Lp Gastro Enteritis

Embed Size (px)

DESCRIPTION

GE

Citation preview

R.Tropik Lk

ASUHAN KEPERAWATAN

PADA PASIEN An R DENGAN GASTROENTERIRITIS

DI RUANG MELATI RSUD PRAYA

OLEH:GIGIH JASMIVA

YAYASAN RUMAH SAKIT ISLAM NUSA TENGGARA BARATSEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN YARSI MATARAM PROGRAM STUDI NERSMATARAM

2014LAPORAN PENDAHULUAN

GASTRO ENTERITIS (GE)

A. Pengertian

Diare adalah buang air besar (defekasi) dengan jumlah tinja yang lebih banyak dari biasanya (normal 100 - 200 ml per jam tinja), dengan tinja berbentuk cairan atau setengah cair (setengah padat), dapat pula disertai frekuensi defekasi yang meningkat (Mansjoer, Arif., et all. 1999).

Diare adalah suatu keadaan bertambahnya kekerapan dan keenceran buang air besar. Kekerapan yang masih di anggap normal adalah sekitar 1-3 kali dan banyaknya 200-250 gram sehari. Beberapa kasus klien mengalami peningkatan kekerapan dan kenceran buang air besar walaupun jumlahnya kurang dari 250 mg dalam kuraun waktu sehari (Soeparman 1990).

Menurut WHO (1980), diare adalah buang air besar encer atau cair lebih dari tiga kali sehari.B. Etiologi / Faktor pencetus timbulnya diarePenyebab utama :

Bakteri, parasit maupun virus (E. Coli, V. Cholerae Ogawa, Aeromonas sp.).

Virus : Adenovirus, Rotavirus, Astovirus, dll.

Bakteri: Staphylococcus aureus, Salmonella, Shigella, dll.

Parasit: Entamoeba Histolitica, Balantidium Coli, dll.

Penyebab lain ; toksin dan obat, nutrisi enteral diikuti puasa yang berlangsung lama, kemoterapi, impaksi fekal (overflow diarrhea) atau berbagai kondisi lain.

1. a. Pengurangan atau penghambatan ion-ion.

b. Perangsangan dan sekresi aktif ion-ion pada usus (Secretory diarrhea)

2. Terdapatnya zat yang sukar diabsorbsi atau cairan dengan tekanan osmotik yang tinggi pada usus(obat pencahar/ laksansia)

3. Perubahan pergerakan dinding usus.

Faktor resiko terjadinya Gastroenteritis

1. Jumlah penduduk yang padat/ramai.

2. Makanan yang terkontaminasi /makanan dengan temperatur yang tidak cukup tinggi sehingga tidak dapat membunuh organisme penyebab Gastroenteritis.

3. Sanitasi lingkungan yang jelek.

C. PathofisiologiVirus/bakteri masuk saluran pencernaan bersama makanan yang terkontaminasi sehingga menimbulkan respon dengan gejala Gastroenteritis melalui cara :

1. Organisme melepaskan toksin (enterotoksin) pada usus halus maka terjadilah peradangan yang ditandai diare (Shigela dan E. Coli).

2. Organisme masuk ke intestinal sehingga menimbulkan distruksi ( nekrosis ( ulcerasi ( diare terus-menerus (Shigella dan Compylobacter).

D. Pathway

E. Gejala klinik

1. Diare

Penderita merasakan sekit perut, Rasa kembung, Mual, muntah, diare, Kadang-kadang demam/peningkatan suhu tubuh dan nyeri abdomen.

Diare yang berlangsung lama (berhari-hari atau berminggu-minggu) baik secara menetap atau berulang ( panderita akan mengalami penurunan berat badan.

BAB ada darah/mucus (5x/> sehari) mungkin oleh Shigella.

BAB bau dan bercampur darah ( Compylobacter.

BAB kadang-kadang bercampur darah dan mucus ( E. Coli. Mual,muntah

Temperatur naik 40 0c ( Campybacter dan sigellosis) dan nyeri perut.

Sakit kepala, mielgia dan kelemahan

Nyeri perut distensi meningkat,suara usus hiperaktif

2. Kehilangan cairan >> :

Mukosa mulut kering

Hipotensi Dehidrasi : Turgor kulit turun,membran mokusa kering,hipotensi,oliguri sampai terjadi shock.

3. Pemeriksaan auskultasi : peningkatan peristaltic usus

4. Palpasi ( teraba lunak pada abdominal, nyeri abdomen.

Pendekatan diagnosis dari aspek tinja

1. Volume tinja yang banyak ( diare berasal dari kelainan usus halus dan permulaan usus besar.

2. Tinja yang sedikit dan berlendir (dengan peningkatan kemendadakan serta kekerapan buang air besar) ( kelainan berasal dari kolon desenden, sigmoid dan rektum.

3. Tinja yang berlendir dan bercampur dengan darah ( peradangan usus besar.

4. Tinja yang berbau busuk ( menunjukan adanya pembusukan asamamino yang tidak diserap.

F. Pemeriksaan Penunjang

1. Feses :

Diperiksa dalam hal volume, warna dan konsistensinya serta diteliti adanya mukus darah dan leukosit. Pada umumnya leukosit tidak dapat ditemukan jika diare berhubungan dnegan penyakit usus halus. Tetapi ditemukan pada penderita Salmonella, E. Coli, Enterovirus dan Shigelosis. Terdapatnya mukus yang berlebihan dalam tinja menunjukkan kemungkinan adanya keradangan kolon. PH tinja yang rendah menunjukkan adanya malabsorbsi HA, jika kadar glukosa tinja rendah / PH kurang dari 5,5 maka penyebab diare bersifat tidak menular.

2. Pemeriksaan Darah

Peningkatan LED (pada penyakit Chron dan kolitis). Anemia terjadi pada penyakit malabsorbsi. Di jumpai pula hipokalsemia dan avitaminosis D, peningkatan serum albumin, fosfatase alkali dan masa protrombin pada klien dengan malabsorbsi. Penuruna jumlah serum albumin pada klien penyakit chron.

3. Pemeriksaan analisis gas darah, elektrolit, ureum, BUN (Blood Ureum Nitrogen), kreatinin dan berat jenis plasma/ Bj urin.

Penurunan PH darah disebabkan karena terjadi penurunan bikarbonas sehingga frekuensi nafas agak cepat.

Elektrolit terutama kadar natrium, kalium, kalsium, dan fosfor.

Radiologis

Barrium Foloow through ( penyakit chron.

Barrium enema ( skip lession, spasme pada sindroma kolon iritable.

Kolonoskopi

Pemeriksaan ini di anjurkan pada pasien yang menderita peradangan kolon.

G. Penatalaksanaan1. Rehidrasi sebagai prioritas utama pengobatan.

a. Jenis cairan

Pada diare akut yang ringan dapat diberikan oralit. Diberikan cairan RL, bila tak tersedia dapat diberikan NaCl isotonik ditambah satu ampul Na bikarbonat 7,5 % 50 ml.

b. Jumlah cairan

Diberikan sesuai dengan jumlah cairan yang dikeluarkan.

Kehilangan cairan tubuh dapat dihitung dengan beberapa cara :

Metoda Pierce :

Derajat DehidrasiKebutuhan cairan ( X kg BB)

Ringan

Sedang

Berat5 %

8 %

10 %

c. Jalan masuk atau cara pemberian cairan

Dapat dipilih oral atau IV.

d. Jadwal pemberian cairan

Rehidrasi dengan perhitungan kebutuhan cairan diberikan pada 2 jam pertama. Selanjutnya dilakukan penilaian kembali status hidrasi untuk memperhitungkan kebutuhan cairan. Rehidrasi diharapkan terpenuhi lengkap pada akhir jam ke-3.

e. Terapi simtomatik

Antibiotik diberikan secara klinis :

Tetrasiklin untuk cholera

Kloramphenikol untuk Shigella

Neomycin untuk Campylobacter

Anti diare

AbsorbenObat yang digunakan : anti diare, antidotum, antipiretik, antibiotik, oralit, dll.

Obat diare bersifat simtomatik dan diberikan sangat hati-hati atas pertimbangan yang rasional.

Sifat antimotilitas dan sekresi usus.

Sifat antiemetik.

f. Vitamin meneral, tergantung kebutuhannya.

Vitamin B12, asam folat, vit. K, vit. A.

Preparat besi , zinc, dll.

g. Terapi definitif

Pemberian edukatif sebagailangkah pencegahan. Hiegene perseorangan, sanitasi lingkungan, dan imunisasi melalui vaksinasi sangat berarti, selain terapi farmakologi.

h. Pengaturan diet

Bila terjadi konstipasi berikan makan dengan makanan tinggi serat. Di anjurkan untuk menghindari susu.

H. KomplikasiAkibat diare, kehilangan cairan & elektrolit secara mendadak dapat terjadi berbagai komplikasi, sbb :

a. Dehidrasib. Renjatan hipovolemikc. Hipoglikemid. Intoleransi sekunder akibat kerusakan filimukosa usus dan defisiensi enzim lactasee. Hipokalemiaf. Kejang, terjadi akibat dehidrasi hipertonikg. Malnutrisi energi proteinKonsep Pengkajian

a. Biodata

Nama

Umur

Sering terjadi pada terutama usia 6 bulan sampai 2 tahun (WHO, 1995).

Jenis kelamin

Agama

Pekerjaan

Dll

b. Riwayat Kesehatan

1. Keluhan utama : Dimulai dengan keluhan mual, muntah dan diare/ BAB cair > 5 x sehari dengan volume yang banyak, Kadang demam/suhu badan meningkat, nyeri perut/kolik pada perut bagian bawah yang berkurang dengan pergerakan usus, Peningkatan bising usus (khususnya di kuadran kanan bawah), Obstruksi intestinal, Peningkatan pengeluaran tinja, Adanya lendir atau pus di dalam tinja, Tinja yang lembek atau cair, Flatus, Anoreksia, Penurunan berat badan, Malaise.

2. Riwayat kesehatan yang berhubungan dengan faktor pendukung terjadinya diare, serta bio- psiko- sosio- spiritual. Terdapat beberapa keluhan, permulaan mendadak disertai dengan muntah dan diare. Faeces dengan volume yang banyak, konsistensi cair, muntah ringan atau sering dan anak gelisah, suhu tubuh biasanya meningkat dan nafsu makan menurun.

3. Riwayat Penyakit sekarang : Kaitkan dengan kemungkinan penyebab diare, waktu mulai diare, keluhan/perasaan lainnya, serta tindakan yang telah dilakukan dengan respon yang dirasakan.

4. Riwayat Sebelum sakit : keadaan serupa yang pernah dialami, keadaan yang berkaitan dengan kondisi sekarang.

c. Tanda-tanda vital

1. Suhu badan; kadang-kadang demam

2. Denyut nadi: meningkat

3. Pernapasan; meningkat

4. Tekanan darah; menurun

d. Pemeriksaan Fisik dan ADL

1. Kaji tanda-tanda dehidrasi : mata cowong, turgor kulit, mukosa mulut, warna muka, penurunan BB, keadaan umum.

2. Frekuensi BAB, konsistensi feses, vomitus, muntah, kram abdomen, jumlah urin.

3. Perubahan aktivitas sehari-hari dan kemampuan beraktivitas.

Bila terjadi kekurangan cairan didapatkan :

Haus

Lidah kering

Tulang pipi menonjol

Turgor kulit menurun

Suara menjadi serak

Bila terjadi gangguan biokimia :

Asidosis metabolik

Napas cepat/dalam (kusmaul)

Bila banyak kekurangan kalium :

Aritmia jantung

Bila syok hipovolumik berat :

Nadi cepat lebih 120 x/menit

Tekanan darah menurun sampai dari tak terukur.

Pasien gelisah.

Muka pucat

Ujung-ujung ektremitas dingin

Sianosis

Bila perfusi ginjal menurun :

Anuria

Nekrosis tubular akut.

(Mansjoer, Arif., et all. 1999).

c. Pola aktivitas sehari-hari

Nutrisi

Makan menurun karena adanya mual dan muntah yang disebabkan lambung yang meradang.

Istirahat tidur

Mengalami gangguan karena adanya muntah dan diare serta dapat juga disebabkan demam.

Kebersihan

Personal hygiene mengalami gangguan karena seringnya mencret dan kurangnya menjaga personal hygiene sehingga terjadi gangguan integritas kulit. Hal ini disebabkan karena faeces yang mengandung alkali dan berisi enzim dimana memudahkan terjadi iritasi ketika dengan kulit berwarna kemerahan, lecet disekitar anus.

Eliminasi

Pada BAB juga mengalami gangguan karena terjadi peningkatan frekuensi, dimana konsistensi lunak sampai cair, volume tinja dapat sedikit atau banyak. Dan pada buang air kecil mengalami penurunan frekuensi dari biasanya.

e. Keadaan Psikososial1. Persepsi pasien terhadap kesehatannya.

2. Pengetahuan tentang sakit yang diderita.

3. Tingkat kecemasan pasien.

f. Keadaan SpiritualPengaruh sakitnya terhadap keyakinan kepada Tuhan.Diagnosa Keperawatan yang mungkin muncul antara lain :

1. Resiko tinggi terhadap defisit volume cairan yang berhubungan dengan kehilangan sekunder terhadap muntah dan diare. 2. Perubahan ketidaknyamanan yang berhubungan dengan kram abdomen, diare dan muntah sekunder terhadap dilatasi vaskuler dan hiperperistaltik.

3. Risiko tinggi terhadap inefektif penatalaksanaan regimen terapeutik yang berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang kondisi, pembatasan diet, dan tanda serta gejala komplikasi.

4. Kurang pengetahuan tentang kondisi,prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi.5. Diare berhubungan dengan Inflamasi, iritasi, atau malabsorpsi usus.

6. Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan banyak melalui rute normal (diare berat, muntah).7. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan gangguan absorpsi nutrien. 8. Ansietas berhubungan dengan Ancaman terhadap status kesehatan. (Doenges, Marilynn E. 1999).9. Nyeri (akut) berhubungan dengan Hiperperistaltik, diare lama, iritasi kulit/jaringan,ekskoriasi fisura perirektal; fistula.10. Koping individu tak efektif berhubungan dengan proses penyakit yang tak terduga.

11. Resiko terjadinya kerusakan integritas kulit berhubungan dengan pengeluaran feces secara terus menerus.

Perencanaan

1. Resiko tinggi terhadap defisit volume cairan yang berhubungan dengan kehilangan sekunder terhadap muntah dan diare.

Tujuan :

Kebutuhan volume cairan adekuat.

Kriteria hasil : Individu akan

1. Meningkatkan masukan cairan minimal 3000 ml (sesuai dengan hasil pemeriksaan BJ Plasma).

2. Menceritakan perlunya untuk meningkatkan masukan cairan selama stress atau panas.

3. Mempertahankan Berat Jenis Plasma dalam batas normal (1,010 & 1,025).

4. Memperhatikan tidak adanya tanda dan gejala dehidrasi.

Intervensi general :

1. Rencanakan tujuan masukan cairan untuk setiap pergantian ( misal 1000 ml selama pagi hari, 1000 ml selama sore hari, 1000 ml selama malam hari).

Rasional : Deteksi dini memungkinkan terapi penggantian cairan segera untuk memperbaiki defisit.

2. Jelaskan tentang alasan-alasan untuk mempertahankan hidrasi yang adekuat dan metoda-metoda untuk mencapai tujuan masukan cairan.

Rasional : Informasi yang jelas akan meningkatkan kerjasama klien untuk terapi.

3. Pantau masukan, pastikan sedikitnya 1500 ml cairan per oral setiap 24 jam.

Rasional : Catatan masukan membantu mendeteksi tanda dini ketidak seimbangan cairan.

4. Pantau haluaran, pastikan sedikitnya 1000 - 1500 ml/24 jam. Pantau terhadap penurunan berat jenis urine.

Rasional : Catatan haluaran membantu mendeteksi tanda dini ketidak seimbangan cairan.

5. Timbang BB setip hari dengan jenis baju yang sama, pada waktu yang sama. Kehilangan berat badan 2 - 4 % menunjukkan dehidrasi ringan. Kehilangan berat badan 5 - 9 % menunjukkan dehidrasi sedang.

Rasional : Penimbangan BB harian yang tepat dapat mendeteksi kehilanagan cairan.

6. Pertimbangkan kehilangan cairan tambahan yang berhubungan dengan muntah, diare, demam, drain.

Rasional : Haluaran dapat melebihi masukan, yang sebelumnya sudah tidak mencukupi untuk mengkompensasi kehilangan yang tak kasap mata. Dehidrasi dapat meningkatkan laju filtrasi glomerulus, membuat haluaran tak adekuat untuk membersihkan sisa metabolisme dengan baik dan mengarah pada peningkatan BUN dan kadar elektrolit.

7. Kolaborasi dengan dokter untuk pemeriksaan kadar elektrolit darah, nitrogen ure darah, urine dan serum, osmolalitas, kreatinin, hematokrit dan hemoglobin.

Rasional : Propulsi feses yang cepat melalui usus mengurangi absorpsi elektrolit. Muntah-muntah juga menyebabkan kehilangan elektrolit.

8. Kolaborasi dengan pemberian cairan secara intravena.

Rasional : Memungkinkan terapi penggantian cairan segera untuk memperbaiki defisit.

2. Perubahan ketidaknyamanan yang berhubungan dengan kram abdomen, diare dan muntah sekunder terhadap dilatasi vaskuler dan hiperperistaltik.

Tujuan : Klien merasa nyaman.

Kriteria hasil : Klien akan :

1. Melaporkan penurunan kram abdomen.

2. Menyebutkan makanan yang harus dihindari.

Intervensi :

1. Dorong klien untuk berbaring dalam posisi terlentang dengan bantalan penghangat di atas abdomen.

Rasional : Tindakan ini meningkatkan relaksasi otot GI dan mengurangi kram.

2. Singkirkan pemadangan yang tidak menyenangkan dan bau yang tidak sedap dari lingkungan klien.

Rasional : Pemandangan yang tidak menyenangkan atau bau tak sedap merangsang pusat muntah.

3. Dorong masukan jumlah kecil dan sering dari cairan jernih (misal; teh encer, air jahe, agar-agar, air) 30 sampai 60 ml tiap 1/2 sampai 1 jam.

Rasional : Cairan dalam jumlah yang kecil cairan tidak akan mendesak area gastrik dan dengan demikian tidak memperberat gejala.

4. Instruksikan klien untuk menghindari hal ini :

a. Cairan yang panas dan dingin.

b. Maknan yang mengandung lemak dan serat (misal ; susu, buah).

c. Kafein.

Rasional : cairan yang dingin merangsang kram ; cairan panas merangsang peristaltik ; Lemak juga meningkatkan peristaltik dan kafein meningkatkan motilitas usus.

5. Lindungi area perianal dari iritasi.

Rasional : Sering BAB dengan peningkatan keasaman dapat mengiritasi kulit perianal.

3. Risiko tinggi terhadap inefektif penatalaksanaan regimen terapeutik yang berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang kondisi, pembatasan diet dan tanda serta gejala komplikasi.

Tujuan : Pengetahuan klien tentang kondisi, pembatasan diet, dan tanda-tanda serta gejala komplikasi adekuat.

Kriteria hasil :

1. Klien dapat menjelaskan kembali kepada perawat setelah penjelasan dari perawat.

Intervensi :

1. Jelaskan pembatasan diet :

a. Makanan tinggi serat (sayur & buah segar).

b. Makanan tinggi lemak (susu, makanan goreng).

c. Air yang sangat panas atau dingin.

Rasional : Makanan ini dapat merangsang atau mengiritasi saluran usus.

2. Jelaskan pentingnya mempertahankan kesimbangan antara masukan cairan oral dan haluaran cairan.

Rasional : Muntah dan diare dapat dengan cepat menyebabkan dehidrasi.

3. Jelaskan manfaat istirahat dan dorong untuk istirahat adekuat.

Rasional : Inaktivitas menurunkan peristaltik dan memungkinkan salurang GI untuk istirahat.

4. Instruksikan untuk mencuci tangan :

a. Desinfeksi area permukaan dengan desinfektan yang mengandung tinggi alkohol.

b. Rendam peralatan makan dan termometer dalam larutan alkohol atau gunakan alat pencuci piring untuk peralatan makan.

c. Tidak mengijinkan menggunkan bersama alat-alat dengan orang sakit.

Rasional : Penyebaran virus dapat dikontrol dengan desinfeksi area permukaan area (kamar tidur) dan peralatan makan. Desinfeksi dengan kandungan alkohol rendah tak efektif melawan beberapa virus.

5. Ajarkan klien dan keluarga untuk melaporkan gejala ini :

a. Urine coklat gelap menetap selama lebih dari 12 jam.

b. Feses berdarah.

Rasional : Deteksi dini dan pelaporan tanda dehidrasi memungkinkan intervensi segera untuk mencegah ketidakseimbangan cairan atau elektrolit serius.

4. Kurang pengetahuan tentang kondisi,prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi.

Tujuan :

pasien mengetahui kebutuhan perawatan di rumah & prosedur yang harus dilakukan jika diare berulang.

Intervensi :

1. Kaji tingkat pengetahuan pasien dan keluarga.

2. Ajarkan pasien dan keluarga tentang :

Tanda-tanda dehidrasi & hal-hal penting yang diperhatikan segera saat dehidrasi.

Menyeimbangkan cairan yang diminum dan yang keluar.

Menjaga kebersihan daerah anal.

3. Cuci tangan yang benar sebelum & setelah makan.

Rasional :

1. Tingkat pengetahuan pasien & keluarg merupakan indicator untuk mengetahui sejauh mana klien memahami tentang penyakitnya.

2. Untuk meningkatkan kemandirian pasien terutama setelah pulang ke rumah.

5. Diare berhubungan dengan Inflamasi, iritasi, atau malabsorpsi usus.

Tujuan: Pasien menunjukan adanya pola eliminasi yang berangsur normal dalam frekwensi dan konsistensi tinja.

Intervensi :

1. Kaji kebiasaan pasien dalam melakukan bab (frekwensi dan konsistensi).

2. Perhatikan dan catat karakteristik, faktor presipitasi dari diare.

3. Siapkan bedpan atau kamar kecil yang selalu siap di gunakan.

4. Bersihkan bedpan secepatnya dan gunakan pewangi untuk mengurangi bau.

5. Kurangi makan / minuman yang menjadi faktor pencetus diare (jika di ketahui).

6. Kolaborasi dalam pemberian antispamodic, antidiare, dan antikolinergik untuk menurunkan peristaltik usus.

7. Kolaborasi dalam pemberian anti inflamasi dan steroid.

6. Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan banyak melalui rute normal (diare berat, muntah).

Tujuan: Selama dalam perawatan tidak terjadi defisit cairan.

Intervensi :

1. Kolaborasi dalam pemeriksaan status cairan dengan (pemeriksaan BJ Plasma).

2. Pertahankan pemberian cairan oral yang adekuat.

3. Hitung dengan tepat selisih antara jumlah cairan yang masuk dan yang keluar.

4. Kolaborasi dalam pemberian cairan perpar enteral jika di perlukan.

5. Observasi tanda-tanda terjadinya defisit cairan (membran mukosa, turgor kulit, produksi urin, peningkatan temperatur, kelemahan, peningkatan BUN.

7. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan gangguan absorpsi nutrien.

Tujuan : selama dalam perawatan pasien tidak mengalami penurunan berat.

Intervensi :

1. Kaji kebutuhan nutrisi pasien sesuai dengan kebutuhan individual pasien (berdasarkan usia dan berat badan).

2. Jika diare berkurang berikan peningkatan jenis makanan secara bertahap (lembut dan berkalori tinggi ( kasar kemudian biasa).

3. Sajikan makanan dan minuman dalam keadaan hangat.

4. Anjurkan pada pasien untuk mengurangi beberapa jenis makan yang dapat menimbulkan diare (makanan yang berlemak, pedas, susu)

5. Kolaborasi dalam pemberian Zat besi jika terjadi anemia dan anti emetik jika pasien mengalami mual.

8. Ansietas berhubungan dengan Ancaman terhadap status kesehatan.

Tujuan : rasa cemas berkurang/hilang.

Kriteria Hasil :

1. Pasien dapat mengidentifikasikan sebab kecemasan.

2. Emosi stabil., pasien tenang.

3. Istirahat cukup.

Intervensi :

1. Kaji tingkat kecemasan yang dialami oleh pasien.

2. Beri kesempatan pada pasien untuk mengungkapkan rasa cemasnya.

3. Gunakan komunikasi terapeutik.

4. Beri informasi yang akurat tentang proses penyakit dan anjurkan pasien untuk ikut serta dalam tindakan keperawatan.

5. Berikan keyakinan pada pasien bahwa perawat, dokter, dan tim kesehatan lain selalu berusaha memberikan pertolongan yang terbaik dan seoptimal mungkin.

6. Berikan kesempatan pada keluarga untuk mendampingi pasien secara bergantian.

7. Ciptakan lingkungan yang tenang dan nyaman. Untuk menentukan tingkat kecemasan yang dialami pasien sehingga perawat bisa memberikan intervensi yang cepat dan tepat.

Rasional :

1 Dapat meringankan beban pikiran pasien.

2 Agar terbina rasa saling percaya antar perawat-pasien sehingga pasien kooperatif dalam tindakan keperawatan.

3 Informasi yang akurat tentang penyakitnya dan keikutsertaan pasien dalam melakukan tindakan dapat mengurangi beban pikiran pasien.

4 Sikap positif dari timkesehatan akan membantu menurunkan kecemasan yang dirasakan pasien.

5 Pasien akan merasa lebih tenang bila ada anggota keluarga yang menunggu.

6 Lingkung yang tenang dan nyaman dapat membantu mengurangi rasa cemas pasien.

9. Nyeri (akut) berhubungan dengan Hiperperistaltik.

Tujuan: Rasa nyeri berkurang atau hilang.

Intervensi :

1. Kaji dan catat adanya distensi abdomen, karaktristik nyeri dan lokasinya.

2. Anjurkan pada pasien untuk rileks serta ajarkan tehnk relaksasi serta beberapa cara untuk mengurangi rasa nyeri.

3. Kolaborasi dalam pemberian analgesik dan anti kolinergik.

4. Observasi keluhan serta TTV.

10. Resiko terjadinya kerusakan integritas kulit berhubungan dengan pengeluaran feces secara terus menerus

Tujuan : Tidak terjadi kerusakan integritas kulit selama dalam perawatan.

Intervensi :

1. Kaji keadaan kulit pasien terutama pada bagian bokong dan sekitarnya yang mudah lecet akibat feces yang bersifat asam.

2. Bersihkan sekitar lokasi bokong secara adekuat.

3. Anjurkan pada pasien untuk mengganti sering ganti posisi pada saat istirahat terlentang.

4. Beri dukungan terhadap tindakan yang bersifat positif.

5. Jaga daerah sekitar bokong agar tetap kering dan tidak lembab.

6. Observasi keadaan kulit sekitar bokong.

DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, Lynda Juall. (1999). Rencana Asuhan & Dokumentasi Keperawatan. Ed. 2. Penerbit buku Kedokteran EGC. Jakarata.

Doenges, Marilynn E. (1999). Rencana Asuhan Keperawatan. Ed. 3. Penerbit buku Kedokteran EGC. Jakarta.

Junadi, Purnawan. (1982). Kapita Selekta Kedokteran, Jakarta: Media Aesculapius Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Mansjoer, Arif., et all. (1999). Kapita Selekta Kedokteran. Fakultas Kedokteran UI : Media Aescullapius.

Pitono Soeparto, dkk. (1997). Gastroenterologi Anak. Surabaya : GRAMIK FK Universitas Airlangga.

Price, Sylvia Anderson. (1985). Pathofisiologi Konsep klinik Proses-Proses Penyakit, Jakarta: EGC.

Soeparman. (1990). Ilmu Penyakit Dalam Jilid II, Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indones

psikologi

makanan

Infeksi

Toksik tak dapat di serap

ansietas

Berkembang di usus

Malabsorbsi KH,Lemak,protein

Sekresi air dan elektrolit

hiperperistaltik

Isi usus

Penyerapan makanan di usus menurun

Mening tekanan osmotic

Pergeseran air dan usus elektroit ke usus

Diare

Distensi abdomen

Frekuensi BAB meningkat

Gangguan integritas kulit

Hilang cairan & elektrolit berlebihan

Mual muntah

Nafsu makan menurun

Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh

Asidosis metabolik

Gangguan keseimbangan cairan &elektrolit

Sesak

Gangguan pertukaran gas

dehidrasi

Kekurangan volume cairan

PAGE 1