Berbagai faktor budaya dlm kpg

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Global Marketing Comunication

Text of Berbagai faktor budaya dlm kpg

  • 1. FIKOM UPI YAI KULIAH6 Amia Luthfia, MSi

2. KLASIFIKASI BUDAYA

  • Budaya dapat diklasifikasi ke dalam dimensi-dimensi budaya nasional, sbb:
  • Budaya high-context dan low-context (HC-LC)
  • Dimensi waktu
  • Hubungan manusia dengan alam
  • Jarak terhadap kekuasaan (power distance/PDI = power distance index)
  • Individualisme kolektivisme (IND-COL)
  • Maskulin feminin (MAS-FEM)
  • Penghindaran terhadap ketidakpastian (uncertainty avoidance/UAI = uncertainty avoidance index)
  • Orientasi jangka panjang (long term orientation/LTO)
  • Ket:
  • Dimensi no.1 s/d 3 di atas dideskripsikan oleh ahli antropologi Edward Hall
  • Dimensi no.4 s/d 8 dideskripsikan oleh Geert Hofstede. Lewat kelima dimensi budayanya Hofstede menjelaskan perbedaan-perbedaan nilai dasar antar kutub budaya. Dimensi-dimensi budaya Hofstede makin digunakan sebagai variabel-variabel independen/mandiri bagi berbagai kajian perbandingan antar-budaya dan menyajikan banyak penjelasan berguna dari perbedaan-perbedaan perilaku konsumen antar budaya.

3. 1.BUDAYA HIGH CONTEXT-LOW CONTEXT (HC LC)

  • Hall membedakan kelompok-kelompok budaya berdasarkan jenis konteksnya dalam sistem komunikasi:
  • Budaya high context (HC)
  • Budaya low context (LC)
  • Dalam komunikasi high context, kebanyakan informasi adalah bagian dari konteks atau diinternalisasi dalam diri pelaku komunikasi. Jarang sekali komunikasi diungkapkan secara eksplisit. Di sini banyak digunakan simbol-simbol yang hanya dikenali oleh kelompok budaya penggunanya. Di luar kelompok budaya tersebut, makna dari simbol tersebut tidak dikenali.
  • Sebaliknya dalam budaya low-context, informasi dan komunikasi dilakukan secara eksplisit, sebagai bagian dari pesan. Di sini komunikasi ditandai oleh pesan-pesan verbal yang eksplisit. Komunikasi verbal yang eksplisit diharapkan bersifat langsung (direct) dan jelas/tidak menimbulkan keraguan (unambiguous).

4. 1.BUDAYA HIGH CONTEXT-LOW CONTEXT (HC LC)

  • Dalam komunikasi pemasaran (iklan), argumentasi dan retorika lebih banyak ditemukan dalam budaya-budaya low-context
  • Sementara budaya-budaya high-context ditandai oleh simbolisme atau ekspresi-ekspresi verbal tidak-langsung atau simbolisme.
  • Kebanyakan budaya Asia bersifat high-context sementara kebanyakan budaya Barat bersifat low-context. Kutub-kutub ekstremnya misalnya antara Cina dan Jepang dan Jerman, Swiss, dan Amerika Serikat
  • Satu konsekuensi penting dari konteks adalah kata-kata, kalimat, dan gambar memiliki makna yang berbeda bergantung pada konteks dalam mana mereka diciptakan.

5. 2.DIMENSI WAKTU

  • Makna waktu di sini lebih dari sekedar yang tertera pada jam dinding. Budaya berbeda memiliki konsep waktu yang berlainan pula.
  • Iklan-iklan Barat cenderung menggunakan jam dalam materi-materi globalnya untuk mensimbolkan efisiensi.
  • Namun simbol jam tidak dikenali dalam budaya-budaya di mana orang memiliki rasa waktu yang berbeda dengan budaya Barat.
  • Waktu merupakan sistem inti dari kehidupan budaya, sosial, dan personal. Tiap budaya memiliki kerangka waktunya sendiri-sendiri.
  • Kajian penting dari Edward Hall, ahli antropologi, mengungkapkan bahwa waktu adalah sebuah ekspresi/ungkapan budaya, dan karenanya mampu menjelaskan berbagai perbedaan yang ada dalam perilaku dan bahasa.

6. 2.DIMENSI WAKTU

  • KONSEP WAKTU YANG BERLAINAN MENJELASKAN PERBEDAAN-PERBEDAAN SIGNIFIKAN DALAM PERILAKU MANUSIA pada budaya yang berbeda-beda.
  • Hall membedakan jenis-jenis waktu, yaitu:
    • waktu biologis (terang-gelap/siang-malam, panas-dingin/musim panas-musim dingin/musim kemarau-musim hujan)
    • Waktu pribadi (bagaimana waktu dialami)
    • Waktu sinkronik/sync time (tiap budaya memiliki tekanan waktunya masing-masing)
  • Beberapa aspek waktu yang relevan dengan perilaku konsumen adalah sbb:
    • Closure
    • Orientasi masa lalu, masa sekarang, dan masa mendatang
    • Waktu linear versus waktu sirkular
    • Waktu monokronik versus waktu polikronik
    • dan sebab-akibat

7. A. CLOSURE

  • Bangsa Amerika terdorong untuk mencapai apa yang disebut psikolog sebagai closure
  • Closure di sini maksudnya adalah bahwa sebuah tugas harus rampung, tuntas, paripurna. Bila tidak, akan dipandang percuma atau sia-sia.
  • Karenanya cerita-cerita Amerika, baik di novel maupun film selalu berakhir dengan happy ending, mendapatkan solusi/jalan keluar terhadap masalah. Hal ini merupakan hal yang amat langka bagi novel-novel Jepang misalnya.

8. B.ORIENTASI WAKTU:masa lalu, masa kini, masa datang

  • Bangsa Amerika Utara cenderung berorientasikan masa depan: masa depan menjadi panduan/tuntunan bagi tindakan mereka saat kini.
  • Yang lama dengan mudah dilenyapkan dan mengambil yang baru. Bagi mereka segala hal dapat dibuang dan diperbaharui (disposable): gagasan, trend, trend manajemen, sampai kepada pasangan hidup. Bahkan yang lama pun diperlakukan sebagai baru.
  • Kebanyakan orang Eropa berorientasi masa lalu. Mereka percaya akan pelestarian sejarah dan meneruskan tradisi-tradisi masa lalu.
  • Jepang memiliki horison waktu berjangka sangat panjang, seperti juga bangsa Cina, namun bangsa Jepang memandang masa lalu untuk mendapatkan inspirasi.

9. B.ORIENTASI WAKTU:masa lalu, masa kini, masa datang

  • Bangsa Cina cenderung mengkombinasikan baik masa lalu dan masa depan dalam sebuah pandangan hidup yang utuh-menyeluruh (holistik), termasuk memelihara penghormatan terhadap nenek moyang dan tanggung-jawab jangka-panjang bagi generasi mendatang. Namun demikian mereka tidak respek pada sejarah budaya mereka.
  • Waktu bagi bangsa Afrika dikatakan terdiri dari serangkaian kejadian yang dialami. Masa depan memiliki makna kecil karena kejadian-kejadian masa depan belum terjadi.
  • Bagi bangsa India, takdir merupakan satu aspek dari waktu dan mengacu ke masa-depan. Hal ini merupakan bagian dari dunia kosmis-magis mereka. Bagi bangsa Barat hal ini tahayul dan tidak masuk akal. Dalam pemahaman takdir itu, waktu menjadi bersifat amat-sangat rumit: ada kecenderungan mengenai apa yang akan terjadi di masa datang, bagian mana yang seseorang akan terima, dan bagian apa yang seseorang harus jalani.

10. C.WAKTU LINEAR dan SIRKULER

  • Waktu dapat dilihat sebagai satu garis rangkaian kejadian-kejadian atau suatu yang bersifat siklikal/berputar dan repetitif/berulang, memadatkan masa lalu, masa kini, dan masa depan dengan hal-hal sama yang dimiliki, yaitu: musim dan ritme.
  • Orientasi waktu siklikal dan repetitif berkaitan dengan budaya Asia, dan yang pertama adalah orientasi waktu Barat.

11. C.WAKTU LINEAR dan SIRKULER

  • Konsep waktu linear menyebabkan orang melihat waktu secara terbagi-bagi, didominasi oleh jadual. Amerika memiliki konsep waktu linear dengan struktur yang jelas, seperti awal, titik balik, klimaks, dan akhir.
  • Waktu digunakan sebagai sebuah alat ukur dan sebagai sarana untuk mengontrol perilaku manusia dengan cara menentukan tenggat-waktu dan sasaran-sasaran.
  • Waktu bersifat tangible/nyata/riil/kasat-mata, seperti obyek, dapat disimpan, dihabiskan, ditemukan, hilang, dan tersia-sia.

12. C.WAKTU LINEAR dan SIRKULER

  • Di Jepang, waktu bersifat sirkuler dan berkaitan dengan makna/arti khusus dari suatu kerangka waktu.
  • Bagi bangsa Jepang, waktu tidak dimaknai sebagai hari ini, besok, atau lusa. Kerangka waktu membentuk suatu spiral waktu otomatis, segala sesuatu secara otomatis akan kembali.
  • Perkataan balik ke nilai-nilai masa lalu di Jepang tidak berarti melangkah mundur, namun justru melangkah ke depan. Itu berarti maju melalui sebuah spiral ke atas, dengan memanfaatkan apa yang baik di masa lalu untuk melangkah maju.

13. D.WAKTU MONOKRONIK &WAKTU POLIKRONIK

  • Orang-orang dari budaya waktu monokronik cenderung mengerjakan satu hal saja dalam satu kerangka waktu. Mereka bekerja terorganisir dan metodis. Hari-hari kerja mereka terstruktur untuk menyelesaikan tugas demi tugas.
  • Orang-orang dari budaya polikronik, sebaliknya, cenderung mengerjakan berbagai hal secara bersamaan. Hari-hari kerja mereka bukanlah seperti suatu mata rantai tersendiri, satu demi satu. Ba gimereka waktu lebih seperti suatu samudra luas dan cepat yang menyebar ke segala arah.

14. D.WAKTU MONOKRONIK &POLIKRONIK

  • Orang Jerman mengelola waktu secara kaku dan terkotak-kotak. Sementara bagi orang Spanyol, Arab, Pakistan, Amerika Selatan, ketepatan-waktu itu baik, namun sama sekali bukanlah suatu keharusan di tengah hingar-bingarnya kesibukan aktivitas harian.
  • Dalam budaya-budaya monokronik waktu yang dihabiskan di internet mengambil waktu dari berbagai aktivitas lain, misal: nonton TV. Tapi bagi budaya-budaya polikronik, orang bisa mengerjakan dua hal secara bersamaan.

15. E.SEBAB AKIBAT

  • Waktu juga berkaitan dengan konsep sebab-akibat yang digunakan