of 15/15
TANGGULANGI PENCEMARAN UDARA KOTA (KOTA BESAR PEKANBARU) Rony Ardiansyah *) Dosen Teknik Sipil Universitas Islam Riau *) Pendahuluan Hampir tidak ada kota besar di dunia ini yang dapat menghindari dari bencana modern pencemaran udara. Bahkan kota-kota yang dulu dikenal dengan udaranya yang murni, tak tercemar misalnya Buenos Airres, Denvver dan Madrid. Sekarang selalu dikepung oleh udara yang begitu tercemarnya sehingga dapat membunuh dan membuat orang yang sehat maupun sakit masuk rumah sakit (Moore, 2003) Menurut Widyawati, et al. (2003), beberapa penelitian yang dilakukan oleh tenaga kesehatan menunjukkan bahwa bagian tengah kota menunjukkan suhu yang lebih tinggi 3-4º Celsius dibandingkan dengan wilayah sekitarnya. Perbedaan ini terjadi sepanjang tahun. Namun pada musim panas, perbedaan suhu tersebut nampak lebih tajam. Ada beberapa hal yang menyebabkan gejala ini terjadi. Hal utama yang ditemukan adalah luasnya tutupan lahan yang berupa pengerasan (seperti semen dan aspal). Semakin kering tanah, semakin sedikit panas yang dipancarkan melalui evaporasi. Sementara itu, kota cenderung memiliki udara yang lebih buruk untuk melepaskan panas yang dipancarkan melalui evaporasi. Sementara itu, kota cendrung memiliki udara yang lebih buruk untuk melepaskan panas dibandingkan dengan wilayah pedesaan. Hal ini terjadi karena luasnya daerah tutupan berupa pengerasan dan rapatnya bangunan. Saat ini Kota Pekanbaru telah berubah status menjadi kota besar. Berarti Pencemaran udara juga sedang mengancam Kota Pekanbaru. Apalagi sejak diberlakukannya otonomi daerah (tahun 1999), pembangunan Kota Pekanbaru meningkat sangat tajam. Mulai dari pembangunan gedung-gedung pemerintah yang diganti dengan bangunan baru, plaza-plaza, sampai dengan pembangunan ruko hampir di setiap jalan di Pekanbaru. Selain pembangunan fisik di Kota Pekanbaru sangat marak, peningkatan jumlah kendaraan bermotor pun meningkat drastis. Menurut manajer cabang OPEL Pekanbaru (dalam wawancara radio Aditya), setiap bulannya kurang lebih 140-an mobil baru terjual di Kota Pekanbaru. Jadi dapat diperkirakan dalam satu tahun pertambahan mobil di Pekanbaru 1680, belum termasuk mobil yang dibeli diluar Pekanbaru.

TANGGULANGI PENCEMARAN UDARA KOTA€¦ · Web viewPencemaran udara menurut Henry C. Perkins, 1974, dalam bukunya Air Polution, adalah hadirnya satu atau beberapa kontaminan dalam

  • View
    0

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of TANGGULANGI PENCEMARAN UDARA KOTA€¦ · Web viewPencemaran udara menurut Henry C. Perkins, 1974,...

TANGGULANGI PENCEMARAN UDARA KOTA

TANGGULANGI PENCEMARAN UDARA KOTA

(KOTA BESAR PEKANBARU)

Rony Ardiansyah *)

Dosen Teknik Sipil Universitas Islam Riau *)

Pendahuluan

Hampir tidak ada kota besar di dunia ini yang dapat menghindari dari bencana modern pencemaran udara. Bahkan kota-kota yang dulu dikenal dengan udaranya yang murni, tak tercemar misalnya Buenos Airres, Denvver dan Madrid. Sekarang selalu dikepung oleh udara yang begitu tercemarnya sehingga dapat membunuh dan membuat orang yang sehat maupun sakit masuk rumah sakit (Moore, 2003)

Menurut Widyawati, et al. (2003), beberapa penelitian yang dilakukan oleh tenaga kesehatan menunjukkan bahwa bagian tengah kota menunjukkan suhu yang lebih tinggi 3-4º Celsius dibandingkan dengan wilayah sekitarnya. Perbedaan ini terjadi sepanjang tahun. Namun pada musim panas, perbedaan suhu tersebut nampak lebih tajam. Ada beberapa hal yang menyebabkan gejala ini terjadi. Hal utama yang ditemukan adalah luasnya tutupan lahan yang berupa pengerasan (seperti semen dan aspal). Semakin kering tanah, semakin sedikit panas yang dipancarkan melalui evaporasi. Sementara itu, kota cenderung memiliki udara yang lebih buruk untuk melepaskan panas yang dipancarkan melalui evaporasi. Sementara itu, kota cendrung memiliki udara yang lebih buruk untuk melepaskan panas dibandingkan dengan wilayah pedesaan. Hal ini terjadi karena luasnya daerah tutupan berupa pengerasan dan rapatnya bangunan.

Saat ini Kota Pekanbaru telah berubah status menjadi kota besar. Berarti Pencemaran udara juga sedang mengancam Kota Pekanbaru. Apalagi sejak diberlakukannya otonomi daerah (tahun 1999), pembangunan Kota Pekanbaru meningkat sangat tajam. Mulai dari pembangunan gedung-gedung pemerintah yang diganti dengan bangunan baru, plaza-plaza, sampai dengan pembangunan ruko hampir di setiap jalan di Pekanbaru. Selain pembangunan fisik di Kota Pekanbaru sangat marak, peningkatan jumlah kendaraan bermotor pun meningkat drastis. Menurut manajer cabang OPEL Pekanbaru (dalam wawancara radio Aditya), setiap bulannya kurang lebih 140-an mobil baru terjual di Kota Pekanbaru. Jadi dapat diperkirakan dalam satu tahun pertambahan mobil di Pekanbaru 1680, belum termasuk mobil yang dibeli diluar Pekanbaru.

Permasalahan yang timbul terhadap dua kondisi ini secara langsung maupun tidak langsung telah mengakibatkan pencemaran udara dan panas yang sangat terik bagi pejalan kaki dan pengguna kendaraan roda dua pengguna jalan raya di Kota Pekanbaru. Pelaksanaan pembangunan yang sangat pesat mengakibatkan banyak lahan hijau yang hilang. Pohon-pohon peneduh dipinggir jalan banyak yang di tebang habis agar tidak menutupi bangunan-bangunan baru yang baru dibangun.

Pencemaran Udara

Pencemaran udara menurut Henry C. Perkins, 1974, dalam bukunya Air Polution, adalah hadirnya satu atau beberapa kontaminan dalam udara atmosfir di luar, seperti anatara lain oleh debu, busa, gas, kabut, bau-bauan, asap atau uap dalam kuantitas yang banyak, dengan berbagai sifat maupun lama berlangsungnya di udara tersebut, hingga dapat menimbulkan gangguan-ganguan terhadap lingkungan manusia, tumbuhan atau hewan maupun benda, atau tanpa alasan jelas sudah dapat mempengaruhi kelestarian kehidupan organisme maupun benda. Sedangkan berdasarkan Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup No. 02/MENKLH/1998, yang dimaksud dengan pencemaran udara adalah masuk atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi dan/atau komponen lain ke dalam udara dan/atau berubahnya tatanan (komposisi) udara oleh kegiatan manusia atau proses alam, sehingga kualitas udara menjadi kurang atau tidak dapat berfungsi lagi sesuai dengan peruntukkannya (Kristanto, 2002).

Pembagian jenis pollutan penyebab pencemaran udara menurut Miller (1982) ringkasnya dapat dilihat pada tabel 1. Dari tabel 1. dapat dilihat bahwa pencemaran udara termasuk panas dan kebisingan.

Tabel 1. Jenis Pollutan udara yang utama

Pollutan

Sumber

Efek

Metode kontrol

Karbon oksida

Karbon monoksida (CO)

Karbon dioksida

Sulfur oksida (SO2 dan SO3)

Nitrogen oksida (NO dan NO2)

Hidrokarbon

Partikulat

Debu, jelaga dan minyak

Asbes

Panas

Kebisingan

Pembakaran hutan dan pembusukan bahan organik, pembakaran bahan bakar fosil yang tidak sempurna (sekitar dua pertiga dari total emisi) dan bahan organik lainnya dan tungku pembakaran, asap rokok

Hasil respirasi alami makhluk hidup, pembakaran bahan bakar fosil

Pembakaran dari sulfur yang terkandung pada batu bara dan minyak di rumah-rumah, industri-indusri, dan mesin-mesin, pemisahan logam-logam dari sulfur yang mengandung biji besi, letusan gunung berapi

Temperatur yang tinggi pada pembakaran bahan bakar pada kendaraan bermotor, industri, dan mesin-mesin fabrik, halilintar/kilat

Pembakaran bahan bakar fosil yang tidak sempurna pada kendaraan bermotor dan tungku perapian, evaporasi dari pelarut industri dan minyak yang jatuh, asap tembakau, kebakaran hutan, pembusukan tanaman (sekitar 85 persen dari emisi)

Kebakaran hutan, erosi angin, dan letusan gunung merapi, pertanian, pertambangan, kontruksi, kawasan bangunan, aktivitas-aktivitas pembersihan lahan lainnya, reaksi kimia di atsmosfir, debu yang bergerak karena kendaraan bermotor, gas buangan kendaraan bermotor, pembangkit listrik tenaga batu bara, mesin-mesin industri.

Penambangan asbes, penyemprotan bahan penyekat anti api di bangunan, pembusukan sepatu rem

Penggunaan bahan bakar fosil dan nuklir

Kendaraan bermotor, pesawat, kereta api, industri dan kontruksi

Menurunkan kapasitas oksigen yang dibawah oleh darah, memperparah penyakit jantung dan pernapasan, dapat menyebabkan sakit kepala dan kepenatan pada konsentrasi sedang ( 50-100 ppm), dapat menyebabkan kematian pada konsentrasi tinggi dalam jangka waktu lama (750 ppm atau lebih)

Dapat menyebabkan efek rumah kaca pada konsentrasi yang berlebihan

Memperparah penyakit pernapasan, mengganggu pernapasan, iritasi mata dan merusak sistem pernapasan, meningkatkan tingkat kematian, merusak tanaman dan menurunkan pertumbuhan, penyebab hujan asam, merusak logam, memperburuk batu bangunan, kertas, nilon, dan kulit

Memperparah penyakit pernapasan, meningkatkan kerentanan sampai kronik penyakit infeksi pernafasan, dapat menyebabkan bronkitis akut, berdampak terhadap kerusakan hati, paru-paru, jantung, ginjal, iritasi paru-paru, mata, dan kulit, menurunkan kemampuan paru-paru untuk membersihkan dirinya dari partikulat, penyebab hujan asam, menghambat pertumbuhan, menurunkan jarak penglihatan atsmosfir, memudarkan cat dan bahan celup, turut ambil bagian dalam formasi asap fotokimia, merusak sistem pernapasan

Merusak sistem pernapasan, beberapa penyebab kanker, turut ambil bagian dalam formasi asap fotokimia, iritasi mata.

Dapat menyebabkan kanker, memperparah penyakit jantung dan pernapasan, bersifat racun pada konsentrasi yang tinggi, penyebab batuk, iritasi tenggorokkan, dan penyebab dada berdebar-debar, turut campur dengan fotosintesis tanaman, membahayakan hewan, menurunkan jarak pandang atmosfir, memperburuk bangunan dan permukaan cat, dapat memberi efek cuaca dan iklim

Dapat menyebabkan kanker, memperparah penyakit pernapasan dan jantung, penyebab fibrosis paru-paru

Dapat menyebabkan perubahan iklim dunia

Dapat menyebabkan kejengkelan, mengganggu aktivitas, dapt menyebabkan kegugupan, merusak pendengaran

Memodifikasi pembakaran dan mesin kendaraan bermotor untuk dapat melakukan pembakaran yang sempurna, hilangkan dari kendaraan bermotor, rumah dan pabrik tempat pembuangan gas, berhenti merokok

Kurangi penggunaan bahan bakar fossil, hilangkan dari kendaraan bermotor, rumah dan pabrik tempat pembuangan gas, berhenti merokok

Gunakan bahan bakar fosil yang kandungan sulfurnya rendah, hilangkan dari bahan bakar sebelum digunakan, hilangkan dari cerobong asap tempat pembuangan gas, ganti sumber energi dengan bahan bakar non fosil

Kurangi penggunaan kendaraan bermotor, ganti dengan kendaraan umum, kendaraan bermotor listrik, dan bahan bakar sel, modifikasi kendaraan bermotor untuk menurunkan suhu pembakaran, hilangkan dari cerobong asap tempat pembuangan gas

Modifikasi pembakaran dan mesin kendaraan bermotor agar terjadi pembakaran yang lebih sempurna dan sedikit evaporasi, hilangkan dari kendaraan bermotor tempat pembuangan gas, perbaiki pegangan pelarut dan minyak bumi untuk menurunkan yang jatuh dan hilang karena evaporasi

Turunkan penggunaan batu bara, perbaiki penggunaan lahan dan kontrol erosi tanah, hilangkan dari cerobong asap tempat pembuangan gas

Kurangi penggunaan, mencega keluar ke dalam atmosfir, lindungi pekerja kontruksi dan penambang dari penarikan nafas yang berdebu (gunakan masker)

Kurangi pencemaran, kurangi penggunaan energi

Kurangi tingkat kebisingan pada kendaraan bermotor, pesawat, kereta api, mesin-mesin pabrik, lindungi pekerja dan penduduk dari kebisingan dengan menggunakan penutup telinga dan kontruksi bangunan yang lebih baik.

Lebih dari 70 % pencemaran udara di kota-kota besar disebabkan oleh kendaraan bermotor (sumber bergerak), sedangkan 30 % sumber pencemaran berasal dari kegiatan industri, rumah tangga, bangunan tinggi dan lain-lain (Riau Pos, 2003). Menurut Chiras (1994) kontribusi persentase polutan udara yang memberi andil terhadap pencemaran udara di Amerika Serikat dapat dilihat pada gambar 1. Para peneliti di Universitas Harvard menunjukkan bahwa di Amerika Serikat -negara yang tingkat pencemarannya udaranya lebih rendah daripada kota-kota di negara berkembang- setiap tahunnya terjadi kematian 50.000 dan 100.000 akibat pencemaran udara (Moore, 2003)

Gambar 1. Kontribusi Transportasi Terhadap Pencemaran Udara di Amerika Serikat

(Sumber: Chiras, 1994)

Pencemaran udara lebih mempengaruhi anak-anak daripada orang dewasa. Moree (2003) mengungkapkan bahwa suatu studi membuktikan bahwa anak-anak yang tinggal dikota dengan tingkat pencemaran udara lebih tinggi mempunyai paru-paru lebih kecil, lebih sering tidak bersekolah karena sakit, dan lebih sering dirawat di rumah sakit.

Kondisi Pencemarana Udara Kota Pekanbaru

Kota Pekanbaru yang sedang mengalami pesatnya pembangunan berupa pembangunan fisik telah banyak menimbulkan dampak pencemaran udara. Hal ini dapat kita rasakan dari panasnya Kota Pekanbaru (terutama di pusat kota) pada siang hari di musim panas. Pada Tabel 2. terlihat beberapa jalan protokol di Pekanbaru yang kondisinya sangat panas, silau dan gersang serta tidak ada pohon peneduh (kategori tidak nyaman) dan beberapa jalan protokol yang baik penataannya (kategori nyaman).

Jalan Aripin ahmad dikatakan nyaman karena memiliki pohon peneduh di kedua sisi badan jalan dan ditengah-tengah jalan (jalur hijau). Jalan Jenderal Sudirman juga dikatakan nyaman karena memiliki jalur hijau dan banyak pepohonan di halaman kantor gedung-gedung pemerintah. Jalan Diponogoro merupakan jalan yang paling nyaman, karena merupakan daerah perumahan sehingga arus lalu lintas tidak banyak dan juga memiliki pohon peneduh di kiri kanan jalan dan jalur hijau.

Sedangkan jalan-jalan lainnya boleh dikatakan tidak nyaman, karena tidak ada pohon peneduh dan padatnya arus lalu lintas. Jalan Nangka, walaupun saat ini telah memiliki Jalur Hijau tetap saja dikatakan tidak nyaman karena memiliki arus lalu lintas yang sangat padat. Dan jalur hijau dengan menggunakan pohon yang tidak memiliki tajuk yang lebar tidak begitu dapat menolong para pejalan kaki untuk terhindar dari panas. Disamping itu jalan-jalan tersebut telah didominasi dengan bangunan ruko sehingga pola penataannya hanyalah seperti jejeran gerbong kereta api.

Tabel 2. Nama-nama jalan di Kota Pekanbaru dan kondisi kenyamanannya

No.

Nama Jalan

Kategori

Nyaman

Tidak Nyaman

1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

10.

11.

12.

13.

14.

15.

16.

17.

18.

19.

Jl. Aripin Ahmad

Jl. Jendral Sudirman

Jl. DiPonogoro

Jl. Nangka

Jl. Riau

Jl. Jend. Ahmad Yani

Jl. Ir. H. Juanda

Jl. Karet

Jl. Prof. M. Yamin

Jl. Hos Cokroaminotao

Jl. Imam Bonjol

Jl. Pangeran Hidayat

Jl. Cik Ditiro

Jl. Tanjung Datuk

Jl. Setia Budi

Jl. Hasanuddin

Jl. Teuku Umar

Jl. Tangkuban Perahu

Jl. Gatot Subroto

(

(

(

(

(

(

(

(

(

(

(

(

(

(

(

(

(

(

(

(

Tabel 3. Beberapa contoh kawasan nyaman dan tidak nyaman di Kota Pekanbaru

No.

Nama Kawasan

Kategori

Nyaman

Tidak Nyaman

1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

Seputaran Hotel Arya Duta

Gubenuran Riau

Danau Buatan

Kawasan air mancur di depan kantor Walikota Pekanbaru

Pasar Tengah

Pasar Bawah

Pasar Kodim

Kawasan loket dan Matahari Dep. Store

(

(

(

(

(

(

(

(

Dari Tabel 3. dapat dilihat bahwa kawasan pasar dan pusat perdagangan merupakan kawasan yang tidak nyaman. Hal ini disebabkan karena kawasan pasar didominasi oleh ruko yang koefisien dasar bangunan nya memcapai 70 %. Sehingga hanya 30 % kawasan yang tidak dibangun. Kawasan yang tidak dibangun ini pun biasanya dijadikan lahan parkirnya sehingga hampir tidak ada lahan untuk penghijauan. Sedangkan untuk jenis bangunan lain yang koefisien dasar bangunannya hanya 30-50% biasanya masih memiliki ruang yang cukup untuk penghijauan. Maka dari itu terlihat dari Tabel 3. bahwa kawasan hotel dan perkantoran kelihatan jauh lebih nyaman.

Kondisi yang tidak nyaman kalau dibiarkan atau tetap dipertahankan akan menyebabkan munculnya pusat-pusat pertumbuhan penyakit saluran pernapasan yang potensial, menimbulkan heat syndrome, dan secara psikologis juga akan menimbulkan kejenuhan., serta locational stress syndrome pada pelaku kegiatan (Widyawati, et al., 2003)

Menurut Direktur Eksekutif Nasional Wahana Lingkungan (Walhi), polusi udara yang terjadi akan menimbulkan masalah sosial yang luas. Contohnya adalah polusi udara di Jakarta yang sudah menjadi pembunuh kedua terbesar bagi bayi (Riau pos, 2003)

Oleh sebab itu, sangatlah dibutuhkan suatu upaya penanggulangan, revisi terus menerus terhadap implementasi kebijakkan tata ruang kota yang telah ditetapkan. Upaya penanggulangan atau revisi ini akan menjadi alat kontrol dan indikator perubahan lingkungan, yang mengikuti dinamisasi aktivitas perkotaan. Selain itu upaya ini dapat juga menjadi upaya antisipatif bagi wilayah-wilayah bagian lain kota untuk melakukan penataan ruang yang lebih baik dan berwawasan lingkungan.

Upaya penataan

Webster (1799 dalam Widyawati, et al., 2003) seorang peneliti gejala panas perkotaan, memberikan beberapa saran terhadap penanggulangan pencemaran udara perkotaan. Saran tersebut antara lain adalah dengan membangun jalan yang lebar, agar udara dapat bebas bergerak, serta menanam banyak pohon, terutama disepanjang tepi jalan dan membuat jalur hijau di tengahnya. Fungsi pohon tersebut adalah untuk mengikat debu yang bertebaran (melekat dengan baik pada daun), meredam bunyi, dan juga mengurangi panas cahaya matahari yang sampai ke bumi. Caldwell (1981 dalam Widyawati et al., 2003) menambahkan bahwa selain penanaman pohon, pembangunan air mancur juga dapat menyejukan udara sekitarnya.

Disamping itu pengadaan taman-taman kota serta ruang terbuka hijau (RTH) lainnya yang tersebar diberbagai tempat, akan mampu mengurangi kadar zat pencemar udara dan menambah kenyamanan kota. Hasil penelitian Puslitbang Jalan menunjukkan bahwa, tanaman-tanaman yang terdapat di RTH dapat mereduksi polusi udara sekitar 5 hingga 45 %. RTH juga sangat efektif mengurangi efek-efek climatological heath pada lokasi pemusatan bangunan tinggi, yang berakibat pada timbulnya anomali-anomali pergerakan zat pencemar udara yang berdampak destruktif, baik terhadap fisik bangunan maupun mahluk hidup (Widyawati et al., 2003)

Upaya penataan lain untuk mengatasi pencemaran udara ialah agar asosiasi hotel dan restoran, asosiasi travel, serta asosiasi pertokoan mengharuskan hotel, restoran dan toko disepanjang jalan untuk menanam pohon pada halamanya di dekat jalan. Misalnya pohon ketapang dengan tajuk yang indah dan unik berbentuk datar berteras yang dapat memberi naungan tanpa mengganggu pejalan kaki. (Soemarwoto, 2001)

Upaya pembuatan kolam dan kolam air mancur, selain sebagai penyejuk udara disekitarnya, bisa juga berfungsi sebagai daya tarik dan suara yang dapat dibuat untuk memenuhi tujuan estetika. Air mancur juga dapat dibuat pada lokasi areal ” Tugu “ (seperti Tugu yang akan segera dibangun oleh Pemko Pekanbaru diberbagai lokasi pada kota Pekanbaru). Air dapat pula digunakan untuk merefleksikan beberapa pemandangan, baik alamiah maupun struktur buatan.

Mengingat besarnya peranan dan kontribusi kendaraan bermotor dalam pencemaran udara , maka penataan jalur lalu lintas dan lokasi perparkiran memerlukan perhatian khusus dalam upaya penataan. Pada pusat kota, hendaknya jalan-jalan porotokol diusahakan mempunyai jalur alternatif dan adanya kesadaran masyarakat untuk tidak memarkirkan kendaraannya di badan jalan. Dengan adanya jalur alternatif dan kesadaran ini maka kemacetan akan terhindar pada jam-jam sibuk, yang berarti pengurangan pencemaran udara.

Kesimpulan

Kota Pekanbaru yang sedang giat-giatnya melakukan pembangunan (terutama pembangunan fisik) harus memiliki penataan ruang kota yang baik, agar terhindar dari pencemaran udara dan berbagai dampaknya. Usaha yang dapat dilakukan dapat berupa penataan jalan yang memiliki jalur hijau, pembangunan air mancur di beberapa lokasi pusat kota, membatasi jumlah ruko, dan membuat taman-taman kota atau ruang hijau terbuka serta pengaturan lalu lintas dan areal parkirnya.

Daftar Pustaka

Chiras, D.D. 1994. Environmental Science. Fourth Edition. South version. The Benjamin/Cummings Publishing Company, Inc.390 Bridge Parkway. Redwood City, California 94065.

Kristanto, P. 2002. Ekologi Industri. Universitas Kristen PETRA Surabaya dan Penerbit ANDI Yogyakarta.

Miller, G.T.J. 1982. Living in the Environment. Third Edition. Wadsworth Publishing Company. Belmont, California. A Division of Wadsworth, Inc.

Moore, C. 2003. Mutu Udara Kota. http://www.usembassyjakarta.org/ptp/udarkt3.html (5 Februari 2003)

Soemarwoto, O. 2001. Atur-Diri-Sendiri. Paradigma Baru Pengelolaan Lingkungan Hidup. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Widyawati, H. Setiadi, F. Rahmawati. Kondisi Udara Sebagai Cermin Penataan Kota. http://www.bk.or.id/artikel-3-hlm1.html (5 Februari 2003)

Riau Pos. 2003. Pencemaran Udara Hanya Sebatas Proyek. Pekanbaru. (20 Januari 2003)

Tabel 1. Perkiraan lama tinggal beberapa jenis polutan udara

Jenis

Lama tinggal/tahun

N2O

CO2, CH4

CO

SO2

NO, NO2

NH3, H2S

20

3

0.4

<0.02a

<0.01a

<0.005a

a variabel sangat tinggi

WHO telah membuktikan bahwa karbon monoksida yang secara rutin mencapai tingkat tak sehat di banyak kota dapat mengakibatkan kecilnya berat badan janin, meningkatnya kematian bayi dan kerusakan otak, bergantung pada lamanya wanita hamil terpajan, dan bergantung pada kekentalan polutan di udara.

Asap kendaraan merupakan sumber hampir seluruh karbon monoksida yang dikeluarkan di banyak daerah perkotaan. Karena itu strategi penurunan kadar karbon monoksida yang berhasil bergantung terutama pada pengendalian emisi otomatis seperti mengubah katalis, yang mengubah sebagian besar karbon monoksida menjadi karbon dioksida. Kendali semacam itu secara nyata telah menurunkan emisi dan kadar karbon monoksida yang menyelimuti kota-kota di seluruh dunia industri: di Jepang, tingkat kadar karbon monoksida di udara menurun sampai 50 persen antara tahun 1973 dan 1984, sementara di AS tingkat karbon turun 28 persen antara tahun 1980 dan 1989. Namun negara berkembang mengalami kenaikan tingkat karbon monoksida, seiring dengan pertambahan jumlah kendaraan dan kepadatan lalu lintas. Perkiraan kasar dari WHO menunjukkan bahwa konsentrasi karbon monoksida yang tidak sehat mungkin terdapat pada paling tidak separo kota di dunia

Tabel 2. Laju pelaksanaan untuk kendaraan beremisi Nol atau mendekati nol (TLEV, LEV, ULEV dan ZEV)

Model

Tahun

0.39

0.25

TLEV

0.125

LEV

0.075

ULEV

0.040

0.00%

10.00%

20.00%

30.00%

40.00%

50.00%

60.00%

70.00%

1

Jenis Pollutan

Kontribusi Tansportasi Terhadap

Pencemaran Udara

Karbon monoksida

Sulfur oksida

Hidrokarbon

Partikulat

Nitrogen Oksida

Gambar.1 (Penataan kawasan BSD, pencegahan pencemaran)

� EMBED PBrush ���

� EMBED Excel.Chart.8 \s ���

0.00%

10.00%

20.00%

30.00%

40.00%

50.00%

60.00%

70.00%

1

Jenis Pollutan

Kontribusi Tansportasi Terhadap

Pencemaran Udara

Karbon monoksida

Sulfur oksida

Hidrokarbon

Partikulat

Nitrogen Oksida

_1106799782.xls

Chart1

0.70.0480.30.210.39

Karbon monoksida
Sulfur oksida
Hidrokarbon
Partikulat
Nitrogen Oksida
Jenis Pollutan
Kontribusi Tansportasi Terhadap Pencemaran Udara

Sheet1

Transportasi70%80%47%26.20%56.40%

Pembakaran bahan bakar pada tempat-tempat yang menetap7.50%15.20%4.10%34.40%3.20%

Proses industri7.50%4.80%15%13.60%0.50%

Limbah padat3.30%30%21%1.10%

lain-lain11.60%4.00%39%

Karbon monoksida70.00%

Sulfur oksida4.80%

Hidrokarbon30%

Partikulat21%

Nitrogen Oksida39%

Sheet1

00000

Karbon monoksida
Sulfur oksida
Hidrokarbon
Partikulat
Nitrogen Oksida
Jenis Pollutan
Kontribusi Tansportasi Terhadap Pencemaran Udara

Sheet2

Sheet3