14
1 SELF DISCLOSURE OF RELATIONSHIPS WITH LONELY AT THE STUDENTS STAY IN PLACE WANDER KOST Sitta Yuhana Undergraduate Program, Faculty of Psychology Gunadarma University http://www.gunadarma.ac.id Keywords: Self-Disclosure, Loneliness, Overseas Students ABSTRACT Most students living in the boarding house with the consideration that the proximity of shelter with the campus became the main reason. Living in a boarding house to make their relationship with family and friends and more distant, it can trigger a sense of loneliness. It required a new relationship in which open themselves needed in the process of establishing a more intimate relationship. The purpose of this study was to determine whether there is a relationship between self-disclosure with the students wander lonely living in a boarding place. The results showed that there is a negative significance between self-disclosure to loneliness in overseas students living in a boarding place. Also known R square of 0.211, which means self-disclosure contributes by 21.1% relative to the lonely. In addition, subjects in this study have averaged self-disclosure of the loneliness that is rated below average.

teori kesepian

Embed Size (px)

DESCRIPTION

jj

Citation preview

  • 1

    SELF DISCLOSURE OF RELATIONSHIPS WITH LONELY AT THE

    STUDENTS STAY IN PLACE WANDER KOST

    Sitta Yuhana

    Undergraduate Program, Faculty of Psychology

    Gunadarma University

    http://www.gunadarma.ac.id

    Keywords: Self-Disclosure, Loneliness, Overseas Students

    ABSTRACT

    Most students living in the boarding house with the consideration that the proximity of shelter

    with the campus became the main reason. Living in a boarding house to make their

    relationship with family and friends and more distant, it can trigger a sense of loneliness. It

    required a new relationship in which open themselves needed in the process of establishing a

    more intimate relationship. The purpose of this study was to determine whether there is a

    relationship between self-disclosure with the students wander lonely living in a boarding

    place. The results showed that there is a negative significance between self-disclosure to

    loneliness in overseas students living in a boarding place. Also known R square of 0.211,

    which means self-disclosure contributes by 21.1% relative to the lonely. In addition, subjects

    in this study have averaged self-disclosure of the loneliness that is rated below average.

    http://www.gunadarma.ac.id/
  • 2

    HUBUNGAN KETERBUKAAN DIRI DENGAN KESEPIAN PADA MAHASISWA

    MERANTAU YANG TINGGAL DI TEMPAT KOST

    Sitta Yuhana

    Fakultas Psikologi

    Universitas Gunadarma

    Abstrak

    Sebagian besar mahasiswa tinggal di tempat kost dengan pertimbangan bahwa

    kedekatan tempat bernaung dengan kampus menjadi alasan utama. Tinggal di tempat kost

    membuat hubungan mereka dengan keluarga dan teman lama semakin jauh, hal tersebut

    dapat memicu rasa kesepian. Untuk itu diperlukan hubungan baru dimana kerterbukaan diri

    diperlukan dalam proses menjalin hubungan yang lebih akrab. Tujuan dari penelitian ini

    adalah untuk mengetahui apakah ada hubungan antara keterbukaan diri dengan kesepian

    pada mahasiswa merantau yang tinggal di tempat kost. Hasil penelitian menunjukkan bahwa

    terdapat signifikansi negatif antara keterbukaan diri dengan kesepian pada mahasiswa

    merantau yang tinggal di tempat kost. Juga diketahui R square sebesar 0,211 yang berarti

    keterbukaan diri memberi sumbangan relatif sebesar 21,1% terhadap kesepian. Selain itu,

    subjek dalam penelitian ini memiliki keterbukaan diri dirata-rata atas dengan kesepian yang

    tergolong rata-rata bawah.

    Kata Kunci : Keterbukaan Diri, Kesepian, Mahasiswa Merantau

    Pengantar

    Bagi sebagian besar mahasiswa, memasuki perguruan tinggi berarti juga harus

    berpindah tempat dari tinggal bersama orang tua, menjadi tinggal bersama dengan orang lain,

    entah itu kost, kontrakan atau tinggal bersama saudara. Mencari teman yang cocok bukanlah

    hal yang mudah. Apalagi biasanya teman-teman kuliah maupun di tempat sekitar tinggal

    biasanya juga berasal dari latar belakang yang berbeda-beda. Gagal mendapatkan teman yang

    sesuai bisa berakibat timbulnya perasaan kesepian (Siswanto, 2007). Erikson, Freud &

    Sullivan (dalam Peplau & Perlman, 1982) mengungkapkan bahwa umumnya remaja dan

    dewasa awal merupakan tahapan transisi yang sulit. Salah satu aspek penting dari transisi

    menuju dewasa adalah membentuk hubungan sosial orang dewasa. Pemuda menghadapi

    sejumlah besar transisi sosial, seperti meninggalkan rumah, hidup mandiri, memasuki

  • 3

    perguruan tinggi atau menerima pekerjaan, yang kesemuanya itu menimbulkan kesepian

    (Sears, Freedman & Peplau, 1994).

    Baron dan Byrne (1997) mengemukakan bahwa kesepian merupakan keadaan

    emosional yang berdasarkan dari keinginan untuk memiliki hubungan interpersonal yang

    dekat tetapi tidak bisa mendapatkannya. Kesepian menunjuk pada kegelisahan subjektif yang

    kita rasakan pada saat hubungan sosial kita kehilangan ciri-ciri pentingnya. Hilangnya ciri-

    ciri tersebut bisa bersifat kuantitatif, yaitu mungkin tidak mempunyai teman, atau hanya

    mempunyai sedikit teman. Tetapi kekurangan itu dapat juga bersifat kulitatif, yaitu kita

    mungkin merasa hubungan kita dangkal, atau kurang memuaskan dibandingkan apa yang kita

    harapkan. Jones (dalam Peplau dan Perlman, 1982) menyebutkan bahwa orang yang kesepian

    pada umumnya menunjukkan pola pengungkapan diri yang tertutup atau kurang intim.

    Menurut Darlega dan Grzelak (dalam Peplau dan Perlman, 1982) timbulnya keintiman

    bergantung dari keterbukaan diri. Pearson (1983) menjelaskan bahwa terdapat beberapa

    keuntungan yang didapat secara langsung dari keterbukaan diri, keuntungan tersebut antara

    lain adalah seseorang akan lebih dapat memahami dan menerima dirinya sendiri, juga lebih

    dapat menerima dan memahami orang lain sehingga dapat mengembangkan hubungan yang

    lebih mendalam dan berarti.

    Jones (dalam Peplau & Perlman, 1982) mengatakan bahwa diantara siswa perguruan

    tinggi, kesepian berhubungan dengan tanda umum dari keterampilan sosial dan fungsi sosial

    termasuk kecenderungan berafiliasi dan sosialisasi serta kurang intimnya keterbukaan diri.

    Keterbukaan diri merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan dalam interaksi

    sosial. Individu yang terampil melakukan keterbukaan diri mempunyai ciri-ciri yakni

    memiliki rasa tertarik kepada orang lain daripada mereka yang kurang terbuka, percaya diri

    sendiri, dan percaya pada orang lain (Taylor & Belgrave, 1986; Johnson, 1990).

    Menurut Miyer (dalam Sears, Freedman & Peplau, 1994) keterbukaan diri sangat

    menguntungkan bagi dua orang yang melakukan hubungan keakraban, seperti antar teman,

    kenalan, keluarga atau saudara lain. Hubungan yang akrab akan menumbuhkan rasa kasih

    sayang, dan kepercayaan antar individu. Namun Sears, Freedman dan Peplau (1994)

    mengatakan bila seseorang merasa kehilangan hubungan yang dekat, kurang adanya

    perhatian satu dengan yang lain, meskipun ia berinteraksi dengan orang banyak, dia akan

    merasa kesepian. Penelitian yang dilakukan oleh Solano, Batten dan Parish (dalam Sears,

    Freedman & Peplau, 1994) menyatakan bahwa mahasiswa yang kesepian biasanya memiliki

    pola pengungkapan diri yang tidak wajar, mencurahkan isi hati kepada seseorang yang baru

    saja dikenal atau mengungkapkan hal yang luar biasa sedikit tentang dirinya sendiri. Para

  • 4

    peneliti menyatakan bahwa tingkat pengungkapan yang tidak tepat ini bisa mengganggu

    pengembangan hubungan yang akrab.

    Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mengetahui ada hubungan antara

    keterbukaan diri dengan kesepian pada mahasiswa merantau yang tinggal di tempat kost.

    Hubungannya berarah negative, dimana jika keterbukaan diri pada mahasiswa tinggi maka

    kesepian yang dialaminya menurun. Sebaliknya, jika keterbukaan dirinya rendah maka ia

    mengalami kesepian yang tinggi.

    Dasar Teori

    1. Pengertian Keterbukaan diri

    Morton (dalam Sears, Freedman & Peplau, 1994) menyebutkan, keterbukaan diri

    merupakan kegiatan membagi perasaan dan informasi yang akrab dengan orang lain.

    Keterbukaan diri sendiri dapat bersifat deskriptif maupun evaluatif. Dalam keterbukaan

    diri deskriptif, seseorang melukiskan berbagai fakta mengenai dirinya yang mungkin

    belum diketahui oleh pendengar (misalnya tentang pekerjaan, tempat tinggalnya, partai

    yang ia dukung pada pemilihan umum baru-baru ini, dan sebagainya). Sedangkan dalam

    keterbukaan diri evaluatif, seseorang mengemukakan pendapat atau perasaan pribadi

    (misalnya kecemasan karena terlalu gemuk, tidak suka bangun pagi dan lain

    sebagainya).

    Selain itu Pearson (1983) mengartikan keterbukaan diri sebagai komunikasi

    dimana seseorang dengan sukarela dan sengaja memberitahukan orang lain mengenai

    dirinya secara akurat, yang tidak dapat orang lain dapatkan atau ketahui dari pihak lain.

    Jika seseorang secara terpaksa memberitahukan dirinya secara detail kepada orang lain,

    maka hal ini tidak dapat dianggap sebagai keterbukaan diri karena yang termasuk

    keterbukaan diri adalah setiap informasi yang ditentukan oleh seseorang untuk dibagi

    kepada orang lain secara sukarela. Selain itu, keterbukaan diri adalah kesengajaan dan

    bukan kebetulan. Yang berarti, keterbukaan diri termasuk pernyataan yang disengaja yang

    dipilih untuk diberitahukan kepada orang lain. Keterbukaan diri juga merupakan

    keakuratan informasi mengenai dirinya sendiri. Selanjutnya, definisi keterbukaan diri

    yang dijelaskan oleh Pearson (1983) tidak termasuk informasi yang tidak jujur seperti

    kebohongan mengenai diri sendiri, bermaksud untuk menyembunyikan diri yang

    sebenarnya, atau informasi yang menyimpang dari dirinya agar terlihat baik.

  • 5

    Derlega (1993) mendefinisikan keterbukaan diri sebagai sesuatu yang individu

    ungkapkan secara verbal mengenai diri sendiri kepada orang lain, termasuk pikiran,

    perasaan dan pengalaman.

    Dari berbagai definisi diatas dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa keterbukaan

    diri merupakan kegiatan membagi informasi secara verbal mengenai diri sendiri baik

    perasaan, pikiran dan pengalaman yang diberitahukan kepada orang lain serta dilakukan

    secara akurat, sengaja dan sukarela.

    Menurut Pearson (1983) keterbukaan diri memiliki beberapa dimensi, yaitu

    a. Jumlah (Amount)

    Keterbukaan diri dapat diuji dengan jumlah total seberapa banyak seseorang terbuka.

    Setiap orang tidak terbuka dalam jumlah informasi yang sama tentang dirinya. Ada

    orang yang sama sekali tidak terbuka mengenai dirinya dan ada orang lain yang

    memberitahukan semua pengalaman masa lalunya, keadaannya yang sekarang dan

    tujuan masa depannya.

    Literatur mengenai keterbukaan diri tidak menyediakan jawaban yang menentukan

    mengenai jumlah keterbukaan diri yang diharapkan; sebagai gantinya, penelitian

    sebelumnya menyarankan bahwa keterbukaan diri haruslah berbalasan (reciprocal).

    Ketika seseorang berbicara dengan orang yang banyak berbicara mengenai dirinya,

    orang tersebut juga akan merasa bebas untuk terbuka mengenai dirinya. Sebaliknya

    jika lawan bicara merasa enggan untuk membagi informasi mengenai dirinya maka

    kita juga akan berhati-hati dalam berbicara. Secara umum, jika keterbukaan diri

    seseorang meningkat, begitu juga dengan keterbukaan diri lawan bicaranya. Pola yang

    berbalasan ini akan muncul secara stabil dan dapat terbangun dalam interaksi selama

    lima menit pertama.

    b. Positive/Negative Nature

    Keterbukaan diri bermacam-macam sifatnya ada yang positif atau negatif. Sifat yang

    positif meliputi pernyataan mengenai diri sendiri yang dapat dikategorikan sebagai

    pujian. Sifat yang negatif adalah pernyataan yang secara kritis mengevaluasi

    mengenai diri sendiri. Salah satu contoh dari sifat positif keterbukaan diri adalah

    saya merasa senang berat badan saya turun tiga kilo selama seminggu sementara

    contoh dari sifat negatif keterbukaan diri adalah saya berharap saya memiliki

    kekuatan yang lebih - karena saya belum berhasil melakukan diet, namun tidaklah

    selalu mudah untuk mengkategorikan keterbukaan diri sebagai positif atau negatif.

  • 6

    Keterbukaan diri yang negatif itu sendiri jika dilakukan secara ekstrim dapat

    memberikan masalah bagi orang lain.

    c. Kedalaman

    Keterbukaan diri bisa dalam atau dangkal. Membicarakan mengenai aspek diri sendiri

    dimana hal tersebut adalah unik dan menyebabkan diri menjadi lebih transparan

    termasuk mengenai tujuan yang spesifik dalam hidup dan keintiman yang dirasakan

    dalam hidup, adalah keterbukaan diri yang dalam. Sedangkan, keterbukaan diri yang

    dangkal termasuk pernyataan mengenai diri sendiri yang hanya menunjukkan

    permukaan saja dan tidak intim (seperti makanan kesukaan, dan lain sebagainya).

    d. Waktu

    Keterbukaan diri juga dapat diuji kaitannya dengan waktu yang terjadi dalam suatu

    hubungan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa keterbukaan diri yang baik

    terjadi dengan orang asing dan pada awal langkah hubungan, lebih sedikit terjadi pada

    pertengahan hubungan, dan keterbukaan diri meningkat pada waktu hubungan

    tersebut juga meningkat.

    e. Lawan Bicara

    Orang yang menjadi target keterbukaan diri adalah orang yang kepada siapa

    seseorang ingin membuka diri. Seperti terbuka pada pasangan ketika menikah, pada

    orang yang menjadi teman kencan, atau teman yang berjenis kelamin sama. Orang

    yang kepada siapa seseorang ingin membuka diri adalah penting dan dimensi akhir

    yang harus dilihat.

    Terdapat empat kategori orang yang dapat menjadi lawan bicara yaitu

    1) teman akrab yang sangat memperhatikan dan berhubungan dengannya,

    2) orang yang jarang berhubungan dengannya namun memiliki hubungan yang

    sedang berjalan, seperti memiliki tugas bersama, atau membicarakan topik yang

    sedang didiskusikan,

    3) pendengar yang sama sekali tidak memiliki hubungan, dan terjadi keterbukaan

    diri karena baru berkenalan,

    4) terakhir, adalah orang lain yang tidak berhubungan sama sekali dan menerima

    keterbukaan seseorang tanpa adanya permohonan yang dibuat.

    2. Pengertian Kesepian

    Kesepian menurut Deux, dkk (1993) didefinisikan sebagai suatu pengalaman

    subjektif yang tergantung bagaimana seseorang menginterpretasikan suatu peristiwa.

    Adakalanya seseorang mengalami kesepian meskipun seorang diri.

  • 7

    Sedangkan menurut Bruno (2000), kesepian adalah suatu keadaan mental dan

    emosional yang negatif ditandai terutama oleh adanya perasaan terasing dan

    kurangnya hubungan yang bermakna dengan orang lain. Selain itu, kesepian dapat

    diartikan sebagai bertambahnya ketidaktenangan pengalaman yang berhubungan

    dengan tidak tepatnya pelampiasan untuk berhubungan dengan sesama manusia untuk

    berhubungan perorangan (Sullivan dalam Peplau & Perlman, 1982). Kesepian tidak

    disebabkan sendirian tetapi disebabkan oleh keadaan tanpa kepastian akan hubungan

    persahabatan. Kesepian datang sebagai akibat dari ketiadaan suatu jenis hubungan,

    atau lebih tepatnya yang bersifat khusus (Weiss dalam Peplau & Perlman, 1982).

    Kesepian juga ketidaksesuaian pengalaman antara jenis hubungan yang sedang

    dialami seseorang pada saat itu, dan jenis hubungan yang ingin didapatkan,

    dipengaruhi juga oleh pengalaman masa lampau atau suatu tahap ideal yang belum

    pernah dialami sebelumnya (Sermat dalam Peplau & Perlman, 1982). Peplau dan

    Perlman (1982) mengemukakan bahwa kesepian merupakan pengalaman yang tidak

    menyenangkan, yang terjadi saat hubungan sosial seseorang menurun dalam beberapa

    hal yang penting, baik itu dalam kuantitas ataupun kualitas.

    Definisi lain tentang kesepian diungkap pula oleh Gordon (dalam Peplau &

    Perlman, 1982), bahwa kesepian merupakan perasaan tidak enak yang disebabkan

    oleh kekosongan akan suatu hubungan, rasa seolah ada yang kurang. Dan sejak timbul

    harapan untuk mengisi kekosongan, kesepian dapat disebut juga sebagai kebutuhan

    akan suatu hubungan khusus yang terpenuhi.

    Baron dan Byrne (1997) mengemukakan bahwa kesepian merupakan keadaan

    emosional yang berdasarkan dari keinginan untuk memiliki hubungan interpersonal

    yang dekat tetapi tidak bisa mendapatkannya.

    Berdasarkan dari berbagai definisi diatas maka dapat ditarik kesimpulan

    bahwa kesepian adalah suatu pengalaman subjektif, keadaan mental dan emosional

    yang negatif, perasaan tidak enak yang disebabkan oleh kekosongan akan suatu

    hubungan serta hubungan sosial yang menurun dalam beberapa hal yang penting, baik

    itu dalam kuantitas ataupun kualitas.

    Peplau dan Perlman (1982) menggolongkan manifestasi pengalaman kesepian

    ke dalam lima aspek, yaitu afektif, motivasional, kognitif, tingkah laku, serta aspek

    medis-sosial. Kelima aspek manifestasi tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut:

  • 8

    a. Manifestasi Afektif

    Kesepian diasosiasikan dengan emosi-emosi negatif seperti tertekan, sedih, cemas,

    tidak bahagia dan tidak puas. Berdasarkan suatu studi Russel, Peplau dan Ferguson

    (dalam Peplau dan Perlman, 1982) mengemukakan bahwa mahasiswa yang

    kesepian cenderung mudah marah, merasa canggung, merasa hampa dan terasing.

    b. Manifestasi Motivasional

    Kesepian diyakini dapat menurunkan motivasi seseorang. Sebuah studi oleh

    Perlman (dalam Peplau dan Perlman, 1982) mengemukakan bahwa orang yang

    kesepian cenderung memiliki pernyataan-pernyataan yang apatis dan pesimistis.

    Lebih lanjut Peplau dan Perlman (1982) mengemukankan bahwa kesepian bisa

    memiliki efek yang berbeda sesuai dengan perpektif waktu. Kesepian sesaat dapat

    menjadi pendorong motivasi, sedangkan kesepian yang berlangsung lama bisa

    membuat seseorang frustasi.

    c. Manifestasi Kognitif

    Beberapa bukti menunjukkan bahwa orang yang kesepian lebih sulit berkonsentrasi

    atau memfokuskan perhatiannya secara afektif (Perlman dalam Peplau dan

    Perlman, 1982). Mereka yang kesepian juga cenderung terfokus atau sangat

    memperhatikan segala detail keadaan dirinya sendiri (self-focused) serta sangat

    berhati-hati dalam berhubungan dengan orang lain. Orang yang kesepian umumnya

    kurang percaya terhadap orang lain, mengevaluasi diri sendiri secara negatif,

    menganggap orang lain juga menilai dirinya secara negatif, cenderung

    menyalahkan dirinya sendiri serta cenderung bersikap sinis terhadap orang lain

    maupun dunia secara umum.

    d. Manifestasi Tingkah Laku

    Orang yang kesepian pada umumnya menunjukkan pola pengungkapan diri (self

    disclosure) yang tertutup atau kurang intim, memiliki kecenderungan berteman

    yang rendah dan kurang mampu mengekspresikan afeksi dan keterlibatan diri

    dengan orang lain. Selain itu tingkah laku orang yang kesepian sering kali

    merefleksikan fokus pada diri yang tinggi dibandingkan mereka yang tidak

    kesepian. Hal ini misalnya nampak dari perilakunya yang sedikit mengajukan

    pertanyaan ketika berkomunikasi dengan orang lain (Jones dalam Peplau dan

    Perlman, 1982). Peplau dan Perlman (1982) mengatakan bahwa orang yang

    kesepian biasanya lebih pemalu, menarik diri, enggan mengambil resiko dalam

    situasi-situasi sosial dan kurang asertif dalam berinterakasi dengan orang lain.

  • 9

    Mereka cenderung menghabiskan waktu dalam aktivitas soliter, memiliki sedikit

    pasangan untuk kencan dan hanya memiliki kenalan atau teman biasa dari pada

    sahabat dekat (Bell dalam Baron dan Byrne, 1996).

    e. Manifestasi Medis Sosial

    Beberapa bukti menunjukkan kesepian bisa dikaitkan dengan beberapa masalah

    kesehatan (Brenna dan Auslander dalam Peplau dan Perlman, 1982) antara lain,

    mereka yang kesepian menunjukkan beberapa gejala gangguan fisik seperti

    gangguan pola makan, pola tidur, sakit kepala atau mual-mual. Lynch (dalam

    Peplau dan Perlman, 1982) mengemukakan pula bahwa orang yang kesepian pada

    umumnya rapuh terhadap penyakit-penyakit fisik dan sering menggunakan

    berbagai layanan kesehatan secara berlebihan.

    Subjek penelitian

    Subjek dalam penelitian ini adalah adalah mahasiswa tingkat pertama yang menyewa

    tempat hunian kost. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah sampling

    nonprobabilitas yaitu sampling purposive (bertujuan) dimana terdapat penilaian dan upaya

    cermat untuk memperoleh sampel yang representatif dengan cara meliputi kelompok-

    kelompok yang diduga sebagai anggota sampelnya (Kerlinger, 1986).

    Deskripsi subjek dilakukan dengan membagi subjek yang berjumlah 60 orang menjadi

    beberapa kelompok berdasarkan usia, jenis kelamin, dan lamanya tinggal. Pada kelompok ini

    dibagi-bagi lagi berdasarkan sub-sub bagiannya. Pada deskripsi subjek berdasarkan usia

    terdiri dari 17-18 tahun, 19-20 tahun, lebih dari 21 tahun. Sedangkan pada deskripsi jenis

    kelamin terdiri dari pria dan wanita. Kemudian lamanya tinggal terdiri dari 1-4 bulan, 5-8

    bulan, dan lebih dari 9 bulan.

    1) Usia

    Dalam penelitian ini terdapat penggolongan berdasarkan usia, yaitu dari 60 subjek yang

    diteliti, subjek berusia 17 sampai 18 tahun memiliki prosentase 56,67% (N=34) dan subjek

    berusia 19 sampai 20 tahun memiliki prosentase 38,33% (N=23). Sedangkan subjek

    berusia lebih dari 21 tahun memiliki prosentase 5% (N=3).

    2) Jenis Kelamin

    Dalam penelitian ini terdapat penggolongan berdasarkan jenis kelamin, yaitu dari 60

    subjek yang diteliti, subjek berjenis kelamin pria memiliki prosentase 37% (N=22) dan

    wanita memiliki prosentase 63% (N=38).

  • 10

    3) Lamanya Tinggal

    Dalam penelitian ini terdapat penggolongan berdasarkan lamanya tinggal subjek di tempat

    kost, yaitu dari 60 subjek yang tinggal selama 1 sampai 4 bulan memiliki prosentase 35%

    (N=21) dan subjek yang tinggal selama 5 sampai 8 bulan memiliki prosentase 45%

    (N=27). Sedangkan subjek yang tinggal selama lebih dari 9 bulan memiliki prosentase

    20% (N=12).

    Metode penelitian

    Variabel bebas (X) dalam penelitian ini adalah keterbukaan diri. Untuk mengukur

    tingkat keterbukaan diri seseorang digunakan alat ukur berupa skala keterbukaan diri yang

    berbentuk skala Likert dan disusun berdasarkan lima dimensi yang diungkapkan oleh Pearson

    (1983) yaitu jumlah (amount), positive/negative nature, kedalaman, lamanya waktu dan

    lawan bicara. Sedagkan variabel terikat (Y) adalah kesepian. Variabel ini akan diukur

    berdasarkan manifestasi pengalaman kesepian ke dalam lima aspek yang digolongkan oleh

    Peplau dan Perlman (1982) yaitu, afektif, motivasional, kognitif, tingkah laku dan medis-

    sosial.

    Pengujian validitas maupun reliabilitas, keduanya menggunakan bantuan program

    computer SPSS Ver 15.0 for windows. Pengujian hipotesis dalam penelitian ini menggunakan

    analisis korelasi yaitu untuk mengetahui hubungan keterbukaan diri sebagai variabel bebas

    (X) dengan kesepian sebagai variabel terikat (Y). Dimana jika data kedua variabel dikatakan

    normal maka akan digunakan teknik anilis Product Moment dari Pearson. Namun jika data

    variabel tidak memenuhi syarat diatas, maka akan digunakan uji korelasi non parametrik dari

    Spearman rho.

    Hasil Penelitian

    Pengambilan data dilakukan pada tanggal 15 Maret 2010, kepada 61 orang subjek

    penelitian. Eksemplar disebar kepada mahasiswa tingkat satu di Universitas Gunadarma

    Kampus G. Dari 61 angket yang disebar kepada subjek penelitian, hanya 60 angket yang

    dapat dianalisis karena sisa lainnya tidak diisi dengan lengkap.

    Pada skala kesepian, dari 40 item yang dianalisis diperoleh 32 item yang valid,

    sementara 8 item lainnya dinyatakan gugur. Korelasi skor total pada item-item valid bergerak

    antara 0,288 sampai 0,654. uji reliabilitas dilakukan dengan teknik Alpha Cronbach diperoleh

    angka koefisien reliabilitas sebesar 0,879 berarti alat ukur tersebut dikatakan cukup tingkat

  • 11

    kepercayaannya. Sedangkan pada skala keterbukaan diri, dari item yang dianalisis diperoleh

    25 item yang valid, sementara 15 item lainnya dinyatakan gugur. Korelasi skor total pada

    item-item valid bergerak antara 0,268 sampai 0,625. uji reliabilitas pada skala keterbukaan

    diperoleh angka koefisien reliabilitas sebesar 0,770 yang berarti alat ukur tersebut cukup

    sempurna tingkat kepercayaannya.

    Berdasarkan pengujian normalitas pada skala keterbukaan diri diperoleh signifikansi

    sebesar 0,200 pada Kolmogorov Smirnov (p > 0,05) dan Shapiro Wilk dengan signifikansi

    sebesar 0,412 (p > 0,05). Pengujian menunjukkan bahwa distribusi skor keterbukaan diri pada

    subjek penelitian yang telah diambil, normal. Sedangkan pada variabel kesepian hasil

    signifikan sebesar 0,000 pada Kolmogorov Smirnov (p < 0,05) dan Shapiro Wilk dengan

    signifikansi 0,003 (p < 0,05). Pengujian menunjukkan bahwa distribusi skor kesepian subjek

    penelitian yang telah diambil, tidak normal.

    Dari hasil pengujian regresi sederhana diperoleh nilai F sebesar 15,485 dengan

    signifikansi 0,000 (p < 0,05). Hasil pengujian ini menunjukkan bahwa hubungan variabel-

    variabel di atas linear.

    Berdasarkan analisa data yang dilakukan dengan menggunakan teknik uji korelasi

    Spearman rho, diperoleh koefisien korelasi sebesar -,425 dengan signifikansi sebesar 0,000

    (p < 0,05) diperoleh R square sebesar 0,211. Hal ini berarti terdapat korelasi keterbukaan diri

    secara signifikan terhadap kesepian dimana keterbukaan diri memberi sumbangan relatif

    sebesar 21,1% terhadap kesepian. Dari hasil tersebut terdapat hubungan negative antara

    keterbukaan diri dengan kesepian pada mahasiswa merantau yang tinggal di tempat kost, hal

    ini berarti semakin tinggi keterbukaan diri maka akan semakin rendah kesepian yang

    dirasakan, begitu juga sebaliknya. Dengan demikian hipotesis yang berbunyi ada hubungan

    keterbukaan diri dengan kesepian pada mahasiswa merantau yang tinggal di tempat kost,

    diterima.

    Berdasarkan perhitungan pada skala kesepian dimana mean empirik memiliki skor

    sebesar 66,56 yang berada diantara MH SDH < x MH + SDH (64 < x 96). Hal ini

    berarti secara umum subjek penelitian memiliki keterbukaan diri yang rata-rata. Sedangkan

    berdasarkan perhitungan skor skala keterbukaan diri memiliki mean empirik sebesar 70,56

    yang berada diantara MH SDH < x MH + SDH (49,9 < x 75,1). Hal ini berarti secara

    umum subjek penelitian memiliki keterbukaan diri yang rata-rata.

  • 12

    Pembahasan

    Penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan keterbukaan diri dengan kesepian

    pada mahasiswa merantau yang tinggal di tempat kost. Berdasarkan hasil uji korelasi

    Spearman rho yang telah dilakukan diketahui bahwa terdapat hubungan arah negatif antara

    keterbukaan diri terhadap kesepian pada mahasiswa merantau yang tinggal di tempat kost

    dimana jika keterbukaan diri semakin tinggi maka akan diikuti dengan kesepian yang rendah,

    begitu pula sebaliknya. Hal ini dikarenakan keterbukaan diri berperan dalam

    mengembangkan suatu hubungan. Ketika seseorang membagi informasi mengenai dirinya,

    orang lain mendapatkan pemahaman dan penerimaan yang lebih baik terhadap dirinya dan

    perilaku yang dimunculkannya sehingga apapun yang dilakukannya orang lain dapat

    memiliki penjelasan terhadap perilakunya tersebut. Sebaliknya, ketika seseorang tidak

    mengetahui mengenai orang lain dengan baik, ketika orang lain tidak melakukan keterbukaan

    diri, dan ketika ia hanya memiliki sedikit pemahaman terhadap orang lain terkadang ia akan

    menyimpulkan orang lain itu secara dangkal dan tidak menarik. Keterbukaan diri dapat

    membantu seseorang untuk memahami dan menghargai kompleksitas orang lain (Pearson,

    1983).

    Dari hasil penelitian juga diketahui bahwa keterbukaan diri tergolong dalam rata-rata

    atas, ini disebabkan karena lamanya subjek tinggal di tempat kost. Sesuai dengan yang

    diungkapkan oleh Pearson (1983) bahwa keterbukaan diri juga dapat diuji kaitannya dengan

    waktu yang terjadi dalam suatu hubungan. Durasi suatu hubungan mempengaruhi jumlah

    keterbukaan diri dan jenis keterbukaan diri yang muncul dengan tepat. Secara umum

    seseorang memulai dengan informasi yang tidak intim yang bersifat positif, netral, termasuk

    negatif. Mereka mengemukakan permulaan informasi dengan informasi negatif pada

    awalnya, diikuti dengan yang positif, kemudian netral. Menurut Darlega (1993) suatu

    hubungan berkembang seiring berjalannya waktu, demikian halnya dengan keterbukaan diri.

    Gagasan awal mengenai pengaruh waktu ini adalah bahwa kedalaman dan keluasan pesan

    akan selalu terus berkembang dan tiada berakhir. Individu akan mengungkapkan dirinya

    seiring berjalannya waktu dan bahwa hubungan akan berkembang terus, jadi keterbukaan diri

    senantiasa terus meningkat.

    Kesepian yang termasuk rata-rata bawah ini disebabkan kerena keterbukaan diri subjek

    yang telah berkembang. Menurut Altman dan Taylor (dalam Peplau dan Perlman, 1982)

    perkembangan persahabatan didasari atas kualiatas keterbukaan diri seperti komunikasi antar

    individu dengan meningkatkan lebih banyak informasi intim satu sama lain. Sejalan dengan

    perkembangan suatu hubungan dari yang dangkal sampai menjadi hubungan akrab, orang

  • 13

    akan semakin berani mengungkapkan hal-hal yang bersifat pribadi tentang dirinya. Hubungan

    juga akan berubah dari sempit menjadi semakin luas, sejalan dengan waktu topik

    pembicaraan semakin banyak, kegiatan yang diikuti bersama makin beragam.

    Keterbukaan diri memberi sumbangan relatif sebesar 21,1 % terhadap kesepian.

    Keterbukaan diri dapat mempengaruhi kesepian karena menurut Peplau dan Perlman (1982)

    kesepian merupakan refleksi dari kurangnya dari kondisi atau sesuatu, sedangkan penawar

    kesepian meliputi kontak dengan orang lain, kedekatan dengan orang lain, hubungan yang

    berarti dan intimasi. Jourard, Darlega dan Chaikin (dalam Peplau dan Perlman, 1982)

    mengatakan bahwa intimasi adalah keterbukaan diri. Menurut Pearson (1983) makin banyak

    kita berbagi informasi dengan orang lain, maka kita akan makin mengerti mereka. Sama

    halnya semakin kita terbuka, semakin orang lain mengerti kita. Terdapat tiga keuntungan

    yang didapat dari kemampuan untuk terbuka, yaitu kita dapat mengembangkan pemahaman

    dan penerimaan diri kita, kita dapat mengembangkan pemahaman dan penerimaan orang lain

    serta kita juga dapat mengembangkan lebih dalam hubungan yang berarti. Sehingga intimasi

    dapat terjadi dan dapat terhindar dari kesepian (Peplau dan Perlman, 1982). Sisanya dapat

    dipengaruhi oleh faktor lain seperti penyesuaian diri yang dilakukan subjek selama dua

    semester. Orang yang memiliki penyesuaian diri yang baik adalah orang yang dengan cepat

    mampu mengelola dirinya menghadapi perubahan-perubahan yang terjadi. Keberhasilan

    melakukan penyesuaian diri dalam menjalankan peranan sebagai mahasiswa akan

    mempengaruhi keberhasilan mereka selama menjalani studi maupun kehidupan selanjutnya

    (Siswanto, 2007). Mahasiswa memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk mengatasi

    kesepian

    Kesimpulan

    Berdasarkan hasil penelitian, dapat diketahui bahwa terdapat hubungan keterbukaan

    diri yang signifikan terhadap kesepian pada mahasiswa merantau yang tinggal di tempat kost.

    Hubungan tersebut bersifat negatif dimana jika keterbukaan diri dirasakan tinggi maka akan

    diikuti dengan kesepian yang rendah, begitu juga sebaliknya. Dari hasil penelitian juga

    diketahui bahwa subjek memiliki keterbukaan diri yang tergolong rata-rata atas dan kesepian

    yang berada pada rata-rata bawah. Disamping itu, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa

    keterbukaan diri memberikan sumbangan relatif sebesar 21,1% terhadap kesepian. Sisanya

    dapat dipengaruhi oleh faktor penyesuaian diri, harapan positif, kepribadian, optimisme, dan

    harga diri.

  • 14

    Referensi

    Baron, R. A. & Byrne, D. (1994). Social psychology: Understanding humani interaction.

    New York: Simon & Schucter Inc.

    Derlega, V. J. & Margulis S. T. (1993). Self disclosure. New Bury Park: Sage Publication inc.

    Johnson, W. David. (1990). Reaching out; Interpersonal effectivenss and self actualization.

    Printice Internasionalin Jersey.

    Kerlinger, F. N. (1986). Asas-asas penelitian behavioral (3rd

    ed). Yogyakarta : Gadjah Mada

    University Press.

    Pearson, J.C. (1983). Interpersonal communication: Clarity, confidence, concern. Illinois :

    Scott, Foresman and Company.

    Peplau, A. And Perlman, D. (1982). Loneliness: A source book of current theory, research

    and therapy. New york: John Wiley Interscience.

    Sears, D. O., Jonathan L. F., & Anne, L. P. (1994). Psikologi sosial. Jilid 1. Alih bahasa:

    Michael Adryanto, Savitri Soekrisno. Jakarta: Erlangga.

    Siswanto. (2007). Kesehatan mental: Konsep, cakupan dan perkembangannya. Yogyakarta:

    C.V Andi Offset.