Ekologi Mikroorganisme Pengaruh Faktor Abiotik Dan Faktor Tumbuh

  • View
    183

  • Download
    3

Embed Size (px)

Text of Ekologi Mikroorganisme Pengaruh Faktor Abiotik Dan Faktor Tumbuh

Ekologi MikroorganismePengaruh Faktor Abiotik dan Faktor Tumbuh

Mikrobiologi Umum Semester Genap 2010/2011 Esti Widowati,S.Si.,M.P5/2/2013 S1-THP Mikroumum 2010/2011 1

Faktor Fisika

5/2/2013

S1-THP Mikroumum 2010/2011

2

Suhu

Daya tahan MO ditentukan oleh tinggi suhu, paparan dalam suhu, pemanasan dalam kondisi kering atau basah, pH dan sifat lain media Suhu minimum adalah suhu paling rendah saat aktivitas fisiologis masih berlangsung dan sebaliknya pada suhu maksimum. Suhu optimum adalah suhu terbaik dan dekat dengan suhu maksimum.5/2/2013 S1-THP Mikroumum 2010/2011 3

Pembagian Mikroorganisme

termofil (politermik) : tumbuh baik pada suhu 55-65C. Batas suhu 40-80C dan suhu optimum antara 50-60C. Misalnya Thermus aquaticus, Bacillus caldolyticus dan Bacillus caldotenax. Kelompok mikroorganisme termofilik (stenotermofil)(termofil obligat) yang tumbuh baik pada 60C dan tidak dapat tumbuh pada suhu 30C Euritermofil (termofil fakultatif) yang masih dapat tumbuh pada suhu dibawah 30C. mesofil (mesotermik) : suhu 5-60C dengan suhu optimum 25-40C. Suhu 15-55C dan suhu optimum 25-37C. psikrofil (oligotermik) : batas suhu 0-3C dengan suhu optimum 10-20C. Suhu 0-30C dan suhu optimum 15C. stenotermik : golongan bakteri yang hidup pada kisaran suhu sempit yaitu 30-40C misalnya Gonococcus sp. euritermik : golongan bakteri yang hidup pada kisaran suhu lebar yaitu 8-46C. Misalnya E.coli.5/2/2013 S1-THP Mikroumum 2010/2011 4

Suhu Tinggi

Bakteri dipanasi dalam air akan lebih cepat mati daripada dalam buih. Protein dalam kondisi pemanasan basah lebih cepat menggumpal pada suhu yang sama. Pemanasan kering suhu lebih tinggi dan waktu yang lebih lama. Faktor yang mempengaruhi titik kematian thermal : waktu, suhu, kelembapan, bentuk dan jenis spora, usia mikroorganisme, pH dan komposisi media. Faktor-faktor yang mempengaruhi ketahanan terhadap panas : waktu yang diperlukan untuk membunuh spora akan berkurang dengan naiknya suhu5/2/2013 S1-THP Mikroumum 2010/2011 5

Setiap kenaikan suhu 10C terjadi peningkatan kecepatan reaksi 2-3 kali lipat. Suhu yang tinggi menyebabkan denaturasi protein sel. Spora bakteri termofil menyulitkan dalam pasteurisasi dan pengawetan makanan. Bakteri psikrofil menyulitkan penyimpanan dalam lemari pendingin. Thermal Death Point (TDT) nilai suhu yang serendah-rendahnya dapat membunuh bakteri yang berada dalam standar medium selama 10 menit pada kondisi tertentu. Thermal Death Rate terjadi karena perbedaan kematian pada suhu berbeda. Bakteri berspora pemanasan diatas titik didih dalam waktu tertentu.5/2/2013 S1-THP Mikroumum 2010/2011 6

Suhu Rendah

Bakteri umumnya lebih tahan pada kondisi dingin. Pembekuan tidak berpengaruh terhadap spora (spora mengandung sedikit air) Bakteri mati jika dibekukan dalam air bukan dalam buih. Pembekuan spora pada suhu -16C (es dan garam) lebih efektif daripada pembekuan mendadak dalam udara pada suhu -190C. Pembekuan secara terputus-putus lebih efektif daripada terus-menerus. Kematian sel : perubahan koloidal protoplasma irreversibel, denaturasi atau koagulasi protein sel, aw turun, air mengkristal.5/2/2013 S1-THP Mikroumum 2010/2011 7

Pembekuan (usaha penyimpanan dan pengawetan). Proses ini dapat dilakukan dengan nitrogen cair. Pendinginan secara cepat dari suhu optimal ke 0C dapat menyebabkan kematian (cold shock) karena terjadi perubahan lipid pada membran. Efek letal : denaturasi atau flokulasi protein sel atau enzim rusak Ketahanan sel dipengaruhi faktor internal sel, cara pembekuan, suhu beku, lama pembekuan, kecepatan pencairan, ada tidaknya cryoprotectant atau kombinasi faktor diatas, fase pertumbuhan sel atau fase eksponensial.5/2/2013 S1-THP Mikroumum 2010/2011 8

Pengaruh kebasahan dan kekeringanProses pengeringan dapat membunuh bakteri jika kondisinya pengeringan dengan cahaya terang lebih berefek daripada dalam gelap pengeringan pada suhu tubuh lebih berefek daripada suhu beku pengeringan dalam udara lebih baik karena ada faktor oksidasi daripada dalam kondisi vakum

5/2/2013

S1-THP Mikroumum 2010/2011

9

Kelembapan pada suhu tinggi mempercepat koagulasi protein. Mikroorganisme lebih cepat mati dalam pemanasan dengan media asam atau basa. Partikel senyawa meningkatkan resistensi terhadap panas dan menghalangi penetrasi panas kedalam media. Kelembapan optimum diatas 85% (bakteri) dan dibawah 80% (jamur). Nilai aw bakteri antara 0,9-0,999 sedangkan untuk bakteri halofilik mendekati 0,75. Pengeringan protoplasma menyebabkan aktivitas sel terhenti dan sel rusak karena pengaruh tekanan osmosis.5/2/2013 S1-THP Mikroumum 2010/2011 10

Pengaruh perubahan nilai osmosis

Media isotonis terhadap isi sel. Kondisi hipertonis menyebabkan plasmolisis. Perubahan nilai osmosis terjadi perlahan membantu bakteri beradaptasi. Larutan hipertonis menghambat pertumbuhan (Prinsip manisan atau asinan). Mikroorganisme yang beradaptasi dengan konsentrasi gula atau garam tinggi : osmofil. Mikroorganisme yang tahan dalam larutan dengan kandungan garam sampai 30% disebut halodurik. Garam bersifat hidrasi sehingga aw turun.5/2/2013 S1-THP Mikroumum 2010/2011 11

pHBatas pH mikroorganisme adalah antara 6,5-7,5 untuk bakteri, 4,0-4,5 untuk ragi dan rentang pH yang luas untuk kapang dan actinomycetes. Pembagian mikroorganisme berdasarkan rentang pH adalah 1. asidofilik yang dapat tumbuh pada pH 2,0-5,0 2. mesofilik (neutrofilik) yang dapat tumbuh pada pH antara 5,5-8,0 3. alkalifilik yang dapat tumbuh pada pH 8,4-9,5 Sel berusaha memompa proton keluar sehingga sel mengalami kehilangan gradien konsentrasi atau denaturasi karena asam.5/2/2013 S1-THP Mikroumum 2010/2011 12

Pengaruh senyawa toksikLogam

Ion-ion logam (Hg, Ag, Cu, Au, Zn, Li dan Pb) Ion logam berat dapat bereaksi dengan gugus senyawa sel. Daya bunuh ini disebut oligodinamik. Misalnya ion Hg2+ yang bergabung dengan gugus sufhidril (-SH) pada enzim akan menghambat aktivitas enzim. Ion Li+ dan Zn2+ akan menghentikan aktivitas enzim karena kation ini bersifat antagonis dengan H+. Hal ini dapat terjadi sebaliknya jika pH ditingkatkan sehingga efek toksisitas enzim dapat dikurangi.

5/2/2013

S1-THP Mikroumum 2010/2011

13

Anion

Anion (sulfat, tartrat, klorida, nitrat dan benzoat) Sifat toksik alkali tergantung pada logam penyusunnya. Misalnya konsentrasi OH yang sama pada larutan Ba(OH)2 lebih toksik daripada pada NaOH karena Ba2+ bersifat lebih toksik daripada Na+. Prinsip ini digunakan dalam pengawetan makanan. Sifat toksik disebabkan oleh molekul asam organik terhadap gugus di dalam sel.5/2/2013 S1-THP Mikroumum 2010/2011 14

Pengaruh cahaya dan arus listrik

Cahaya 240-300 nm (gelombang pendek). Bakteri terganggu atau mati. Spora dan virus tahan pada sinar UV. Energi sinar X, dan UV digunakan dalam sterilisasi air dan pengawetan makanan. Faktor yang mempengaruhi resistensi : komposisi kimia dan fisik bahan, suhu, aw dan kondisi sel. Cahaya gelombang panjang punya efek fotodinamik dan biofisik. Radiasi menyebabkan ionisasi komponenen, kematian, mutasi atau penghambatan pertumbuhan sel. Panas atau senyawa yang muncul dalam media seperti ozon dan klor dapat mematikan sel. 5/2/2013 S1-THP Mikroumum 2010/2011 15 Arus AC atau DC voltase tinggi mempengaruhi komponen medium.

Pengaruh hidrostatik dan mekanik

Tekanan 600 atm dapat menghentikan perkembangbiakan. Tekanan 6.000 atm membunuh bakteri. Tekanan 12.000 atm membunuh spora. Pengguncangan media tidak berbahaya kecuali terdapat pecahan kaca, tanah radiolaria atau foraminifera. Pengguncangan 9.000 kali/detik membunuh bakteri Beberapa mikoorganisme dapat hidup dengan tekanan tinggi : barofilik. Tekanan tinggi menyebabkan peningkatan reaksi kimia, pengecilan volume koloid organik dan meningkatkan viskositas cairan serta dissosiasi elektrolit.5/2/2013 S1-THP Mikroumum 2010/2011 16

Pengaruh Tegangan Permukaan

Tegangan permukaan mempengaruhi cairan (cairan permukaan seperti membran elastis). Perubahan tegangan dinding sel mempengaruhi perubahan morfologi dan aktivitas fisiologis. Senyawa sabun dan deterjen dapat diadsorbsi oleh permukaan interfasial (permukaan antara udara dan cairan) (Tween 80 dan Triton A20). Bakteri di saluran pencernaan tahan tegangan permukaan relatif tinggi.

5/2/2013

S1-THP Mikroumum 2010/2011

17

Oksigen

Golongan aerobik memerlukan oksigen bebas sebagai akseptor tunggal hidrogen terakhir dalam respirasi. Golongan anaerobik menggunakan senyawa organik. Variasi kehidupan mikroorganisme berdasarkan kebutuhan oksigen adalah a. mikroaerofilik : memerlukan oksigen dalam jumlah sangat sedikit b. fakultatif-anaerobik atau fakultatif aerobik : secara terbatas dapat hidup dalam keadaan aerobik maupun anaerobik c. kapnofilik : memerlukan oksigen dalam konsentrasi rendah tetapi karbondioksida dalam konsentrasi tinggi5/2/2013 S1-THP Mikroumum 2010/2011 18

Faktor Kimia

5/2/2013

S1-THP Mikroumum 2010/2011

19

Zat bakteriostatik atau antiseptik adalah zat yang hanya menghambat pembiakan dan fisiologis bakteri. Zat yang dapat membunuh bakteri adalah zat desinfektan, germisida atau bakterisida. Batas kedua jenis zat tersebut sulit ditentukan tergantung pada konsentrasi dan lamanya paparan zat tersebut.

5/2/2013

S1-THP Mikroumum 2010/2011

20

Faktor yang mempengaruhi daya desinfektan usia bakteri. Bakteri berusia tua lebih tahan kepekatan desinfektan paparan terhadap desinfektan kenaikan suhu yang menambah efek desinfektan pengaruh bahan (susu, plasma darah dan zat lain serupa protein yang dapat melindungi bakteri) Desinfektan perlu memperhatikan faktor pengaruhnya pada kerusakan jaringan, rasa sakit, logam, kestabilan, konsumsi, bau dan warna.5/2/2013 S1-THP Mikroumum 2010/2011 21

Senyawa