Lentera news #17 Agustus 2015 | Merayakan Agustus

  • View
    328

  • Download
    18

Embed Size (px)

Text of Lentera news #17 Agustus 2015 | Merayakan Agustus

  • 1

    EDISI #17 AGUSTUS 2015

    MERAYAKANAGUSTUS

    Source: https://pendoasion.files.wordpress.com/2014/08/hut-indonesia.jpg

  • 2

    DUKUNG MAJALAH LENTERA NEWSDENGAN DOA DAN DANA

    Kunjungi kami di sini:

    Bank Nasional IndonesiaRek.No. 0307532799 a.n. Hubertus Agustus Lidy

    /LENTERA-NEWS MAJALAHLENTERA.COM

    daft

    ar is

    i Tajuk Redaksi3Telisik4

    7 Lentera khusus

    10 Embun Katekese

    12

    Opini

    20 Ilham sehat

    Merayakan Agustus

    18

    Rumah Joss

    14

    Sastra

    RP Hubertus Lidi, OSC [Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi], Ananta Bangun [Redaktur Tulis], Jansudin Saragih [Redaktur Foto], Rina Malem Barus [Keuangan]

    Penerbit: Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Medan (KOMSOS-KAM) Jalan S.Parman No. 107 Telp. +62614572457 , mp. 085361618545| www.majalahlentera.com | redaksi@majalahlentera.com , beritalentera@gmail.com | Facebook Fan Page: facebook.com/lentera-news

    REDAKSI

    Korupsi Kini Menjadi Mode (II)

    Pelanggaran Liturgi Dalam Perayaan Ekaristi(bag.III)

    Celoteh Merdekadi Ruang Publik

    Pengurbanan & Pelayanan

    Sinta (bag. III)

    23 Lapo AksaraMenghalau Singa

  • 3

    Redaksi

    3

    TAJUK REDAKSI

    Bulan Agustus merupakan momentum istimewa bagi Warga Negara Indonesia. Bulan dimana kita merayakan Hari Kemerdakaan Republik Indonesia. Sebab telah terlepas dari penjajahan di masa silam. Redaksi Lentera News juga hendak berbagi g agasan dan ilham yang lekat dengan makna Hari Kemerdekaan ini. Untuk tidak melulu mengingatkan dendam penjajahan di masa l ampau. Namun, lebih kepada bagaimana kita menyapukan warna baru di kanvas bangsa kita ini.

    Redaksi sungguh dilimpahi berkat, sebab bung Dian Purba ikhlas kolom Pollung - nya direlokasi ke Lentera Khusus. Kisah pelari nir-alas dari Pakkat, Reka Pane, sungguh mengena dengan semangat Lentera bahwa setiap cerita mewariskan pesan moralnya dengan bingkai kisahnya masing-masing.

    Siapa Reka? Mengapa kisahnya dalam merayakan Hari Kemerdekaan RI, juga bisa menyampirkan nilai kehidupannya secara unik. Bergegaslah menelusur kolom Lentera Khusus

    untuk memuaskan rasa penasaran Anda, sahabat pembaca Lentera.

    Tidak hanya bung Dian Purba yang mengakhiri karya cerpennya dalam kolom Sastra, p ermenungan akhir Pater Hubertus Lidi OSC t entang korupsi juga dapat disingkap dalam kolom khususnya di Telisik. Namun, Pater Hubert juga menyempatkan berbagi gagasannya tentang kemerdakan dalam edisi ini untuk kolom Opini.

    Tidak setiap insan dapat menemukan kemerdekaan-nya sendiri. Namun Redaksi Lentera News menyediakan wadah bagi setiap insan yang hendak berbagi gagasan dan kisah sebagaimana para penulis di Lentera News.

    Kami yakin, setiap rajut aksara dari insan yang merdeka, tentu memuat nilai-nilai yang tak ternilai harganya. Kita tidak mesti menjadi yang teratas untuk membuat perubahan, namun apa yang kita beri sebagai pencerahan bagi sesama. Merdeka!!!

  • 4

    RP Hubertus Lidi, OSC hubertuslidiosc@gmail.com

    KORUPSI KINI MENJADI MODE (II)

    TELISIK | KORUPSI

    Kita harus akui bahwa Korupsi itu bak virus yang sudah lama berkembang, bahkan sebelum jaman Zakeus sang Pemungut Cukai. Virus itu siap menyerang siapa saja dan kapan saja. Ga peduli agamanya, kaum berjubah, ber jas, dan berjeans bahkan kaum jelata. Virus ini siap mengembangkan sayapnya ke semua lini kehidupan. Korupsi tidak selamanya harus uang dan harta.

    Korupsi yang sering kita lakukan dan kemungkinan besar tidak disadari sebagai korupsi, dan dilihat sebagai hal yang biasa-biasa saja adalah berkaitan disiplin waktu. Misalnya telat, tarik-ulur, dan absensi kehadiran merupakan bagian dari korupsi waktu. Secara mentalitas menguntungkan secara negatif salah satu pihak dan tentu merugikan pihak yang lain. Kawanku

    yang suka berseloro itu berkomentar: Ya itu sih wajar, karena Indonesiakan penghasil Karet, jadi soal tarik-ulur waktu itu sudah pasti. Maksudnya? Wan, soalnya, kala aku menggugatnya saat ia terlambat jawabnya ialah: ah kau seperti orang Barat saja! Ya.ya.repot, dan memprihatinkan, lagi-lagi Indonesia menjadi daerah endemi korupsi, tanggapku serius.

    Satu sisi orang-orang Indonesia dikenal sebagai orang yang religiositasnya tinggi. Orang agamais, bumi yang dihuni oleh para alim-ulama. Sejak SD orang-orang Indonesia sudah biasa diperhadapkan dengan ungkapan: Beriman dan Bertaqwa. Iman kaitan dengan bagaimana saya percaya akan Allah, dan Takwa bagaimana saya menjalankan perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya. Anda tentu sepakat, kalau saya mengatakan

  • 5

    bahwa Korupsi adalah perbuatan yang dilarang oleh Agama.

    Realitas bahwa Indonesia adalah daerah endemi korupsi, tentu hal ini sangat Paradoks, dalam arti: Ortodoksi tidak sesuai, atau belum menjadi bagian dari Ortopraksis atau dengan kata lain ajaran tidak sesuai dengan perbuatan.

    Kalau kita merujuk pada salah surat dalam Alkitab: Iman tanpa perbuatan adalah mati. Orang menjadi munafik, secara lahiria nampaknya baik, soleh, dan soleha tapi mentalnya busuk. Dalam hal ini Agama bukannya menjadi cermin tetapi sebaliknya dimanfaatkan sebagai topeng. Ibaratnya negara agraris yang mengimpor beras dan kedele dari negara lain. Apakah kita yang religiositasnya tinggi harus mengimpor etika dan moral dari belahan dunia lain? Paradoks.

    Rumah: Tempat Belajar Tidak Korupsi

    Korupsi itu pada prinsipnya merupa-kan perbuatan memperkaya diri den-gan mengambil bagian yang bukan bagianya, mengambil hak orang lain. Dampak dari perbuatan itu menim-bulkan kerugian dan penderitaan bagi orang lain. Mari kita merunut kembali ke belakang, terutama saat-saat masih di rumah asal kita; bersama orang tua dan sank-saudara.

    Saya yakin bahwa Iklim menghargai hak orang, secara khusus terhadap saudara-saudari di dalam rumah, pada prinsipnya telah mendapat perhatian semenjak masih dalam usia balita. Pembinaan dasar agar menghormati dan menghargai bagian dari orang lain tentu sudah dilatih semenjak masih berusia dini. Umpamanya: Merampas bombon adik atau kakanya, baik secara langsung mau-pun tak langsung pasti langsung di

    tegur bahkan telinganya bisa dijewer oleh orang tuanya.

    Jangan-jangan para Koruptor itu semenjak balita sudah biasa main rampas-rampasan bombon adik atau kakaknya dan berusaha kabur dari jeweran orang tuanya.

    Nilai-nilai hidup yang berbarengan dengan pembaharuan mental di rumah, sejak dini diturun-alihkan kepada penghuni rumah adalah bersikap jujur mengakui kesalahan dan mempunyai rasa malu atas sesuatu perbuatan yang tidak berkenan.

    Pembenaran diri, tidak ada penyesalan, dan tidak menunjukan gelagat malu merupakan pemandangan yang biasa yang ditampilkan oleh para Koruptor yang nongol di Media massa, baik cetak maupun elektrik. Jangan-jangan sejak kecil rasa malunya sudah rontok. Kawanku mengusulkan: Wan, sebelum duduk di kursi kekuasaan baiklah kamu terapi kembali rasa malumu, biar ada budaya malumu, kalau tidak nanti main hantam tanpa tata-kromo, alias main serobot saja. Benar juga!

    Mari kita benahi mentalitas kita, mu-lai dari diri, rumah, paguyuban profan dan peribadatan. Yang pasti dampak perbaikan itu akan mempengaruhi baik atas kehidupan.

    Say no to Corruption sebagai iklan sudah banyak dipertontonkan secara visual yang penting adalah bagaimana iklan itu menjadi darah dan daging anak bangsa ini, dan melahirkan sebuah generasi yang tidak korup.

    Copyright ilustrasi: HarianTerbit.com

    Wan, sebelum duduk di kursi kekuasaan

    baiklah kamu terapi kembali rasa malumu, biar ada budaya malumu, kalau tidak nanti

    main hantam tanpa tata-kromo, alias main serobot saja

  • 6

    RP Hubertus Lidi, OSC

    Pemimpin Umum/ Redaksi

    Ananta Bangun

    Redaktur Tulis

    Jansudin Shemy Saragih

    Redaktur Foto

    Segenap Keluarga Besar Majalah LENTERA News

    Turut Bangga Mengucapkan:

    DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA

    KE- 70[ 17 Agustus 2015 ]

  • 7

    LENTERA KHUSUS | HUT KEMERDEKAAN RI

    MERAYAKANAGUSTUS

    Bila Agustus sudah menghampiri, dia tahu dia akan kembali merinding. Bila Agustus sudah tiba, dia tahu dia akan membuat dirinya dan keluarganya dan sekolahnya dan satu kampungnya dan bekas sekolahnya akan tersenyum bangga padanya. Bila Agustus sudah sampai dia tahu dia akan terharu. Bila Agustus sudah datang, dia tahu takdir akan memanggilnya. Takdir itu adalah berlari.

    Image: Blogspot.com

  • 8

    Namanya Reka Pane. Dia lahir di Merak, Lampung, 13 Juli 1997. Sebelum dia beranjak sekolah orangtuanya pindah ke kampung halaman, Purba Baringin Kecamatan Pakkat Humbang Hasundutan. Segera setelah dia sudah bisa memilih mata pelajaran favorit, dia menjatuhkan pili-han: matematika adalah mu-suhnya. Entah bagaimana ini bermula, saat dia kelas empat SD, dia mendapati dirinya berada di puncak kebosanan bermatematika di kelas. Dia lalu menemukan dirinya berada pada kebetulan yang akan membebaskannyapaling tidak untuk sementaradari dunia hitung-menghitung itu. Dia memutuskan ikut seleksi pelari dari sekolahnya. Dan: dia menang. Dan, ternyata, kebetulan yang bersumber dari kebosanan itu mendatangkan kebanggaan bagi sekolahnya. Namanya dipanggil dari podium utama perayaan hari kemerdekaan di kota kecamatan Pakkat sebagai pemenang lari.

    Semenjak itu, saban tahun takkan dia biarkan Agustus berlalu tanpa namanya dipanggil di podium utama sebagai pemenang lari.

    Setelah dia tamat SMP, dua guru olahraga SMA di Pakkat berlomba memintanya mendaftar di sekolahnya. Dia memilih SMA Negeri 1 Pakkat. Kalau di SMK letaknya terlalu jauh dari sini, ujar ibunya. Selain itu, Banyak sekali uang akan keluar.