DLAJAH-10.10 #01

  • View
    214

  • Download
    2

Embed Size (px)

DESCRIPTION

 

Text of DLAJAH-10.10 #01

  • NO. 01 - OKTOBER 2013

    www.dlajah.com

  • 08

    07

    Jalan BragaKlasik Romantik

    Menyaksikan Temaram CahayaBandung dari Bukit Moko

    CONTENTCHIEF EDITOR

    HIM

    DEWAN PENASEHAT

    AKHMAD HADIAN LUKITA DION LUTVAN PRAMUDYO

    PENGEMBANGAN BISNIS

    anggun nugrahaSUNARYO KUSUMO

    KEMITRAAN

    MIKHAEL SEBAYANG

    PENULISROSALINA WATINENI IRYANI

    andi abdul muhaiminFAUZIAH ANDRI PRIYATNO

    TATA LETAK & DESIGN

    abdul aris mustaqinWINDYASARI

    SOCIAL MEDIAEKO JUSMAR

    WEBSITE MASTERRIZKI RUSDIWIJAYANUR KHAFIDL

    ADMINISTRASI DAN KEUANGAN

    ida siti nuraida

    REDAKSI DAN KEMITRAAN

    JL. KYAI GEDE UTAMA NO. 12 BANDUNG 40132PHONE. +62.22.2501925 - FAX. +62.22.2516752

    FOTOGRAPHER

    MOwELBLACKPACKER

    Dlajah @dlajahmagz @Dlajah

    www.dlajah.com

    04

    03

    NO. 01 - OKTOBER 2013

    Perpaduan Magis Bandoeng Tempo Doeloe dan Cita Rasa Modern

    DAGO

  • A dalah Dago, sebuah nama jalan kuno dari Jalan Ir. H. Djuanda di Bandung yang pada jaman kolonial Belanda disebut dengan Dago Weg. Seruas jalan yang menjanjikan kenangan indah bagai seserpih romantisnya Paris di bumi Parahyangan. Tak berlebihan kiranya, karena sejak jaman dulu Bandung memang dikenal dengan Parijs van Java. Letak Jalan Dago di Utara kota Bandung, menjadikan jalanan ini asri sejuk dan alami. Apalagi dengan bangunan lama berarsitektur tropis gaya colonial, dihiasi dengan pepohonan yang teduh dengan dedaunandan bunga-bunganya yang gugur ke jalan berwarna kekuningan, bercampur dedaunan berwarna kuning coklat dan merah terakota, membuat suasana seperti musim gugur di jalanan Eropa.

    Jalan Dago adalah perpaduan suasana magis dari peninggalan Bandoeng tempo doeloe, dengan suasana kafe dan hiburan modern masa kini. Semoga proporsi suasana modern dan keantikan masa lalu selalu dalam perpaduan yang pas, sebagaimana oregano pada pizza, kebanyakan atau kurang juga membuat tidak enak rasanya.

    Pernahkah Anda mencoba menyusuri Jalan Dago ini di malam hari? Saat lampu-lampu jalan dinyalakan dan angin sejuk menghela nafasnya dengan pelan, kadang bahkan ditingkahi kabut turun? Cobalah menikmati jalanan Dago dengan berjalan kaki. Untuk menghindari jalanan yang ramai di ruas utama, Anda dapat memutar melalui jalan-jalan kecil di luar ruas utama Jalan Dago yang penuh pepohonan. Kafe-kafe cantik dengan aneka jenis kuliner dapat Anda nikmati. Suasana etnik, modern, atau tempo dulu dapat menjadi pilihan selera Anda.

    04

    Perpaduan Magis Bandoeng Tempo Doeloe dan Cita Rasa Modern Teks: Mira Marsellia

    Photo: MowelBlackpackerDAGO Foto: Mira Marsellia

  • 05

    Saya selalu merasa senang dengan suasana Bandung di seputaran Dago. Sejuknya masih terasa walau kini Bandung secara umum lebih panas dibanding belasan tahun lalu. Banyak pula rumah-rumah yang penuh dengan papan reklame di depannya. Namun suasana Dago masih penuh pesona.

    Sampai saat ini jalanan Dago di akhir pekan masih saja macet dengan orang-orang yang ingin menikmati suasana di malam hari untuk mencari makanan dan minuman enak, dan juga berselancar ria di kafe-kafe yang menyediakan internet gratis yang bisa digunakan dengan modal secangkir kopi. Jalanan Dago makin malam makin ramai dengan hadirnya pejalan kaki maupun pengguna kendaraan bermotor. Penjual bunga mawar dengan kuntum yang setengah merekah berwarna merah dengan ceria menawarkan dagangan indah tersebut bagi pasangan kekasih yang ingin meningkahi malam indahnya dengan pemberian bunga pada kekasih . Dago masih menyalakan magnetnya untuk romantisme bagi pasangan, baik tua maupun muda.

    Saya berkali-kali melewati Jalan Dago bersama pasangan. Memarkir mobil dimana saja asal dapat tempat. Lalu berjalan menyusuri trotoar. Menggenggam erat tangan saat menyeberang jalan, mencari sudut kafe yang cozy dengan sofa empuk yang membenamkan badan, memeluk bantal dan melihat kepulan uap dari macchiato coffee latte, dan menghirup pelan, menikmati belaian busa kopi yang halus dan kehangatan regukan kopi mengaliri dada, memompakan semangat dan kegembiraan. Gelak tawa sekitar dan gejolak suasana malam yang hidup membuat kita lupa bahwa jarum jam telah beranjak lewat.

  • 06

    Ruas Jalan Dago cukup panjang. Dago Bawah sering kita sebut untuk Jalan Ir. H. Djuanda, mulai dari persimpangan Jl. Laksamana Laut R.E. Martadinata dengan Jalan Merdeka sampai dengan perempatan Jl. Ir. H. Djuanda bertemu dengan Jalan Dipati Ukur. Ke arah Jl. Ir. H. Djuanda menuju ke Bandung Utara yang berbukit sering disebut Dago Atas untuk memudahkan. Bila di Dago Bawah penuh dengan keramaian suasana anak muda yang berjalan-jalan, maka Dago Atas akan ditemukan kafe-kafe yang lebih tenang, tidak terlalu bingar. Banyaklah kafe dan resto di sana yang menawarkan kenyamanan tempat dan pemandangan Bandung di waktu malam yang spektakuler. Ini pun merupakan pilihan tempat yang sangat tepat bagi kekasih melewatkan malam. Kota Bandung yang tampak bagai cekungan lebar dengan lampu-lampu kota yang semarak, seperti halnya gugusan galaksi penuh bintang di langit yang pindah ke permukaan tanah. Pegunungan dan perbukitan gelap di kejauhan, Malabar dan Patuha, bisa tampak bila suasana sedang cerah dengan langit tanpa awan.

    Tak hanya kafe atau resto yang bisa menawarkan kenyamanan dan suasana romantis bagi pasangan. Kadang bukan ukuran jumlah uang yang mesti dikeluarkan untuk mendapat kehangatan suasana. Bakar jagung pinggir jalan dan minuman jahe panas ataupun minuman khas Sunda, bajigur yang gurih, pun tak mengapa. Warung-warung tenda dengan makanan sederhana, namun nikmat dengan wangi sedap menguar di udara pun banyak terdapat. Pisang bakar keju, sate padang, dan soto yang panas adalah pilihan sedap mengenyangkan, apalagi di jam malam yang semakin dingin. Ramen dan makanan Jepang lainnya, yang saat ini banyak digemari kawula muda, bisa dinikmati di kafe-kafe lucu di pinggir jalan dengan harga terjangkau.

    Untuk Anda yang ingin menikmati romantisme dengan paduan suasana modern dan masa lalu, berjalan-jalan di Dago waktu malam adalah pilihan indah di akhir pekan.

  • K ekayaan daya tarik yang dimiliki Kota Bandung tidak hanya terbatas pada daya tarik alam dan budayanya saja, pesona daya tarik peninggalan bersejarah atau heritage pun turut mempercantik kota dengan julukan Paris Van Java ini. Tesebutlah Jalan Braga, sebuah jalan di Kota Bandung yang dihiasi bangunan berasitektur heritage lengkap dengan lalu lalang manusia dan hilir mudik kendaraan. Bukan hanya sekedar papan petunjuk yang mematung di atas sebuah plat besi bertuliskan Braga, jalan ini memiliki lakon menghidupkan Kota Bandung ketika matahari telah kembali ke peraduannya.

    Secara fungsional, jalan yang memiliki panjang sekitar 300 m menjadi salah satu jalur lalu lintas utama kendaraan di Bandung. Pernah menyandang nama jalan culik karena tingginya angka kriminalitas, citra Jalan Braga kini berubah drastis menjadi ikon Kota Bandung. Meski ukurannya relatif pendek, namun saat malam hari tiba, sungguh menyiratkan kesan tersendiri. Suasana Jalan Braga semakin malam justru semakin ramai. Puluhan motor dan mobil berjajar parkir di sepanjang jalan yang kini dilapisi batuan andesit. Menelusuri Jalan ini, seolah-olah Anda dibawa ke suasana tempo dulu yang sarat akan

    nilai-nilai historis. Bangunan-bangunan yang menghiasi sepanjang jalan ini didominasi oleh bangunan peninggalan penjajahan Belanda dengan desain yang tetap orisinil nan elegan.

    Caf-caf, mall, tempat karaoke, tempat penginapan, toko-toko, hingga bar kian menambah semarak Jalan Braga. Pantas saja banyak wisatawan dan orang lokal yang rela melawan dinginnya malam hari demi menikmati moleknya Braga. Menelusuri jalan ini, walaupun hanya dengan sekedar berjalan kaki bersama pasangan justru menciptakan romantisme tersendiri.

    Jalan BragaKlasik Romantik

    Teks: Dwi Kusnendar | www.kusnendar.web.idPhoto: MowelBlackpacker

    07

  • Saat menelusuri Jalan Braga, beragam pemandangan memberikan warna yang sungguh ciamik. Pemandangan para eksekutif muda yang tengah melepas penat berkumpul dengan koleganya di caf-caf yang berderet rapi, para fotografer yang tengah serius mengabadikan momen di setiap sudut jalan, dan tak ketinggalan pemandangan para muda-mudi yang sedang memadu kasih memberikan warna tersendiri kepada jalan legendaris ini.

    Untuk mereka yang ingin menghabiskan waktu dengan ragam hiburan yang ditawarkan Braga, tersedia Mal Braga City Walk, Caf Suga Rush, Caf Kopitiam Oey, Restoran Braga Permai, Restoran Bandung Suki, Braga Caf and Craft, Mie Reman, Caesars Palace Disco Nite Club, Marshal Disco dan sebagainya. Romantisme pun tak melulu harus mewah dan mengeluarkan kocek besar. Beberapa pedagang kaki lima juga turut meramaikan blantika trotoar Jalan Braga. Mereka menawarkan berbagai pilihan bagi semua kalangan, mulai dari sate, bakso, ronde jahe, dan banyak lagi yang berjajar di depan bangunan-bangunan klasik Jalan Braga. Itulah warna-warni romantisme Jalan Braga!

    Tak perlu jauh-jauh hingga ke Kota Paris jika Anda ingin menikmati romantisme sebuah kota yang sarat akan nilai heritage. Jalan Braga menyuguhkan atmosfer yang tak kalah menggiurkan. Sesuai pengalaman Saya yang pernah berkunjung dan menetap selama 1 bulan di sekitar jalan ini, rasa kerinduan tersendiri muncul ketika Saya harus kembali ke kampung halaman saya. Dapat dipastikan jika Saya bertandang ke Bandung lagi, Saya tidak akan melewatkan romantisme Jalan Braga, khususnya saat malam hari.

    08

  • Menyaksikan Temaram CahayaBandung dari Bukit MokoTeks: Aulia Febi SyafitriPhoto: Aulia Febi Syafitri

    T ak hanya tempat belanja dan taman wisata alam serta kuliner unik yang dicari wisatawan.Tempat-tempat romantis untuk bermalam minggu pun selalu jadi tujuan utama para wisatawankhususnya par