of 133 /133
ASPEK-ASPEK HU PERKARA WANPR Diajukan sebagai sa PROGRAM K Unive UNIVERSITAS INDONESIA UKUM ACARA PERDATA INTERNASIO RESTASI BERKENAAN DENGAN LOAN DI PENGADILAN INDONESIA SKRIPSI alah satu syarat untuk memperoleh gelar S HARYO KUSUMASTITO 0606079736 FAKULTAS HUKUM KEKHUSUSAN HUKUM TENTANG HUB TRANSNASIONAL DEPOK JULI 2011 1 ersitas Indonesia ONAL DALAM N AGREEMENT Sarjana Hukum BUNGAN Aspek-aspek hukum ..., Haryo Kusumastito, FH UI, 2011

lib.ui.ac.idlib.ui.ac.id/file?file=digital/20135003-S23-Aspek-aspek hukum.pdflib.ui.ac.id

  • Author
    vophuc

  • View
    228

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of lib.ui.ac.idlib.ui.ac.id/file?file=digital/20135003-S23-Aspek-aspek hukum.pdflib.ui.ac.id

ASPEK-ASPEK HUKUM

PERKARA WANPRE

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Hukum

PROGRAM KEKHUSUSAN HUKUM TENTANG HUBUNGAN

Universitas Indonesia

UNIVERSITAS INDONESIA

ASPEK HUKUM ACARA PERDATA INTERNASIONAL DALAM

PERKARA WANPRESTASI BERKENAAN DENGAN LOAN

DI PENGADILAN INDONESIA

SKRIPSI

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Hukum

HARYO KUSUMASTITO

0606079736

FAKULTAS HUKUM

PROGRAM KEKHUSUSAN HUKUM TENTANG HUBUNGAN

TRANSNASIONAL

DEPOK

JULI 2011

1

Universitas Indonesia

ERDATA INTERNASIONAL DALAM

LOAN AGREEMENT

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Hukum

PROGRAM KEKHUSUSAN HUKUM TENTANG HUBUNGAN

Aspek-aspek hukum ..., Haryo Kusumastito, FH UI, 2011

LibraryNoteSilakan klik bookmarks untuk melihat atau link ke halaman isi

2

Universitas Indonesia

SURAT PERNYATAAN BEBAS PLAGIARISME

Saya yang bertanda tangan di bawah ini dengan sebenarnya menyatakan bahwa

skripsi ini saya susun tanpa tindakan plagiarisme sesuai dengan peraturan yang

berlaku di Universitas Indonesia.

Jika di kemudian hari ternyata saya melakukan tindakan plagiarisme, saya akan

bertanggung jawab sepenuhnya dan akan menerima sanksi yang dijatuhkan oleh

Universitas Indonesia kepada saya.

Jakarta, 14 Juli 2011

Haryo Kusumastito

Aspek-aspek hukum ..., Haryo Kusumastito, FH UI, 2011

3

Universitas Indonesia

HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS

Skripsi ini adalah hasil karya sendiri dan semua sumber baik yang dikutip maupun

yang dirujuk telah saya nyatakan dengan benar.

Nama : Haryo Kusumastito

NPM : 0606079736

Tanda Tangan :

Tanggal : 14 Juli 2011

Aspek-aspek hukum ..., Haryo Kusumastito, FH UI, 2011

4

Universitas Indonesia

HALAMAN PENGESAHAN

Skripsi yang diajukan oleh :

Nama : Haryo Kusumastito

NPM : 0606079736

Program Kekhususan : Hukum tentang Hubungan Transnasional

Ini telah berhasil dipertahankan di hadapan Dewan Penguji dan diterima sebagai

persyaratan yang diperlukan untuk memperoleh gelar Sarjana Hukum pada

Program Kekhususan Hukum tentang Hubungan Transnasional, Fakultas Hukum,

Universitas Indonesia.

DEWAN PENGUJI

Pembimbing I : Fatmah Jatim, S.H., LL.M. ( )

Pembimbing II : Yu Un Oppusunggu, S.H., LL.M. ( )

Penguji : Prof. Dr. Zulfa D. Basuki, S.H., M.H. ( )

Penguji : Lita Arijati, S.H., LL.M. ( )

Penguji : Dr. Mutiara Hikmah, S.H., M.H. ( )

Penguji : Tiurma M. P. Allagan, S.H., M.H. ( )

Ditetapkan di : Depok

Tanggal : 14 Juli 2011

Aspek-aspek hukum ..., Haryo Kusumastito, FH UI, 2011

5

Universitas Indonesia

KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan

rahmat-Nya saya dapat menyelesaikan skripsi ini. Penulisan skripsi ini saya

lakukan dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar

Sarjana Hukum Program Kekhususan Hukum Tentang Hubungan Transnasional

Universitas Indonesia. Saya menyadari bahwa tanpa bantuan dan bimbingan dari

berbagai pihak dari masa perkuliahan sampai pada penyusunan skripsi ini, akan

sangat sulit bagi saya untuk menyelesaikan skripsi ini. Oleh karena itu, saya ingin

mengucapkan terima kasih kepada:

1. Ibu Fatmah Jatim, S.H., LL.M. selaku dosen pembimbing I, yang telah

menyediakan waktu, tenaga, dan pikiran untuk mengarahkan saya dalam

menyusun skrisi ini. Saya tidak akan bisa menyelesaikan skripsi ini tanpa

dukungan dari beliau. Saya akan berusaha mengingat dan melakukan

nasihat-nasihat dari beliau kepada saya di kemudian hari.

2. Bang Yu Un Opposunggu, S.H., LL.M. selaku dosen pembimbing II. Saya

merasa lebih terarah dalam membuat sebuah karya tulis setelah dibimbing

oleh beliau dari hari ke hari. Telah terjadi perubahan yang cukup besar

dalam diri saya setelah dibimbing oleh beliau selama kurang-lebih 9

(sembilan) bulan. Saya mulai memperhatikan segala sesuatu dengan lebih

seksama. Terima kasih abang sudah membimbing saya sekian lama

dengan sabar. Semoga apa yang abang coba ajarkan kepada saya bisa

berguna di masa yang akan datang.

3. Dosen-dosen HPI yang lainnya, Prof. Zulfa, Ibu Lita, Ibu Mutiara, Mbak

Tiurma, dan juga Mbak Tita atas semua pengetahuan yang saya dapatkan

baik di dalam maupun di luar ruang kuliah.

4. Dosen-Dosen Hukum Internasional yang lainnya, Prof. Hikmahanto, Ibu

Melda, Bapak Adijaya, Bang Hadi, dan Bang Arie.

5. Ibu Eha, Bu Erna, Pak Selam, Pak Adri serta staff dan karyawan lainnya di

FH UI.

6. Ramadhan Fansuri, Syahrul olo, Arief, Lantip Narwastu, Adhiem W.,

Aryo Pandu, Try Kuntarto, Harsyal Faruqi, dan lain-lain sebagai

Aspek-aspek hukum ..., Haryo Kusumastito, FH UI, 2011

6

Universitas Indonesia

mahasiswa yang sama-sama suka nongkrong di masjid UI ketika jenuh

dengan kehidupan kampus. No one is stranger in the mosque.

7. Ibnu Lukman Wibowo, S.Hum dan Bayu Krisna Mukti selaku sahabat

penulis selama bertahun-tahun.

8. Bianca, Yvonne, Kosasih, Intan Onta, Miranda Anwar, Alamanda, Titis,

Tirza, Zefanya Siahaan, Tracy Tania, Aldilla Suwana, Naftalia Siregar,

Siti Kemala Nuraida, M. Reza, Reza, Karissa Utami, Allen, M. Pribadi,

Alfina K. Narang, M. Subarkah, Adeline Wijayanti, Mira, Valdano Ruru,

Ibrahim Siregar, Wincen, Simon Barrie, Novri, Arini, Aditya Lesmana,

dan Harjo Winoto selaku partner di EDS UI, ALSA, dan ILMS.

9. Esther, Maulidya Siregar, Tesalonika, Niken, Rahmat Firmansyah, Dhany

Arlan, Panji, Randika Oktaviana, Adit 04, Raditya Adiguna, Mega, Gina

Apriliana, Annisa Farikhati, Aji Agung Nogroho, Adi Lazuardi, Adilla

Oktora, Yusuf Sulistyawan, dan Zulhami Risky selaku partner di BEM FH

dan LK2.

10. Gulardi Nurbintoro, Dharma Rozali Azhar, Dimas Bimo, Dimas Akbar,

Nico Angelo, Wayan Adi, Jenny Maria, Grace, Ni Putu Anggraini, Dhika,

Mario, Valishka, Annisa Ulfah, Aruni Larasati, Biondi, Pradnya

Dhantie, Aga, dan Dinda selaku teman sesama PK6 2006.

11. Joshua L. Anderson, Alloysius Selwas Taborat, Ilham Wahyu, Dina,

Stanislaus, Herlambang Novita Hapsari, Indra, Septiana Herlinda, Samuel,

Happy Rayna, Satriana, Firly, Astrid, dan Ridha, selaku teman FH UI yang

lainnya.

12. FHUI sebagai almamater kebanggaan penulis, tempat di mana penulis

menuntut ilmu selama 5 (lima) tahun, tempat di mana penulis menjalani

salah satu fase kehidupan cukup menyenangkan, tempat di mana penulis

tidak akan menemukan tempat yang lebih baik lagi dari tempat ini untuk

mendapatkan gelar sarjana.

Depok, 14 Juli 2011

Haryo Kusumastito

Aspek-aspek hukum ..., Haryo Kusumastito, FH UI, 2011

7

Universitas Indonesia

HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI TUGAS AKHIR UNTUK

KEPENTINGAN AKADEMIS

Sebagai sivitas akademik Universitas Indonesia, saya yang bertanda tangan di

bawah ini:

Nama : Haryo Kusumastito

NPM : 0606079736

Program Kekhususan : Hukum tentang Hubungan Transnasional

Fakultas : Hukum

Jenis Karya : Skripsi

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada

Universitas Indonesia, Hak Bebas Royalti Non-eksklusif (Non-exclusif Royalty-

free Right) atas karya ilmiah saya yang berjudul:

ASPEK-ASPEK HUKUM ACARA PERDATA INTERNASIONAL DALAM

PERKARA WANPRESTASI BERKENAAN DENGAN LOAN AGREEMENT DI

PENGADILAN INDONESIA

Beserta perangkat yang ada (jika diperlukan). Dengan Hak Bebas Royalti Non-

eksklusif ini, Universitas Indonesia berhak untuk menyimpan,

mengalihmediakan/formatkan, mengelola dalam bentuk database, marawat, dan

memublikasikan tugas akhir saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai

penulis/pencipta dan sebagai pemilik Hak Cipta.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya.

Dibuat di : Depok

Pada Tanggal : 14 Juli 2011

Yang menyatakan

Haryo Kusumastito

Aspek-aspek hukum ..., Haryo Kusumastito, FH UI, 2011

8

Universitas Indonesia

ABSTRAK

Nama : Haryo Kusumastito

Program Kekhususan : Hukum tentang Hubungan Transnasional

Judul : Aspek-aspek Hukum Acara Perdata Internasional Dalam

Perkara Wanprestasi Berkenaan dengan Loan Agreement

di Pengadilan Indonesia

Perjanjian utang-piutang atau loan agreement adalah suatu perjanjian perdata

antara suatu subjek hukum dengan subjek hukum lain di mana satu pihak

meminjam uang kepada pihak yang lain dan pihak yang lain akan mendapat

timbal-balik berupa bunga atau hal lain yang telah diperjanjikan sebelumnya.

Pengaturan terhadap perjanjian utang-piutang menurut hukum Indonesia terdapat

dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, seperti lahirnya dan hapusnya. Para

pihak dalam perjanjian utang-piutang dapat berbeda status personalnya, sehingga

menimbulkan masalah HPI. Ketika terjadi wanprestasi, kemudian juga akan

timbul permasalahan forum mana yang berwenang untuk mengadili dan hukum

apa yang akan berlaku untuk mengadili perkara tersebut. Skripsi ini akan

membahas mengenai perkara-perkara wanprestasi yang berasal dari perjanjian

utang-piutang yang tidak berjalan sebagaimana seperti yang diperjanjikan antara

para pihak yang berbeda status personalnya. Kemudian salah satu pihak

menggugat pihak lainnya di Pengadilan Indonesia.

Kata Kunci:

Perjanjian Utang-Piutang, Hukum Acara Perdata Internasional, Pihak asing,

Wanprestasi, Pengajuan Gugatan, Kompetensi Pengadilan, Putusan Pengadilan

Aspek-aspek hukum ..., Haryo Kusumastito, FH UI, 2011

9

Universitas Indonesia

ABSTRACT

Name : Haryo Kusumastito

Study Program : Law about Transnational Relation

Title : International Civil Procedural Law Aspects in Breach of

Contract Cases Related to Loan Agreement in Indonesian

Court

A Loan agreement is an agreement between two or more legally competent

individuals or entities on borrowing a sum of money by one person, company,

government, and other organization from another. The lender will get another sum

of money or other certain profit paid as compensation for the loan. Loan

agreement in Indonesia is regulated in Kitab Undang-Undang Hukum Perdata

(Civil Code). It regulates how the agreement begins and when it completes. The

parties of a loan agreement can come from different countries. This will create

international private law issue. When a loan agreement is not enforced as it has

been agreed, breach of contract occurs. Some questions will appear like which

court has the competence to adjudicate the case and which law should govern the

case. This thesis will explain about a breach of contract cases related to a loan

agreement where the parties come from different countries, then one of the parties

conducted a lawsuit againts the other in Indonesian court.

Keyword:

Loan agreement, International Civil Procedural Law, Aliens, Breach of Contract,

Lawsuit, Courts Competence, Courts verdict

Aspek-aspek hukum ..., Haryo Kusumastito, FH UI, 2011

10

Universitas Indonesia

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .............................................................................................. i

SURAT PERNYATAAN BEBAS PLAGIARISME ............................................ ii

HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS ................................................. iii

HALAMAN PENGESAHAN .............................................................................. iv

KATA PENGANTAR ........................................................................................... v

LEMBAR PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH ........................... vii

ABSTRAK .......................................................................................................... viii

ABSTRACT ......................................................................................................... ix

DAFTAR ISI ......................................................................................................... x

DAFTAR SINGKATAN .................................................................................... xiii

DAFTAR LAMPIRAN ....................................................................................... xiv

BAB 1: PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Pemilihan Judul ................................................................ 1

1.2 Pokok Permasalahan ................................................................................ 10

1.3 Tujuan Penelitian ..................................................................................... 10

1.4 Kerangka Konsepsional ........................................................................... 11

1.5 Metode Penelitian .................................................................................... 14

1.6 Sistematika Penulisan .............................................................................. 15

BAB 2: PERJANJIAN UTANG-PIUTANG DALAM HUKUM INDONESIA

2.1 Pengantar ................................................................................................. 17

2.2 Pengertian perjanjian utang-piutang ........................................................ 18

2.3 Perjanjian utang-piutang beserta ketentuan yang mengaturnya .............. 24

2.3.1 Lahirnya perjanjian utang-piutang .................................................. 24

2.3.2 Hapusnya perjanjian utang-piutang ................................................ 26

2.4 Perjanjian utang-piutang internasional .................................................... 33

2.4.1 Pengertian perjanjian utang-piutang internasional ......................... 33

2.4.2 Persamaan dan perbedaan antara perjanjian utang-piutang nasional

dengan perjanjian utang-piutang internasional ............................... 35

Aspek-aspek hukum ..., Haryo Kusumastito, FH UI, 2011

11

Universitas Indonesia

2.5 Wanprestasi ............................................................................................. 37

2.5.1 Pengertian wanprestasi ................................................................... 37

2.5.2 Pengertian wanprestasi internasional ............................................. 39

BAB 3: PENGAJUAN GUGATAN PERKARA WANPRESTASI DI

PENGADILAN INDONESIA

3.1 Hukum acara perdata Indonesia .............................................................. 41

3.1.1 Sumber hukum acara perdata Indonesia ......................................... 41

3.1.2 Kompetensi dalam hukum acara perdata Indonesia ....................... 46

3.2 Hukum acara perdata internasional ......................................................... 55

3.3 Pengajuan gugatan di pengadilan Indonesia ............................................ 61

BAB 4: ANALISIS ASPEK-ASPEK HUKUM ACARA PERDATA

INTERNASIONAL DALAM PERKARA WANPRESTASI BERKENAAN

DENGAN LOAN AGREEMENT DI PENGADILAN INDONESIA

4.1 Kasus posisi ............................................................................................. 66

4.1.1 Kasus IKB Deutche Industrial Bank AG melawan PT Manunggal

Adipura (Kasus IKB) ...................................................................... 66

4.1.2 Kasus Hyeon Joo Lee melawan PT Chon Poong Indonesia (Kasus

HJL) ................................................................................................ 72

4.1.3 Kasus Mubeni Corporation melawan PT Sweet Indolampung (Kasus

Marubeni) ....................................................................................... 76

4.2 Analisis para pihak dalam ketiga perkara ................................................ 82

4.2.1 Teori HPI tentang status personal ................................................... 82

4.2.2 Para pihak dalam Kasus IKB .......................................................... 84

4.2.3 Para pihak dalam Kasus HJL .......................................................... 85

4.2.4 Para pihak dalam Kasus Marubeni ................................................. 85

4.3 Hukum yang berlaku dalam ketiga perkara ............................................. 86

4.3.1 Teori HPI tentang pilihan hukum ................................................... 86

4.3.2 Teori HPI jika tidak ada pilihan hukum ......................................... 88

4.3.3 Hukum formil dalam ketiga perkara ............................................... 89

4.3.4 Hukum materil dalam ketiga perkara ............................................. 96

Aspek-aspek hukum ..., Haryo Kusumastito, FH UI, 2011

12

Universitas Indonesia

4.4 Forum pengadilan dalam ketiga perkara ................................................ 98

4.5 Tujuan legalisasi perjanjian utang-piutang oleh notaris ....................... 100

BAB 5 : KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan ............................................................................................ 103

5.1.1 Bagaimanakah hukum acara perdata Indonesia mengatur

mengenai pengajuan gugatan wanprestasi oleh pihak asing

dalam sengketa perjanjian utang-piutang di pengadilan

Indonesia? .................................................................................. 103

5.1.2 Bagaimanakah pertimbangan hakim dalam mengadili perkara

HPI tersebut? ............................................................................. 105

5.2 Saran ...................................................................................................... 108

Daftar Pustaka ................................................................................................... 109

Aspek-aspek hukum ..., Haryo Kusumastito, FH UI, 2011

13

Universitas Indonesia

DAFTAR SINGKATAN

AB : Algemeene Bepalingen

AG : Aktiengesellschaft

BW : Burgerlijk Wetboek voor Indonesie

CPI : Chon Poong Indonesia

DM : Deutsche Mark

HIR : Het Herziene Indonesisch Reglement

HJL : Hyeon Joo Lee

HPI : Hukum Perdata Internasional

MA : Mahkamah Agung

Perma : Peraturan Mahkamah Agung

PK : Peninjauan Kembali

PLC : Public Limited Company

PN : Pengadilan Negeri

PT : Perseroan Terbatas

PT : Pengadilan Tinggi

Rbg : Rechtsreglement Buitengewesten

RIB : Reglement Indonesia Baru

Rv : Reglement op de Burgerlijk Rechtsvordering

RO : Reglement Organisatie

SEMA : Surat Edaran Mahkamah Agung

SIL : Sweet Indolampung

TPP : Titik Pertalian Primer

TPS : Titik Pertalian Sekunder

W : Won

Aspek-aspek hukum ..., Haryo Kusumastito, FH UI, 2011

14

Universitas Indonesia

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran I: Kasus IKB

1. Putusan perkara No. 111/Pdt.G/2004/PN.Ska

2. Putusan perkara No. 252/Pdt/2005/PT.Smg

3. Putusan perkara No. 2147/K/Pdt/2006

4. Putusan perkara No. 111 PK/Pdt/2009

Lampiran II: Kasus HJL

1. Putusan perkara No. 362/Pdt.G/2007/PN.BKS

2. Putusan perkara No. 72/Pdt/2009/PT.Bandung

3. Putusan perkara No. 2458 K/Pdt/2009

Lampiran III: Kasus Marubeni

1. Putusan perkara No. 63/Pdt.G/2007/PN.Jkt.Pst

2. Putusan perkara No. 303/Pdt/2007/PT.DKI

3. Putusan perkara No. 437 K/Pdt/2008

4. Putusan perkara No. 163 PK/Pdt/2009

Lampiran IV: Tabel Perbandingan

1. Perbandingan fakta hukum dalam ketiga kasus

2. Keputusan majelis hakim dalam ketiga perkara

Lampiran V: Skema Transaksi

1. Skema Transaksi Kasus IKB

2. Skema Transaksi Kasus HJL

3. Skema Transaksi Kasus Marubeni

Aspek-aspek hukum ..., Haryo Kusumastito, FH UI, 2011

15

Universitas Indonesia

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Pemilihan Judul

Saat ini bangsa Indonesia dihadapkan pada perkembangan perekonomian

dunia yang bergerak pesat dan sangat kompetitif. Pemerintah Indonesia pada

dasarnya secara langsung mendukung segenap bangsa Indonesia untuk turut

dalam lalu-lintas perdagangan dunia internasional. Batas-batas negara menjadi

semakin terbuka sehingga bukan menjadi hambatan dalam perdagangan

internasional. Kemajuan teknologi turut mendukung perdagangan tersebut. Hal ini

pun turut berpengaruh pada perkembangan hukum kontrak internasional1 yang

menjadi dasar dari berlangsungnya hubungan perdagangan internasional. Suatu

perjanjian dapat dikatakan sebagai perjanjian internasional apabila memiliki unsur

asing (foreign element) dalam perjanjian tersebut.2 Unsur asing ini bisa timbul

antara lain apabila terdapat status personal subjek hukum yang berbeda dalam

sebuah perjanjian.3 Status personal adalah kelompok kaidah yang mengikuti

seseorang ke mana pun ia pergi.4 Kaidah-kaidah ini dengan demikian mempunyai

1 Terdapat perbedaan antara perikatan (verbintennis), perjanjian (overeenkomsten), dankontrak. Perikatan adalah suatu hubungan hukum antara dua pihak atau lebih, di mana pihak yangsatu berhak menuntut sesuatu dari pihak yang lainnya, dan pihak yang lain itu berkewajiban untukmemenuhi tuntutan tersebut. Lihat bab 2 hal. 18. Perjanjian adalah suatu perbuatan yang mana satuorang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain atau lebih. Lihat bab 1 hal. 3. Makadapat disimpulkan bahwa perikatan adalah suatu hubungan hukum, sedangkan perjanjian adalahsuatu perbuatan hukum. Perbuatan hukum yang terjadi dalam perjanjian itulah yang menjadisumber hubungan hukum perikatan. Di samping perjanjian, ada juga yang disebut sebagai kontrak.Secara gramatikal, istilah kontrak berasal dari bahasa Inggris, yaitu contract. Baik perjanjianmaupun kontrak memiliki pengertian yang sama, yaitu suatu perbuatan hukum untuk salingmengikatkan para pihak yang membuatnya ke dalam suatu hubungan hukum perikatan. Yangmenjadi perbedaan antara keduanya adalah pada perjanjian ada perjanjian yang lisan dan adaperjanjian yang tertulis. Sedangkan pada kontrak selalu tertulis. Dengan kata lain kontrak adalahsuatu perjanjian yang dibuat secara tertulis. Subekti (a), Hukum Perjanjian, cet. 23, (Jakarta:Intermasa, 2010), hal 1-3.

2 Sudargo Gautama (a), Hukum Perdata Internasional Indonesia:Jilid III Bagian 2 Bukuke-8, (Bandung: Alumni, 2007), hal. 2-3.

3 Status personal asing bukan satu-satunya penyebab sebuah perjanjian menjadi perjanjianinternasional. Unsur-unsur asing lainnya yang dapat dianggap sebagai unsur asing dalam sebuahperjanjian adalah tempat perjanjian itu dibuat, di mana pelaksanaan isi dari perjanjian tersebut, danletak dari objek perjanjian bila termasuk ke dalam benda tidak bergerak. Lihat Ibid., hal. 2-3.

Aspek-aspek hukum ..., Haryo Kusumastito, FH UI, 2011

16

Universitas Indonesia

lingkungan keberlakuan yang universal sehingga tidak terbatas kepada wilayah

suatu negara tertentu saja. Hal ini akan menimbulkan permasalahan hukum

perdata internasional (HPI) ketika seseorang dari suatu negara membuat

hubungan hukum dengan orang dari negara lainnya. Hukum perdata internasional

adalah hukum perdata untuk hubungan yang bersifat internasional. Hubungan-

hubungan hukum keperdataan yang terdapat unsur-unsur asingnya, membuat

hubungan-hubungan perdata tersebut menjadi internasional. Sehingga bukan

hukumnya yang internasional, tetapi peristiwa, materi, dan fakta-faktanya yang

internasional, sedangkan sumber hukumnya tetap nasional.5

Salah satu dari kontrak yang penting dan banyak dilakukan oleh para

pelaku usaha antarnegara adalah perjanjian utang-piutang (loan agreement).

Perjanjian ini dilakukan oleh pelaku usaha atau subjek hukum suatu negara

dengan subjek hukum dari negara lain. Para pelaku usaha tersebut meminjam

uang ke luar negeri antara lain karena alasan untuk melestarikan hubungan kerja

yang sudah dibangun, jumlah uang yang dipinjam bisa lebih besar dengan risiko

yang lebih rendah, atau persyaratan yang lebih mudah. Perjanjian utang-piutang

adalah suatu perjanjian antara suatu subjek hukum dengan subjek hukum lain, di

mana satu pihak meminjam uang kepada pihak yang lain dan pihak yang lain akan

mendapat timbal-balik berupa bunga atau hal lain yang telah diperjanjikan

sebelumnya. Pengaturan terhadap perjanjian utang-piutang telah diatur secara

terperinci dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Indonesia (KUHPer)6

4 Sudargo Gautama (b), Hukum Perdata Internasional Indonesia:Jilid III Bagian 1 Bukuke-7, (Bandung: Alumni, 2004), hal. 3.

5 Sudargo Gautama (c), Pengantar Hukum Perdata Internasional Indonesia, Cet.5,(Bandung: Binacipta, 1987), hal. 3-4.

6 Hindia Belanda (a), Burgerlijk Wetboek voor Indonesie, Staatsblad 1847-23. Prof. R.Subekti, S.H. dan R. Tjitrosudibio (b), Kitab Undang-Undang Hukum Perdata: BurgerlijkWetboek, Cet. 34 (Jakarta: Pradnya Paramita, 2004), hal. 338. Kitab ini merupakan terjemahan dariversi asli dari kitab hukum perdata berbahasa Belanda yang berjudul Burgerlijk Wetboek. Kitab inimerupakan hasil kodifikasi hukum perdata yang sebagian besar bersumber dari Code Napoleondan sebagian kecil dari hukum Belanda kuno. Kitab ini resmi berlaku di Belanda pada tanggal 1Oktober 1838. Pada waktu Hindia-Belanda diduduki oleh Pemerintah Kolonial Belanda, makaberlaku asas Konkordansi yang artinya hukum yang berlaku bagi orang Belanda di Hindia-Belandaadalah sama dengan hukum yang berlaku di Belanda. Setelah Indonesia merdeka, kitab inimerupakan hukum positif di Indonesia berdasarkan Pasal II Aturan Peralihan Undang-undangDasar Indonesia Tahun 1945 yang menyatakan bahwa segala badan negara dan peraturan yangada masih langsung berlaku, selama belum diadakan yang baru menurut Undang-Undang Dasarini. KUHPerdata yang ditulis dalam versi aslinya, yaitu Bahasa Belanda klasik, masih berlaku

Aspek-aspek hukum ..., Haryo Kusumastito, FH UI, 2011

17

Universitas Indonesia

atau Burgerlijk Wetboek, seperti lahirnya, hapusnya, dan saat terjadi wanprestasi.

Selain itu perjanjian utang-piutang dapat dibuat sesuai dengan keperluan pihak

yang membuatnya bersangkutan dengan cara pembayaran, besarnya bunga, jangka

waktu pembayaran dan mata uang yang dipakai untuk membayar.

Di dalam perjanjian utang-piutang, para pihak dapat mengatur tentang

besarnya uang yang akan dipinjamkan, mekanisme pengembalian pinjaman,

jaminan pelaksanaan pengembalian utang, apa yang dilakukan apabila ada pihak

yang lalai, dan lain sebagainya. Lebih jauh lagi, para pihak dapat juga turut

memperjanjikan hukum mana yang akan berlaku bagi perjanjian tersebut dan

forum apa yang berwenang mengadili apabila terjadi sengketa. Hal ini merupakan

pelaksanaan dari adanya asas kebebasan berkontrak seperti yang terdapat pada

pasal 1338 (1) KUHPer yang menyatakan bahwa semua perjanjian yang dibuat

secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya.7 Asas

kebebasan berkontrak dalam penerapannya memiliki batasan-batasan, yaitu tidak

bertentangan dengan ketertiban umum, bukan merupakan penyelundupan hukum,

kaidah super memaksa dan hanya berlaku pada ranah hukum kontrak.8

Perjanjian utang-piutang termasuk dalam ranah hukum perdata. Hukum

perdata adalah hukum antarperorangan yang mengatur hak dan kewajiban

perorangan yang satu terhadap yang lainnya dalam masyarakat.9 Hal ini yang

menjadikannya berbeda dengan hukum publik yang lazimnya dirumuskan sebagai

hingga kini di Indonesia dan belum ada penggantinya. KUHPerdata mengatur soal hal-hal yangbelum diunifikasi oleh undang-undang. Hal-hal yang telah diunifikasi adalah seperti hukumPerkawinan dan hukum Agraria. Lihat J.Z. Loude, S.H. dan S. Riwoe-Loupatty, S. H., AjaranUmum Perikatan dan Persetujuan, (Surabaya: Kasnendra Suminar, 1983), hal. i-viii.

7 Subekti (b), op. cit., hal. 342. Dalam bahasa belanda: All wettiglijk gemaakteovereenkomsten strekken dengenen die dezelve hebben aangegaan tot wet. Lihat MR. W. A.Engelbrecht, De Wetboeken Wetten en Verordeningen Benevens de Grondwet van 1945 van deIndonesie, (Leiden: Sijthoff Uitgevermaatschappij N.V, 1960), hal. 572.

8 Maksud dari ketertiban umum adalah kaidah yang menjaga bahwa hukum yang telahdipilih oleh para pihak adalah tidak bertentangan dengan sendi-sendi asasi dalam hukum danmasyarakat sang hakim. Penyelundupan hukum terjadi ketika pilihan hukum dilakukan dengantidak sebenarnya dan tidak bonafide. Kaidah super memaksa adalah kaidah-kaidah hukum yangberlaku yang demikian memaksa sehingga tidak diperbolehkan untuk melakukan pilihan hukum.Hukum kontrak di sini maksudnya adalah hukum perjanjian secara perdata. Lihat SudargoGautama (c), op. Cit, hal. 170-172. Bonafide artinya adalah dengan beritikad baik.

9 Wirjono Prodjodikoro, Azas-Azas Hukum Perdata, (Bandung: Vorkink-Van Hoeve,1959), hal. 7.

Aspek-aspek hukum ..., Haryo Kusumastito, FH UI, 2011

18

Universitas Indonesia

hukum yang mengatur kepentingan umum dan mengatur hubungan penguasa

dengan warga negaranya.10 Sedangkan definisi dari perjanjian secara hukum

dijelaskan oleh Buku III KUHPer pada pasal 1313 yang menyatakan bahwa satu

perjanjian adalah suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan

dirinya terhadap satu orang lain atau lebih.11

Hukum perjanjian atau hukum kontrak itu sendiri adalah bagian yang

paling penting dalam HPI.12 Hal ini karena perjanjian lintas negara adalah yang

paling banyak dilakukan oleh warga antarnegara di dunia sesuai dengan

berkembangnya dunia perdagangan internasional. Perjanjian perdata yang

melibatkan pihak-pihak yang berbeda status personalnya adalah yang paling

banyak terjadi dalam ranah HPI. Perbedaan status personal dari para pihak salah

satu penyebab timbulnya persoalan HPI. Status personal seseorang didasarkan

pada kewarganegaraan yang dimilikinya merupakan salah satu hal yang turut

berpengaruh pada hukum yang akan berlaku terhadap orang tersebut.

Pelaksanaan perjanjian utang-piutang tersebut terkadang tidak berjalan

sebagaimana seperti yang telah diperjanjikan sebelumnya sehingga terjadi

wanprestasi. Definisi dari wanprestasi menurut Tirtodiningrat adalah suatu

tindakan yang tidak menepati janji.13 Dalam perjanjian utang-piutang yang

menjadi prestasi para pihak adalah bagi pihak yang berpiutang, yaitu

meminjamkan sejumlah uang kepada pihak yang berutang; sedangkan bagi pihak

yang berutang prestasinya adalah membayar kembali uang yang dipinjamkan

pihak yang berpiutang beserta bunganya dengan cara dan dalam waktu seperti

yang telah diperjanjikan sebelumnya. Wanprestasi dapat terjadi di mana saja,

kapan saja, oleh pihak yang mana saja, dengan berbagai alasan dan keadaan, baik

secara sengaja maupun tidak sengaja. Wanprestasi dapat terjadi antara lain bila (i)

salah satu pihak yang melakukan perjanjian tidak melakukan apa yang telah

10 Sudikno Mertokusumo (a), Mengenal Hukum, Suatu Pengantar, ed. 5, cet. 1,(Yogyakarta: Liberty, 2003), hal. 129.

11 Subekti (b), op. cit., hal. 338. Eene overeenkomst is eene handeling waarbij een ofmeer personen zich jegens een of meer ander verbinde. Lihat Engelbrecht, op. cit., hal. 572.

12 Sudargo Gautama (a), op. cit, hal. 1.

13 Mr K.R.M.T. Tirtodiningrat, Ichtisar Hukum Perdata dan Hukum Dagang, Cet. 2,(Jakarta: Pembangunan, 1954), hal. 56.

Aspek-aspek hukum ..., Haryo Kusumastito, FH UI, 2011

19

Universitas Indonesia

disanggupi akan dilakukannya, (ii) melakukan apa yang dijanjikannya tetapi tidak

sebagaimana yang dijanjikannya, (iii) melakukan apa yang dijanjikannya tetapi

terlambat, dan (iv) melakukan sesuatu menurut perjanjian yang tidak boleh

dilakukannya.14 Oleh karena itu, diperlukan penyelesaian atas masalah

wanprestasi ini. Salah satu cara penyelesaiannya adalah melalui pengadilan.

Ketika terjadi wanprestasi pada sebuah perjanjian internasional dan kemudian

salah satu pihak ingin menggugat pihak yang lainnya, maka juga akan timbul

permasalahan tentang pengadilan apa yang berwenang untuk mengadili, hukum

apa yang dapat diterapkan untuk mengadili sengketa, dan bagaimana pelaksanaan

putusan hakim kepada para pihak yang bersengketa.15

Skripsi ini akan mengangkat mengenai kasus-kasus wanprestasi yang

terjadi karena suatu perjanjian utang-piutang. Pihak-pihak yang ada dalam

perjanjian utang-piutang tersebut adalah subjek hukum Indonesia dengan subjek

hukum asing. Para pihak asing ini merasa dirugikan karena menganggap bahwa

lawan kontraknya telah melakukan wanprestasi atas perjanjian utang-piutang yang

telah mereka buat. Para pihak asing ini kemudian mengajukan gugatan ke

pengadilan Indonesia untuk mengadili perkara wanprestasi itu.

Dengan adanya unsur asing dalam sebuah perkara, hal ini membuat

perkara tersebut termasuk sebagai perkara HPI. Dalam setiap perkara HPI, hakim

harus menyelidiki apakah yang dihadapi termasuk persoalan bidang hukum acara

(formil) atau hukum substantif (materil). Jika termasuk dalam bidang hukum

acara, maka hakim selalu mempergunakan hukum acaranya sendiri. Apabila suatu

kaidah hukum tertentu telah dikualifikasi termasuk bidang hukum acara, maka

kaidah-kaidah lex fori yang akan dipergunakan. Jalannya perkara menurut

ketentuan-ketentuan acara selalu tunduk kepada hukum dari sang hakim. Ini

adalah pendapat yang dianut sarjana HPI terbanyak dan praktik hukum.16

14 Subekti (a), op. cit., hal. 45.

15 In interstate and internastional transaction, there are three major topics that lawyermust address either in the planning or dispute resolution stage. 1. Where can the parties resolve adispute by the suit or other means, such as arbitration? 2. What law will a court or arbitratorsapply to resolve the dispute? 3. What will be the effect of any judgement or award?. Lihat PeterHay, Russel J. Weintraub, Patrick J. Borchers, Conflict of Laws:Cases and Materials, ed. 11, (NewYork: Foundation Press, 2000), hal.1.

Aspek-aspek hukum ..., Haryo Kusumastito, FH UI, 2011

20

Universitas Indonesia

Pada umumnya kewarganegaraan tidak dipakai untuk menentukan

kompentensi relatif, namun domisili seseorang yang dipergunakan sebagai titik

taut.17 Hal ini membuat seorang warganegara Indonesia dapat dituntut di

pengadilan Indonesia oleh pihak asing. Hakim Indonesia berwenang untuk

memeriksa perkara tanpa memperhatikan kewarganegaraan pihak tergugat dan

penggugat. Warganegara manapun akan diperlakukan sama, selama hakim

tersebut berwenang untuk mengadili sengketa tersebut. Kewenangan ini pertama-

tama timbul dari tempat tinggal tergugat atau tempat sebenarnya dia berada

(forum rei) sesuai dengan hukum acara yang ada di Indonesia.

Secara materiil dalam hukum acara perdata internasional mengatur kaidah-

kaidah yang berkenaan dengan unsur-unsur asing dalam hukum acara perdata.

Unsur-unsur asing ini antara lain adalah (i) para pihak yang beracara adalah warga

negara asing, (ii) alat-alat pembuktian yang diajukan adalah dari luar negeri, (iii)

adanya pengakuan atas keputusan asing, dan (iv) harus diadakan bantuan

tambahan terhadap pemeriksaan yang dilakukan oleh pengadilan asing.18

Dalam mengajukan gugatan di pengadilan Indonesia, para pihak harus

memperhatikan hukum acara yang berlaku di Indonesia. Tujuannya adalah supaya

gugatan yang diajukan tersebut tidak mengandung cacat formil. Suatu gugatan

memiliki cacat formil misalnya bilamana surat kuasa untuk mengajukan gugatan

dibuat tanpa memenuhi persyaratan hukum, gugatan tidak memiliki dasar hukum,

gugatan salah orang, gugatan kurang pihak, gugatan melanggar kompetensi

absolut dan relatif dan perkara telah diadili oleh pengadilan lain.19 Apabila

gugatan mengandung cacat formil, maka majelis hakim akan menjatuhkan

putusan yang isinya adalah bahwa gugatan tidak dapat diterima (niet onvankelijk

verklaard) atau pengadilan tidak berwenang untuk mengadili. Selain itu hakim

juga dapat menjatuhkan putusan sela yang berisi perintah yang harus dilakukan

para pihak yang berperkara untuk memudahkan hakim menyelesaikan

16 Gautama (a), op. cit., hal. 307.

17 Ibid., hal 215.

18 Ibid., hal. 208

19 Yahya Harahap, Hukum Acara Perdata tentang Gugatan, Persidangan, Penyitaan,Pembuktian, dan Putusan Pengadilan, cet. 7, (Jakarta: Sinar Grafika, 2008), hal. 811.

Aspek-aspek hukum ..., Haryo Kusumastito, FH UI, 2011

21

Universitas Indonesia

pemeriksaan perkara, sebelum dia menjatuhkan putusan akhir.20 Dalam

menemukan kecacatan formil dalam gugatan yang diajukan, majelis hakim dapat

menemukannya sendiri atau berdasarkan eksepsi dari pihak tergugat.

Kasus-kasus yang akan diangkat dalam skripsi ini adalah antara subjek

hukum asing dengan subjek hukum Indonesia yang bersengketa di Pengadilan

Indonesia. Kasus-kasus ini akan dianalisis untuk mengetahui kecacatan formil apa

saja yang ada dalam pengajuan gugatan oleh pihak penggugat yang membuat

majelis hakim menjatuhkan putusannya. Kasus pertama adalah antara IKB

Deutche Industrial Bank AG melawan PT Manunggal Adipura, dkk pada tahun

2004 (kasus IKB).21 Kasus yang kedua adalah antara Hyeon Joo Lee melawan

PT Chon Poo Indonesia, dkk pada tahun 2007 (Kasus HJL).22 Kasus yang

ketiga adalah antara Marubeni Corporation melawan PT Sweet Indolampung pada

tahun 2007 (Kasus Marubeni).23 Pada ketiga kasus ini, majelis hakim

menemukan bahwa terdapat kecacatan formil dalam pengajuan gugatan yang

dilakukan oleh para pihak. Kecacatan formil ini terjadi karena pihak asing yang

mengajukan gugatan tidak memenuhi kaidah-kaidah hukum acara yang ada di

Indonesia. Di dalam putusan hakim yang mengadili perkara tersebut akan

dianalisis tentang bagaimana pendirian hakim berkenaan dengan pengajuan

gugatan wanprestasi yang diajukan oleh para pihak yang bersengketa, sehingga

dapat disimpulkan apakah pengajuan gugatan para pihak di pengadilan yang

dipilih sudah tepat atau tidak berdasarkan sistem hukum di Indonesia dan

konsekuensinya pada putusan pengadilan selanjutnya.

Pokok sengketa dari kasus IKB adalah sengketa perjanjian utang-piutang

yang dibuat oleh para pihak. PT Manunggal Adipura membeli mesin-mesin

20 Ibid., hal. 880.

21 Nomor register perkara: No. 111/Pdt.G/2004/PN.Ska. tanggal 30 Mei 2005, No.252/Pdt/2005/PT.Smg. tanggal 6 Februari 2006, No. 2147/K/Pdt/2006. tanggal 26 Maret 2007, No.111PK/Pdt/2009. tanggal 14 Juli 2009 (Lihat Lampiran 1).

22 Nomor register perkara: No. 362/Pdt.G/2007/PN.BKS. tanggal 29 Mei 2008, No.72/Pdt/2009/PT.Bandung. tanggal 18 Juni 2009, No. 2458K/Pdt/2009. tanggal 25 Maret 2010(Lihat Lampiran 2).

23 Nomor register perkara: No. 63/Pdt.G/2007/PN.Jkt.Pst. tanggal 16 Mei 2007, No.303/Pdt/2007/PT.DKI. tanggal 5 September 2007, No. 437K/Pdt/2008. tanggal 2 Juli 2008, No.163PK/Pdt/2009. tanggal 17 Juni 2009 (Lihat Lampiran 3).

Aspek-aspek hukum ..., Haryo Kusumastito, FH UI, 2011

22

Universitas Indonesia

pemintalan seharga DM 23.923.373 kepada Chemnitzer Spinnereimaschinenbau

GMBH yang berkedudukan di Jerman. Dalam perjanjian jual-beli tersebut PT

Manunggal Adipura mendapatkan dana talangan sebesar delapan puluh lima

persen dari keseluruhan harga dari IKB Deutsche Industrie Bank AG. PT

Manunggal Adipura dengan perjanjian tersendiri dianggap meminjam uang

kepada IKB Industrie Bank AG dan wajib melunasi utangnya tersebut. Utang dari

PT Manunggal Adipura seharusnya sudah lunas pada tahun 2003 sesuai dengan

perjanjian utang-piutang yang telah dibuat. Tetapi sampai pada tahun 2004 PT

Manunggal Adipura tidak juga melunasi utangnya. Hal ini menyebabkan IKB

Deutsche Industrie Bank AG mengajukan gugatan kepada PN Surakarta di mana

PT Manunggal Adipura berdomisili.24

Pokok sengketa dari kasus HJL adalah pada tahun 2006 NPR. Co, Ltd,

suatu badan hukum Korea Selatan, melalui direktur utamanya, Hoon Ja Kim,

meminjam uang sebesar W 1.316.014.000 kepada Hyeon Joo Lee, seorang warga

negara Korea Selatan. Perjanjian utang-piutang terjadi di Korea Selatan, oleh dan

untuk warga negara Korea Selatan, dan berdasarkan hukum Korea Selatan.

Kemudian waktu berselang Hyeon Joo Lee menganggap bahwa Hoon Ja Kim

tidak memenuhi perjanjian utang-piutang yang telah mereka buat, sehingga Hyeon

Joo Lee menggugat Byung Pyo Lee (penjamin) dan NPR. Co, Ltd, ke Pengadilan

Negeri di Korea Selatan. Penyelesaian sengketa utang-piutang ini ditempuh ke

Ketua Komisi Mediasi/Hakim: Shin, Gwi Seop Pengadilan Cabang Cheonan

Pengadilan Negeri Daejeon Korea Selatan. Putusan pengadilan pada sengketa ini

akhirnya memenangkan pihak Hyeon Joo Lee. Jurusita pengadilan tersebut telah

menyita aset-aset yang dimiliki Byung Pyo Lee dan NPR. Co, Ltd, yang ada di

Korea Selatan. Setelah itu Hyeon Joo Lee menggugat PT Chon Poong Indonesia

di PN Bekasi. Pengajuan gugatan ini dilakukan karena uang yang dipinjam tadi

telah digunakan oleh Byung Pyo Lee dan Hoon Ja Kim untuk menanam modal di

PT Chon Poong Indonesia sehingga Hyeon Joo Lee menggugat agar aset-aset dari

perseroan tersebut untuk disita. Dalam penanaman modal ini Hoon Ja Kim

bertindak sebagai individu, tidak lagi bertindak sebagai direktur utama NPR. Co,

24 Penjelasan mengenai kasus posisi dari perkara I akan dibahas pada bab 4.1.1, IKBDeutsche Industrie Bank AG melawan PT Manunggal Adipura, hal. 66.

Aspek-aspek hukum ..., Haryo Kusumastito, FH UI, 2011

23

Universitas Indonesia

Ltd. PN Bekasi kemudian memutuskan bahwa PT Chon Poong Indonesia telah

melakukan wanprestasi dan melakukan penyitaan dari aset-aset yang dimiliki

perseroan tersebut. Namun pada tingkat banding, putusan PN Bekasi ini

dibatalkan oleh PT Jawa Barat yang kemudian dikuatkan oleh putusan Mahkamah

Agung.25

Pokok sengketa dari kasus Marubeni adalah PT Sweet Indolampung,

sebuah perusahaan yang mengelola perkebunan tebu di Lampung, memiliki utang

kepada Marubeni Corporation sebesar 3.525.030.379 dan US$ 7.925.765,18.

Uang dari perjanjian utang-piutang tersebut digunakan untuk membiayai

perjanjian lain tentang pembuatan pabrik pengolahan tebu di Lampung. Pada

perjanjian yang kedua ini, Marubeni berkewajiban untuk membuat pabrik

pengolahan tebu bagi PT Sweet Indolampung. Kedua belah pihak saling merasa

pihak lainnya melakukan wanprestasi sehingga mereka saling mengajukan

gugatan ke pengadilan. PT Sweet Indolampung mengajukan gugatan wanprestasi

ke PN Gunung Sugih di Lampung pada tahun 2006 yang isinya menyatakan

bahwa Marubeni Corporation telah melakukan wanprestasi karena perjanjian

tentang pembangunan pabrik pengolahan tebu tidak berjalan sebagaimana yang

diperjanjikan sebelumnya. Ketika proses pemeriksaan kasus berlangsung,

Marubeni Corporation turut mengajukan gugatan wanprestasi ke PN Jakarta Pusat

pada tahun 2007 yang isi gugatannya adalah sama dengan rekonpensi yang

diajukan ke PN Gunung Sugih, yakni bahwa PT Sweet Indolampung tidak

melakukan kewajibannya seperti yang terdapat dalam perjanjian utang-piutang.

Kemudian PN Jakarta Pusat memberikan putusan sela yang isinya menyatakan

diri tidak berwenang untuk memeriksa kasus tersebut. Pada tingkat banding,

putusan sela ini dibatalkan oleh PT Jakarta sekaligus menyatakan bahwa PN

Jakarta Pusat berwenang untuk memeriksa kasus tersebut. Putusan PT Jakarta ini

dikuatkan oleh putusan kasasi Mahkamah Agung dan putusan peninjauan

kembali.26

25 Penjelasan mengenai kasus posisi dari perkara II akan dibahas pada bab 4.1.2, HyeonJoo Lee melawan PT Chon Poong Indonesia, hal. 71.

26 Penjelasan mengenai kasus posisi dari perkara III akan dibahas pada Bab 4.1.3,Marubeni Corporation melawan PT Sweet Indolampung, hal. 76.

Aspek-aspek hukum ..., Haryo Kusumastito, FH UI, 2011

24

Universitas Indonesia

Ketiga kasus di atas membuat penulis ingin menjadikannya sebagai bahan

skripsi ini karena ketiga perkara tersebut berunsurkan asing, berkenaan dengan

masalah perjanjian utang-piutang yang diajukan ke pengadilan Indonesia dengan

dasar wanprestasi, serta ketiganya sudah diputus dan memiliki kekuatan hukum

tetap (in kracht van gewijsde) paling tidak sampai pada tingkat Mahkamah

Agung. Ketiga kasus tersebut merupakan kasus HPI karena salah satu pihak yang

bersengketa berasal dari luar Indonesia. Hal tersebut merupakan faktor dari

terbentuknya titik taut primer antara para pihak yang bersengketa.27 Pada ketiga

perkara tersebut juga terdapat permasalahan formil yang memberikan dampak

besar kepada putusan hakim terhadap perkara wanprestasi tersebut. Berdasarkan

uraian di atas, penulis tertarik untuk membuat skripsi dengan judul Aspek-Aspek

Hukum Acara Perdata Internasional dalam Perkara Wanprestasi berkenaan

dengan Loan Agreement di Pengadilan Indonesia.

1.2 Pokok Permasalahan

Dalam menulis skripsi ini, penulis membatasi penelitian yang penulis

lakukan pada pokok permasalahan sebagai berikut:

1. Bagaimanakah hukum acara perdata Indonesia mengatur mengenai

pengajuan gugatan wanprestasi oleh pihak asing dalam sengketa perjanjian

utang-piutang di pengadilan Indonesia?

2. Bagaimanakah pertimbangan hakim dalam mengadili perkara HPI

tersebut?

1.3 Tujuan Penelitian

Setelah melihat latar belakang dan pokok permasalahan di atas, maka

pembahasan dalam skripsi ini bertujuan untuk:

1. mengetahui penggunaan teori HPI dalam beracara di pengadilan

Indonesia mengenai perkara wanprestasi berkenaan dengan perjanjian

utang-piutang antara subjek hukum Indonesia dengan subjek hukum

asing; dan

27 Penjelasan tentang analisis para pihak dalam ketiga perkara akan dibahas pada Bab4.2.1 tentang para pihak dalam ketiga perkara, hal. 82.

Aspek-aspek hukum ..., Haryo Kusumastito, FH UI, 2011

25

Universitas Indonesia

2. mengetahui apa yang menjadi pertimbangan hakim dalam mengadili

perkara wanprestsi HPI tersebut.

1.4 Kerangka Konsepsional

Kerangka konsepsional adalah suatu kerangka yang menyatakan hubungan

antara konsep-konsep khusus yang ingin atau akan diteliti.28 Dengan adanya

kerangka konsepsional maka akan ada suatu pembatasan konsep istilah yang

digunakan dalam penulisan skripsi ini, yaitu:

1. Perjanjian utang-piutang adalah sebuah perjanjian antara suatu subjek

hukum dengan subjek hukum yang lainnya dimana satu pihak meminjam uang

kepada pihak yang lain dan pihak yang lain akan mendapat timbal-balik

berupa bunga atau hal lain yang telah diperjanjikan sebelumnya. Utang-

piutang adalah sebuah tindakan meminjamkan suatu hal kepada peminjam

untuk jangka waktu tertentu, terutama sejumlah uang yang dipinjamkan

dengan bunga.29

2. Wanprestasi dapat disebut juga sebagai tindakan yang tidak menepati janji.30

Pelanggaran kewajiban yang terdapat dalam suatu kontrak, baik dengan gagal

untuk melaksanakan apa yang sudah diperjanjikan atau dengan tidak

melakukan kewajiban sebagaimana mestinya.31

3. Pengajuan Gugatan adalah pengajuan perkara ke hadapan hakim pengadilan

untuk dimintakan hukuman. Surat gugat memuat dalil-dalil yang dikemukakan

penggugat dan diakhiri dengan tuntutan terhadap tergugat.32 Gugatan adalah

28 Soerjono Soekanto (a), Pengantar Penelitian Hukum, cet. 3, (Jakarta: UI-press, 2007),hal. 132.

29 Loan is an act of lending or a thing lent for the borrowers temporary use, especiallya sum of money lent at interest. Bryan A. Garner, Blacks Law Dictionary, ed. 7, (St.Paul: WestPublishing co, 1999), hal. 947.

30 Mr K.R.M.T. Tirtodiningrat, op. cit., hal. 56.

31 Violation of a contractual obligation, either by failing to perform ones own promiseor by interfering with another partys performance. Garner, op. cit., hal.182.

32 Izaac Leihitu dan Fatimah Achmad, Intisari Hukum Acara Perdata, (Jakarta: Ghalia,1982), hal 54.

Aspek-aspek hukum ..., Haryo Kusumastito, FH UI, 2011

26

Universitas Indonesia

tuntutan perdata tentang hak yang mengandung sengketa dengan pihak lain.33

Tindakan yang bertujuan memperoleh perlindungan hak yang diberikan oleh

pengadilan untuk mencegah suatu tindakan yang sewenang-wenang dari satu

pihak kepada pihak yang lainnya.34

4. Kompetensi atau disebut juga dengan kewenangan, kekuasaan. Dalam hukum

acara perdata ada dua macam kompetensi, yaitu kompetensi relatif dan

kompetensi absolut. Kompetensi absolut menjawab pertanyaan badan

peradilan macam apa yang berwenang untuk mengadili sebuah sengketa.

Kompetensi absolut menyangkut pembagian kekuasaan antar-badan peradilan,

dilihat dari macamnya pengadilan, menyangkut pemberian kekuasaan untuk

mengadili (attributie van rechtsmacht). Kompetensi relatif menjawab

pertanyaan pengadilan negeri manakah yang berwenang untuk mengadili

sebuah perkara. Kompetensi relatif mengatur tentang pembagian kekuasaan

mengadili antar-pengadilan yang serupa, tergantung dari tempat tinggal

tergugat.35 Kewenangan dari lembaga yang berwenang untuk melakukan

sesuatu, kewenangan pengadilan untuk membuat keputusan)36

5. Putusan Hakim adalah hasil atau kesimpulan suatu pemeriksaan perkara

yang didasarkan pada pertimbangan yang menetapkan apa yang hukum.37

Suatu pernyataan yang oleh hakim, sebagai pejabat negara yang diberi

wewenang untuk itu, diucapkan di persidangan dan betujuan untuk mengakhiri

atau menyelesaikan suatu perkara atau sengketa antara para pihak.38

33 Harahap, op. cit., hal. 47.

34 Sudikno Mertokusumo (b), Hukum Acara Perdata Indonesia,(Yogyakarta: Liberty,2010), hal. 70.

35 Leihitu, op. cit., hal. 42-43.

36 Competence is the capacity of an official body to do something (the courtscompetence to enter a valid judgement. Garner, op. cit., hal. 278.

37 Leihitu,op. cit., hal. 73.

38 Mertokusumo (b), op. cit., hal. 287.

Aspek-aspek hukum ..., Haryo Kusumastito, FH UI, 2011

27

Universitas Indonesia

Keputusan akhir pengadilan terhadap suatu kasus yang membuat berakhirnya

perkara.39

6. Yurisdiksi pengadilan negeri adalah daerah kekuasaan suatu badan

pengadilan, daerah yang dalam pembagian kekuasaan antara pengadilan-

pengadilan dari satu jenis, menjadi tanggung jawabnya satu pengadilan.40

Kewenangan pengadilan untuk mengadili kasus atau perkara.41

7. Hukum Perdata Internasional adalah keseluruhan peraturan dan keputusan

hukum yang menunjukkan stelsel hukum manakah yang berlaku atau apakah

yang merupakan hukum, jika hubungan-hubungan dan peristiwa-peristiwa

antara warga (warga) negara pada satu waktu tertentu memperlihatkan titik-

titik pertalian dengan stelsel-stelsel dan kaidah-kaidah hukum dari dua negara

atau lebih yang berbeda dalam lingkungan-kuasa-tempat, (pribadi) dan soal-

soal.42 Permasalahan HPI bisa timbul ketika dalam sebuah masalah hukum

secara fakta melibatkan lebih dari satu sistem hukum.43

8. Hukum Acara Perdata adalah Hukum acara yang melaksanakan dan

mempertahankan hukum perdata materiil.44 Selain itu hukum acara perdata

juga adalah rangkaian peraturan-peraturan yang memuat cara bagaimana

orang harus bertindak terhadap dan dimuka pengadilan dan cara bagaimana

pengadilan itu harus bertindak, satu sama lain untuk melaksanakan

berjalannya peraturan-peraturan hukum perdata.45

39 Final judgement is a courts final resolution of the issues which fully end a case.Susan Ellis Wild, Webster New World Law Dictionary, Ed. 3, (New Jersey: Wiley Publishing, Inc,2006), hal. 163.

40 Leihitu, op. cit.,hal 86.

41 Courts jurisdiction is a courts power to decide a case or issue a decree. Garner,op. cit., hal. 855.

42 Gautama (c), op. cit., hal. 21.

43 Hay, op. cit., hal.1.

44 Leihitu, op. cit., hal 55.

45 Moh. Taufik Makarao, Pokok-Pokok Hukum Acara Perdata, (Jakarta: Rineka Cipta,2004), hal. 5.

Aspek-aspek hukum ..., Haryo Kusumastito, FH UI, 2011

28

Universitas Indonesia

9. Hukum Acara perdata Internasional adalah bagian dari hukum acara, yakni

sepanjang mengandung unsur-unsur asing.46

10. Titik Pertalian Primer (TPP) adalah titik-titik pertalian yang memberikan

petunjuk pertama apakah suatu hal merupakan masalah HPI. 47

11. Titik Pertalian Sekunder (TPS) adalah faktor-faktor dan keadaan-keadaan

yang menentukan hukum manakah yang harus diberlakukan diantara hukum-

hukum yang dipertautkan.48

1.5 Metode Penelitian

Metode Penelitian yang digunakan dalam dalam skripsi ini adalah

penelitian hukum normatif, yaitu penelitian yang menggunakan bahan pustaka

atau buku sebagai bahan utama penelitian.49 Tipe dari penelitian ini adalah

penelitian deskriptif. Penelitian deskriptif dimaksudkan untuk memberikan data

yang seteliti mungkin tentang manusia, keadaan, atau gejala lainnya.50

Bahan pustaka dalam penelitian hukum normatif merupakan data dasar

yang dikategorikan sebagai data sekunder.51 Pengumpulan data dalam penulisan

skripsi ini dilakukan dengan menggunakan metode studi dokumen dan bahan

pustaka hukum primer:

1. Bahan hukum primer, yaitu bahan-bahan yang mempunyai kekuatan

mengikat, yang antara lain adalah peraturan perundang-undangan,

putusan pengadilan. Peraturan perundang-undangan yang akan penulis

gunakan antara lain adalah KUHPer, HIR (het herziene indische

reglemet), dan AB (algemeene bepalingen).52 Semua fakta hukum

46 Gautama (a), op. cit., hal. 203.

47 Sudargo Gautama (d), Hukum Perdata Internasional Indonesia Jilid II Bagian 1 Bukuke-2, cet. 2, (Bandung: Alumni, 1972), hal. 29.

48 Ibid., hal. 34.

49 Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji (b), Penelitian Hukum Normatif: Suatu TinjauanSingkat, (Jakarta: Rajagrafindo Persada, 2006), hal. 13-14.

50 Ibid., hal. 10.

51 Ibid., hal. 24.

Aspek-aspek hukum ..., Haryo Kusumastito, FH UI, 2011

29

Universitas Indonesia

yang penulis nyatakan dan analisis dalam skripsi ini adalah

berdasarkan kepada apa yang didalilkan oleh para pihak sebagaimana

yang dimuat dalam putusan pengadilan.

2. Bahan hukum sekunder, adalah bahan-bahan yang memberikan

penjelasan mengenai bahan hukum primer, seperti rancangan undang-

undang, buku-buku, artikel, makalah, jurnal, serta pendapat para ahli

hukum. Bahan hukum sekunder yang penulis gunakan dalam skripsi

ini adalah buku-buku, pendapat para ahli hukum yang terkait dengan

hukum perdata dan HPI, dan kekuasaan kehakiman Indonesia.

3. Bahan hukum tersier, petunjuk terhadap bahan hukum primer dan

sekunder seperti kamus dan ensiklopedia.53

1.6 Sistematika Penulisan

Penulisan skripsi ini terdiri dari 5 (lima) bab sebagai berikut:

BAB 1: PENDAHULUAN

Pada bab ini akan dipaparkan mengenai; (1) latar belakang permasalahan

dari penulisan skripsi ini; (2) pokok permasalahan sebagai batasan dari penelitian

yang dilakukan; (3) tujuan dari dilakukannya penelitian; (4) kerangka

konsepsional dari istilah-istilah dan konsep yang digunakan dalam penulisan

skripsi; (5) metode penelitian yang digunakan; dan (6) sistematika penulisan.

BAB 2: PERJANJIAN UTANG-PIUTANG DALAM HUKUM

INDONESIA

Dalam bab ini akan dijelaskan tentang; (1) pengantar; (2) pengertian

perjanjian utang-piutang; (3) perjanjian utang-piutang internasional; dan (4)

wanprestasi.

BAB 3: PENGAJUAN GUGATAN PERKARA WANPRESTASI DI

PENGADILAN INDONESIA

52 Dalam mengutip pasal-pasal yang terdapat di undang-undang peninggalan pemerintahKolonial Hindia Belanda, penulis juga turut mencantumkan teks asli dari pasal-pasal tersebutselain dari apa yang diterjemahkan oleh para ahli hukum Indonesia. Teks asli tertulis dalam bahasaBelanda, sesuai dengan yang ada dalam Staatsblad pemerintah Hindia Belanda. Tujuan daripencantuman teks asli ini adalah supaya pembaca dapat mengetahui seperti apa bunyi asli daripasal-pasal yang dibahas oleh penulis dalam skripsi ini.

53 Soekanto (b), op. Cit., hal. 33.

Aspek-aspek hukum ..., Haryo Kusumastito, FH UI, 2011

30

Universitas Indonesia

Dalam bab ini akan dibahas mengenai; (1) hukum acara perdata Indonesia;

(2) hukum acara perdata internasional; dan (3) pengajuan gugatan di Pengadilan

Indonesia.

BAB 4: ANALISIS ASPEK-ASPEK HUKUM ACARA PERDATA

INTERNASIONAL DALAM PERKARA WANPRESTASI BERKENAAN

DENGAN LOAN AGREEMENT DI PENGADILAN INDONESIA

Bab ini terdiri dari; (1) mengenai uraian kasus posisi dari ketiga perkara

yang penulis bahas dalam skripsi ini; (2) mengenai analisis para pihak dalam

ketiga perkara; (3) mengenai analisis terhadap hukum formil dan hukum materiil

yang berlaku dalam ketiga perkara; (4) mengenai analisis forum pengadilan pada

ketiga perkara; dan (5) mengenai tujuan legalisasi perjanjian utang-piutang oleh

notaris.

BAB 5: KESIMPULAN DAN SARAN

Bab ini berisikan; (1) kesimpulan; dan (2) saran

Aspek-aspek hukum ..., Haryo Kusumastito, FH UI, 2011

31

Universitas Indonesia

BAB 2

PERJANJIAN UTANG-PIUTANG DALAM HUKUM INDONESIA

2.1 Pengantar

Tidak ada kata sepakat di antara para penulis HPI dan selalu terdapat

perbedaan paham mengenai berbagai masalah HPI yang terjadi. Ada dua aliran

besar dalam HPI, yaitu aliran internasionalistis dan nasionalistis. Aliran

internasionalistis menganggap bahwa kaidah HPI itu bersifat supranasional di

mana hanya ada satu sistem HPI untuk semua negara, sehingga semua negara di

dunia harus tunduk kepada sistem tersebut. Sedangkan aliran nasionalistis

menganggap sebaliknya, bahwa setiap negara tunduk kepada sistem HPI masing-

masing. Setiap negara di dunia memiliki sistem HPI masing-masing sebagai

bentuk kedaulatan negara tersebut. Hal ini disebabkan karena sumber HPI sendiri

yang tidak lain adalah hukum nasional.

Sudargo Gautama adalah salah seorang sarjana HPI yang menganut aliran

nasionalistis. Menurut beliau, kata internasional dalam HPI bukanlah berarti dari

semua negara-negara akan tetapi peristiwa, materi dan fakta-faktanya yang

internasional, sedangkan sumber hukumnya berasal dari hukum nasional. HPI

adalah hukum perdata untuk hubungan-hubungan yang bersifat internasional.

Hubungan-hubungan hukum keperdataan yang terdapat unsur-unsur asing

membuat hubungan-hubungan perdata tersebut menjadi internasional. Yang

internasional adalah hubungan-hubungannya, tetapi kaidah-kaidah HPI adalah

tetap dari hukum perdata nasional. Sudargo Gautama secara tegas menolak aliran

internasionalistis karena beliau menganggap bahwa tidak mungkin untuk

mencapai hanya satu macam sistem HPI di dunia. Penyatuan ini pernah dicoba

untuk dilakukan di masa lampau tetapi kandas di tengah jalan. Pada saat sekarang

ini, aliran nasionalistis yang paling banyak dilaksanakan dalam praktik.

Keberlakuan hukum nasional sebagai sumber HPI merupakan bentuk dari

kedaulatan suatu negara.54 Hukum nasional di Indonesia yang relevan untuk

menjadi sumber hukum pada kasus HPI yang dibahas dalam skripsi ini adalah

54 Gautama (c), op. Cit., hal. 1-6.

Aspek-aspek hukum ..., Haryo Kusumastito, FH UI, 2011

32

Universitas Indonesia

KUHPer. Di Indonesia, kaidah hukum yang mengatur tentang perikatan terdapat

dalam KUHPer, sehingga bab ini akan membahas mengenai perikatan yang diatur

dalam KUHPer.

2.2 Pengertian Perjanjian Utang-Piutang

KUHPer terbagi menjadi 4 buku, yaitu Buku I tentang orang (personen),

Buku II tentang benda (zaken), Buku III tentang perikatan (verbindtenissen), dan

Buku IV tentang pembuktian dan daluarsa (bewijs en verjaring). Buku II

mengatur perihal hubungan-hubungan hukum antara orang dengan benda

menyangkut hak-hak kebendaannya. Buku III mengatur perihal hubungan-

hubungan hukum antara orang dengan orang atau disebut juga hak-hak

perseorangan meskipun mungkin yang menjadi objek dari hubungan tersebut juga

suatu benda. Hubungan hukum yang terjadi pada perikatan adalah hubungan

hukum antara orang dengan orang, sehingga hak yang timbul adalah hak terhadap

orang yang berlaku sebagai debitur. Berbeda dengan hukum kebendaan yang

mengatur tentang hubungan antara orang dengan barang, hak yang timbul adalah

hak atas barang yang berlaku terhadap semua orang.55 Buku III memiliki sistem

terbuka di mana para pihak dapat membuat peraturannya sendiri dan buku ini

adalah sebagai pelengkap dari peraturan yang dibuat oleh para pihak tersebut.

Berbeda dengan Buku II yang bersifat tertutup di mana orang tidak boleh

membuat peraturannya sendiri perihal dengan kebendaan.

Buku III KUHPer adalah dasar hukum dari perjanjian utang-piutang di

Indonesia. Adapun yang dimaksud dengan perikatan oleh Buku III KUHPer

adalah suatu hubungan hukum (mengenai kekayaan harta benda) antara dua orang,

yang memberi hak pada satu untuk menuntut barang sesuatu dari yang lainnya,

sedangkan orang lainnya ini diwajibkan memenuhi tuntutan tersebut.56 Oleh

karena sifat hukum yang termuat dalam Buku III itu selalu berupa suatu tuntut-

menuntut, maka isi Buku III itu juga dinamakan dengan hukum perhutangan.

Pihak yang berhak menuntut dinamakan pihak berpiutang atau kreditur,

55 Loudoe, op. cit, hal. 1.

56 Subekti (c), Pokok-Pokok Hukum Perdata, cet. XXXII, (Jakarta: Intermasa, 2005), hal.122.

Aspek-aspek hukum ..., Haryo Kusumastito, FH UI, 2011

33

Universitas Indonesia

sedangkan pihak yang wajib memenuhi tuntutan dinamakan pihak berutang atau

debitur.57 Buku III menganut asas kebebasan dalam membuat perjanjian (beginsel

der contractsvrijheid, pacta sunt servada). Asas ini dapat disimpulkan dari pasal

1338 KUHPer yang menyatakan bahwa semua perjanjian yang dibuat secara sah

berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya.58 Hal yang

dimaksudkan oleh pasal ini adalah pernyataan bahwa tiap perjanjian adalah

mengikat bagi pihak-pihak yang terlibat. Selain itu dalam pasal ini dapat ditarik

kesimpulan juga bahwa orang leluasa untuk membuat perjanjian apa saja, asal

tidak melanggar ketertiban umum dan kesusilaan.59

Pasal 1233 Buku III KUHPer menyatakan bahwa perikatan terbagi

menjadi dua, yaitu perikatan-perikatan yang dilahirkan dari kontrak atau

perjanjian dan perikatan-perikatan yang dilahirkan demi undang-undang.60

Perikatan yang dilahirkan demi undang-undang dapat dibagi lagi atas perikatan-

perikatan yang lahir dari undang-undang saja dan yang lahir dari undang-undang

karena perbuatan orang. Yang terakhir ini dapat dibagi lagi atas perikatan-

perikatan yang lahir dari suatu perbuatan yang diperbolehkan dan yang lahir dari

perbuatan yang berlawanan dengan hukum.

Perjanjian utang-piutang termasuk dalam jenis perikatan yang dilahirkan

dari sebuah perjanjian. Definisi dari perjanjian adalah suatu perbuatan hukum

antara dua pihak atau lebih, di mana satu pihak berkewajiban memenuhi sesuatu

yang menjadi hak dan dapat dituntut oleh pihak yang lain.61 Adapun barang

sesuatu yang dapat dituntut dinamakan prestasi, yang dapat berupa (i)

menyerahkan suatu barang; (ii) melakukan suatu perbuatan; dan (iii) tidak

57 Ibid., hal. 123.

58 Subekti (b), op. cit., hal. 342. All wettiglijk gemaakte overeenkomsten strekkendengenen die dezelve hebben aangegaan tot wet. Engelbrecht, op. cit., hal. 572.

59 Pasal 1337 KUHPerdata menyatakan bahwa suatu sebab adalah terlarang apabiladilarang oleh undang-undang, atau apabila berlawanan dengan kesusilaan baik dan ketertibanumum. Subekti (b) op. cit., hal. 342. Eene oorzaak is ongeoorloofd, wanner dezelve bij de wetverboden is, of wanner dezelve strijdig is met de goede zeden, of met de openbare orde.Engelbrecht, op. cit., hal. 327.

60 Subekti (b), op. cit., hal. Alle verbindtenissen ontstaan of uit overeenkomst, of uit dewet. Engelbrecht, op. cit., hal. 316.

61 Tirtodiningrat, op. cit., hal. 53.

Aspek-aspek hukum ..., Haryo Kusumastito, FH UI, 2011

34

Universitas Indonesia

melakukan suatu perbuatan.62 Prestasi harus memenuhi syarat antara lain (i) harus

tertentu setidaknya dapat ditentukan; (ii) harus melekat suatu kepentingan tertentu

baik untuk kreditur maupun untuk pihak ketiga dalam hal-hal tertentu; (iii) harus

atas sebab yang halal; dan (iv) harus dapat dilaksanakan.63

Perjanjian utang-piutang yang merupakan suatu perikatan yang terjadi

karena suatu perjanjian telah diatur secara lebih terperinci dalam Bab ketigabelas

Buku III KUHPer tentang pinjam-meminjam. Pada pasal 1754 KUHper

menyatakan bahwa pinjam-meminjam ialah perjanjian dengan mana pihak yang

satu memberikan kepada pihak yang lain suatu jumlah tertentu barang-barang

yang menghabis karena pemakaian, dengan syarat bahwa pihak yang belakangan

ini akan mengembalikan sejumlah yang sama dari macam dan keadaan yang sama

pula.64

Selanjutnya di dalam KUHPer diperbedakan lagi antara perjanjian

peminjaman barang yang tak dapat diganti dan perjanjian pinjam barang yang

dapat diganti.65 Pada peminjaman barang yang tak dapat diganti hak milik atas

barang yang dipinjamkan tetap berada pada pemiliknya, yaitu pihak yang

meminjamkan barangnya. Selama waktu peminjaman orang yang meminjam

memberlakukan barang tersebut seolah-olah seperti miliknya sendiri dan ketika

waktu peminjaman habis ia harus mengembalikannya dalam keadaan semula.

Contoh dari jenis perjanjian pinjam-meminjam ini adalah seperti jasa penyewaan

mobil dan jasa penyewaan buku. Sedangkan pada barang yang dapat diganti,

barang yang diserahkan untuk dipinjam itu menjadi milik orang yang meminjam.

Orang yang meminjamkan barang tersebut memperoleh suatu hak penuntutan atau

piutang terhadap orang yang meminjam untuk mengembalikan barang yang

dipinjamnya tadi dengan jumlah yang sama. Contoh objek dari perjanjian pinjam-

meminjam ini adalah beras, namun hal yang paling banyak digunakan untuk

62 Ibid., hal. 55.

63 Ibid., hal. 56.

64 Subekti (b), op. Cit., hal 451. Verbruikleening is eene overeenkomst, waarbij de eenepartij aan de andere eene zekere hoeveelheid van verbruikbare zaken afgeeft, onder voorwaardedat de laatst gemelde haar even zoo veel van gelijke soort en hoedanigheid terug geve.Engelbrecht, op. cit., hal. 389.

65 Subekti (c), op. cit., hal. 131.

Aspek-aspek hukum ..., Haryo Kusumastito, FH UI, 2011

35

Universitas Indonesia

perjanjian ini adalah uang. Pihak yang meminjamkan disebut juga pihak yang

berpiutang, sedangkan pihak meminjam disebut juga pihak yang berutang. Oleh

karena itu, nama perjanjian ini umumnya disebut sebagai perjanjian utang-

piutang, sehingga dapat disimpulkan bahwa perjanjian utang-piutang termasuk

dalam perikatan yang terlahir dari suatu perjanjian tentang peminjaman barang

yang dapat diganti. Di samping itu, dalam perjanjian utang-piutang ini dapat

diperjanjikan suatu pembayaran dari pihak yang meminjam. Pembayaran ini

biasanya disebut sebagai bunga.

Ketika seorang yang berpiutang menghendaki pelaksanaan suatu

perjanjian dari seorang yang berutang yang tidak memenuhi kewajibannya, maka

ia harus meminta perantara Pengadilan. Jadi, orang yang berpiutang harus

menempuh jalan menuntut orang yang berutang di depan Pengadilan. Jika prestasi

yang dikehendaki itu berupa membayar sejumlah uang, maka orang yang

berpiutang dapat dimudahkan untuk mendapatkan prestasi tersebut bila ada suatu

putusan pengadilan yang memenangkannya, karena ia dapat minta dijalankannya

putusan tersebut dengan menyita dan melelang harta benda si berutang.

Perjanjian utang-piutang disebut juga dengan istilah loan agreement.

Istilah loan agreement merupakan istilah yang tepat digunakan untuk

menjelaskan maksud dari perjanjian utang-piutang, bukan debt, borrow, atau lend

agreement. Penjelasan istilah ini dilakukan dengan tujuan untuk kualifikasi.

Kualifikasi adalah translation atau penyalinan daripada fakta-fakta sehari-hari

dalam istilah-istilah hukum.66 Mengingat bahwa kasus yang akan dibahas dalam

skripsi ini adalah kasus HPI, maka kualifikasi perlu dilakukan agar secara jelas

dapat diketahui istilah yang tepat untuk menjelaskan fakta hukum yang terjadi

dalam kasus. Kualifikasi juga perlu dilakukan untuk menyamakan pemahaman

akan sebuah fakta hukum yang terjadi yang melibatkan pihak-pihak yang berasal

dari sistem hukum yang berbeda.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, utang artinya uang yang

dipinjam dari orang lain. Utang-piutang adalah (uang) yang dipinjam dari dan

66 Gautama (c), op. cit., hal. 119.

Aspek-aspek hukum ..., Haryo Kusumastito, FH UI, 2011

36

Universitas Indonesia

yang dipinjamkan kepada orang lain.67 Menurut Blacks Law Dictionary kata

loan artinya adalah An act of lending; a grant of something for temporary use;

esp., a sum of money lent at interest68 Definisi kata loan dapat juga memiliki arti

the borrowing a sum of money by one person, company, government, and other

organization from another.69 Jadi, kesamaan antara kata utang-piutang dengan

loan adalah sama-sama lebih menunjuk kepada peminjaman uang, bukan barang.

Sedangkan perjanjian, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia artinya adalah

persetujuan (tertulis atau dengan lisan) yang dibuat oleh dua pihak atau lebih,

masing-masing bersepakat akan menaati apa yang tersebut dalam persetujuan

itu.70 Menurut kamus Indonesia-Inggris, perjanjian adalah agreement.71

Menurut Blacks Law Dictionary, agreement artinya adalah in law a concord of

understanding and intention between two or more parties with respect to the effect

upon their relative rights and duties.72 Selain itu ada juga yang mendefinisikan

agreement sebagai a mutual understanding between two or more legally

competent individuals or entities about their right and duties regarding their past

or future performances and considerations.73

Pengaturan yang terdapat dalam sebuah perjanjian utang-piutang dapat

mencakup hal-hal penting berkaitan dengan utang-piutang itu sendiri beserta hak

dan kewajiban dari pihak yang membuat perjanjian. Ketika sebuah perusahaan

67 Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, ed. 4., (Jakarta:Gramedia, 2008), hal. 614.

68 Arti: tindakan meminjamkan sesuatu untuk jangka waktu tertentu, terutama sejumlahuang yang dipinjamkan dengan bunga (terjemahan penulis). Lihat Garner, op. cit., hal. 947.

69 Arti: peminjaman sejumlah uang dari seseorang, perusahan, pemerintah, dan organisasilain kepada pihak lainnya (terjemahan penulis). Lihat Graham Bannocks, Ron Erick Baxter, EvanDavis, Dictionary of Economics, ed. 4, (Princeton: Bloomberg Press, 2003), hal. 228.

70 Departemen Pendidikan Nasional, op. cit., hal. 566.

71 John M. Echols dan Hasan Sadili, Kamus Indonesia-Inggris, ed. 3, (Jakarta:PenerbitGramedia, 2003), hal. 235.

72 Arti: hubungan kepentingan dan keinginan antara dua pihak atau lebih dalam suatuhubungan hukum yang akan menghasilkan hak dan kewajiban bagi mereka (terjemahan penulis).Lihat Garner, op. cit., hal. 89.

73 Arti: sebuah perjanjian yang saling menguntungkan antara dua atau lebih subjek hukumtentang hak dan kewajibannya bersangkutan dengan apa yang akan atau telah mereka lakukan(terjemahan penulis). Lihat Wild, op. cit., hal. 19.

Aspek-aspek hukum ..., Haryo Kusumastito, FH UI, 2011

37

Universitas Indonesia

atau perseorangan meminjam uang, kewajiban dari kreditur dan debitur telah

tertulis dalam sebuah perjanjian utang-piutang. Perjanjian utang-piutang ini

menjelaskan masalah-masalah penting dari peminjaman tersebut seperti jumlah

uang yang dipinjam, besarnya bunga, jadwal pembayaran, dan tanggal kadaluarsa.

Sebagai tambahannya, dalam perjanjian utang-piutang tersebut akan meliputi

klausula yang didesain untuk melindungi debitur dari pengaturan kreditur yang

merugikan.74

Dalam pelaksanaan perjanjian utang-piutang pada dunia usaha, terkadang

ada perjanjian yang memasukkan klausula penjaminan atas utang tersebut. Setelah

melakukan proses negoisasi dalam pembuatan perjanjian utang-piutang, para

pihak dapat turut juga memperjanjikan tentang perjanjian penjaminan atas utang

di mana harta kekayaan dari pihak yang meminjam akan menjadi jaminan atas

utang. Tujuan dari penjaminan atas utang ini adalah supaya apabila pihak debitur

gagal dalam melaksanakan kewajibannya untuk membayar utang, maka pihak

kreditur dapat menuntut jaminan atas yang telah disepakati bersama sebelumnya

sesuai dengan besarnya kewajiban yang harus dilaksanakan.75

Hal yang berhubungan dengan perjanjian utang-piutang adalah akta

pengakuan utang. Akta pengakuan utang adalah suatu akta yang berisikan

pengakuan utang sepihak, di mana debitur mengakui bahwa dirinya mempunyai

kewajiban membayar kepada kreditur sejumlah uang dengan jumlah yang pasti.76

74 When a person or a corporation entity borrows money, the obligations of the issuerand the right of the bondholder are set forth in the debt contract. This debt contract, or bondindenture, explains the important feature of lending agreement (e.g., the principal amount, interestrate, schedule of payments, and maturity date). In addition, the bond indenture contains covenantsthat are designed to protect the bondholders by controlling conflicts of interest between theshareholders and the bondholders. Lihat Greg N. Gregoriou, Encyclopedia of AlternativeInvestments, (Boca Raton: CRC Press, 2009), hal. 120-121. Diakses dari http://books.google.co.id/books?id=6VyCPLTTilQC&dq=encyclopedia+of+alternative+investment&hl=id&ei=KOweTsb_BIXprAf1wcz5AQ&sa=X&oi=book_result&ct=result&resnum=1&ved=0CCYQ6AEwAAtanggal 15 Mei 2011, pukul 22.00 WIB.

75 Donald DePamphilis, Mergers and Acquisitions Basics: All You Need To Know,(Oxford: Elsevier, 2011), hal. 196. Diakses dari http://library.nu/docs/FY6DRHL0EI/Mergers%20and%20Acquisitions%20Basics%3A%20All%20You%20Need%20To%20Know tanggal 21 Mei2011, pukul 01.00 WIB.

76Yahya Harahap (b), Perlawanan Terhadap Eksekusi Grosse akta Serta Putusan

Pengadilan dan Arbitrase dan Standar Hukum Eksekusi, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 1996), hal.2.

Aspek-aspek hukum ..., Haryo Kusumastito, FH UI, 2011

38

Universitas Indonesia

Akta pengakuan utang harus murni, dibuat tersendiri dan tidak boleh dimasukkan

ketentuan-ketentuan dalam perjanjian utang-piutang. Apabila suatu akta

pengakuan utang dicampuradukkan dengan ketentuan-ketentuan dan syarat-syarat

dalam perjanjian utang-piutang, seperti mengenai bunga, denda, dan jangka waktu

pinjaman, maka dengan sendirinya melenyapkan kepastian bentuk akta, sehingga

membuat akta tersebut mengandung cacat yuridis dan tidak bisa dieksekusi.77

2.3 Perjanjian Utang-Piutang Beserta Ketentuan yang Mengaturnya

2.3.1 Lahirnya Perjanjian Utang-Piutang

Perjanjian utang-piutang sebagai salah satu bentuk perikatan, dapat terlahir

menjadi suatu perikatan yang sah dengan memenuhi empat syarat seperti yang

terdapat dalam Pasal 1320 KUHPer yang menyatakan bahwa untuk sahnya suatu

perjanjian diperlukan empat persyaratan, yaitu (i) sepakat mereka yang

mengikatkan dirinya; (ii) kecakapan untuk membuat suatu perikatan; (iii) suatu

hal tertentu; (iv) suatu sebab yang halal.78

Kedua belah pihak dalam suatu perjanjian, harus mempunyai kemauan

yang bebas untuk mengikatkan diri dan kemauan itu harus dinyatakan. Pernyataan

tersebut dapat dilakukan secara tegas ataupun diam-diam. Kemauan para pihak

dapat terlihat dari perbuatan mereka untuk saling mengikatkan diri dalam suatu

hubungan hukum dengan membuat sebuah perjanjian. Kemudian kedua belah

pihak harus cakap menurut hukum untuk bertindak sendiri. Sebagaimana telah

diterangkan, beberapa golongan orang oleh KUHPerdata dinyatakan sebagai tidak

cakap untuk melakukan sendiri perbuatan-perbuatan hukumnya. Golongan yang

tidak cakap ini menurut pasal 1330 KUHPerdata adalah (i) orang-orang yang

belum dewasa; (ii) mereka yang ditaruh di bawah pengampuan; (iii) orang-orang

perempuan, dalam hal-hal yang ditetapkan oleh undang-undang, dan pada

77Ibid., hal. 2-7.

78 Subekti (b), op. cit., hal. 339. Tot de bestaanbaarheid der overeenkomsten wordenviet voorwarden vereischt : 1. De toestemming van degenen die zich verbinden, 2. Debekwaamheid om eene verbindtenis aan te gaan, 3. Een bepaald onderwerp, 4. Eene geoorloofdeoorzaak. Engelbrecht, op. cit., hal. 572.

Aspek-aspek hukum ..., Haryo Kusumastito, FH UI, 2011

39

Universitas Indonesia

umumnya semua orang kepada siapa undang-undang telah melarang membuat

perjanjian-perjanjian tertentu.79

Jika terjadi salah satu hal tidak seperti yang disebutkan di atas, yaitu tidak

ada kata sepakat atau salah satu pihak tidak cakap untuk membuat perjanjian,

maka perjanjian ini memiliki cacat, karenanya dapat dibatalkan oleh hakim atas

permintaan pihak yang telah dirugikan atau tidak memenuhi syarat perjanjian

tersebut. Selain itu yang diperjanjikan dalam suatu perjanjian haruslah suatu hal

atau suatu barang yang cukup jelas atau tertentu. Syarat ini perlu untuk dapat

menetapkan kewajiban si berutang jika terjadi perselisihan. Selanjutnya

KUHPerdata menghendaki untuk sahnya suatu perjanjian harus ada suatu sebab

(oorzaak) yang diperbolehkan, yang dimaksudkan dengan sebab yang

diperbolehkan itu adalah tujuan atau apa yang dikehendaki oleh kedua pihak

dengan mengadakan perjanjian itu. Di dalam pasal 1335 KUHPerdata dinyatakan

bahwa suatu perjanjian yang tidak memakai suatu sebab atau dibuat dengan sebab

yang palsu atau terlarang tidak mempunyai kekuatan.80

Pasal 1338 KUHPerdata menetapkan bahwa segala perjanjian yang dilihat

secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya.

Maksudnya adalah suatu perjanjian yang dibuat secara sah, artinya tidak

bertentangan dengan undang-undang, adalah mengikat bagi kedua belah pihak.

Perjanjian itu pada umumnya tidak dapat ditarik kembali, kecuali dengan

persetujuan dari pihak-pihak yang membuatnya atau berdasarkan alasan-alasan

yang ditetapkan oleh undang-undang. Dalam pasal 1338 juga disebutkan bahwa

semua perjanjian harus dilaksanakan dengan itikad baik. Maksud kalimat ini

bahwa cara menjalankan suatu perjanjian tidak boleh bertentangan dengan

kepatutan dan keadilan.

Karena suatu perjanjian utang-piutang adalah suatu perjanjian yang

termasuk dalam pinjam-meminjam sesuai bab ketigabelas buku III KUHPer, maka

79 Subekti (b), op. cit., hal. 341. Onbekwaam om overeenkomsten te treffen zijn: 1.Minderjarigen, 2. Die onder curatele gesteld zijn, 3. Getrouwde vrouwen, in de gevallen bij de wetvoorzien, en, in het algemeen, alle degenen aan wie de wet het aangaan van zekere overeenkomsten verboden heeft. Engelbrecht, op. cit., hal. 326.

80 Subekti (b), op. cit., hal. 341. Eene overeenkomst zonder oorzaak, of uit eene valscheof ongeoorloofde oorzaak, aangegaan, is krachteloos. Engelbrecht, op. cit., hal. 326.

Aspek-aspek hukum ..., Haryo Kusumastito, FH UI, 2011

40

Universitas Indonesia

perjanjian ini dianggap lahir pada saat barangnya diserahkan (levering),

sedangkan sebelum barangnya diserahkan hanya ada suatu perjanjian pendahuluan

(voorovereenkomst).81 Barang yang dimaksudkan dalam perjanjian utang-piutang

adalah uang, sehingga, sebelum pihak yang berpiutang memberikan uang yang

besarnya telah diperjanjikan dengan pihak yang berutang, maka perjanjian utang-

piutang ini dianggap belum terlahir. Setelah uang yang menjadi objek perjanjian

utang-piutang ini telah diberikan kepada yang berutang dari pihak yang

berpiutang, maka perjanjian ini dianggap telah lahir.

2.3.2 Hapusnya Perjanjian Utang-Piutang

Pada dasarnya perjanjian utang-piutang juga adalah suatu perikatan,

sehingga perihal tentang hapusnya perjanjian tersebut diatur dalam pasal 1381

KUHPer tentang hapusnya perikatan. Pasal tersebut menyatakan bahwa sebuah

perikatan dapat hapus karena sepuluh hal, yaitu karena pembayaran (betaling),

penawaran pembayaran tunai diikuti dengan penyimpanan atau penitipan (aanbod

van gereede betaling), pembaharuan utang (schuldvernieuwing), perjumpaan

utang (vegelijking of compensatie) atau kompensasi, percampuran utang

(schuldvermenging), pembebasan utang (kwijtschelding der schuld), musnahnya

barang yang terutang (het vergaan der verschuldigde zaak), kebatalan atau

pembatalan (nietigheid of de te nietdoening), berlakunya suatu syarat batal

(werking eener ontbindende voorwaarde), yang diatur dalam bab ke satu buku ini,

lewat waktu (verjaring) hal mana akan diatur dalam suatu bab tersendiri.82

Pada pasal di atas, suatu perjanjian utang-piutang sebagai salah satu

bentuk perikatan dapat terhapus atau tidak ada lagi melalui beberapa kejadian.

Pertama, sebuah utang dapat terhapus karena pembayaran. Hal yang dimaksudkan

oleh KUHPer dengan pembayaran ialah pelaksanaan atau pemenuhan tiap

81 Subekti (c),op. cit., hal. 170.

82 Subekti (b), op. cit., hal. 349. Verbindtenissen gaan te niet: door betaling, dooraanbod van gereede betaling, gevolgd van consignatie of bewaargeving, door schuldvernieuwing,door vergelijking of compensatie, door schuldvermenging, door kwijtschelding der schuld, doorhet vergaan der verschuldigde zaak, door de nietigheid of de te nietdoening, door de werkingeener ontbindende voorwaarde, waarvan in den eersten titel van dit boek gehandeld is, en doorverjaring, welke het onderwerp van eenen afzonderlijken titel uitmaakt. Engelbrecht, op. cit., hal.332.

Aspek-aspek hukum ..., Haryo Kusumastito, FH UI, 2011

41

Universitas Indonesia

perjanjian secara sukarela, artinya tidak dengan paksaan atau eksekusi. Jadi kata

pembayaran itu oleh undang-undang tidak hanya ditujukan kepada penyerahan

uang saja, tetapi penyerahan tiap barang menurut perjanjian dapat juga dinamakan

pembayaran. Pasal 1382 KUHPer menyatakan bahwa tiap-tiap perikatan dapat

dipenuhi oleh siapa saja yang berkepentingan, seperti seorang yang turut berutang

atau seorang penanggung utang. Suatu perikatan bahkan dapat dipenuhi juga oleh

seorang pihak ketiga yang tidak mempunyai kepentingan, asal saja orang pihak

ketiga tersebut bertindak atas nama dan untuk melunasi utangnya si berutang,

atau, jika ia bertindak atas namanya sendiri, asal ia tidak menggantikan hak-hak si

berpiutang.83

Pada asasnya hanya orang yang berkepentingan saja yang dapat

melakukan pembayaran secara sah, seperti seorang yang turut berutang atau

penanggung utang, demikianlah yang terdapat pada pasal 1382 KUHPer. Tetapi

pasal ini selanjutnya menyatakan juga bahwa seorang pihak ketiga yang tidak

berkepentingan dapat membayar secara sah selama pihak ketiga itu bertindak atas

namanya sendiri dan ia tidak menggantikan hak-hak pihak yang berpiutang.84 Dari

pasal 1382KUHPer dapat ditarik kesimpulan bahwa siapa saja boleh membayar

atau melunasi utang dan si berpiutang diharuskan menerimanya, meskipun belum

tentu pembayaran itu juga akan membebaskan pihak yang berutang. Untuk

perjanjian-perjanjian di mana salah satu pihak diharuskan melakukan sesuatu

perbuatan, tentu saja asas tersebut di atas tidak akan berlaku. Barang yang

dibayarkan harus milik orang yang melakukan pembayaran dan orang itu juga

harus berhak untuk barang-barang itu ke tangan orang lain. Pembayaran itu harus

dilakukan kepada si berpiutang atau kepada seorang yang dikuasakan olehnya

atau oleh undang-undang. Ditetapkan pula pada pasal 1386 KUHPer bahwa

pembayaran yang dilakukan secara jujur kepada seseorang yang memegang surat

tanda penagihan adalah sah.

83 Subekti (b), op. cit., hal. 350. Eene verbindtenis kan gekweten worden door een iederdie daarbij belang heeft, gelijk een mede-schuldenaar of een borg. Eene verbindteniskan zelfsgekweten worden door eenen derde, die daarbij geen belang heeft, mits die derde handele in naamen tot kwijting van den schuldeischer gesteld worde. Engelbrecht, op. cit., hal 332.

84 Subekti (c), op. cit., hal. 153.

Aspek-aspek hukum ..., Haryo Kusumastito, FH UI, 2011

42

Universitas Indonesia

Kedua, sebuah utang dapat terhapus karena penawaran pembayaran tunai,

diikuti oleh penyimpanan atau penitipan. Pasal 1404 KUHPer menyatakan bahwa

jika si berpiutang menolak pembayaran, maka si berutang dapat melakukan

penawaran pembayaran tunai atas apa yang diutangkannya, dan jika si berpiutang

menolaknya, dapat menitipkan uang atau barangnya kepada pengadilan.

Penawaran yang demikian, diikuti dengan penitipan, membebaskan si berutang

dan berlaku baginya sebagai pembayaran, asal penawaran itu telah dilakukannya

dengan cara menurut undang-undang, sedangkan apa yang dititipkan secara itu

tetap atas tanggungan si berpiutang.85

Cara ini adalah suatu cara pembayaran untuk menolong pihak yang

berutang dalam hal pihak yang berpiutang memilih untuk tidak menerima

pembayaran. Barang yang hendak dibayarkan akan diberikan kepada pihak yang

berpiutang atau dia diperingatkan untuk mengambil barangnya di suatu tempat.

Jika pihak yang berpiutang tetap menolaknya, maka barang tersebut disimpan di

suatu tempat atas tanggungan pihak yang berpiutang. Penawaran dan peringatan

tersebut harus dilakukan secara resmi di depan pejabat pengadilan, sedangkan

penyimpanan dapat dilakukan di kepaniteraan Pengadilan Negeri. Cara

penghapusan utang seperti ini dapat digunakan untuk perjanjian pinjam-

meminjam barang yang tidak bisa digantikan. Sedangkan untuk perjanjian utang-

piutang, cara pembayaran ini biasanya dilakukan ketika nilai mata uang yang

diperjanjikan menurun tajam.

Ketiga, hapusnya perikatan karena pembaharuan utang. Pasal 1413

KUHPer menyatakan bahwa ada tiga macam jalan untuk melaksanakan

pembaharuan utang (i) apabila seorang yang berutang membuat suatu perikatan

utang baru guna orang yang mengutangkan kepadanya, yang menggantikan utang

lama, yang dihapuskan karenanya; (ii) apabila pihak yang berutang baru ditunjuk

untuk menggantikan orang berutang lama, yang oleh si berpiutang dibebaskan dari

perikatannya; (iii) apabila, sebagai akibat suatu perjanjian baru ditunjuk untuk

85 Subekti (b), op. cit., hal. 354. Indien de schuldeischer weigert zijne betaling teontvangen, kan de schuldenaar hem aanbod van gereede betaling van het verschuldigde doen, en,bij weigering van den schuldeischer om hetzelve aan tenemen, de geldsom of zaak in g