Morbus Hansen

Preview:

DESCRIPTION

menjelaskan tentang bagaiman perjalanan definisi etiologi patofisiologi dan sebagainya

Citation preview

Morbus Hansen

Kelompok 1

Pendahuluan Kusta atau Morbus Hansen termasuk penyakit tertua. Kata

kusta berasal dari bahasa India kustha, dikenal sejak 1400 tahun sebelum Masehi. Kata kusta disebut dalam kitab Injil, terjemahan dari bahasa Hebrew zaraath, yang sebenarnya mencakup beberapa penyakit kulit lainnya.

Definisi : Kusta atau Morbus Hansen merupakan penyakit infeksi yang

kronik, dan penyebabnya Mycobacterium leprae yang bersifat intraselular obligat. Saraf perifer sebagai afinitas pertama, lalu kulit dan mukosa traktus respiratorius bagian atas, kemudian dapat ke organ lain kecuali susunan saraf pusat.

Etiologi : Mycobacterium leprae, basil tahan asam dan alkohol, 1-8 x

0.2-0.5 mikron, bersifat interselular obligat

Epidemiologi : Hipotesis 1: Penularan melalui kontak

langsung antar kulit yang lama dan erat. Hipotesis 2: inhalasi, sebab M. leprae masih

dapat hidup beberapa hari dalam droplet. Masa tunas antara 40 hari-40 tahun (rata-

rata 3-5 tahun). Kuman ditemukan di kulit, folikel rambut, sputum, kelenjar keringat, dan ASI, urin (jarang).

Menyerang semua umur (tersering 25 -35 tahun, dibawah itu jarang), anak lebih rentan. Jenis kelamin sama pada pria dan wanita

Penatalaksanaan

Tipe Pausibasiler

Rifampisin 600 mg/bulan diminum di depan petugas

DDS tablet 100 mg/hari  diminum di rumah

Pengobatan 6 dosis diselesaikan dalam 6-9 bulan, dan setelah selesai minum tidak lagi dinyatakan RFT tetapi menggunakan  istilah Completion Treatment Cure dan Pasien tidak lagi dalam pengawasan.

Tipe Multibasiler

Rifampisin 600 mg/bulan diminum di depan petugas

DDS 100 mg/hari Klofazimin 300 mg/bulan diminum di

depan petugas dilanjutkan dengan Klofazimin 50 mg/hari diminum di rumah

Tipe Multibasiler

Pengobatan 24 dosis diselesaikan dalam waktu maksimal 36 bulan. Sesudah selesai minum 24 dosis dinyatakan RFT meskipun secara klinis lesinya masih aktif dan pemeriksaan bakteri positif.

KLOFAZIMIN

KLOFAZIMIN

Komposisi: Clofazimine / Klofazimin

Sediaan: Kapsul 50 mg Kapsul 100 mg

Dosis: Dewasa: 300 mg/bulan Anak 10 – 14 tahun: 150 mg/bulan Anak 5 – 9 tahun: 100 mg/bulan

KLOFAZIMIN Klofazimin merupakan turunan fenazin

yang efektif terhadap basil lepra. Obat ini tidak saja efektif untuk lepra

jenis lepromatosis, tetapi juga memiliki efek anti radang sehingga dapat mencegah timbulnya eritema nodosum.

Pada pemberian oral, obat ini diserap dan ditimbun dalam jaringan tubuh. Keadaan ini memungkinkan pemberian obat secara berkala dengan jarak waktu antar dosis 2 minggu atau lebih.

Efek bakterisid klofazimin baru terlihat setelah 50 hari terapi.

Indikasi: Lepra/kusta

Kontraindikasi : Wanita hamil terutama trimester I Penderita gangguan hati dan ginjal

Efek Samping :

Perubahan warna kulit menjadi kemerah-merahan sampai coklat gelap dan penyumbatan usus besar, perubahan warna pada konjungtiva, kemih, keringat, air mata dan konjungtiva.

Gejala gastrointestinal berhubungan dengan dosis termasuk rasa sakit, mual, muntah dan diare.

Dapson (Diaminodiphenylsofone/DSS)

Pemberian Dapson untuk terapi lepra/kusta dikombinasikan bersama obat lain seperti rifampicin dan klofazimin/lamprene dan disesuaikan dengan jenis tipe PB (Pauci Baciller) atau MB (Multi Baciller).

Mekanisme Kerja : Merupakan kelompok sulfon mekanisme kerjanya hampir sama seperti sulfonamida. Kerja leprostatisnya kuat berdasarkan substan dengan para-aminobenzoid acid serta mencegah pembentukan folat dan DNA basil. Reabsorpsi dalam usus hampir lengkap dengan kadar puncak 1-3 jam.

Indikasi : lepra/kusta, dermatitis herpetiformis

Kontraindikasi : Hipersensitif terhadap dapson

Efek Samping : sakit kepala, mual, muntah, susah tidur dan takikardi, pada dosis tinggi dapat terjadi kelainan darah

Dosis : Pada dewasa dapat diberikan yaitu 1 kali sehari 100 mg maksimal 200 mg. Pada anak-anak 1 kali sehari 1-1,5 mg/kgBB

Sediaan : tab 100 mg

Tn. A, usia 30 tahun. Diagnosis : Morbus

Hansen

DAFTAR PUSTAKA

1. Djuanda A, Hamzah M, Siti A. 2013. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Edisi Keenam. Badan Penerbit FK UI : Jakarta

2. Nafrialdi; Setawati, A., 2007. Farmakologi dan Terapi. Edisi 5. Departemen Farmakologi dan Terapeutik Fakultas Kedokteran UI, Jakarta.

3. CLOFAZIMINE. Diunduh dari http://www.hivclinic.ca/main/drugs_fact_files/clofazimine.pdf

Terima Kasih