Hdi Propoelix Advertorial

  • View
    105

  • Download
    2

Embed Size (px)

DESCRIPTION

HDI Propoelix, ekstrak propolis untuk mengatasi penyakit demam berdarah dan penyakit-penyakit akibat virus lainnya

Transcript

Advertorial

Penemuan Revolusioner pada Demam Berdarah Dengue (DBD)

Datangnya musim hujan kerap dibarengi dengan meningkatnya berbagai penyakit infeksi, terutama Demam Berdarah Dengue (DBD). Di Indonesia, penyakit infeksi ini telah menyebar ke seluruh provinsi, bahkan kerap menyebabkan kasus luar biasa di beberapa daerah. DBD disebabkan oleh infeksi virus dengue yang termasuk dalam genus avivirus.

antimitogenik, antikarsinogenik, dan efek imunomodulator. Tidak hanya itu, propolis dilaporkan pula berperan positif dalam penyembuhan luka serta dapat berfungsi sebagai agen anestesi lokal.

Walau belum sepenuhnya diketahui, banyak nutrien telah ditemukan dalam propolis, di antaranya adalah amilase, polifenol, avon, asam Infeksi virus dengue menyebabkan makrofag teraktivasi dan fenolat, golongan ester, asam lemak, serta berbagai vitamin dan memfagosit kompleks virus-antibodi. Beratnya mineral. Propolis mengandung semua jenis gejala pada DBD juga berbanding lurus dengan vitamin, kecuali vitamin K, serta seluruh mineral Hingga saat ini, besar penurunan kadar komplemen dalam tubuh yang dibutuhkan tubuh, kecuali sulfur. Zat-zat yang belum ditemukan penderita. dikandung propolis tersebut bermanfaat untuk obat maupun vaksin menyokong fungsi imunitas tubuh. Propolis juga Belum Ditemukan Obatnya untuk DBD. Hal itu membantu proses regenerasi sel karena Penyakit ini ditandai oleh demam tinggi mendadak, menyebabkan upaya mengandung sedikitnya 16 rantai asam amino nyeri kepala berat, nyeri di belakang mata, nyeri otot eliminasi DBD masih esensial. dan sendi, serta perdarahan. Perdarahan pada DBD berfokus pada dapat menyebabkan sindrom syok dengue, bahkan kandungan bio avonoid pada propolis pemberantasan vektor Tingginya kematian. menjadikannya sejenis antioksidan poten. Propolis dan terapi suportif. ekstrak (HDI Propoelix ) yang dipatenkan telah Salah satu terapi Hingga saat ini, belum ditemukan obat maupun diuji oleh laboratorium Brunswick, Amerika Serikat. vaksin untuk DBD. Hal itu menyebabkan upaya suportif yang sudah eliminasi DBD masih berfokus pada pemberantasan Keefektifan Propolis untuk Penderita DBD teruji efektif adalah vektor dan terapi suportif. Dalam hal terapi suportif, Adanya kemampuan multiaksi propolis tersebut HDI Propoelix sudah banyak dilakukan penelitian bahan herbal di membuat propolis diajukan sebagai terapi suportif Indonesia. Banyak bahan herbal yang telah diteliti pada kasus DBD. Potensi propolis dalam untuk mendukung terapi suportif bagi kasus penderita DBD. Salah meningkatkan aktivitas makrofag dan meningkatkan pro l imunitas satu bahan herbal yang menunjukkan hasil positif adalah propolis. diharapkan dapat memperbaiki permeabilitas kapiler pada infeksi Dengue.R R

Propolis: Antibiotik Alami

Diproduksi oleh lebah madu (Apis melifera), propolis sering disebut sebagai lem lebah (bee glue). Propolis berasal dari pucuk daun muda atau getah manis pepohonan yang dikumpulkan, dikunyah, dicampur dengan enzim tertentu dari dalam tubuh, lalu disimpan dalam keranjang serbuk oleh lebah. Propolis dikenal sebagai antibiotik alami karena memiliki efek antioksidan, antiin amasi, antiviral, antimikroba, fungisidal,

Adanya anti-DV NS-1 akibat infeksi virus Dengue akan mengaktivasi NF-, yang kemudian akan memicu produksi sitokin proin amasi. Kaskade pengeluaran sitokin proin amasi yang meliputi IL-6, IL-8, MCP-1, dan ICAM-1 akan berujung pada kerusakan endotel. Tingginya komponen oksidan dalam tubuh saat sedang terjadinya infeksi Dengue juga dapat memperparah proses disfungsi endotel yang tengah terjadi.

AdvertorialPropoelix mengandung Oxygen Radical Absorbance Capacity (ORAC), dengan pengukuran antioksidan sebesar 21.921 dibandingkan dengan buah jeruk yang hanya memiliki nilai ORAC sebesar 24.R

Secara imunologis, propolis dapat meningkatkan aktivitas makrofag melalui stimulasi produksi sitokin, yaitu IL-1 dan TNF-, yang telah dibuktikan pada studi terhadap mencit.

Pada pengamatan hari keempat, ditemukan bahwa kadar trombosit pada Kelompok Propolis lebih tinggi dibanding Kelompok Kontrol. Peneliti melaporkan bahwa perubahan trombosit pada Kelompok Propolis meningkat lebih tinggi secara signi kan dibanding Kelompok Kontrol. Pada kedua kelompok, kadar hematokrit mengalami penurunan ke arah normal sejak hari kedua perawatan, dengan penurunan lebih besar pada Kelompok Propolis. Penurunan hematokrit merupakan parameter pengamatan laboratoris yang penting pada DBD mengingat peningkatan hematokrit merupakan tanda hemokonsentrasi. Pada DBD, pasien mengalami hemokonsentrasi yang disebabkan oleh kebocoran plasma ke ruang ekstravaskular akibat kerusakan kapiler. Maka, dapat disimpulkan bahwa perbaikan kondisi hemokonsentrasi lebih cepat terjadi pada Kelompok Propolis yang diberikan ekstrak propolis. Selain trombosit dan hematokrit, leukosit juga menjadi komponen hematologis yang mengalami perubahan pada DBD. Studi ini juga menunjukkan bahwa pada Kelompok Propolis terjadi kenaikan kadar leukosit yang dipertahankan setelah kadar leukosit normal, namun tidak terdapat perbedaan yang bermakna secara statistik antara kedua kelompok. Selain itu, dari segi lama perawatan, Kelompok Propolis dirawat lebih singkat dibandingkan dengan Kelompok Kontrol. Propolis dinilai cukup aman dan dibuktikan dengan tidak adanya efek samping yang tidak diinginkan selama penelitian berlangsung. Dengan demikian, pemberian ekstrak propolis 100 mg dinilai bermanfaat sebagai terapi suportif pada kasus DBD karena dapat memperbaiki parameter klinis dan laboratoris, serta berperan dalam mempersingkat lama perawatan di rumah sakit.

Ca eic Acid Phenethyl Ester (CAPE) merupakan kandungan ekstrak propolis yang memiliki aktivitas antiin amasi. CAPE mampu menghambat pelepasan asam arakhidonat, menekan aktivitas enzim COX-1 dan 2, serta menginhibisi transkripsi faktor NF- dan NFAT. CAPE dari propolis bermanfaat dalam memutus rantai in amasi ini, tepatnya sebagai antioksidan dan inhibitor stimulasi sitokin proin amasi.

Uji Klinis Ekstrak Propolis

Kemampuan propolis untuk melawan DBD semakin disempurnakan dengan metode ekstraksi yang memurnikan kandungan propolis itu sendiri. PT Harmoni Dinamik Indonesia (HDI Group of Companies) menyajikannya dalam produk HDI Propoelix dengan kandungan 100 mg propolis ekstrak per kapsulnya.R

Sebuah uji klinis mengenai propolis dilakukan oleh Rochsismandoko dan rekan pada Desember 2009 hingga Maret 2010. Uji terkontrol teracak ini melibatkan pasien DBD yang dibagi ke dalam dua kelompok. Kelompok pertama merupakan Kelompok Kontrol yang mendapat plasebo, sementara kelompok kedua mendapatkan kapsul HDI Propoelix , ekstrak propolis 100 mg, yang kemudian disebut Kelompok Propolis. Kondisi pasien DBD yang ikut dalam penelitian tersebut adalah sama, antara lain kadar trombositnya kurang dari 100.000/L dan tidak mengonsumsi obat apapun selain rekomendasi dokter.R

Efektivitas propolis dalam studi ini dinilai berdasarkan parameter klinis dan laboratoris serta membandingkan lama perawatan antara kedua kelompok penelitian. Setelah dibagi ke dalam dua kelompok, pasien diteliti selama 4 hari. Dilakukan pemeriksaan hematologis rutin serial dan serologis DBD, serta pengamatan klinis. Hasilnya, didapatkan bahwa semua variabel laboratorium dan klinis pada Kelompok Propolis menunjukkan perubahan yang signi kan secara statistik, sementara pada Kelompok Kontrol hanya suhu dan kadar leukosit saja yang mengalami perubahan. Dalam hal kadar trombosit, Kelompok Propolis menunjukkan peningkatan kadar trombosit yang signi kan sejak hari perawatan ketiga.

Disadur dari: Rochsismandoko, Eppy, Diana P, Sya q A, Utami S, Lelo HA, Bagus SB. Uji klinis Propoelix (Propolis ekstrak) pada pasien demam berdarah . Dengue. Medika 2013, tahun ke XXXIX, No. 2, p 104-113.

.

HDI Group of Companies PT Harmoni Dinamik Indonesia

Jl. Pecenongan Raya No.72, Redtop Square #B7-8 Jakarta Pusat 10120 Tlp : (021) 3500128 Fax : (021) 3500126 www.hdindonesia.com www.hdi.com