of 34/34
32 BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Sekolah Kristen Lentera 4.1.1 Sejarah Sekolah Kristen Ambarawa menjadi Sekolah Kristen Lentera Ambarawa Sekolah Kristen di Ambarawa dimulai pada masa sebelum perang dunia kedua dengan kehadiran sekolah H.C.S Met den Bijbel yang melanjutkan pelayanan Zendeling Baard untuk mengadakan pelayanan pemberantasan buta huruf di kalangan masyarakat Ambarawa. Akan tetapi, saat terjadinya perang dunia kedua sekolah HCS terpaksa ditutup. Melihat kondisi demikian, pada akhirnya beberapa orang yakni Sdr. Oie Ping Hoo, Sdr. Ang Liem Tjhiang dan beberapa rekannya terpanggil untuk melayani sekolah Kristen pada masa pendudukan Jepang. Mereka bersama dengan seorang yang berasal dari Belanda yakni Nn. Dorst pada tahun 1945 memulai merintis sekolah Kristen satu-satunya di Ambarawa pada saat itu. Namun, pada tahun 1950 sekolah Kristen di Ambarawa kembali ditutup sejalan dengan kepulangan Nn. Dorst ke Negeri Belanda (Koesomo 2011). 1 Agustus 1954 dicatat sebagai tanggal berdirinya lagi Sekolah Kristen Ambarawa di era kemerdekaan RI. Perjalanan panjang sekolah ini dimulai pada waktu masuknya Jepang dengan sekolah yang sangat

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum …repository.uksw.edu/bitstream/123456789/4193/5/T2_942011033_BAB IV.pdf · 4.1.3 Struktur Organisasi Sekolah Kristen Lentera Robbin

  • View
    217

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum...

32

BAB 4

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Gambaran Umum Sekolah Kristen Lentera

4.1.1 Sejarah Sekolah Kristen Ambarawa menjadi

Sekolah Kristen Lentera Ambarawa

Sekolah Kristen di Ambarawa dimulai pada masa

sebelum perang dunia kedua dengan kehadiran sekolah

H.C.S Met den Bijbel yang melanjutkan pelayanan

Zendeling Baard untuk mengadakan pelayanan

pemberantasan buta huruf di kalangan masyarakat

Ambarawa. Akan tetapi, saat terjadinya perang dunia

kedua sekolah HCS terpaksa ditutup. Melihat kondisi

demikian, pada akhirnya beberapa orang yakni Sdr. Oie

Ping Hoo, Sdr. Ang Liem Tjhiang dan beberapa

rekannya terpanggil untuk melayani sekolah Kristen

pada masa pendudukan Jepang. Mereka bersama

dengan seorang yang berasal dari Belanda yakni Nn.

Dorst pada tahun 1945 memulai merintis sekolah

Kristen satu-satunya di Ambarawa pada saat itu.

Namun, pada tahun 1950 sekolah Kristen di Ambarawa

kembali ditutup sejalan dengan kepulangan Nn. Dorst

ke Negeri Belanda (Koesomo 2011).

1 Agustus 1954 dicatat sebagai tanggal berdirinya

lagi Sekolah Kristen Ambarawa di era kemerdekaan RI.

Perjalanan panjang sekolah ini dimulai pada waktu

masuknya Jepang dengan sekolah yang sangat

33

tergantung pada situasi perang pada masa itu

(www.sekolah.lentera.org). Kegiatan belajar dan

mengajar mulai berjalan lagi dan mengambil tempat di

rumah Sdr. Siauw Oen Nio, dengan seorang pengajar

Sdr. E. Goei Gwat Bing yang melayani 7 orang murid.

Kemudian terjadi perpindahan lokasi lagi ke rumah

sewaan milik Sdr. Kwee Kiem Gie, JL . Jend. Sudirman

No. 117 Ambarawa. Setiap tahun jumlah murid terus

bertambah sehingga lokasi sekolah tidak memadai

untuk kegiatan belajar mengajar. Oleh karena itu,

melalui seorang Pendeta yakni Ds. Tan Ik Hay,

dilakukan pembangunan gedung sekolah tahun 1956.

Tahun 1957 Sekolah Kristen Ambarawa pindah ke Jl.

Dr. Cipto Mangunkusumo 20 Ambarawa dengan

fasilitas 4 buah lokal, untuk 6 kelas SR (SD) dan satu

kelas TK. Tahun 1961 atas kerjasama pengurus

sekolah dengan Majelis GKI Salatiga, para Pendeta

GKJ, Kepala SR (SD) Kristen Kupang dan Girimargo,

maka dibukalah SMP Kristen menempati bekas Gedung

Ketoprak (Koesomo 2011).

Sekolah Kristen sejak awal kehadirannya adalah

milik GKI Ambarawa dan dikelola sendiri oleh pihak

GKI. Akan tetapi, sekitar tahun 1961 jemaat GKI

Ambarawa mulai mengalami kesulitan dalam hal

pengelolaan sekolah karena situasi yang dihadapi pada

masa itu. Kondisi demikian pada akhirnya membuat

Sekolah Kristen Ambarawa diampukan kepada Yayasan

34

PSAK Semarang (Wawancara tanggal 14 Juni 2013

dengan Ibu Ratna selaku Ketua Yayasan Lentera

Edukasi).

Sejak dikelola oleh Yayasan PSAK pada tahun

1961, Sekolah Kristen Ambarawa menjadi salah satu

sekolah yang berkembang dan terkenal. Akan tetapi,

seiring berjalannya waktu yaitu sekitar tahun 1990an

Sekolah Kristen yang dikelola oleh Yayasan PSAK mulai

mengalami kemerosotan. Menurut Ketua Yayasan

lentera Edukasi, hal tersebut disebabkan karena

pengelolaan sekolah yang dirasa kurang maksimal

dilakukan oleh Yayasan PSAK. Oleh karenanya, pihak

GKI berkeinginan untuk dapat kembali mengelola

Sekolah Kristen yang merupakan milik GKI.

Pendapat yang berbeda dikemukakan oleh salah

satu pengurus Yayasan PSAK yang mengatakan bahwa

pergantian sekolah yang terjadi tidak disebabkan

karena ketidakmampuan Yayasan PSAK dalam

mengelola sekolah melainkan adanya permasalahan

yang terjadi antara YPSAK dan pihak gereja (GKI)

tentang status tanah yang selama ini dihibahkan untuk

sekolah (Wawancara tanggal 6 April 2013). Meskipun

terdapat berbagai pendapat tentang latar belakang

terjadinya pergantian, hal tersebut tidak menimbulkan

permasalahan yang serius antar kedua pihak tersebut.

Keinginan GKI untuk dapat kembali memiliki

Sekolah Kristen milik Gereja terus diupayakan dan

35

disampaikan kepada pihak Yayasan PSAK meskipun

hasilnya tetap mengecewakan. Pada tahun 2000,

Majelis Jemaat Yang diwakili Pdt. Budimoeljono

Reksosoesilo, S.Th, Pnt. Legiman Haryo Koesemo, Pnt.

Tang Lan Hoa dan beberapa anggota jemaat yang tahu

tentang sejarah persekolahan yakni Ibu Boenjamin,

Sdr. Swandiyanto, Ibu Laila melakukan pembicaraan

dengan pihak PSAK di Rumah Makan De Konning

Semarang (Koesomo 2011).

Dalam pertemuan tersebut, pihak PSAK bersedia

mengembalikan persekolahan termasuk para

pengajarnya kepada GKI Ambarawa dengan syarat GKI

Ambarawa menyerahkan uang sebesar Rp 200.000.000

yang akan dipergunakan untuk mendanai peningkatan

mutu personalia SMEA Masehi Ambarawa. Namun, hal

tersebut tidak dapat dipenuhi oleh GKI Ambarawa pada

saat itu karena GKI Ambarawa merupakan sebuah

gereja kecil yang memiliki keterbatasan dalam hal dana.

Hingga pada akhir tahun 2006, dengan bantuan dari

Bpk. Gunawan Tirtaatmaja dari Semarang yang

menyediakan dana pinjaman sebesar yang diperlukan

oleh GKI kepada Majelis Jemaat GKI Ambarawa,

akhirnya pihak GKI dapat membayar kompensasi

tersebut dan kembali mengelola Sekolah Kristen.

Dalam proses penyelesaian keuangan hingga

pengembalian sekolah, pihak-pihak yang dilibatkan

yaitu pihak Yayasan PSAK dan pihak GKI Ambarawa

36

yang diwakili oleh panitia kecil yang terdiri dari

Pemimpin Jemaat GKI yaitu Pdt. Budimoeljono

Reksosusilo, S.Th dan Majelis. Baik Pendeta maupun

Majelis yang mewakili pihak GKI inilah yang pada

akhirnya juga menjadi bagian dari pengurus Yayasan

Lentera Edukasi sejak resmi didirikan Sekolah Kristen

Lentera tanggal 1 Juli 2007.

Sekolah Kristen Lentera berdiri dengan memiliki

empat jenjang pendidikan yaitu Kelompok Bermain, TK,

SD dan SMP. Tujuan utama didirikan Sekolah Kristen

Lentera yaitu untuk menghadirkan sebuah sekolah

yang ideal. Sebuah sekolah dimana anak-anak yang

dibentuk di dalamnya tidak hanya dikembangkan

secara kogntif tetapi juga secara karakter dan spiritual.

Oleh karena itu, Sekolah Kristen Lentera dikelola oleh

Yayasan Lentera Edukasi dengan filosofi:

1. Berpusat pada Allah Tritunggal

2. Membentuk karakter seperti Kristus

3. Menolong pertumbuhan kecerdasan individual,

sesuai anugerah Tuhan Yesus Kristus

Selain itu, Sekolah Kristen Lentera juga memiliki Motto

yaitu Menjadi diri dalam anugerah-Nya dan Slogan

yaitu Anak-anak Lentera menjadi baik, lebih baik dan

terbaik.

37

4.1.2 Visi dan Misi Sekolah Kristen Lentera

Visi : Terwujudnya kecerdasan hidup sesuai anugerah-

Nya.

Terwujudnya, yakni panggilan dan ketaatan

untuk mewujudkan anugerah Tuhan bagi

sesama;

Kecerdasan Hidup, yaitu kemampuan yang

dianugerahkan Allah bagi setiap orang untuk

semaksimal mungkin dikembangkan;

Anugerah-Nya, ialah ukuran dan orientasi dalam

menilai semua proses terwujudnya kecerdasan

hidup.

Misi : Sekolah Kristen Lentera mempunyai komitmen

untuk mewujudkan visi dengan:

1. Berfokus pada Allah Tritunggal sebagai komitmen

iman dalam mewujudkan anugerah-Nya;

2. Menolong pendidik mengembangkan diri sesuai

anugerah Allah;

3. Membantu pendidik menerapkan anugerah Allah

pada siswa;

4. Mengembangkan sistem edukasi yang

berorientasi pada anugerah Allah;

5. Menjadikan edukasi, yang mengutamakan nilai-

nilai kristiani, sebagai pintu menghadapi realita

global;

38

6. Menyiapkan generasi yang mampu menghadapi

realita global;

7. Menggunakan pendekatan Multiple Intelligences

untuk menerjemahkan kurikulum pendidikan

nasional;

8. Mengajak masyarakat untuk membangun diri

sebagaimana anugerah Allah telah berikan.

4.1.3 Struktur Organisasi Sekolah Kristen Lentera

Robbin dan Fattah (dalam Amtu 2011)

mengemukakan bahwa suatu struktur organisasi

menetapkan bagaimana tugas pekerjaan dibagi,

dikelompokkan, dan dikoordinasikan secara formal.

Pada struktur organisasi tergambar posisi kerja,

pembagian kerja, jenis kerja yang harus dilakukan,

hubungan atasan dan bawahan, kelompok, komponen

atau bagian, tingkat manajemen dan saluran

komunikasi. Berikut ini merupakan gambaran struktur

organisasi dari Sekolah Kristen Lentera di Ambarawa :

Gambar 4.1 Struktur Organisasi Yayasan Lentera Edukasi (Sumber : www.sekolah.lentera.org)

39

Dalam menjalankan proses pendidikan di

Sekolah Kristen Lentera, setiap pihak dalam struktur

organisasi memiliki tugas yang diatur dalam SOP dan

pedoman kerja. Dengan demikian pihak yang dimaksud

akan menjalankan tugasnya berdasarkan job

description yang ada untuk kemajuan sekolah.

Untuk pengelolaan pada masing-masing jenjang

pendidikan, setiap Kepala Sekolah diberikan

kepercayaan penuh oleh pihak Yayasan Lentera

Edukasi dalam memimpin sekolah dan melakukan

berbagai upaya untuk perkembangan sekolah dengan

bantuan guru dan karyawan lainnya. Untuk tingkat

pendidikan SMP sendiri, saat ini Sekolah Kristen

Lentera didukung dengan tenaga pengajar sebanyak 12

orang serta beberapa karyawan lainnya yaitu satu

pegawai TU, satu Bendahara, satu Pembantu Umum

dan satu petugas keamanan.

4.2 Analisis Strategi Bersaing Sekolah Kristen

Lentera

Strategi bersaing merupakan upaya sekolah

untuk menghadapi persaingan dengan cara

memberikan berbagai hal yang terbaik guna memenuhi

kebutuhan masyarakat. Strategi bersaing yang

dijalankan oleh sekolah dapat terdiri dari keunggulan

biaya, diferensiasi dan fokus. Dengan menjalankan

strategi bersaing, maka sekolah akan mampu untuk

40

bertahan dan bahkan berkembang dari waktu ke waktu

meskipun diperhadapkan dengan persaingan.

Berkaitan dengan hal tersebut, hasil penelitian

menunjukkan bahwa SMP Kristen Lentera juga

menjalankan strategi bersaing untuk menghadapi

persaingan yang terjadi dalam dunia pendidikan. Untuk

mengetahuinya secara rinci maka akan dijelaskan

dalam ketiga pendekatan (keunggulan biaya,

diferensiasi, fokus) dari strategi bersaing berikut ini,

berdasarkan data-data yang diperoleh pada saat

penelitian.

4.2.1 Keunggulan Biaya

Keunggulan biaya merupakan strategi sekolah

dalam memberikan biaya yang murah kepada

masyarakat bila dibandingkan dengan sekolah lainnya.

Dalam hal ini setiap sekolah berupaya untuk

menetapkan biaya yang tepat agar masyarakat dapat

tertarik dan memilih sekolah tersebut. Untuk

menentukan biaya yang murah dan tepat, sekolah juga

perlu mempertimbangkan kondisi sekolah itu sendiri

dan besarnya biaya pada sekolah lainnya. Dengan

demikian, biaya yang telah ditentukan oleh sekolah

akan memberikan keuntungan bagi kedua pihak yakni

sekolah dan masyarakat.

41

Berkaitan dengan hal tersebut, hasil penelitian

menunjukkan bahwa SMP Kristen Lentera telah

berupaya untuk menetapkan biaya yang tepat dengan

berbagai pertimbangan sehingga mendapatkan biaya

pendidikan yang sesuai dengan kondisi SMP Kisten

Lentera, meskipun tidak sepenuhnya tergolong murah.

Berikut ini merupakan rincian biaya pendidikan pada

SMP Kristen Lentera dan juga beberapa sekolah swasta

lainnya, yang ditunjukkan pada tabel 4.1

Tabel 4.1 Kewajiban Biaya Pendidikan di SMP Kristen Lentera

dan SMP Swasta lainnya di Ambarawa

Jenis SMP Kristen Lentera

SMP Pangudi Luhur

SMP Taman Dewasa

Uang SPP Rp 100.000 Rp 200.000/bln

Rp 150.000 Rp 200.000/bln

Rp 70.000 Rp 80.000/bln

Uang Kegiatan Rp 125.000/thn Rp 20.000/bln

Uang Tes Rp 10.000/tes Rp 100.000/tes

Tabungan Wajib Rp 15.000/bln Rp 25.000/bln

Uang Komite Rp 4.000/bln

Uang Komputer _ Rp 20.000/bln _

Sumber : Kepala SMP Kristen Lentera, Kepala SMP Taman Dewasa,

Administrasi SMP Pangudi Luhur

Biaya pendidikan SMP Kristen Lentera seperti

terlihat dalam tabel 4.1 merupakan biaya yang berlaku

hingga tahun pelajaran 2012/2013. Biaya pendidikan

khususnya untuk uang kegiatan dan uang SPP dapat

mengalami perubahan bergantung pada kondisi dan

kebutuhan sekolah setiap tahunnya serta adanya

kesepakatan bersama dari semua pihak. Biaya

pendidikan tersebut bila dibandingkan dengan sekolah

42

swasta lainnya maka terlihat bahwa terdapat beberapa

perbedaan. Pada SPP, SMP Taman Dewasa

menawarkan biaya pendidikan yang lebih murah dari

SMP Kristen Lentera sedangkan SMP Pangudi Luhur

menawarkan biaya pendidikan yang kisarannya sama

dengan SMP Kristen Lentera.

Untuk uang kegiatan, SMP Kristen Lentera tidak

menetapkan pembayaran secara bulanan seperti

sekolah lainnya melainkan dibayarkan sekali untuk

kegiatan selama setahun. Bila dilakukan perhitungan

tentang biaya tersebut dan dibandingkan dengan

sekolah lainnya, maka akan mendapatkan hasil bahwa

biaya pada SMP Kristen Lentera lebih murah

dibandingkan sekolah lainnya. Selain itu, biaya

pendidikan lainnya pada SMP Kristen Lentera juga

lebih murah dibandingkan sekolah swasta lain seperti

uang tes dan tabungan wajib. Sedangkan beberapa

biaya pendidikan pada SMP Kristen Lentera yang tidak

terdapat di sekolah swasta lainnya disebabkan karena

disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan setiap

sekolah.

Perbedaan lainnya berkaitan dengan biaya

pendidikan yaitu besarnya SPP yang berlaku di sekolah

swasta lain pada umumnya sama untuk semua siswa

ataupun sama untuk setiap tingkatan kelas. Sedangkan

pada SMP Kristen Lentera setiap siswa dari berbagai

tingkatan kelas memiliki SPP yang berbeda-beda.

43

Berikut ini penjelasan Kepala SMP Kristen Lentera

tentang SPP, saat wawancara tanggal 13 Juni 2013 :

SPP-nya berjenjang tetapi tidak jauh berbeda antara satu dengan yang lainnya. Jadi ada yang Rp 130.000, Rp 140.000 dan Rp 170.000. Tergantung kemampuan orang tua.

Penjelasan Kepala SMP Kristen Lentera tersebut

menunjukkan bahwa adanya kebijakan pihak Sekolah

Kristen Lentera dalam hal menetapkan biaya

pendidikan yang berbeda atau berjenjang karena

sekolah mempertimbangkan latar belakang dan

kemampuan dari orang tua siswa. Pihak sekolah tidak

ingin memberatkan orang tua siswa dengan biaya

pendidikan tersebut sehingga pada akhirnya pihak

sekolah tidak menetapkan biaya tertentu yang

kemudian diberlakukan merata untuk semua siswa.

Untuk menentukan berbagai biaya pendidikan

pada SMP Kisten Lentera seperti yang terdapat dalam

tabel 4.1, pihak sekolah tidak melakukannya sendiri

melainkan melibatkan juga pihak Yayasan, Komite

Sekolah serta orang tua siswa khususnya pada saat

penentuan besarnya SPP. Penentuan besarnya jumlah

SPP dilakukan melalui proses wawancara hingga pada

akhirnya mencapai kesepakatan bersama antara orang

tua dan pihak sekolah sedangkan biaya lainnya

ditentukan oleh pihak sekolah.

44

Dalam menentukan biaya yang tepat, pihak SMP

Kristen Lentera juga mempertimbangankan pada

besarnya biaya pendidikan sekolah swasta lain di

sekitar Ambarawa, selain melihat kepada kemampuan

orang tua siswa itu sendiri. Hal ini bertujuan agar biaya

yang ditetapkan tidak terlalu mahal dan pihak sekolah

sendiri tidak memberatkan siswa dengan biaya

pendidikan tersebut.

Berkaitan dengan biaya pendidikan pada SMP

Kristen Lentera, hasil penelitian melalui wawancara dan

juga penyebaran kuesioner mengungkapkan adanya

berbagai pendapat dan penilaian yang dikemukakan

oleh orang tua, guru, Kepala Sekolah dan pihak

Yayasan Lentera Edukasi tentang mahal tidaknya biaya

pendidikan yang ditetapkan oleh SMP Kristen Lentera.

Pendapat yang pertama dikemukakan Kepala

SMP Kristen Lentera saat wawancara 13 Juni 2013 :

Kalau dibandingkan dengan sekolah negeri jelas tidak lebih murah karena kita juga berusaha untuk memberikan pelayanan yang baik. Tentu juga tidak bisa kalau murah untuk suatu hal yang memadai, yang layak bagi pelayanan pendidikan. Kalau dibandingkan dengan negeri pasti lebih mahal. Kalau dibandingkan dengan swasta yang lain, memang ada swasta yang lain yang lebih rendah tapi ada juga swasta yang imbang dengan kita.

Pendapat yang dikemukakan oleh Kepala SMP

Kristen Lentera tersebut menunjukkan bahwa biaya

pendidikan pada SMP Kristen Lentera tidak tergolong

murah namun juga tidak mahal. Dengan kata lain

45

biaya pendidikan pada SMP Kristen Lentera berada

pada posisi menengah. Hal ini didasari pada kenyataan

yang dilihat oleh Kepala Sekolah dimana sekolah

swasta yang lain memiliki SPP yang hampir sama

dengan SMP Kristen Lentera dan tidak banyak sekolah

yang menawarkan biaya yang murah karena adanya

tuntutan kebutuhan dari setiap sekolah.

Biaya pendidikan pada SMP Kristen Lentera

dapat juga dikatakan relatif. Bagi sebagian orang dapat

dikatakan murah namun juga sebaliknya, tergantung

dari penilaian dan kemampuan setiap orang. Hal ini

seperti pendapat dan penilaian yang dikemukakan oleh

Ketua Yayasan Lentera Edukasi, orang tua dan guru.

Meskipun adanya berbagai pendapat dan

penilaian terhadap biaya pendidikan pada SMP Kristen

Lentera, namun menurut pandangan orang tua dan

Kepala SMP Kristen Lentera biaya pendidikan tersebut

untuk saat ini sudah tepat karena mempertimbangkan

pada kemampuan orang tua siswa. Selain itu, biaya

tersebut juga cukup membantu dalam memenuhi

kebutuhan sekolah khususnya dana. Meskipun pada

kenyataannya tidak semua kebutuhan sekolah dapat

tercukupi oleh iuran dari orang tua siswa misalnya saja

dalam upaya memenuhi fasilitas olah raga.

Untuk itu, agar dapat memenuhi semua

kebutuhan sekolah dan memperlancar proses

pendidikan kedepannya, pihak SMP Kristen Lentera

46

akan terus meninjau dan mengevaluasi biaya

pendidikan tersebut serta melakukan perubahan jika

dimungkinkan.

4.2.2 Diferensiasi

Diferensiasi merupakan strategi sekolah untuk

dapat menjadi berbeda dengan sekolah-sekolah lainnya.

Dalam mencapai hal tersebut, sekolah berupaya

memberikan program, pelayanan dan juga ciri khas

sekolah yang berbeda dan unik sehingga dapat menarik

minat masyarakat.

Berkaitan dengan hal tersebut, hasil penelitian

menunjukkan bahwa yang membedakan SMP Kristen

Lentera dengan sekolah swasta lainnya di Ambarawa

yaitu terletak pada ciri khas sekolah. Sebagai satu-

satunya sekolah swasta Kristen untuk jenjang SMP di

Kecamatan Ambarawa, SMP Kristen Lentera berupaya

untuk mewujudkan ciri khasnya dengan menekankan

pengenalan akan Tuhan Yesus kepada para siswa. Hal

ini seperti yang dikemukakan oleh Ketua Yayasan

Lentera Edukasi pada saat wawancara tanggal 14 Juni

2013:

Kami konsen dengan pengenalan Tuhan Yesus kepada anak. Itu yang mungkin di sekolah lain tidak. Karena kami satu-satunya sekolah Kristen di Kecamatan Ambarawa untuk SMP dan kami terbeban untuk memperkenalkan Tuhan Yesus kepada mereka. Itu yang menjadi ciri khas Sekolah Kristen Lentera.

47

Pengenalan akan Tuhan dilakukan karena sesuai

dengan tugas dan fungsi dari Sekolah Kristen. Selain

itu juga untuk mewujudkan Visi dari Sekolah Kristen

Lentera yaitu Terwujudnya kecerdasan hidup sesuai

anugerah-Nya. Meskipun sekolah sangat menekankan

ciri khasnya sebagai sekolah Kristen, tetapi pihak

sekolah tidak membatasi siswanya hanya kepada yang

beragama Kristen saja melainkan juga menerima siswa

yang beragama lain seperti Islam. Hal ini menunjukkan

bahwa SMP Kristen Lentera bersikap terbuka terhadap

perbedaan meskipun sekolah berciri khas Agama.

Untuk dapat lebih menekankan ciri khasnya

sebagai sekolah yang didirikan atas dasar Kristen,

Kepala SMP Kristen Lentera mengemukakan bahwa

sekolah perlu diwarnai dengan kegiatan-kegiatan

Kristen. Berkaitan dengan hal tersebut, SMP Kristen

Lentera mengadakan berbagai kegiatan kerohanian

yang dilakukan untuk menunjukkan ciri khasnya

sehingga sesuai dengan Visi & Misi Sekolah. Kegiatan

tersebut yaitu ibadah untuk guru dan karyawan yang

dilakukan setiap hari pada pukul 07.00 pagi. Bentuk

ibadah tersebut bervariasi setiap harinya seperti

khotbah, share dalam kelompok kecil, kesaksian dan

doa bersama. Sedangkan untuk siswa diadakan ibadah

rutin setiap bulan dan juga renungan pagi di setiap

kelas untuk mengawali kegiatan belajar pada hari

tersebut. Selanjutnya ibadah thanks giving day sebagai

48

bentuk ungkapan syukur kepada Tuhan atas segala

hal, yang diikuti oleh seluruh keluarga besar Sekolah

Kristen Lentera.

Selain menekankan pada ciri khas sebagai

sekolah Kristen, SMP Kristen Lentera juga memiliki

beberapa diferensiasi lainnya bila dibandingkan dengan

sekolah lain di sekitar Ambarawa. Diferensiasi tersebut

meliputi kegiatan pembelajaran, hubungan sosial

dengan masyarakat, pelayanan bagi semua pihak yakni

siswa, guru, maupun orang tua siswa. Berbagai hal

tersebut akan ditampilkan dalam tabel 4.2 berikut ini :

Tabel 4.2 Diferensiasi SMP Kristen Lentera

NO PROGRAM

1 Multiple Intelligences

- Multiple Intelligences (MI) diterapkan sejak berdirinya Sekolah Kristen Lentera pada tanggal 1 Juli 2007.

- Tujuan menerapkan multiple intelligences (MI) agar dapat membantu siswa-siswi dalam menemukan dan mengembangkan bakat atau kepintarannya.

- Pendekatan multiple intelligences (MI) telah berhasil menjadikan siswa-siswi SMP Kristen Lentera berprestasi dalam berbagai bidang (lihat lampiran 3)

2 Parent Seminar

- Seminar bagi orang tua siswa dengan tema-tema tertentu seperti Kerjasama Sekolah-Orangtua dan Sikap dan Kebiasaan Belajar Menghadapi Tantangan Abad 21.

- Pihak sekolah berkomitmen untuk terus membangun relasi yang dekat dengan para orang tua/wali murid dan memberikan informasi serta materi yang bermanfaat bagi para orang tua.

- Kegiatan ini diselenggarakan dengan bantuan dari Direktur Eksekutif Sekolah Kristen Lentera dan kejasama dengan pihak lainnya seperti sekolah IPEKA Jakarta. Dalam kerjasama tersebut IPEKA mendatangkan AAS (Adobe A School) dari Jakarta.

49

NO PROGRAM

3 Moving Class

- Program Moving Class mulai diterapkan di SMP Kristen Lentera sejak tahun pelajaran 2012/2013 dan belum dilakukan oleh sekolah lainnya di kecamatan Ambarawa.

- Pertimbangan sekolah menerapkan moving class yaitu untuk mengatasi masalah keterbatasan ruang kelas.

- Sekolah menyesuaikan antara ruang kelas yang ada dengan setiap mata pelajaran dan menyediakan fasilitas pendukung program moving class (lihat lampiran 4).

4 Hari Budaya

- Program Hari Budaya Sekolah Kristen Lentera dilaksanakan pada bulan Oktober dalam rangka memperingati Sumpah Pemuda dan bulan Bahasa.

- Kegiatan ini berupa Pawai Budaya yang diikuti oleh siswa dan guru dari semua jenjang pendidikan di Sekolah Kristen Lentera yang juga mengenakan pakaian adat dari berbagai daerah di Indonesia.

5 Sekolah Lima Hari

- Sekolah lima hari hanya diterapkan di SMP Kristen Lentera untuk Kecamatan Ambarawa. Sekolah dimulai pukul 07.25 dan berakhir pukul 14.30.

- Sekolah mempertimbangkan kondisi siswa dan memberikan kesempatan untuk siswa memiliki waktu yang cukup di akhir pekan sehingga ketika kembali bersekolah di hari Senin lebih siap dan bersemangat.

6 Wasana Warsa Sekolah Kristen Lentera

- Wasana Warsa adalah kegiatan untuk menutup tahun ajaran yang telah selesai untuk semua jenjang pendidikan yang ada di Sekolah Kristen Lentera.

- Kegiatan diisi dengan ibadah, penampilan berbagai bakat dan talenta dari siswa Sekolah Kristen Lentera, serta pemberian penghargaan dan piagam kepada 3 siswa peraih nilai tertinggi di setiap grade.

7 Field Trip

- Field Trip merupakan program SMP Kristen Lentera dan Sekolah Pelita Harapan International Lippo Village yang telah dilakukan sejak tahun 2011

- Siswa-siswa dari SKL dan SPH berkesempatan untuk belajar bahasa (Jawa dan Inggris), mengenal permainan daerah dan juga merasakan kehidupan masyarakat di desa seperti menanam padi, memancing dan berbelanja di pasar tradisional.

50

Tabel 4.2 di atas menunjukkan bahwa SMP

Kristen Lentera memiliki berbagai program yang sejauh

ini tidak ditemukan pada sekolah lainnya di Kecamatan

Ambarawa. Hal ini dapat dibuktikan dengan data

tentang program-program dari sekolah lainnya di

Ambarawa yang diperoleh berdasarkan wawancara

dengan beberapa pihak pada sekolah lainnya di

Ambarawa. Dalam wawancara tersebut diperoleh

informasi bahwa SMP swasta lainnya menjalankan

program yakni sekolah selama enam hari seperti

sekolah pada umumnya dan kegiatan sosial seperti

program bakti sosial, penyerahan hewan kurban pada

saat hari raya serta kunjungan ke Panti Asuhan.

Sedangkan kegiatan untuk orang tua sendiri dilakukan

pada awal tahun pelajaran untuk mensosialisasikan

progam sekolah dalam tahun ajaran yang baru dan

juga pada kahir tahun pelajaran pada saat pembagian

laporan pendidikan.

Berdasarkan berbagai penjelasan tersebut

tentang program dari sekolah swasta lainnya, maka

dapat dikatakan bahwa program yang dimiliki oleh SMP

Kristen Lentera seperti terlihat dalam tabel 4.2, benar-

benar tidak ditemukan pada SMP swasta lainnya di

Ambarawa.

Pertimbangan SMP Kristen Lentera untuk

melaksanakan berbagai program yang berbeda dengan

sekolah lainnya karena sekolah ingin mengembangkan

51

siswa sesuai dengan minat juga bakatnya dan hal

tersebut akan semakin baik ketika dilakukan sejak

dini. Pertimbangan lainnya yaitu karena berbagai

program tersebut sesuai dengan perkembangan di masa

sekarang dan merupakan kebutuhan dari siswa, guru

dan orang tua siswa. Berbagai program tersebut dapat

dilaksanakan berdasarkan keputusan bersama dari

pihak sekolah dengan persetujuan pihak Yayasan.

Beragam ide berkaitan dengan program tersebut dapat

berasal dari guru, kepala sekolah maupun pihak

yayasan.

Berkaitan dengan berbagai program sekolah,

Ketua Yayasan Lentera Edukasi mengemukakan bahwa

pihak Sekolah Kristen Lentera telah berencana untuk

menjalankan beberapa program kedepannya. Akan

tetapi, belum dapat dipastikan kapan program tersebut

direalisasikan karena pihak sekolah sendiri masih

terkendala dengan ketersediaan tenaga pengajar yang

sesuai kebutuhan. Berikut ini pernyataan Beliau, saat

wawancara tanggal 14 Juni 2013 :

sebenarnya sekolah memiliki banyak harapan kedepan. Kami ingin ada klub Matematika, klub Kuark. Kami ingin ada bentukan kelompok-kelompok yang memang anak ini dia tertarik dengan alam, tertarik dengan matematika. Tidak hanya sekedar menyanyi dan menari. Kami juga ingin ada Bahasa Mandarin. Tapi kendalanya ya belum ada pengajarnya di Ambarawa.

52

Rencana untuk mengadakan program baru juga

diungkapkan oleh Kepala SMP Kristen Lentera. Beliau

mengatakan bahwa pihak sekolah juga berencana

untuk menambahkan beberapa kegiatan kedepannya

seperti sablon dan pembuatan asesoris pada pelajaran

Mulok sehingga semakin banyak pilihan yang diberikan

kepada siswa.

Berbagai pendapat yang dikemukakan tentang

rencana progam kedepannya menunjukkan bahwa SMP

Kristen Lentera selalu memberikan hal-hal yang baru

kepada siswa dan mengupayakan yang terbaik untuk

proses pendidikan di Sekolah Kristen Lentera. Hal ini

dilakukan agar sekolah dapat menjadi unik dan

berbeda dengan sekolah lainnya, dengan tetap mengacu

pada visi dan misi sekolah.

4.2.3 Fokus

Fokus merupakan strategi sekolah dalam

menentukan kelompok tertentu yang akan menjadi

target atau sasarannya. Dalam strategi ini, pihak

sekolah akan memberikan program-program ataupun

menawarkan biaya tertentu yang sesuai dengan

kelompok masyarakat yang telah ditentukannya. Hal ini

dilakukan pihak sekolah agar dapat menarik minat

kelompok tertentu dalam memilih sekolah.

Berkaitan dengan strategi fokus, hasil penelitian

menunjukkan bahwa dalam melaksanakan proses

53

pendidikan ataupun dalam menghadapi persaingan di

dunia pendidikan, SMP Kristen Lentera tidak berfokus

pada kelompok masyarakat tertentu untuk menarik

minat mereka terhadap sekolah. Berikut pendapat

Kepala SMP Kristen Lentera pada saat wawancara

tanggal 13 Juni 2013 berkaitan dengan strategi fokus:

Kami tidak memiliki target untuk masyarakat tertentu. Kami terbuka dalam menerima siswa dan untuk siapa saja yang berminat. Di sekolahan kami bahkan siswanya tidak hanya dari Ambarawa tetapi ada yang dari Bawen, Banyu Biru, Tuntang.

Pendapat Kepala Sekolah tersebut dengan kata

lain menunjukkan bahwa keberadaan SMP Kristen

Lentera di Kecamatan Ambarawa terbuka untuk

menerima siswa dari berbagai latar belakang tanpa

adanya batasan. SMP Kristen Lentera juga memiliki

program-program yang sasarannya ditujukan kepada

masyarakat luas dan semua pihak yang ada di

lingkungan Sekolah Kristen Lentera.

Meskipun SMP Kristen Lentera terbuka untuk

semua lapisan masyarakat tanpa adanya batasan

untuk kelompok tertentu, akan tetapi hasil penelitian

juga menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat

yang memilih SMP Kristen Lentera berasal dari

kalangan menengah ke bawah.

Untuk hal tersebut, SMP Kristen Lentera

berupaya untuk peduli dan memperhatikan siswa-siswi

yang berasal dari kalangan bawah atau kurang mampu

54

khususnya dalam hal biaya pendidikan dengan cara

memberikan beasiswa atau potongan SPP bagi siswa

tersebut. Bukti nyata adanya pelaksanaan program

sekolah berupa potongan SPP bagi siswa dikemukakan

secara langsung oleh salah satu orang tua siswa pada

saat wawancara tanggal 14 Juni 2013 :

Biaya SPP anak saya Rp 135.000 dan mendapatkan potongan dari sekolah Rp 70.000 jadinya setiap bulan anak saya hanya perlu membayar Rp 65.000.

Sedangkan untuk beasiswa, Sekolah Kristen

Lentera memiliki salah satu program beasiswa yang

dinamakan program Saudara Asuh sebagai hasil

kerjasama dengan Sekolah IPEKA Jakarta. Dalam

program ini sejumlah peserta didik Sekolah Kristen

Lentera dari jenjang TK, SD dan SMP mendapatkan

beasiswa dari Saudara Asuh mereka di IPEKA. Setiap

bulannya para siswa IPEKA menyisihkan sebagian uang

saku untuk mendukung saudara-saudara asuh mereka

di berbagai sekolah Kristen di daerah-daerah, salah

satunya adalah SKL.

Tindakan yang dilakukan oleh SMP Kristen

Lentera menunjukkan bahwa SMP Kristen Lentera

peduli dan mampu mengatasi masalah biaya

pendidikan yang dihadapi oleh siswa yang kurang

mampu, meskipun SMP Kristen Lentera tidak memiliki

fokus terhadap kelompok tertentu.

55

4.3 Pembahasan

Berdasarkan hasil penelitian tentang strategi

bersaing SMP Kristen Lentera yang mencakup tiga

pendekatan yaitu keunggulan biaya, diferensiasi dan

fokus, maka di dapat strategi bersaing yang digunakan

oleh SMP Kristen Lentera. Oleh karena itu, agar dapat

mengetahui lebih jelas apa yang melatarbelakangi SMP

Kristen Lentera sehingga menjalankan strategi bersaing

tersebut maka akan dilakukan pembahasan dari setiap

pendekatan strategi bersaing tersebut.

4.3.1 Keunggulan biaya

Biaya pendidikan pada SMP Kristen Lentera

terdiri dari SPP, uang kegiatan, uang tes, tabungan dan

uang komite. Apabila dibandingkan dengan biaya pada

sekolah swasta lainnya di Ambarawa, maka terlihat

perbedaan dimana biaya yang ditetapkan oleh pada

SMP Kristen Lentera khususnya dalam hal SPP akan

sama besarnya dengan sekolah lainnya bahkan juga

lebih mahal. Sedangkan untuk biaya lainnya SMP

Kristen Lentera menetapkan biaya yang lebih murah

dibandingkan sekolah lainnya. Dengan demikian dapat

dikatakan juga bahwa SMP Kristen Lentera tidak

menetapkan biaya pendidikan yang murah secara

menyeluruh karena ada biaya yang tergolong mahal

namun ada juga yang murah.

56

Kenyataan tersebut menjadikan SMP Kristen

Lentera sebagai sekolah yang tidak tergolong murah

dan juga menunjukkan bahwa SMP Kristen Lentera

tidak menjalankan strategi keunggulan biaya. Sehingga

pendapat yang dikemukakan oleh Hunger & Whellen

(2003) bahwa sebuah lembaga akan menjadi produsen

berbiaya rendah atau menawarkan biaya paling rendah

yang bersaing dengan sekolah lainnya tidak terbukti

dilakukan oleh SMP Kristen Lentera. Dengan kata lain,

dapat dikatakan juga bahwa berbagai pendapat yang

mengemukakan bahwa SMP Kristen Lentera sebagai

sekolah yang tidak murah merupakan hal yang benar.

Meskipun demikian, ada juga pendapat lainnya

yang mengatakan bahwa biaya pendidikan pada SMP

Kristen Lentera relatif, dalam artian tidak murah dan

juga tidak mahal. Hal ini dikemukakan oleh sebagian

guru dan orang tua siswa. Bagi orang tua siswa

ataupun guru yang berasal dari kalangan menengah

mungkin akan mengatakan biaya tersebut murah,

namun bagi yang berasal dari kalangan bawah atau

kurang mampu akan mengatakan biaya pendidikan

tersebut tidak murah (mahal). Hal ini menunjukkan

bahwa setiap orang memiliki penilaian yang berbeda-

beda terhadap biaya pendidikan tersebut tergantung

dari latar belakang kemampuan ekonomi dan juga

sudut pandang mereka.

57

Adanya berbagai pendapat yang berbeda tentang

biaya pendidikan pada Lentera tidak menjadi suatu

permasalahan terlebih lagi jika pendapat tersebut

menyebutkan bahwa SMP Kristen Lentera tidak

tergolong sekolah yang murah. Dikatakan demikian

karena pihak Sekolah Kristen Lentera sendiri

menyediakan berbagai program dan fasilitas untuk

menunjang aktivitas di sekolah yang sebanding dengan

biaya yang dikeluarkan oleh siswa. Sedangkan bila

dibandingkan dengan sekolah lain yang biaya

pendidikannya lebih murah, maka akan terlihat

perbedaan dimana fasilitas yang disediakan sekolah

lainnya tidak sama dengan yang tersedia pada SMP

Kristen Lentera atau dengan kata lain masih memiliki

kekurangan. Dengan demikian dapat disimpulkan

bahwa sekolah yang memberikan biaya murah belum

tentu mampu memberikan fasilitas yang memadai.

Kebijakan SMP Kristen Lentera dengan tidak

menjalankan strategi tersebut tentunya didasari atas

berbagai pertimbangan, salah satunya yaitu kondisi

sekolah yang menghadapi masalah kekurangan dana

sehingga menyebabkan defisit setiap bulannya. Defisit

dapat dialami sekolah hingga saat ini karena seperti

telah diketahui bahwa SMP Kristen Lentera merupakan

sekolah yang baru berdiri tahun 2007 setelah

terjadinya pergantian. Hal tersebut tentunya

mempengaruhi kondisi sekolah dan membuat sehingga

58

SMP Kristen Lentera membutuhkan banyak dana agar

dapat memperbaiki, menata dan mengelola sekolah

agar lebih baik lagi kedepannya.

Meskipun SMP Kristen Lentera tidak

menjalankan strategi keunggulan biaya dan disebut

juga sebagai sekolah yang tidak murah, pihak sekolah

terus berupaya untuk menetapkan biaya pendidikan

yang tepat dan sesuai dengan kondisi siswa serta

kebutuhan sekolah. Hal ini sejalan dengan pendapat

Lubis (2004) bahwa setiap sekolah perlu menetapkan

harga yang paling tepat. Akan tetapi, sedikit

perbedaannya yaitu Lubis menyebutkan juga bahwa

biaya tersebut harus memberikan keuntungan,

sedangkan biaya yang ditentukan oleh SMP Kristen

Lentera tidak sepenuhnya memberikan keuntungan

bagi pihak sekolah baik untuk jangka pendek maupun

jangka panjang. Biaya tersebut hanya membantu

sekolah dalam mengatasi kebutuhan dana saat ini.

Tindakan sekolah lainnya yang dirasa tepat

dalam menentukan biaya pendidikan namun tidak

sejalan dengan strategi keunggulan biaya yaitu SPP

yang berjenjang. Dikatakan tidak sesuai karena dalam

menentukannya pihak sekolah mempertimbangkan

faktor lain yaitu kemampuan orang tua siswa atau

kondisi ekonomi keluarga siswa yang sebagian besar

berasal dari keluarga menengah ke bawah. Sedangkan

Wijaya (2008) menyebutkan bahwa dalam

59

melaksanakan strategi bersaing, sekolah hanya

berfokus pada harga dan tidak memperhatikan

berbagai faktor lainnya karena hal utama bagi sekolah

adalah menawarkan jasa dan harga yang sangat

bersaing. Oleh karena itu, meskipun sekolah memiliki

tujuan yang baik dan tidak hanya mengutamakan

kepentingan sekolah sendiri, akan tetapi hal tersebut

tetap menunjukkan ketidaksesuaian dengan strategi

keunggulan biaya.

4.3.2 Diferensiasi

SMP Kristen Lentera memiliki diferensiasi dalam

hal ciri khasnya sebagai sekolah Kristen dan berbagai

program yang dilaksanakan untuk siswa, guru, orang

tua siswa maupun masyarakat. Untuk ciri khas sebagai

sekolah Kristen, upaya sekolah dalam menekankan

pengenalan akan Tuhan Yesus merupakan langkah

yang tepat dan sesuai dengan tujuan sekolah Kristen

dalam dunia pendidikan (Wirowidjojo, 2011) yaitu

membantu berkembangnya seseorang atas dasar

pandangan Kristen agar mencapai kedewasaan yang

religious dan bertanggungjawab.

Ketika setiap pihak yang menjadi bagian dari

SMP Kristen Lentera dibentuk setiap hari melalui

berbagi kegiatan rohani maka mereka dibantu untuk

memiliki kehidupan dan karakter yang baik. Hal ini

juga sangat penting karena dapat mempererat

60

hubungan antar siswa maupun guru dan

meningkatkan rasa kebersamaan, kesatuan juga

kerjasama dalam berbagai hal untuk kemajuan

sekolah. Dengan demikian, maka SMP Kristen Lentera

dapat menunjukkan bahwa SMP Kristen Lentera tidak

hanya dikenal sebagai satu-satunya sekolah Kristen di

Kecamatan Ambarawa, tetapi juga benar-benar mampu

mewujudkan tujuan sekolah Kristen.

Sebagai Sekolah Kristen yang menekankan

pengenalan akan Tuhan Yesus, SMP Kristen Lentera

terbuka untuk umum dan memberikan kesempatan

bagi siswa yang beragama lain dan dari berbagai

kalangan. Hal ini sejalan dengan pendapat Sairin (2011)

yang mengatakan bahwa sekolah Kristen harus terbuka

bagi semua peserta didik tanpa membedakan jenis

kelamin, suku, agama, ras, golongan, kedudukan

sosial, dan tingkat kemampuan ekonomi. Hal ini

merupakan langkah yang tepat agar dapat

menunjukkan bahwa sebagai Sekolah Kristen tidak

berarti bahwa sekolah tersebut harus eksklusif dan

hanya untuk kalangan tertentu. Dengan ciri khasnya,

sekolah justru harus tetap terbuka untuk umum dan

tidak membeda-bedakan karena itu merupakan wujud

nyata pelayanan dan kesaksian kepada masyarakat

luas. Selain itu juga karena sekolah dan pendidikan

merupakan hak dari setiap orang. Siapapun dapat

merasakan hal tersebut ketika mampu untuk

61

memenuhi ketentuan dan aturan yang berlaku di

sekolah dan ketika nantinya mampu untuk memenuhi

kewajibannya. Hal ini sesuai dengan empat fungsi dari

Sekolah Kristen (Sairin, 2011) yaitu fungsi kesaksian

dan pelayanan, fungsi pendidikan dan pengajaran,

fungsi pembinaan, serta fungsi pelayanan masyarakat.

Diferensiasi lainnya dari SMP Kristen Lentera

yaitu berbagai program yang dijalankan oleh Yayasan

Lentera Edukasi maupun oleh SMP Kristen Lentera.

Berbagai program tersebut menunjukkan bahwa pihak

sekolah tidak hanya memberikan program yang pada

umumnya ditemukan di sekolah lain, melainkan

sekolah mencoba memberikan program-program yang

baru dan berbeda. Upaya tersebut dilakukan dengan

cara sekolah mengumpulkan informasi dari siswa, guru

maupun pihak lainnya di lingkungan Sekolah Kristen

Lentera serta melihat perkembangan yang ada saat ini.

Hal yang dilakukan SMP Kristen Lentera dapat

dikatakan merupakan langkah yang tepat karena

sekolah berupaya untuk memenuhi kebutuhan semua

pihak yang berada di lingkungan SMP Kristen Lentera

dan selalu mencoba memberikan pelayanan yang

terbaik untuk kemajuan dan perkembangan sekolah.

Tindakan sekolah ini sesuai dengan yang dikemukakan

dalam salah satu sumber (staff.uny.ac.id) bahwa untuk

dapat bersaing maka sebuah lembaga pendidikan perlu

untuk memperhatikan faktor kebutuhan masyarakat.

62

Ketika sekolah mampu untuk terus memberikan yang

terbaik bagi masyarakat maka sekolah akan mampu

mempertahankan dan meningkatkan minat masyarakat

akan sekolah.

Jika dikaitkan dengan pendapat David (2008)

yang mengatakan bahwa setiap sekolah harus selalu

mencari cara melakukan diferensiasi untuk

memungkinkan terus unggul dan mendapatkan

kesetiaan dari pelanggan, maka dapat dikatakan bahwa

upaya SMP Kristen Lentera dalam memberikan

berbagai program merupakan salah satu cara sekolah

untuk dapat tetap bertahan dan terus berkembang

sebagai sekolah yang baru berdiri selama enam tahun.

Semakin banyak pilihan yang dimiliki tentunya akan

memperkuat struktur sekolah secara maksimal

(Purwanto, 2011) dan pada akhirnya menimbulkan

kesetiaan dari masyarakat yang telah menentukan

pilihannya pada SMP Kristen Lentera.

4.3.3 Fokus

Hasil penelitian menunjukkan bahwa SMP

Kristen Lentera tidak memiliki fokus pada kelompok

masyarakat tertentu untuk menarik minat mereka

terhadap sekolah. Dengan kata lain SMP Kristen

Lentera terbuka kepada masyarakat dari berbagai

kalangan dan wilayah. Langkah yang diambil oleh

pihak sekolah ini berbeda dengan pendapat Porter

63

(1992) bahwa dalam menjalankan strategi fokus setiap

sekolah akan terlebih dahulu memilih atau

menentukan kelompok tertentu dan melayani kelompok

tersebut dengan berbagai fasilitas dan program yang

telah disediakan. Oleh karena itu maka dapat

dikatakan bahwa SMP Kristen Lentera merupakan

sekolah yang tidak menjalankan strategi fokus.

Kebijakan sekolah untuk tidak memilih strategi

fokus mungkin disebabkan karena keberadaan sekolah

yang baru berdiri selama enam tahun dan masih

berada dalam tahap memperkenalkan keberadaan

sekolah kepada masyarakat luas. Oleh karena itu

sekolah tidak dapat menjalankan strategis fokus untuk

saat ini dan lebih memilih target yang luas. Ketika

keberadaan SMP Kristen Lentera nantinya telah dikenal

secara luas oleh masyarakat, maka pihak sekolah

dimungkinkan untuk memilih fokus mereka.

Keputusan sekolah untuk tidak memilih strategi

fokus merupakan suatu langkah yang tepat bagi pihak

sekolah. Hal ini mungkin disebabkan karena pihak

sekolah sendiri tidak ingin adanya batasan dan

perlakuan yang berbeda terhadap kelompok tertentu.

Pihak SMP Kristen Lentera ingin memberikan

kesempatan kepada semua masyarakat untuk

menikmati pendidikan seperti beberapa Misi dari

sekolah yaitu mengembangkan sistem edukasi dan

mengajak masyarakat untuk membangun diri. Oleh

64

karena itu, SMP Kristen Lentera berupaya dalam

memenuhi kebutuhan dan memberikan pelayanan yang

baik kepada semua pihak yang ada di lingkungan

Sekolah Kristen Lentera melalui program dan fasilitas

yang tersedia meskipun SMP Kristen Lentera memiliki

target yang luas.

Salah satu contohnya dapat dilihat melalui

kepedulian SMP Kristen Lentera kepada siswa-siswi

yang memiliki masalah keuangan atau yang kurang

mampu. Kepedulian yang dilakukan oleh pihak sekolah

ini menunjukkan bahwa sekolah konsisten dalam

memperhatikan semua pihak yang menjadi bagian dari

sekolah. Hal tersebut tidak hanya ditunjukkan ketika

sekolah ingin mendapatkan banyak peminat tetapi juga

dalam berbagai situasi.

Hal ini pada akhirnya menunjukkan bahwa

sekolah yang memiliki target atau sasaran yang luas

juga mampu untuk memberikan pelayanan yang baik

kepada semua lapisan masyarakat, sama seperti

sekolah yang memiliki fokus kepada kelompok tertentu.

Dengan demikian maka pernyataan Hunger & Wheelen

(2013) yang mengemukakan bahwa dengan strategi

fokus suatu lembaga dapat melayani kelompok tertentu

yang menjadi pilihannya dengan lebih baik

dibandingkan yang lainnya tidak selamanya benar.

Upaya tersebut sama-sama dilakukan oleh

sekolah yang memilih strategis fokus dan tidak dengan

65

tujuan untuk tetap mempertahankan kelompok

masyarakat yang menjadi pilihan mereka. Jadi upaya

kepedulian sekolah ini tidak hanya dilakukan oleh

sekolah yang memiliki fokus kepada kelompok tertentu

untuk tetap mempertahankan strateginya seperti salah

satu ciri-ciri strategi fokus (Widhyaestoeti 2012), akan

tetapi juga dilakukan oleh sekolah yang memiliki

sasaran luas.

Selain itu, salah satu hasil penelitian juga

menunjukkan bahwa sebagian besar siswa yang

memilih SMP Kristen Lentera berasal dari kalangan

menengah ke bawah meskipun pihak sekolah telah

memberikan kesempatan kepada masyarakat luas. Hal

ini dapat terjadi karena dipengaruhi juga oleh lokasi

sekolah yang berada di Kecamatan Ambarawa, dimana

sebagian besar masyarakat di sana berasal dari

kelompok masyarakat menengah ke bawah. Dengan

demikian, peminat pada Sekolah Kristen Lentera juga

berasal dari kelompok masyarakat tersebut.