Dampak Pendudukan Jepang Hingga Proklamasi Kemerdekaan Indonesi1

  • View
    255

  • Download
    2

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Sejarah Indonesia

Text of Dampak Pendudukan Jepang Hingga Proklamasi Kemerdekaan Indonesi1

DAMPAK PENDUDUKAN JEPANG HINGGA PROKLAMASI KEMERDEKAAN INDONESIA

Disusun oleh :Nama: Andreas Wahyu Nugroho

Kelas: XI MIA 4

No.

: 02

SMA N 1 WONOSARI

TAHUN AJARAN 2014/2015

KATA PENGANTAR

Assalamualaykum Wr. Wb.

Puji syukur senantiasa kitapanjatkankehadirat Allah SWT Tuhan Yang Maha Esa, berkat rahmat beserta hidayah-Nyasaya dapat menyelesaikanmakalah sejarah yangberjudul Dampak Pendudukan Jepang Hingga Proklamasi Kemerdekaan Indonesia ini.Makalah sejarah ini menjadi salah satu tugas terstruktur dalam mata pelajaran Sejarah Indonesia. Oleh karena itu, penyusunan makalah ini bertujuan untuk menambah wawasan dan pengetahuan para pembaca tentang dampak pendudukan Jepang di Indonesia hingga proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Ucapan terima kasih saya ucapkan kepada guru pembimbing yang selalu memberi banyak masukan dan juga kepada berbagai pihak yang telah membantu dalam penyusunan hasil makalah ini.

Saya menyadari bahwa hasil makalah ini belum sempurna, karena keterbatasan pengetahuan dan kemampuan saya. Oleh karena itu saya sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari berbagai pihak untuk perbaikan pada hasil makalah ini.

Wassalamualaykum. Wr. Wb

Wonosari, 28 Februari 2015

Penyusun

Andreas Wahyu N

Daftar Isi

iiKATA PENGANTAR

iiiDaftar Isi

1BAB I PENDAHULUAN

1Latar Belakang

2Rumusan Masalah

2Tujuan

3BAB II PEMBAHASAN

3Dampak Pendudukan Jepang di Indonesia

31.Bidang Politik

32.Bidang Sosial Budaya Dan Ekonomi

53.Bidang Pendidikan

54.Birokrasi dan Militer

6Peristiwa Rengasdengklok

7Proses Perumusan Teks Proklamasi

10Proses Pembacaan Teks Proklamasi

12BAB III PENUTUP

12Kesimpulan

12Saran

13DAFTAR PUSTAKA

BAB IPENDAHULUAN

Latar Belakang

Masa pendudukan Jepang di Indonesia adalah masa yang sangat berpengaruh bagi perkembangan Indonesia. Umumnya beranggapan bahwa masa pendudukan Jepang adalah masa paling kelam dan penuh penderitaan. Akan tetapi tidak semuanya itu benar, ada beberapa kebijakan pemerintah pendudukan Jepang yang memberikan dampak positif, terutama dalam pembentukan nasionalisme dan pelatihan militer bagipemuda Indonesia. Dalam masa pendudukan Jepang yang singkat itu telah membawa dampak positif dan juga dampak negatif bagi bangsa Indonesia pada umumnya. Setiap hal yang terjadi pasti akan menimbulkan dampak yang berkaitan dengan hal itu. Baik dampak negatif maupun positif. Pada tanggal6 Agustus1945sebuahbom atomdijatuhkan di atas kotaHiroshimaJepang olehAmerika Serikatyang mulai menurunkan moral semangat tentara Jepang di seluruh dunia. Sehari kemudian Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan IndonesiaBPUPKI, atau "Dokuritsu Junbi Cosakai", berganti nama menjadi PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) atau disebut jugaDokuritsu Junbi Inkaidalam bahasa Jepang, untuk lebih menegaskan keinginan dan tujuan mencapai kemerdekaan Indonesia. Pada tanggal9 Agustus

HYPERLINK "http://id.wikipedia.org/wiki/1945" \o "1945" 1945, bom atom kedua dijatuhkan di atasNagasakisehingga menyebabkan Jepang menyerah kepada Amerika Serikat dan sekutunya. Jepang mulai memengaruhi masyarakat Indonesia dengan janji-janji kemerdekaan. Pemberian janji-janji tersebut bukanlah semata-mata karena Jepang memang akan memberikannya, namun karena keadaan yang mendesak dan Jepang memerluka banyak bantuan terutama pasukan untuk mengantisipasi jika Sekutu menyerang Jepang di tanah jajahannya, Indonesia.

Adanya oraganisasi BPUPKI dan PPKI bentukan Jepang yang betujuan untuk mempersiapakn kemerdekaan ini dimanfaatkan dengan baik oleh Indonesia. Momen ini pun dimanfaatkan oleh Indonesia untuk memproklamasikan kemerdekaannya.Dalam pembelajaran Sejarah Indonesia kelas 11 semester II ini, mempelajari tentang Penjajahan Jepang di Indonesia dan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang tentang dampak penjajahan Jepang dan proklamasi kemerdekaan Indonesia akan dibahas dalam makalah sejarah ini.Rumusan Masalah

a. Bagimana dampak pendudukan Jepang di Indonesia?b. Bagaimana proses terjadinya peristiwa rengasdengklok?c. Bagaimana proses perumusan teks proklamasi?

d. Bagaimana proses pembacaan teks proklamasi?

Tujuan

Tujuan pembuatan karangan ini adalah untuk mempermudah pembelajaran dan bisa lebih mengetahui tentang :a. Dampak pendudukan Jepang di Indonesia.b. Proses terjadinya peristiwa rengasdengklok.c. Proses perumusan teks proklamasi.

d. Proses pembacaan teks proklamasi.

BAB IIPEMBAHASAN

Dampak Pendudukan Jepang di Indonesia1. Bidang Politik

Bidang Politik Dalam bidang politik, Jepang melakukan kebijakan dengan melarang penggunaan bahasa Belanda dan mewajibkan penggunaan bahasa Jepang. Struktur pemerintahan dibuat sesuai dengan keinginan Jepang, misalnya desa dengan Ku,kecamatan dengan So,kawedanan dengan Gun, kotapraja dengan Syi, kabupaten dengan Ken, dan karesidenan dengan Syu. Setiap upacara bendera dilakukan penghormatan kearah Tokyo dengan membungkukkan badan 90 derajat yang ditujukan pada Kaisar Jepang Tenno Heika. Seperti telah diterangkan di atas bahwa Jepang juga membentuk pemerintahan militer dengan angkatan darat dan angkatan laut. Angkatan darat yang meliputi Jawa-Madura berpusat di Batavia. Sementara itu di Sumatera berpusat di Bukittinggi, angkatan lautnya membawahi Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, dan Irian, sebagai pusatnya di Ujungpandang Pemerintahan itu berada dibawah pimpinan Panglima Tertinggi Jepang untuk Asia Tenggara yang berkedudukan di Dalat (Vietnam). Jepang juga membentuk organisasi-organisasi dengan maksud sebagai alat propaganda, seperti gerakan Tiga A dan Gerakan Putera, tetapi gerakan tersebut gagal dan dimanfaatkan oleh kaum pergerakan sebagai wadah untuk pergerakan nasional. Tujuan utama pemerintah Jepang adalah menghapuskan pengaruh Barat dan menggalang masyarakat agar memihak Jepang. Pemerintah Jepang juga menjanjikan kemerdekaan bagi bangsa Indonesia yang diucapkan oleh PM Tojo dalam kunjungannya ke Indonesia pada September 1943. Kebijakan politik Jepang yang sangat keras itu membangkitkan semangat perjuangan rakyat Indonesia terutama kaum nasionalis untuk segera mewujudkan cita-cita mereka, yaitu Indonesia merdeka.

2. Bidang Sosial Budaya Dan Ekonomi

Untuk membiayai Perang Pasifik dan industriya, Jepang mengeksploitasi sumber daya alam yang ada Indonesia. Tindakan Jepang ini menimbulkan kesengsaraan. Penebangan hutan (untuk pertanian) menyebabkan bahaya banjir, penyerahan hasil panen dan romusa menyebabkan rakyat kekurangan makan, kurang gizi, dan stamina menurun. Akibatnya, bahaya kelaparan melanda di berbagai daerah dan timbul berbagai penyakit serta angka kematian meningkat tajam. Bahkan, kekurangan sandang menyebabkan sebagian besar rakyat di desa-desa telah memakai pakaian dari karung goni, bahkan ada yang menggunakan lembaran karet.

Di samping menguras sumber daya alam, Jepang juga melakukan eksploitasi tenaga manusia. Hal ini akan membawa dampak terhadap mobilitas sosial masyarakat Indonesia. Puluhan hingga ratusan ribu penduduk desa yang kuat dikerahkan untuk romusa membangun sarana dan prasarana perang, seperti jalan raya, jembatan, lapangan udara, pelabuhan, benteng bawah tanah, dan sebagainya. Mereka dikerahkan untuk membuat benteng-benteng pertahanan. Mula-mula tenaga kerja dikerahkan dari Pulau Jawa yang padat penduduknya. Kemudian di kota-kota dibentuk barisan romusa sebagai sarana propaganda. Propaganda yang kuat itu menarik pemuda-pemuda untuk bergabung dengan sukarela. Pengerahan tenaga kerja yang mulanya sukarela lama-lama menjadi paksaan. Mereka dipaksa bekerja keras (romusa) sepanjang hari tanpa diberi upah, makan pun sangat terbatas. Akibatnya, banyak yang kelaparan, sakit dan meninggal ditempat kerja.

Saat itu kondisi masyarakat menyedihkan. Bahan makanan sulit didapat akibat banyak petani yang menjadi pekerja romusa. Gelandangan di kotakota besar seperti Surabaya, Jakarta, Bandung, dan Semarang semakin tumbuh sumbur. Tidak jarang mereka mati kelaparan di jalanan atau di bawah jembatan. Penyakit kudis menjangkiti masyarakat. Pasar gelap tumbuh di kota-kota besar. Barang-barang keperluan sulit didapatkan dan semakin sedikit jumlahnya. Uang yang dikeluarkan Jepang tidak ada jaminannya, bahkan mengalami inflasi yang parah. Bahan-bahan pakaian sulit didapatkan, bahkan masyarakat menggunakan karung goni sebagai bahan pakaian mereka. Obat-obatan juga sangat sulit didapatkan. Semua objek vital dan alat-alat produksi dikuasai Jepang dan diawasi sangat ketat.

Untuk mengerahkan tenaga kerja yang banyak, di tiap-tiap desa dibentuk panitia pengerahan tenaga yang disebut Rumokyokai. Tugasnya menyiapkan tenaga sesuai dengan jatah yang ditetapkan. Untuk menghilangkan ketakutan penduduk dan menutupi rahasia itu maka Jepang menyebut para romusa dengan sebutan prajurit ekonomi atau pahlawan pekerja. Menurut catatan sejarah, jumlah tenaga kerja yang dikirim ke luar Jawa, bahkan ke luar negeri seperti ke Burma, Malaya, Vietnam, dan Mungthai/Thailand mencapai 300.000 orang. Pada bulan Januari 1944, Jepang memperkenalkan sistem tonarigumi (rukun tetangga). Tonarigumi merupakan kelompok-kelompok yang masing-masing terdiri atas 1020 rumah tangga. Maksud diadakannnya tonarigumi adalah untuk mengawasi penduduk, mengendalikan, dan memperlancar kewajiban yang dibebankan kepada mereka. Dengan adanya perang yang makin mendesak maka tugas yang dilakukan Tonarigumi adalah mengadakan latihan tentang pencegahan bahaya udara, kebakaran, pemberantasan kabar bohong, dan mata-mata musuh.

Sementara itu, untuk mengawasi karya para seniman agar tidak menyimpang dari tujuan Jepang, maka didirikanlah pusat kebudayaan pada tanggal 1 April 1943 di Jakarta, yang bernama Keimun Bunka Shidosho. Jepang yang mula-mula disambut dengan senang hati, kemudian berubah menjadi kebencian. Rakyat bahkan lebih benci pada pemerintah Jepang daripada pemerintah Kolonial Belanda. Jepang seringkali bertindak sewenang-wenang. Seringkali rakyat yang tidak bersalah ditangkap, ditahan, dan disiksa. Kekejaman itu dilakukan oleh kempetai (polisi militer Jepang). Pada masa pendudukan Jepang banyak gadis dan perempuan Indonesia yang ditipu oleh Jepang dengan dalih untuk bekerja sebagai perawat atau disekolahkan, tetapi ternyata hanya dipaksa untuk melayani para kompetai. Para gadis dan perempuan tersebut di sekap dalam kamp-kamp yang tertutup sebagai wanita penghibur. Kamp-kamp tersebut dapat ditemukan di Solo, Semarang, Jakarta, dan Sumatera Barat. 3. Bidang Pendidikan

Pada masa pemerintahan Jepang, keadaan pendidikan di Indonesia semakin memburuk. Pendidikan tingkat dasar hanya ada satu, yaitu pendidikan dasar selama enam tahun. Hal itu sebagai politik Jepang untuk memudahkan pengawasan. Bahasa Jepang menjadi pelajaran wajib, pelajar juga harus mempelajari adat istiadat Jepang dan lagu kebangsaan Jepang, Kimigayo, serta gerak badan sebelum pelajaran dimulai. Bahasa Indonesia digunakan sebagai bahasa pengantar di semua sekolah dan dianggap sebagai mata pelajaran wajib.

Sementara itu, Perguruan Tinggi di tutup pada tahun 1943. Beberapa perguruan tinggi yang dibuka lagi adalah Perguruan Tinggi Kedokteran (Ika Daigaku) di Jakarta dan Perguruan Tinggi Teknik (Kogyo Daigaku) di Bandung. Jepang juga membuka akademi pamong praja (Konkoku Gakuin) di Jakarta, serta Perguruan Tinggi Hewan di Bogor. Pada saat itu, perkembangan perguruan tinggi benar-benar mengalami kemunduran. Oleh Jepang sekolah-sekolah dan perguruan-perguruan dijadikan tempat indoktrinasi. Melalui pendidikan dibentuk kader-kader untuk memelopori dan melaksanakan konsepsi Kemakmuran Bersama Asia Timur Raya. Sistem pengajaran dan struktur kurikulum ditujukan untuk keperluan Perang Asia Pasifik.

Satu hal keuntungan pada masa Jepang adalah penggunaan Bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar. Melalui sekolah-sekolah itulah Jepang melakukan indoktrinisasi. Menurut Jepang, pendidikan kader-kader dibentuk untuk memelopori dan melaksanakan konsepsi kemakmuran Asia Raya. Namun, bagi bangsa Indonesia tugas berat itu merupakan persiapan bagi pemuda pemuda terpelajar untuk mencapai kemerdekaan. Para pelajar juga dianjurkan untuk masuk militer. Mereka diajarkan heiho atau sebagai pembantu prajurit. Pemuda-pemuda juga dianjurkan masuk barisan seinenden dan keibodan (pembantu polisi). Mereka dilatih baris berbaris dan perang meskipun hanya bersenjatakan kayu. Dalam seinenden mereka dijadikan barisan pelopor atau suisintai. Barisan pelopor itu mendapat pelatihan yang berat. Latihan militer itu kelak sangat berguna bagi bangsa kita. Akan menjadi cikal bakal bagi TNI (Tentara Nasional Indonesia). 4. Birokrasi dan Militer

Dalam bidang birokrasi, dengan dikeluarkannya UU no. 27 tentang Aturan Pemerintah Daerah dan UU No.28 tentang Aturan Pemerintah Syu dan Tokubetshu Syi, maka berakhirlah pemerintahan sementara. Kedua aturan itu merupakan pelaksanaan struktur pemerintahan dengan datangnya tenaga sipil dari Jepang di Jawa. Mereka ditempatkan di Jawa untuk melakukan tujuan reorganisasi Jepang, yang menjadikan Jawa sebagai pusat perbekalan perang di wilayah selatan. Sesuai dengan undang-undang itu, seluruh kota di Jawa dan Madura, kecuali Solo dan Yogyakarta, dibagi atas syu, syi, ken, gun, son, dan ku. Pembentukan provinsi yang dilakukan Belanda diganti dan disesuaikan dengan struktur Jepang, daerah pemerintahan yang tertinggi, yaitu Syu. Meskipun luas wilayah Syu sebesar karesidenan, namun fungsinya berbeda. Apabila residen merupakan pembantu gubernur, maka Syu adalah pemerintah otonomi dibawah shucokan yang berkedudukan sama dengan gubernur. Pada pendudukan Jepang juga dibentuk Chou Sangi yang fungsinya tidak jauh berbeda dengan Volkstraad. Dalam Volkstraad masih dapat dilakukan kritik pemerintah dengan bebas. Sementara chou sangi tidak dapat melakukan hal itu.

Pada masa pendudukan Jepang, rakyat Indonesia mendapatkan banyak manfaat dalam bidang militer. Mereka mendapat kesempatan untuk berlatih militer. Mulai dari dasar-dasar militer, baris berbaris, latihan menggunakan senjata, hingga organisasi militer, dan latihan perang. Melalui propagandanya, Jepang berhasil membujuk penduduk untuk menghadapi sekutu. Karena itulah mereka melatih menduduk dengan latihan-latihan militer. Bekas pasukan Peta itulah yang menjadi kekuatan inti Badan Keamanan Rakyat (BKR), yang menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan sekarang dikenal dengan Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Peristiwa RengasdengklokPeristiwa Rengasdengklokterjadi dikarenakan adanya perbedaan pendapat antara golongan muda dan tua tentang masalah kapan dilaksanakannya proklamasi kemerdekaan Indonesia. Kejadian tersebut berlangsung tepatnya pada tanggal 16 Agustus 1945. Golongan muda membawa Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta ke rengasdengklok dengan tujuan untuk mengamankan keduanya dari intervensi pihak luar. Daaerah Rengasdengklok dipilih karena menurut perhitungan militer, tempat tersebut jauh dari jalan raya Jakarta-Cirebon. Di samping itu, mereka dengan mudah dapat mengawasi tentara Jepang yang hendak datang ke Rengasdengklok dari arah Bandung maupun Jakarta.

KronologiPeristiwa Rengasdengklok

Soekarno-Hatta berada di Rengasdengklok selama satu hari penuh. Usaha dan rencana para pemuda untuk menekan kedua pemimpin bangsa Indonesia itu agar cepat-cepat memproklamasikan kemerdekaan Indonesia tanpa campur tangan tentara Jepang tidak dapat dilaksanakan. Dalamperistiwa Rengasdengkloktersebut tampaknya kedua pemimpin itu mempunyai wibawa yang besar sehingga para pemuda merasa segan untuk mendekatinya, apalagi melakukan penekanan. Namun, melalui pembicaraan antara Shodanco Singgih dengan Soekarno, menyatakan bahwa Soekarno bersedia memproklamasikan kemerdekaan Indonesia setelah kembali ke Jakarta.

Berdasarkan pernyataan Soekarno itu, pada tengah hari Shodanco Singgih kembali ke Jakarta untuk menyampaikan berita proklamasi kemerdekaan yang akan disampaikan oleh Soekarno kepada kawan-kawannya dan para pemimpin pemuda. Sementara itu, di Jakarta sedang terjadi perundingan antara Achmad Subardjo (mewakili golongan tua) dengan Wikana (mewakili golongan muda). Dari perundingan itu tercapai kata sepakat, bahwa proklamasi kemerdekaan Indonesia harus dilaksanakan di Jakarta. Di samping itu, Laksamana Tadashi Maeda mengizinkan rumah kediamannya dijadikan sebagai tempat perundingan dan bahkan ia bersedia menjamin keselamatan para pemimpin bangsa Indonesia itu.

AkhirPeristiwa Rengasdengklok

Berdasarkan kesepakatan antara golongan pemuda dengan Laksamana Tadashi Maeda itu, Jusuf Kunto bersedia mengantarkan Achmad Subardjo dan sekretaris pribadinya pergi menjemput Soekarno dan Hatta ke Rengasdengklok. Sebelum berangkat ke Rengasdengidok, Achmad Subardjo memberikan jaminan dengan taruhan nyawanya bahwa proklamasi kemerdekaan Indonesia akan dilaksanakan pada tanggal 17 Agustus 1945, selambat-lambatnya pukul 12.00 WIB. Dengan jaminan itu, komandan kompi Peta Cudanco Subeno bersedia melepas Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta beserta rombongan untuk kembali ke Jakarta. Rombongan tersebut tiba di Jakarta pada pukul 17.30 WIB. Itulah sejarah singkatperistiwa Rengasdengklokyang terjadi sebelum proklamasi kemerdekaan.

Proses Perumusan Teks Proklamasi

Sekitar pukul 20.00 WIB, rombongan Bung Karno dan Bung Hatta telah kembali ke Jakarta. Mereka tiba dengan selamat. Setibanya di Jakarta, para pemuda sibuk mencari tempat pertemuan yang aman untuk membahas proklamasi. Atas usaha Mr. Achmad Soebardjo, diperolehlah tempat yang aman untuk mengadakan pertemuan yaitu rumah Laksamana Maeda.

Laksamana Muda Maeda adalah Wakil Komandan Angkatan Laut Jepang. Ia banyak menaruh simpati terhadap perjuangan bangsa Indonesia. Rumah itu terletak di Jalan Imam Bonjol No. I Jakarta Pusat. Dipilihnya rumah Laksamana Maeda, antara lain agar pembicaraan tentang proklamasi kemerdekaan berjalan aman dari gangguan tentara Jepang. Sejak berita menghilangnya Bung Karno dan Bung Hatta, memang mereka sibuk mencari kedua tokoh bangsa Indonesia tersebut.

Di rumah Laksamana Maeda berkumpul tokoh-tokoh pemuda dan beberapa orang anggota PPKI. Sebelum pertemuan dimulai, Bung Karno dan Bung Hatta mendatangi Jenderal Nisyimura. Maksudnya untuk menjajaki sikap dan garis kebijaksanaan Penglima Tentara Jepang terhadap proklamasi kemerdekaan Indonesia. Ternyata, sikapnya tidak menghendaki adanya pengalihan kekuasaan. Berdasarkan kenyataan itu, Bung Karno dan Bung Hatta kemudian memutuskan untuk mewujudkan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, tanpa perlu berhubungan lagi dengan Jepang.

Kedua tokoh bangsa Indonesia itu kembali menuju rumah Laksamana Maeda. Ir. Soekarno segera memimpin perumusan teks proklamasi. Ketika pembahasan naskah proklamasi berlangsung, Laksamana Maeda mengundurkan diri. Ia pergi ke ruang belajarnya di lantai dua. Sementara itu, kepercayaan Jenderal Nisyimura, Miyosi, bersama tiga orang tokoh pemuda, yaitu Soekarni, Soediro, dan B.M. Diah menyaksikan Bung Karno dan Bung Hatta merumuskan naskah proklamasi. Yang lainnya menunggu di serambi depan.

Teks proklamasi ditulis tangan oleh Ir. Soekarno. Setelah rumusan teks proklamasi selesai dibuat, tepat pukul 04.30 waktu Jepang atau 04.00 WIB, mereka menuju serambi muka menemui tokoh-tokoh lainnya. Ir. Soekarno kemudian membacakan konsep proklamasi. Ia kemudian menyarankan agar semua yang hadir turut serta menandatanginya. Dalam kesempatan itu, Soekarni menyerankan agar yang menandatangi naskah proklamasi itu cukup dua orang atau Bung Karno dan Bung Hatta atas nama bangsa Indonesia. Usul Soekarni tersebut disetujui oleh yang hadir.

Setelah dilakukan beberapa perubahan redaksi, Ir. Soekarno meminta Sayoeti Melik untuk mengetik konsep proklamasi itu. Naskah proklamasi yang ditulis Ir. Soekarno setelah diketik Sayoeti Melik, juga mengalami beberapa perubahan. Perubahan-perubahan tersebut adalah sebagai berikut:

No.Naskah Tulisan Ir. SoekarnoNaskah hasil ketikan Sayoeti Melik

1.Proklamasi.PROKLAMASI.

2.Hal2.Hal-hal.

3.Tempoh.Tempo.

4.Djakarta 17-08-05.Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 05.

5.Wakil2 bangsa Indonesia.Atas nama bangsa Indonesia.

Ada tiga perubahan redaksi pada naskah proklamasi yang disetujui. Pertama, tempoh diganti dengan tempo. Kedua, wakil bangsa Indonesia diganti dengan atas nama bangsa Indonesia. Ketiga, cara menulis tanggal Djakarta 17-8-05 diganti menjadi Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 05. Naskah hasil ketikan Sayoeti Melik kemudian ditandatangani oleh Bung Karno dan Bung Hatta atas nama bangsa Indonesia.

Dalam kesempatan itu, dibahas tentang tempat dan pelaksanaan upacara proklamasi kemerdekaan. Soekarni kembali mengusulkan agar pembacaan proklamasi itu dilangsungkan di lapangan IKADA. Namun, Ir. Soekarno menyarankan agar upacara proklamasi kemerdekaan dilakukan di rumah kediamannya di Jalan Pegangsaan Timur No. 56. Saran Ir. Soekarno tersebut disetujui oleh yang hadir. Kemudian disepakati, bahwa pembacaan proklamasi akan dilaksanakan di Jalan Pegangsaan Timur No. 56, hari Jumat, tanggal 17 Agustus 1945, pukul 10.00 WIB

Proses Pembacaan Teks ProklamasiPara pemimpin bangsa serta para tokoh pemuda keluar dari rumah Laksamana Maeda. Mereka telah sepakat untuk memproklamasikan kemerdekaan bangsa Indonesia hari itu di rumah Soekarno, Jalan Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta, pada pukul 10.00 pagi. Bung Hatta pernah beramanat terhadap para pemuda yang bekerja pada pers serta kantor-kantor kabar, untuk memperbanyak teks proklamasi serta menyebarkannya ke seluruh dunia.

Menjelang pelaksanaan Proklamasi Kemerdekaan, suasana di Jalan Pegangsaan Timur 56 lumayan sibuk. Wakil Walikota, Soewirjo, memerintahkan terhadap Mr. Wilopo untuk mempersiapkan peralatan yang diperlukan semacam mikrofon serta berbagai pengeras suara. Sedangkan Sudiro memerintahkan terhadap S. Suhud untuk mempersiapkan satu tiang bendera. Sebab situasi yang tegang, Suhud tak ingat bahwa di depan rumah Soekarno itu, tetap ada dua tiang bendera dari logam yang tak dipakai. Malahan ia mencari sebatang bambu yang berada di belakang rumah. Bambu itu dibersihkan serta diberi tali. Lalu ditanam berbagai langkah saja dari teras rumah. Bendera yang dijahit dengan tangan oleh Nyonya Fatmawati Soekarno telah disiapkan. Bentuk serta ukuran bendera itu tak standar, sebab kainnya berkapasitas tak sempurna. Terbukti, kain itu awalnya tak disiapkan untuk bendera.

Sementara itu, rakyat yang telah mengenal bakal dilaksanakan Proklamasi Kemerdekaan telah berkumpul. Rumah Soekarno telah dipadati oleh sejumlah massa pemuda serta rakyat yang berbaris teratur. Berbagai orang tampak gelisah, khawatir bakal adanya pengacauan dari pihak Jepang. Matahari terus tinggi, Proklamasi belum juga dimulai. Waktu itu Soekarno terserang sakit, malamnya panas dingin terus menerus serta baru tidur seusai berakhir merumuskan teks Proklamasi. Para undangan telah tak sedikit berdatangan, rakyat yang telah menantikan sejak pagi, mulai tak sabar lagi. Mereka yang diliputi suasana tegang bercita-cita keras supaya Proklamasi segera diperbuat. Para pemuda yang tak sabar, mulai mendesak Bung Karno untuk segera membacakan teks Proklamasi. Tetapi, Bung Karno tak mau membacakan teks Proklamasi tanpa keberadaan Mohammad Hatta. Lima menit sebelum agenda dimulai, Mohammad Hatta datang dengan pakaian putih-putih serta langsung menuju kamar Soekarno. Sambil menyambut kedatangan Mohammad Hatta, Bung Karno bangkit dari tempat tidurnya, lalu berpakaian. Ia juga mengenakan stelan putih-putih. Kemudian keduanya menuju tempat upacara.

Upacara pembacaan teks Proklamasi itu. Upacara itu berjalan sederhana saja. Tanpa protokol. Latief Hendraningrat, salah seorang anak buah PETA, segera memberi instruksi terhadap seluruh barisan pemuda yang telah menantikan sejak pagi untuk berdiri. Serentak semua berdiri tegak dengan sikap sempurna. Latief kemudian mempersilahkan Soekarno serta Mohammad Hatta maju berbagai langkah mendekati mikrofon. Dengan suara mantap serta jelas, Soekarno mengucapkan pidato pendahuluan pendek sebelum membacakan teks proklamasi. PROKLAMASIKami bangsa Indonesia dengan ini menyebutkan Kemerdekaan Indonesia . Hal-hal yang tentang pemindahan kekuasaan serta lain-lain, diselenggarakan dengan tutorial akurat serta dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.Jakarta , 17 Agustus 1945.Atas nama bangsa Indonesia

Soekarno/Hatta.Setelah pembacaan proklamasi, dilanjutkan dengan pengibaran bendera Merah Putih. Soekarno serta Hatta maju berbagai langkah menuruni anak tangga terbaru dari serambi muka, lebih tak lebih dua meter di depan tiang. Ketika S. K. Trimurti diminta maju untuk mengibarkan bendera, dirinya menolak: " lebih baik seorang prajurit ," katanya. Tanpa ada yang menyuruh, Latief Hendraningrat yang berseragam PETA berwarna hijau dekil maju ke dekat tiang bendera. S. Suhud mengambil bendera dari atas baki yang telah disediakan serta mengikatnya pada tali dibantu oleh Latief Hendraningrat.

Bendera dinaikkan perlahan-lahan. Tanpa ada yang memimpin, para hadirin dengan spontan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Bendera dikerek dengan lambat sekali, untuk menyesuaikan dengan irama lagu Indonesia Raya yang lumayan panjang. Setelah itu, Suwiryo memberikan sambutan dan kemudian disusul sambutan dr. Muwardi. Sekitar pukul 11.00 WIB, upacara telah selesai. Kemudian dr. Muwardi menunjuk beberapa anggota Barisan Pelopor untuk menjaga keselamatan Sukarno dan Moh. HattaBAB IIIPENUTUP

KesimpulanSaran

Sebaiknya kita harus tetap memiliki rasa cinta tanah air yang tinggi, jangan mau di perbudak oleh negara lain, kita harus berdiri di atas kaki sendiri. Dari berbagai penderitaan para romusa kita dapat mengambil pelajaran bahwa kita harus tetap sabar dan tabah setra terus berjuang dalam hidup ini.DAFTAR PUSTAKA

Sardiman AM, A. D. (2014). Sejarah Indonesia XI Semester 2. Jakarta: Kemendikbud.

Uknown. (2014, April 2). Wikipedia. Dipetik Febuari 28, 2015, dari Wikipedia Indonesia: http://id.wikipedia.org/wiki/Romusha

http://kumpulanbiografiindonesia.blogspot.com/2013/02/romusha-pada-masa-jepang.htmlhttp://moeslim-mind.blogspot.com/2011/12/jeritan-romusha.htmlhttp://lelaunairhistory11.blogspot.com/2012/05/sejarah-romusa-sebagai-puncak.html

iii