Tinjauan Hukum mengenai Euthanasia

  • View
    115

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of Tinjauan Hukum mengenai Euthanasia

1. 19BAB IIEUTHANASIA DITINJAU DARI UU NO. 39 TAHUN 1999 TENTANGHAK ASASI MANUSIA DAN DITINJAU DARI SEGI MEDISA. Euthanasia Menurut Undang-undang HAMSebahagian lapisan masyarakat belum memahami tentang makna hakiki hakmanusia. Pada umumnya mereka hanya mengetahui karena banyak mendengardisebut-sebut dalam peraturan sehari-hari, melalui media-media cetak ataupunelektronik. Sedangkan upaya-upaya penyuluhan tentang hak asasi manusia inibelum maksimal dilaksanakan oleh pemerintah maupun Komisi Nasional HakAsasi Manusia (Komnas HAM).Dari kenyataan tersebut maka menimbulkan banyak aksus yang merupakanpelanggaran hak asasi manusia ditafsirkan secara keliru. Ada yang berpikiran inibersifat universal absolute, universal relative, partikularistik absolute, danpartikularistik relative.Banyak pengaduan ke Komnas Ham yang sesungguhnya permaslahn merekaterletak dalam ruang lingkup Hukum Perdata atau Hukum Pidana, tetapi karenakekurangan pemahaman maka mereka datang dan minta agar Komnas HAMmenanganinnya dengan harapan mendapat penyelesaian.Sesungguhnya pemahaman tentang hak asasi manusia seperti tertuang dalamdeklarasi hak asasi manusia PBB, terdapat perbedaan-perbedaan antara Negara-negarabarat dan timur. Negara barat, hak dan kebebasan individu harus dihormati12Universitas Sumatera Utara 2. 20dengan sepenuhnya oleh pemerintah dan masyarakat, individu berhak sepenuhyamengeluarkan pikiran, perasaan dan menjalankan kegiatan-kegiatan lainnya sesuaidengan seleranya sendiri.Sedangkan di Negara-negara timur (termasuk Indonesia) hak kebebasannyadibatasi dengan faktor-faktor agama, adat istiadat masyarakat setempat danbudaya masing-masing. Jadi hak kebebasan individu dibatasi denganpenghormatan pada moral, dan kehormatan sebagian besar masyarakat. Jadideklarasi hak asasi manusia manusia secara keseluruhan hanya dijadikan pedomanbagi pelaksanaan hak asasi manusia didunia. Prinsip-prinsip yang terkandungdalam deklarasi tersebut dapat digunakan sebagai ukuran antara bangsa mengenaihak asasi manusia.Deklarasi hak asasi PBB tahun 1948, menegaskan bahwa setiap orang berhakatas hak-hak dan kebebasnya tanpa ada perbedaan ras maupun jenis kelamin.Walupun deklarasi tersebut sangat penting artinya namun mengingat PBB tidakmemiliki stuktur kekuasaan yang dapat memaksakan kepada anggotanya agarmengimplementasikanya ke dalam undang-undang nasional dan kebijaksanaanmasing-masing anggotanya, maka tentunya deklarasi tersebut tidak mungkinmenjadikan dasar dalam memberlakukan prinsip-prinsip yang tercantum didalamnya.Negara-negara sebagai anggota masyarakat dunia, mengakui bahwa hak-hakasasi manusia yang mendasar tidak diperoleh dari warga Negara tertentu saja,tetapi didasarkan pada sifat kepribadian manusia. Karena mereka membenarkanUniversitas Sumatera Utara 3. 21perlunya perlindungan internasional dalam bentuk konvensi yang memperkuatatau melengkapi perlindungan yang diberikan oleh hukum nasionalnya, makaNegara kita adalah Negara hukum, artinya bukan Negara yang berdasarkankekuasaan, tetapi segala sesuatunya harus dilandasi secara hukum dan menjadikansebagai supremasi.Pancasila yang menjadi landasan idiil Negara, mengandung nilai-nilai luhur,dimana sila kedua yang berbunyi Kemanusiaan yang adil dan beradabmerupakan tuntunan bagi perlindungan dan penegakkan hak asasi manusia yangjuga dijiwai pula dalam Pembukaan UUD 1945.Mengingat hak asasi manusia sebagai suatu yang terkait dengan berbagaiaspek seperti harga diri, harkat dan martabat manusia maupun bangsa, olehkarenanya dalam penanganannya harus melibatkan semua unsur penegak hukum,lembaga-lembaga penyelenggaraan Negara, LSM dan lain sebagainya dan tidakmungkin dilakukan secara ragu-ragu. Apalagi hanya melalui sebuah KomnasHAM saja.Dalam rangaka menjamin hak asasi manusia nampaknya pemerintahbersama-sama dengan Dewan Perwakilan Rakyat sepakat untuk menerbitkanUndang-undang tentang hak asasi manusia. Walaupun tidak mungkin semua hakasasi manusia dimaksud diatur dalam Undang-undang, oleh karenanya UU No. 39tahun 1999 tentang hak asasi yang meliputi pada seluruh aspek kehidupanmanusia, terbukti dalam Pasal 105 ayat 1 sebagai klausal yang menyatakanbahwa disamping hak asasi manusia yang diatur dalm berbagai KonvensiUniversitas Sumatera Utara 4. 22Internasional yang telah diratifikasikan oleh Negara RI yang sudah menjadihukum positif bagi rakyat Indonesia.Tentunya sangat menyambut baik terhadap keberadaan UU No. 39 Tahun1999 tentangt hak asasi manusia tersebut, yang didalamnya pula sekaligusmengatur lembaga pelaksanaan hak asasi manusia di Indonesia yaitu dinamakanKomisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM).Melalui Undang-undang No. 39 Tahun 1999 tentang hak asasi manusia ini,Komnas HAM diberi wewenang untuk melakukan sub poema, yaitu berwenangmemanggil saksi-saksi dengan sanksi bilamana tidak memenuhi panggilandimksud tanpa alasan yang sah. Bahkan juga dapat meminta dokumen tertulissebagai barang bukti atas izin Ketua Pengadilan Negeri. Kewenangan lain yang dimungkinkan adalah dalam penyidikan terhadap pelanggaran hak asasi berat,diakui sebagai barang bukti awal yang cukup guna diproses oleh penyidik danpenuntut umum dan diteruskan ke Pengadilan.Dalam Undang-undang No. 39 Tahun 1999, hak kodrat yang paling utamadiatur adalah hak untuk hidup sebagaimana diatur didalam pasal 9 ayat 1 yaitu:Universitas Sumatera Utara 5. 23Setiap orang berhak untuk hidup, mempertahankan hidup, dan meningkatkantaraf kehidupannya.5Pasal 33 ayat 2 yaitu :Setiap orang berhak untuk bebas dari pengilangan paksa dan penghilangannyawa.6.Sedangkan didalam pengertian hak untuk hidup tercakup pula di dalamnya hakuntuk mati.Berbicara mengenai hak untuk hidup dan hak untuk mati akan terkait denganmasalah Hukum Pidana yang disebut dengan euthanasia. Namun masalah hakuntuk mati itu tidaklah bersifat mutlak, jadi masih terbatas dalam suatu keadaantertentu, misalnya bagi penderita suatu penyakit yang sudah tidak dapatdiharapkan lagi penyembuhannya dan pengobatannya yang diberikan sudah tidakada gunanya lagi. Dalam situasi yang demikian, si penderita boleh menggunakanhak untuk matinya denagn cara kepada dokter untuk menghentikan pengobatan.Misalnya menjadi semakin rumit, bila seseorang pasien sudah sekarat dantidak sadar selam berbulan-bulan, kemudian mengetahui pula bahwa tidak lamalagi maut akan merenggut nyawanya. Baik penderita maupun keluarganya telahberkali-kali mendesak dokter yang merawatnya supaya mengakhiri penderitaanyang tiada terhingga itu dengan jalan melakukan tindakan euthanasia.5 undang-undang No. 39 Tahun 1999 Tentang Hak asasi Manusia, Http//www.yahoo.com6IbidUniversitas Sumatera Utara 6. 24sebagai seorang manusia biasa, sang dokter tidak sampai hati menolak permintaandari pasien dan keluarganya itu apalagi keadaan si pasien yang sudah sekaratberbulan-bulan dan dokter tahu bahwa pengobatan yang selama ini di berikanyaitu sudah tidak berpotensi lagi. Dikatakan mati, ia masih bernafas sekalipun secaraartificial. Disisi lain jika dokter memenuhi permintaan tersebut maka doktertelah melanggar sumpah dan hukum. Sebab melalui pertolongannya itu ia telahmengakhiri hidup seseorang, dan dapat dikatakn ia telah melakukan pembunuhan.Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 26/1960, Lembaran Negara 1960 No. 69,janji dokter adalah sebagai berikut :- Saya akan membaktikan hidup saya dengan car yang terhormat danbersusila sesuai dengan martabat pekerjaan saya.- Saya akan memelihara dengan sekauat tenaga martabat dan tradisi luhurjabatan kedokteran.- Saya akan merahasiakan segala sesuatu yang saya ketahui, karenapekerjaan saya dank arena keilmuan saya sebagai seorang dokter.- Kesehatan penderita senatiasa saya utmakan.- Dalam menunaikan kewajiban terhadap penderita, saya akan berikhtiardengan sungguh-sungguh supaya tidak terpengaruh oleh pertimbangankeagamaan, kebangsaan, kesukuan, politik kepartaian atau kedudukansosial.- Saya akan memberikan kepada guru-guru saya penghormatan danpernyataan terima kasih yang selayaknya.- Teman sejawat saya akan saya perlakukan sebagai saudara kandung.Universitas Sumatera Utara 7. 25- Saya akan menghormati setiap hidup insan mulai dari saat pembuahan.- Sekalipun diancam, saya tidak mempergunakan pengetahuan kedokteransaya untuk sesuatu yang bertentangan dengan hukum danperikemanusiaan.- Saya ikrarkan sumpah/janji ini dengan sungguh-sungguh dan denganmempertaruhkan kehormatan diri saya.7Apabila diakitkan dengan bunyi sumpah/janji dokter seperti tersebut diatasmaka euthanasia jika terpaksa dilakukan berarti sang dokter telah melanggar apayang telah diucapkannya sebelum ia menjalankan profesinya.Dari uaraian diatas, maka dapatlah di simpulkan bahwa hak asasi itu bukanhanya merupakan masalah yuridis saja tetapi berkaitan dengan nilai-nilai etis,moral yang ada didalam masyarakat, dan dapat memberikan gambaran secara jelasmengenai perumusan masalah euthanasia ini masih merupakan permasalahanyang belum jelas penyelesaiannya sampai sekarang ini.B. Pidana Mati, Euthanasia dan Hak-hak Asasi ManusiaSudah sejak lama masalah pidana mati ini menjadi bahan perdebatan di kalanganahli hukum pidana. Tetapi hingga sekarang, belum ada kata sepakat tentang perluatau tidaknya pidana mati itu untuk dipertahankan. Jadi masalahnya masihmerupakan pro dan kontra, dan rasanya memang sampai kapanpun kiranya7Ko Tjay Sing, Rahasia Pekerjaan Dokter dan Advokat, PT. Gramedia-Jakrta, 1978 Hal 93.Universitas Sumatera Utara 8. 26masalah ini akan terus begitu saja. Sebagian negara di dunia ini masih akan terusmempertahankan adanya pidana mati, ternasuk didalamnya Indonesia. Sebagianpula ada yang telah menghapuskannya dalam Undang-undang negaranya. Denganalasan-alasan tertantu. Para sarjana pun ada yang kontra ada pula yang proterhadap pidana mati. Bagi sarjana yang pro pidana mati, seperti misalnyaBichon Van Y sselmonde, Lambrosso, Garofalo, dan lain-lain. Pada umumnyamendasarkan argumentasinya bahwa pidana mati itu dirasakan lebih praktis biayaringan, lebih pasti daripada pidana penjara, yang selama ini paling b