HASIL PENELITIAN KEDELAI

  • View
    221

  • Download
    2

Embed Size (px)

Text of HASIL PENELITIAN KEDELAI

  • TELAAH PENYEBAB GEJALA GAPONG PADA KACANG TANAH DAN

    KEMUNGKINAN CARA PENGENDALIANNYA

    Oleh:

    Agustina Asri Rahmianna

    Yuliantoro Baliadi

    BALAI PENELITIAN TANAMAN KACANG-KACANGAN

    DAN UMBI-UMBIAN

    Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan

    Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

    Departemen Pertanian

    2009

  • 2

    TELAAH PENYEBAB GEJALA GAPONG PADA KACANG TANAH DAN

    KEMUNGKINAN CARA PENGENDALIANNYA

    A. A. Rahmianna dan Y. Baliadi

    Abstrak

    Istilah Gapong yang mulai dipublikasikan pada tahun 1930an digunakan untuk

    menamakan polong kacang tanah yang tidak berisi biji, polong berwarna hitam, kulit

    polong rapuh dan kadang-kadang diikuti oleh kondisi busuk. Banyak petani di eks

    Karisidenan Cirebon mengeluhkan gejala ini, karena menimbulkan kerigian ekonomi

    sangat besar, melebihi karena serangan penyakit daun. Hingga kini penyebab utama

    gapong masih belum diketahui sehingga cara penanganannya juga belum pasti. Hasil

    survei tanaman kacang tanah di Kab. Cirebon dan Majalengka pada musim kemarau

    tahun 2008 menunjukkan bahwa istilah gapong digunakan untuk menunjuk kondisi

    polong yang tidak sehat dengan beragam keadaan. Namun demikian apabila dipilah-

    pilahkan maka kondisi gapong bisa disebabkan karena serangan nematoda, serangan

    hama tanah, serangan penyakit tular tanah, maupun karena luka mekanis (terluka oleh

    alat-alat petanian) yang sangat memungkinkan untuk dikendalikan atau ditekan

    serangannya dengan menggunakan pestisida atau teknologi pengendalian yang lainnya.

    Sedangkan fenomena gapong yang mengacu pada kondisi polong berwarna hitam, kulit

    polong bagian luar melepuh seperti terbakar, berserabut dan rapuh serta diikuti oleh

    batang yang kaku, daun berukuran lebih kecil dan kaku, hingga kini masih belum bisa

    diatasi. Hasil penelitian memberikan indikasi bahwa tampaknya ketersediaan unsur hara

    makro N, P, K, Ca, dan pupuk kandang di dalam tanah berhubungan dengan munculnya

    gejala gapong. Selain itu, aplikasi mulsa jerami juga bisa menekan gejala gapong

    Kesehatan tanaman terutama dari penyakit daun bercak dan karat daun serta perlakuan

    benih dengan fungisida Captan juga menekan kerusakan polong. Ke depan, hasil

    penelitian ini ingin kami gabungkan dengan kearifan lokal untuk mengendalikan gejala

    gapong

    Kata kunci: gejala gapong, kacang tanah

  • 3

    Assessing the gapong symptom in peanut pods and its possible management

    A. A. Rahmianna dan Y. Baliadi

    Abstract

    The gapong symptom was firstly published in around 1930s. This term is used

    to express the condition of peanut pods that its seeds do not fully fulfilled (mostly are

    empty pods), blackened pods, brittle shells and sometimes rot. Many peanut farmers in

    ex-Karisidenan Cirebon complain about that symptom, as it is caused huge economic

    failure more than it is caused by foliar diseases infection. Until recently, the main cause

    for gapong incidence has not fully identified and therefore the management treatment

    has not been fixed. Survey on peanut crops in Cirebon and Majalengka regency during

    the dry season 2008 showed that the term of gapong pointed the unhealthy peanut

    pods with various conditions. The grouping based on the main cause resulted in gapong

    could be caused by nematode attack, soil pest attack, soil borne diseases infestation, as

    well as physical wounds. All these causes are reasonably controlled or at least their

    infestation can be minimized by applying pesticides or other control technologies.

    Whilst, the gapong that refers to pod condition of blackened, burned-symptom of

    shells, harsh surface and brittle and followed with hard stems, is unsolved problem. The

    research results seemingly indicated that the availability of macro nutrients N, P, K, Ca,

    and organic manure have a special relation to the appearance of gapong symptom. In

    addition, the application of rice straw as mulch is somehow successful in minimizing

    the gapong symptom. The free-foliar diseases infection crops as well as fungal seed

    treatment with Captan gave a good prospect in reducing the amount of damaged/rotted

    pods. In the future, we keen to enrich the local wisdom in combating gapong

    symptom with our research findings.

    Key words: Arachis hypogaea L; gapong symptom.

  • 4

    Latar Belakang

    Gejala/fenomena Gapong pada kacang tanah, yang dicirikan dengan polong

    tidak berisi dilanjutkan dengan busuk pada ujung polong, banyak dikeluhkan oleh petani

    pada beragam agroekologi. Gejala Gapong menyebabkan kerugian ekonomi yang

    tinggi, melebihi kerugian yang diakibatkan oleh serangan penyakit daun.

    Pengamatan sampel polong dengan gejala gapong yang diambil dari lapang baik

    ketika polong masih dalam fase perkembangan atau pada saat panen menunjukkan

    adanya infeksi jamur-jamur tular tanah. Penyebab primer dari penyakit ini belum

    diketahui dengan pasti dan jamur-jamur tersebut agaknya bukan penyebab primer dari

    gapong. Dengan demikian serangan jamur merupakan infeksi sekunder (secondary

    infection). Serangan Gapong sangat merugikan karena menyebabkan kerugian

    ekonomi yang sangat nyata.

    Belum banyak laporan yang mengupas cara pengendalian gapong. Semangun

    (2004) menginformasikan bahwa ada yang menganjurkan untuk melakukan pengairan

    yang teratur setiap 2 minggu sekali. Pengairan dilakukan pada malam hari karena

    pengairan pada waktu pagi hari akan memperparah insiden gapong. Pengairan

    sebaiknya dihentikan paling lambat 15 hari menjelang panen, karena pengairan dalam

    waktu 15 hari menjelang panen akan memperparah insiden gapong. Tampaknya,

    dampak dari perubahan iklim global akan mengakibatkan kesulitan untuk menjamin air

    selalu tersedia bagi tanaman pada musim kemarau. Oleh karena itu, dipandang perlu

    menelaah dengan seksama penyebab utama gejala gapong dan kemungkinan cara

    pengendaliannya.

    Identifikasi Gejala Gapong

    Gejala Gapong banyak dikeluhkan petani di Kabupaten Cirebon, Kuningan dan

    Majalengka (Jawa Barat) dan di kabupaten Banjarnegara (Jawa Tengah), karena

    menyebabkan kerugian yang besar. Berjangkitnya gejala gapong dilaporkan pertama

    kali pada tahun 1930 an di Karisidenan Cirebon berdasarkan tulisan Leefman pada

    tahun 1933 dan 1934, dan van der Goot pada tahun 1934 dan 1935. Selanjutnya, laporan

    pada tahun 1953 menyebutkan bahwa karena besarnya kerugian ekonomi yang diderita,

    maka petani tidak mau menanam kacang tanah pada musim kemarau (Semangun, 2004).

    Selain menyebabkan rendahnya jumlah polong isi, gejala gapong juga menyebabkan

    penurunan berat dan kualitas polong, sehingga mengakibatkan harga jual yang rendah.

    Gapong dicirikan dengan polong berwarna coklat kehitaman mulai dari bagian ujung,

    kulit polong menjadi rapuh (brittle), biji menjadi keriput/tidak bernas dan berwarna

    coklat, berbau apek dan rasa tidak enak (Hadi, pers comm). Ciri-ciri ini mirip sekali

    dengan serangan jamur R. solani pada polong seperti yang dilaporkan Subrahmanyam

    dan Ravindranath (1988), dan polong akan busuk pada serangan yang lebih parah.

    Hingga sekarang, serangan gapong masih menjadi salah satu penyebab rendahnya

    pendapatan petani kacang tanah di daerah-daerah tersebut di atas.

    Sutarto et al. (1988) dan Semangun (2004) mengemukakan bahwa gejala gapong

    ternyata bisa diketahui dari daun dan polongnya. Tanaman yang terserang mempunyai

    daun-daun yang terasa kaku jika dipegang dan kadang-kadang warnanya agak

    kekuningan. Namun, gejala ini sering tidak terlihat. Gejala gapong hanya dapat

    diketahui dengan memeriksa polong yang berada di dalam tanah. Apabila tanaman

    dicabut, maka akan tampak polong dengan bintik-bintik kecil berwarna coklat

  • 5

    kehitaman dan biji busuk. Pengamatan Hardaningsih (pers. comm) menunjukkan adanya

    serangan Aspergillus niger, Penicilium sp dan Rhizoctonia solani pada kulit polong, biji

    yang busuk dan eksudat yang ada. Gejala gapong muncul pertama kali pada waktu

    polong sudah setengah masak. Pada kulitnya terdapat bercak-bercak bulat berwarna

    hitam, lebih kurang bergaris tengah sampai dengan 5 mm. Kadang-kadang beberapa

    bercak bergabung sehingga membentuk bercak yang besar. Di tengah bercak, terjadi

    sebuah lubang yang bentuknya tidak teratur. Pada polong yang masih muda, biji-biji

    menjadi busuk, sedangkan pada biji yang sudah masak biji masih dapat berkecambah.

    Apabila hal ini terjadi beberapa waktu menjelang panen, biji masak tersebut

    berkecambah sehingga pada waktu panen tidak dihasilkan biji (Semangun, 2004).

    Faktor lingkungan ternyata mempengaruhi serangan gapong ini. Gejala gapong

    paling parah terjadi pada kacang tanah yang ditanam di tanah pasir dan tanah laterit

    ringan. Musim tanam sangat mempengaruhi timbulnya gejala ini. Kacang tanah yang

    ditanam pada musim kemarau sangat peka terhadap serangan gapong terlebih jika masih

    turun hujan pada fase generatif (Semangun, 2004).

    Somaatmadja (1985) mengemukakan bahwa dari gejala-gejala yang timbul pada

    polong, gejala tersebut identik dengan penyakit meadow nematode yang disebabkan

    oleh P. leiocephalus dan spesies lainnya yang terdapat di North Carolina, Amerika

    Serikat. Porter et al. (1984) menyebutkan bahwa nematoda Prathylenchus brachyurus

    merupakan nematoda yang paling umum menyerang kacang tanah dan