hiv aids manajemen

  • View
    81

  • Download
    4

Embed Size (px)

DESCRIPTION

hiv aids vct pict cst stigma arv

Text of hiv aids manajemen

BAB I PENDAHULUAN

Masalah HIV-AIDS adalah masalah yang mengglobal dimana HIV/AIDS merupakan penyakit yang belum ada obatnya dan belum bisa disembuhkan. Human Immunedeficiency Virus (HIV) merupakan virus yang menyerang dan merusak system kekebalan tubuh manusia. Acquired immunodeficiency syndrome (AIDS) merupakan sekumpulan gejala penyakit yang menyerang tubuh manusia setelah sistem kekebalannya dirusak oleh virus HIV. Seseorang positif terkena HIV terlihat sehat untuk jangka waktu yang lama setelah terinfeksi. Namun lambat laun virus ini akan membunuh dan merusak system kekebalan tubuh sehingga tubuh kehilangan kemampuan untuk melawan infeksi dan penyakit lain. Definisi ini membuat seseorang sangat takut ketika mendengar tentang HIV/AIDS.1 Sejauh ini, jumlah pengidap HIV/AIDS yang terlihat jauh lebih kecil dari jumlah sebenarnya. Hal ini disebabkan karena sebagian besar masyarakat masih enggan untuk memeriksakan diri karena masih ada stigma terhadap pengidap HIV/AIDS di masyarakat. Lebih dari 58% yang terkena HIV-AIDS adalah anak muda yang berusia sekitar 15-29 tahun dan mungkin terinfeksi HIV pada saat remaja. Sementara perkiran orang yang terinfeksi HIV-AIDS pada tahun 2010 di Indonesia berjumlah 1-5 juta orang.1 Berdasarkan data orang yang terinfeksi tersebut maka berbagai upaya dilakukan demi mencegah penyebaran virus tersebut. Upaya-upaya yang dilakukan antara lain melakukan pencegahan ke berbagai status kehidupan social. Tidak hanya upaya pencegahan yang dilakukan tetapi upaya perawatan untuk HIV-AIDS juga terus dikembangkan. Maka dari itu kami akan membahas tentang pecegahan HIV-AIDS yaitu VCT, PICT, CST dan perawatan HIV-AIDS dengan ARV.2

BAB II ISI

1

2.1 STIGMA HIV/AIDSStigma adalah pandangan negatif yang menempel pada pribadi seseorang terhadap penderita HIV/AIDS karena pengaruh lingkungannya. Stigma terhadap orang yang terkena HIV/AIDS atau disebut ODHA adalah suatu pandangan negative terhadap Odha yang menempel pada pribadi seseorang karena pengaruh lingkungannya.3 Hal ini dipengaruhi oleh faktor eksternal dan faktor internal. Faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari lingkungan penderita HIV/AIDS meliputi masyarakat dan media massa, sedangkan faktor internal adalah faktor yang berasal dari penderita itu sendiri. 2.1.1 Faktor Eksternal Stigma dari masyarakat muncul akibat kurangnya pemahaman masyarakat mengenai HIV/AIDS secara menyeluruh. Masyarakat mengetahui HIV/AIDS sebatas penyakit ini menular dan penderitanya berbahaya. Adanya ketidakpahaman ini menyebabkan timbulnya sikap seperti diskriminasi dengan tidak mau bergaul dengan ODHA dan stigma bahwa penderita HIV harus dihindari. Pemahaman yang setengah-setengah dan tidak menyeluruh tersebut timbul karena adanya disfungsi media massa. Media massa yang merupakan sumber informasi bagi masyarakat masih memberikan informasi yang kurang jelas.4 Pemberitaan yang muncul lebih didominasi bahaya HIV/AIDS dibandingkan upaya untuk mencegah penyebarannya. Adanya pemberitaan yang kurang lengkap ini menyebabkan masyarakat melakukan interpretasi yang salah dalam menyikapi kasus HIV/AIDS. Dampak lebih lanjut dari pemberitaan media massa yang kurang menyeluruh ini menyebabkan masyarakat terpengaruh secara mental untuk mendiskriminasikan penderita HIV/AIDS.

2.1.2

Faktor Internal Munculnya stigma di masyarakat diperkuat dengan perilaku yang timbul

dari ODHA yang diakibatkan oleh masalah psikososial. Ketidakmampuan

2

beradaptasi penderita HIV/AIDS terhadap perubahan yang terjadi pada dirinya dapat mengakibatkan rasa minder, stress, putus asa, frustasi, dan depresi.4 Segala macam faktor psikososial ini memperngaruhi tingkah laku ODHA sehingga mereka cenderung memilih untuk menutup diri dari masyarakat. Hal tersebut justru menambah stigma masyarakat dan memicu diskriminasi terhadap ODHA.

2.2 VCT (Voluntary Counseling Testing)2.2.1 Definisi Konseling dalam Voluntary Counseling and Testing (VCT) Konseling dalam VCT adalah kegiatan yang menyediakan dukungan psikologis, informasi dan pengetahuan HIV/AIDS, mencegah penularan HIV, mempromosikan perubahan perilaku yang bertanggungjawab, pengobatan antiretroviral (ARV) dan memastikan pemecahan berbagai masalah terkait dengan HIV/AIDS yang bertujuan untuk perubahan perilaku ke arah perilaku lebih sehat dan lebih aman.5 2.2.2 Definisi VCT VCT atau Voluntary Counseling Testing adalah salah satu strategi kesehatan masyarakat dan sebagai pintu masuk ke seluruh layanan kesehatan HIV/AIDS berkelanjutan. Prinsip dari VCT yaitu Sukarela dalam melaksanakan testing HIV, saling mempercayai dan terjaminnya konfidensialitas, mempertahankan hubungan relasi konselor dan klien yang efektif Konselor mendukung klien untuk kembali mengambil hasil testing dan mengikuti pertemuan konseling pasca testing untuk mengurangi prilaku beresiko, testing merupakan salah satu komponen dari VCT. 2.2.3 Peran VCT sebagai pintu gerbang pencegahan dan perawatan HIV6

Pencegahan HIV yaitu untuk : a) Memfasilitasi perubahan perilaku b) Memfasilitasi intervensi MCTC c) Terapi pencegahan & perawatan reproduksi Perawatan HIV yaitu untuk :

3

a) Manajemen dini infeksi oportunistik & IMS; introduksi ARV b) Perencanaan masadepan, perawatan anak yatim piatu, pewarisan c) Normalisasi HIV/AIDS d) Rujukan dukungan social dan sebayae) Penerimaan sero-status, coping & perawatan diri.

2.2.4

Tahapan VCT5,6

a. Pre-test counseling Pre-test counseling adalah diskusi antara klien dan konselor yang bertujuan untuk menyiapkan klien untuk testing, memberikan pengetahuan pada klien tentang HIV/AIDS. Isi diskusi yang disampaikan adalah klarifikasi pengetahuan klien tentang HIV/AIDS, menyampaikan prosedur tes dan pengelolaan diri setelah menerima hasil tes, menyiapkan klien menghadapi hari depan, membantu klien memutuskan akan tes atau tidak, mempersiapkan informed consent dan konseling seks yang aman. b. HIV testing Tes HIV yang umumnya digunakan adalah Enzyme Linked Imunosorbent Assay (ELISA), Rapid Test dan Western Immunblot Test. Setiap tes HIV ini memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang berbeda. Sensitivitas adalah kemampuan tes untuk mendeteksi adanya antibodi HIV dalam darah sedangkan spesifisitas adalah kemampuan tes untuk mendeteksi antibodi protein HIV yang sangat spesifik. c. Post-test counseling Post-test counseling adalah diskusi antara konselor dengan klien yang bertujuan menyampaikan hasil tes HIV klien, membantu klien beradaptasi dengan hasil tes, menyampaikan hasil secara jelas, menilai pemahaman mental emosional klien, membuat rencana dengan menyertakan orang lain yang bermakna dalam kehidupan klien, menjawab, menyusun rencana tentang kehidupan yang mesti

4

dijalani dengan menurunkan perilaku berisiko dan perawatan, dan membuat perencanaan dukungan.

GOLD STANDAR TAHAPAN VCT5Konseling pra tes mencakup penilaian Gejala atau kondisi perilaku berisiko kecemasan yang dan kondisi psikososial, membawa dan penyediaan seseorang informasi faktual tertulis memutuskan ataupun lisan untuk tes status Penundaan pengambilan HIV Negatif : darah Lakukan Mendorong periksa mengubah ulang prilaku kearah positif Pengambilan darah Geraka HIV Positif: n Sampaikan keluarg berita dengan a dan hati-hati, dan masyar sediakan akat waktu yang Konselin cukup untuk g berdiskusi berkelan jutan, dan

Beri waktu untuk berpikir

2.3 PICT (Provider Initiative Counseling and Testing)2.3.1 Definisi PICT

5

Diperlukan deteksi dini penemuan kasus penderita HIV/AIDS dalam upaya mengendalikan penyebaran penyakit HIV/AIDS. Mengapa deteksi dini ini begitu penting? Deteksi dini dapat mencegah penderita HIV yang tidak tahu bahwa dirinya terinfeksi untuk tidak menularkan HIV kepada orang lain karena penderita HIV sudah berpotensi untuk menularkan virus HIV kepada orang lain meskipun belum menunjukkan gejala klinis. Di Indonesia dan sebagian besar negara lain, telah diadakan program konseling dan tes HIV sukarela atau VCT (Voluntary Counseling and Testing). Program VCT ini dilakukan secara sukarela dan rahasia. Namun, karena sifatnya sukarela, VCT belum dapat menjaring terlalu luas. Masyarakat belum secara sukarela penuh untuk melakukan VCT karena minimnya pengetahuan, stigma masyarakat, serta perasaan malu dan takut. Hal ini tentu saja diperparah dengan suatu fakta bahwa gejala gejala penyakit akibat infeksi HIV baru muncul setelah beberapa tahun terinfeksi HIV. Sehingga, para penderita HIV tidak merasa sakit sehingga menambah keengganan mereka untuk melakukan VCT ini. PICT (Provider Initiative Counseling and Testing) adalah suatu tes HIV dimana inisiatifnya bukan berasal dari pasien seperti pada VCT melainkan berasal dari penyedia layanan kesehatan. Penyedia layanan kesehatan berperan aktif untuk melihat apakah pasien bersangkutan memiliki gejala-gejala terinfeksi HIV ataupun faktor risiko tinggi terpapar HIV. Setiap pasien yang datang ke dokter dengan indikasi gejala-gejala infeksi HIV dapat segera dideteksi apakah positif atau tidak sehingga deteksi dini HIV dapat lebih efektifPasien akan mendapat keuntungan dengan mengetahui status HIV, mereka dapat menentukan pencegahan spesifik ataupun pengobatannya. Dalam keadaan seperti ini, konseling dan tes HIV direkomendasikan oleh penyedia layanan kesehatan sebagai suatu bagian dari paket yang disediakan untuk semua pasien selama interaksi di fasilitas kesehatan.7

6

2.3.2

Keunggulan PICT

Di Indonesia dan sebagian besar negara lain, telah diadakan program konseling dan tes HIV sukarela atau VCT (Voluntary Counseling and Testing). Program VCT ini dilakukan secara sukarela dan rahasia. Namun, karena sifatnya sukarela, VCT belum dapat menjaring terlalu luas. Masyarakat belum secara sukarela penuh untuk melakukan VCT karena minimnya pengetahuan, stigma masyarakat, serta perasaan malu dan takut. Hal ini tentu saja diperparah dengan suatu fakta