of 66 /66
LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM METODE PENELITIAN KUALITATIF I DILEMA PEMUDA: BEKERJA DI KOTA ATAU DESA? KELOMPOK 2 1. Anargya Firjatullah (18/424735/SP/28283) 2. Mar’ah Nafisah (18/424748/SP/28296) 3. Miyarsih (18/430843/SP/28687) 4. Mutiara Martiarini (18/424749/SP/28297) 5. Rovdaian Baqrur R. (18/428315/SP/28524) DEPARTEMEN SOSIOLOGI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS GADJAH MADA

praktikumsosiologiugm.files.wordpress.com · Web viewEdi adalah siswa kelas 3 yang akan lulus tahun ini. Ia merupakan lulusan SMK Negeri 3 Yogyakarta dengan jurusan Teknik. Edi tergolong

  • Upload
    others

  • View
    4

  • Download
    0

Embed Size (px)

Citation preview

Page 1: praktikumsosiologiugm.files.wordpress.com · Web viewEdi adalah siswa kelas 3 yang akan lulus tahun ini. Ia merupakan lulusan SMK Negeri 3 Yogyakarta dengan jurusan Teknik. Edi tergolong

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM

METODE PENELITIAN KUALITATIF I

DILEMA PEMUDA: BEKERJA DI KOTA ATAU DESA?

KELOMPOK 2

1. Anargya Firjatullah (18/424735/SP/28283)

2. Mar’ah Nafisah (18/424748/SP/28296)

3. Miyarsih (18/430843/SP/28687)

4. Mutiara Martiarini (18/424749/SP/28297)

5. Rovdaian Baqrur R. (18/428315/SP/28524)

DEPARTEMEN SOSIOLOGI

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS GADJAH MADA

2019

Page 2: praktikumsosiologiugm.files.wordpress.com · Web viewEdi adalah siswa kelas 3 yang akan lulus tahun ini. Ia merupakan lulusan SMK Negeri 3 Yogyakarta dengan jurusan Teknik. Edi tergolong

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN…………………………………..…………………………………

1

A. Latar Belakang…………………………………………………………………………

1

B. Rumusan Masalah……………………………………….

……………………………..2

C. Tujuan Penelitian……………………………………………………………………....2

D. Metodologi

Penelitian………………………………………………………………….2

1.1 Jenis Penelitian…………………………………………………………………….2

1.2 Waktu dan Lokasi Penelitian…………………………………………………….…

2

1.3 Bentuk Penelitian……………………………………………………………….….3

1.4 Sumber Data Penelitian………………………………………………………….…

3

1.5 Teknik Pengumpulan

Data........................................................................................3

1.6 Instrumen Penelitian……………………………………………………………….4

1.7 Teknik Pemilihan Informan……………………………………………………..…4

BAB II DESKRIPSI

WILAYAH…………………………………………………………….5

BAB III ANALISIS DAN PEMBAHASAN………………………………………...

……….7

3.1 Potensi Dukuh

Nganggring……………………………………………………….7

ii

Page 3: praktikumsosiologiugm.files.wordpress.com · Web viewEdi adalah siswa kelas 3 yang akan lulus tahun ini. Ia merupakan lulusan SMK Negeri 3 Yogyakarta dengan jurusan Teknik. Edi tergolong

3.2 Tanggapan Bekerja di Kota…………………………………………...…………

12

3.3 Tanggapan Bekerja di

Desa……………………………………………………..16

3.4 Sosialisasi Pilihan Bekerja…………………………………...

………………….20

3.5 Jenis Pekerjaan …………………………………………….……………………

23

BAB IV

PENUTUP.................................................................................................................28

4.1 Kesimpulan………………………………………………...……………………

28

4.2

Limitasi………………………………………………………………………….29

4.3 Saran…………………………………………………………………………….29

DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................................30

SUMBER GAMBAR…………………………………………………………….………….32

LAMPIRAN……………………………………………………………………....…………33

iii

Page 4: praktikumsosiologiugm.files.wordpress.com · Web viewEdi adalah siswa kelas 3 yang akan lulus tahun ini. Ia merupakan lulusan SMK Negeri 3 Yogyakarta dengan jurusan Teknik. Edi tergolong

iv

Page 5: praktikumsosiologiugm.files.wordpress.com · Web viewEdi adalah siswa kelas 3 yang akan lulus tahun ini. Ia merupakan lulusan SMK Negeri 3 Yogyakarta dengan jurusan Teknik. Edi tergolong

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kota merupakan wilayah yang menjadi sentra kegiatan ekonomi dan

perkembangannya menjadi pusat industri modern. Implikasinya, seseorang yang

kurang mampu secara financial di desa terdorong untuk pindah ke kota dengan segala

konsekuensi kehidupan sosial ekonomi di perkotaan. Hal ini menimbulkan

permasalahan baik di desa maupun di kota. Ditinjau berdasarkan sumber daya

manusia, desa akan mengalamai kekurangan tenaga kerja produktif, sedangkan kota

akan menghadapi banyaknya orang yang mencari pekerjaan di kota (Meitasari, 2017).

Umumnya pemuda cenderung memilih mencari pekerjaan di kota dibanding di

desa karena image positif dari kota dan kondisi di desa itu sendiri. Faktor yang

mempengaruhi seseorang pergi ke kota (urbanisasi) secara umum berupa faktor

ekonomi yaitu keinginan untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Faktor

penarik dari kota yaitu kehidupan kota yang lebih modern, sarana prasarana yang

lebih lengkap, dan lapangan pekerjaan yang lebih banyak. Sedangkan faktor

pendorong dari desa yaitu semakin sempitnya lahan pertanian yang tidak sesuai

dengan budaya tempat asalnya, lapangan pekerjaan yang sedikit, sarana prasarana

yang terbatas, dan diusir dari desa asal (Soekanto, 2015 dalam Meitasari, 2017).

Keputusan para pemuda bukanlah tanpa sebab, ada konstruksi kultural dan struktural

yang membuat mereka kesulitan untuk bertahan di desa (Larastiti, 2013).

Namun tidak semua pemuda desa memilih untuk bekerja di kota, sebagian dari

mereka memilih untuk mengembangkan potensi yang ada di desanya, seperti

budidaya ikan, sektor pertanian dan sektor pariwisata. Alasan pemuda lebih memilih

bekerja di desa dibanding bekerja di kota karena rasa kenyamanan dan rasa solidaritas

yang ada di desa. Ferdinan Tonnies dalam Meitasari (2017) mengungkapkan bahwa

ciri khas kehidupan di pedesaan adalah gemeinschaft berupa rasa keterikatan

tradisional yang ditandai dengan kepolosan, kewajaran, solidaritas, keramahtamahan,

kerukunan tetangga secara tradisional, memiliki latar belakang dan pengalaman yang

serupa, saling mengenal satu sama lain, berinteraksi secara akrab dan kekerabatan.

Ferdinan Tonnies dalam Meitasari (2007) juga menjelaskan bahwa corak

kehidupan di kota sangat berbeda dengan di desa. Ciri komunitas sosial di kota

1

Page 6: praktikumsosiologiugm.files.wordpress.com · Web viewEdi adalah siswa kelas 3 yang akan lulus tahun ini. Ia merupakan lulusan SMK Negeri 3 Yogyakarta dengan jurusan Teknik. Edi tergolong

(gesellschaft) adalah komunitas yang bersifat kehidupan urban modern, ditandai

dengan mayoritas orang di dalamnya tidak saling mengenal dan merasa sedikit sekali

kesamaan dengan penduduk lain. Maka dapat ditarik kesimpulan bahwa keputusan

memilih bekerja di kota maupun di desa tidak hanya berdasarkan materi (ekonomi)

tetapi dapat pula berupa modal sosial (rasa kenyamanan dan solidaritas) yang ada

(Meitasari, 2017).

Perbedaan dari corak kehidupan sosial masyarakat di desa dan kota turut

mempengaruhi keputusan pemuda untuk memilih pekerjaan. Perbedaan tersebut

menyebabkan variasi pertimbangan pemuda untuk memilih pekerjaan yang cocok

untuk dirinya akan lebih banyak dan nantinya akan membuahkan keputusan yang

tepat apakah akan tetap bekerja di desa untuk mengembangkan potensi yang ada atau

memilih pekerjaan lain yang ada di kota.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan pemaparan latar belakang di atas, penulis sampai pada satu rumusan

masalah, yaitu:

“Bagaimana pemuda dalam memilih bekerja di desa atau di kota?”

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan pemaparan rumusan masalah di atas, tujuan penelitian ini adalah

mengetahui minat pemuda Padukuhan Nganggring dalam memilih lapangan pekerjaan

dan jenis pekerjaan yang berada di kota atau di desa, serta menelusuri alasan mereka

terhadap pilihannya tersebut.

D. Metodologi Penelitian

1.1 Jenis Penelitian

Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif

karena data yang diperoleh merupakan hasil dari observasi dan wawancara

mendalam yang diberikan oleh informan kepada peneliti kemudian dianalisa oleh

peneliti berdasarkan informasi yang disampaikan oleh informan.

1.2 Waktu dan Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada hari Sabtu dan Minggu tanggal 27-28 April

2019 di Padukuhan Nganggring, Desa Girikerto, Kecamatan Turi, Kabupaten

Sleman, DIY. Pemilihan tempat ini didasari oleh banyaknya pemuda yang berada

2

Page 7: praktikumsosiologiugm.files.wordpress.com · Web viewEdi adalah siswa kelas 3 yang akan lulus tahun ini. Ia merupakan lulusan SMK Negeri 3 Yogyakarta dengan jurusan Teknik. Edi tergolong

dalam usia angkatan kerja yang sesuai dengan karakteristik informan dalam

penelitian ini, potensi desa yang cukup bervariasi (kebun salak, kambing etawa,

pabrik susu, dan sebagainya) serta akses yang mudah menuju lokasi.

1.3 Bentuk Penelitian

Penelitian yang peneliti angkat adalah mengenai pemuda dalam memilih

bekerja di desa atau di kota serta faktor yang mendorong pilihan mereka. Dalam

penelitian ini peneliti ingin mengetahui bagaimana kecenderungan pemuda desa di

era sekarang dalam memilih pekerjaan terutama pemuda di Dukuh Nganggring.

Hasil dari penelitian tersebut kemudian peneliti jelaskan dalam bentuk tulisan.

Maka dari itu, penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dimana

data yang diperoleh bersumber dari hasil wawancara dengan informan serta

pengamatan terhadap realitas sosial yang ada di Desa Girikerto, khususnya Dukuh

Nganggring.

1.4 Sumber Data Penelitian

Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

1.4.1 Data Primer

Data primer ini merupakan sumber utama penelitian yang diambil

dari kata-kata dan tindakan orang-orang yang diamati dan diwawancarai

serta observasi langsung terhadap situasi dan kondisi yang ada di

Padukuhan Nganggring pada tanggal 27-28 April 2019.

1.4.2 Data Sekunder

Data sekunder ini diperoleh dari berbagai sumber dengan melakukan

studi literasi terhadap jurnal, web, dan laporan penelitian terdahulu yang

sesuai atau berkaitan dengan topik yang peneliti angkat dalam penelitian

ini yaitu mengenai “ Dilema Pemuda dalam Memilih Bekerja di Desa atau

di Kota”.

1.5 Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data pada penelitian ini sebagai berikut :

1.5.1 Wawancara

Penelitian ini menggunakan teknik wawancara semi terstruktur

dengan informan. Sebelumnya peneliti telah membuat interview guide

untuk memastikan bahwa informasi yang akan didapatkan sesuai dengan

kebutuhan penelitian. Dalam proses wawancara peneliti juga menanyakan

3

Page 8: praktikumsosiologiugm.files.wordpress.com · Web viewEdi adalah siswa kelas 3 yang akan lulus tahun ini. Ia merupakan lulusan SMK Negeri 3 Yogyakarta dengan jurusan Teknik. Edi tergolong

beberapa pertanyaan spontan untuk menggali informasi lebih mendalam

terkait dengan penelitian.

1.5.2 Observasi

Beberapa hal yang menjadi objek observasi dalam penelitian ini

diantaranya mencakup keadaan rumah yang menjadi informan penelitian,

kondisi lingkungan dan masyarakat sekitar serta pekerjaan yang ada di

Girikerto khususnya di Dukuh Nganggring.

1.5.3 Dokumentasi

Penelitian ini didukung data dalam bentuk tertulis atau dokumen

yang diambil pada saat observasi dan survei.

1.5.4 Studi Pustaka

Studi pustaka dilakukan dengan mencari referensi yang sesuai

dengan topik atau tema yang diteliti. Studi pustaka digunakan untuk

menunjang kelengkapan data dalam penelitian dengan menggunakan

sumber-sumber kepustakaan yang relevan dan digunakan untuk melihat

serta membaca realitas sosial yang ada.

1.6 Instrumen Penelitian

Instrumen pada penelitian ini adalah peneliti sendiri (human instrument).

Penelitian ini menggunakan metode-metode observasi, wawancara, dan

dokumentasi, maka instrumen lain yang dibutuhkan yaitu pedoman observasi,

pedoman wawancara, tape recorder, kamera, serta alat tulis guna menunjang

penelitian ini.

1.7 Teknik Pemilihan Informan

Dalam menentukan informan pada penelitian ini peneliti menggunakan

teknik random sampling yaitu dengan memilih secara acak informan yang akan

diwawancarai. Informan yang peneliti wawancarai merupakan pemuda yang

berusia 17-24 tahun baik yang sudah bekerja, kuliah, maupun sekolah (SMK)

yang merupakan warga Dukuh Nganggring.

4

Page 9: praktikumsosiologiugm.files.wordpress.com · Web viewEdi adalah siswa kelas 3 yang akan lulus tahun ini. Ia merupakan lulusan SMK Negeri 3 Yogyakarta dengan jurusan Teknik. Edi tergolong

BAB II

DESKRIPSI WILAYAH

Penelitian ini dilaksanakan di Padukuhan Nganggring, Desa Girikerto,

Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman, D.I Yogyakarta. Padukuhan Nganggring terletak

di daerah lereng Gunung Merapi, berjarak 24 kilometer dari Kota Yogyakarta dan

akses menuju dukuh tersebut cukup mudah. Kondisi fisik Padukuhan Nganggring

cukup baik, ini tercermin dari infrastruktur seperti kondisi jalan yang sebagian besar

sudah beraspal dan terdapat sekolah seperti TK dan SD. Padukuhan Nganggring

termasuk dalam wilayah rural, hal ini terlihat dari rumah warga yang tidak begitu

mewah, minimnya lampu penerangan jalan, jarak antar rumah yang berjauhan, serta

terdapat perkebunan salak di sisi kanan dan kiri jalan.

Gambar 2.1. Kondisi rumah warga, Gambar 2.2. Kondisi jalan di Padukuhan

Nganggring, Gambar 2.3. TK di Padukuhan Nganggring

5

Page 10: praktikumsosiologiugm.files.wordpress.com · Web viewEdi adalah siswa kelas 3 yang akan lulus tahun ini. Ia merupakan lulusan SMK Negeri 3 Yogyakarta dengan jurusan Teknik. Edi tergolong

Kekuatan perekonomian di Padukuhan Nganggring bertumpu pada perkebunan

salak dan peternakan kambing etawa. Setiap keluarga mengelola perkebunan tersebut

dan mengolah hasil panennya secara mandiri. Salak-salak yang telah di panen akan

dijual ke pasar-pasar di wilayah Turi dan beberapa diantaranya akan dibuat menjadi

berbagai macam olahan, seperti : manisan salak, dodol salak, wajik salak, keripik

salak, dan lain sebagainya. Selain mengelola dan mengolah salak, warga Padukuhan

Nganggring juga memiliki peternakan kambing etawa dan tergabung dalam komunitas

peternak kambing Sumber Rejeki.

Kekerabatan yang terjalin di dalam masyarakat Padukuhan Nganggring ini sangat

erat dan mencerminkan suasana khas pedesaan. Hal itu dapat dilihat dari berbagai

kegiatan yang diadakan di dukuh tersebut, seperti gotong royong membersihkan

lingkungan dan membangun masjid, rewang, dan lain sebagainya. Mayoritas pemuda-

pemudi di Padukuhan Nganggring pada siang hari jarang yang berpergian atau

nongkrong disuatu tempat namun ada juga pertemuan karang taruna setiap bulan yang

diadakan di salah satu rumah pemuda-pemudi secara bergantian.

6

Page 11: praktikumsosiologiugm.files.wordpress.com · Web viewEdi adalah siswa kelas 3 yang akan lulus tahun ini. Ia merupakan lulusan SMK Negeri 3 Yogyakarta dengan jurusan Teknik. Edi tergolong

BAB III

PEMBAHASAN

3.1 POTENSI DUKUH NGANGGRING

Dukuh Nganggring Girikerto Turi Sleman merupakan sebuah kawasan pedesaan

yang berada di lereng gunung merapi. Kondisi alam dan lingkungan yang masih asli

dan terjaga berpotensi untuk dikembangkan oleh masyarakat Dukuh Nanggring.

Potensi yang ada ini sangat bermanfaat dalam menunjang kelangsungan hidup

masyarakat Dukuh Nganggring. Potensi ini seperti, perkebunan salak, peternakan

kambing etawa, pabrik susu, dan desa wisata. Hal ini otomatis membuka lapangan

pekerjaan dan dapat menyerap tenaga kerja masyarakat dukuh nganggring.

3.1.1 Peternakan Kambing Etawa (PE)

Gambar 3.1. dan Gambar 3.2. Kandang kambing etawa

Kambing Peranakan Etawa (PE) merupakan komoditas peternakan yang

menghasilkan protein hewani berupa daging dan susu. Dalam kehidupan masyarakat

Dukuh Nanggring kambing PE lebih dimanfaatkan susunya, susu kambing PE

merupakan alternatif bagi orang-orang yang alergi terhadap susu sapi. Banyak

manfaat yang didapatkan dalam mengkonsumsi susu kambing PE bagi kesehatan,

yaitu dapat menyembuhkan penyakit asma, asam urat, dan tuberculosis. Persepsi

bahwa susu kambing PE memilik banyak manfaat dan keunggulan ini menyebabkan

harga susu kambing lebih mahal dibandingkan susu dari hewan ternak lainnya (Arief

et al, 2018).

Peternakaan kambing PE menguntungkan dari sisi ekonomi karena didukung

adanya integrasi tanaman salak yang daunnya dapat dimanfaatkan sebagai pakan

ternak terutama bermanfaat untuk meningkatkan produksi susu. Sisi lain yang dapat

7

Page 12: praktikumsosiologiugm.files.wordpress.com · Web viewEdi adalah siswa kelas 3 yang akan lulus tahun ini. Ia merupakan lulusan SMK Negeri 3 Yogyakarta dengan jurusan Teknik. Edi tergolong

menguntungkan dari ternak kambing PE yaitu kotoran kambing yang berguna untuk

meningktakan kualitas konservasi lahan dan reklamasi lahan kritis, hal ini berhasil

dilakukan sehingga pada tahun 2007 mendapat kepercayaan untuk menerima

penghargaan KALPATARU (Kusumastuti, 2009).

Lokasi usaha peternakan merupakan pusat kegiatan yang sangat berpengaruh

terhadap usaha ternak, oleh karena itu dalam memilih lokasi harus dipertimbangkan

dengan sebaik-baiknya agar tidak mendapat respon negatif dari masyarakat sekitar

seperti adanya pencemaran lingkungan dan lain-lain (Santoso, 1988 dalam

Kusumastuti, 2009). Seperti halnya lokasi peternakan kambing PE di Dusun

Nganggring yang terletak jauh dari pemukiman warga. Menurut salah satu informan

yang bernama Syaifuddin Zuhri yang diwawancarai di Nganggring mengatakan

bahwa peternakan kambing PE dikelompokan menjadi satu dan jauh dari pemukiman

warga, karena adanya himbauan dari Dinas Kesehatan akan pentingnya kesehatan dan

bahayanya peternakan kambing jika berada di dekat rumah dapat menimbulkan

penyakit.

Informan lain yang bernama Febriyanti juga mengatakan bahwa peternakan

kambing dikelompokkan menjadi satu agar pengolahannya lebih mudah dan jika ada

warga yang ingin bergabung, tinggal mendirikan kandang yang nantinya dibantu oleh

warga lain. Ia juga mengatakan bahwa sifat warga desa yang cenderung gotong

royong dalam segala hal, jadi dalam mendirikan kandang kambing atau lain

sebagainya akan dibantu. Hal ini menunjukan adanya kepekaan sosial yang tinggi

dimasyarakat pedesaan.

3.1.2 Pabrik Susu

Gambar 3.3. Proses pengolahan susu kambing, Gambar 3.4. Proses pengemasan

produk

8

Page 13: praktikumsosiologiugm.files.wordpress.com · Web viewEdi adalah siswa kelas 3 yang akan lulus tahun ini. Ia merupakan lulusan SMK Negeri 3 Yogyakarta dengan jurusan Teknik. Edi tergolong

Di Indonesia kambing Peranakan Etawa (PE) merupakan komoditas baru yang

kemungkinan memiliki prospek pengembangan yang baik. Kambing perah ini

dominan sebagai penghasil daging dari pada penghasil susu, susu kambing di

Indonesia belum dikenal luas seperti halnya susu sapi karena belum membudayanya

mengkonsumsi susu kambing dimasyarakat karena faktor promosi atau pengenalan

untuk mengkonsumsi susu kambing masih kurang (Arief et al, 2018). Susu

merupakan hasil perahan hewan seperti sapi, kambing, kuda, kerbau dan unta yang

memiliki kandungan gizi tinggi. Komponen yang terdapat dalam susu yaitu protein,

lemak, vitamin, mineral, laktosa dan enzim-enzim yang bermanfaat bagi kesehatan

sebagai probiotik (Thai Agricultural Standard, 2008 dalam Arief et al, 2018).

Menurut salah satu informan yang bernama Febriyanti yang diwawancarai di

Nganggring, terdapat pabrik susu yang sudah lama berdiri dan yang mendirikan atau

merintis usaha pabrik susu tersebut asli warga Nganggring. Selain itu, salah satu

informan yang bernama Syaifuddin Zuhri mengatakan bahwa pabrik susu Nganggring

telah berkembang pesat dan telah membuka cabang untuk proses produksi. Susu yang

diperoleh dan diproduksi oleh pabrik merupakan susu setoran dari warga yang

memiliki kambing PE.

Susu segar baik susu kambing atau sapi mudah rusak apabila penanganannya

kurang baik, untuk itu dibutuhkan langkah mengawetkan susu untuk memperpanjang

masa simpan yaitu melaui proses pengolahan. Menurut salah satu informan yang

bernama Febriyanti, pabrik susu Nganggring mengolah susu cair menjadi susu bubuk

dengan berbagai rasa seperti strawberry dan lain-lain. Selain susu bubuk kambing

dulu pabrik susu Nganggring sempat memproduksi permen susu dan yogourt akan

tetapi tidak berkembang seperti susu bubuk kambing. Informan yang bernama Aina

juga mengatakan bahwa susu kambing sering diambil oleh orang Jakarta untuk dibuat

produk kecantikan.

Berbicara soal pemasaran, salah satu informan yang bernama Aina yang

diwawancarai di Nganggring mengatakan bahwa produk hasil olahan dipasarkan ke

beberapa daerah di luar Yogyakarta bahkan sampai ke luar negeri. Pemasaran sangat

penting dilakukan selain memperkenalkan produk olahan, pemasaran juga

memberikan tambahan pendapatan dan memberikan aktivitas ekonomis bagi

perempuan di Nganggring karena tingginya permintaan setelah proses pemasaran.

9

Page 14: praktikumsosiologiugm.files.wordpress.com · Web viewEdi adalah siswa kelas 3 yang akan lulus tahun ini. Ia merupakan lulusan SMK Negeri 3 Yogyakarta dengan jurusan Teknik. Edi tergolong

3.1.3 Perkebunan Salak Pondoh

Gambar 3.5. dan Gambar 3.6. Perkebunan salak di Padukuhan Nganggring

Potensi yang ada di Nganggring salah satunya yaitu salak pondoh, salak pondoh

sendiri memiliki nama latin yaitu Sallaca edulis Reinw cv Pondoh. Salak pondoh

terkenal dengan rasa yang manis dan daging buah yang tebal sehingga salak pondoh

merambah hingga ke luar daerah Sleman.

Salah satu informan yang bernama Aina yang diwawancarai di Nganggring juga

menyatakan bahwa salak pondoh sudah ada sejak lama, awal mulanya dikasih

seseorang lalu di tanam dan dikembangkan sendiri. ia juga mengatakan bahwa setiap

keluarga pasti mempunyai perkebunan salak dan dikelola secara individu. Hasil dari

perkebunan salak akan dipasarkan melalui pengempul atau dijual ke pasar. Selain

dipasarkan dalam bentuk buah, salak pondoh juga dipasarkan dalam bentuk olahan

seperti dodol salak dan lain lain.

Informan lain yang bernama Syaifuddin Zuhri mengatakan bahwa pemasaran

salak pondoh selain dijual ke pengempul dan pasar juga dijual ke wisatawan-

wisatawan yang mengunjungi daerah tersebut. Olahan lain dari salak pondoh yaitu

kripik salak dan selai salak, akan tetapi pemasaran dari olahan salak dianggap kurang

karena teknik produksi akan dilakukan apabila ada pesanan saja.

Informan lain yang bernama Edi Kurniawan mengatakan bahwa tidak hanya

perkebunan salak saja yang digarap oleh warga Nganggring, akan tetapi padi juga

meskipun hanya beberapa. Akan tetapi, salak dianggap lebih cocok dikembangkan di

daerah tersebut maka ada juga petani padi yang mengganti fungsi lahannya dari

pertanian padi menjadi perkebunan salak. Secara ekomonis, perkebunan salak

menjadi sumber penghasilan utama maupun sampingan warga Nganggring yang dapat

membantu perekonomian warga Nganggring.

10

Page 15: praktikumsosiologiugm.files.wordpress.com · Web viewEdi adalah siswa kelas 3 yang akan lulus tahun ini. Ia merupakan lulusan SMK Negeri 3 Yogyakarta dengan jurusan Teknik. Edi tergolong

3.1.4 Desa Wisata

Gambar 3.7. Gerbang masuk Desa Wisata Nganggring

Desa wisata Nanggring ada karena daerah tersebut mempunyai potensi yang

layak untuk ditawarkan atau dijual kepada pasar pariwisata baik wisatawan domestic

maupun wisatawan mancanegara. Desa wisata Nganggring tidak jauh kaitannya

dengan peternakan kambing PE, karena objek yang ditawarkan adalah pelatihan

petani swadaya, studi lapangan, studi banding, pelatihan pemerahan dan pengolahan

susu, pemeliharaan bibit dan perkandangan serta menerima pesanan sebagai supplier

bibit kambing PE (Kusumastuti, 2009). Salah satu informan yang bernama Febriyanti

mengatakan bahwa desa wisata Nganggring sudah berdiri sejak lama dan banyak

mahasiswa yang datang untuk mengikuti berbagai pelatihan salah satunya yaitu

pelatihan bagaimana mengolah susu kambing dengan benar.

Dilihat dari tingkat perkembangannya Desa Wisata Nganggring memiliki

kendala yang dapat dikatakan menghambat dalam perkembangannya. Seperti

pernyataan dari informan yang bernama Syaifuddin Zuhri bahwa Desa Wisata

Nganggring terkendala terhadap dana operasional untuk mengelola dan

mengembangkan Desa Wisata tersebut. Hal ini berakibat terhadap keberlangsungan

dari desa wisata Nganggring, bisa dilihat bahwa desa wisata Nganggring tidak hanya

menawarkan dari segi keindahan alam nan asri tetapi juga sebagai agrowisata

pendidikan.

11

Page 16: praktikumsosiologiugm.files.wordpress.com · Web viewEdi adalah siswa kelas 3 yang akan lulus tahun ini. Ia merupakan lulusan SMK Negeri 3 Yogyakarta dengan jurusan Teknik. Edi tergolong

3.2 TANGGAPAN BEKERJA DI KOTA

Kota identik dengan tempat yang ramai dan modern baik dari segi infrastruktur

maupun kehidupannya. Menurut KBBI, kota adalah daerah pemusatan penduduk

dengan kepadatan penduduk tinggi dan fasilitas modern serta mayoritas penduduknya

bekerja di luar pertanian. Pekerjaan yang ada di kota pada umumnya bergerak

dibidang perindustrian dan jasa. Kota sebagai pusat pemerintahan dan perindustrian,

maka dari itu banyak didirikan perusahaan-perusahaan berupa perbankan, manufaktur

dan lain sebagainya yang dimiliki oleh negara maupun swasta.

Dalam studi ini kami ingin mengetahui bagaimana tanggapan informan

mengenai kehidupan dan pekerjaan di kota. Tanggapan positif mengenai bekerja di

kota menurut informan yaitu lapangan kerja yang tersedia banyak dan bervariasi,

pendapatan yang cenderung lebih tinggi, infrastrukur yang memadai, pengalaman dan

teman yang banyak pula. Tanggapan positif terhadap kota tersebut menjadi salah satu

faktor pendorong terjadinya urbanisasi. Urbanisasi disini dapat dimaknai sebagai

perpindahan penduduk dari desa ke kota. Faktor lain yang mendorong terjadinya

urbanisasi adalah adanya perbedaan pertumbuhan atau ketidakmerataan fasilitas-

fasiliats yang ada di desa dan di kota. Sebagai dampaknya wilayah perkotaan menjadi

magnet penarik bagi kaum urban untuk mencari pekerjaan (Harahap, 2013).

Tanggapan negatif mengenai kehidupan dan pekerjaan di kota adalah jauh dari

orang tua dan warga desa, situasi yang kurang nyaman, mayoritas orang kota bersifat

individualis, serta tingginya tingkat persaingan dalam dunia kerja. Situasi yang kurang

nyaman disini berupa kondisi alam dan sosial seperti suasana yang panas dan

banyaknya tindak kejahatan.

“Nggak sih, tapi kalau menurut saya ya kalau di kota itu kan lebih individualis

kalau di desa lebih cenderung ke gotong-royongan apa-apa harus sama-sama gitu kan

mbak, kalau orang kota kan lebih kayak, kayak orang barat gitu kan ya mbak lebih

individualis”. (Febri, 20 tahun)

Sedangkan sifat individualis disini dapat dipahami sesuai dengan pemikiran

George Simmel dalam tulisannya The Metropolis and Mental Life dalam Harahap

(2013) yang mengatakan bahwa stimulasi yang dapat mempengaruhi cara berpikir dan

berkepribadian seseorang yang hidup di kota dapat berupa dari dalam maupun luar

individu seperti pemandangan, suara, bau, tindakan orang lain. Sehingga individu

12

Page 17: praktikumsosiologiugm.files.wordpress.com · Web viewEdi adalah siswa kelas 3 yang akan lulus tahun ini. Ia merupakan lulusan SMK Negeri 3 Yogyakarta dengan jurusan Teknik. Edi tergolong

merespons untuk melindungi diri dan beradaptasi dengan orang lain. Kemudian,

perpaduan antara stimulasi dan cara individu merespons tersebut membuat individu

lebih intelek, rasional, dan berjarak dengan orang lain. Selain itu menurut penulis

perbedaan latar budaya, sosial, dan nilai-nilai yang ada juga dapat mempengaruhi

individu dalam berpikir dan bertindak terhadap orang lain.

Mayoritas informan kami yaitu Aina, Lusi, Edi berpendapat bahwa lapangan

kerja yang tersedia serta pendapatan yang diperoleh di kota lebih banyak dibanding di

desa. Meitasari, 2017 mengungkapkan bahwa alasan utama yang mempengaruhi

banyaknya pemuda desa merantau ke kota adalah karena lapangan pekerjaan yang

tersedia di kota lebih banyak dan penghasilan/UMR tergolong lebih tinggi dibanding

di desa. Lapangan pekerjaan dan pendapatan yang banyak ini menjadi faktor penarik

bagi pemuda untuk mencari pekerjaan di kota. Selain itu kehidupan kota yang lebih

modern, sarana prasarana yang lebih lengkap, pendidikan yang lebih baik dan

berkualitas, dan pengaruh media massa yang menunjukkan bahwa kehidupan di kota

lebih indah, juga menjadi faktor penarik dari kota (Meitasari, 2017).

“Hmm karena kota ya kenapa ya istilahnya karena saya sendiri kan sering ke

kota, sekolah saya juga di kota jadi saya lebih berani kalo di kota kemajuan lebih maju

di kota daripada di desa”. (Edi, 18 tahun)

Kemajuan yang ada di kota dibanding di desa juga menjadi salah satu faktor

yang mendorong pemuda untuk mencari pekerjaan di kota. Kemajuan tersebut dapat

disebabkan adanya infrastruktur yang memadai dan akses yang mudah. Pernyataan

tersebut diperkuat oleh Larastiti (2013) yang mengungkapkan bahwa lemahnya akses

faktor produksi di desa menyebabkan pemuda lebih memilih pergi bekerja ke kota.

Tingkat kemajuan yang rendah dengan infrastruktur yang terbatas dan akses yang

cukup sulit membuat banyak dari pemuda memilih untuk bekerja di kota dibanding di

kota. Selain itu, intensitas berada di kota juga dapat mempengaruhi kenyamanan

seseorang, sebagaimana Edi yang menyatakan lebih berani di kota karena ia sudah

sering berada di kota salah satunya tempat ia sekolah ketika SMK yang berada di

wilayah kota.

Umumnya pemuda cenderung memilih mencari pekerjaan di kota dibanding di

desa karena image positif dari kota dan kondisi di desa itu sendiri. Faktor yang

mempengaruhi seseorang pergi ke kota (urbanisasi) secara umum dalam Meitasari

(2017) dibedakan menjadi 2 yaitu faktor penarik dan faktor pendorong. Faktor penarik

dari kota dalam Meitasari (2017) yaitu kehidupan kota yang lebih modern, sarana

13

Page 18: praktikumsosiologiugm.files.wordpress.com · Web viewEdi adalah siswa kelas 3 yang akan lulus tahun ini. Ia merupakan lulusan SMK Negeri 3 Yogyakarta dengan jurusan Teknik. Edi tergolong

prasarana yang lebih lengkap, lapangan pekerjaan yang lebih banyak, pengaruh media

massa yang menunjukkan bahwa kehidupan di kota lebih indah, dan pendidikan yang

lebih baik dan berkualitas. Faktor pendorong dapat berupa faktor ekonomi yaitu

keinginan untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Sedangkan faktor

pendorong dari desa yaitu semakin sempitnya lahan pertanian yang tidak sesuai

dengan budaya tempat asalnya, lapangan pekerjaan yang sedikit sehingga banyak

terjadi pengangguran, sarana prasarana yang terbatas, dan diusir dari desa asal

(Soekanto, 2015 dalam Meitasari, 2017).

Kesenjangan kepemilikan tanah dan keterbatasan kepemilikan faktor produksi

pada petani membuat mereka tidak mampu mengakumulasi modal. Apalagi kebutuhan

rumah tangga petani yang semakin besar sementara penghasilan yang tak kunjung

bertambah membuat pemuda khususnya anak petani memutuskan untuk menjadi

karyawan dan buruh di kota daripada bekerja di desa, yang menyebabkan terjadinya

proletarisasi (Nurtjahyo, 2005 dalam Larastiti, 2013). Kondisi tersebut juga dapat

melatarbelakangi seseorang untuk mencari pekerjaan di kota. Meskipun jika ia bekerja

di desa akan menjadi orang yang merdeka karena bebas dalam menguasai sumber

produksi dengan mengelola dan mengembangkan usahanya sendiri. Namun ketika

individu memutuskan untuk bekerja di kota, dalam hal ini bekerja pada sebuah

instansi/perusahaan, maka mau tidak mau individu tersebut harus tunduk terhadap

sistem dan peraturan yang ada.

Ciri masyarakat diperkotaan dapat digambarkan sesuai dengan pemikiran

Ferdinand Tonnies mengenai gesellschaft. Gesellschaft adalah komunitas yang

mencirikan kehidupan urban modern, ditandai dengan mayoritas orang didalamnya

tidak saling mengenal dan merasa sedikit sekali kesamaan dengan penduduk lain.

Sedangkan keadaan interaksi dalam dunia kerja antar masyarakat diperkotaan sesuai

dengan teori solidaritas organik yang dicetuskan oleh Emile Durkheim dalam Divition

of Labour dalam Harahap (2013) dimana masyarakat didalamnya saling berbeda-beda

namun saling bekerjasama. Mereka bekerja sesuai dengan pembagian kerjanya

masing-masing dan saling bergantung satu sama lain. Saling ketergantungan menjadi

sangat tinggi sebagai akibat dari bertambahnya spesialisasi dalam pekerjaan yang

memungkinkan pula bertambahnya perbedaan antara individu. Perbedaan dalam

individu itu pula yang merombak kesadaran kolektif yang ada sebelumnya menjadi

tidak begitu penting dibanding ketergantungan fungsional. Selain itu ketergantungan

antara individu yang satu dengan yang lain sangat tinggi karena setiap orang memiliki

14

Page 19: praktikumsosiologiugm.files.wordpress.com · Web viewEdi adalah siswa kelas 3 yang akan lulus tahun ini. Ia merupakan lulusan SMK Negeri 3 Yogyakarta dengan jurusan Teknik. Edi tergolong

fungsi dan peran masing-masing yang saling berkaitan dengan fungsi dan peran orang

lain yang dibutuhkan dalam suatu organisasi (pekerjaan). Mereka bersatu bukan

karena kesadaran dan persamaan kolektif seperti pemikiran, latar budaya, dan

sebagainya namun lebih kepada rasionalitas yaitu berdasarkan kebutuhan dan tujuan

yang ingin dicapai serta mempertimbangkan untung-rugi yang akan diperoleh.

15

Story box 2

Edi adalah siswa kelas 3 yang akan lulus tahun ini. Ia merupakan lulusan SMK Negeri 3

Yogyakarta dengan jurusan Teknik. Edi tergolong sebagai siswa yang cerdas, selama ia

sekolah ia banyak mengikuti berbagai lomba dan mendapatkan juara. Ia juga telah

diterima kuliah di UNY pada tahun ini dengan jurusan Pendidikan Teknik Mesin. Ia

berpendapat bahwa kehidupan di kota lebih maju dibanding di desa hal ini yang membuat

ia lebih berani dan nyaman untuk kelak mencari kerja di kota ketimbang di desa. Namun

kehidupan di kota juga lebih keras terutama dalam hal tingginya persaingan dalam

mencari pekerjaan di kota.

Story box 1

Aina adalah seorang mahasiswi semester 4 di Universitas Cokroaminoto Yogyakarta, ia

merupakan anak sulung dari 2 bersaudara. Bapaknya bekerja sebagai petani salak dan

peternak kambing etawa, sedangkan ibunya bekerja sebagai buruh pabrik susu di Desa

Girikerto. Menurut Aina dengan bekerja di kota akan mendapat benefit yang lebih

dibanding bekerja di desa. Ia berpendapat bahwa lapangan pekerjaan yang ada di kota

lebih banyak dan bervariasi dibanding di desa, pengalaman dan teman (relasi) yang

diperoleh juga lebih banyak dan luas, serta pendapatan/gaji yang lebih tinggi dibanding di

desa. Perbedaan latar budaya dan sikap, misalnya stigma individualistik yang cenderung

menempel pada orang kota tidak menjadi masalah baginya. Menurut Aina asal bisa

beradaptasi dan banyak bergaul dengan baik maka akan mendapat relasi yang banyak.

Page 20: praktikumsosiologiugm.files.wordpress.com · Web viewEdi adalah siswa kelas 3 yang akan lulus tahun ini. Ia merupakan lulusan SMK Negeri 3 Yogyakarta dengan jurusan Teknik. Edi tergolong

3.3 TANGGAPAN BEKERJA DI DESA

Kelompok kami memiliki informan yang lebih memilih bekerja di desa yakni 2

orang dari total 5 orang informan. Informan yang pertama dengan nama Syaifuddin

Zuhri Zulkarnain ini bekerja di DPUPKP (Dinas Pekerjaan Umum Pemukiman dan

Perumahan) baru sekitar dua bulan dibagian pendataan bangunan. Syaifuddin sudah

biasa pulang pergi atau nglaju dalam bekerja. Dan juga Febriyanti Eka Nur Sholikhah

yang merupakan mahasiswa UPY prodi PGSD (Pendidikan Guru Sekolah Dasar)

yang terbiasa bolak-balik Wirobrajan-Nganggring.

Lingkungan di desa yang masih banyak ditumbuhi pepohonan membuat suasana

desa terlihat lebih indah, alami, dan sehat. Dan tentu hal ini juga yang menjadi salah

satu alasan seseorang lebih krasan tetap tinggal di desa. Kota memang menyediakan

banyak lapangan pekerjaan karena banyaknya industri dan pabrik, tentu ini

menyebabkan kota menjadi padat penduduk. Tetapi, asap-asap pabrik dan kendaraan,

limbah yang dibuang ke sungai, semua itu menyebabkan polusi dan tentu kota

menjadi lingkungan yang kurang sehat. Berbeda dengan di desa, di samping

pemandang masih asri, banyaknya tumbuhan dan pepohonan yang terus menjaga

udara tetap segar. Ini menjadikan lingkungan tetap sehat dan bebas polusi. Suasana di

desa memang tidak ramai seperti di kota, tetapi dengan keadaan seperti ini justru

kehidupan menjadi terasa tenang bahkan terkadang memunculkan ide dan inspirasi

baru. Sejalan dengan informan Desa Nganggring

“enak daripada di kota kalo saya mending di desa sepi, tenang

gimana..gitu.dingin juga”. (Syaifu, 23 tahun)

Mereka yang sudah memiliki status sosial ekonomi yang baik akan berusaha

mempertahankan kedudukannya dan tidak akan membiarkan anaknya memasuki

pekerjaan yang tidak sesuai dengan kondisi mereka. Hal ini disebabkan oleh harapan

akan pekerjaan yang lebih baik dari keluarga. Orangtua pemuda mengharapkan

anaknya memiliki pendapatan yang jauh lebih baik dari orang tuanya saat ini, dan

pekerjaan yang lebih baik tersebut menurut mereka berada pada sektor industri. Hal

ini disebabkan oleh pertimbangan pendidikan yang telah dimiliki. Salah seorang orang

tua responden yang tergolong kepada status sosial ekonomi rendah.

16

Page 21: praktikumsosiologiugm.files.wordpress.com · Web viewEdi adalah siswa kelas 3 yang akan lulus tahun ini. Ia merupakan lulusan SMK Negeri 3 Yogyakarta dengan jurusan Teknik. Edi tergolong

“iya, petani salak sama itu peternak kambing umumnya itu, tapi ada juga yang,

kalau ya pemudakan ada juga yang kerjanya di luar luar gitu”. (Febri, 20 tahun).

Pada umumnya pemuda yang mengakses media massa ini hanya mengakses

untuk hiburan semata. Pada saat menonton televisi, acara seperti sinetron dan ftv

merupakan acara yang paling mereka senangi. Hal ini sedikit banyaknya

mempengaruhi cara berfikir mereka dan cara pandang mereka yang lebih berorientasi

kepada apa yang mereka lihat tersebut. Bahwa media massa mempunyai peranan

penting dalam proses transformasi nilai-nilai baru pada masyarakat (Suyanto dan

Narwoko, 2011). Tampaknya hal ini juga terjadi pada pemuda Desa Nganggring yang

sebagian besar hanya mengakses hiburan seperti sinetron, ftv dan acara musik ketika

menonton televisi sehingga merubah nilai-nilai yang mereka anut menjadi lebih

berorientasi kepada apa yang disaksikan setiap hari di sinetron. Kehidupan kota yang

terlihat mewah, dan dimanjakan oleh berbagai fasilitas kota yang selalu ditampilkan di

sinetron membuat mereka lebih berorientasi pada pekerjaan di kota dan hal ini

mempengaruhi pandangan mereka tentang pekerjaan pertanian di desa.

“ya lebih maju dikota”. (Edi, 18 tahun)

Pemuda Desa Nganggring banyak yang memilih pekerjaan seperti outsourcing

LPK (Lembaga Pelatihan Kerja). Informasi mengenai adanya lowongan pekerjaan di

sektor ini sangat mudah didapatkan oleh responden melalui orang-orang yang berada

di sekitarnya. Kepastian gaji yang akan didapatkan setiap bulannya serta kemudahan

dalam proses memasuki sektor tersebut menjadi faktor yang membuat pemuda

berlomba-lomba untuk mendapatkan pekerjaan di industri/pabrik ini. Hal ini sejalan

dengan peminatan pemuda terhadap sektor industri, ia menemukan bahwa alasan

rasional pemuda desa memilih pekerjaan di sektor industri adalah alasan ekonomi dan

upah, alasan tingkat pendidikan, alasan keinginan belajar mandiri, alasan yang bersifat

sosial seperti prestise dan jaringan sosial yang berhubungan dengan relasi pertemanan,

terakhir yaitu alasan gaya hidup dan pergaulan pada kaum industri yang lebih modern.

“kalau yang bekerja tu kebanyakan pada di hotel trus sama yang keluar negeri

tu ke Jepang, Lpk”. (Edi, 18 tahun)

Salah satu tujuan utama seseorang bekerja yaitu untuk mendapatkan imbalan

berupa upah atau pendapatan. Upah yaitu sesuatu penerimaan sebagai imbalan dari

pengusaha/lembaga kepada karyawan untuk suatu pekerjaan atau jasa yang telah

17

Page 22: praktikumsosiologiugm.files.wordpress.com · Web viewEdi adalah siswa kelas 3 yang akan lulus tahun ini. Ia merupakan lulusan SMK Negeri 3 Yogyakarta dengan jurusan Teknik. Edi tergolong

dilakukan yang diberikan dalam bentuk uang atas dasar kesepakatan (Sumarsono,

2003). Harapan pendapatan yaitu upah yang diharapkan oleh seseorang sebagai

imbalan atas pekerjaan atau jasa yang telah ia lakukan dalam satuan waktu tertentu.

Harapan pendapatan yang dilihat pada pemuda Desa Nganggring ini yaitu harapan

pendapatan yang akan diterimanya dalam sebulan ketika medapatkan pekerjaan.

Pemuda Desa Nganggring yang sudah mengetahui informasi terkait bekerja di Jepang

tetapi belum mengetahui nominal pasti besaran pendapatan jika bekerja di Jepang,

informasi tersebut diperoleh dari saudaranya yang bekerja di Jepang sehabis lulus

SLTA.

“gajine besar oo nek 30 ya lebih, 30 an perbulan”. (Edi, 18 tahun)

Seperti halnya banyak orang desa yang tinggal di kota pada umumnya, mereka

baru bisa mudik ke desa setelah satu bulan, satu tahun, atau beberapa tahun karena

alasan sibuk mengurus pekerjaan. Waktu berkumpul bersama orang tua, keluarga, dan

saudara pun bisa tidak bisa dinikmati setiap harinya. Orang tua maupun keluarga

merupakan salah satu alasan kuat mengapa seseorang masih tetap bertahan tinggal di

desa, apalagi bagi mereka yang orang tuanya sudah rapuh karena usia. Bagi mereka,

hari-hari terasa lebih indah saat berkumpul bersama keluarga, saudara, dan orang tua.

Selain itu, beberapa orang tua yang tidak tega anaknya tinggal di kota dan mendesak

mereka untuk tetap tinggal di desa apa adanya. Ada juga kebanyakan orang

memutuskan merantau untuk bekerja. Menetap di kota atau tempat baru pasti akan

memberikan pengalaman lebih dan melatih kemandirian. Namun, memilih untuk

bekerja di daerah asal atau kampung halaman juga merupakan alasan kuat untuk tetap

bekerja disamping sisi tidak bisa meninggalkan seseorang ataupun justru tidak

diperbolehkan keluarga dan juga bisa saja menghemat biaya pengeluaran. Yang

sejalan dengan apa yang diungkapkan salah satu informan dari Desa Nganggring.

“biar apa ya nggak jauh-jauh amat dengan keluarga hehe kalau saya itu”.

(Febri, 20 tahun)

Salah satu alasan lain juga tidak terlepas dari hubungan sosialisasi di daerah

yang sangat penting. “Ra srawung rabimu suwung” istilah di jogja yang sudah sangat

sering terdengar seolah inilah kalimat agar acara kita orang-orang daerah tersebut

akan datang jika saling mengenal dengan cara srawung atau bersosialisasi. Jika kita

pergi jauh dari desa atau bisa dibilang merantau dalam bekerja seolah waktu untuk

18

Page 23: praktikumsosiologiugm.files.wordpress.com · Web viewEdi adalah siswa kelas 3 yang akan lulus tahun ini. Ia merupakan lulusan SMK Negeri 3 Yogyakarta dengan jurusan Teknik. Edi tergolong

bersosialisasi di daerah tersebut berkurang bahkan tidak ada. Besar kemungkinan

tidak ada yang mau sinoman yang dari daerah tersebut. Sinoman adalah kegiatan

pemuda-pemudi atau karang taruna di suatu desa menyajikan suguhan kepada tamu

ketika salah satu warganya sedang punya acara atau hajatan.

“mungkin ya karena juga saya sudah terlanjur raket sama desa sini, jauh itu

rasanya takutnya nanti malah kayak asing dengan orang desa sini”. (Febri, 20 tahun)

Seseorang yang pulang larut malam seolah menjadi hal yang biasa. Tidak

sedikit dari pekerja maupun mahasiswa yang pulang malam hari. Pulang sendirian

mungkin tidak masalah ketika siang hari, namun perlu tingkat kewaspadaan yang

tinggi ketika malam hari. Terkadang rasa khawatir muncul sebab resiko yang

mungkin terjadi dalam perjalanan pulang. Banyak orang pulang malam karena

tuntutan sebuah pekerjaan, tugas kampus, organisasi, serta keterlibatan kepanitiaan

dalam sebuah event. Akan tetapi ada anggapan lain di masyarakat terutama di desa

yang menganggap itu bukan sesuatu yang wajar dan ada apa-apanya. Sehingga untuk

menghindari bahan pergunjingan orang orang sekitar tempat tinggal adalah dengan

mengurangi kegiatan yang menyebabkan pulang malam terutama pekerjaan yang jauh

dari tempat tinggal.

“soalnya kan orang desa itu mikirnya takutnya e mereka itu pergi keluar itu

takutnya pergaulan bebas gitu mbak, padahal kan belum pasti semua orang kayak

gitu, ada juga yang keluarganya ada yang kuliah otomatis mereka tahu kalau pulang

malem tu kayak gini, tapi kalau bagi mereka yang nggak tahu itu kan ya otomatis

pasti bisa dalam hati tu ini ngapain kok pulang malem, kerjaannya ngapain gitu”.

(Febri, 20 tahun)

Masyarakat desa dikenal dengan sifat gotong royong. Gotong royong

merupakan suatu bentuk saling tolong menolong yang berlaku di daerah pedesaan

Indonesia. Gotong royong bersifat tolong menolong dan bersifat kerja bakti. Gotong

royong merupakan perilaku yang berhubungan dengan kehidupan masyarakat kita

sebagai petani (agraris). Gotong royong sebagai bentuk kerjasama antar individu,

antar individu dengan kelompok, dan antar kelompok, membentuk suatu norma saling

percaya untuk melakukan kerjasama dalam menangani permasalahan yang menjadi

kepentingan bersama. Bentuk kerja-sama gotong royong semacam ini merupakan

salah satu bentuk solidaritas sosial.

19

Page 24: praktikumsosiologiugm.files.wordpress.com · Web viewEdi adalah siswa kelas 3 yang akan lulus tahun ini. Ia merupakan lulusan SMK Negeri 3 Yogyakarta dengan jurusan Teknik. Edi tergolong

3.4 SOSIALISASI PILIHAN BEKERJA

Sosialisasi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah proses belajar

seseorang anggota masyarakat untuk mengenal dan menghayati kebudayaan

masyarakat dalam lingkungannya. Dalam pengertian lain, disebutkan bahwa

sosialisasi merupakan proses penanaman nilai dan norma pada diri individu agar dapat

bertindak sesuai dengan apa yang diharapkan masyarakat. Keluarga merupakan

struktur terkecil dalam masyarakat. Salah satu fungsi keluarga adalah sebagai tempat

bagi anak untuk belajar berhubungan sosial (Dwiyanti, 2013). Pada level keluarga

inilah sosialisasi pertama kali dilakukan. Sebagai contoh, orang tua akan menanamkan

nilai-nilai kasih sayang, kedisiplinan, kejujuran, keberanian dan nilai lainnya kepada

anaknya. Orang tua juga akan mengenalkan berbagai norma, seperti norma agama,

norma kesopanan, norma kesusilaan serta berbagai norma lainnya. Harapan dari

dilakukannya sosialiasi tersebut agar anak dapat bertingkah laku seperti yang

diharapkan oleh lingkungan sekitarnya.

Sosialisasi dan pendampingan terhadap tumbuh kembang anak akan terus

dilakukan oleh orang tua hingga sang anak dewasa. Pada saat menginjak usia remaja

menuju dewasa, anak butuh bimbingan dari orang tua dan lingkungan sekitarnya

untuk menentukan jenjang karir atau pendidikan selanjutnya. Sebenarnya, para remaja

sudah memiliki bayangan terhadap apa yang ingin dicapainya di masa depan, namun

mereka butuh dukungan dan arahan dalam perencanaan yang lebih matang (Ginzburg

dan Super, dalam Marliyah dkk.,2004). Keluarga merupakan agen sosialisasi yang

paling berpengaruh dalam pengambilan keputusan. Pola pikir dan nilai-nilai yang

telah dibentuk oleh keluarga akan memengaruhi anak dalam menentukan jenjang

pendidikan atau karir yang akan ditempuh selanjutnya (Marliyah, 2004).

Pada penelitian yang kami lakukan di Padukuhan Nganggring, ditemukan data

bahwa sosialisasi mengenai pekerjaan dan pendidikan yang dilakukan oleh orang tua

terhadap anaknya cukup baik. Para informan memaparkan bahwa orang tua mereka

memberikan pengarahan terkait jenjang yang akan ditempuh selanjutnya, namun

untuk keputusan yang akan diambil diserahkan sepenuhnya pada mereka.

20

Page 25: praktikumsosiologiugm.files.wordpress.com · Web viewEdi adalah siswa kelas 3 yang akan lulus tahun ini. Ia merupakan lulusan SMK Negeri 3 Yogyakarta dengan jurusan Teknik. Edi tergolong

“yaaa..mayoritas ya terserah kamu, terserah anaknya mau gimana. yang

penting jalannya bener aja, gak aneh-aneh” (Syaifuddin, 23 tahun)

Orang tua dari Syaifuddin membebaskan dirinya untuk memilih pekerjaan yang

diinginkannya. Tidak ada paksaan untuk harus memilih ini atau harus memilih itu.

Tetapi dibalik itu, terdapat pesan dan harapan untuk “tidak aneh-aneh” dalam

bertindak. Kekhawatiran orang tua ini timbul dari adanya kondisi sosial yang buruk di

tengah masyarakat. Orang tua khawatir bahwa anaknya tidak mampu beradaptasi

dengan lingkungan dan malah terseret pada hal-hal yang buruk.

Informan lainnya menyampaikan nilai-nilai yang ditanamkan oleh orang tuanya

adalah pendidikan itu penting, sehingga harus menyelesaikan pendidikan terlebih

dahulu setelah itu lanjut ke jenjang pekerjaan.

“orang tua dukung wae, tapi kan disuruh kuliah dulu baru bekerja”. (Lusi, 17

tahun)

“orang tua juga pingin kan kalau anaknya itu pendidikannya lebih tinggi dari

orang tua gitu. Orang tua saya kan SMA pendidikan terakhirnya”. (Febri, 20 tahun)

Di era ini, pendidikan merupakan salah satu kebutuhan pokok yang sangat

penting dalam menjalani kehidupan. Pendidikan sebagai komoditas yang dapat

diakses semua kalangan diharapkan mampu membawa perubahan dan kemajuan

masyarakat dalam berpikir dan meningkatkan taraf hidupnya. Sebelum menjadi orang

yang dapat berguna dan berperan aktif di lingkungan masyarakat, anak-anak harus

menempa diri dan mengikuti proses pendidikan. Melalui proses pendidikan, anak

akan belajar dan menemukan sesuatu yang baru serta dapat memaknai banyak hal

(Siregar, 2013). Proses pendidikan yang dijalani oleh anak akan memberikan

pengalaman yang dapat menstimulasi diri mereka untuk menghadapi berbagai hal

yang akan terjadi di lingkungannya. Anak akan belajar bagaimana memecahkan

masalah, mengatur dan mengendalikan emosinya, bersosialisasi dan membangun

relasi dengan banyak orang serta mempelajari berbagai jenis keilmuan. Hal ini

merupakan bekal yang akan membantu anak dalam menghadapi kehidupannya.

Pendidikan yang dijalani pun akan membantu anak untuk dapat menentukan

jenjang karir yang akan dijalaninya. Bila anak menjalani pendidikan di tingkat SMK,

maka ia harus tau kemana jalan yang akan ditempuh selanjutnya. Begitupun dengan

21

Page 26: praktikumsosiologiugm.files.wordpress.com · Web viewEdi adalah siswa kelas 3 yang akan lulus tahun ini. Ia merupakan lulusan SMK Negeri 3 Yogyakarta dengan jurusan Teknik. Edi tergolong

anak yang menjalani pendidikan di tingkat SMA, ia harus menentukan akan

melanjutkan pendidikan di tingkat perguruan tinggi atau mencukupinya sampai

tingkat SMA saja. Disinilah peran orang tua dalam memberikan arahan dan sosialisasi

terkait pilihan akan yang dipilih oleh anaknya. Harapan agar anak dapat menempuh

jenjang pendidikan yang lebih tinggi dari orang tuanya merupakan salah satu

keinginan dari salah satu orang tua informan. Harapan ini muncul karena orang tua

ingin adanya peningkatan yang terjadi di generasinya. Selain itu, orang tua juga

berharap bahwa anaknya dapat memperoleh pekerjaan yang lebih baik lagi.

Informan lainnya mengaku sangat berkeinginan untuk dapat bekerja di Negeri

Sakura atau Jepang. Keinginannya ini dasari dari pengalaman kakaknya yang telah

terlebih dahulu berangkat dan bekerja ke Jepang. Cerita-cerita yang disampaikan oleh

kakaknya menumbuhkan keinginannya untuk menjalani pekerjaan disana. Pihak

keluarga memberikan dukungan dan dorongan sehingga memperkuat keinginannya

tersebut.

22

Page 27: praktikumsosiologiugm.files.wordpress.com · Web viewEdi adalah siswa kelas 3 yang akan lulus tahun ini. Ia merupakan lulusan SMK Negeri 3 Yogyakarta dengan jurusan Teknik. Edi tergolong

3.5 JENIS PEKERJAAN

Menurut Sugihen (1997), Perdesaan (rural) dapat diartikan sebagai bentuk

daerah otonom yang terendah sesudah kota (dalam Santoso, 2007). Karakteristik yang

menonjol pada perdesaan yang masih asli (tradisional) diantaranya mengenai pola-

pola interaksi sosial yang sangat erat, perilaku individu dan masyarakat yang masih

tergantung kepada alam sehingga kebudayaan yang mereka ciptakan masih sederhana

serta aktivitas ekonominya didominasi oleh sifat agraris (Santoso, 2007). Minat kerja

akan timbul ketika seseorang memiliki keinginan untuk dapat bekerja sesuai dengan

pekerjaan yang diminatinya. Kurangnya kesadaran akan pentingnya memiliki minat

kerja akan menimbulkan ketidaksiapan dalam menghadapi dunia kerja. Menurut

Djaali (2012) minat kerja merupakan akumulasi dari minat yang berkembang sejalan

dengan pengalaman, sikap dan keinginan seseorang. Hal ini sangat dipengaruhi secara

signifikan oleh kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni (dalam

Maikaningrum). Mereka yang belum mempunyai keinginan untuk bekerja

menyebabkan kurang semangat dalam mencari informasi pekerjaan yang sesuai

dengan kompetensi keahlian yang dimiliki. Adanya minat kerja akan mendorong

adanya usaha keras dan ingin maju dalam meningkatkan kesiapan kerja

(Maikaningrum).

23

Story Box 1

Aina (20th) adalah mahasiswa yang sedang menjalani kuliah semester 4 di UCY

jurusan teknik sipil. Ia merupakan anak pertama dari 2 bersaudara, ayahnya bekerja sebagai

petani kebun salak dan berternak kambing sedangkan ibunya bekerja di pabrik susu.

Menurutnya pekerjaan di dusun Nganggring hanya sebatas berkebun salak atau berternak

kambing meneruskan usaha orang tua. Ketika ditanya mengenai pekerjaan di kota atau di

desa yang akan diambil setelah lulus, menurutnya pribadi ia menginginkan pekerjaan di kota

besar di luar pulau jawa dengan alasan untuk mencari pengalaman karena di kota cenderung

banyak teman dan penghasilan yang menjanjikan. Tetapi ia khawatir mengenai lingkungan

sosial di kota yang belum tentu cocok sehingga perlu penyesuaian. Menurutnya penduduk di

desa sangat ramah, berbeda dengan di kota yang individualis yang mementingkan diri

sendiri. Ia juga mempunyai keinginan untuk kembali membangun desa agar berkembang

karena tujuan bekerja di kota hanya untuk mencari pengalaman dan ilmu. Menurutnya

pekerjaan di desa cenderung tidak berkembang dengan ruang lingkup yang sempit (jenis

pekerjaan homogen).

Page 28: praktikumsosiologiugm.files.wordpress.com · Web viewEdi adalah siswa kelas 3 yang akan lulus tahun ini. Ia merupakan lulusan SMK Negeri 3 Yogyakarta dengan jurusan Teknik. Edi tergolong

Salah satu daya tarik kota adalah luasnya kesempatan kerja yang tersedia, yang

disebabkan oleh tingginya pertumbuhan ekonomi serta ditandai dengan tinggkat upah

yang juga relative tinggi dibandingkan di desa sehingga mendukung mobilitas

pemuda di desa untuk mencari pekerjaan di kota. Menurut Saefullah, pada hakekatnya

mobilitas penduduk merupakan refleksi perbedaan pertumbuhan dan ketidakmerataan

fasilitas pembangunan antara satu daerah dengan daerah lainnya. Fenomena yang

kemudian muncul adalah munculnya tenaga kerja dari daerah yang mempunyai

fasilitas pembangunan minim akan bergerak menuju ke daerah yang mempunyai

fasilitas pembangunan yang lebih baik, yaitu antara wilayah perdesaan dengan

wilayah perkotaan (Maulida, 2013).

24

Story Box 2

Febriyanti Eka Nur Sholikhah biasa dipanggil Febri, lahir di Sleman, 12 Februari

tahun 1999. Ia sedang menjalani kuliah di UPY semester 4 jurusan PGSD. Ia merupakan

anak pertama dari 2 bersaudara, ibunya seorang petani salak dan ayahnya seorang buruh

untuk mengangkut kayu atau bambu. Ketika ditanya mengenai keinginan bekerja di kota

atau di desa, secara pribadi ia ingin berkerja di desa supaya tidak jauh dengan keluarga

dan mungkin ada potensi di desa sesuai dengan bidang yang ditekuninya asalkan ia

merasa nyaman dalam menjalani pekerjaan tersebut. Mahasiswi yang juga aktif dalam

karang taruna ini mengungkapkan bahwa ia ingin menjadi guru dan tidak masalah dengan

pememindahan di desa 3T karena ia yakin bahwa pemindahan tersebut atas dasar

kepercayaan yang telah diberikan. Menurutnya di kota lebih individualis sedangkan di

desa lebih cenderung ke kegotong royongan.

Story Box 3

Informan ketiga bernama Syaifuddin Zuhri Zulkarnain yang sedang sibuk dengan

pekerjaannya di DPUPKP (Dinas Pekerjaan Umum Pemukiman dan Perumahan) yaitu

pendataan bangunan. Lulusan psikologi UST sekaligus anak pertama dari 2 bersaudara ini

baru menekuni pekerjaannya selama 2 bulan dan masih tenaga kontrak. Ayahnya bekerja

sebagai perangkat desa yaitu dukuh dan ibunya bekerja sebagai guru PAUD. Orang

tuanya cenderung membebaskan anaknya untuk memilih pekerjaan yang mereka sukai.

Menurutnya pribadi ia sudah nyaman bekerja di PU karena merupakan cita cita dari awal

yaitu ingin menjadi pegawai negeri untuk mengabdi kepada negara, selain itu penghasilan

yang diperoleh tinggi.

Page 29: praktikumsosiologiugm.files.wordpress.com · Web viewEdi adalah siswa kelas 3 yang akan lulus tahun ini. Ia merupakan lulusan SMK Negeri 3 Yogyakarta dengan jurusan Teknik. Edi tergolong

Mayoritas jenis pekerjaan yang ada di desa Nganggring adalah peternak

kambing yang akan diambil susunya dan petani salak yang akan dijual atau diolah

menjadi kripik salak atau manisan salak. Menurutnya pemasaran produk yang telah

diolah masih kurang sehingga produksi dilakukan sesuai dengan permintaan warga

yang ingin membeli. Selama ini juga belum ada perhatian dari pemerintah sehingga

masih cenderung dikelola sendiri yang mengakibatkan kesulitan dalam pemasaran.

Ketersediaan sarana prasarana yang dapat mendukung pemasaran produksi menjadi

faktor pendukung lainnya. Hal ini memudahkan untuk membawa produksi ke pasar

atau sebaliknya, pihak pembeli datang ke lokasi yang menghasilkan produk.

Ketersediaan jaringan telepon seluler memudahkan penduduk untuk mengetahui

ketersediaan pasar serta harga komoditas yang mereka hasilkan (Noveria, 2015).

Sehingga perlu adanya sarana dan prasarana dari pemerintah untuk mendukung

produksi dan pemasaran produk susu etawa tersebut.

25

Story Box 3

Informan ketiga bernama Syaifuddin Zuhri Zulkarnain yang sedang sibuk dengan

pekerjaannya di DPUPKP (Dinas Pekerjaan Umum Pemukiman dan Perumahan) yaitu

pendataan bangunan. Lulusan psikologi UST sekaligus anak pertama dari 2 bersaudara ini

baru menekuni pekerjaannya selama 2 bulan dan masih tenaga kontrak. Ayahnya bekerja

sebagai perangkat desa yaitu dukuh dan ibunya bekerja sebagai guru PAUD. Orang

tuanya cenderung membebaskan anaknya untuk memilih pekerjaan yang mereka sukai.

Menurutnya pribadi ia sudah nyaman bekerja di PU karena merupakan cita cita dari awal

yaitu ingin menjadi pegawai negeri untuk mengabdi kepada negara, selain itu penghasilan

yang diperoleh tinggi.

Story Box 4

Edi Kurniawan biasanya dipanggil Edi yang akan menjalani kuliah di UNY

jurusan pendidikan teknik mesin. Menurutnya kebanyakan pekerjaan yang ada di desa

yaitu petani sedangkan diperkotaan cenderung lebih ke jasa. Sesuai dengan jurusan yang

diambil yaitu pendidikan yang mengarah menjadi guru maka ia ingin bekerja sebagai

desain perancang teknik mesin di Jepang karena tertarik dengan penghasilan yang besar

dan termotivasi dari kakaknya. Setelah mendapatkan gelar sarjananya ia ingin bekerja di

kota karena infrastrukturnya memadai dan lebih maju. Alasan tertarik bekerja di kota

karena banyak waktu yang dihabiskan untuk bersekolah di kota, tetapi ia masih

mempertimbangkan pekerjaan yang ada di desa jika cocok, maka ia akan memilih

bekerja di desa kerena jarak yang tidak jauh. Menurutnya di kota sulit untuk melamar

pekerjaan sedangkan di desa lebih banyak yang bisa dikerjakan seperti menjadi

pengusaha atau mengembangkan bisnis orang tua dan mengelola ladang.

Page 30: praktikumsosiologiugm.files.wordpress.com · Web viewEdi adalah siswa kelas 3 yang akan lulus tahun ini. Ia merupakan lulusan SMK Negeri 3 Yogyakarta dengan jurusan Teknik. Edi tergolong

Menurut Todaro (2000) Tingkat gaji atau upah yang diperoleh di desa yang

belum dapat menjamin kesejahteraan dan perbedaan tingkat upah antara desa dengan

kota akan mendorong penduduk bermigrasi ke kota untuk mencukupi kebutuhan yang

semakin beraneka ragam. Penduduk baru akan memutuskan untuk melakukan migrasi

jika penghasilan bersih di kota melebihi penghasilan bersih yang tersedia di desa

(Maulida, 2013).

Dari ke-lima informan tersebut 3 orang diantaranya memilih untuk bekerja di

kota, hal ini karena angkatan kerja yang menyelesaikan pendidikan terus bertambah

sebagai akibat meluasnya kesadaran untuk bersekolah dan tersedianya sarana

pendidikan tetapi tidak diimbangi dengan adanya lapangan pekerjaan di desa menjadi

faktor yang mendorong migrasi. Menurut Sugihen (1997) terbatasnya lahan sebagai

faktor produksi pertanian dan rendahnya kualitas sumber daya manusia dalam

penguasaan teknologi pertanian, tradisi yang mereka lakukan dalam mengolah lahan,

kurang terbuka terhadap inovasi informasi dan teknologi di desa membuat penyerapan

tenaga kerja dalam pertanian juga berkurang (dalam Santoso, 2007). Terbatasnya

26

Story Box 5

Lusi Erlita (17th) sering dipanggi Lusi, saat melakukan wawancara ia sedang

menjalani PKL di hotel Whiz Prime Malioboro. Anak pertama dari 3 bersaudara ini

bersekolah di SMK kelas 2. Ayahnya bekerja sebagai petani salak dan peternak

kambing sedangkan ibunya bekerja sebagai pedagang dan mengambil pekerjaan

sambilan di Merapi Park. Ia aktif mengikuti karang taruna dan mengikuti beberapa

kegiatan yang dapat membantu majunya desa Nganggring seperti menanam pisang

untuk dijual, budidaya ikan, dan ramban. Menurutnya pribadi ia ingin mengambil

pekerjaan mengenai perhotelan di kota. Orang tuanya sangat mendukung tetapi

menyarankan untuk kuliah dulu sebelum bekerja. Lisa ingin berkuliah di ISI jurusan

musik karena suka menyanyi dan ingin mengembangkan minatnya dibidang tersebut.

Menurutnya kota sangat ramai dan mudah dalam berbagai fasilitas sehingga cocok

untuk jenis pekerjaan yang berhubungan dengan musik. Sedangkan di desa sangat sepi

dan fasilitas yang tidak mendukung. Kota dinilai sangat individual sedangkan desa

sangat kegotongroyongan. Kota juga dinilai untuk mencari pengalaman dan banyak

jenis pekerjaan yang berpenghasilan tinggi.

Page 31: praktikumsosiologiugm.files.wordpress.com · Web viewEdi adalah siswa kelas 3 yang akan lulus tahun ini. Ia merupakan lulusan SMK Negeri 3 Yogyakarta dengan jurusan Teknik. Edi tergolong

lapangan pekerjaan tersebut membuat mereka yang tidak mendapatkan pekerjaan

menyandang status pengangguran, pendapatan rendah dan miskin yang menjadi

permasalahan bagi desa (Suhardjo, 1994 dalam Santoso, 2007).

Akibat tekanan-tekanan kesulitan mendapatkan pekerjaan dan kemiskinan di

perdesaan telah mendorong sebagian tenaga kerja dari pinggiran bermigrasi permanen

atau sirkuler ke pusat untuk mencari pekerjaan. Namun hal tersebut dinilai tidak

mampu memecahkan masalah kemiskinan di perdesaan, tetapi justru memunculkan

masalah baru di pusat-pusat pertumbuhan. Industri dipandang sebagai jalan pintas

untuk memecahkan seluruh masalah-masalah sosial ekonomi, dan cenderung

mengabaikan sektor pertanian atau cenderung menguntungkan kota serta dalam

banyak hal mengesampingkan potensi, aspirasi, dan kemampuan penduduk pinggiran.

Industri akan membuat ketergantungan negara berkembang dengan negara maju

semakin besar dan tanpa disadari telah menjerumuskan sebagian besar penduduk

miskin negara berkembang kedalam kemiskinan yang akut. Alasannya, negara-negara

maju yang memiliki modal dan teknologi lebih mendapatkan keuntungan karena

negara-negara sedang berkembang terpaksa meminjam modal dan membeli teknologi

dari mereka (Roxborough, 1986 dalam Santoso, 2007).

Menyadari kelemahan itu, maka muncul pemikiran bahwa pengembangan

perdesaan sebaiknya bersumber pada potensi sumber daya alam dan manusia daerah

itu sendiri, memprioritaskan kepentingan golongan miskin dan membangun dari

bawah. Oshima (1987) menyarankan bahwa dalam mengembangkan perdesaan

keterkaitan sektor pertanian dengan non pertanian perlu mendapat prioritas.

Pendekatan ini menekankan bahwa strategi dasar dalam pembangunan ekonomi

perdesaan mengembangkan sektor pertanian yang berorientasi pasar dan mempunyai

kaitan dengan sektor lain. Hal ini tidak hanya akan mendorong pertumbuhan ekonomi

perdesaan, tetapi mampu merangsang pertumbuhan kegiatan non-farm yaitu dapat

menaikkan penghasilan petani dan menciptakan peluang kerja bukan pertanian yang

amat diperlukan untuk menampung tenaga kerja berasal dari rumah tangga miskin dan

tunakisma (tidak memiliki lahan). Khada (1982), mengemukakan bahwa peluang

kerja non-pertanian mempunyai fungsi dalam pengembangan perdesaan adalah yaitu

untuk menciptakan peluang kerja bagi pekerja perdesaan tanpa dukungan modal yang

besar, Berkemampuan merangsang pertumbuhan ekonomi perdesaan karena kegiatan

non-pertanian dapat bertindak sebagai sumber penghasilan utama untuk rumahtangga.

27

Page 32: praktikumsosiologiugm.files.wordpress.com · Web viewEdi adalah siswa kelas 3 yang akan lulus tahun ini. Ia merupakan lulusan SMK Negeri 3 Yogyakarta dengan jurusan Teknik. Edi tergolong

Pengembangan pekerja non-pertanian di perdesaan diharapkan mampu menahan arus

migrasi desa-kota (dalam Udin).

28

Page 33: praktikumsosiologiugm.files.wordpress.com · Web viewEdi adalah siswa kelas 3 yang akan lulus tahun ini. Ia merupakan lulusan SMK Negeri 3 Yogyakarta dengan jurusan Teknik. Edi tergolong

BAB IV

PENUTUP

4.1 KESIMPULAN

Pemuda dalam memilih pekerjaan di kota maupun di desa didasarkan pada

berbagai macam alasan dan pertimbangan baik itu pilihan sendiri maupun atas

dorongan/nilai-nilai yang diajarkan keluarganya. Sebagian besar informan yang

diwawancarai di Padukuhan Nganggring memilih untuk bekerja di kota dibandingkan

bekerja di desa. Alasan yang mendasari pemuda dalam memilih pekerjaan di kota

yaitu gaji yang besar, lapangan pekerjaan lebih bervariasi, akan mendapatkan

pengalaman dan relasi yang banyak. Mereka lebih memilih untuk mencari pekerjaan

di kota dengan bekerja pada suatu perusahaan swasta atau instansi pemerintah

dibandingkan mengelola dan mengembangkan potensi –potensi yang ada di

Nganggring seperti usaha perkebunan salak, peternakan kambing etawa dan

sebagainya.

Namun terdapat juga informan yang memilih bekerja di desa dengan alasan

kedekatannya dengan keluarga dan pekerjaan yang tersedia di desa. Hal ini cukup

bagus, karena jika banyak pemuda yang memutuskan bekerja di kota akan berdampak

baik di desa maupun di kota. Dampak yang diperoleh Kota berupa angka kepadatan

penduduk yang tinggi, permasalahan lingukungan, dan tingginya angka kriminalitas.

Sedangkan dampak yang diperoleh desa yaitu adanya krisis tenaga kerja muda yang

dapat menghambat pembangunan di desa.

Informan yang memilih pekerjaan di kota sebagian besar memilih untuk bekerja

di bidang industri atau perusahaan, sedangkan informan yang memilih bekerja di desa

memilih untuk bekerja menjadi guru PAUD/TK/SD di sekolah yang berada di

wilayahnya. Namun diantara pemuda yang memilih pekerjaan di kota maupun di desa

menunjukkan suatu kecenderungan yang sama yaitu keinginan untuk menjadi PNS.

Potensi-potensi desa yang ada di Nganggring seperti perkebunan salak,

peternakan kambing etawa, pabrik susu dan desa wisata pada realitanya kurang

berpengaruh terhadap pemilihan pekerjaan bagi pemuda disana. Oleh sebab itu

banyak pemuda yang lebih memilih untuk bekerja di kota atau pada instansi tertentu

sebagai PNS dibanding mengelola dan mengembangan potensi desa yang telah ada.

29

Page 34: praktikumsosiologiugm.files.wordpress.com · Web viewEdi adalah siswa kelas 3 yang akan lulus tahun ini. Ia merupakan lulusan SMK Negeri 3 Yogyakarta dengan jurusan Teknik. Edi tergolong

4.2 LIMITASI

Dalam penelitian ini kami mendapatkan informasi terkait kecenderungan

pemuda di Padukuhan Nganggring dalam memilih bekerja di kota atau di desa dan

jenis pekerjaan yang diinginkan, namun kami tidak menggali informasi tersebut lebih

lanjut. Untuk penelitian selanjutnya diharapkan dapat mengembangkan informasi

yang diperoleh pada penelitian ini secara lebih lanjut dengan melakukan metode

wawancara mendalam (in-depth interview).

4.3 SARAN

Berdasarkan hasil temuan dalam penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah

satu bahan rujukan dalam penelitian selanjutnya yang berkaitan dengan topik dilema

pemuda dalam memilih pekerjaan di desa atau di kota. Hasil penelitian ini dapat

berguna bagi kepentingan masyarakat luas sehingga diharapkan masyarakat dapat

mengambil manfaat serta pengetahuan terkait dilema pemuda dalam memilih

pekerjaan di desa atau di kota. Selain itu hasil penelitian ini berguna untuk penelitian

selanjutnya, terutama yang berkaitan dengan pembuatan kebijakan usaha desa karena

dapat memberikan informasi mengenai tendensi pemuda dalam mencari pekerjaan

pada saat ini. Hal ini berguna untuk menyusun kebijakan yang fokus untuk menarik

minat pemuda agar lebih tertarik dalam mengembangkan potensi-potensi yang ada di

desa. kami berharap penelitian yang akan dilakukan selanjutnya dapat membahas

mengenai pekerjaan dan sistem yang seperti apa yang sesuai dengan keinginan dan

kebutuhan pemuda pada saat ini. Sehingga mampu membuat kebijakan baru yang

berhasil menarik minat dan menyerap tenaga kerja dari para pemuda untuk

mengembangkan potensi di desanya sendiri.

30

Page 35: praktikumsosiologiugm.files.wordpress.com · Web viewEdi adalah siswa kelas 3 yang akan lulus tahun ini. Ia merupakan lulusan SMK Negeri 3 Yogyakarta dengan jurusan Teknik. Edi tergolong

DAFTAR PUSTAKA

Arief, Ratna Wylis, Novilia Santri, dan Robet Asnawi. (2018). Pengenalan Pengolahan

Susu Kambing di Kecamatan Sukadana Kabupaten Lampung Timur. Jurnal

Teknologi & Industri Hasil Pertanian Vol. 23 No.1.

Dwiyanti, R. (2013). Peran Orang Tua dalam Perkembangan Moral Anak (Kajian Teori

Kohlberg). Prosiding Seminar Parenting, 161-169.

Harahap, R. F. (2013). Dampak Urbanisasi bagi Perkembangan Kota di Indonesia. Jurnal

Society Vol. 1, No. 1, 35 & 38.

Hariayanto, Asep. (2014). Studi Pengembangan Ekonomi Lokal Terkait Interaksi Desa-

Kota. Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota, Vol.14 No.1

Kusumastuti, Tri Anggraeni. (2009). Analisis Persepsi Masyarakat terhadap Keberadaan

Agrowisata Kandang Kelompok Ternak Kambing Peranakan Etawa di Desa Girikerto

Turi Sleman Yogyakarta. Jurnal Manusia dan Lingkungan, Vol. 17, No. I.

Larastiti, C. (2013). Ben Urip Tetep Semeleh Dinamika Pemuda Kelompok Banyumili

Dusun Gadingsari Desa Mangunsari Kecamatan Sawangan Kabupaten Magelang.

Jurnal Studi Pemuda Vol. 2, No. 1, 96-100.

Lina Marliyah, Fransisca I.R Dewi, P. Tommi Y.S Suyasa. (2004). Persepsi Terhadap

Dukungan Orang Tua dan Pembuatan Keputusan Karir Remaja. Journal Provitae, 60-

66.

Maikaningrum dan Joko Kumoro. (n.d). Pengaruh Minat Kerja Dan Praktik Kerja Industri

Terhadap Kesiapan Kerja Siswa Kelas Xi Kompetensi Keahlian Administrasi

Perkantoran SMK Muhammadiyah 2 Bantul.

Maulida, Yusni. (2013). Pengaruh Tingkat Upah Terhadap Migrasi Masuk di Kota

Pekanbaru. Jurnal Ekonomi Vol. 21, No. 2.

Meitasari, I. (2017). Minat Pemuda Desa Untuk Urbanisasi di Desa Sukasari, Kabupaten

Majalengka, Jawa Barat. Jurnal Geografi Edukasi dan Lingkungan Vol. 1, No. 1, 36-

47.

Narwoko, J. D., & Suyanto, B. (2011). Sosiologi: Teks Pengantar dan Terapan. Jakarta:

Kencana.

31

Page 36: praktikumsosiologiugm.files.wordpress.com · Web viewEdi adalah siswa kelas 3 yang akan lulus tahun ini. Ia merupakan lulusan SMK Negeri 3 Yogyakarta dengan jurusan Teknik. Edi tergolong

Noveria, Mita dan Meirina Ayumi Malamassam. (2015). Penciptaan Mata Pencaharian

Alternatif: Strategi Pengurangan Kemiskinan dan Perlindungan Sumber Daya Laut

(Studi Kasus Kota Batam Dan Kabupaten Pangkajene Dan Kepulauan). Jurnal

Kependudukan Indonesia Vol. 10 No. 2.

Santoso, Apik Budi. (2007). Peluang Kerja Non-Farm Di Perdesaan (Kajian Teoretis Strategi Pengentasan Kemiskinan Di Perdesaan). Jurnal Geografi Vol. 4 No. 1.

Siregar, N. S. (2013). Persepsi Orang Tua Terhadap Pentingnya Pendidikan Bagi Anak. Jurnal Ilmu Pemerintahan dan Sosial Politik UMA, 11-27.

Sumarsono. (2003). Ekonomi Manajemen Sumberdaya Manusia Dan Ketenagakerjaan. Jakarta: Graha Ilmu.

Susilowati, Sri Hery. (2016). Fenomena Penuaan Petani dan Berkurangnya Tenaga Kerja

Muda serta Implikasinya Bagi Kebijakan Pembangunan Pertanian. Jurnal Forum

Penelitian Agro Ekonomi, Vol. 34 No. 1, Juli 2016, 35-55

Suyanto, B., & Sudarso. (2004). Sosiologi, teks pengantar dan terapan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Udin, Kationo. (n.d). Pola Penghidupan Masyarakat di Daerah Perdesaan Pada Strata

Rumahtangga yang Berbeda.

32

Page 37: praktikumsosiologiugm.files.wordpress.com · Web viewEdi adalah siswa kelas 3 yang akan lulus tahun ini. Ia merupakan lulusan SMK Negeri 3 Yogyakarta dengan jurusan Teknik. Edi tergolong

SUMBER GAMBAR

Gambar 2.3. TK di Padukuhan Nganggring

(https://lesoengdjoemenggloeng.wordpress.com/tag/jasa-pengecatan-dinding-

tk/)..........................................................................................................................................5

Gambar 3.1. Kandang kambing etawa

(http://yogyakarta.panduanwisata.id/daerah-istimewa-yogyakarta/desa-nganggring-belajar

beternakkambingpe/).............................................................................................................7

Gambar 3.2. Kandang kambing etawa

(http://violata.blogspot.com/2016/09/desa-nganggring-pusat-susu-etawa

di.html)..................................................................................................................................7

Gambar 3.3. Proses pengolahan susu kambing

(https://economy.okezone.com/read/2018/08/10/320/1934769/bisnis-susu-kambing-etawa-

menjanjikan-peminatnya-hingga-luar

jawa)......................................................................................................................................8

Gambar 3.4. Proses pengemasan produk

(https://www.ardiba.com/2016/06/susu-kambing-etawa-gunung-merapi

egm.html)...............................................................................................................................8

Gambar 3.7. Gerbang masuk Desa Wisata Nganggring

(http://yogyakarta.panduanwisata.id/daerah-istimewa-yogyakarta/desa-nganggring-belajar-

beternak-kambing-pe/).........................................................................................................11

33

Page 38: praktikumsosiologiugm.files.wordpress.com · Web viewEdi adalah siswa kelas 3 yang akan lulus tahun ini. Ia merupakan lulusan SMK Negeri 3 Yogyakarta dengan jurusan Teknik. Edi tergolong

LAMPIRAN

A. PEMBAGIAN KERJA

Potensi Dukuh Nganggring Mutiara Martiarini (18/424749/SP/28297)

Tanggapan Bekerja di Kota Miyarsih (18/430843/SP/28687)

Tanggapan Bekerja di Desa Rovdaian Baqrur R. (18/428315/SP/28524)

Sosialisasi Pilihan Bekerja Anargya Firjatullah (18/424735/SP/28283)

Pilihan Jenis Pekerjaan Mar’ah Nafisah (18/424748/SP/28296)

34

Page 39: praktikumsosiologiugm.files.wordpress.com · Web viewEdi adalah siswa kelas 3 yang akan lulus tahun ini. Ia merupakan lulusan SMK Negeri 3 Yogyakarta dengan jurusan Teknik. Edi tergolong

B. MIND MAPPING KELOMPOK

35

Page 40: praktikumsosiologiugm.files.wordpress.com · Web viewEdi adalah siswa kelas 3 yang akan lulus tahun ini. Ia merupakan lulusan SMK Negeri 3 Yogyakarta dengan jurusan Teknik. Edi tergolong

C. MIND MAPPING INIVIDU

Gambar 1. Data Networking (Mindmap) Anargya Firjatullah

36

Page 41: praktikumsosiologiugm.files.wordpress.com · Web viewEdi adalah siswa kelas 3 yang akan lulus tahun ini. Ia merupakan lulusan SMK Negeri 3 Yogyakarta dengan jurusan Teknik. Edi tergolong

Gambar 2. Data Networking (Mindmap) Mar’ah Nafisah

37

Page 42: praktikumsosiologiugm.files.wordpress.com · Web viewEdi adalah siswa kelas 3 yang akan lulus tahun ini. Ia merupakan lulusan SMK Negeri 3 Yogyakarta dengan jurusan Teknik. Edi tergolong

Gambar 3. Data Networking (Mindmap) Miyarsih

38

Page 43: praktikumsosiologiugm.files.wordpress.com · Web viewEdi adalah siswa kelas 3 yang akan lulus tahun ini. Ia merupakan lulusan SMK Negeri 3 Yogyakarta dengan jurusan Teknik. Edi tergolong

39

Gambar 4. Data Networking (Mindmap) Mutiara Martiarini

Page 44: praktikumsosiologiugm.files.wordpress.com · Web viewEdi adalah siswa kelas 3 yang akan lulus tahun ini. Ia merupakan lulusan SMK Negeri 3 Yogyakarta dengan jurusan Teknik. Edi tergolong

40

Page 45: praktikumsosiologiugm.files.wordpress.com · Web viewEdi adalah siswa kelas 3 yang akan lulus tahun ini. Ia merupakan lulusan SMK Negeri 3 Yogyakarta dengan jurusan Teknik. Edi tergolong

Gambar 4. Data Networking (Mindmap) Rovdaian B.R

41

Page 46: praktikumsosiologiugm.files.wordpress.com · Web viewEdi adalah siswa kelas 3 yang akan lulus tahun ini. Ia merupakan lulusan SMK Negeri 3 Yogyakarta dengan jurusan Teknik. Edi tergolong

LAMPIRAN FOTO

KEADAAN DESA

42

Page 47: praktikumsosiologiugm.files.wordpress.com · Web viewEdi adalah siswa kelas 3 yang akan lulus tahun ini. Ia merupakan lulusan SMK Negeri 3 Yogyakarta dengan jurusan Teknik. Edi tergolong

KEADAAN RUMAH INFORMAN

43

Page 48: praktikumsosiologiugm.files.wordpress.com · Web viewEdi adalah siswa kelas 3 yang akan lulus tahun ini. Ia merupakan lulusan SMK Negeri 3 Yogyakarta dengan jurusan Teknik. Edi tergolong

DOKUMENTASI PENELITIAN

44