SISTEM KOMUNIKASI TELEVISI

Embed Size (px)

DESCRIPTION

SISTEM KOMUNIKASI TELEVISI

Text of SISTEM KOMUNIKASI TELEVISI

TUGAS DASAR SISTEM TELEKOMUNIKASI SISTEM KOMUNIKASI TELEVISI

OLEH : Putu Rusdi Ariawan (0804405050)

PROGRAM STUDI TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS UDAYANA 2010

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sistem televisi semakin berkembang seiring dengan kemajuan teknologi elektronika dan telekomunikasi yang semakin pesat. Pada zaman sekarang televisi merupakan sebuah industri yang sangat maju dan menjanjikan. Dimana televisi bukan lagi barang yang mewah dan mudah diperoleh, dan siapaun pasti memilikinya. Manfaat televisi sangat besar sekali pada era sekarang ini berfungsi sebagai sarana hiburan dan juga untuk pertukaran informasi serta berita dari seluruh belahan dunia. Berkembangnya sistem televisi ini juga dipengaruhi oleh

berkembangnya teknologi telekomunikasi, dimana telekomunikasi sekarang jarak bukan lagi suatu masalah sehingga dunia ini terasa menjadi kecil. Tidak hanya teknologi telekomunikasi saja yang berpengaruh tetapi juga teknologi elektronikanya juga berkembang pesat dimana ukuran televisi pada zaman dahulu berukuran sangat besar sekarang semakin kecil dan berukuran mini, dan mudah di bawa kemana-mana. Tetapi pada dasarnya sistem televisi dari dahulu hingga sekarang mempunyai sistem yang sama, dan juga cara kerja yang sama. Karena perkembangan teknologi inilah membuat televisi semakin berkembang. Dari latar belakang inilah yang menjadikan alasan bagi penulis untuk menuliskan sistem dari televisi yang tidak berubah, dan dijadikan dasar untuk perkembangan dari sistem tersebut.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, permasalahan yang ada adalah bagaimana cara kerja sistem televisi serta perkembangannya.

1.3 Batasan masalah Untuk dapat menyelesaikan permasalahan di atas, maka perlu dilakukan pembatasan-pembatasan masalah agar dalam menulis topik tersebut dapat lebih terarah. Adapun batasan-batasan yang diambil adalah sebagai berikut: 1. sejarah televisi 2. sistem kerja dari televisi 3. perkembangan televisi

1.4 Tujuan Tujuan dari paper ini adalah untuk mengetahui sejarah, sistem kerja dan perkembangan dari televisi.

BAB II ISI

2.1 Sejarah Televisi di Indonesia Pada awal tahun 1968 pemerintah RI dengan bantuan UNESCO melaksanakan serangkaian penelitian di bidang pendidikan. Di antara penelitian tersebut salah satunya dilakukan oleh LHS Emerson dengan judul Education in Indonesia: "Diagnosis of the present situation with identification of priorities development". Penelitian ini menyimpulkan bahwa program radio dan televisi pendidikan merupakan bagian integral dari pengembangan materi dan kurikulum pendidikan, oleh karena itu harus diberi prioritas. Selanjutnya dari hasil penelitian "Alternative Strategis for Primary Education in Indonesia; A Cost of Effectiveness Analysis Jamison melaporkan bahwa dengan satuan biaya tetap perbaikan sistem pendididkan dasar dapat dilakukan dengan media radio dalam memperbesar ratio guru murid. Berdasarkan laporan hasil penelitian tersebut Lembaga Media Pendidikan BPP (Badan Pengembangan Pendidikan) Kementerian

Pendidikan dan Kebudayaan mengadakan seminar tentang "Educational Broadcasting" tanggal 27 Desember 1971 s. d. 15 Januari 1972 di Bogor. Seminar tersebut memberikan rekomendasi perlu diadakannya eksperimen siaran radio pendidikan. Berdasarkan rekomendasi tersebut selama tahun 1972 diadakan berbagai kegiatan untuk mempersiapkan pelaksanaan eksperimen siaran radio pendidikan melalui Proyek Perintis Siaran Radio Pendidikan. Dalam tahap persiapan ini BPP dengan UNESCO memberikan tugas kepada :

a. INSCORE (Institut for Social and Communication Research) mengadakan penelitian tentang pengaruh dari siaran radio pendidikan. b. Lembaga Penelitian Telekomunikasi Radio dan Microwave Institute Teknologi Bandung (ITB) mengadakan studi tentang spesifikasi dan disain pesawat penerima radio untuk siaran radio pendidikan. c. Lembaga Manajemen Universitas Indonesia (UI) mengadakan penelitian tentang Pengelolaan Siaran Radio Pendidikan. Pada tahun 1973 dimulailah eksperimen Siaran Radio Pendidikan di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Hasil evaluasi yang dilakukan IKIP Semarang terhadap eksperimen ini pada tahun 1974 cukup menggembirakan. Pada tahun itu juga BPP yang kemudian menjadi Balitbang Dikbud mengajukan usulan secara resmi kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan untuk membentuk unit TKPK (Teknologi Komunikasi untuk Pendidikan dan Kebudayaan). Berdasarkan usulan tersebut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada tanggal 31 Juli 1976 membentuk Tim Penyelenggara TKPK yang terdiri atas SPTN (Satuan Tugas Pelaksana TKPK Nasional ) di Jakarta, Semarang, Yogyakarta dan Surabaya serta SPTD (Satuan Tugas Pelaksana TKPK Daerah) di 11 propinsi dan Perintis Teknologi Komunikasi Pendidikan Luar Sekolah (TKPLS) di di 9 Kabupaten dan 3 propinsi. Pada tahun 1978 Tim TKPK dengan SPTN dan SPTD nya serta Perintis TKPLS ditetapkan oleh Presiden menjadi Pusat Teknologi

Komunikasi Pendidikan dan Kebudayaan di lingkungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Berdasarkan ketetapan tersebut maka pada bulan Juli 1979 Tim Penyelenggara TKPK dikukuhkan Pusat Teknologi

Komunikasi Pendidikan dan Kebudayaan. SPTN Jakarta dihapuskan, SPTN Semarang dan Yogyakarta menjadi Balai Produksi Media Radio (BPMR). SPTN Surabaya menjadi Balai Produksi Media Televisi (BPM-TV).

Bersamaan dengan itu SPTD di 11 propinsi dan perintis TKPLS di 3 propinsi berubah menjadi Sanggar Teknologi Komunikasi Pendidikan dan

Kebudayaan (Sanggar Tekkom) di 14 propinsi. Keempat belas Sanggar tersebut berada di Jayapura (Irian Jaya), Ambon (Maluku), Kupang (NTT), Mataram (NTB), Samarinda (Kaltim), Palangkaraya (Kalteng), Pontianak (Kalbar), Surabaya (Jatim), Semarang (Jateng), Yogyakarta DIY), Bandung (Jabar).Ujung Pandang (Sulsel), Palu (Sulawesi Tengah), dan Kendari (Sulawesi Tenggara) Pada tanggal 29 Desember 1995 Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara (MENPAN) menyetujui pembentukan 7 sanggar baru. Berdasarkan persetujuan tersebut, pada tanggal 5 Februari 1996 Menteri Pendidikan dan Kebudayaan mengukuhkan berdirinya 7 Sanggar baru masing-masing di propinsi Daerah Istimewa Aceh di Banda Aceh, Riau di Pakanbaru, Sumatera Barat di Padang, Jambi di Jambi, Sumatera Selatan di Palembang, Kalimantan Selatan di Banjarmasin dan Timor Timur di Dilli. Dengan lepasnya Timor Timur dari pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia pada tahun 1999 maka Sanggar Tekkom di Dilli secara otomatis hapus, sehingga dengan demikian jumlah Sanggar Tekkom tinggal 20 buah saja. Merespon perkembangan dibidang teknologi komunikasi dan informasi dan didasari oleh pelaksanaan otonomi daerah, sejak awal tahun 2000 PUSTEKKOM mengalami reorganisasi. Namanyapun berubah menjadi Pusat Teknologi Komunikasi dan Informasi Pendidikan. Setelah melewati masa masa transisi, mulai akhir 2001 reorganisasi PUSTEKKOM selesai.

Mulai dengan saat itu Sanggar-sanggar yang semula merupakan unit pelaksana teknis PUSTEKKOM di daerah berubah menjadi unit pelaksana teknis daerah dengan nama dan struktur organisasi yang beragam setingkat eselon tiga. Kini PUSTEKKOM tinggal memiliki 3 unit pelaksana teknis yaitu Balai Pengembangan Media Radio di Yogyakarta, Balai Pengembangan Multimedia di Semarang dan Balai Pengembangan Media Televisi di Surabaya.

2.2 Pokok-pokok Dari Televisi 2.2.1 Dasar- Dasar Transmisi Dari Penerimaan Gambar-Gambar Kita kenal dua metode untuk menyalurkan kebesaran-kebesaran listrik yang mengandung gambar-gambar : metode parallel dan metode seri. Metode paralel melaksanakan pemindahan itu dengan jalan memberikan saluran-saluran terpisah untuk tiap titik dari gambar-gambar seperti terlihat pada gambar 8.1(a). Metode ini dipakai pada permulaan perioda televisi. Metode seri dipakai dalam sistem televisi sekarang. Metode ini memindahkan gambar gambar dengan jalan membagi gambar dalam beberapa garis horizontal dan garis-garis ini diraba secara listrik. Titik-titik bercahaya pada garis-garis tersebut diambil secara berturut-turut seperti terlihat pada gambar 8.1(b)

Gambar 2.2.1

Jika periode yang dibutuhkan untuk membagi gambar-gambar sangat pendek, gambar-gambar yang berikutan dapat diperoleh tanpa

menimbulkan kerlip disebabkan oleh kelembaban penglihatan dari mata kita.

2.2.2 Perabaan (Scanning) Karena metode sering dilaksanakan dengan mengubah gambargambar yang berdimensi dua kebesaran-kebesaran listrik yang berubah dengan waktu, maka proses tersebut disebut dengan perabaan, dan garisgaris horizontal disebut garis garis perabaan (scanning lines). Banyaknya gambar yang diraba dalam satu detik disebut sekian banyak gambar perdetik. Jika jumlah garis perabaan diperbanyak, gambar yang diperoleh akan lebih jelas dan lebih banyak gambar perdetik. Jika jumlah garis perabaan diperkecil, maka akan timbul peristiwa kerlip pada gambar. Komponen yang paling halus dari tiap titik dari sebuah gambar disebut unsur (elemen) gambar yang ukurannya merupakan sebuah segi empat yang mempunyai lebar dari garis perabaan. Jumlah unsur-unsur gambar yang terdapat dalam sebuah gambar dinyatakan dengan :N b 2 n h

Dimana b : lebar dari pada gambar h : tinggi dari pada gambar n : jumlah dari garis perabaan Angka N ini menunjukkan derajat kejelasan (clearness). Metode perabaannya ialah meraba secara berturut-turut gambar yang akan dikirim, dimulai dari sudut kiri atas dari gambar, bergerak mendatar dari kiri ke kanan dan kemudian bergerak vertikal dari garis-garis atas ke bawah sampai semua permukaan dari gambar diraba. Frekwensi dari perabaan untuk kedua arah dinyatakan sebagai berikut : Frekwensi perabaan vertikal (fc) = jumlah dari perabaan gambar dalam satu detik. Frekwensi perabaan horizontal (fh) = jumlah dari pada frekwensi perabaan gamabar x jumlah dari garis perabaan Untuk sistem NTSC jumlah dari garis perabaan adalah 525 dan jumlah dari pada perabaan gambar dalam s