Click here to load reader

Sistem politik indonesia amandemen uud

  • View
    58

  • Download
    3

Embed Size (px)

Text of Sistem politik indonesia amandemen uud

  1. 1. Tugas Sistem Politik Indonesia Analisis Perubahan/ Amandemen UUD 1945 Disusun oleh: Yudi Bowo Prasetya (071311133051) PRODI ILMU ADMINISTRASI NEGARA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS AIRLANGGA SURABAYA
  2. 2. 1 Analisis Perubahan/ Amandemen UUD 1945 Amandemen adalah proses perubahan terhadap ketentuan dalam sebuah peraturan. Berupa penambahan maupun pengurangan/ penghilangan ketentuan tertentu. Amandemen hanya merubah sebagai ( kecil ) dari peraturan. Sedangkan penggantian peraturan terhadap ketentuan dalam UUD 1945. UUD 45 adalah UUD sementara. Para pakar hukum tata negara telah mengemukakan bahwa para perumus UUD 45 sendiri sebenarnya menyadari bahwa UUD tersebut merupakan UUD sementara yang harus segera diselesaikan karena dorongan situasi strategis untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Sejarah pun tidak mendustakan hal itu. Soekarno sebagai ketua Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) ketika membuka sidang pertama PPKI pada Rapat Besar tanggal 18 Agustus 1945, menyatakan: " Tuan-tuan semuanya tentu mengerti bahwa undang- undang dasar yang kita buat sekarang ini adalah undang-undang dasar sementara. Kalau boleh saya memakai perkataan, ini adalah undang-undang dasar kilat. Nanti kalau kita telah bernegara di dalam suasana yang lebih tentram, kita tentu akan mengumpulkan kembali majelis perwakilan rakyat yang dapat membuat undang-undang dasar yang lebih lengkap dan lebih sempurna." Pernyataan Soekarno itu dibuktikan dengan adanya pembuatan konsitusi lain, yaitu UUD 1949, UUDS 1950, dan pembuatan UUD baru oleh Badan Konstituante tahun 1959 yang dihentikan oleh Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Status kesementaraan itu juga termaktub dalam UUD 45 pasal 3 dan butir 2 Aturan Tambahan. Dengan demikian, meskipun UUD 45 masih berlaku hingga sekarang, namun status kesementaraannya tidak berubah. Alasan kedua, UUD 45 memiliki banyak kelemahan. kelemahan-kelemahan itu menjadi dua jenis, yaitu kelemahan konseptual dan kelemahan konstruksi hukum. UUD 45 yang hanya berisi 37 pasal terlalu sederhana untuk sebuah konstitusi negara. Dengan adanya kesederhanaan itu, pelaksanaan UUD 1945 diatur lebih lanjut dengan undang-undang (UU). Kondisi ini membuka peluang terjadinya penyelewengan- penyelewengan oleh pembuat UU sebagaimana terjadi selama ini. Sistem pemerintahan yang memberi kekuasaan terlalu besar kepada presiden serta prinsip kedaulatan rakyat yang diwakilkan melalui MPR seperti diatur UUD 45, telah terbukti menyebabkan penyalahgunaan kekuasaan, menimbulkan kekuasaan otoriter, korup dan menindas rakyat, serta menciptakan penyelenggaraan negara yang buruk. Pada awal pemberlakuan UUD 45 (1945-1949), perputaran roda pemerintahan sangat bergantung kepada presiden. Banyaknya masalah yang tidak bias diselesaikan UUD 45 telah melahirkan Maklumat Wakil Presiden No X soal kedudukan Komite Nasional Indonesia menjadi pembantu presiden, serta perubahan sistem pemerintahan dari presidensiil ke parlementer. Periode 1959-1966, juga muncul pemerintahan otoriter dengan konsep demokrasi terpimpin yang dijalankan oleh Presiden Soekarno. Sedang pada periode 1966-1998, UUD 45 juga tak mampu menghentikan munculnya pemerintahan otoriter Orde Baru yang otoriter, korup dan banyak melanggar hak asasi manusia. Alasan ketiga perlunya amandemen UUD 45 adalah bahwa memiliki UUD baru merupakan kebutuhan mendesak reformasi konstitusional. UUD baru pada dasarnya kontrak sosial baru sebagai wujud kehendak bersama, yang harus dibuat dan ditentukan secara bersama pula. UUD baru milik bersama seluruh rakyat, bukan milik elite-elite politik di MPR. Oleh karena itu, penyusunan UUD baru harus berangkat dari jiwa dan semangat yang dapat dimengerti oleh seluruh rakyat.
  3. 3. 2 Perubahan/ Amandemen UUD 1945 (19 Oktober 1999 - sekarang) Tujuan perubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD 1945) untuk: 1. Menyempurnakan aturan dasar mengenai tatanan negara dalam mencapai tujuan nasional yang tertuang dalam Pembukaan UUD 1945 dan memperkokoh Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila. 2. Menyempurnakan aturan dasar mengenai jaminan dan pelaksanaan kedaulatan rakyat serta memperluas partisipasi rakyat agar sesuai dengan perkembangan paham demokrasi. 3. Menyempurnakan aturan dasar mengenai jaminan dan perlindungan hak asasi manusia agar sesuai dengan perkembangan paham hak asasi manusia dan peradaban umat manusia yang sekaligus merupakan syarat bagi suatu negara hukum yang dicita-citakan oleh UUD 1945. 4. Menyempurnakan aturan dasar mengenai kehidupan bernegara dan berbangsa sesuai dengan perkembangan aspirasi, kebutuhan serta kepentingan bangsa dan negara Indonesia dewasa ini sekaligus mengakomodasi kecenderungannya untuk kurun waktu yang akan datang. Perubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 yang dilakukan MPR, merupakan bentuk tuntutan reformasi. Terdapat lima kesepakatan dasar berkaitan dengan perubahan UUD 1945 yaitu: 1. Tidak mengubah Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Tahun 1945 (UUD 1945). 2. Tetap mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia. 3. Mempertegas sistem pemerintahan presidensial. 4. Penjelasan UUD 1945 ditiadakan serta hal-hal normatif dalam penjelasan dimasukkan dalam pasal-pasal. 5. Melakukan perubahan dengan cara adendum (artinya perubahan itu dilakukan dengan tetap mempertahankan naskah asli UUD 1945 sesuai dengan yang terdapat dalam Lembaran Negara Nomor 75 Tahun 1959 dan naskah perubahan diletakkan melekat pada naskah asli). Amandemen 1 disahkan pada tanggal 19 Oktober 1999, terdiri dari 9 pasal yaitu: pasal 5, pasal 7, pasal 9, pasal 13, pasal 14, pasal 15, pasal 17, pasal 20, pasal 21. Inti perubahan adalah pergeseran kekuasaan presiden yang dinilai terlampau kuat. (diantaranya: pasal 7 memuat peraturan bahwa presiden dan wakil presiden memegang jabatan selama lima tahun dan dapat dipilih kembali hanya untuk satu kali masa jabatan). Amandemen 2 disahkan 18 agustus 2000, terdiri dari 5 bab dan 25 pasal yaitu: Pasal 18; Pasal 18A; Pasal 18B; Pasal 19; Pasal 20; Pasal 20A; Pasal 22A; Pasal 22B; Bab IXA, Pasal 25E; Bab X, Pasal 26; Pasal 27; Bab XA, Pasal 28A; Pasal 28B; Pasal 28C; Pasal 28D; Pasal 28E; Pasal 28F; Pasal 28G; Pasal 28H; Pasal 28I; Pasal 28J; Bab XII, Pasal 30; Bab XV, Pasal 36A; Pasal 36B; Pasal 36C Inti perubahan tentang Pemerintah Daerah, DPR dan Kewenangannya, Hak Asasi Manusia, Lambang Negara dan Lagu Kebangsaan. (diantaranya pasal 18 dari Pembagian daerah Indonesia atas daerah besar dan kecil, dengan bentuk susunan
  4. 4. 3 pemerintahannya ditetapkan dengan undang-undang, dengan memandang dan mengingati dasar permusyawaratan dalam sistem pemerintahan negara, dan hak-hak asal-usul dalam daerah-daerah yang bersifat istimewa diamandemen menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah-daerah provinsi dan daerah provinsi itu dibagi atas kabupaten dan Kota, yang tiap-tiap provinsi, kabupaten, dan kota itu mempunyai pemerintahan daerah, yang diatur dengan undang-undang). Amandemen 3 disahkan 10 November 2001 Perubahan 3 Bab dan 22 Pasal: Pasal 1; Pasal 3; Pasal 6; Pasal 6A; Pasal 7A; Pasal 7B; Pasal 7C; Pasal 8; Pasal 11; Pasal 17, Bab VIIA, Pasal 22C; Pasal 22D; Bab VIIB, Pasal 22E; Pasal 23; Pasal 23A; Pasal 23C; Bab VIIIA, Pasal 23E; Pasal 23F; Pasal 23G; Pasal 24; Pasal 24A; Pasal 24B; Pasal 24C. Inti Perubahan: Bentuk dan Kedaulatan Negara, Kewenangan MPR, Kepresidenan, Impeachment, Keuangan Negara, Kekuasaan Kehakiman. (diantaranya pasal 1 ayat 2 dari Kedaulatan adalah di tangan rakyat, dan dilakukan sepenuhnya oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat di amandemen menjadi Kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang-undang Dasar). Amandemen 4 disahkan 10 Agustus 2002 Perubahan 2 Bab dan 13 Pasal: Pasal 2; Pasal 6A; Pasal 8; Pasal 11; Pasal 16; Pasal 23B; Pasal 23D; Pasal 24; Pasal 31; Pasal 32; Bab XIV, Pasal 33; Pasal 34; Pasal 37. Inti perubahan: DPD sebagai bagian MPR, Penggantian Presiden, pernyataan perang, perdamaian dan perjanjian, mata uang, bank sentral, pendidikan dan kebudayaan, perekonomian nasional dan kesejahteraan sosial, perubahan UUD. (diantaranya pasal 2 ayat 1 dari Majelis Permusyawaratan Rakyat terdiri atas anggota-anggota Dewan Perwakilan Rakyat, ditambah dengan utusan-utusan dari daerah-daerah dan golongan- golongan, menurut aturan yang ditetapkan dengan undang-undang diamandemen menjadi Majelis Permusyawaratan terdiri atas anggota-anggota Dewan Perwakilan Rakyat, dan anggota Dewan Perwakilan Daerah yang dipilih melalui pemilihan umum dan diatur lebih lanjut dengan undang-undang). 1.1 Tabel Amandemen UUD 1945 Amandemen I Amandemen II Amandemen III Amandemen IV Pasal 5 ayat 1 Pasal 18 ayat 1 7 Pasal 1 ayat 2 dan 3 Pasal 2 ayat 1 Pasal 7 Pasal 18A ayat 1 dan 2 Pasal 3 ayat 1, 3, dan 4 Pasal 6A ayat 4 Pasal 9 Ayat 1 dan 2 Pasal 18B ayat 1 dan 2 Pasal 6 ayat 1 dan 2 Pasal 8 ayat 3 Pasal 13 ayat 2 dan 3 Pasal 19 ayat 1 3 Pasal 6A ayat 1-5 Pasal 11 ayat 1 Pasal 14 ayat 1 dan 2 Paasal 20 ayat 5 Pasal 7A Pasal 16 Pasal 15 Pasal 20A ayat 1 4 Pasal 7B ayat 1 7 Bab IV Dewan Pertimbangan Agung : Pasal 23 B, Pasal 23 D, Pasal 24 ayat 3 Pasal 17 ayat 2 dan 3 Pasal 22A, pasal 22B Pasal 7C Bab XII Pendidikan dan Kebudayaan : Pasal 31 ayat 1-5, Pasal 32 ayat 1-2,
  5. 5. 4 Pasal 20 ayat 1 4 Bab IXA Wilayah Negara : Pasal 25E Pasal 8 ayat 1 dan 2 Bab XIV Perekonomian Nasional dan Kesejahteraan Sosial : Pasal 33 ayat 4 dan 5, Pasal 34 ayat 1-4, Pasal 37 ayat 1-5 Pasal 21 Bab X Warga Negara dan Penduduk : Pasal 26 ayat 2 dan 3 Pasal 11 ayat 2 dan 3 Aturan Peralihan : Pasal I, Pasal II, Pasal III Bab XA Hak Asasi Manusia : Pasal 28A, Pasal 28B ayat 1-2, Pasal 28C ayat 1-2, Pasal 28D ayat 1-4, Pasal 28E ayat 1-3, Pasal 28F, Pasal 28G ayat 1-2, Pasal 28H ayat 1-4, Pasal 28I ayat 1-5, Pasal 28J ayat 1-2 Pasal 17 ayat 4 Aturan Tambahan : Pasal I, Pasal II Bab XII Pertahanan dan Keamanan Negara : Pasal 30 ayat 1 5 Bab VIIA Dewan Per