Konflik SDH Bogor

  • View
    93

  • Download
    2

Embed Size (px)

DESCRIPTION

konflik

Text of Konflik SDH Bogor

  • ANALISA KONFLIK PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM

    MASYARAKAT DESA SEKITAR HUTAN

    (Studi Kasus Masyarakat Desa Curugbitung, Kecamatan Nanggung,

    Kabupaten Bogor, Propinsi Jawa Barat)

    MOH. ILHAM

    A14201060

    PROGRAM STUDI KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT

    FAKULTAS PERTANIAN

    INSTITUT PERTANIAN BOGOR

    2006

  • RINGKASAN MOH. ILHAM. Analisa Konflik Pengelolaan Sumberdaya Alam Masyarakat Desa Sekitar Hutan (Studi Kasus Masyarakat Desa Curugbitung, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, Propinsi Jawa Barat). Skripsi. Dibimbing oleh Dra. WINATI WIGNA, MDS.

    Konflik merupakan hal yang tidak terhindarkan dalam pengelolaan

    sumberdaya alam di Indonesia. Alasannya sederhana, karena banyak pihak yang berkepentingan terhadap alam, sementara masing-masing pihak berbeda kebutuhan dan tujuannya. Kebutuhan akan sumberdaya alam mengalami peningkatan bersamaan dengan berbagai perkembangan yang terjadi seperti peningkatan standar hidup, turunnya angka kematian, dan perkembangan infrastuktur yang pesat hingga menimbulkan kesenjangan sosial dalam masyarakat, antara yang kaya dan miskin, kota dan desa, kawasan bagian Barat dan Timur, dan juga antara laki-laki dan perempuan.

    Pada masa lalu, konflik sumberdaya alam, seringkali ditutup-tutupi karena berbagai alasan; dan apabila terjadi konflik, pihak yang kuat selalu mengalahkan yang lemah, dan pihak yang lemah tidak pernah berani melawan yang kuat. Namun, era reformasi telah merubah keadaan menjadi terbalik. Pihak yang lemah kini sudah berani melawan yang kuat dengan berbagai cara, mulai dari tuntutan biasa, protes, demonstrasi, sampai benturan fisik yang keras. Oleh karena itu, kita harus mulai mengakui bahwa konflik merupakan suatu persoalan penting yang harus segera ditanggulangi dalam pengelolaan sumberdaya alam.

    Bagaimana PT. Hevindo dapat bertahan lama di wilayah Nanggung, padahal terjadi konflik dengan masyarakat dan elemen pemerintahan desa, dan bagaimana hubungan antara pihak-pihak yang berkonflik dan lembaga-lembaga yang terlibat konflik merupakan pertanyaan utama yang secara spesifik diungkap dengan mempertanyakan: bagaimana karakteristik pihak-pihak yang terlibat konflik pengelolaan sumberdaya alam, mengapa konflik pengelolaan sumberdaya alam terjadi di Desa Curugbitung dan bertahan lama, bagaimana karakteristik konflik yang terjadi, serta bagaimana upaya-upaya pengelolaan dan hasil akhir konflik yang telah dilakukan oleh pihak-pihak yang terlibat konflik.

    Konflik adalah perjuangan yang dilakukan oleh berbagai pihak untuk memperoleh hal-hal yang langka seperti nilai, status, kekuasaan, otoritas, dan lain sebagainya dimana tujuan dari mereka bertikai itu tidak hanya untuk memperoleh keuntungan, tetapi juga untuk menundukkan saingannya dengan kekerasan atau ancaman (Ibrahim, 2002). Konflik merupakan salah satu proses sosial yang bersifat disosiatif, selain persaingan (competition) dan pertentangan. Sebenarnya proses sosial disosiatif tidaklah selalu bersifat negatif, ada kalanya jika diatur sedemikian rupa dapat menghasilkan hal-hal yang positif.

    Penelitian ini dilakukan di Desa Curugbitung, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, Propinsi Jawa Barat, sejak bulan November 2005 hingga Maret 2006. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Dengan strategi studi kasus intrinsik, dimana peneliti ingin mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang kasus khusus.

    Pihak-pihak yang terlibat dalam konflik pengelolaan sumberdaya alam di Desa Curugbitung, ada yang secara langsung maupun tidak langsung. Pihak yang teridentifikasi terlibat secara langsung, yaitu PT. Hevindo dan masyarakat Desa Curugbitung, selain itu adalah Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bogor, pemerintahan desa, pengusaha bangunan dan peternakan, LSM RMI, LSM HuMa,

  • KCP, KPN, mantan lurah, Polsek Nanggung, pemerintahan Kecamatan Nanggung, Badan Perencanaan Daerah, dan Dinas Tata Ruang Kabupaten Bogor.

    Penyebab konflik pengelolaan sumberdaya alam yang terjadi di Desa Curugbitung lebih disebabkan oleh perbedaan kepentingan, pemahaman, pembatasan akses masyarakat lokal terhadap sumberdaya, keterpurukan ekonomi, juga karena perubahan iklim politik setelah reformasi dan krisis moneter. Kekuatan masing-masing pihak dan dukungan dari pihak lain, menjadikan konflik yang terjadi bertahan lama.

    Karakteristik konflik pengelolaan sumberdaya alam yang terjadi di Desa Curugbitung dilihat dari wujud dan level konflik. Menurut wujudnya, konflik yang terjadi cenderung tertutup (laten) dalam jangka waktu yang cukup lama. Hal tersebut terjadi karena kecakapan para elit lokal (tokoh masyarakat) untuk meredam terjadi konflik hingga tidak dapat terbaca oleh pihak-pihak di luar wilayah tersebut, meskipun pernah mencuat dan terbuka. Menurut levelnya, konflik vertikal dialami antara masyarakat dengan PT. Hevindo, sedangkan konflik horizontal terjadi antara pihak PT. Hevindo dengan TNGH-S, dengan Perum Perhutani Unit III Jawa Barat, LSM, dan Pemerintah lokal.

    Upaya-upaya yang dilakukan oleh masing-masing pihak belum mencapai hasil akhir yang baik. Setiap solusi yang dilakukan tidak menyelesaikan konflik sampai keakarnya dan terbukti hanya bisa bertahan selama beberapa waktu saja, karena konflik yang terjadi selalu berubah wujud dari laten menjadi mencuat, laten kembali, kemudian laten dan terbuka.

    Pendekatan akomodasi adalah pendekatan yang paling memungkinkan sebagai pendekatan penyelesaian konflik dan konsultasi publik sebagai salah satu bentuk yang ditawarkan oleh APK (Alternatif Penyelesaian Konflik). Pendekatan politis, administrasi, dan hukum belum bisa dilakukan.

    Jawaban atas pertanyaan utama penelitian ini tentang bagaimana PT. Hevindo dapat bertahan lama, padahal terjadi konflik dengan masyarakat dan elemen pemerintahan desa, serta Bagaimana hubungan antara pihak-pihak yang berkonflik dan lembaga-lembaga yang terlibat konflik, antara lain: (1) Keterlibatan banyak pihak yang memiliki kekuatan masing-masing, serta membagi dukungan mereka kepada pihak perusahaan, salah satu pihak utama konflik menjadikan perusahaan ini tetap ada; (2) Kekuatan terbesar yang ada di pihak perusahaan dipicu oleh kekuatan hukum yang dimiliki perusahaan, sebagai pemilik sah HGU di Desa tersebut; (3) Hubungan dekat dengan pihak-pihak yang berkuasa di masa lalu, dan menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap elit-elit lokal dan keberadaan organiasai lokal yang belum optimal menjadikan perusahaan belum mendapatkan perlawanan yang berat dari masyarakat, namun hal ini masih akan terus berkembang dengan menguatnya kekuatan sosial dalam masyarakat.

  • ANALISA KONFLIK PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM

    MASYARAKAT DESA SEKITAR HUTAN

    (Studi Kasus Masyarakat Desa Curugbitung, Kecamatan Nanggung,

    Kabupaten Bogor, Propinsi Jawa Barat)

    MOH. ILHAM

    A14201060

    Skripsi

    sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar

    Sarjana Pertanian pada

    Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor

    PROGRAM STUDI KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT

    FAKULTAS PERTANIAN

    INSTITUT PERTANIAN BOGOR

    2006

  • PERNYATAAN

    DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI YANG BERJUDUL ANALISA KONFLIK PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM MASYARAKAT DESA SEKITAR HUTAN (STUDI KASUS MASYARAKAT DESA CURUGBITUNG, KECAMATAN NANGGUNG, KABUPATEN BOGOR, PROPINSI JAWA BARAT) INI ADALAH HASIL KARYA SAYA SENDIRI DAN BELUM PERNAH DIAJUKAN SEBAGAI KARYA TULIS PADA PERGURUAN TINGGI MANAPUN. SEMUA SUMBER DATA DAN INFORMASI YANG DIGUNAKAN TELAH DINYATAKAN SECARA JELAS DAN DAPAT DIPERIKSA KEBENARANNYA.

    Bogor, 8 Juni 2006

    MOH. ILHAM A14201060

  • INSTITUT PERTANIAN BOGOR FAKULTAS PERTANIAN

    Dengan ini kami menyatakan bahwa Skripsi yang ditulis oleh:

    Nama : MOH. ILHAM NRP : A14201060 Judul : ANALISA KONFLIK PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM

    MASYARAKAT DESA SEKITAR HUTAN (Studi Kasus Masyarakat Desa Curugbitung, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, Propinsi Jawa Barat)

    Dapat diterima sebagai syarat memperoleh gelar Sarjana Pertanian pada Fakultas

    Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

    Menyetujui,

    Dosen Pembimbing

    Dra. WINATI WIGNA, MDS. NIP. 131 284 835

    Mengetahui,

    Dekan Fakultas Pertanian

    Institut Pertanian Bogor

    Prof. Dr. Ir. SUPIANDI SABIHAM, M. Agr NIP. 130 422 698 .

    Tanggal Lulus Ujian: 5 Juni 2006

  • RIWAYAT HIDUP

    Penulis dilahirkan pada tanggal 10 Aprill 1983 di Sumenep, Jawa Timur.

    Penulis merupakan anak kedua dari dua bersaudara pasangan H. Moh. Sadik DM.

    dan Hj. R. Ermaningsih. Pendidikan yang ditempuh oleh penulis pertama kali adalah

    SDN Masalima IV, Kecamatan Masalembu, Kabupaten Sumenep, tahun 1987-1993.

    Dilanjutkan ke SDN Bangselok III, Kecamatan Kota Sumenep, Jawa Timur semenjak

    1993-1995. Penulis melanjutkan ke SLTPN 4 Sumenep di kota yang sama pada

    tahun 1995-1998. Sekolah Menengah Umum ditempuh penulis di SMUN 1 Sumenep,

    pada tahun 1998-2001. Pada tahun 2001 pula, penulis diterima di Institut Pertanian

    Bogor melalui jalur UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri) pada

    Departemen Ilmu-Ilmu Sosial Ekonomi Pertanian, Program Studi Komunikasi dan

    pengembangan Masyarakat (KPM) sebagai angkatan 38.

    Selama bersekolah, penulis aktif dalam berbagai kegiatan ekstrakulikuler

    seperti PMR, OSIS dan Majelis Perwakilan Kelas (MPK). Penulis pernah menjabat

    sebagai Ketua organisasi pemuda kemasyarakatan pada tahun 1996 1999, dan

    menjadi Ketua Seksi Pengembangan Iman dan Takwa terhadap Tuhan YME, OSIS

    SMUN 1 Sumenep, periode 1999-2000. Begitu pula pada masa kuliah, penulis aktif

    dalam berbagai kegiatan kemahasiswaan. Penulis pernah menjabat sebagai Ketua