sampai aterm2) Saat persalinan:

a. Diharapkan pervaginam kecuali anak pertama letak lintangb. Kalau perlu inisiasi persalinan dengan pemecahan ketubanc. Drip oksitosin bukan kontraindikasi absolutd. Setelah anak pertama lahir, lakukan membuat posisi bujur untuk anak II

tunggu his dan lakukan amniotomi. Persalinan bisa spontan, vakum atau berbagai manuver pertolongan letak sungsang tergantung posisi anak II. Versi ekstraksi hanya dilakukan pada letak lintang anak II, yang gagal dibuat membujur atau ada indikasi emergency obstetri.

e. Hati-hati kemungkinan HPP

Skenario:1) bila let-kep/let-kep, let-kep/let-su, masih diberikan kesempatan lahir

pervaginam2) bila anak I bukan let-kep. Let su/let su atau kombinasi yang lain dianjurkan

untuk seksio sesaria primer.3) bila tidak over distensi, setelah amniotomi, tetap inersia uteri, drip oksitosin

hati-hati masih ada tempatnya.4) bila diijinkan pervaginam maka tindakan seksio berdasarkan indikasi

obstetri.5) bila anak pertama letak lintang, langsung seksio sesaria primer.6) Setelah anak pertama lahir, tentukan denyut jantung janin anak II, buat letak

kepala/membujur, tunggu ada his (atau diberikan oksitosin), dan pecahkan ketuban. Selanjutnya pimpin sampai lahir spontan atau, kalau perlu, bantuan vakum atau forsep sesuai dengan indikasi obstetri

7) Bila anak kedua letak lintang dan gagal usaha di atas maka dapat dilakukan tindakan versi ekstraksi.

8) Kala uri seperti biasa. manuil plasenta bila ada indikasi.9) Memberikan uterotonika untuk mencegah perdarahan post partum.

IGst Agung MAP,S.Ked31

Page 32: Protap OBGYN

Skema Penanganan Persalinan Gemeli

Hamil Gemeli Aterm

Kedua anak :1) letak lintang2) letak bokong

Membujur, Anak I letak kepala

Gawat JaninMonitor denyut jantung

janin

Kala II Persalinan Kembar I Pervaginam

Periksa kembar IIdengan segera

Salah letak Longitudinal (membujur)

Versi luar His (+), (K/P Oksitosin)Amniotomi

Gagal berhasil

Seksio Sesaria

Versi ekstraksi

Persalinan II PervaginamSpontan / Vacum / Forcep Bracht

IGst Agung MAP,S.Ked32

Page 33: Protap OBGYN

SOLUSIO PLASENTA

Batasan :Terlepasnya plasenta dari posisinya yang normal pada uterus, sebelum janin dilahirkan.Difinisi ini berlaku pada UK diatas 28 minggu atau berat badan janin 1000 gram

Faktor Predisposisi :1. Trauma2. Pecah Ketuban3. Versi luar4. Abnormalitas plasenta

Gambaran khusus :1) Gambaran klasik : perdarahan pervaginam,

nyeri perut, kontraksi uterus dan perut kaku seperti papan (woodly hard)

2) Ciri perdarahan warna kehitaman.3) Ciri nyeri perut : tajam,

besar dan berlangsung tiba-tiba (berbeda dengan his)

4) Keluhan lain : mual, gerak menurun sampai hilang5) Bila kehilangan darah banyak, bisa terjadi shock6) Pemeriksaan palpasi, sulit teraba bagian-bagian janin7) Pemeriksaan auskultasi, djj sulit didengar8) Bisa terjadi gangguan hemostasis (35 %)

Diagnosis :1) Tanda dan gejala yang jelas baru terjadi pada solusio plasenta yang

sedang/berat, pada yang ringan seringkali tidak diketahui ante partum2) USG tidak sensitif untuk diagnostik solusio plasenta tetapi mampu

menyingkirkan plasenta previa3) Bila bekuan darah banyak, pada USG akan tampak daerah hiperekoik

dibandingkan dengan daerah plasenta yang lain

Grading Solusio Plasenta

Grade Deskripsi

0Asimtomatis, ditemukan secara kebetulan, adanya retro plasental clot yang kecil

1Terdapat perdarahan perpavinam. Tetani uteri positif,tidak ada gawat janin, ibu dalam keadaan baik

2Terdapat atau tidak perdarahan pervaginam, tetapi ada tanda-tanda gawat janin, ibu masih dalam keadaan baik

3Terdapat/tidak perdarahan pervaginam, tetania uteri jelas, ibu syok, gawat janin sampai mati, kagulopati

IGst Agung MAP,S.Ked33

Page 34: Protap OBGYN

Penatalaksanan :1) Pada solusio plasenta grade 0-1 persalinan diusahakan pervaginam dengan

monitoring KTG. 2) Pada grade 2-3 persalinan dilakukan dengan SC. 3) Pada KJDR dilakukan amiotomi dilanjutkan dengan drip oksitosin,

persalinan harus terjadi dalam 6 jam.

IGst Agung MAP,S.Ked34

Page 35: Protap OBGYN

KEHAMILAN DENGAN

INFEKSI HUMAN IMUNODEFISIENSI VIRUS (HIV)

Batasan Infeski sistemik oleh virus HIV yang menyerang sistem kekebalan tubuh, dengan menginvasi sel limfosit T (T helper), sehingga terjadi kerusakan sistem kekebalan tubuh secara bertahap. Sekali orang terinfeksi oleh HIV maka selama hidupnya virus tersebut akan ada di dalam tubuhnya, karena virus HIV akan bergabung dengan DNA sel.Orang yang terinfeksi HIV disebut dengan ODHA (Orang dengan HIV/AIDS)Perjalanan penyakit infeksi HIV berlangsung secara kronik progresif dimana penyakit berkembang secara bertahap sesuai dengan kerusakan sistem kekebalan tubuh yang berlangsung bertahap, oleh karena itu gejala penyakit ini bisa tanpa gejala sampai menimbulkan keluhan dan tanda klinis yang berat.

Gejala infeksi HIV Gambaran Klinis :

1) Tahap infeksi akut :Tidak semua infeksi HIV mengalami tanda-tanda infeksi akut, hanya sekitar 20-30 % dari infeksi HIV menimbulkan tanda dan gejala akut, yaitu sakit pada otot dan sendi, sakit menelan, pembesaran kelenjar getah bening. Gejala ini muncul pada 6 minggu pertama setelah infeksi HIV, dan biasanya hilang sendiri.

2) Tahap Asimtomatik (tanda gejala) :Tahap ini berlangsung tanpa gejala antara 6 minggu sampai 6 bulan setelah infeksi.

3) Tahap simtomatik ringan :Tahap ini muncul beberapa tahun kemudian dengan gejala berat badan menurun, ruam pada kulit/mulut, infeksi jamur pada kuku, sariawan berulang, ISPA berulang. Aktifitas masih normal, bila makin berat akan terjadi penurunan berat badan yang makin berat, diare lebih dari 1 bulan, panas yang tidak diketahui penyebabnya, radang paru dan TBC paru.

4) Tahap AIDS (tahap lanjut) :Mulai muncul adanya infeksi opurtunistik misalnya, pneumonia pneumonitis kranii, toksoplasma otak, diare, infeksi virus CMV, herpes, kandisosis, kanker kelenjar getah bening dan sarkoma kaposi.

Diagnosis :Diagnostik infiksi HIV/AIDS ditegakkan berdasarkan adanya tanda-tanda klinis serta pemeriksaan laboratoriumDeteksi infeksi HIV dapat dilakukan dengan pemeriksaan langsung virus HIV-nya atau dengan pemeriksaan antibodi HIV.Cara pemeriksaan laboratorium untuk diagnosis HIV adalah sbb :

IGst Agung MAP,S.Ked35

Page 36: Protap OBGYN

Terduga infeksi HIV

Test inisial (Elisa)

Antibodi HIV negatif Antibodi HIV positif

Test konfirmasi

Test negatif(bukan HIV)

Test positif(Dx pasti HIV)

Untuk mendeteksi seseorang terinfeksi HIV, dapat dilakukan dengan cara tidak langsung yaitu dengan menemukan antibodi. Bila seseorang mempunyai anti terhadap HIV berarti dia terinfeksi HIV. Test lebih murah dan mudah serta hasilnya akurat bila dibandingkan dengan test langsung terhadap virusnya.Setiap test yang dilakukan hendaknya disertai dengan konseling pra dan post test. Dalam hal test konfirmasi tidak tersedia, maka dilakukan ulangan test inisial dan alternatif.

Cara Penularan HIV Yang potensial sebagai media penularan adalah : semen, darah, air ketuban dan cairan vagina. Hingga saat ini cara penularan HIV yang diketahui adalah :1) Hubungan seksual2) Darah3) Perinatal

Penularan HIV Pada Ibu Hamil Seorang ibu hamil bisa tertular HIVmelalui hubungan seksual dengan pasangan/suami yang terinfeksi HIV, dan melalui transfusi darah/pengguna obat bius melalui suntikan (IDU= Injecting drug users).Ibu hamil yang terinfeksi HIV dapat menularkan HIV-nya pada bayi yang dikandungnya. Penularan HIV terjadi melalui :1) In utero/transplasental2) Pada saat proses persalinan berlangsung3) Melalui ASI

IGst Agung MAP,S.Ked36

Page 37: Protap OBGYN

Penatalaksanaan Kehamilan / Persalinan Dengan HIV 1) Antenatal Care :

ANC dilakukan sesuai standar, disertai dengan konseling. Pencegahan penularan perinatal dilakukan dengan pemberian obat AZT (Zidovudine) dengan cara :a. Setiap penderita yang dicurigai terinfeksi HIV harus diambil darahnya

untuk pemeriksaan CD4 dan viral load awal.b. Pemberian obat AZT (Zidovudine) :

Diberikan pada umur kehamilan setelah 14 minggu, dengan dosis 2 kali 300 mg/hari, diteruskan selama hamil

Bila ditemukan pada kehamilan lanjut, AZT akan efektif bila diberikan mulai umur kehamilan 34-36 minggu, selama 4 minggu dengan dosis 2 kali 300 mg/hari

2) Persalinan :

Prinsip penanganan ibu hamil dengan HIV pada saat inpartu yaitu :a. Penanganan Medisb. Penanganan Obstetri

3) Penanganan Medis

Pemberian obat anti retrovirus sangat penting diberikan pada saat ini karena penularan ke bayi paling banyak terjadi pada saat inpartu. AZT diberikan 300 mg per oral setiap 3 jam sampai bayi lahir.

4) Penanganan Obstetri

Prosedur di kamar bersalin merupakan tindakan bedah sehingga sikap penolong dan petugas lainnya harus memenuhi standar kewaspadaan universal. Prinsipnya adalah memperlakukan setiap spesimen darah dan cairan tubuh sebagai bahan infeksius. Harus diperhatikan kemungkinan penolong kontak dengan spesimen darah dan cairan tubuh infeksius dari penderita.

Prosedur tetap penanganan ibu hamil dengan HIV adalah sebagai berikut :A. Cara kerja yang higienis :

1) Dilarang makan dan minum di kamar bersalin2) Rambut harus diikat dan ditutup3) Selalu memakai jubah plastik, sarung tangan dan kaca mata pelindung

bila menolong persalinan4) Cuci tangan sebelum memakai sarung tangan dan setelah membuka

sarung tangan5) Dilarang bekerja bila menderita luka terbuka pada kulit

B. Persiapan :

1). Persiapan alat :a. Partus setb. Alat resusitasi bayic. Hecting setd. Sarana pencegahan infeksi (ember berisi larutan klorin 0,5 %)e. Obat-obatan : AZT, oksitosis dalam semprit, anestesi lokal

2) Persiapan penolonga. Bersikap wajarb. Tidak menderita lukan/lesi pada kulitc. Memakai topi, jubah, masker, sarung tangan dan sepatu boot

3) Persiapan ibu bersalinDijelaskan proses pertolongan persalinan yang akan dilakukan.

IGst Agung MAP,S.Ked37

Page 38: Protap OBGYN

C. Persalinan :

Untuk mencegah penularan pada bayi dan petugas maka prosedur pertolongan persalinan berikut harus dilakukan :1) Ibu :

a. Persalinan Kala I : Batasi pemeriksaan dalam Desinfeksi vagina dengan antisptik Fase latent hanya diijinkan selama 8 jam.Bila melebihi 8 jam

dilakukan SC SC dipertimbangkan untuk keadaan-keadaan sebagai berikut :

Kadar CD4 kurang dari 500 Kadar viral load kurang dari 10.000 turunan/ml) Ibu menyusui (tidak mungkin untuk membeli PASI) Elektif SC dilakukan pada usia kehamilan 38 minggu

Hindari amniotomi, kecuali pembukaan lengkap dan akan dilakukan pimpinan persalinan

b. Persalinan Kala II : Sedapat mungkin episiotomi dikerjakan atas indikasi. Batasi

tindakan yang traumatik untuk bayi dan ibu (mis. Vakum dan Forsep)

Setelah bayi lahir segera gunting tali pusat Darah tali pusat diambil 10 ml untuk pemeriksaan HIV bayi.

c. Persalinan Kala III : Penatalaksanaan persalinan kala III sesuai dengan

penatalaksanaan aktif kala III. Dilakukan pemeriksaan spesimen plasenta (Patologi Anatomi)

d. Persalinan Kala IV : Penatalaksanaan sesuai dengan prosedur standar persalinan kala

IV. Waspada terhadap paparan urin, tinja, darah dan cairan vagina.

2) Bayia. Segera setelah bayi lahir, bayi dimandikan dengan sabun antiseptikb. Jangan diberikan ASI, berikan susu pengganti.c. Bila ibu dan bayi dalam kondisi baik, boleh rawat gabung.d. Berikan profilaksis AZT pada bayi dengan AZT sirop 2 mg/kg BB

tiap 6 jam mulai umur 12 jam sampai dihentikan pada umur 6 minggu.

e. Sekitar 99% dari bayi yang terinfeksi HIV dapat terdeteksi pada 2 minggu pertama setelah lahir dengan teknik PCR/Kultur.

3) Post PartumBerikan pardodel oral untuk menghentikan ASI

4) Alat bekas pakai :a. Alat-alat tenun bekas pakai segera direndam dengan larutan klorin

secara terpisah selama 10 menit.b. Jarum habis pakai dan semprit dimasukkan ke dalam wadah yang

anti tembus ke incenerator.c. Sarung tangan, kasa, sampah medis lainnya ditampung dalam

kantong plsatik khusus dan dibakar.

IGst Agung MAP,S.Ked38

Page 39: Protap OBGYN

PERDARAHAN PASCA PERSALINAN

Batasan

Perdarahan pervaginam melebihi 500 cc setelah bersalin. Bila dalam 24 jam pertama

disebut perdarahan pasca persalinan primer. Bila terjadi setelah 24 jam pasca

persalinan

disebut perdarahan pasca persalinan sekunder.

Diagnosis dan terapi

IGst Agung MAP,S.Ked39

Perdarahan Pervaginam

Robekan (+) Robekan (-)

Jahit (A)Pemeriksaan

digital

Sisa plasenta (+)(B) Sisa plasenta (-)

Perdarahan berhenti

Kuret/Digital

Perdarahan tetap

Evaluasi Pembekuan darah (E)

Uterus berkontraksi/Perdarahan (-)

Reposisi/Operasi

KBI

Lembek

Masase uterus

Uterus berkontraksi/Perdarahan (-)

LembekPerdarahan (+)

Infus Oksitosin 20 IU, Uterotonika (Metil ergometrin 0,2 mg IV, Misoprostol 400 mg),KBE

Lembek

KBI

Perdarahan berhenti

Perdarahan tetap

Uterus berkontraksi/Perdarahan (-)

OPERASI

Periksa Uterus

Uterus Kontraksi Baik Uterus tdk Berkontraksi/Lembek Uterus Tdk Teraba

Periksa Jalan Lahir Atonia Uteri (C) Inversio Uteri (D)

Page 40: Protap OBGYN

Keterangan :A : Apabila robekan jalan lahir sudah terjahit dengan baik dan perdarahan masih

berlangsung, coba dievaluasi penyebab lainnya, misalnya gangguan pembekuan darah.

B : Pada perdarahan pasca persalinan primer oleh karena sisa plasenta, pengeluaran sisa plasenta dengan digital biasanya memadai. Kadangkala kuretase diperlukan seperti halnya pada perdarahan pasca persalinan sekunder.

C : Perdarahan pasca persalinan yang secara primer disebabkan atonia uteri, ditangani secara khusus (lihat tabel).

D : Untuk operasi uterus pada kasus-kasus inversio uteri lebih baik memakai narkose (pasien tidak nyeri dan lebih mudah).Bila tidak berhasil, pertimbangkan operasi.

E : Perdarahan pasca persalinan karena gangguan faktor pembekuan darah, harus disiapkan darah segar dan kerja sama dengan Lab. Penyakit Dalam serta Patologi Klinik.

Jenis uterotonika dan cara pemberiannya untuk atonia uteri

Jenis dan cara Oksitosin Ergometrin Misoprostol

Dosis dan cara

pemberian awal

IV : infus 20 unit dalam

1 ltr larutan garam

fisiologik dengan 60

tetesan permenit

IM: 10 unit

IM atau IV (secara

perlahan) : 0,2 mg

Oral 600 mcg

atau rektal 400

mcg

Dosis lanjutan IV : infus 20 unit dalam

1 liter lar. garam

fisiologik dgn 40

tetes/menit

Ulangi 0,2 mg setelah

15 menit jika masih

diperlukan, beri IM/IV

setiap 2-4 jam

400 mcg 2-4

jam setelah

dosis awal

Dosis maksimal

perhari

Tidak lebih dari 3 liter

larutan dengan oksitosin

Total 1 mg atau 5 dosis Total 1200 mcg

atau 3 dosis

Indikasi kontra

atau hati-hati

Tidak boleh memberi IV

secara cepat atau bolus

Preeklampsia, vitium

kordis, hipertensi

Nyeri kontraksi,

asma

IGst Agung MAP,S.Ked40

Page 41: Protap OBGYN

PENATALAKSANAAN KELAINAN HIS ( INERSIA UTERUS)

BatasanKelainan kontraksi uterus dalam hal amplitudo, frekwensi, durasi, konfigurasi dan ritmisitas yang dapat menimbulkan hambatan kemajuan persalinan, perubahan denyut jantung janin, dan komplikasi lain pada ibu dan janin

Penilaian His1) His adekuat : adalah his persalinan yang menyebabkan kemajuan persalinan2) Kriteria KTG :

Pada Kala I, dalam 10 menit terdapat 3-5 kali kontraksi, lamanya 45-90 detik, dengan amplitudo 50-75 mmHg

Pada kala II, amplitudo lebih dari 80 mmHg pada kala II, F (2)

(1) (3) A

20 D BT

0

konfigurasi "Bell Shape" dengan irama yang ritmis.Komponen dari his adalah : ascending Limb (1) acme (2) dan Descending Limb(3)

Jenis Kelainan His

Kelainan his dibagi 2 yaitu :1) Inersia uterus hipotonik, yaitu kontraksi uterus yang terkoordinasi, tetapi

tidak adekuat.2) Inersia uterus hipertonik, yaitu kontraksi uterus yang kuat, tidak

terkoordinasi, dan tidak adekuat.

Etiologi1) Inersia uterus hipotonik :

a. penggunaan analgesia, b. peregangan dinding uterus berlebihan,c. perasaan takut pada ibu.

2) Inersia uterus hipertonik :a. disproporsi kepala-panggul (Cephalo pelvic disproportion= CPD),b. dosis oksitosin yang berlebihan.

Macam-macam Kelainan His Menurut Rekaman KTG1) Kontraksi uterus hipotonus adalah amplitudo kontraksi uterus kurang dari 45

mmHg pada kala I atau kurang dari 80 mmHg pada kala II.2) Kontraksi uterus hipertonus :

a. Amplitudo kontraksi uterus lebih dari 75 mmHg pada kala I atau tonus basal lebih dari 20 mmHg. Amplitudo berlebihan (lebih dari100 mmHg) yang akan menimbulkan gambaran Picket Fence pada konfigurasi kontraksi.

IGst Agung MAP,S.Ked41

Page 42: Protap OBGYN

b. Durasi kontraksi yang lamanya lebih dari 90 detik.3) Takisistol adalah jumlah kontraksi utarus lebih dari 5 kali /10 menit4) Doubling, tripling dan Quadripling adalah bila timbul kontraksi-kontraksi

prematur segera setelah descending limb dari setiap kontraksi. Bila timbul satu kontraksi prematur disebut Doubling/coupling, dua kontraksi disebut tripling, dan tiga kontraksi disebut quadripling

5) Hiperstimulasi adalah suatu sindroma yang ditandai dengan perubahan garis dasar denyut jantung janin. akibat adanya kontraksi hipertonus.

6) Patterns of hipertonus adalah suatu gambaran kontraksi uterus yang terdiri dari kontraksi hipertonus, takisistole "coupling" dan peningkatan durasi.

Akibat Kelainan His Terhadap Kemajuan Persalinan :Setiap kelainan his dapat mengakibatkan perubahan perjalanan persalinan.1) Kontraksi hipotonus, dapat menyebabkan inersia uteri primer (bila terjadi

sejak awal persalinan), sedangkan inersia uteri sekunder (bila terjadi setelah kontraksi yang adekuat). Inersia uteri mengakibatkan melambatnya persalinan.

2) Kontraksi hipertonus, dapat mengakibatkan partus presipitatus bila sifat kontraksinya Coordinated (Coordinated uterine action), persalinan tidak maju atau distosia bila sifat kontraksinya Uncoordinated (Uncoordinated uterine action).

Skema Penatalaksanaan Kelainan His

Kelainan HisKriteria KTG

Kemajuan persalinan Kaput suksedaneum

Inersia uteri

Hipotonik Hipertonik

Amniotomi + Tetes Oksitosin Resusitasi intraUterine 30 menit

Berhasil Tidak berhasilTanda-tanda

Hiperstimulasi (+)Tanda-tanda

Hiperstimulasi (-)

Pervaginam Seksio Sesaria Pemantauan Lanjutan

IGst Agung MAP,S.Ked42

Page 43: Protap OBGYN

ADMISSION TEST, TEST TANPA KONTRAKSI (NST),

TEST DENGAN TEKANAN ATAU TEST DENGAN OKSITOSIN DAN RESUSITASI INTRA UTERIN

Admission Test1) Batasan

Pemeriksaan kesejahteraan janin dengan menggunakan kardiotokografi, yang dipantau secara singkat yaitu10-30 menit, dibuat segera setelah pasien masuk rumah sakit. Pemeriksaan ini diutamakan untuk kasus-kasus risiko tinggi dengan dugaan insufisiensi plasenta.

2) Tujuan

Untuk mengetahui kasus-kasus yang berisiko pada persalinan yaitu:a. Post date (umur kehamilan lebih atau sama dengan 41 minggu) atau

diduga hamil lewat waktub. Ketuban Pecah Dinic. Hipertensi dalam kehamiland. Diabetes melituse. Pertumbuhan Janin Terhambat/ Kecurigaan Pertumbuhan Janin

Terhambat (PJT)f. Dugaan gawat janing. Penyakit jantungh. Astma Bronkhiale (serangan) dan penyakit paru lainnya.i. Pernah melahirkan dengan KJDK.

3) Prosedur Pelaksanaan

a. Pasien ditidurkan secara santai semi Fowler 450 miring ke kiri.b. Tekanan darah diukur setiap 10 menit.c. Dipasang kardiotokografi.d. Dilakukan pemantauan selama 30 menit e. Dapat dilakukan kurang dari 30 menit bila terdapat gambaran KTG yang

normal.f. Apabila terdapat kecurigaan adanya kelainan denyut jantung janin

ataupun kontraksi uterus maka pemantauan dilanjutkan dengan Intermittent monitoring yaitu pemantauan setiap 2 jam selama 30 menit.

4) Kriteria Pembacaan Hasil

a. Normal : Garis dasar denyut jantung janin antara 110-150 kali permenit. Variabilitas antara 10-25 kali permenit.

b. Mencurigakan : Garis dasar denyut jantung janin lebih dari 150 kali per menit,

kurang dari170 kali permenit atau antara 100-110 kali permenit Variabilitas antara 5-10 kali permenit, Terdapat deselerasi variabel

c. Patologis: Garis dasar denyut jantung janin kurang dari 100, atau lebih dari 170

kali permenit. Variabilitas kurang dari5 kali permenit atau lebih dari 25 kali

permenit. Deselerasi Variabel berat, memanjang, dini yang berulang, atau

IGst Agung MAP,S.Ked43

Page 44: Protap OBGYN

deselerasi lain. Terdapat pola sinusoidal .

Test Tanpa Kontraksi (Non Stress Test=NST)1) Batasan

Cara pemeriksaan kesejahteraan janin dengan menggunakan kardiotokograf untuk melihat hubungan antara perubahan denyut jantung janin dengan gerakan janin. Pra syarat test ini dikerjakan pada umur kehamilan 34 minggu.

2) Indikasi

Dugaan insufisiensi plasenta, dan bila akan dlilakukan perubahan penatalaksanaan antenatal.

3) Prosedur pelaksanaan

a. Pemeriksaan dilakukan sebaiknya pada pagi hari 2 jam setelah makan, dan tidak boleh diberikan sedativa, kecuali dalam keadaan darurat dengan konsultasi.

b. Pasien secara santai dengan posisi tidur terlentang semi Fowler miring ke kiri. 45

c. Tekanan darah diukur setiap 10 menit.d. Dipasang kardiotokograf.e. Dilakukan pemantauan selama 30 menit. f. Bila hasil rekaman selama 10 menit pertama menunjukkan hal yang

mencurigakan atau patologis, maka perhatikan posisi pasien, posisi transducer dan goyangkan fundus uteri untuk membangunkan bayi.

g. Bila hasil rekaman tetap mencurigakan atau patologis maka pemantauan dihentikan.

h. Bila hasil rekaman normal, maka pemantauan dilanjutkan selama 30 menit

4) Kriteria pembacaan hasil

a. Normal : Garis dasar denyut jantung janin 110-150 kali permenit Garis dasar variabilitas 10-25 kali permenit Tidak ada deselerasi, kecuali ringan, sangat pendek dan sporadis Terdapat dua atau lebih akselerasi.

b. Mencurigakan :Bila terdapat salah satu dari kriteria berikut : Garis dasar denyut jantung janin : 150-170 kali permenit atau 110-

100 kali permenit Garis dasar Variabilitas : 5-10 kali permenit, dalam waktu lebih dari

40 menit, atau meningkat di atas 25 kali permenit. Tidak ada akselerasi dalam waktu lebih dari 30 menit.

1. Patologis: Garis dasar denyut jantung janin kurang dari 100 kali permenit,

lebih dari 170 kali permenit Garis dasar Variabilitas : kurang dari 5 kali permenit dalam waktu

lebih dari 40 menit Terdapat deselerasi berulang dalam berbagai tipe Terdapat deselerasi variabel berat, memanjang atau deselerasi

lambat. Pola sinusoidal (kurang dari6 siklus/menit,amplitudo lebih dari 10

kali permenit, lama lebih dari 20 menit).

IGst Agung MAP,S.Ked44

Page 45: Protap OBGYN

Test Dengan Tekanan (Stress Test) Atau Test Dengan Oksitosin (Oxytocin Challenge Test=OCT)1) Batasan

Cara pemeriksaan kesejahteraan janin dengan menggunakan kardiotokografi, untukmelihat hubungan antara perubahan denyut jantung janin dengan kontraksi uterus (ekstrinsik).

2) Indikasi

Ada gambaran NST yang mencurigakan atau patologis3) Indikasi Kontra

a. Bekas seksiob. Kehamilan gandac. Disproporsi Kepala-Panggul (DKP)d. Perdarahan ante partume. Inkompetensi serviks/pasca operasi serviks

4) Komplikasi

Persalinan preterm.

5) Prosedur Pelaksanaan:

a. Prinsipnya adalah mengusahakan terbentuknya kontraksi uterus 3 kali dalam 10 menit dengan menggunakan titrasi oksitosin sintetik. Pasien ditidurkan secara semi Fowler, miring ke kiri 45º

Tekanan darah diukur setiap 10 menit Dipasang alat kardiotokografi Selama 10 menit pertama supaya dicatat data dasar seperti frekuensi,

akselerasi, variabilitas, gerakan janin dan kontraksi uterus yang spontan. Pemberian titrasi oksitosin

c. Bila belum ada kontraksi uterus, tetesan oksitosin dimulai 8 tetes/menit, dan dinaikkan 4 tetes setiap 15 menit sampai didapatkan kontraksi uterus 3 kali per10 menit.

d. Bila sudah ada kontraksi uterus, tetapi frekuensinya kurang dari 3-kali / 10 menit, maka tetesan oksitosin di mulai dari 4 tetes dan dinaikkan 4 tetes setiap 15 menit sampai didapatkan kontraksi uterus 3 kali/10 menit.

e. Bila kontraksi uterus yang diinginkan belum tercapai, maka tetesan oksitosin dinaikkan sampai maksimal 40 tetes/menit.

f. Tetesan oksitosin dihentikan bila terjadi : Tiga kali kontraksi dalam 10 menit lama 60 detik Kontraksi uterus hipertonus (tonus basal lebih dari 20 mmHg) Deselerasi lambat Deselerasi memanjang Selama satu jam hasilnya tetap mencurigakan (suspisious)

g. Bila hasil yang diperoleh negatif, mencurigakan, tidak memuaskan, dan hiperstimulasi maka pasien tetap diawasi selama dua jam setelah tetesan oksitosin dihentikan.

6) Kriteria pembacaan hasil

a. Negatif : Tidak terdapat deselerasi lambat Garis dasar denyut jantung janin normal Garis dasar variabilitas denyut jantung janin normal Terjadi akselerasi pada gerakan janin

IGst Agung MAP,S.Ked45

Page 46: Protap OBGYN

Bila hasil OCT negatif maka kehamilan dapat diteruskan sampai 7 hari lagi, selanjutnya dilakukan OCT ulangan.

b. Positif : Terjadi deselerasi lambat menetap dari sebagian besar kontraksi

uterus (lebih dari2/3 kontraksi) meskipun variabilitas normal dan terdapat akselerasi.

OCT positif menandakan adanya insufisiensi utero plasenta. Kehamilan harus segera diakhiri

c. Mencurigakan : Terjadi deselerasi lambat, yang tidak menetap/hanya terjadi bila ada

kontraksi yang hipertonus (basal tonelebih dari20mmHg/ Amplitudolebih dari80mmHg /menit)

Bila dalam pemantauan 10 menit meragukan kearah positif atau negatif

Takikardia positifOCT mencurigakan maka harus dilakukan pemeriksaan ulangan 1-2 hari kemudian

d. Tidak memuaskan: Kontraksi uterus kurang dari 3x/10 menit Pencatatan tidak sempuma, terutama pada akhir kontraksi uterus Pemeriksaan harus diulang pada hari berikutnya.

e. Hipertimulasi: Terjadi lebih dari 5 kontraksi uterus dalam 10 menit Lama kontraksi lebih dari 90 detik Tonus basal uterus meningkat lebih dari20mmHg/menit Tetesan oksitosin harus distop atau dikurangi.

Resusitasi Intra Uterin1) Batasan:

Suatu tindakan sementara pada keadaan hipoksia janin akut, sebagai usaha untuk mengurangi stres yang timbul pada persalinan.Prosedur ini dilakukan sambil menunggu tindakan yang sesuai.

2) Tatacara

a. Memperbaiki sirkulasi darah intra uterin Posisi ibu : miring ke kiri Pemberian cairan : Infus Dektrose 5%, RL atau NaCI 0,9% 28

tetes/menit Relaksasi uterus dengan cara : hentikan oksitosin, berikan tokolitik

Magnesium Sulfat.b. Memperbaiki oksigenasi janin dengan pemberian Oksigen 5-7 l / menit

IGst Agung MAP,S.Ked46

Page 47: Protap OBGYN

Bagan Pemeriksaan Kesejahteraan Janin Ante Dan Intra Partum Dengan Menggunakan Kardiotokografi

PASEN RISIKO TINGGI(Dengan dugaan Insufisiensi Plasenta)

Ante PartumIntra PartumPasien masuk Kamar bersalin

Non Stress Test Admission Test

Normal Mencurigakan Patologis Mencurigakan atauPatologis

Normal

Ulangi esok hari Lahirkan atauPantau dengan KTG tiap 2 jam selam 30

mnt sampai lahirMencurigakan OCT

♥Negatip Mencurigakan Positip

Tidak memuaskanHiperstimulasi

RawatJalan

PemantauandihentikanUlangi esok hari Lahirkan

♥ Bila terdapat kelainan denyut jantung janin (auskultasi dan his dilakukan pemantauan dengan KTG untuk mendapatkan diagnosis gawat janin dan kelainan his.

Biophysical Profile Scoring : Technique And Interpretation

Biophysical Variable Normal (Score = 2) Abnormal (Score = 0)

FBM At least one episode pf FBM of least 30 s duration in 30 min observation

Absent FBM or no episode of > 30s in 30 min

Gross body movement

At least three discrete body/limb movements in 30 min (episode of active continuous movement considered as single movement)

Two of fewer episodes of body/limb movements in 30 min

Fetal Tone

At least one episode of active ekalitension with return to flekaliion of fetal limb (s) or trunk. Opening and closing of hand considered normal tone

Either slow ekalitension with return to partial flekaliion or movement of limb in full ekalitension. Absent fetal movement.

Reactive FHRAt least two episodes of FHR acceleration of > 15 beats/min and of at least 15 s duration associated with fetal movement in 30 min

Less than two episodes of acceleration of FHR or acceleration of < beats/min in 30 min

Qualitative AFV At least one pocket of AF that measures at least 2 cm in two perpendicular planes

Either no AF pockets or a pocket < 2 cm in two perpendicular planes

FBM, Fetal breathing movement; FHR, fetal heart rate; AFV, amniotic fluid volume; AF, amniotic fluid.

IGst Agung MAP,S.Ked47

Page 48: Protap OBGYN

Interpretation Of Fetal Biophysical Profile Score Results And Recommended Clinical Management

Test Score Result InterpretationPNM1 Within1 wk WithoutIntervention

Management

10 of 10,8 of 10 (normal fluid)8 of 8 (NST not done)

Risk of fetal asphykaliia ekalitremely rate

1 per 1000Intervention only for obstetric and maternal factors. No indication for intervention for fetal disease

8 of 10 (abnormal fluid)

Probable chronic fetal compromise 89 per 10001 Determine that there is functioning

renal tissue and for fetal indications

6 of 10 (normal fluid)Equivocal test, possible fetal asphykaliia

VariableIf the fetus is mature, deliver. In the immature fetus, repeat test within 24 hr. if < 6/10, deliver

6 of 10 (abnormal fluid)

Probable fetal asphykaliia 89 per 100011 Deliver for fetal indications

4 0f 10 High probability of fetal asphykaliia 91 per 10001 Deliver for fetal indications

2 of 10 Fetal asphykaliia almost certain 125 per 10001 Deliver for fetal indications

0 of 10 Fetal asphykaliia certain 600 per 10001 Deliver for fetal indications

PNM, Perinatal mortality; NST, nonstress test.

PARTOGRAF WHO

IGst Agung MAP,S.Ked48

Page 49: Protap OBGYN

Batasan:Partograf WHO, adalah alat sederhana untuk pemantauan ibu bersalin yang berisi tentang kemajuan persalinan, kondisi ibu dan kondisi anak.Tujuan : mencegah partus lama dan partus kasep dan juga memberi petunjuk kapan seharusnya melakukan rujukan/konsultasi atau tindakan.

Indikasi Partograf WHO :Partograf WHO dipakai untuk :1) Kasus kehamilan resiko rendah.2) Pada kasus KRT yang diduga bisa lahir pervaginanm boleh dipantau dengan

partograf WHO dengan persetujuan supervisor.

Ketentuan Pemakaian Partograf WHO :1) Pengisian kolom-kolom mengenai data tentang ibu dan anak sesuai dengan

cara pengisian partograf WHO .2) Tidak membedakan primigravida dan multigravida.3) Kriteria penetapan inpartu bila minimal 2 tanda dibawah ini

a. Minimal ada his 3kali dalam 10 menit.b. Ada penipisan serviks serta pembukaan.c. Pembawa tanda : lendir campur darah (+)

4) Tidak ada penggunaan istilah observasi inpartu. Bila tanda-tanda inpartu seperti (ad.3) tidak ada, maka pasen dipulangkan dengan Komunikasi Informasi Edukasi kapan seharusnya melakukan pemeriksaan ulang. Untuk pasien dari luar kota. pasien dipulangkan atas persetujuan chief.

5) Bila grafik/garis pembukaan melewati garis waspada, maka merupakan kasus patologis dan selanjutnya ditangani oleh peserta PPDS I tingkat patol. Dan bila garis pembukaan memotong garis tindakan, maka peserta FPDS I tingkat patol menyerahkan penanganan kepada peserta PPDS I tingkat chief dan mengambil tindakan/keputusan sesuai dengan indikasi serta syarat yang ada dengan memperhatikan catatan observasi sebelumnya.

6) Bila terjadi seperti (ad.5) maka penderita harus diobservasi dengan seksama dan tetap memperhatikan CHPB, temperatur dan tanda-tanda vital lainnya sampai tindakan dilakukan.

7) Tindakan hanya dilakukan bila grafik memotong garis tindakan. Untuk kasus KRT yang dievaluasi dengan Partograf maka bila grafik memotong garis waspada, maka sudah harus dipikirkan untuk mengambil tindakan yang keputusannya diambil setelah konsultasi dengan supervisor jaga.

8) Penderita dengan rujukan, dengan partograf maupun tidak, ditangani langsung oleh residen tingkat patol. Rujukan dengan partograf yang diisi dengan benar akan dilanjutkan evaluasinya dengan tetap memperhitungkan jam pemeriksaan terdahulu.

9) Pemeriksaan dalam dilakukan setiap 4 jam sekali, kecuali bila ada indikasi seperti ketuban pecah, gawat janin, RUI, dan ibu ingin mengejan.

10) Partograf dipakai hanya untuk menilai partus kala I dan bila pembukaan lengkap (kala II), maka tindakan selanjutnya berdasarkan indikasi obstetri biasa (seperti misal terjadinya : kala II lama, gawat bayi, ruptura uteri iminens (RUI), Retensio plasenta, HPP dll.

11) Pengawasan harus lebih ditingkatkan, segera dilaporkan bila : ibu panas, ketuban hijau / berbau / keruh.

KETENTUAN TENTANG PELAKSANAAN

IGst Agung MAP,S.Ked49

Page 50: Protap OBGYN

OPERASI BEDAH SESAR (OBS)

Definisi Operasi bedah sesar (OBS) adalah cara melahirkan anak dengan cara melakukan pembedahan / operasi lewat dinding perut dan dinding uterus untuk melahirkan anak yang tidak bisa dilakukan pervaginam atau oleh karena keadaan lain yang mengancam ibu dan atau bayi yang mengharuskan kelahiran dengan cara segera sedangkan persyaratan pervaginam tidak memungkinkan.

Pegangan dasar 1) Persalinan terbaik adalah yang alamiah,pervaginam dan non trauma baik

untuk ibu dan bayinya.2) Bila cara tersebut gagal barulah dipikirkan untuk melakukan tindakan

operatif.3) OBS dilakukan berdasarkan indikasi tertentu.4) Dilakukan di kamar operasi IRD atau IBS oleh dokter setingkat Chief

Residen dan spesialis.5) Tim operasi terdiri dari minimal: seorang operator,seorang staf anastesi,

seorang asisten residen, seorang perawat instrumen, staf terampil dari unit neonatal dan paramedis pembantu.

6) Pilihan operasi utama adalah yang tipe irisan melintang di segmen bawah uterus sedangkan OBS tipe klasik menjadi pilihan yang kedua.

7) Operasi dapat bersifat primer,elektif atau darurat cito.8) OBS yang ketiga diusulkan pada pasen untuk melakukan sterilisasi/

tubektomi.

Indikasi1) Plasenta previa totalis2) CPD,distosia oleh karena bayi dan panggul3) Kesempitan panggul4) Bayi letak lintang5) Ruptura uteri iminens dan atau gawat bayi sedang persyaratan lahir

pervaginam tidak memungkinkan.6) Distosia servikalis7) Distosia karena tumor jalan lahir8) Distosia pada letak sungsang9) Distosia pada kehamilan pasca OBS10) Kasus infertilitas dan atau anak mahal11) Insufisiensi utero plasenta dengan skor pelvis yang buruk12) Dan lain-lain persalinan dengan distosia setelah dilakukan konsultasi.

Persiapan Operasi 1) Pasen dipasagn infus larutan RL/RD/NaCL 0,9% dan daerah operasi

dibersihkan dengan melakukan pencukuran rambut. Pemasangan kateter Foley serta kantung penampungan urine.

2) Mengambil contoh darah untuk persiapan donor darah3) Dipastikan lagi KIE, konseling serta permintaan informed consent pada

pasen dan keluarganya.4) Penggantian pakaian operasi untuk pasen5) Persiapan instrumen :OBS kit yang sudah steril6) Persiapan operator & asisten memakai pelindung plastik, masker dan

IGst Agung MAP,S.Ked50

Page 51: Protap OBGYN

penutup kepala serta mencuci tangan dengan hibiscrub dan selanjutnya memakai jas operasi steril.

Peralatan operasi:1) Di ruang operasi IBS dan IRD memang sudah ada pertolongan

gawat/emergency saat operasi berlangsung. Peralatan anestesi, tabung gas N20 serta Oksigen.

2) Alat-alat untuk OBS biasa dilakukan persiapan dan kemungkinan dilengkapi dengan persiapan bila ada komplikasi operasi.

Alat-alat yang disiapkan:1) Duk steril, pakaian steril operator, asisten, instrumen dan penerima bayi2) Klem untuk duk sebanyak 6 buah3) Pisau bedah tajam 1 buah4) Arteri klem 6 buah5) Hack fascia kecil I buah.6) Hack/retractor abdomen 2 buah7) Klemp Mickulik 4 buah8) Kasa abdomen dua rol9) Gunting tajam 2 buah10) Pemegang jarum 2 buah, panjang dan pendek, serta satu set jarum tajam dan

tumpul dan cat gut bermacam ukuran11) Alat kuret, untuk persediaan12) Klem Kromp 4 buah13) Klem Kocher 4 buah14) Alat isap dan kanulnya15) Spuit steril serta obat-obatan : methergin, oksitosin sinietis, bethadine,

alkohol dll

Protokol Operasi1) Protokol Umum

a. Jenis anestesi yang dilakukan tergantung pertimbangan saat itu, dan bisa berupa anestesi umum (general) atau memakai lumbal block anestesi sesuai dengan keperluannya.

b. Daerah operasi, vulva dan perut bagian bawah sampai daerah dada pasen dilakukan tindakan asepsis dengan memakai larutan Bethadine atau memakai larutan iodium dan alkohol 90%.

c. Pasen ditutup dengan kain steril untuk mempersempit lapangan operasid. Irisan pada dinding perut linea mediana membujur (pilihan pertama) atau

memilih cara insisi Pfannenstil, sepanjang 10-12 cm, diperdalam sampai peritonium, sambil merawat perdarahan yang ada.

e. Setelah masuk ruang peritonium dimasukkan kasa steril dibasahkan dengan larutan garam fisiologis untuk menyisihkan usus ke arah atas.

f. Uterus diidentifikasi dan dicari segmen bawah uterus (SBR) dan dilakukan insisi melintang dengan pisau tajam dan diperlebar kesamping dengan gunting dengan perlindungan tangan yang satunya. Insisi diperdalam sampai tembus dan kantong ketuban kelihatan.

g. Kantong ketuban dipecahkan dan bagian terendah anak diluksir dan dikeluarkan dibantu tangan asisten mendorong fundus uteri sampai anal: lahir. Tali pusat segera di klem dan dipisahkan bersamaan dengan membersihkanjalan nafas anak dan segera menyerahkan pada Tim Neonatus yang sudah siap menerimanya.

h. Sumber perdarahan di klem, suntikan oksitosin smtetis satu ampul pada IGst Agung MAP,S.Ked

51

Page 52: Protap OBGYN

komu dekstra uterus, dan bersamaan petugas anestesi memberikan suntikan methergin secara intra muskuler dan oksitosin drip per infus.

i. Plasenta dikeluarkan secara manual dan diyakinkan bersih dan komplit.j. Jahitan dilakukan lapis demi tapis dengan cat gut atau monocryl

(tergantung mana yang tersedia) dan dilakukan retro-peritonialisasi. Sambil memeriksa kedua adneksa maka pada kasus yang membutuhkan dilakukan tubektomi bilateral secara Pomeroy.

k. Setelah diyakini tidak ada perdarahan lagi maka kasa steril dikeluarkan dan rongga abdornen dicuci dan dibersihkan dengan cairan NaCI 0.9% sambil meraba fundus uteri agar berkontraksi kuat.

l. Selanjutnya dinding luka operasi dijahit lapis demi lapis, pilihan antara cat gut, monocryl dan vicryl.

m. Luka operasi ditutup dengan bethadine, kasa steril serta plester secukupnya.

n. Operasi selesai, sambil dibersihkan dari darah serta air ketuban, diperiksa tanda-tanda vital seperti : tensi, nadi, pemafasan serta perfusi akral.

2) Protokol Khusus

a. Tindakan yang lain dari prosedur diatas dapat diambil setelah melakukan jalur konsultasi dengan konsultan diatasnya.

b. Kesulitan dan kedaruratan saat operasi yang perlu diantisipasi :c. Bila waktu melahirkan bayi, robekan meluas kelateral dan merobek arteri

uterina, perdarahan harus segera dikuasai dengan klem danjahitan.d. Bila segmen bawah ada perlekatan hebat, varises berat, anak letak lintang

dan SBR yang belum terbentuk dipertimbangkan OBS korpore.e. Bila kesulitan melahirkan anak pada irisan profunda dimungkinkan

untuk melakukan insisi I terbalik.

IGst Agung MAP,S.Ked52

Page 53: Protap OBGYN

INDUKSI DAN AKSELERASI PERSALINAN

SERTA PROTAP OKSITOSIN INFUS

Induksi Dan Akselerasi Persalinan1) Sebelum dimulai PASTIKAN apakah tidak ada KONTRA INDIKASI

(kelainan letak dan penempatan , plasenta previa , bekas seksio dll)2) Induksi : merangsang uterus untuk memulai persalinan3) Akselerasi : meningkatkan frekwensi , lama serta kekuatan his dalam

persalinan4) Lebih berhasil bila skor pelvic (Bishop’s score) lebih dari/ 6

Bishop score for status of the cerviksSCORE 0 1 2 3

DilationLength of cerviks (cm)StationConsistencyPosition

03-3

firmposterior

1-22-2

mediummid

3-41-1

softanterior

5+0

+1, +2

Score each component, then add scores for total Bishop score

5) Pada umumnya untuk akselerasi dibutuhkan jumlah tetesan infuse yang lebih sedikit , oleh karena itu setiap mau menambah tetesan harus memperhatikan his yang sudah timbul.

6) Bisa terjadi hiperstimulasi , timbulnya gawat bayi atau rupture uteri iminen7) Ibu dengan infuse oksitosin tidak boleh ditinggal sendirian tanpa

pengawasan

Protap Oksitosin Infus1) Dengan adanya Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan

Neonatal yang menjadi pegangan nasional serta akan menjadi bahan yang akan diujikan pada ujian residen nasional maka dilakukan perubahan tata cara oksitosin infuse yang mengacu pada buku tersebut.

2) Infus oksitosin 2,5 unit dalam 500 cc dekstrose (atau garam fisiologik) mulai dengan 10 tetes per menit (Tabel 36.2 dan Tabel 36.3).

3) Naikkan kecepatan infuse 10 tetes per menit tiap 30 menit sampai kontraksi adekuat (3 kali tiap 10 menit dengan lama lebih dari 40 detik) dan pertahankan sampai terjadi kelahiran.

IGst Agung MAP,S.Ked53

Page 54: Protap OBGYN

Tabel 36.2. Kecepatan infuse oksitosin untuk induksi persalinanWaktu sejak

Induksi(jam)

KonsentrasiOksitosin

Tetesper

menit

Dosis(mIU/menit)

Volumeinfuse

Totalvolumeinfus

0,02,5 unit dalam 500 ml dekstrose atau garam fisiologik (5 mIU/ml)

10 3 0 0

0,5 sama 20 5 15 151,0 sama 30 8 30 451,5 sama 40 10 45 902,0 sama 50 13 60 1502,5 sama 60 15 75 225

3,05 unit dalam 500 ml dekstrose atau garam fisiologik (10 mIU/ml)

30 15 90 315

3,5 sama 40 20 45 3604,0 sama 50 25 60 4204,5 sama 60 30 75 495

5,010 unit dalam 500 ml dekstrose atau garam fisiologik (20 mIU/ml)

30 30 90 585

5,5 sama 40 40 45 6306,0 sama 50 50 60 6906,5 sama 60 60 75 7657,0 sama 60 60 90 855

Tabel 36.3. Eskalasi cepat pada primigravida. Kecepatan infus oksitosin untuk induksi persalinan

Waktu sejak

Induksi(jam)

KonsentrasiOksitosin

Tetesper

menit

Dosis(mIU/menit)

Volumeinfuse

Totalvolumeinfus

0,0 2,5 unit dalam 500 ml dekstrose atau garam fisiologik (5 mIU/ml) 15 4 0 0

0,5 sama 30 8 23 231,0 sama 45 11 45 681,5 sama 60 15 58 135

2,0 5 unit dalam 500 ml dekstrose atau garam fisiologik (10 mIU/ml) 30 15 90 225

2,5 sama 45 23 45 2703,0 sama 60 30 68 338

3,5 10 unit dalam 500 ml dekstrose atau garam fisiologik (20 mIU/ml) 30 30 90 428

4,0 sama 45 45 45 4734,5 sama 60 60 68 5405,0 sama 60 60 90 630

4) Jika terjadi hiperstimulasi (lama kontraksi lebih dari 60 detik) atau lebih dari 4 kali kontraksi dalam 10 menit, hentikan infuse dan kurangi hiperstimulasi dengan :a. terbutalin 250 mcg i.v. pelan-pelan selama 5 menit, ataub. salbutomal 5 mg dalam 500 ml cairan (garam fisiologik atau Ringer

Laktat) 10 tetes per menit.5) Jika tidak tercapai kontraksi yang adekuat (3 kali tiap 10 menit dengan lama

lebih dari 40 detik) setelah infus oksitosin mencapai 60 tetes per menit :

IGst Agung MAP,S.Ked54

Page 55: Protap OBGYN

a. Naikkan konsetrasi oksitosin menjadi 5 unit dalam 500 ml dekstrose (atau garam fisiologik) dan sesuaikan kecepatan infus sampai 30 tetes per menit (15 mIU/menit);

b. Naikkan kecepatan infus 10 tetes per menit tiap 30 menit sampai kontraksi adekuat (3 kali tiap 10 menit dengan lama lebih dari 40 detik) atau setelah infus oksitosin mencapai 60 tetes per menit.

1. Jika masih tidak tercapai kontraksi yang adekuat dengan kontraksi yang lebih tinggi :Pada multigravida, induksi dianggap gagal, lakukan seksio sesaria.Pada primigravida, infus oksitosin bisa dinaikkan konsentrasinya yaitu:

10 unit dalam 500 ml dekstrose (atau garam fisiologik) 30 tetes per menit.

Naikkan 10 tetes tiap 30 menit sampai kontraksi adekuat Jika kontraksi tetap tidak adekuat setelah 60 tetes per unit (60 mIU

per menit), lakukan seksio sesaria Jangan berikan oksitosin 10 unit dalam 500 ml pada multigravida dan

pada bekas seksio sesarea

IGst Agung MAP,S.Ked55

Page 56: Protap OBGYN

AMENORE

Batasan Amenore Primer1) Sampai umur 14 tahun belum mendapat menstruasi disertai belum

berkembangnya tanda seks sekunder.2) Sampai umur 16 tahun belum mendapat menstruasi, tanda seks sekunder

berkembang normal.

Batasan Amenore Sekunder Sudah pernah menstruasi, kemudian tidak mendapat menstruasi selama 3 siklus atau 6 bulan.

Amenore PrimerPada amenore primer perlu diperiksa pertumbuhan payudara, ada tidaknya uterus dan pada keadaan ada tidaknya uterus diperiksa hormon FSH dan LH atau testosteron atau kariotyping.

Bagan Penanganan Amenore

GOLONGAN I GOLONGAN II GOLONGAN III GOLONGAN IVBuah dada (-)

Uterus (+)Buah dada (+)

Uterus (-)Payudara (-)

Uterus (-)Payudara (+)

Uterus (+)

FSH & LH TESTOSTERON (JARANG)KARYOTIPING

Evaluasi seperti Amenore sekunder

Normal / Rendah (sentral)

Tinggi(gonadal-

disgenesis)

Rendah TinggiXYFSH/LH TinggiTestosteron

(Female)BBT Kariotyping

Foto Sella Tursica

Tes Anosmia(S. Kallman)

Kariotyping

XY Laparotomi

RKH TestikularFeminisasiXX XY Gonad (-) Gonad (+)

Testosteron(Hanya bila ada

tanda testosteron : Hirsutism, klitoris

membesar)

Testis Angkat Sesudah puber

Angkat

HRTRendah Tinggi LAP HRT

(Biopsi/angkat)

VAGINOPLASTIHRT

TerapiDengan mengikuti alur di atas maka pengobatan selanjutnya disesuaikan.

IGst Agung MAP,S.Ked56

Page 57: Protap OBGYN

PERDARAHAN UTERUS DISFUNGSIONAL

BatasanPerdarahan uterus disfungsional (PUD) adalah perdarahan abnormal yang terjadi di dalam atau di luar siklus haid, oleh karena gangguan mekanisme kerja poros hipotalamus-hipofisis-ovarium-endometrium tanpa disertai kelainan organik baik dari genital maupun ekstragenital.

PatofisiologiPUD dapat terjadi pada siklus ovulatorik, anavulatorik maupun pada keadaan dengan folikel persisten.1) Pada siklus ovulatorik.

a. Perdarahan pada pertengahan siklus haid atau bersamaan dengan haid.b. Kadar estrogen rendah.c. Progesteron terus terbentuk.

Endometrium yang tebal dan rapuh. Pelepasan endometrium tidak bersamaan. Tidak terjadi kontraksi yang ritmis. Tidak ada kolaps jaringan.

2) Pada folikel persisten.

a. Sering pada masa perimenopause.b. Jarang pada masa reproduksi.c. Kadar estrogen tinggi.d. Hiperplasia endometrium:

Jenis simplek. Jenis kistik. Jenis adenomatus. Jenis atipik.

Gambaran klinik1) Perdarahan dapat terjadi setiap waktu dalam siklus haid.2) Perdarahan dapat bersifat sedikit-sedikit, terus menerus atau banyak dan

berulang-ulang.3) Paling sering dijumpai pada usia menarche atau perimenopause.

Etiologi1) Sulit diketahui dengan pasti.2) Sering dijumpai pada:

a. Sindroma polikistik ovarii.b. Obesitas.c. Imaturitas dari poros hipotalamik-hipofisis-ovarium, misalnya: pada

menarche.d. Gangguan kejiwaan, dll.

Diagnosis1) Anamnesa.

a. Anamnesa yang cermat sangat penting.b. Tanyakan usia menarche, siklus haid setelah menarche, lama dan jumlah

darah haid, latar belakang keluarga dan latar belakang emosionalnya.2) Pemeriksaan umum:

a. Pemeriksaan umum untuk mengetahui kemungkinan adanya kelainan yang menjadi penyebab perdarahan.

IGst Agung MAP,S.Ked57

Page 58: Protap OBGYN

b. Pada gadis tidak dilakukan kuretase.c. Pada wanita yang sudah menikah, sebaiknya dilakukan kuretase untuk

menegakkan diagnosis.d. Pada pemeriksaan histopatologi, biasanya didapatkan endometrium yang

hiperplasia.3) Diagnosis banding.

Semua perdarahan yang dapat menimbulkan perdarahan abnormal dari uterus.

PenatalaksanaanPrinsip pengobatan.1) membuat diagnosis PUD, dengan menyingkirkan kemungkinan kelainan

organik.2) Menghentikan perdarahan.3) Memperbaiki keadaan umum penderita, bila anemis diberi tranfusi dan haid

diatur.A. Menghentikan perdarahan.

1) Kuretase, dilakukan untuk penderita yang sudah kawin.2) Obat-obatan: (prioritas pilihan menurut urutan).

a. Estrogen: Biasanya dipilih estrogen alamiah seperti estrogen konyugasi.

Jenis estrogen yang lain adalah Etinil estradiol. Dosis: 25 mg i.v., diulang setiap 3-4 jam maksimal 4 kali

pemberian (bila perdarahan banyak).

b. Pregesteron: Tujuan adalah untuk memberikan keseimbangan pengaruh

pemberian estrogen. Progesteron yang dipilih adalah jenis progesteron yang

molekulnya mempunyai progesteron alamiah. Termasuk dalam jenis ini adalah medroksi progesteron asetat (MPA) dan progesteron.

Dosis: 10-20 mg per hari (MPA) selama 7-10 hari, atau Norethisteron 3 x 1 tablet, 7-10 hari.

a. Pil Kombinasi: Tujuan adalah: merubah endometrium menjadi reaksi

psudodesidual. Dosis: bila perdarahan banyak dapat diberikan 4 x 1 selama 7-10

hari kemudian dilanjutkan 1 x 1 selama 3-6 siklus.

IGst Agung MAP,S.Ked58

Page 59: Protap OBGYN

Skema Penatalaksanaan PUD

PERDARAHAN UTERUS DISFUNGSIONAL

Belum Menikah Sudah Menikah

Medika MentosaDilatasi-Kuretase / Mikro

Kuretase, PA

Simpleks KistikSimpleks

AtipikAdenomato

saKompleks

Atipik

Umur < 35 thn

Umur > 35 thn

Ingin Anak

Tidak Ingin Anak

Picu ovulasi Progesteron 10

mg/hr selama 10 hari sebelum haid

Estrogen-Progesteron

Dilatasi-Kuretase / Mikro Kuretase @ 3 bln

Provera Tab 2 X 50 mg selama 3-

6 bln Dilatasi-Kuretase / Mikro Kuretase @

3 bln

Sembuh

Membaik

Sembuh

Membaik

Sembuh

Tetap

Hentikan

pengo batan

Lanjutkan

pengo batan

Hentikan

Peng obata

n

Lanjutkan

pengo batan

Hentikan

Peng obata

n

Provera

tablet

IGst Agung MAP,S.Ked59

Page 60: Protap OBGYN

Dilatasi-Kuretase / Mikro Kuretase @ 3 bln

atau bila perdarahan ulang

Dilatasi-Kuretase / Mikro Kuretase @ 3 bln

atau bila perdarahan ulang

Dilatasi-Kuretase / Mikro Kuretase @ 3 bln atau bila perdarahan ulang

Tetap / memburuk

Tetap / memburuk

Tetap / memburuk

Dosis dinaikkan Provera tablet Membur

uk

Dilatasi-Kuretase / Mikro Kuretase @ 3 bln

atau bila perdarahan ulang

Dilatasi-Kuretase / Mikro Kuretase @ 3 bln

atau bila perdarahan ulang

Tetap/ memburuk Tetap/ memburukHisterek

tomi

IGst Agung MAP,S.Ked60

Page 61: Protap OBGYN

b. Senyawa Antiprostaglandin:Pemakaian senyawa antiprostaglandin ini terutama diberikan pada penderita dengan kontraindikasi memberikan estrogen progesteron, misalnya kegagalan fungsi hati atau keganasan.

B. Mengatur haid

1) Segera setelah perdarahan berhenti, dilanjutkan terapi untuk mengatur haid.

2) Untuk mengatur haid dapat diberikan: Pil KB selama 3–6 bulan. Progesteron 2 x 1 tablet selama 10 hari, dimulai pada hari ke 16-25

haid.

IGst Agung MAP,S.Ked61

Page 62: Protap OBGYN

MENOPAUSE

BatasanHaid terakhir yang masih dikendalikan oleh fungsi hormon endogen, dipastikan setelah: amenore 12 bulan dan bila dilakukan pemeriksaan ditandai oleh kadar FSH dan LH yang tinggi serta kadar estrogen dan progesteron yang rendah.Menopause iatrogenik adalah pengangkatan kedua ovarium atau kerusakan ovarium akibat radiasi atau penggunaan obat sitostatika, atau penyebab lainnya.

Gejala1) Kulit:

Kering/menipis. Gatal-gatal. Keriput. Kuku rapuh, berwarna kuning.

2) Tulang: Nyeri tulang/otot.

3) Mata: Kerato konjungtivitis sicca. Kesulitan menggunakan kotak lensa.

4) Rambut: Menipis. Tumbuh rambut di sekitar bibir, hidung, dan telinga.

5) Metabolisme: Kolesterol tinggi. HDL turun, LDL naik.

6) Jangka Panjang: Osteoporosis. Penyakit jantung koroner. Aterosklerosis. Stroke. Dimensia tipe Alzheimer (DAT). Kanker usus berat.

7) Jangka pendek: Gejolak panas. Jantung berdebar-debar. Sakit kepala. Keringat banyak malam hari.

8) Psikologi: Perasaan takut, gelisah. Mudah tersinggung. Lekas marah. Tidak konsentrasi. Perubahan perilaku. Depresi. Gangguan libido.

9) Urogenital: Nyeri sanggama. Vagina kering. Keputihan/infeksi. Perdarahan pasca sanggama. Infeksi saluran kemih. Gatal pada vagina/vulva.

IGst Agung MAP,S.Ked62

Page 63: Protap OBGYN

Iritasi. Prolaps uteri/vagina. Nyeri berkemih. Inkontinensia urine.

Diagnosis1) Usia 40-65 tahun.2) Keluhan sesuai gejala klinis.3) Amenore lebih dari 6 bulan.4) Lab : FSH lebih dari 20 IU/ml.5) E2 kurang dari 50 pg/ml.

2.Tujuan1. Mengetahui batasan menopause2. Mengetahui gejala menopause3. Mampu mendiagnosis menopause 4. Mengetahui penatalaksanaan menopause

3.Kebijakan- Pelayanan dilaksanakan oleh residen yang kompeten untuk kasus ini

sesuai dengan jenjang pendidikan dengan bimbingan konsultan jaga atau supervisor ruangan.

- Pada kasus-kasus yang khusus ,perawatan atau penanganan pasien agar dikonsulkan ke sub.bagian FER

5. ProsedurTerapi

1) Tanpa uterus.Estrogen kontinyu 1 x 0,625 mg (25 hari).

2) Menopause alamiah.a. Sekuensial: Estrogen konjugasi 1 x 0,625 mg (25 hari), ditambah 10 hari

terakhir MPA 1 x 10 mg.b. Kontinyu: Estrogen konjugasi 1 x 0,625 mg dan Progesteron. 1 x 10 mg.

Skema Penatalaksanaan Menopause

IGst Agung MAP,S.Ked63

Page 64: Protap OBGYN

MenopauseUsia > 40 tahun dan < 40 tahun

Keluhan (+) Keluhan (-)

Ada sarana

Tidak ada sarana

Usia amenore > 6 bulan

Tidak ada sarana

Usia amenore > 6 bulan

FSH, E2 sitologi VaginaDensitometer

tulangUSG calcaneusRontgen tulang

Pencegahan Konsultasi Bagian Lain

Konsultasi Bagian

LainHRT

Tidak Ada Kelainan

FSH > 40 IU/ml E2 < 30 pg/ml Sitologi : atrofi Osteoporosis

(+)

Observasi

Terapi/ TerapiPencegahan

Timbul Keluhan Atau Menopause >1

tahun tanpa keluhan

FSH & E2 Normal

Osteoporosis (+)

Pencegahan

PENANGANAN INFERTILITAS

Bagan Alir Penanganan Pasutri Dengan Infertilitas

IGst Agung MAP,S.Ked64

Page 65: Protap OBGYN

Pasangan Suami-IstriDengan Infertilitas

Poliklinik Infertilitas : Wawancara Pemeriksaan Fisik

Umum Pemeriksaan Genital

Singkirkan : Amenore Galaktore

Terapi sesuai temuanSiklus Haid Spontan

Sperma Analisa

Normal Abnormal

Post Coital Test Terjadwal

Ulang SA 2-3 kali interval 1

bulan

Normal Abnormal Tetap Abnormal

Ulang 1 Siklus Dgn Ethinil

EstradiolUsia Ibu <30 thn

Umur > 30

thn dan atau

Kawin > 2 thn

Konsultasi Bagian

Andrologi

Induksi dgn CC 3 siklus

Monitoring Folikel (TVS)

Senggama Terjadwal

Kualitas Lendir

Serviks Jelek

Penetrasi Sperma (-)

Tidak Hamil

Laparoskopi

Diagnostik

Laparoskopi

Diagnostik

Normal Abnormal Normal

Konservatif

I.U.I. 6 Siklus

Hamil (-) I V F Hamil (-)

IGst Agung MAP,S.Ked65

Page 66: Protap OBGYN

Catatan: PCT : Post Coital Test EE : Etinyl Estradiol IUI : Intra Uterine Insemination IVF : In Vitro Fertilization

Uji Mukus Serviks Dan Uji Pasca Sanggama(Post Coital Test/PCT)1) Tujuannya adalah mengevaluasi faktor serviks pada pasangan infertil dengan

haid spontan, tanpa galaktore.2) Prosedur:

a. Pasangan diminta tidak bersanggama 3 hari sebelum pemeriksaan.b. Sanggama pada hari pemeriksaan dilakukan pada dini hari/pagi-pagi dan

pemeriksaan dilakukan 2–8 jam setelah sanggama, pada hari XII menstruasi.

c. Istri dibaringkan pada meja ginekologi.d. Mulut rahim ditampakkan dengan menggunakan spekulum yang kering.e. Dengan spuit tuberculin + abbocath sediaan diambil dari forniks

posterior, dan ditaruh di gelas objek, ditutup dengan gelas penutup (sediaan UPS I).

f. Mulut rahim dibersihkan dengan kapas kering.g. Dengan spuit tuberculin lain lendir serviks diambil dari kedalaman 1-2,5

cm, dilihat jumlah lendir (ml), dan ditaruh di gelas objek kemudian ditutup dengan gelas penutup.

h. Gelas penutup diangkat untuk menilai pembenangan (senti meter).i. Selanjutnya diperiksa di bawah mikroskop dengan pembesaran 400 x.j. Setelah pemeriksaan UPS selesai dilanjutkan dengan melihat apakah

terdapat sel-sel radang kuman atau parasit.k. Selanjutnya gelas objek dikeringkan perlahan-lahan pada nyala api

alkohol, dan diperiksa sekali lagi di bawah mikroskop, untuk menilai daya mendaun pakis.

3) Penilaian:a. Uji Mukus Serviks.

Skor

0 1 2 3Jumlah (ml) 0 0,1 0,2 0,3Spinbarkeit (cm)

< 1 1-4 5-8 > 8

Daya mendaun pakis (fern test)

Tidak ada

Bentuk tdk jelas

Ada cabang pertama &

kedua

Ada cabang ketiga dan keempat

ViskositasSangat kental

Kental sedang

Kental ringan Encer

Jumlah sel radang

> 20 11-20 1-10 0

Interpretasi :

Skor 15 : optimal,

Skor 10-14 : baik,

Skor < 10 : jelek

b. Uji Pasca Sanggama (UPS/PCT)

IGst Agung MAP,S.Ked66

Page 67: Protap OBGYN

Sediaan

Jumlah

Sperma

Motalitas (%)

Kuantitas

Kualitas

0 1 2 3

Forniks posteriorEndoserviksKualitas :

Kuantitas : 1 + 2 + 3

0 : Tidak Bergerak Memuaskan

20 sperma dengan skor 31 : Bergerak ditempat :

2 : bergerak lambat lurus atau tidak lurus

Jelek : < 10 sperma

3 : bergerak maju cepat dan lurus

Inseminasi Intra Uterin

Inseminasi Intra Uterin

Inseminasi intra uterin adalah salah satu tehnik inseminasi semen yang dilakukan intra uterin, sebagai bagian dari ruang lingkup inseminasi artifisial yang dapat juga dilakukan intra vaginal, intra servikal dan intra peritoneal. IUI di Rumah Sakit Sanglah hanya dilakukan dengan semen suami (Tidak boleh donor).

Seleksi PenderitaInseminasi termasuk pada tindakan “pengobatan” sehingga sebelumnya harus di dahului dengan pemeriksaan infertilitas dasar meliputi faktor suami (AS), faktor serviks (UPS), faktor uterus, tuba dan peritoneum (HSG/histeroskopi dan atau Laparoskopi), serta faktor ovulasi.

Kontra Indikasi IUI1) Patologi Tuba.2) Infeksi traktus genitalia.3) Abnormalitas semen yang berat.4) Abnormalitas genetik suami.5) Perdarahan-perdarahan yang tidak diketahui penyebabnya.6) Massa pelvis.7) Wanita tua.8) Infertilitas dengan penyebab multipel.9) Pelvic surgery.10) Keadaan dimana kehamilan merupakan kontra indikasi.11) Penyakit berat pada pasangan/keduanya.

IGst Agung MAP,S.Ked67

Page 68: Protap OBGYN

Haid hari1 2 3 12 14

34-36 JamInduksi Ovulasi

InseminasiHCG(malam) Support Iuteal II

TVSLab : LH, FSH,E2, & PRL

“0” “+4” “+7” “+16”

Lab hormon: hCG, E2

TVSLab. : E2 (pagi)

Support Iuteal I

12) Mendapat Kemoterapi/Radioterapi.13) Kegagalan IUI yang berulang (lebih dari 6 siklus).

Indikasi IUI1) Faktor serviks.2) Gangguan Ovulasi.3) Endometriosis ringan.4) Faktor Imunologi.5) Faktor suami.6) Unexplained Infertility.

BAYI TABUNG

(IVF = IN VITRO FERTILIZATION)(ET = EMBRYO TRANSFER)

Indikasi 1. Kerusakan kedua tuba.2. Faktor suami.3. Faktor serviks abnormal.4. Faktor Imunologik.5. Infertilitas yang tidak diketahui penyebabnya.6. Infertilitas karena endometriosis.

Syarat1. Telah dilakukan pengelolaan infertilitas selengkapnya.2. Indikasi jelas.3. Telah memahami secara umum langkah-langkah prosedur IVF.4. Informed Consent.5. Mampu membiayai prosedur, dan jika berhasil mampu menjaga kehamilan,

membiayai persalinan dan membesarkan bayi.

Tahapan Pelaksanaan1. Pemeriksaan penyaring pasutri.2. Pemilihan protokol stimulasi.3. Stimulasi indung telur yang dijadwalkan.4. Pemantauan perkembangan folikel.5. Pengambilan oosit (ovum pick up).6. Persiapan dan prosedur Lab.

IGst Agung MAP,S.Ked68

Page 69: Protap OBGYN

HCG 5.000 – 10.000 IU(malam)

OPU

ET

TVSLab :LH, FSH, E2, PrlMAR Direk, Hb, WBC, PLT, PVC, UL, BUN/SC, LFT, HbsAg, HIV (?)TVS dan E2

+ 34 – 36 jam

Haid hari ke-“2” “3” “9” “11” “13” “0” “3” “5” “8” “11” “15”

Buserelin0,2 mg (0,2cc)

Gonadotropin75-225 mg(1-4 Amp)

-hCGdan E2

Luteal Support I hCG 1.500 IU

1

2

3

TVSLab :LH, FSH, E2, PrlMAR Direk, Hb, WBC, PLT, PVC, UL, BUN/SC, LFT, HbsAg, HIV (?)TVS dan E2

+ 34 – 36 jam

HCG 5.000 – 10.000 IU(malam)

OPU

ET

Haid hari ke-

Gonadotropin75-225 mg(1-4 Amp)

-hCGdan E2

Luteal Support I hCG 1.500 IU

1

2

3

Buserelin0,2 mg (0,2cc)

Buserelin0,4 mg (0,4cc)

-2 -21 0 7 9 11 “0” “3” “5” “8” “11” “15”

7. Perkembangan embryo dalam medium biakan.8. Transfer Embryo.9. Pemantauan & support fase luteal.10. Diagnosis kehamilan.11. Analisa sebab kegagalan.12. Perawatan obstetrik.

Tabel Waktu Program IVF Short Protocol

Tabel Waktu Program IVF long Protocol

IGst Agung MAP,S.Ked69

Page 70: Protap OBGYN

IGst Agung MAP,S.Ked70

SUB. BAGIAN GINEKOLOGI ONKOLOGI

Page 71: Protap OBGYN

ABORTUS

Batasan

Abortus adalah berakhirnya kehamilan sebelum viabel, disertai atau tanpa pengeluaran hasil konsepsi.Insiden abortus 10-15% kehamilan.

Klasifikasi1) Menurut mekanisme terjadinya:

a. Abortus spontan adalah abortus yang terjadi dengan sendirinya, tanpa provokasi dan intervensi.

b. Abortus provokatus adalah abortus yang terjadi karena diprovokasi, yang dibedakan atas: Abortus provokatus terapeutikus; yaitu abortus provokatus yang

dilakukan atas indikasi medis dengan alasan bahwa kehamilan membahayakan ibu dan atau janin.

Abortus provokatus kriminalis; yaitu abortus provokatus yang dilakukan tanpa indikasi medis.

2) Menurut klinis:

a. Abortus Iminens.b. Abortus Insipiens.c. Abortus Inkomplit.d. Abortus Komplit.e. Abortus Habitualis.f. Abortus Infeksiosus.g. Missed Abortion.

Etiologi 1) Kelainan hasil konsepsi oleh karena kelainan ovum atau spermatozoa:

a. Blighted ova.b. Kelainan kromosom trisomi atau monosomi.

2) Kelainan Bentuk Uterus:

a. Mioma uterus.b. Inkompeten serviks.

3) Penyakit-penyakit ibu :

a. Hipertensi.b. Diabetes mellitus.

IGst Agung MAP,S.Ked71

Page 72: Protap OBGYN

c. Infeksi seperti toksoplasma dan sifilis.d. Kelainan imunologis inkompatibilitas rhesus dan ABO.e. Gangguan psikologi.f. Trauma.g. Malnutrisi.

PatofisiologiProses terjadinya adalah berawal dari perdarahan pada desidua basalis yang menyebabkan nekrosis jaringan diatasnya. Selanjutnya sebagian atau seluruh hasil konsepsi terlepas dari dinding uterus. Hasil konsepsi yang terlepas menjadi benda asing terhadap uterus sehingga akan dikeluarkan langsung atau tertahan untuk beberapa waktu.

Komplikasi1) Perdarahan ringan sampai berat.2) Infeksi ringan sampai dengan berat. 3) Kelainan fungsi pembekuan darah.

Gejala Klinis dan Penatalaksanaan

A. Abortus Iminens

1) Gejala klinis:a. Amenore.b. Tanda-tanda hamil. c. Perdarahan pervaginam.d. Nyeri perut bagian bawah derajat ringan, dane. Vaginal toucher didapatkan osteum uteri tertutup dan tinggi fundus

uterus sesuai dengan umur kehamilan.2) Penatalaksanaan:

a. Rawat jalan.b. Banyak istirahat, hindari hubungan seksual.c. Medikamentosa (kalau perlu):

Penenang: Luminal, Diazepam.Diazepam 3 kali 2 mg, per oral selama 5 hari atau Luminal 3 kali 30 mg.

Tokolitik: Papaverin, Isoksuprine.Isoksuprine 3 kali 10 mg per oral selama 5 hari.

Plasentotrofik: Allylesterenol 10 mg, 3 kali 1 tab.

1. Bila penyebab diketahui maka dilakukan terapi terhadap penyebab.2. Pada kasus tertentu seperti abortus habitualis dan riwayat infertilitas

dilakukan rawat inap.

B. Abortus Insipiens

1) Gejala Klinis:a. Amenore.b. Tanda-tanda hamil. c. Perdarahan pervaginam banyak.d. Nyeri perut bagian bawah derajat sedang- berat, dane. Vaginal toucher didapatkan osteum uteri terbuka, ketuban utuh, dan

tinggi fundus uterus sesuai dengan umur kehamilan.

2) Penatalaksanaan:

IGst Agung MAP,S.Ked72

Page 73: Protap OBGYN

a. Perbaikan keadaan umum.b. Umur kehamilan kurang dari 12 minggu dilakukan kuretasi, lebih

dari12 minggu dilakukan oksitosin titrasi dan kuretase.c. Medikamentosa.

Metil ergometrin 3 kali 5 mg per oral selama 5 hari. Amoksisilin 3 kali 500 mg per oral selama 5 hari.

C. Abortus inkomplit

1) Gejala Klinis:a. Amenore.b. Tanda-tanda hamil. c. Perdarahan pervaginam banyak. d. Nyeri perut bagian bawah derajat berat, dane. Vaginal toucher didapatkan osteum uteri terbuka teraba jaringan

kehamilan dan tinggi fundus uterus lebih kecil dari umur kehamilan. 2) Penatalaksanaan:

a. Perbaikan keadaan umum.b. Kuretase dengan atau tanpa digital plasenta pre kuretase.c. Medikamentosa.

Metilergometrin 3 kali 5 mg per oral selama 5 hari. Amoksisilin 3 kali 500 mg per oral selama 5 hari.

D. Missed Abortion

1) Gejala Klinis:a. Tanda-tanda kehamilan.b. Perdarahan atau tanpa perdarahan pervaginam, danc. Tinggi fundus uterus sesuai/ lebih kecil dari umur kehamilan.

2) Penatalaksanaan:a. Persiapan evakuasi poliklinis dan periksa faal hemostasis.b. Evakuasi tergantung umur kehamilan:

Umur kehamilan kurang dari 12 minggu dilakukan kuretase langsung.

Umur kehamilan lebih dari 12 minggu diberikan: Estradiol benzoas 2 kali 20-40 mg atau i.m. selama 3 selama

5 hari. Rawat inap; dipasang stiff laminaria 12-24 jam, dan Titrasi oksitosin atau Prostaglandin seperti Prostin E.

E. Abortus infeksiosus

1) Gejala Klinis:a. Amenore.b. Tanda-tanda hamil. c. Sering diawali oleh abortus provokatus.d. Febris.e. Perdarahan pervaginam.f. Nyeri supra pubik, dang. Tinggi fundus uteri sesuai atau lebih kecil umur kehamilan, nyeri

tekan, osteum uteri terbuka atau tertutup, dan flour panas dan atau berbau.

2) Penatalaksanaan:a. Perbaikan keadaan umum.

IGst Agung MAP,S.Ked73

Page 74: Protap OBGYN

b. Antipiretik injeksi 2 cc i.m.c. Sulbenisilin 3 kali l g, Gentamisin 2 kali 80 gr, Metronidazol supp 3

kali 1 gr.d. Kuretase dilakukan dalam tempo 6 jam bebas panas atau dalam

waktu 12-24 jam apabila panas tidak turun.

ASPIRASI VAKUM MANUAL (AVM) PADA ABORTUS INKOMPLIT

Batasan

Aspirasi Vakum Manual (AVM) adalah merupakan salah satu cara efektif untuk

tindakan penanganan terhadap abortus inkomplit. Dilakukan dengan cara

mengisap sisa hasil konsepsi dari kavum uteri dengan tekanan negatif (vakum).

Prinsip-prinsip dalam teknik melakukan AVM

- Hanya dilakukan pada abortus inkomplit hingga usia kehamilan 12–14 minggu

(trimester pertama), serta dapat dilakukan tanpa anestesi umum. Dari hasil

beberapa penelitian dikatakan bahwa AVM memberikan risiko yang lebih

rendah jika dibandingkan dengan kuretase tajam.

- Evakuasi sisa hasil konsepsi abortus inkomplit pada usia kehamilan diatas 14

minggu (trimester kedua) dapat dilakukan dengan Dilatasi dan Evakuasi (D&E).

Risiko komplikasi yang dihadapi diantaranya perdarahan yang hebat dan

perforasi. Oleh karena itu tindakan ini harus dilakukan dengan perlindungan

oksitosin drip (200 unit oksitosin dalam500 ml ciran infus, dengan kecepatan

30–40 tetes permenit) serta persiapan transfusi. Tindakan evakuasi

menggunakan kanula dan tabung AVM, sebaiknya dikombinasi dengan

penggunaan klem ovum (klem Fenster/Foerster) sebagai upaya pembersihan

pendahuluan.

- Dilatasi serviks jika perlu dilakukan untuk mendapatkan ukuran yang sesuai

dengan diameter kanula yang hendak dimasukkan ke dalam kavum uteri.

- Mula-mula dimasukkan kanula (yang sesuai dengan bukaan serviks) ke dalam

kavum uteri.

- Setelah itu hubungkan kanula dengan tabung pengisap (yang telah disiapkan

tekanan negatifnya) melalui adaptor.

- Buka katup pengatur di bagian depan tabung sehingga tekanan negatif (sekitar

satu atmosfir atau 26 inchi/660 mmHg) mulai mengisap masa sisa hasil konsepsi

IGst Agung MAP,S.Ked74

Page 75: Protap OBGYN

di dalam kavum uteri.

- Kanula digerakkan maju-mundur sambil dirotasikan ke kanan dan ke kiri

sehingga meliputi semua permukaan dalam dinding uterus.

- Tekanan negatif atau vakum tersebut akan menarik massa kehamilan melalui

kanula ke dalam tabung penghisap.

- Setelah dipastikan kavum uteri bersih dari sisa hasil konsepsi, tindakan selesai.

IGst Agung MAP,S.Ked75

Page 76: Protap OBGYN

PenampilanWanita usia reproduksi :Terlambat haidPerdarahanKram atau nyeri perut bawahKeluar massa kehamilanDemam, mengigil

Langkah awalNilai tanda syokNadi cepat, lemahHipotensiPucat, berkeringatGelisah, apatis atau tidak sadarTemperatur > 38 C

Bila ditemui syok,segeraLakukan stabilisasi( penatalaksanaan syok )

Setelah syok teratasi, lanjutkan evaluasi klinis

HPHT, terlambat haid, lama, jumlah perdarahan, lama/intensitas kram, kontrasepsi yang digunakan, nyeri perut/punggung, alergi, gangguan perdarahan/pembekuanTanda vital, pemeriksaan jantung, paru abdomen dan ekstremitasTanda-tanda gangguan sistemik ( sepsis, perdarahan intra abdomen )Trauma vagina/serviks, pus, nyeri tekan/goyang, besar/arah/konsistensi uterus, dinding perut tegang, derajat abortusBersihkan massa kehamilan, konfirmasi Rh negatif dan pemberian TT

Perdarahan ringan hingga sedang

Kain pembalut tidak basah setelah 5 menitDarah segar tanpa bekuanDarah campur lendir

Lakukan AVM

Perdarahan hebat

Jumlahnya banyak,Segar, dengan atau tanpabekuanPembalut, handuk atau pakaian, segera basah oleh darahPucat

Bila komplikasi teratasi dan pasien stabil, lakukan AVM

Trauma intra abdomen

Perut kembungBising usus melemahDinding perut tegangNyeri ulang-lepasMual, muntahNyeri punggungDemamNyeri perut, kram

Pikirkan kemungkinan perforasi uterusTunda AVM

Infeksi/Sepsis

Demam, menggigilSekret berbauRiwayat abortus provokatusNyeri perutPerdarahan lamaGejala seperti influenza

Tangani sesuai abortus infeksiosusSetelah itu lakukan AVM

PENATALAKSANAAN

EVALUASI KLINIS

Anamnesa

Px Fisik

Px Vagina

Lain-lain

BAGANLangkah evaluasi dan penatalaksanaan

Pasien dengan abortus inkomplit yang ditangani dengan AVM

IGst Agung MAP,S.Ked76

Page 77: Protap OBGYN

LEKORE

BatasanAdalah setiap pengeluaran cairan pervaginam lebih dari normal dan bukan darah. Lekore bukanlah penyakit tersendiri tetapi merupakan gejala yang menunjukkan keadaan fisiologis dan patologis.

Jenis Lekore

Lekore fisiologis

1) Bayi baru lahir. 2) Sekitar menarche.3) Keinginan seks meningkat.4) Sekitar ovulasi, dan5) Kehamilan.

Lekore Patologis

A. Pada infeksi genitalia 1) Trickomonas Vaginalis.

a. Gejala Klinis berupa flour encer sampai kental,.warna kekuningan, berbau, rasa gatal sampai membakar, dan disuria.

b. Diagnosis. Gejala klinis seperti diatas. Inspekulo lekore seperti diatas, tanda peradangan, dan

bintik-bintik merah pada vagina (fly bitten). Preparat basah (PZ): parasit lonjong berflagella dengan

gerakan lincah.c. Terapi.

Ditujukan pada penderita dan pasangan seksualnya. Perempuan (penderita):

Metronidazole 2 kali 500mg per oral selama 5 hari. Metronidazole supp pervaginam. Canesten SD l kali.

Laki-laki pasangan seksual: Metronidazole 2 kali 500 mg selama 5 hari per oral.

2) Vaginosis bakterial oleh Gardenella. vaginalis.a. Gejala klinis lekore agak lengket dan terasa gatal, berbau

amis seperti bau ikan tuna.b. Kriteria diagnosis:

sekret vagina putih homogen dan lengket. tes amin positip. Clue-cell positip, dan pH cairan vagina lebih dari 4,5.

c. Terapi.Terapi ditujukan kepada penderita dan pasangannya. Metronidazole 2 kali 500 mg selama 7 hari per oral. Klindamicin 2 kali 300 mg selama 7 hari per oral.

3) Candida Albicans. a. Gejala: lekore seperti susu basi, warna kehijauan, berbau

dan gatal, dan terasa panas dan nyeri.b. Diagnosis.

IGst Agung MAP,S.Ked77

Page 78: Protap OBGYN

Gejala klinis. Sekret vagina seperti susu basi, tanda radang, biten

apparence, dan mudah berdarah. Preparat Gram tampak hifa jamur positif.

c. Terapi. Ketokonazole l50 mg, l kali dosis tunggal per oral. Trikonazole 2 kali 500 mg selama selama 5 hari per

oral.4) Nesseria. Gonore.

a. Kriteria diagnosis: Sekret vagina kuning, nyeri dan panas, disuria, kadang

kala disertai bartholinitis, servisitis akut. Preparat Gram diplokokus berpasangan ekstra seluler.

b. Terapi. Ampisilin 1000 mg dosis tunggal, atau Thiamfenikol 1000 mg dosis tunggal.

5) C. Trakhomatis.a. Kriteria diagnosis:

Sekret vagina tidak khas, disuria, lekore, dan ektopi hiperkeratik pada porsio.

Preparat kultur pengecatan Gram dan Polymerase Chain Reaction (PCR).

B. Benda asing pada anak-anak.C. Pemakaian Alat Kontrasepsi Dalam Rahim.D. Degenerasi jinak. E. Degenerasi ganas.

KEHAMILAN EKTOPIK

BatasanKehamilan ektopik adalah kehamilan dimana ovum yang dibuahi berimplantasi dan tumbuh di tempat yang tidak normal; termasuk kehamilan servikal dan kehamilan kornual.

IGst Agung MAP,S.Ked78

Page 79: Protap OBGYN

PatofisiologiKehamilan ektopik terutama akibat gangguan transportasi ovum yang telah dibuahi dari tuba Fallopii ke rongga rahim, selain akibat kelainan ovum yang dibuahi itu sendiri adalah predisposisi kehamilan ektopik.

Faktor risiko1) Gangguan transportasi hasil konsepsi:

a. Radang panggul.b. Alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR).c. Penyempitan lumen tuba akibat tumor.d. Tindakan operasi pada tuba pasca bedah mikro, dane. Abortus.

2) Kelainan Hormonal:a. Induksi ovulasi.b. Invitro fertilisasi (IVF).c. Ovulasi yang terlambat, dand. Trasmigrasi ovum.

3) Penyebab yang masih diperdebatkan:a. Endometriosis.b. Cacat bawaan.c. Kelainan kromosom.d. Kualitas sperma, dan sebagainya.

Pembagian Menurut lokasi maka kehamilan ektopik dibagi atas:1) Kehamilan Tuba (95-98%) yaitu:

a. Kehamilan tuba pars interstitial.b. Kehamilan tuba pars ismika.c. Kehamilan tuba pars ampularis.d. Kehamilan tuba pars infundibularis.e. Kehamilan tuba pars fimbrialis.

2) Kehamilan Ektopik pada uterus:

a. Kehamilan servikalis danb. Kehamilan kornual.

3) Kehamilan Ovarium.

4) Kehamilan Abdominal.

a. Primer danb. Sekunder.

5) Kehamilan kombinasi, dimana kehamilan ektopik dan kehamilan intra uterus didapatkan bersamaan.

Gejala Klinis 1) Bervariasi.2) Pada Kehamilan Ektopik yang belum terganggu:

Terdapat gejala-gejala seperti kehamilan normal yakni amenore, mual, muntah, dan lainnya.

Pada pemeriksaaan fisik didapatkan rahim membesar dan tumor di daerah adneksa.

Trias klasik yang sering didapatkan adalah amenore, perdarahan, dan nyeri abdomen.

3) Kehamilan Ektopik Terganggu.

IGst Agung MAP,S.Ked79

Page 80: Protap OBGYN

Disamping gejala-gejala di atas, didapatkan gejala-gejala akut abdomen akibat pecahnya kehamilan ektopik dan gangguan hemodinamik berupa hipovolemik akibat perdarahan.

Diagnosis dan Penatalaksanaan

KEHAMILAN EKTOPIK

Tidak terganggu(Observasi KE)

Terganggu (Curiga KET)

MRS, Rapid Test, USG Transvaginal

Obs 24 jam T/N/R/ Keluhan / Hb

Akut (KET)Douglas Punctie

(KP)

Kronik(Hemato

cele)

GS (+)Intra Uteri

GS (-) / PPT (-)

GS (+)Extra Uteri

GS (-)/PPT (+)

Bukan KE Laparotomi/Proof Lap

IGst Agung MAP,S.Ked80

Page 81: Protap OBGYN

PENYAKIT RADANG PANGGUL

BatasanAdalah penyakit peradangan organ genitalia diatas niveu orifisium uteri internum; termasuk endometritis, miometritis, pelvik selulitis, salpingitis, salpingo-oovoritis, pelvioperitonitis, dan abses (abses tubo-ovarial dan abses kavum Douglasi).

Klasifikasi1) Penyakit Radang Panggul.2) Infeksi yang berhubungan dengan abortus.3) Infeksi pada masa nifas.4) Infeksi pasca operasi.5) Sekunder dari organ lain.

Patofisiologi

1) Gangguan barier fisiologis.

Secara fisiologis kuman mengalami hambatan mekanik, biokemik, dan imunologik pada: a. Vagina.b. Ostium uteri eksternum. c. Kavum uterus (deskuamasi endometrium), dand. Lumen tuba uterina Fallopii.Barier fisiologis terganggu pada keadaan-keadaan perdarahan, abortus, instrumentasi kanalis servikalis, dan abortus.

2) Vektor.

a. T. Vaginalis dapat menembus barier fisiologik bergerak sampai tuba

Falopii di mana E. Coli dapat melekat pada T. Vaginalis.

b. Spermatozoa dapat sebagai vektor kuman N. Gonorea, U. Urealitika, dan C Trachomatis.

3) Faktor risiko.

a. Aktivitas seksual.Pada saat orgasme terjadi kontraksi uterus yang dapat menarik sperma dan kuman-kuman yang lain ke dalam kavum uterus melalui kanalis servikalis.

b) Haid.Periode paling rawan untuk radang panggul adalah minggu pertama haid. Jaringan nekrotik merupakan media yang paling baik untuk pertumbuhan N. Gonorea.

Gejala Klinik

1) Pemeriksaan Fisik.

a. Suhu meningkat disertai takikardia.b. Nyeri suprasimfiser biasanya bilateral.c. Rebound tendernes, dand. Dapat disertai menoragia, metroragia, dan ileus paralitik.

IGst Agung MAP,S.Ked81

Page 82: Protap OBGYN

2) Pemeriksaan Ginekologik.

a. Nyeri dan pembengkakan labia sekitar kelenjar Bartholin.b. Lekore.c. Perdarahan oleh karena endometritis.d. Nyeri di daerah para rektum.e. Di daerah adneksa teraba massa bila terbentuk abses, danf. Peradangan akut serviks.g. Abses pecah memberikan gambaran khas yaitu nyeri mendadak pada

perut bagian bawah, mulai daerah sekitar abses pecah menjalar ke seluruh dinding perut yang mengakibatkan peritonitis generalisata, dan

h. Anemia dapat dijumpai pada abses pelvik yang telah berlangsung beberapa minggu.

DiagnosisBerdasarkan kriteria Infection Disease Society for Obstetric & Gynecology (USA, 1983):1) Kriteria mayor:

Nyeri tekan pada abdomen dengan atau tanpa rebound. Nyeri bila serviks uterus digerakkan, dan Nyeri pada adneksa.

2) Disertai oleh salah satu atau lebih hal di bawah ini: Mikroorganisme patologi pada sekret endoserviks. Suhu rektal diatas 38°C. Leukosit lebih dari 10.000/mm3. Pus dalam kavum peritoneum (dengan kuldosintesis atau laparoskopi). Abses padat pada pemeriksaan bimanual atau USG.

Klasifikasi

Derajat DeskripsiDerajat I Radang panggul tanpa penyulit, terbatas pada tuba dan

ovarium, dengan atau tanpa pelvio-peritonitisDerajat II Radang panggul dengan penyulit, didapatkan massa radang

atau abses pada kedua tuba atau ovariumDerajat IIII Radang panggul dengan penyebaran diluar organ-organ

pelvik

Diagnosis Banding1) Kehamilan Ektopik Terganggu.2) Abortus septik.3) Ruptur kista.4) Apendisitis.

Penyulit1) Jangka pendek/segera: pembentukan abses, peritonitis, peri-hepatitis, dan

selulitis.2) Jangka panjang: infeksi berulang, infertilitas, hamil ektopik, dan nyeri kronik.

IGst Agung MAP,S.Ked82

Page 83: Protap OBGYN

Penatalaksanaan

A. Rawat jalan untuk Penyakit Radang Panggul Derajat I.

1) Antibiotika:a. Amoksisilin 3 gr x/hari selama 1 hari.b. Thiamfenikol: 3,5 gr per oral pada hari pertama.c. Dilanjutkan dengan 4 x 500 mg/hari/per oral selama 7-10 hari.d. Eritromisin: 4x 500 mg/hari/per oral selama 7-10 hari.

2) Analgetik.

B. Rawat Inap untuk Penyakit Radang Panggul Derajat II dan III.

1) Antibiotika.a. Kombinasi I.

Ampisilin 4 x 1-2 gr/hari iv selama 5-7 hari. Gentamisin 5 mg/Kg BB/hari im/iv 2 x /hari selama 5-7 hari. Metronidazole 1 g rektal supp 2 x/hari selama 5-7 hari.

b. Kombinasi II. Sefalosporin generasi III, 2-3 x l g/hari selama7 hari. Metronidazole 1 g rektal supp, 2 x/hari selama 5-7 hari.

2) Analgetik.

ABSES TUBO OVARIAL

IGst Agung MAP,S.Ked83

Page 84: Protap OBGYN

BatasanAbses Tubo Ovarial (ATO) adalah radang bernanah yang terjadi pada ovarium dan atau tuba fallopii unilateral/bilateral.

PatofisiologiBakteri menyebar dari vagina ke uterus, tuba fallopii (salpingitis), ovarium (oovoritis) secara tersendiri atau bersama-sama. Mekanisme pembentukan ATO belum jelas, pada permulaan proses lumen tuba masih terbuka, eksudat menyebar dari fimbria dan menyebabkan peritonitis; ovarium terkena dan mengalami peradangan di daerah tempat ovulasi. Proses ini dapat hanya mengenai tuba dan ovarium; dapat pula mengenai organ-organ yang lain misalnya kandung kemih.

Gejala KlinikGejala klinis bervariasi:1) Ringan tanpa keluhan.2) Berat dengan keluhan.

a. Suhu badan naik, akut abdomen sampai syok septik.b. Nyeri panggul dan nyeri perut bagian bawah.c. Febris pada 60-80% kasus.d. Takikardia.e. Ileus, danf. Pembentukan massa.

Diagnosis1) Gejala klinis seperti diatas.2) Leukositosis lebih dari 12.000 dan peningkatan LED.3) Tanda-tanda ileus (Rontgen BOF).4) Massa di adneksa (USG), dan5) Pus positif pada punksi kavum Douglasi.

Diagnosis Banding1) ATO utuh tanpa keluhan:

a. Tumor ovarium.b. Kehamilan ektopik.c. Abses periapendiks.d. Hidrosalping.e. Mioma uteri.

2) ATO dengan keluhan:a. Perforasi appendisitis.b. Perforasi divertikel. c. Perforasi ulkus peptikum.d. Kista ovarium terinfeksi/terpeluntir.

Komplikasi1) ATO utuh:

a. Pecah sampai sepsis (jangka pendek).b. Ileus, infertil, kehamilan ektopik dan nyeri (jangka panjang).

2) ATO pecah :a. Syok septik.b. Abses (intra abdominal, subprenikus, paru, dan otak).

Penatalaksanaan1) ATO utuh.

a. Konservatif.IGst Agung MAP,S.Ked

84

Page 85: Protap OBGYN

b. MRS kalau perlu IVFD.c. Tirah baring semi Fowler.d. Observasi tanda vital dan produksi urine.e. Antibiotika.

Kombinasi I: Ampisilin 4 x 1-2 g/hari iv selama 5-7 hari. Gentamisin 5 mg/kg BB im/iv 2 x/hari selama 5-7 hari. Metronidazole 1 gr rektal supp 2 x/hari selama 5-7 hari.

Kombinasi II: Sefalosporin generasi III 2-3x1 g/hari selama 5-7 hari. Metronidazole 1 gr rektal supp 2 x/hari selama 5-7 hari.

f. Operatif laparotomi.

2) ATO Pecah.

a. Laparotomi (salpingoooforektomi), kultur pus, dan pasang drainase.b. Antibiotika:

Sefalosporin generasi III, 2-3 x 1 g l /hari selama 5-7 hari. Metronidazole I gr rektal supp 2 x/hari selama 5-7 hari.

1.Pengertian

MIOMA UTERUS

BatasanMioma uteri adalah tumor jinak miometrium uterus dengan konsistensi padat kenyal, batas jelas, mempunyai pseudo kapsul, tidak nyeri, bisa soliter atau multipel.

IGst Agung MAP,S.Ked85

Page 86: Protap OBGYN

Lokasi Tumor1) Submukus.2) Intramural.3) Subserous.4) Intraligamenter.5) Pedunculated (bertangkai).6) Wondering (bebas migrasi sehingga disebut mioma parasitik).

PatofisiologiBerasal dari sel totipotensial primitif atau Immature Muscle Cell Nest, dalam miometrium yang berproliferasi akibat rangsangan terus menerus oleh hormon estrogen. Tumor terdiri atas jaringan otot, jaringan ikat fibrous, dan banyak pembuluh darah. Mioma uteri sering ditemukan pada masa reproduksi, jarang ditemukan sebelum menarche dan setelah menopause. Tumor membesar oleh karena pengaruh estrogen.

Gejala Klinik1) Tanpa Gejala.

2) Dengan Gejala.

Rasa penuh dan berat pada perut bagian bawah dan teraba benjolan padat kenyal.

Gangguan haid: menoragia, metroragia,dan dismenorea. Akibat penekanan: disuria, polakisuria, retensio urine, konstipasi, edema

tungkai, varises, nyeri dan rasa kemeng didaerah pelvis. Infertilitas dan kehamilan ektopik. Tanda abdomen akut.

Diagnosis1) Anamnesis.2) Palpasi abdomen terdapat masa padat, batas jelas, dan tanpa nyeri.3) Pemeriksaan dalam ditemukan tumor menyatu dengan uterus.4) USG didapatkan gambaran khusus.5) Dilatasi dan kuretasi dengan pemeriksaan PA pada gangguan perdarahan.6) PA pasca operatif.

Diagnosis Banding1) Tumor solid ovarium.2) Adenomiosis.3) Kelainan bentuk uterus. 4) Tumor solid non ginekologi.5) Kehamilan.6) Miosarkoma.

Komplikasi1) Perdarahan sampai dengan anemia.2) Torsi pada mioma yang bertangkai.3) Infeksi.4) Degenerasi merah sampai nekrosis.5) Degenerasi ganas miosarkoma.6) Degenerasi hialin.7) Degenerasi kistik.8) Infertilitas.

IGst Agung MAP,S.Ked86

Page 87: Protap OBGYN

PenatalaksanaanBerdasarkan besar kecilnya tumor, ada tidaknya keluhan, umur dan paritas penderita.

Mioma

Besar < 14 mgg Besar > 14 mgg

Tanpa keluhan Dengan keluhan

Konservatif Operatif

Catatan:1) Keluhan adalah gangguan haid dan atau keluhan pendesakan.2) Operatif pada:

Umur lebih dari50 tahun dilakukan TAH-BSO. Menginginkan anak: miomektomi atau hanya enukleasi mioma.

3) Pada kasus dengan gangguan menstruasi; apabila umur lebih dari 40 tahun dilakukan D & C + PA untuk melihat kemungkinan keganasan.

LESI PRAKANKER

BatasanLesi prakanker adalah Neoplasia Intraepithelial Serviks (NIS) atau Low grade Squamous Intraepithelial Lesion (L-SIL) dan NIS II-III atau High grade Squamous Intraepithelial Lesion (H-SIL).

EtiologiEtiologi pasti belum diketahui; diduga yang berperan penting adalah Human Papilloma Virus (HPV) onkogenik tinggi yaitu tipe 16, 18, 45, 56. Konsep multifaktorial masih dianut dimana pajanan HPV adalah faktor risiko mayor.

IGst Agung MAP,S.Ked87

Page 88: Protap OBGYN

Faktor Risiko1) Faktor Epidemiologi:

a. Hubungan seksual usia muda.b. Hubungan seksual dengan multi partner.c. Kawin usia muda.d. Hamil usia muda.e. Multiparitas.f. Prostitusi.g. Suami berisiko.h. Sosial ekonomi rendah.i. Infeksi veneral.

2) Faktor lain yang potensial:

a. Status imunitas rendah seperti pada HIV.b. Kontrasepsi oral.c. Perokok.d. Riwayat lesi serviks.e. Pernah terapi DES.f. Defisiensi vitamin A dan C.

3) Faktor Infeksi Virus:

a. Human Papilloma Virus (HPV).b. Herpes Simplex Virus (HSV).c. Cyto Megalo Virus (CMV).

Gejala Klinis1) Tanpa gejala.

2) Dengan gejala seperti keputihan/berbau, perdarahan pasca senggama, nek suprasimfisis.

3) Inspekulo nampak erosi, ektropion, dan servisitis.

Diagnosis1) Sitologi dengan Pap Smear.

2) Kolposkopi untuk diagnostik dan biopsi terarah.

3) Kuretasi endoserviks (KES).

Penanganan

PAP SMEAR LESI PRA KANKER (LSIL/H

SIL)

KOLPOSKOPI

IGst Agung MAP,S.Ked88

Page 89: Protap OBGYN

Memuaskan Tidak memuaskan

Normal Abnormal Normal Abnormal

Ulang Pap Biopsi KES/ECCBiopsi +

KES/ECC

Pemeriksaan PA

Normal Lesi pra kanker Kanker

L SIL H SIL Kanker

CIN II H SIL

Ulang Pap6-12 bulan

Ulang pap3 bulan

KauterKonisasi

Histerektomi

MOLA HIDATIDOSA

BatasanMola hidatidosa adalah neoplasma jinak sel trofoblas di mana terjadi kegagalan plasentasi atau fekundasi fisiologis yang mengakibatkan vili menggelembung menyerupai buah anggur.

EtiopatogenesisPenyebab mola hidatidosa belum diketahui pasti. Beberapa teori menyatakan beberapa faktor risiko seperti:1) Umur ibu di bawah 15 tahun atau diatas 40 tahun.

IGst Agung MAP,S.Ked89

Page 90: Protap OBGYN

2) Sosial ekonomi rendah yang dihubungkan dengan defisiensi nutrisi.3) Riwayat kehamilan mola, abortus spontan berulang. 4) Ras, dll.

Pembagian

1) Mola Hidatidosa Risiko Rendah dengan kriteria: Serum -hCG kurang dari 100.000 IU/ml. Besar uterus < umur kehamilan, dan Kista ovarium kurang dari 6 cm.

2) Mola Hidatidosa Risiko Tinggi dengan kriteria: -hCG > 100.000 IU/ml. Besar uterus lebih dari umur kehamilan. Kista ovarium > 6 cm, dan Terdapat faktor metabolik atau epidemiologik seperti umur lebih dari 40

tahun, toksemia, koagulopati, emboli sel trofoblas, dan hipertiroidisme.

Diagnosis1) Gejala klinis.

Keluhan dan tanda-tanda klinis mola hidatidosa pada umumnya muncul pada 20 minggu kehamilan, antara lain:a. Besar uterus tidak sesuai dengan usia kehamilan (50% kasus

menunjukkan besar uterus lebih dari dari usia kehamilan).b. Perdarahan pervaginam, biasanya berulang dari bentuk spotting sampai

dengan perdarahan banyak. Pada kasus dengan perdarahan banyak sering disertai dengan pengeluaran gelembung dan jaringan mola.

c. Tidak ditemukan ballotement dan detak jantung janin.d. Sering disertai hiperemesis gravidarum, toksemia, dan tirotoksikosis.

2) USG.

a. Complete Mole, tampak gambaran ekogenik merata seperti badai salju intra uterin dan tidak terlihat sakus gestasional.

b. Partial Mole, tampak gambaran daerah kistik yang disertai "echogenic chorionic material". Mungkin pula tampak sakus gestasional dengan fetus hidup seperti kehamilan normal.

3) Kadar -hCG darah atau urine pada umumnya tinggi.

4) Histopatologik.

Gambaran patologik pada mola hidatidosa:a. Degenerasi hidropik vili korealis.b. Berkurang atau hilangnya pembuluh darah vili, danc. Proliferasi sel-sel trofoblas.

5 Lain-lain.

Uji sonde Hanifa dan Rontgen abdomino-pelvis apabila pemeriksaan USG tidak bisa dikerjakan.

Diagnosis Banding1) Abortus iminens.2) Kehamilan kembar.3) Kehamilan dengan mioma uteri.

Komplikasi1) Perdarahan profus.2) Perforasi uterus spontan atau iatrogenik.3) Emboli sel trofoblas.

IGst Agung MAP,S.Ked90

Page 91: Protap OBGYN

4) Generasi ganas berupa Penyakit Trofoblas Ganas (PTG).5) Tirotoksikosis.

PenatalaksanaanPada prinsipnya ada 2 hal:1) Evakuasi mola hidatidosa.2) Pengawasan lanjut pasca evakuasi.

A.Evakuasi mola hidatidosa.

1) MRS walaupun tanpa perdarahan.2) Persiapan pre evakuasi terdiri atas:

a. Pemeriksaan fisik.b. Foto rontgen toraks.c. Pemeriksaan darah tepi, fungsi hati, fungsi ginjal, faal hemostasis,

dan kalau perlu elektrolit, T3, dan T4.d. Catatan:

Pada kasus abortus mola hidatidosa dengan perdarahan banyak dan atau keluar jaringan mola, persiapan untuk evakuasi segera. Jenis pemeriksaan persiapan pre evakuasi hanya yang dianggap perlu.

3) Evakuasi:a. Besar uterus kurang dari 20 minggu, dilakukan evakuasi satu kali.

b. Besar uterus lebih dari. 20 minggu dilakukan evakuasi dua kali dengan interval satu minggu.

c. Osteum uterus belum terbuka dan serviks kaku dilakukan pemasangan stif laminaria selama 12-24 jam.

d. Pada saat evakuasi dipasang venous line dengan drip oksitosin 10-40 IU/500cc dektrosa 5%:28 tetes/menit dan cairan fisiologis. Evakuasi dilakukan dengan kuret isap dilanjutkan dengan kuret tumpul, diakhiri dengan kuret tajam.

e. Diambil spesimen pemeriksaan Patologi Anatomi yang dibagi atas dua sampel yaitu:

PA1 adalah jaringan dan gelembung mola. PA2 adalah kerokan endometrial uterus yaitu jaringan mola

hidatidosa yang melekat pada dinding uterus.f. Penderita dipulangkan satu hari pasca evakuasi, kecuali diperlukan

perbaikan keadaan umum.g. Evakuasi yang kedua dilakukan dengan kuret tajam dan dilakukan

pemeriksaan Patologi Anatomi.h. Histerektomi:

Indikasi umur > 40 tahun dan anak cukup. Dapat dilakukan langsung atau 7-10 hari pasca kuret

pertama/satu.

B.Pengawasan Lanjut.

1) Kasus mola hidatidosa dengan kuret 2 kali maka yang dimaksud dengan pasca evakuasi adalah pasca kuret kedua.

2) Pemeriksaan -hCG urine semi kuantitatif:a. Setiap minggu untuk kasus mola hidatidosa risiko tinggi, setiap 2

minggu untuk kasus mola hidatidosa risiko rendah.b. Pemeriksaan dimulai dari tes dengan kepekaan paling rendah: PPT

(kepekaan: 1.500 400 SI/L), hCG slide test (kepekaan 800 IGst Agung MAP,S.Ked

91

Page 92: Protap OBGYN

SI/L),dan test pack (kepekaan 25-50 SI/L).c. Pemeriksaan -hCG serum kuantitatif dilakukan untuk konfirmasi

diagnostik yaitu mengetahui kadar hCG normal atau sebaliknya terjadi Penyakit Trofoblas Ganas.

3) Batas akhir penilaian:a. PPT harus negatif pada minggu ke-4, atau -hCG kurang dari 1.000

m IU/ml).b. -hCG slide test harus negatip pada minggu ke-8 atau -hCG serum

kurang dan 500 mUl/ml.c. Test Pack harus negatif pada minggu ke-12 atau kadar -hCG serum

adalah normal (ELISA: 0-15 mlU/ml).4) Pengawasan lanjut setelah -hCG serum normal, atau Test pack negatif

dua kali berturut-turut dengan interval dua minggu.a. Pemeriksaan meliputi:

Keluhan. Fisik dan Ginekologik. hCG urin dengan Test Pack atau -hCG serum, dan Lain-lain kalau diperlukan misalnya: foto toraks.

b. Jadwal Pemeriksaan: Satu tahun pertama setiap bulan. Satu tahun kedua setiap 3 bulan. Selanjutnya sewaktu-waktu apabila ditemukan keluhan.

5) Kontrasepsi.

a. Sebelum tercapai -hCG serum normal atau Test Pack 2 kali berturut-turut interval dua minggu negatif, dianjurkan memakai alat kontrasepsi kondom.

b. Setelah tercapai -hCG serum normal atau Test Pack negatif, dianjurkan memakai kontrasepsi dengan ketentuan: Satu tahun untuk pasien yang belum mempunyai anak. Dua tahun atau lebih untuk pasien yang sudah mempunyai anak. Kontap untuk pasien yang tidak menginginkan tambahan anak.

IGst Agung MAP,S.Ked92

Page 93: Protap OBGYN

Skema Penanganan

CURIGA MOLA HIDATIDOSA

Klinis USGhCG

Ab. Imminen Hamil KembarHamil + Mioma

MOLA HIDATIDOSA

Persiapan komplit/seperlunya

Umur > 40 thdan anak cukup

Belum Punya anak/ ingin anak lagi

Histerektomi PAEvakuasi Kuret siap

1 atau 2 kali PA

MOLA. HIDATIDOSA

Korio Karsinoma

Pengawasan lanjut 12 minggu Mola RR tiap 2

mg Mola RT tiap 1

mg Klinis & hCG

urine / serum

TERAPI

Normal/Remisi hCG serum normalTest Pack 2x negatif

P T G

Pengawasan lanjut KB belum punya anak 1

th sudah punya anak 2

th

Terapi ~ Korio karsinoma

IGst Agung MAP,S.Ked93

Page 94: Protap OBGYN

PENYAKIT TROFOBALAST GANAS

BatasanPenyakit trofoblastik ganas (PTG) adalah penyakit trofoblas yang mempunyai tendensi neoplastik, termasuk: mola invasif, karsinoma korion dan plasental site trophoblastic tumor.Diperkirakan 80% mola hidatidosa akan mengalami remisi pasca evakuasi dan 20% akan berkembang menjadi PTG.

KlasifikasiBerdasarkan perluasan di luar uterus maka PTG dapat dibedakan atas: 1) PTG Non Metastatik.

PTG terbatas pada uterus. Secara patologik dapat berupa gambaran mola hidatidosa atau karsinoma korion yang terdiri atas sel anaplastik sito dan sinsitio trofoblas tanpa pembentukan vili korealis. Dapat pula dalam bentuk lain yaitu Plasental site trophoblastic tumor di mana pada PA ditemukan predominan sel-sel trofoblas intermediet.

2) PTG Metastatik. Terjadi perluasan penyakit ke luar uterus. Umumnya, bentuk ini adalah karsinoma korion yang sejak awal mempunyai tendensi untuk menginvasi pembuluh darah sehingga terjadi penyebaran jauh.

StadiumBerdasarkan Anatomik maka stadium PTG dibedakan atas (FIGO):

Stadium DiskripsiStadium I Penyakit terbatas pada uterusStadium II Penyakit menyebar ke vagina dan atau pelvisStadium III Penyakit menyebar ke paru dengan atau tanpa adanya

penyakit pada uterus, vagina atau pelvisStadium IV Penyakit menyebar ke otak, hati, ginjal, dan atau saluran

cerna

Sistem Skor risiko WHO

Faktor PrognosisSkor

0 1 2 4Umur (tahun) < 39 > 39Antaseden MH Abortus H.atermBulan dari Kehamilan sebelumnya

4 4-6 7-12 12

hCG (IU/L) 103 103- 103- 103-ABO (laki x perempuan)

- O x AA x O

BAB

IGst Agung MAP,S.Ked94

Page 95: Protap OBGYN

Besar tumor (cm) 3-5 5Tempat Lien, Ginjal GI, hati OtakJumlah Metastasis 1-4 4-8 8Khemoterapi sebelumnya

1 obat > 2 obat

Catatan Skor kurang dari 4 = risiko rendah 5-7 = risiko sedang > 7 = risiko tinggi

Kriteria Diagnosis1) Gejala Klinis.

a. Riwayat pasca evakuasi mola hidatidosa atau kehamilan lain.b. Perdarahan pervaginam tidak teratur.c. Batuk darah, sesak nafas, dan nyeri ulu hati.d. Keluhan sesuai dengan perluasan penyakit ke sistem lainnya.

2) Pemeriksaan Fisik Umum.

Tanda-tanda kelainan fisik adalah sesuai dengan organ yang terkena penyebaran penyakit misalnya paru-paru, hati, otak dan lain-lain.

3) Pemeriksaan Ginekologi.

a. HBEs (Trias Acostasizon): H (History) yaitu pasca mola hidatidosa, partus, abortus, dan hamil

ektopik. B (Bleeding) yaitu perdarahan pervaginam tidak teratur. Es (Enlargement and softness) yaitu uterus membesar dan lunak.

b. Kista theca lutein unilateral/bilateral.c. Bintik tumor kebiruan pada dinding/mukosa vagina.

4) Laboratorium.

-hCG serum/urine tinggi atau tidak turun memadai pada pemantauan pasca evakuasi mola hidatidosa.

5) Pemeriksaan Penunjang.

a. Foto toraks.b. DL, LFT, RFT.c. Kalau perlu: USG abdomen/pelvis, CT-scan, fungsi tiroid, dll.

Skema Penatalaksanaan PTG

PENYAKIT TROFOBLAS GANAS

Stadium I Stadium II-IIIStadium

IV

IGst Agung MAP,S.Ked95

Stadium Sistem skor

Page 96: Protap OBGYN

Ingin Anak

Anak Cukup

Risiko rendah

Risiko tinggi

Histerektomi

M T X / A C D MCA

MAC Radiasi + 2.000 –

3.000 rad

Catatan.Terapi radiasi dipilih apabila terdapat metastasis ke otak/hati dengan dosis 2.000-3.000 rad.

Sitostatika.1) Syarat seperti syarat umum pemberian sitostatika/kemoterapi.2) Diberikan sampai -hCG normal, dilanjutkan 1-3 seri after course.3) Perubahan regimen apabila:

Titer hCG terus meningkat atau menetap setelah pemberian 2 seri. Terdapat tanda-tanda metastase. Resisten apabila 5 seri pemberian -hCG mengalami penurunan tetapi

tidak mencapai normal.4) Dikatakan remisi apabila -hCG normal 3 kali berturut-turut interval 2

minggu. MTX : 20 mg/hari atau 0,4 mg/kgBB/hari im. atau 3 x 5

mg/hari oral selama 5 hari interval 7-10 hari. Actinomycin D : 0,5 mg/hari atau 10-12 mcg/kgBB iv selama 5 hari

interval 7-10 hari. MCA : MTX 15 mg/hari im, Ac.D 0,5 mg/hari iv dan

Chlorambucil 10 mg/hari per oral selama 5 hari interval 2 minggu.

Pengawasan Lanjut1) Dilakukan anamnesis/pemeriksaan.

Keluhan. Pemeriksaan fisik umum. Pemeriksaan ginekologi dan vaginal toucher (VT). -hCG, dan Lain-lain berdasarkan indikasi.

2) Jadwal pengawasan lanjut. Tiga bulan I : setiap 2 mmggu. Tiga bulan II : setiap 4 minggu. Enam bulan II : setiap 8 minggu. Satu tahun II : setiap 3 bulan. Selanjutnya : setiap 6 bulan.

3) Tidak diijinkan hamil selama 2 tahun.

IGst Agung MAP,S.Ked96

Page 97: Protap OBGYN

KANKER SERVIKS

Batasan Kanker serviks adalah penyakit keganasan yang berasal dari leher rahim.

Etiopatogenesis1) Penyebab pasti belum ada yang diketahui.2) Beberapa faktor (multifaktorial) yang diduga:

a. Umur ( 40–60 th/ 20–30 th).b. Paritas ( 4).c. Koitus usia dibawah 16 tahun dan berganti partner seksual;

dihubungkan dengan sifat komplemen histon sperma dan alkalis semen.

d. Merokok aktif dan atau pasif.e. Akseptor pil kontrasepsi.f. Status gizi, sosial ekonomi kultural.g. Status imunitas seperti penderita HIV-AIDS.h. Infeksi: Mikoplasma, Klamidia, dan Virus Herpes Simplek tipe 2.i. Pajanan Virus Human Papilloma onkogenik terutama tipe 16, 18, 33,

35, 45, 58.3) Kanker serviks berawal dari lesi prakanker yang dalam kurun waktu 5-15

tahun dapat menjadi kanker serviks invasif.

PatologiDiagnosis kanker serviks ditegakkan berdasarkan histopatologik dimana dibedakan atas:1) Tipe Epidermoid (80%).2) Tipe Adeno (15%).3) Tipe lain (5%).

Stadium Klinik

Stadium

Deskripsi

0 Karsinoma insituI Karsinoma terbatas pada serviks

I a Tampak serviks tidak mencurigakanI b Tampak serviks mencurigakan

IGst Agung MAP,S.Ked97

Page 98: Protap OBGYN

II Karsinoma menyebar ke Vagina dan atau ParametriumII a Menyebar ke Vagina 2/3 proksimal

II bMenyebar ke Parametrium tetapi tidak sampai ke dinding pelvis

IIIKarsinoma menyebar ke Vagina 1/3 distal, mencapai dinding pelvis, atau terjadi gangguan fungsi ginjal tanpa penyebab yang jelas

III a Penyebaran sampai ke vagina 1/3 distal

III bSampai ke dinding pelvis atau karsinoma dengan gangguan fungsi ginjal tanpa penyebab yang jelas

IV Karsinoma serviks menyebar ke organ sekitar atau jauhIV a Penyebaran ke organ sekitar di daerah pelvisIV b Penyebaran jauh

Kriteria Diagnosis1) Gejala Klinis.

a. Perhatikan faktor risiko.b. Tanpa keluhan.c. Dengan keluhan:

Keputihan. Perdarahan pervaginam abnormal. Perdarahan post koital. Perdarahan pasca menopause. Gangguan kencing dan defekasi. Nyeri daerah pelvis, pinggang/punggung, dan tungkai.

Keluhan-keluhan lain sesuai dengan lokasi penyebaran penyakit.

2) Pemeriksaan Fisik Umum.a. Pembesaran kelenjar limfe supra klavikula dan inguinal.b. Pembesaran lever, ascites, dan atau lain-lain sesuai dengan organ yang

terkena.3) Pemeriksaan Ginekologi.

a. Vaginal toucher. Vagina: fluor, fluksus, dan tanda-tanda penyebaran/infiltrasi pada

vagina. Porsio: berdungkul, padat, rapuh, dengan ukuran bervariasi,

eksofitik atau endofitik. Korpus uteri: normal atau lebih besar, kalau perlu dilakukan

sondase untuk konfirmasi besar dan arah uterus dan apakah terjadi piometra dan hematometra.

Adneksa/parametrium: tanda-tanda penyebaran, teraba kaku/ padat, apakah terdapat tumor.

b. Rectal Toucher. Menilai penyebaran penyakit kearah dinding pelvis yaitu Cancer Free

Space (CFS) merupakan daerah bebas antara tepi lateral serviks dengan dinding pelvis. Kriteria : CFS 100% : berarti belum ada tanda-tanda

penyebaran.CFS 25-100% : berarti ada penyebaran, tetapi belum

mencapai dinding pelvis.

IGst Agung MAP,S.Ked98

Page 99: Protap OBGYN

CFS 0% : berarti penyebaran mencapai dinding pelvis.

c. Pemeriksaan VT dan RT untuk menilai penyebaran ke organ sekitar kolon, rektum dan vesika urinaria.

4) Pemeriksaan Penunjang.a. Pap smear sebagai skrining.b. Biopsi dengan/tanpa tuntunan kolposkopi.c. Konisasi.d. Tes fungsi ginjal, hati, dll. e. Pemeriksaan lain sesuai dengan keperluan:

Foto toraks. USG ginjal/abdomen. IVP.

Skema Penalaksanaan Kanker Serviks Uteri

KARSINOMA SERVIKS UTERI

Stadium 0 Stadium I-IIAStadium

IIBStadium

IIIStadium

IV

Ingin Anak

Radikal Histerektomi

Neo adjuvant:KhemoterapiKhemo+radia si internal

Khemoradia

si (kemo

-radiasi eksternal)

Tidak Ingin Anak

Sel ganas (+)Pd kel. Limfe / limfe vaskuler inolvement (+)

Konisasi

Sel ganas (-) Pd kel.

Limfe/ limfe vaskuler

inolvement (-)

Operabel

Radiasi

Paliatif Radiasi

/operasi / sitostatika paliatif

Simptomatis

eksternal

Histerektomi

Non

Operabel

Adjuvant terapiEksternal radiasi 4.000 – 5.000 rad

Radikal

Sitostatika PVB / BOM

Histerektomi

Pengawasan

Eksternal Radiasi

lanjut 4.000-5.000 rad

Catatan.

IGst Agung MAP,S.Ked99

Sistoskopi. CT Scan. Rektoskopi.

Page 100: Protap OBGYN

1) Terapi radiasi dapat diberikan pada setiap stadium.2) Paliatif anti nyeri selain untuk pasien stadium invasif-lanjut juga dapat

diberikan pada setiap stadium sesuai dengan keluhan.3) Pada kanker serviks stadium Ib ke atas dengan kehamilan diberikan

khemoterapi neo-adjuvant setelah dilakukan KIE kepada pasien, suami, dan keluarga.

Pengawasan Lanjutan1) Pemeriksaan.

a. Anamnesis.b. Pemeriksaan fisik umum.c. Pemeriksaan ginekologi.d. Pap Smear:

Tiga bulan I setiap bulan. Dua tahun II setiap 3 bulan. Selanjutnya setiap 6 bulan.

2) Kalau perlu pemeriksaan penunjang:a. Laboratorium: LFT, RFT, HB, Leuko, Trombosit.b. Foto Toraks, IVP.

Skema Penalaksanaan Kanker Serviks Uteri Dengan Kehamilan

KARSINOMA SERVIKS UTERI DENGAN KEHAMILAN

S t a d i u m 0Stadium Ia

S t a d i u m I b ke atas

Aterm–Partus pervaginam /

SC

Prematur: PAP Smear

Kolposkopi tiap bulan

Tunggu

aterm SC

Terapi sesuai karsinoma serviks tanpa

kehamilan

Setelah masa Nifas

Konisasi Tri IIUK 20 mg

Operasi

radikal Tdk ingin

Std. 0 UK 20-30 mg

IGst Agung MAP,S.Ked100

Page 101: Protap OBGYN

anak lagi

pd Waktu selesai masa

Std Invasif

Eks. Radiasi / Histerektomi

UK > 30 mg

Ingin anak lagi Aterm

Spt / SC SC

Histerek

tomi

Sesuai terapi

Ca Serviks tdk hamil

Terapi sesuai Std.

invasif

Tunggu pematangan paru,

SCKonisasi

Pengawasan

Std. 0Std. invasif Operasi radikal dan atau

khemoradiasi

Pengawa

san

Terapi sesuai Std.

invasif

KARSINOMA VULVA

BatasanKarsinoma vulva adalah keganasan primer pada vulva.

IGst Agung MAP,S.Ked101

Page 102: Protap OBGYN

Etiopatogenesis1) Penyebab belum diketahui dengan pasti. 2) Diduga karena rangsangan kronis berupa iritasi/trauma pada lesi preinvasif

seperti: VIN, Vulvar distrofi, dan Paget's diseases.3) Dicurigai sebagai faktor predisposisi adalah:

a. Multi partner seksual.b. Riwayat genital warts oleh HPV, danc. Perokok.

Patologi1) Diagnosis ditegakkan berdasarkan hasil pemeriksaan histopatologi.2) Jenis histopatologis:

a. Squamous cell carcinoma (90%).b. Melanoma (4-5%).c. Verrucous carcinoma (2-3%).d. Adeno carcinoma, basal cell carcinoma, sarcoma (2-4%).

Penentuan Stadium Klinis

Stadium TNM Klinik

0 - Karsinoma insitu VIN 3 non invasive Pagets disease

I Ti No MoTi Ni Mo

Tumor terbatas pada vulva diameter kurang dari 2 cmTak ada pembesaran kelenjar limfe inguinal yang mencurigakan

II T2 No MoT2 Ni Mo

Tumor terbatas pada vulva, diameter > 2 cmTidak ada pembesaran kelenjar yang mencurigakan

III T3 No MoT3 Ni Mo

T3 M2 Mo

Tumor dengan berbagai ukuran:1. Penyebaran ke uretra dan/atau vagina, perineum/anus2. Secara klinis pembesaran kelenjar inguinal

dicurigai metastaseIV Tx N3 Mo

T4 No MoT4 Ni Mo

Tu Nx Mia

Tx Nx Mib

1. Infiltrasi ke mukosa kandung kencing, mukosa rektum, 1/3 bagian atau mukosa uretra dan atau

2. Terfiksir ke tulang dan atau3. Penyebaran jauh

Kriteria Diagnosis1) Gejala Klinis.

a. Sering ditemukan pada masa menopause, rata-rata umur 65 tahun.b. Keluhan yang sering adalah pruritus dan massa di daerah vulva.

IGst Agung MAP,S.Ked102

Page 103: Protap OBGYN

c. Kadang-kadang disertai perdarahan.d. Keluhan yang lain sesuai dengan organ yang terkena perluasan

penyakit.2) Pemeriksaan fisik dan Ginekologi.

a. Pembesaran kelenjar inguinal berupa masa padat atau ulkus.b. Tumor berdungkul seperti bloom kol atau bentuk ulkus di daerah vulva.c. Tanda-tanda lain sesuai luasnya penyakit.

3) Pemeriksaan Penunjang.a. Pap Smear.b. Kolposkopi.c. Biopsi.

Skema Penatalaksanaan Karsinoma Vulva

KARSINOMA VULVA

Stadium 0

Stadium I-II Stadium III - IV

Eksisi Lokal

Vulvektomi Groin

disection Limfadenek

tomi

Radiasi eksternal

2.000-3.000 rad

Radikal vulvektomi/

yg lebih advance

Paliatif

Non Opera

bel

Operabel

Post Operasi

Radiasi eksternal 4.000 – 5.000 rad

Sel Ganas (-) pd kel.

Limfe

Sel Ganas (+) pd kel.

Limfe

Catatan : Sitostatika biasanya diberikan untuk radiosensitisasi

Pengawasan lanjutan

Eksternal Radiasi 4.000 –

5.000 rad

Pengawasan Lanjutan1) Pemeriksaan.

a. Anamnesis.b. Fisik Umum.c. Ginekologi, dan

IGst Agung MAP,S.Ked103

Page 104: Protap OBGYN

d. Kalau perlu Pap Smear, kolposkopi atau biopsi.2) Jadwal.

a. Tiga bulan I : setiap minggu.b. Sembilan bulan II : setiap bulan.c. Satu tahun II : setiap 3 bulan.d. Selanjutnya : setiap 6 bulan.

KARSINOMA ENDOMETRIUM

BatasanKarsinoma endometrium adalah keganasan yang berasal dari endometrium.

EtiopatogenesisPenyebab belum diketahui pasti. Dikemukakan bahwa peranan estrogen sebagai karsinogenik dimana faktor risiko adalah:

1) Hiperplasia glandulare.2) Obesitas.

3) Terapi estrogen.4) Diabetes Melitus.5) Lain-lain seperti nulipara, late menopause, dan hipertensi.

PatologiDiagnosis ditegakkan berdasarkan hasil pemeriksaan histopatologis.Jenis histopatologis:1) Adeno karsinoma (65%).2) Adenoma akantoma (19%).3) Lain-lain (16%).

Stadium Klinik

Stadium DeskripsiStadium 0 Karsinoma insituStadium I

Stadium IaStadium Ib

Karsinoma terbatas pada uterusKedalaman kavum uteri kurang dari 8 cmKedalaman kavum uteri lebih dari 8 cm.

Gl = Well differentiated Adeno CaG2 = Moderately differentiated Adeno CaG3 = Undifferentiated Adeno Ca

Stadium II Karsinoma menyebar ke serviks uteri.

Stadium IIIKarsinoma menyebar ke luar uterus tapi tidak keluar dari true pelvic

Stadium IVStadium IVaStadium IVb

Karsinoma menyebar ke luar dari true pelvicPada organ yang berhubunganPenyebaran ke organ jauh

IGst Agung MAP,S.Ked104

Page 105: Protap OBGYN

Kriteria Diagnosis1) Gejala Klinis.

a. Umur rata-rata 60 tahun.b. Perdarahan pervaginam.c. Lekore.d. Ada masa atau perasaan tidak enak pada perut bagian bawah.

2) Pemeriksaan fisik umum.a. Kegemukan.b. Hipertensi.c. Bila terjadi metastasis.

Asites. Tanda-tanda lain sesuai dengan organ yang terkena.

3) Pemeriksaan Ginekologi.a. Perdarahan pervaginam, lekore.b. Piometra, dan c. Evaluasi besar dan mobilitas uterus, tanda-tanda penyebaran pada

adneksa, parametrium, dan kavum Douglasi.4) Pemeriksaan Penunjang.

a. Kuretasi endoserviks dan endometrium.b. Endometrial aspirasi biopsi.c. Pap Smear sebagai skrining.d. Histeroskopi.e. Pemeriksaan lain sesuai keperluan, misalnya: Ca 125. CEA, reseptor

estrogen, dll.

Skema Penanganan Karsinoma Endometrium

KARSINOMA ENDOMETRIUM

Stadium 0 Stadium I-II Stadium III-IV

Stadium I-G1

Stadium I-G2-3

Radikal histerektomi /

TAH BSO Ekstended +

Selektif Pelvik / Aortik

Limfadenektomi

TAH BSO

Ekstended + Ex. Radiasi/ Sitostati

ka / Progrest

eron

Radiasi Intra kaviter

3.000 mghEx. Radiasi :

Pelvis : 4.000–5.000

rad Abdomen :

2.000–3.000 rad

TAH BSO + Pelvik & Para aortik

TAH BSO Ekstended + pelvik &

aortik

Radiasi intrakaviter 3.000 mgh,

setelah 6 mgg Radiasi intra kaviter

IGst Agung MAP,S.Ked105

Page 106: Protap OBGYN

limfa denektomi

selektif

limfadenektomi

selektif

lanjutkan TAH BSO

Ekstended+selektif pelvik & aortik limfadenektomi

3.000 mgh + TAH BSO Ekstended + Radiasi Eksterna

pelvik & abd./Sitostatika/

progresteronP o s t O p e r a s i

Sel ganas (+) pd kel. Limfe

Sel ganas (-) pd kel. Limfe

Ex. Rad pelvik (4.000-5.000 rad)/ Sitostatika /

progesteronPengawasan

Catatan.1) Pada waktu laparotomi.

a. Dilakukan sitologi cairan/pencucian kavum peritoneum.b. Setiap daerah yang mencurigakan penyebaran keganasan dilakukan

biopsi.c. Setelah uterus terangkat, dibelah dan diperhatikan luas penyebaran/

dalamnya penyakit pada dinding uterus.2) Sitostatika.

Regimen : CAP (Cyclophoshamide + Adriamicin + Cis. Platinum)Melphalan + 5 Fluro urasil (5 FU)Adriamycin + Cyclophosphamide.

3) Progesteron.a. Megistrol 180 mg - 320 mg/hari per oral.b. Medroksi progesteron asetat/kaproat 1000 mg/minggu i.m.c. Medroksi progesteron asetat 150-200 mg/hari per oral.

4) Tamoksifen (anti estrogen): 20-40 mg/hari dan lama pemberian seperti pada terapi progesteron.

5) Terapi definitif diberikan selama tidak terjadi rekurensi atau bila tidak progresif.

6) Terapi adjuvant 8-12 minggu.Pengawasan Lanjutan

1) Komponen yang dievaluasi:a. Keluhan.b. Keadaan fisik.c. Pemeriksaan ginekologi bimanual.d. Pemeriksaan lain kalau perlu seperti: Pap Smear, foto toraks, CT-Scan,

dan tumor marker.2) Jadwal pengawasan lanjut:

a. Satu tahun I : setiap 1 bulan.b. Satu tahun II : setiap 3 bulan.c. Selanjutnya : setiap 6 bulan.

IGst Agung MAP,S.Ked106

Page 107: Protap OBGYN

KANKER OVARIUM

BatasanKanker ovarium adalah keganasan pada organ ovarium baik primer maupun sekunder.Tumor neoplastik ovarium berasal dari:1) Coelomic epithelium.2) Germ cell.3) Metastatic dari organ lain.

EtiopatogenesisEtiologi belum diketahui dengan pasti.Diduga berhubungan dengan faktor:1) Herediter.2) Lingkungan fisik dan kimia.3) Ovulasi.4) Abnormalitas gonad.5) Virus.

PatologiDiagnosis keganasan dan tipe histopatologis berdasarkan atas pemeriksaan histopatologi.1) Derajat Keganasan.

a. Borderline/low potential malignancy.b. Frankly malignant.

IGst Agung MAP,S.Ked107

Page 108: Protap OBGYN

2) Tipe Histopatologis. a. Epithelial (90%).b. Nonepithelial (10%).

Kriteria Diagnosis1) Gejala Klinis.

a. Dicurigai kanker ovarium usia kurang dari 20 tahun atau lebih dari 60 tahun /menopause dengan: Tumor kistik atau solid. Mobile atau terfiksir.

b. Sangat dicurigai kanker ovarium: Tumor cepat membesar, padat berdungkul, dan terfiksir. Dapat disertai keadaan umum yang menurun sampai kacheksia,

asites, efusi pleura, gangguan pasase usus, pembesaran kelenjar limfe supra klavikula dan lain-lain sesuai dengan luas penyebaran penyakit ke organ lainnya.

2) Pemeriksaan Penunjang.

a. USG (dikerjakan pada setiap kasus tumor ovarium).b. Tumor marker.c. Laparoskopi.d. Sitologi cairan ascites dan pleura.e. Biopsi kelenjar limfe yang membesar.f. Foto toraks, rektosigmoidoskopi, CT-scan, dan barium enema.g. Pemeriksaan lain kalau perlu.

3 ) Stadium klinis kanker ovarium (FIGO), berdasarkan evaluasi klinik dan

atau operatif:

Stadium DeskripsiStadium I

Stadium Ia

Stadium Ib

Stadium Ic

Tumor tumbuh terbatas pada ovarium Terbatas pada satu ovarium, kapsul intak, tidak ada

tumor pada permukaan dan sel ganas (-) pada cairan ascites.

Terbatas pada kedua ovarium, kapsul intak, tidak ada tumor pada permukaan dan sel ganas negatif pada cairan ascites atau cucian peritoneum

Adalah stadium Ia dan Ib dengan tumor pada permukaan ovarium atau ruptur kapsul atau ascites dengan sel ganas (+) atau cucian peritoneum sel ganas (+)

Stadium II

Stadium IIa

Stadium IIb

Pertumbuhan tumor pada satu atau kedua ovarium dengan penyebaran pada pelvis Penyebaran ke uterus atau tuba Penyebaran ke organ pelvis lainnya Stadium IIa/IIb dengan tumor pada permukaan

ovarium atau ruptur kapsul, atau asites dengan sel ganas (+) atau cucian peritoneum sel ganas (+)

IGst Agung MAP,S.Ked108

Page 109: Protap OBGYN

Stadium IIc

Stadium III

Stadium IIIa

Stadium IIIb

Stadium IIIc

Tumor pada satu/kedua ovarium dengan implantasi tumor pada peritoneum diluar kavum pelvis dan/atau pembesaran kelenjar limfe retroperitoneal/inguinal (+), Metastasis ke bagian superfisial hati atau tumor terbatas pada rongga pelvis tetapi pemeriksaan histopatologi terhadap perluasan pada usus halus atau omentum. Tumor secara makros terbatas pada true pelvis

dengan pembesaran kelenjar limfe (-) tetapi secara histologi ada perluasan pada peritoneum abdomen.

Stadium IIIa dan perluasan tumor pada peritoneum abdomen kurang dari 2 cm, pembesaran kelenjar limfe (-).

Stadium IIIa + pertumbuhan tumor pada peritoneum abdomen lebih dari 2 cm dan atau pembesaran kel limfe retroperitoneal/inguinal (+).

Stadium IV

Tumor pada satu atau kedua ovarium dengan metastase jauh berupa pleural efusion dengan sitologi (+) atau penyebaran pada parenkim hati.

Catatan :Stadium lc apabila stadium Ia terjadi:a. Kapsul ruptur spontan atau dipecahkan oleh operator.b. Sitologi (+) dari cairan peritoneum atau ascites.

PenatalaksanaanA. Tindakan Operatif (Surgical Staging).

1) Insisi pada garis tengah.2) Setiap cairan bebas di kavum peritoneum diambil untuk pemeriksaan

sitologi terutama di kavum Douglasi.3) Bila cairan bebas tidak ada, dilakukan pencucian peritoneum dengan

NaCI 0,9% 5-10 cc kemudian dilakukan pemeriksaan sitologi.4) Eksplorasi terutama kavum Douglasi, parakoloiliakal, dan

subdiafragma.5) Setiap daerah yang mencurigakan ganas atau perlekatan pada

peritoneum hendaknya dibiopsi.6) Daerah retroperitoneum yaitu daerah pelvis dan para aorta dievaluasi,

bila pembesaran kelenjar limfe positif maka dilakukan limfadenektomi.7) Pengangkatan tumor:

a. Diusahakan mengangkat tumor secara utuh.b. Bila tidak bisa, dilakukan debulking yaitu mengangkat tumor

semaksimalnya.c. Perhatikan tumor secara makroskopis dengan teliti, bila ada

keraguan dilakukan Frozen Section.8) Pengangkatan uterus dan ovarium melalui TAH-BSO dilakukan pada

kasus-kasus yang sudah jelas ganas atau usia diatas atau sama dengan 50 tahun.

9) Omentektomi, dilakukan pada kasus yang sudah jelas ganas secara makros/mikros. Dikerjakan mulai kolon trasversum.

IGst Agung MAP,S.Ked109

Page 110: Protap OBGYN

B. Terapi. Terapi berdasarkan stadium dan tipe histopatologik.1) Keganasan Boderline.

a. Stadium I : Salpingoooforektomi Unilateral.b. Stadium Ic-IV : TAH-BSO/Debulking + Omentektomi +

Kemo/radioterapi.2) Frankly Malignant.

a. Epithelial. Stadium la-G1 ingin anak dilakukan SO unilateral dengan

catatan: Post operasi dapat dilakukan follow-up teratur secara klinis

dan tumor marker. Setelah anak cukup maka uterus dan ovarium kontralateral

diangkat. Tidak ada kelainan lain pada pelvis. Kapsul utuh dan tidak ada perlekatan. Tidak ada invasi ke kapsul, kelenjar limfe dan omentum.

Stadium Ib-Gl, dilakukan TAH-BSO + Omentektomi. Stadium Ia, b, c,-G2-3 sampai stadium IV dilakukan TAH-

BSO/Debulking + Kemo/radioterapi.

b. Nonepithelial .

Stadium Ia-Gl, ingin anak dilakukan SO Unilateral. Stadium Ia, G2-3- IV dilakukan TAH-BSO + Omentektomi +

Kemo/radioterapi.3) Sitostatika pilihan utama dan radiasi:

a. Jenis epitelial adalah CAP (Cyclophosphamide, Adriamycine dan Cis Platinum).

b. Jenis nonepitelial adalah: PVC (Cis Platinum, Vinblastin dan Bleomycine). VAC (Vincristin,Actinomycin D. dan Cyclophosphamide).

c. Radiasi Ekstemal: Pelvis : 4.000-5.000 rad. Abdomen/Tempat lain : 2.000-3.000 rad.

C. Operasi Second Look.Dilakukan dengan tujuan:1) Konfirmasi staging, bila pada operasi sebelumnya tidak dilakukan

staging secara lengkap.2) Reduksi massa tumor, pasca terapi sitostatika dimana telah terjadi

regresi atau progresi tumor.3) Evaluasi pasca terapi sitostatika, secara klinis penderita bebas dari

penyakit yang dilakukan 4-12 bulan setelah terapi sitostatika.

D. Kasus kanker ovarium dengan kehamilan.1) Adjuvant kemoterapi dapat diberikan setelah kehamilan 16 minggu.2) Operasi komplit (TAH-BSO + Omentektomi) dilakukan setelah anak

lahir atau pada waktu SC. Tehnik operasi sama dengan eksplorasi seperti laparotomi awal.

Skema Penatalaksanaan Tumor Ovarium

IGst Agung MAP,S.Ked110

Page 111: Protap OBGYN

TUMOR OVARIUM

Tidak Curiga Ganas Tumor Kistik

< 7 cm Tumor Kistik

> 7 cm, usia 20-60 tahun

Curiga Ganas Tumor solid, mobil tidak

berdungkulKistik > 7 cm, usia < 20 dan > 60 tahun, menopause

Sangat Curiga Ganas

Kistik < 7 cm

Kistik, Umur 20-

60 thnSolid Kistik

LapatomiTumor di belah

Observasi 2-3

bulanPil KB

Usia > 50 thn

TAH-BSO

Usia < 50 thn

Usia < 60 thn Keganasan

meragukan

Keganasan

meyakinkan

Usia 20-50 tahun Kistektomi Ooforektom

i SO

Unilateral

Usia > 50 thn/

menopause

Usia > 60 thn/ meno

pause

Usia > 50

tahun

TAH-BSO Debulking Omentek

tomi

Laparotomi Tumor dibelah

Usia < 50 tahun

Curiga Ganas

Tidak curiga ganas

TAH-BSO+

Omentektomi

TAH-BSO

F r o z e n S e c t i o n / C i t o F r o z e n S e c t i o n

IGst Agung MAP,S.Ked111

Page 112: Protap OBGYN

Ganas Tidak Ganas

TAH-BSO+ Omentektomi

SO Unilateral

IGst Agung MAP,S.Ked112

Page 113: Protap OBGYN

Pengawasan Lanjutan1) Pemeriksaan meliputi:

a. Anamnesis.b. Pemeriksaan fisik umum.c. Pemeriksaan ginekologi.d. Tumor marker (kalau perlu).e. Fungsi hati, ginjal dan sumsum tulang (kalau perlu).

2) Jadwal.a. Tiga bulan I : setiap 2 minggu.b. Sembilan bulan II: setiap 4 minggu.c. Tahun II: setiap 3 bulan.d. Tahun-tahun berikutnya: setiap 6 bulan

IGst Agung MAP,S.Ked113