TANTANGAN DAN ARAH KEBIJAKAN PENGEMBANGAN ?· TANTANGAN DAN ARAH KEBIJAKAN PENGEMBANGAN PROGRAM ASURANSI…

  • View
    212

  • Download
    0

Embed Size (px)

Transcript

  • Tantangan dan Arah Kebijakan Pengembangan Program Asuransi Pertanian | 79

    TANTANGAN DAN ARAH KEBIJAKAN

    PENGEMBANGAN PROGRAM ASURANSI PERTANIAN

    Sahat M. Pasaribu1

    PENDAHULUAN

    Dalam masa pembangunan pertanian nasional tahun 2015-

    2019, Kementerian Pertanian memfokuskan kebijakan

    pembangunan pada upaya peningkatan produksi padi, jagung,

    dan kedelai secara nasional sebagaimana dituangkan dalam

    Peraturan Menteri Pertanian No. 03/Permentan/OT.140/2/2015

    (Kementerian Pertanian, 2015). Kebijakan tersebut didasarkan

    atas keinginan menekan bahan pangan impor dan semakin

    mendorong pasokan pangan dari dalam negeri, menghemat

    devisa, meningkatkan pendapatan petani, dan mempertahankan

    stabi1litas sosial ekonomi dan politik di dalam negeri menuju

    ketahanan, kemandirian dan kedaulatan pangan nasional.

    Komoditas pertanian strategis lain, seperti daging sapi, gula,

    cabai, dan bawang merah tidak dapat dilepaskan dari upaya

    pengembangan yang semakin intensif di masa mendatang.

    Komoditas-komoditas ini diharapkan dapat menyediakan

    produksi yang cukup untuk memenuhi permintaan yang

    cenderung semakin meningkat di masa mendatang.

    Pembangunan ekonomi nasional harus diselaraskan dengan

    politik pembangunan pertanian yang identik dengan

    keberpihakan pada petani. Kelemahan posisi petani perlu terus

    dilindungi untuk menguatkan kesinambungan menghasilkan

    komoditas pertanian dan mempertahankan keunggulan-

    1 Peneliti Utama pada Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian, Kementerian Pertanian

  • 80 | Ragam Pemikiran Menjawab Isu Aktual Pertanian

    keunggulan yang dimiliki. Dalam konteks ini, politik

    pembangunan pertanian harus dapat diwujudkan dalam

    kebijakan pembangunan sesuai dengan program dan kegiatan

    yang relevan menurut prioritasnya (Pasaribu et al. 2013). Fakta di

    lapangan menunjukkan bahwa petani semakin sulit menerapkan

    manajemen usaha tani yang baik. Hal ini terjadi bukan hanya

    karena semakin tergradasinya sumberdaya alam yang

    mengakibatkan buruknya fasilitasi pertanian, tetapi juga karena

    keterbatasan pembiayaan usaha tani (Biro Perencanaan Pertanian

    2012). Akar permasalahan usaha pertanian terletak pada kondisi

    semakin berkurangnya kemampuan petani menyediakan modal

    kerja. Biaya input yang semakin tinggi dengan kesulitan

    mengakses sumber-sumber keuangan cukup membebani petani.

    Pengambilan langkah-langkah konkrit dalam upaya

    penerapan adaptasi dan antisipasi sistem pangan dan pertanian

    terhadap perubahan iklim merupakan salah satu substansi inti

    prioritas ketahanan pangan yang memerlukan perhatian

    (tertuang dalam Buku I rancangan RPJMN 2010-2014). Aspek

    perubahan iklim ini menjadi bagian dari program ketahanan

    pangan sebagai prioritas pembangunan nasional yang

    dicantumkan dalam arah kebijakan dan strategi nasional buku

    diatas dan diacu oleh Kementerian Pertanian (Kementerian

    Pertanian 2009).

    Menghadapi berbagai ketidakpastian, seperti kondisi iklim

    dan keterbatasan pembiayaan usaha tani, asuransi ditawarkan

    sebagai salah satu alternatif skim pendanaan untuk membagi

    risiko, khususnya untuk menanggulangi kegagalan panen

    (harvest failure). Asuransi pertanian berhubungan dengan

    pembiayaan usaha pertanian dengan pihak ketiga

    (lembaga/perusahaan swasta atau instansi pemerintah) dengan

    membayar sejumlah uang sebagai premi. Program asuransi

    pertanian sangat penting untuk menghindarkan petani dari

  • Tantangan dan Arah Kebijakan Pengembangan Program Asuransi Pertanian | 81

    kerugian besar dan memastikan bahwa mereka terlindungi. Jika

    terjadi kerusakan atau gagal panen, petani akan memperoleh

    santunan dalam bentuk uang yang akan digunakan sebagai

    modal kerja pada musim tanam berikutnya.

    Meningkatnya kerusakan usaha tani dengan semakin

    seringnya petani menghadapi kegagalan panen karena serangan

    organisme pengganggu tumbuhan (OPT), terutama di sentra

    produksi tanaman pangan harus menjadi peringatan keras bagi

    semua pemangku kepentingan untuk mempertimbangkan

    penerapan skim asuransi pertanian pada usaha pertanian. Hal ini

    juga akan sekaligus menunjukkan keberpihakan pemerintah

    membela kepentingan petani (Pasaribu et al. 2009). Dengan latar

    belakang yang sama, Bank Dunia telah mendukung

    penyelenggaraan asuransi pertanian di lebih 20 negara di dunia

    (Mahul dan Stutley 2010). Dimulai sejak 2008, Bank Dunia sudah

    membantu secara teknis pelaksanaan asuransi pertanian, seperti

    asuransi ternak (livestock insurance di Mongolia dan India),

    asuransi usaha tani berbasis iklim (weather-based crop insurance di

    India, Malawi, Thailand, Amerika Tengah, Kazahstan, dll), dan

    asuransi usaha tani berbasis produktivitas (area yield crop

    insurance di India).

    Kementerian Pertanian melihat kesempatan menyediakan

    perlindungan usaha pertanian kepada petani, selain

    melaksanakan amanat UU No. 19/2013 tentang Perlindungan dan

    Pemberdayaan Petani, juga memberikan edukasi yang lebih baik

    kepada petani dibandingkan dengan program penggantian

    kerugian petani karena gagal panen dengan uang tunai.

    Mengganti kerugian petani dengan uang tunai beberapa waktu

    yang lalu (program bantuan penanggulangan padi puso yang

    dilaksanakan beberapa tahun sejak 2011) ternyata menimbulkan

    banyak masalah dalam pelaksanaannya di lapangan, khususnya

    dalam menentukan petani penerima bantuan langsung tunai

  • 82 | Ragam Pemikiran Menjawab Isu Aktual Pertanian

    tersebut. Moral hazard hampir terjadi pada setiap simpul

    pelaksanaannya, terutama pada tingkat desa/lapangan. Oleh

    karena itu, mengganti program pemberian uang tunai dengan

    skim asuransi pertanian untuk melindungi usaha tani/membantu

    petani/peternak secara finansial menjadi opsi yang tepat karena

    penyelenggaraannya menjadi lebih tertib dan lebih

    bertanggungjawab.

    Asuransi pertanian dilaksanakan mengikuti pola kerja sama

    berbentuk kemitraan (partnership). Kerja sama antara pemerintah

    dengan sektor swasta (public-private partnership/PPP) dilakukan

    dengan cara berbagi sumberdaya, pengetahuan, dan risiko untuk

    meningkatkan efisiensi produksi dan distribusi produk dan jasa

    hingga menghasilkan berbagai manfaat. Kemitraan

    membutuhkan komitmen dari seluruh pemangku kepentingan

    yang terlibat di dalamnya (Frank et al. 2007). Untuk menjaga

    keberhasilan produksi, penerapan usaha tani anjuran disarankan

    sebagai salah satu syarat mengikuti program asuransi pertanian.

    Asuransi pertanian dapat dilakukan pada usaha tani anjuran

    model Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) pada padi sawah,

    misalnya dimaksudkan agar petani menerapkan komponen-

    komponen teknologi budidaya secara sinergis yang mampu

    meningkatkan produktivitas hasil panen komoditas padi yang

    rata-rata lebih tinggi dibandingkan dengan pola yang biasa

    dilaksanakan petani (Pramono et al. 2005). Revitalisasi kemitraan

    agribisnis yang menonjolkan sifat saling percaya dan kejujuran

    perlu dikembangkan pada berbagai komoditas strategis.

    Kemitraan tersebut bukan hanya sekadar kerja sama ekonomi

    dengan pola inti-plasma yang harus mematuhi aturan formal

    yang sengaja dibentuk, namun lebih pada kerja sama yang saling

    membutuhkan dengan kebersamaan yang erat (Darwis et al.

    2006). Kemitraan seperti ini diadopsi sebagai bagian dari

    penyelenggaraan skim asuransi pertanian.

  • Tantangan dan Arah Kebijakan Pengembangan Program Asuransi Pertanian | 83

    Memasuki tahun ketiga uji coba program, dimana Asuransi

    Usaha Tani Padi (AUTP) dan Asuransi Usaha Ternak Sapi

    (AUTS) secara resmi dilaksanakan sejak 2015, saatnya program

    ini dievaluasi untuk perbaikan pelaksanaan ke depan. Hasil

    evaluasi akan bermanfaat untuk menetapkan arah

    pengembangannya di tengah berbagai tantangan dan

    permasalahan teknis dan nonteknis di lapangan. Dalam kaitan

    ini, makalah ini mendeskripsikan pencapaian pelaksanaan

    program asuransi pertanian sejauh ini dan merumuskan

    pemikiran serta menyusun rekomendasi pengembangan

    perlindungan usaha pertanian melalui program asuransi

    pertanian kedepan.

    KEBIJAKAN PERLINDUNGAN PETANI

    Secara teknis, kegiatan usaha di sektor pertanian, khususnya

    usaha tani padi akan selalu dihadapkan pada risiko

    ketidakpastian yang cukup tinggi. Risiko tersebut meliputi

    kegagalan panen karena serangan hama dan penyakit, perubahan

    iklim, banjir serta kekeringan; disamping risiko ketidakpastian

    harga pasar. Ketidakpastian dan tingginya risiko ini sangat

    memungkinkan mendorong petani beralih ke komoditas lain

    yang mempunyai nilai ekonomi tinggi dan risiko kegagalan

    yang lebih kecil. Jika hal ini berlanjut, hasilnya akan berdampak

    terhadap stabilitas ketahanan pangan nasional, khususnya

    produksi dan ketersediaan bahan pangan pokok beras.

    Risiko teknis pada pertanaman (budidaya), pengolahan,

    hingga pemasaran hasil pertanian adalah bagian kegiatan

    berusaha tani yang dapat mengakibatkan kerugian besar di pihak

    petani. Risiko budidaya berkaitan dengan masalah-masalah

    teknis pertanaman dan masalah-masalah non teknis yang sulit

    dikendalikan, termasuk pengaruh perubaha