Alone Long Way From Home

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Buat para Backpackers dari Nuran Wibisono dan Ayos Purwoaji, sayang kalau tulisan ini tidak dibagi bersama...

Text of Alone Long Way From Home

Catatan Perjalanan Menyusuri Daratan Jawa Hingga Flores

Longway From HomeNuran Wibisono Ayos Purwoaji

Alone

All You Have To Do Is Take the First StepSebuah prolog

A

ku percaya, backpacking adalah hasil perpaduan seimbang dari passion dan environment. Aku mengamini hipotesa bahwa passion dan environment sama pentingnya untuk membentuk karakter seseorang, termasuk kemauan untuk backpacking. Backpacking adalah masalah kemauan. Dimana orang menghabiskan waktu senggangnya dengan memanggul ransel, mengelilingi kota, wajah tertampar debu dan angin, serta rambut yang selalu berbau matahari. Sudikah Anda melakukannya di saat temanteman Anda berpesta pora, bermotor mengelilingi kota dimalam hari sambil sesekali menggoda wanita cantik? Backpacking bukan sekedar masalah uang. Uang adalah nomor terakhir kalau menyangkut backpacking. Kemauan adalah faktor yang paling utama. Pepatah tua bilang; dimana ada kemauan disitu ada jalan. Jadi yang kalian butuhkan pertama kali adalah kemauan, lain tidak! Banyak orang berduit tapi bahkan tidak pernah ke kota sebelah, sebaliknya banyak orang tak berduit tapi malah bisa keliling dunia. Term backpacker menurut hematku adalah orang yang pergi dengan ransel, budget terbatas, dan dalam perjalanannya ia menyelami kehidupan. Pandanganku soal backpacking sangat dipengaruhi oleh Gola Gong. Aku belajar banyak soal bakcpacking dari buku dan catatan perjalanannya. Termasuk bagaimana seharusnya seorang backpacker harus bisa menyelami kehidupan selama perjalanannya. Perjalanan ini dimulai ketika aku dan seorang sahabat, Ayos namanya, bertemu dan saling bercerita tentang pengalaman hidup. Kami sama-sama menggilai backpacking. Saya ingat,

Nuran Wibisono

setahun lalu kami saling memaki, karena sama-sama iri pada tempat yang kami kunjungi. Tahun lalu saya pergi ke Kalimantan untuk menikmati birunya langit dan lautan pulau Derawan. Sedangkan Ayos pergi ke tanah Laskar Pelangi, Belitung. Dan ya, waktu itu kami pergi sendiri-sendiri. Makanya kami saling memaki, kenapa kami tidak saling mengajak ketika pergi berpetualang? Nah, saat itulah kami berikrar kalau suatu saat kami harus berpetualang bersama. Kami menabung mulai saat itu juga. Saya mengumpulkan receh uang hasil kerja saya menerjemahkan teks lintas bahasa, sedang Ayos mengumpulkan lembar rupiah dari honor dia menulis di berbagai media.Backpacking bukan sekedar masalah uang. Uang adalah nomor terakhir kalau menyangkut backpacking.

api sampai sekarang, ada satu pertanyaan yang belum bisa kami jawab; apa yang kita cari ketika backpacking? Itu adalah pertanyaan klise yang bakal berujung klise juga. Mungkin saat ini kami hanya bisa menjawab, kita hanya mencari kedamaian dan wawasan. Termasuk pelajaran kemanusiaan yang tidak akan mungkin bisa kita dapatkan di bangku sekolah maupun kuliah. Hanya dunia yang bisa mengajarkan kemanusiaan dengan nyata. Aku berani menjamin, ketika kalian selesai backpacking (bukan piknik atau berwisata), kalian pasti akan malu sendiri kalau hanya bisa mengeluh soal keadaan ataupun mengeluh soal hidup. Percayalah padaku, dunia adalah sekolah paling bagus, dan backpacking adalah mata pelajaran paling menyenangkan. Backpacking juga mengajarkan nasionalisme. Soe Hok Gie pernah berkata lantang, bagaimana mungkin kita menjadi nasionalis kalau kita tidak mengetahui keindahan Indonesia dengan mata kepala sendiri? Tak perlu menjadi merah, hijau atau biru untuk menjadi nasionalis. Cukup dengan mengenal sendiri keindahan Indonesia, niscaya kalian akan otomatis menjadi nasionalis. Aku sangat setuju. Buku ini kami buat bukan untuk pamer, tapi ini adalah upaya kami untuk melawan lupa sekaligus memberitahukan kepada dunia tentang indahnya Indonesia Raya. Jangan mau hanya menonton keindahan Indonesia yang ada di layar kaca dalam liputanliputan news feature. Silahkan datang dan rasakan sendiri, menangislah jika selama ini Anda tidak pernah mengenal dan mencintai Indonesia secara lengkap. Hail backpacking! []

T

Kami juga memutuskan untuk memakai sepeda motor butut Astrea Grand tahun 1996 sebagai sarana transportasi utama. Jika Che Guevara dan Alberto Granado memberi nama motor mereka dengan nama La Pedrosa, maka kami menamai sepeda butut kami; Kebo. Ia juga pemain utama dalam perjalananan ini. Selama perjalanan ini kami berhasil membuktikan teori setidaknya pada diri kami sendiri bahwa tidak perlu uang banyak untuk bisa berpetualang. Bayangkan, dengan uang 900 ribu rupiah per orang kami sudah bisa melintasi Bali, Lombok, Sumbawa, Pulau Moyo, Flores, hingga ke Pulau Komodo. ***

Bali

Experiencing Otherside

Holy Cloves LandText and photo

Ayos Purwoaji

ali seems usual, itu jika Anda kaitkan dengan Kuta dan Tanah Lot. Kebetulan saya dan Nuran punya kesenangan yang sama: kami rada alergi pada tempat yang touristy. Bukannya apa, tapi kami berdua ini memang tipe pria rapuh yang melankolis dimana semua wanita yang melihat akan merasa ingin memeluk. Kami pun mencoba mencari tempat-tempat relatif masih sepi dan jauh dari hingar bingar. Kebo yang sudah on fire pun saya gas menuju utara Bali. Daerah Bali Utara memang suatu antitesis dari Bali Selatan yang ramai dan panas. Sisi Bali Utara menawarkan ketenangan batin dibalut dengan indahnya lanskap pegunungan yang berkabut. Kami bersepeda menyusuri Kintamani, mengagumi keindahan Gunung Batur, dan melihat orang Kintamani yang berpipi merah. Setelahnya kami melewati desa Catur dan menuju Jembatan Tukad Bangkung. Tapi sebenarnya Kintamani bukanlah tujuan utama kami. Destinasi yang sebenarnya adalah desa Pegayaman, sebuah desa kecil di Buleleng, letaknya dekat dengan air terjun Gitgit yang terkenal itu. Desa Pegayaman adalah sebuah desa muslim dengan kultur Hindu Bali yang kental. Saya tahu keberadaan desa ini dari seorang kawan yang tinggal di Kampung Madura di Kintamani. Pertama kali masuk desa ini saya agak underestimate, karena yang saya bayangkan sebelumnya adalah sebuah

B

desa yang penuh dengan arsitektur Bali namun semua penduduknya muslim. Ternyata saya salah besar, bangunan di desa Pegayaman sih sebenarnya bangunan biasa, tidak ada altar kecil atau pura rumah khas Bali. Hanya saja mereka mempunya akar budaya yang unik dengan ritual keagamaan khas Pegayaman.

Buleleng saat itu menghadiahi sebidang tanah yang sangat luas di sudut daerah kekuasaannya. Karena kerajaan Mataram adalah sebuah kerajaan Islam, maka penduduk desa Pegayaman pun otomatis semuanya muslim. Hingga saat ini tradisi keagamaan di desa Pegayaman sangat kental. Bahkan Hisni yang merupakan generasi ketujuh pun masih

Meski mayoritas muslim, tapi hampir semua penduduk Pegayaman masih menggunakan adat Bali untuk menamai anak mereka

H

*** isni Sholeh (50) adalah ketua takmir Masjid Jamik Safinatussalam, masjid satusatunya di desa Pegayaman. Pak Hisni sangat senang ketika kami jelaskan bahwa kami dari Jawa Timur, selepas SD dia memang merantau ke Jawa Timur untuk belajar di beberapa pondok pesantren. Bahasa Jawa pak Hisni lancar sekali, tapi dia tidak dapat menyembunyikan logatnya yang sangat Bali. Lulusan IAIN Sunan Ampel Surabaya ini bercerita tentang sejarah desa Pegayaman dengan penuh semangat. Mereka adalah keturunan langsung tentara Mataram yang datang ke Bali untuk menolong kerajaan Buleleng dari serbuan tentara Blambangan. Karena tentara Mataram mampu mengusir pasukan dari Blambangan, maka raja

kuat memegang tradisi yang diturunkan oleh nenek moyangnya. Salah satu yang terbesar adalah perayaan Maulid Nabi. Memperingati hari lahir Nabi Muhammad SAW merupakan sebuah keistimewaan di Pegayaman. Seluruh penduduk desa berbaur membuat sebuah perayaan besar dan membuat masakan yang bisa dinikmati oleh seluruh penduduk kampung. Pada tanggal 12 Rabiul Awal akan diadakan sebuah parade rebana. Tapi bukan sembarang rebana, penduduk Pegayaman menyebutnya burdah, rebana berdiameter besar. Tradisi burdah sangat otentik, kita hampir tidak bisa menemukan tradisi ini di seluruh Jawa, kerajaan Mataram juga tidak mempunyai tradisi burdah. Hisni mengatakan jika tradisi ini berawal dari Malaysia. Komposisi masyarakat Pegayaman sendiri memang unik,

penduduknya tidak semua keturunan Jawa Mataram, ada juga yang memiliki akar keturunan Bugis, Hindu Bali, dan Malaysia. Sehari setelahnya, yaitu pada tanggal 13 Rabiul Awal diadakan sebuah pawai budaya yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat Pegayaman. Mengenakan pakaian unik, semua bersuka ria, makan enak, dan tertawa. Bergembira menyambut kelahiran Nabi Muhammad SAW. Acara ini beberapa kali dijadikan sebagai news feature di beberapa stasiun tivi. Hal unik lainnya adalah masalah nama. Meski mayoritas muslim, tapi hampir semua penduduk Pegayaman masih menggunakan adat Bali untuk menamai anak mereka. Anak pertama mereka beri nama Wayan, anak kedua Nengah, dan Nyoman untuk anak ketiga. Bedanya

dengan Hindu Bali, setelah anak keempat diberi nama Ketut, maka anak kelima dan seterusnya juga diberi awalan Ketut. *** ebagian besar penduduk Pegayaman adalah petani, mereka menanam kopi dan padi, juga rempah-rempah. Kesan saya pertama kali masuk desa Pegayaman adalah desa ini berbau cengkeh, ternyata benar dugaan saya, mereka sedang panen cengkeh dan penduduk desa menjemur cengkeh di pelataran rumah-rumah mereka. Saat meninggalkan Pegayaman pun saya masih membaui harum cengkeh desa Pegayaman, meski lamatlamat hilang digantikan bau knalpot si Kebo yang sudah ngos-ngosan menempuh ratusan kilometer dalam sehari. []

S

froggy stylesText Nuran photo Ayos

Wibisono Purwoaji

ata siapa kalian butuh jutaan rupiah untuk bisa berbelanja baju sepuasnya di Bali? Anggapan itu terpatahkan oleh adanya frog market, atau orang Bali biasa menyebutnya sebagai pasar kodok atau OB. Frog market adalah sebuah tempat di daerah Tabanan yang menjual baju-baju second dengan kualitas baik dan harga murah. Tidak hanya baju, bahkan dis