Surga Mimpi

Embed Size (px)

Text of Surga Mimpi

Bab 1 Prolog

S

aat aku membuka mataku, aku sudah terikat ketat di atas sebuah kursi kayu. Di depanku, seorang pria tua yang botak namun brewokan sedang mengamatiku

dengan wajah sangar yang dibuat-buat agar aku takut. Sesekali dia akan mengusap-usap jenggotnya yang sudah beruban atau menarik-narik kumisnya sampai rontok. Tubuhnya gemuk sekali, sampai-sampai kancing bajunya hampir lepas. Dia memakai seragam polisi, lengkap dengan segala atribut-atribut yang tak kumengerti apa artinya. Suparjono, demikian nama yang tertera di seragamnya itu. Aku sendiri hanyalah seorang anak kecil, dan aku satu-satunya orang yang bertubuh kurus di ruangan kecil ini. Aku dikelilingi oleh tiga orang polisi bertubuh besar. Polisi atau sipir, ya? Entahlah. Aku masih belum bisa membedakan antara polisi dan sipir penjara. Bagiku mereka sama saja. Sama-sama menakutkan. Masing - masing membawa pentungan besar berwarna hitam. Sebelum masuk ke ruangan ini, aku sempat melihat tulisan di depan pintu : RUANG INTROGASI. Ruangan ini pengap, bau, dan gelap. Hanya ada dua buah jendela berjaring, sehingga pencahayaan di ruangan ini amat buruk. Sementara itu, lampu tidak dinyalakan karena hari belum petang. Lantai ruangan ini hanyalah semen biasa dan kotor. Dindingnya berwarna putih kusam, dan di salah satu sisinya, tepatnya di belakang polisi tua itu, terpancang lambang burung garuda. Di sisi kiri dan kanan sang lambang negara tergantung foto presiden dan wakil presiden. Di salah satu sudut ruangan, berdiri sebuah tiang bendera merah putih yang lebih cocok dikatakan bendera jingga abu-abu - yang sudah kusam. Aku menebak, pasti bendera itu belum pernah dicuci selama bertahun-tahun. Beberapa benda yang terlihat baru hanyalah sofa - sofa empuk yang diduduki oleh mereka. Anak tengik, sebutkan namamu! perintah polisi tua itu kasar. Budi, pak, jawabku singkat. Berapa umurmu! serunya lagi. Dia baru saja melontarkan sebuah kalimat tanya yang diperlakukan sebagai kalimat seru.

Sepuluh tahun, jawabku lagi. Aku berusaha tenang. Seorang anak kampung berumur sepuluh tahun, datang ke kota sendirian. Beraniberaninya! Bukannya tinggal di desa dan bekerja sebagai petani, tapi kau malah datang ke sini untuk menjadi seorang pencuri!! Anak kampung!! dia mulai memaki-maki. Ah, kebiasaan polisi. Aku hanya diam. Kata-katanya memang ada benarnya. Saya tak habis pikir, bagaimana orang tuamu mendidik kamu. Tunggu dulu, atau jangan-jangan, orang tuamu juga pencuri? Orang miskin pencuri! Yang bahkan tak bisa membeli sandaljepit! Iya, kan? katanya dengan nada mengejek. Rekan-rekannya yang lain tertawa. Dia berkata begitu pasti karena melihatku yang tidak memakai alas kaki apa-apa. Aku... Aku yatim piatu sejak lahir, pak, jawabku. Pantas saja! Orang jalanan sepertimu memang tidak bermoral! Kalau saja orangorang seperti kamu yang menjadi pejabat negara, maka hancurlah negeri ini. Penjahat kecil kurang ajar! Mereka tertawa lagi. Kali ini, suara mereka lebih keras. Aku mengira-ngira mana yang lebih buruk. Apakah kelakuanku? Ataukah kelakuan para pemimpin negara yang menculik siapa saja yang menentang mereka, lalu akhirnya mereka hilang dan tak pernah kembali ke keluarga masing-masing? Akhir-akhir ini, kejadian seperti itu memang sedang marak terjadi. Mail, Sugeng, bawa bocah ini ke penjara, perintahnya. Siap, pak! orang yang disebut memberi hormat. Ini dia saatnya, pikirku. Salah seorang polisi itu menarik lenganku kuat-kuat. Yang seorang lagi malah mencengkeram bahuku terlebih dahulu, dan dia menunjukkan ekspresi senang saat melihatku kesakitan. Mereka tidak peduli kalau makhluk yang mereka kasari itu hanyalah bocah kecil yang mungkin sepantaran dengan anak mereka. ***

Kini, aku diseret ke bagian yang lebih dalam dari Lembaga Pemasyarakatan ini. Apa nama LP ini? Aku pun tak tahu. Yang aku tahu hanyalah sewaktu aku bangun tadi pagi, aku sudah berada di klinik penjara dengan tubuh penuh luka. Satu hal lagi yang aku tahu, semalam aku baru saja berhasil menjambret sebuah tas seorang nyonya. Dia berpakaian sangat mewah, dan make up-nya tebal sekali. Masih untung aku hanya mencuri tas-nya, bukan perhiasan-perhiasan yang melekat di sekujur tubuhnya. Hei, mungkin saja kan nyonya itu sebenarnya memang sengaja ingin memancing kedatangan para kriminal. Soalnya, harta bendanya itu dia pamerkan dengan amat bangga di depan semua orang. Pamer, hobi orang kaya yang takkan pernah bisa aku mengerti. Di sepanjang lorong-lorong, aku melihat bilik bilik yang ditutupi oleh terali besi. Di dalamnya hidup bermacam-macam orang. Meskipun pakaian mereka semua sama, yaitu kemeja lengan panjang dan celana panjang berwarna biru polos, sama juga dengan yang aku kenakan sekarang namun tingkah polah mereka berbeda-beda. Ada yang diam kaku seperti fosil. Ada yang bertingkah liar. Ada yang berteriak-teriak :Bukan aku yang salah! Aku tidak melakukan apapun! Keluarkan aku!. Ada yang bermain judi. Ada yang berkelahi. Ada juga yang tertawa-tawa bahagia. Rasanya seperti berada di rumah sakit jiwa. Aku melihat beberapa petugas memukuli narapidana yang berkelahi itu. Sudah dipukuli oleh lawan, dipukuli oleh polisi pula! Pada masa ini, penegakan HAM hanyalah merupakan sebuah mimpi konyol yang akan mengganggu pekerjaan para oknum pemerintah. Mereka yang merasa dirinya berkuasa tidak begitu peduli asalkan atasan mereka senang. Ya, pengaruh pemerintah Jepang yang berlangsung sekitar dua puluh tahun yang lalu itu masih tetap tersisa di dalam setiap jejak langkah mereka. Lorong-lorong yang kulalui semakin lama semakin gelap. Mail dan Sugeng masih saja menahan lenganku dengan erat. Sepertinya, mereka sudah terbiasa dengan keadaan suram penjara itu, sehingga mereka bisa santai saja ngobrol di tengah-tengah suara makian para tahanan. Malahan, mereka saling melontarkan lelucon masing-masing. Sampai akhirnya mereka membuka gembok sebuah terali besi. Selamat datang di rumah barumu, anak kecil, Sugeng mencampakkanku ke dalam sebuah sel yang juga gelap.

Belajarlah baik-baik dengan mereka, seru Mail. Setelah mengunci kembali sel itu, mereka menghilang Mereka? Mereka siapa?, tanyaku dalam hati. Ah, itu dia! Sel ini memang lebih parah dari ruangan yang tadi. Sangat gelap, tidak ada jendela satupun. Bahkan baunya lebih tengik daripada bau susu basi. Namun perlahan mataku sudahi terbiasa dengan kegelapan, dan aku bisa melihat di sudut ruangan, mereka berbisik-bisik. Penghuni sel ini ada sekitar lima-enam orang. Kesemuanya remaja dan anak-anak. Kini, aku harus berhadapan dengan mereka, para penghuni sel yang sudah berada di sana sebelumnya. Mereka tertawa menyambut kedatangan keluarga baru. Eits, tapi cuma untuk beberapa menit saja, pikirku. Hahahahaa, ada anak baru toh! ujar salah seorang tahanan. Hei, kemari! teriak yang satu lagi. Ceritakan kenapa kamu sampai ke sini. Pembunuhan, perzinahan, atau

penganiayaan? kata yang lainnya. Mereka tertawa lagi. Aneh, mereka bisa tertawa di tempat seperti ini. Yah, tapi keberadaanku di sini kan cuma sebentar, kataku dalam hati. Aku merogoh-rogoh ke dalam kantong celanaku. Ugh, kantongnya sempit. Kemarilah, anak kecil! teriak seseorang. Aku tak menjawab. Setan cilik! Dengarkan kami! teriak yang di sebelahnya. Aku tak mendengarkan. Aku sibuk. HEI! Hei! Sombong banget, sih! Sini, bocah! teriak salah seorang di antara mereka. Dia mendekatiku dan menarik kerah bajuku dengan kasar sampai kakiku menggantung. Tubuhnya tinggi, dan di hadapan tubuhku yang kerdil, sosoknya tampak seperti raksasa. Waduh! Teman-temannya yang lain tertawa lagi. Kenapa, ya? Sejak tadi kok aku bertemu dengan orang-orang yang suka menertawakan kelemahan orang lain. Orang yang menarikku ini sangat mirip dengan korban kelaparan di Somalia. Hitam, kurus, keriting, dan jelek.

Hei, jelek, ucapnya tak tahu diri. Ingat baik-baik, di tempat ini, aku pemimpinnya! Namaku Ruben! Dan aku penguasa sel nomor 4239 ini. Jadi kalau aku suruh jawab, kau harus jawab! Mengerti? ucapnya disertai ucapan-ucapan Ya, benar! Hidup Ruben! Ruben jagoan! dari keluarga-nya Aku tetap tidak menjawab. Tanganku masih sibuk meraba-raba ke dalam kantongku. Dalam keadaan itu, aku menatapnya dengan sangat tenang sedangkan sebelah tanganku tetap berada di dalam kantong. Sepertinya dia tidak senang. Hei! Kenapa diam saja? Kau bisu ya?!! Paling tidak ucapkan satu kata!! dia berteriak tepat di telingaku. Tidak apa-apa, telingaku sudah terlatih untuk mendengar suarasuara sumbang begitu. Ah, akhirnya bisa keluar juga, kataku. Aku berhasil menarik sebuah benda dari kantong celanaku yang sempit. Hah? Maksudmu apa..? HAH!! ITU KAN KUNCI PEN..!! Aku menutup mulutnya sebelum dia sempat menyelesaikan kata-katanya. Si korban kelaparan itu langsung sadar juga kalau benda yang aku pegang itu adalah kunci penjara! Ssst! Jangan berisik, bisikku. Dengan ini kita bisa keluar, Ta, tapi, bagaimana bisa kau.. Aku adalah seorang pencuri, jawabku lagi. Sepertinya, dia langsung paham segalanya tanpa perlu penjelasan apa-apa lagi. Di depan matanya ada seorang pencuri, yang sudah pasti merupakan pencuri yang hebat. Dan yang terpenting adalah ini merupakan kesempatan untuk keluar dari sel yang bobrok ini. Si orang Somalia itu segera membebaskan aku. Dan dengan bodohnya, dia berteriak sekuat tenaga, Saudaraku, hari ini kita semua bebas! BEBAS!! Serta merta terdengar teriakan dari sel-sel yang di sekitarnya. Bebaskan kami juga!! Sialan! Aku juga harus bebas! Dalam hitungan detik, seluruh penghuni penjara di lorong ini berteriak -teriak dan membuat gaduh. Gawat, ini yang paling aku takutkan. Bagaimana kalau para petugas mendengarnya? Kalau begini mudah ketahuan! Tolol! Ah, tunggu dulu. Sebuah ide terlintas di kepalaku. Begini juga bisa, pikirku. aku bergerak cepat. Pertama, sel nomor 4239 ini yang aku buka terlebih dahulu. Untung di setiap

kunci diberi nomor. Penghuni sel ini langsung keluar dan berteriak-teriak Bebas! BEBAS! Kemudian aku langsung membuka kunci sel-sel lain. Dalam urusan gerak cepat, aku ahlinya. Satu per