makalah migrasi

Embed Size (px)

Text of makalah migrasi

MAKALAHMIGRASI TUGAS MATA KULIAH : PSIKOLOGI KEPENDUDUKANOleh : EVA MARTHINU ( NO.REG.7416100263)

MULSIANI ISKANDAR ( NO. REG.7416100272)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KEPENDUDUKAN DAN LINGKUNGAN HIDUP PROGRAM PASCA SARJANA UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA

2011

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT, atas limpahan rahmat, taufik dan hidayahNya, saya dapat menyelesaikan tugas makalah mata kuliah Psikologi Kependudukan yang berjudul MIGRASI. Tugas ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan kepada para pembaca. Dengan rasa hormat, saya mengucapkan terima kasih kepada : 1. Bapak Dr. Achmad Husen, M.Pd, sebagai dosen pengampu mata Psikologi Kependudukan 2. Teman teman program studi PKLH Pasca Sarjana UNJ. Dan berbagai pihak yang tidak dapat disebutkan oleh penyusun satu persatu, yang telah membantu dan mendukung saya dalam melaksanakan pembuatan tugas ini. Tugas ini tidak lepas dari kekurangan, oleh karena itu kritik dan saran dari berbagai pihak dalam keterkaitannya dengan perbaikan dari isi tugas ini sangat saya harapkan dan diucapkan terima kasih.

Jakarta, Maret 2011.

Penyusun

BAB IPENDAHULUAN

Indonesia adalah negara berkembang yang memiliki jumlah dan pertumbuhan

penduduk yang tinggi, dimana sesuai hasil sensus penduduk Indonesia 2010 ( SP 2010) yang dilakukan BPS pada tanggal 1 Mei 15 Juni 2010, dan diumumkan oleh presiden SBY pada pidato kenegaraan presiden RI tanggal 16 Agustus 2010 disidang paripurna DPR, penduduk Indonesia berjumlah 237.556.363 orang yang terdiri dari 119.507.580 laki laki dan 118.048.783 orang perempuan, dengan laju pertumbuhan penduduk 1,49% per tahun. Jumlah penduduk yang besar ini menempati wilayah daratan dengan luas 1.8 juta km yang merupakan wilayah kepulauan dengan perbedaan sentra sentra ekonomi antara satu pulau dengan pulau yang lainnya agak mencolok. Hal inilah yang menyebabkan penyebaran

penduduknya tidak merata, ada pulau yang sangat padat penduduknya, namun dilain pihak ada pulau yang sangat jarang penduduknya dengan persentase penyebaran ditiap wilayah yaitu . p.Jawa 58 %, P. Sumatera 20%, P. Sulawesi 7%, P. Kalimantan 6%, P. Bali dan Nusa Tenggara 6%, Papua dan Maluku 3%. Jawa Barat, Jawa Timur dan Jawa Tengah adalah tiga

provinsi dengan urutan teratas yang berpenduduk terbanyak, yaitu masing-masing berjumlah 43.021.826 orang, 37.476.011 orang, dan 32.380.687 orang. Sedangkan Provinsi Sumatera Utara merupakan wilayah yang terbanyak penduduknya di luar Pulau Jawa, yaitu sebanyak 12.985.075 orang. Rata-rata tingkat kepadatan penduduk Indonesia adalah sebesar 124 orang per km. Provinsi yang paling tinggi kepadatan penduduknya adalah Provinsi DKI Jakarta, yaitu sebesar 14.440 orang per km. Provinsi yang paling rendah tingkat kepadatan penduduknya adalah Provinsi Papua Barat, yaitu sebesar 8 orang per km.Hal inilah yang menyebabkan masalah bagi bangsa Indonesia dalam mengembangkan pembangunan dari berbagai aspek. Tidak meratanya penyebaran penduduk ini dipengaruhi oleh aspek aspek kependudukan seperti kelahiran perpindahan penduduk (migrasi). Migrasi adalah salah satu aspek kependudukan yang dapat meningkatkan jumlah penduduk, apabila jumlah penduduk yang masuk ke suatu daerah lebih banyak daripada jumlah penduduk yang meninggalkan wilayah tersebut. perpindahan penduduk dengan tujuan untuk (fertilitas), kematian (mortalitas) dan

menetap dari suatu tempat ke tempat lain melampaui batas politik/Negara ataupun batas administratif/batas bagian dalam suatu Negara.Tjiptoherijanto (2000) menyatakan bahwa migrasi penduduk merupakan kejadian yang mudah dijelaskan dan tampak nyata dalam kehidupan sehari-hari, namun pada prakteknya sangat sulit untuk mengukur dan menentukan ukuran bagi migrasi itu sendiri. Hal itu disebabkan karena hubungan antara migrasi dan proses pembangunan yang terjadi dalam suatu negara/daerah saling mengkait. Umumnya migrasi penduduk mengarah pada wilayah yang subur pembangunan ekonominya, karena faktor ekonomi sangat kental mempengaruhi orang untuk pindah. Hal ini dipertegas lagi oleh Tommy Firman (1994), bahwa migrasi sebenarnya merupakan suatu reaksi atas kesempatan ekonomi pada suatu wilayah. Pola migrasi di negara-negara yang telah berkembang biasanya sangat rumit (kompleks) menggambarkan kesempatan ekonomi yang lebih seimbang dan saling ketergantungan antar wilayah di dalamnya. Sebaliknya di negara-negara berkembang biasanya pola migrasi menunjukkan suatu polarisasi, yaitu pemusatan arus migrasi ke daerahdaerah tertentu saja, khususnya kota-kota besar. Migrasi ini juga merefleksikan keseimbangan penyebaran sumber daya manusia dari suatu wilayah ke wilayah lainnya. Tinjauan migrasi secara regional sangat penting dilakukan terutama terkait dengan kepadatan dan distribusi penduduk yang tidak merata, adanya faktor-faktor pendorong dan penarik bagi penduduk untuk melakukan migrasi, kelancaran sarana transportasi antar wilayah, dan pembangunan wilayah dalam kaitannya dengan desentralisasi pembangunan. Menurut sensus

penduduk tahun 1990, ternyata dari seluruh propinsi di Indonesia, tidak satupun yang tidak mengalami migrasi penduduk, baik migrasi masuk maupun migrasi keluar.Di Indonesia dengan alasan pemerataan penyebaran penduduk dan peningkatan pembangunan daerah serta peningkatan kualitas hidup penduduk maka migrasi ini disusun dalam suatu kegiatan yang terprogram dan terencana yang dinamakan transmigrasi. Jabbar dan Rofiq Ahmad (1993) menguraikan tentang transmigrasi sejak dari zaman kolonisasi sampai dengan transmigrasi yang berorientasi ekonomi. Pada zaman penjajahan Belanda, daerah pengalihan penduduk dari Jawa ialah di Pulau Sumatera. Tempat yang pertama kali menjadi daerah tujuan transmigrasi yaitu di sekitar Metro, Lampung. Setelah mengalami perkembangan, saat ini terus diseimbangkan kepadatan penduduk Indonesia di setiap pulau. Oleh karena itu disamping Pulau Sumatera, Pulau lain seperti Kalimantan, Sulawesi, dan Papua juga diprogramkan untuk menerima transmigran dari Pulau Jawa. Diluar program transmigrasi, kepadatan penduduk yang memusat di Pulau Jawa dikarenakan oleh migrasi penduduk yang tidak terkendali dan menuju ke Pulau Jawa. Dapat dimaklumi mengapa Pulau Jawa sebagai pulau yang menjadi daerah tujuan utama migran dari pulau-pulau yang lain karena pulau ini merupakan tempat pusat perekonomian, pusat pemerintahan, pusat pendidikan dan pusat kegiatan-kegiatan sosial

ekonomi lainnya, sehingga penduduk dari pulau-pulau diluar Jawa ingin menetap (tinggal) di Pulau Jawa. Mencermati berbagai kajian dan penelitian tentang migrasi, termasuk migrasi internasional, salah satu kesan yang menonjol adalah kentalnya fokus pada event yang teramati dan terukur. Maksudnya, kajian migrasi terlalu banyak mengaitkan variabel yang teramati (observable), khususnya variabel-variabel sosial ekonomi, untuk menjelaskan berbagai hal yang terkait dengan migrasi, yang memang diyakini memiliki dimensi yang kompleks. Akhir-akhir ini ada kekhawatiran bahwa kecenderungan ini akan menyebabkan pendangkalan sekaligus penciutan kajian migrasi meskipun diupayakan untuk melebarkan konteksnya. Dalam kajian migrasi internasional, misalnya, permasalahan sering hanya terfokus pada kaitan antara besarnya ketersediaan tenaga kerja dan peluang kerja di luar negeri. Atau, besarnya daya dorong dan daya tarik sebagai penyebab arus migrasi merupakan penjelas paling tepat dalam menganalisis proses migrasi. Dengan kata lain, orang pergi migrasi ke luar negeri terbatas sebagai respons terhadap stimulus yang ada. Pandangan ini tidak keliru, tetapi dapat menjebaknya ke dalam cognitive drones, hal ini disebabkan karena manusia tidak dipandang sebagai makhluk yang memiliki latar belakang sosial dan budaya dan tidak hidup dalam konteks waktu dan tempat tertentu. Migran kurang diperhatikan sebagai individu dan anggota kelompok social, akibatnya migran sering harus menanggung beban dan menjadi korban atas proses itu, meskipun mereka juga menikmati hasilnya. Gejala diatas juga diyakini menyebabkan terpisahnya penelitian migrasi dengan

perkembangan teori-teori sosial, padahal migrasi sebagai salah satu gejala sosial yang sangat tua tidak mungkin terlepas dari perkembangan sosial, politik, dan ekonomi pada umumnya (lihat Robinson & Carey, 2000). Permasalahan ini bukan hanya permasalahan konseptual, tetapi juga permasalahan pendekatan. Barangkali kajian-kajian yang ada terlalu banyak mengandalkan pada, seperti yang dikemukakan Giddens (dalam Goss &Linquist, 1995), diskursif yaitu segala sesuatu yang dikatakan, yaitu data-data yang dikumpulkan dari para migran seperti pada penelitian survei. Sebaliknya, pendekatan praktikal, tepatnya disebut Giddens sebagai kesadaran praktikal, yaitu sesuatu yang tidak dapat dikatakan atau diartikulasikan secara verbal, tetapi menjadi bagian penting dari pemikiran orang yang bersangkutan, kurang diperhatikan. Hal ini terkait dengan pendekatan dan metode yang digunakan dalam penelitian migrasi. Sejauh ini perspektif yang digunakan untuk mengkaji migrasi cenderung berangkat dari salah satu atau kedua perspektif besar yang sudah mapan, yaitu strukturalis dan fungsionalis. Giddens mengusulkan alternatif lain yang disebutnya sebagai perspektif strukturasionis. Dalam perspektif iniduality of structure menjadi bagian penting,agen dan struktur berinteraksi timbal balik, yang struktur itu direproduksi oleh agen dan agen

dipengaruhi oleh norma dan harapan masyarakat.

Bertolak dari permasalahan diatas, maka sangat penting pengkajian tentang migrasi dan dampaknya bagi pengembangan pembangunan di Indonesia sebagaimana yang akan diuraikan pada pembahasan selanjutnya. serta alternative pemecahannya

BAB. II PEMBAHASAN2.1. Definisi MigrasiIstilah umum bagi gerak penduduk dalam demografi adalah population mobility atau secara lebih Khusus territorial mobility yang biasanya mengandung makna gerak spasial, fisik dan geografis (Shryllock dan Siegel, 1973 dalam Rusli,1996: 136). Kedalamnya termasuk baik dimensi gerak penduduk permanen maupun dimensi non- permanen. Migrasi merupakan dimensi gerak penduduk permanen, sedangkan dimensi gerak penduduk non-permanen terdiri dari sirkulasi dan komunikasi (Rusli,1996: 136). Definisi lain, migrasi adalah perpindahan penduduk dengan tujuan untuk menetap dari suatu tempat ke tempat lain melampaui batas politik/negara ataupun batas administrasi/batas bagian dalam suatu negara (Munir, 2000: 116). Dengan kata lain, migrasi diartikan sebagai perpindahan yang relatif permanen dari suatu daerah (negara) ke daerah (negara) lain. Migrasi sukar diukur karena migrasi dapat didefenisikan dengan berbagai cara dan merupakan suatu peristiwa yang mungkin berulang beberapa kali sepanjang hidupnya. Hampir semua definisi menggunakan kriteria waktu dan ruang, sehingga perpindahan yang termasuk dalam proses migrasi setidak-tidaknya dianggap semi permanen dan melintasi batas-batas geografis tertentu. (Young,1984: 94). Untuk Indonesia sendiri, analis migrasi hanya dapat menggunakan data hasil sensus penduduk yang dilakukan 10 tahun sekali dan data sampel hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS), yang dilakukan di tengah-tengah antar dua sensus. Oleh karena itu, analisis migrasi masih sangat kurang dilakukan orang, mengingat data pendukung analisis ini sangat kurang sekali, kecuali jika program pendataan model registrasi penduduk telah dilakukan oleh suatu negara dengan baik.

Menurut Rozy Munir dalam buku Dasar-Dasar Demografi, migrasi adalah perpindahan penduduk dengan tujuan menetap dari suatu tempat ke temapat lain melampaui batas politik atau negara atau batas administrative atau batas bagian dalam suatu negara. Migrasi sering diartikan sebagai ke daerah lain. Ada 2 dimensi penting yang perlu ditinjau dalam penelaahan migrasi, yaitu dimensi waktu dan dimensi daerah. Untuk dimensi waktu, ukuran yang pasti tidak ada karena sulit untuk menentukan berapa lama seseorang pindah tempat tinggal untuk dapat dianggap sebagai seorang migran, tetapi biasanya digunakan definisi yang ditentukan dalam

sensus penduduk. Untuk dimensi daerah secara garis besarnya dibedakan perpindahan antar negara yaitu perpindahan penduduk dari suatu negara ke negara lain yang disebut migrasi internasional dan perpindahan penduduk yang terjadi dalam satu negara misalnya antar propinsi, kota atau kesatuan administratif lainnya yang dikenal dengan migrasi intern. Perpindahan lokal yaitu perpindahan dari satu alamt ke alamat lain atau dari satu kota ke kota lain tapi masih dalam batas bagian dalam suatu negara misalnya dalam satu propinsi. Dalam arti luas, definisi tentang migrasi adalah tempat tinggal mobilitas penduduk secara geografis yang meliputi semua gerakan (movement) penduduk yang melintasi batas wilayah tertentu dalam periode tertentu pula (Mantra, 1980: 20).Definisi migran menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa : a migrant is a person who changes his place of residence from one political or aadministrative area to another. pengertian ini dikaitkan dengan pindah tempat tinggal secara permanen sebab selain itu dikenal pula moveryaitu orang yang pindah dari satu alamat ke alamat lain dan dari satu rumah ke rumah lain dalam batas satu daerah kesatuan politik atau administratif, misalnya pindah dalam satu Propinsi.

2.2. Jenis-Jenis MigrasiJenis migrasi adalah pengelompokan migrasi berdasarkan dua dimensi penting dalam analisis migrasi, yaitu dimensi ruang/daerah (spasial) dan dimensi waktu. Dalam konteks ruang terdapat dua jenis migrasi yaitu migrasi internasional dan mograsi internal. Migrasi internasional adalah perpindahan penduduk dari suatu negara ke negara lain. Migrasi internasional merupakan jenis migrasi yang memuat dimensi ruang. Migrasi internal adalah perpindahan penduduk yang terjadi dalam satu negara, misalnya antarpropinsi, antarkota/kabupaten, migrasi dari wilayah perdesaan ke wilayah perkotaan atau satuan administratif lainnya yang lebih rendah daripada tingkat kabupaten/kota, seperti kecamatan dan kelurahan/desa. Migrasi internal merupakan jenis migrasi yang memuat dimensi ruang. Selain itu migrasi dapat dibedakan berdasarkan dimensi waktunya. Migran menurut dimensi waktu adalah orang yang berpindah ke tempat lain dengan tujuan untuk menetap dalam waktu enam bulan atau lebih. Sementara itu menurut versi BPS, ada tiga kriteria migran: seumur hidup, risen, dan total (dikutip dari http://demografi.bps.go.id/versi1). Migran seumur hidup (life time migrant) adalah orangyang tempat tinggalnya pada saat pengumpulan data berbeda recent migranttotal migrant Kriteria

migrasi yang digunakan dalam makalah ini adala migrasi risen (recent migration), karena lebihmencerminkan dinamika spasial penduduk antardaerah life time migrationreturn migrationSelain dari

jenis-jenis migrasi tersebut di atas, terdapat beberapa istilah lain untuk jenis migrasi, yaitu:

1. Migrasi masuk (In Migration): Masuknya penduduk ke suatu daerah tempat tujuan (area of destination) 2. Migrasi Keluar (Out Migration): Perpindahan penduduk keluar dari suatu daerah asal (area of origin) 3. Migrasi Neto (Net Migration): Merupakan selisih antara jumlah migrasi masuk dan migrasi keluar Apabila migrasi yang masuk lebih besar dari pada migrasi keluar maka disebut migrasi neto positif sedangkan jika migrasi keluar lebih besar dari pada migrasi masuk disebut migrasi neto negatif. 4Migrasi bruto (gross migration) adalah jumlah migrasi masuk dan keluar.

5 .Risen (recent migration) adalah migrasi yang melewati batas propinsi dalam kurun waktu tertentu sebelum pencacahan, misalnya 5 tahun sebelum sensus atau survey. Jumlah migrasi masuk risen ke suatu propinsi adalah banyaknya penduduk suatu propinsi yang lima tahun sebelumnya bertempat tinggal di luar propinsi tersebut.Jumlah migran keluar risen dari suatu propinsi adalah jumlah penduduk yang saat pencacahan tinggal di propinsi lain dan lima tahun sebelumnya tinggal di propinsi tersebut. Atau dengan kata lain bila tempat tinggal waktu survei berbeda dengan tempat tinggal lima tahun sebelum survei. 6. Migrasi total (total migration) adalah migrasi antar propinsi tanpa memperhatikan kapan perpindahannya, sehingga propinsi tempat tinggal sebelumnya berbeda dengan propinsi tempat tinggal saat pencacahan. Ada 2 jenis migrasi total : migrasi semasa hidup (life time migration) dan migrasi pulang (return migration). 7. Migrasi Internasional (International Migration), merupakan perpindahan penduduk dari suatu negara ke negara lain. Migrasi yang merupakan masuknya penduduk ke suatu negara disebut imigrasi (immigration) sedangkan sebaliknya jika migrasi itu merupakan keluarnya penduduk dari suatu negara disebut emigrasi (emigration) 8. Migrasi Internal (Intern Migration), yaitu perpindahan yang terjadi dalam satu negara, misalnya antarpropinsi, antar kota/kabupaten, migrasi perdesaan keperkotaan atau satuan administratif lainnya yang lebih rendah daripada tingkat kabupaten, seperti kecamatan, kelurahan dan seterusnya. Jenis migrasi yang terjadi antar unit administratifselama masih dalam satu negara. (migrasi sirkuler dan migrasi commuter).

9. Migrasi sirkuler ( Sirkuler Migration), yaitu migrasi yang terjadi jika seseorang berpindah tempat tetapi tidak bermaksud menetap di tempat tujuan, mungkin hanya mendekati tempat pekerjaan. Mobilitas penduduk sirkuler dapat didefinisikan sebagai gerak penduduk yang melintas batas administrasi suatu daerah menuju ke daerah lain dalam jangka waktu kurang enam bulan. 10. Migrasi Ulang-Alik (Commuter), yaitu orang yang setiap hari meninggalkan tempat tinggalnya pergi ke kota lain untuk bekerja atau berdagang dan sebagainya tetapi pulang pada sore harinya. 11. Migrasi semasa hidup (life time migration), yaitu migrasi yang bedasarkan tempat kelahiran. Migrasi semasa hidup adalah mereka yang pada waktu pencacahan sensus bertempat tinggal di daerah yang berbeda dengan tempat kelahirannya. 12. Migrasi parsial (partial migration), yaitu jumlah migrasi ke suatu daerah dari satu daerah asal, atau dari daerah asal ke satu daerah tujuan. Migrasi itu merupakan ukuran dari arus migrasi antara dua daerah asal dan tujuan. 13. Urbanisasi (Urbanization), yaitu bertambahnya proporsi penduduk yang berdiam di daerah kota yang disebabkan oleh proses perpindahan penduduk ke kota dan atau akibat dari perluasan daerah kota 14. Transmigrasi ( transmigration), yaitu pemidahan dan kepindahan penduduk dari suatu daerah untuk menetap ke daerah lain yang ditetapkan di dalam wilayah Republik Indonesia guna kepentingan pembangunan Negara atau karena alasan yang dipandang perlu oleh Pemerintah berdasarkan ketentuan yang diatur dalam undang undang . Transmigrasi diatur dengan Undang Undang No. 3 Tahun 1972. Transmigrasi yang diselenggarakan dan diatur oleh pemerintah disebut transmigrasi umum, sedangkan transmigrasi yang biaya perjalanannya dibiayai sendiri tetapi ditampung dan diatur oleh pemerintah disebut transmigrasi spontan dan transmigrasi Swakarsa. Mengingat bahwa skala penelitian itu bervariasi antara peneliti yang satu dengan peneliti yang lain, sulit bagi peneliti mobilitas penduduk untuk menggunakan batas wilayah dan waktu yang baik (standart). Kalau dilihat dari ada atau tidaknya niatan untuk menetap di daerah tujuan, mobilitas penduduk dapat pula dibagi menjadi dua, yaitu mobilitas penduduk permanen dan mobilitas penduduk non permanen. Jadi, migrasi adalah gerak penduduk yang melintasi batas wilayah menuju ke wilayah lain dengan ada niatan untuk menetap di daerah tujuan.

Sebaliknya mobilitas penduduk non permanen ialah gerak penduduk dari satu wilayah ke wilayah lain dengan tidak ada niatan untuk menetap di daerah tujuan.Apabila seseorang menuju ke daerah lain dan sejak semula sudah bermaksud tidak menetap di daerah tujuan, orang tersebut digolongkan sebagai pelaku mobilitas non permanen walaupun bertempat tinggal didaerah tujuan dalam jangka waktu cukup lama (Steele, 1983 dalam Dina,2008). Gerak penduduk non permanen (sirkulasi : circulation) ini dapat pula dibagi menjadi dua yaitu ulang alik (nglaju/commuting) dan dapat menginap/mondok di daerah tujuan. Ulang alik adalah gerak penduduk dari daerah asal menuju ke daerah tujuan dalam batas waktu tertentu kembali ke daerah asal pada hari itu juga. Pada umumnya penduduk yang melakukan mobilitas ingin kembali ke daerah secepatnya sehingga kalau dibandingkan frekuensi penduduk yang melakukan mobilitas ulang alik, menginap/mondok, dan migrasi frekuensi mobilitas penduduk yang ulang alik terbesar disusul oleh menginap/mondok, dan migrasi. Secara operasional, macam-macam bentuk mobilitas penduduk tersebut diukur berdasarkan konsep ruang dan waktu. Misalnya mobilitas ulang alik,konsep waktunya diukur dengan enam jam atau lebih meninggalkan daerah asal dan kembali pada hari yang sama, menginap/mondok diukur dari meninggalkan daerah asal lebih dari satu hari tetapi kurang dari enam bulan, sedangkan mobilitas permanen diukur dari lamanya meninggalkan daerah asal enam bulan atau lebih kecuali orang yang sejak semula berniat menetap di daerah tujuan, seperti seorang istri yang mengikuti suaminya. Sifat dan perilaku migran sirkuler di daerah tujuan yang bekerja tidak mengenal waktu karena mereka berusaha mempergunakan waktu untuk bekerja sebanyak mungkin agar mendapatkan upah sebanyak mungkin untuk dikirim ke daerah asal. Di daerah tujuan mereka tidak dikenai kewajiban untuk kerja bakti, ronda malam dan bergotong royong memperbaiki prasarana jalan atau saluran irigasi. Jadi, di daerah tujuan mereka mempunyai kesempatan berusaha keras untuk mendapatkan upah sebanyak-banyaknya.Pada umumnya, para migran sirkuler menuju ke kota terdorong oleh adanya tekanan kondisi ekonomi pedesaan, dimana semakin sulit mencukupi nafkah keluarga. Dorongan ekonomi tersebut ternyata terutama ditimbulkan oleh permasalahan sempitnya lahan pertanian di desa dan hambatan dalam mengelolanya. Kondisi ekonomi penduduk pedesaan yang kembang kempis tersebut jelas perlu adanya perbaikan. Oleh karena itu, pelaksanaan mobilitas dengan tujuan ekonomis sebagai salah satu upaya untuk mengubah kondisi ketertekanan ekonomi diatas.

2.3.Pola, arus dan Faktor faktor yang menyebabkan terjadinya migrasi di Indonesia.2.3.1. Pola dan arus migrasi di Indonesia. Berikut adalah gambaran pola dan arus migrasi di Indonesia dari tahun 2000 dengan menggunakan data data migrasi melalui data survey penduduk antar sensus ( SUPAS) 2005 dan sensus penduduk (SP) 2000. Ada dua pola migrasi yang akan dibahas yaitu pola migrasi semasa hidup antar pulau dan pola migrasi semasa hidup antar propinsi. a. Migrasi semasa hidup antar pulau Migrasi keluar selama 24 tahun terakhir secara absolute pulau Jawa adalah yang paling banyak mengeluarkan migrant yaitu: pada tahun 1971 sebanyak 1.935.000 orang, tahun 1980 sebanyak 3.584.900 orang, tahun 1990 sebanyak 3. 053.200 orang, yang kemudian pada tahun 1995 menjadi 5. 533.200 orang. Dari sebanyak migran keluar tersebut sampai tahun 1980 sebagian besar menuju pulau Sumatera, yaitu sebesar 89,66% pada tahun 1971, dan 81,06% pada tahun 1980. Namun demikian mulai tahun1990 terjadi penurunan arus migran dari p.Jawa ke P. Sumatera yaitu menjadi 69,73%, dan tahun 1995 persentasenya menurun lagi menjadi 68,28%. Kondisi ini memperlihatkan bahwa mulai dekade 1980 1990 perpindahan penduduk dari P. Jawa sudah sudah mulai menyebar ke pulau pulau lain, tidak hanya terpusat di P. Sumatera saja. Berikutnya p. Sumatera yang menduduki urutan kedua dalam besarnya migrasi keluar, pada tahun 1971 mempunyai migran keluar sebesar 369.000 orang, kemudian pada tahun 1980 naik menjadi 786.400 orang keluar dan naik lagi menjadi 1.175.700 orang pada tahun 1990.Selanjutnya tahun 1995 naik lagi menjadi sekitar 1.534.000 orang. Sebagian besar migrant keluar dari p. Sumatera menuju p. Jawa yaitu 94,31% pada tahun 1971, 91,35% pada tahun 1980, 90,94% pada tahun 1990 dan 1991, 94% pada tahun 1995. Dari data tersebut terlihat arus migrasi dari p. Sumatera ke p. Jawa dapat dikatakan hampir tidak ada perubahan. Kecenderungan orang Sumatera pindah ke p. Jawa masih tetap merupakan prioritas utama. Seperti halnya p. Sumatera, P. Kalimantan dan pulau pulau lainnya juga merupakan daerah yang migrant keluarnya kebanyakan menuju P. Jawa dan ini tidak berubah sejak

tahun 1971 sampai tahun 1995 atau penurunan persentase yang terjadi relative kecil. Berbeda dengan p. Sulawesi, arus migran yang keluar dari pulau ini hampir tersebar secara merata ke pulau pulau lain dan kecenderungan ini berjalan sejak tahun 1971 yang berlangsung secara terus menerus sampai tahun 1995. Untuk migrasi masuk, P. Sumatera adalah pulau yang banyak menerima migran, baik pada tahun 1970, 1980, 1990 maupun pada tahun 1995. Dari jumlah tersebut, lebih dari 90 persen sejak tahun 1971 sampai dengan tahun 1995 adalah migrant yang berasal dari p. Jawa. Demikian juga p. Kalimanatan, Sulawesi, dan pulau pulau lainnya, migran yang masuk sebagian besar berasal dari p. Jawa. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa P. Jawa yang memang mempunyai penduduk terbesar di Indonesia merupakan pulau pengirim migrant terbesar dari pulau pulau lainnya di Indonesia. Sebaliknya migrasi masuk ke p.Jawa sendiri dari tahun 1971 sampai dengan tahun 1995 kebanyakan berasal dari p.Sumatera ( 60%). Hal ini dapat dimaklumi karena secara geografis p. Sumatera berdekatan dengan p. Jawa disbanding dengan pulau pulau lainnya dan juga karena system transportasi yang menghubungkan kedua pulau ini lebih baik dan lancar dari frekwensi maupun jenis angkutannya dibandingkan dengan system transportasi yang menghubungkan p. Jawa dengan pulau pulau yang lain di Indonesia. b. Migrasi semasa hidup antar propinsi. Pola dan arus migrasi seumur hidup per propinsi di Indonesia sangat bervariasi dan besarnya tidak selalu sama antara satu propinsi dengan propinsi yang lain.Secara umum propinsi propinsi di pulau Jawa dan Nusa Tenggara merupakan propinsi propinsi pengirim migrant, baik pada tahun 1971, 1980, 1990 maupun pada tahun 1995 kecuali DKI Jakarta, Jawa Barat, Nusa Tenggara Barat. DKI Jakarta sejak tahun 1971 hingga tahun 1995 merupakan propinsi penerima migran.Jawa barat pada tahun 1971 dan 1980 merupakan propinsi pengirim migran, tetapi pada tahun 1990 dan 1995 menjadi propinsi penerima migran. Sebagai pusat pemerintahan dan perekonomian sejak tahun 1971 hingga tahun 1990, DKI Jakarta adalah propinsi yang paling banyak didatangi oleh migran, dengan jumlahnya yang semakin membesar dari tahun ke tahun. Pada tahun 1971 DKI Jakarta menerima sekitar 1,8 juta migran, tahun 1980 menerima sekitar 2,6 juta migrant, tahun 1990 menerima 3,1 juta migrant

dan pada tahun 1995 menerima 3,4 juta migran. Jika dilihat asal migran yang ke DKI Jakarta, yang paling banyak adalah migran yang berasal dari Jawa Tengah dan Jawa Barat, pada tahun 1990 dan 1995, sisanya berasal dari 24 propinsi lainnya yang persentasenya relative kecil. Propinsi kedua terbesar yang didatangi migrant pada tahun 1990 adalah Jawa Barat, dengan jumlah migran sebesar 2,4 juta orang. Selanjutnya hasil SUPAS 95 ssmenunjukkan bahwa dengan jumlah migran masuk sebesar 3,6 juta orang. Propinsi Jawa Barat telah menggeser kedudukan DKI Jakarta sebagai penerima migrant terbesar. Migran yang masuk ke Jawa Barat ini sebagian besar berasal dari propinsi tetangganya yaitu Jawa Tengah dan DKI Jakarta, dengan persentase masing masing sebesar 30,25% dan 35, 09% pada tahun 1995. Dan ada pula masuk ke Lampung yaitu tiga propinsi yakni : Jawa Tengah (33,50%), Jawa Timur(28,20%), dan Jawa Barat (13,35%). 2.3.2. Faktor Faktor Penyebab Terjadinya Migrasi Pada dasarnya factor factor yang menyebabkan seseorang melakukan migrasi dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu faktor faktor pendorong dan faktor faktor penarik. a. Faktor faktor pendorong (push factor) dapat berupa hal hal seperti berikut ini : Makin berkurangnya sumber sumber kehidupan, seperti menurunnya daya dukung lingkungan dan menurunnya permintaan atas barang barang tertentu yang bahan bakunya makin susah diperoleh, seperti hasil tambang, kayu, atau bahan dari pertanian. Menyempitnya lapangan pekerjaan di tempat asal ( misalnya lahan pertanian), seiring dengan pertambahan penduduk. Adanya tekanan tekanan politik, agama, dan suku sehingga mengganggu hak asasi penduduk di daerah asal. Alasan pendidikan, pekerjaan atau perkawinan. Bencana alam seperti banjir, kebakaran, gempa bumi, musim kemarau panjang, atau adanya wabah penyakit. b. Faktor faktor penarik (pull factor) antara lain sebagai berikut : Adanya harapan akan memperoleh kesempatan untuk memperbaiki kehidupan.

Adanya kesempatan untuk memperoleh pendidikan yang lebih baik. Keadaan lingkungan dan keadaan hidup yang menyenangkan, seperti iklim, perumahan, sekolah, layanan kesehatan yang lebih baik, dan fasilitas fasilitas publik lainnya yang lebih baik.

Adanya tempaat tempat hiburan, pusat kebudayaan, dll masih banyak lagi berbagai fasilitas yang menjadi daya tarik bagi orang orang daerah bermukim di kota besar.

Menurut Lee (1996), ada empat faktor yang menyebabkan orang mengambil keputusan untuk melakukan migrasi : Faktor faktor yang terdapat di daerah asal Faktor faktor yang terdapat didaerah tujuan Rintangan rintangan yang menhambat Faktor faktor pribadi. Disetiap tempat asal ataupun tujuan, ada sejumlah factor positif yang menahan orang untuk tetap tinggal didaerah itu dan bahkan menarik orang luar untuk pindah ke tempat tersebut. Sebalikya ada sejumlah faktor negatif yang mendorong orang untuk pindah dari tempat asalnya menuju ke tempat tujuan yang baru. Selalu terdapat sejumlah rintangan yang dalam keadaan tertentu tidak seberapa beratnya, tapi dalam keadaan lain tidak dapat diatasi. Rintangan rintangan itu antara lain berupa jarak antara daerah asal dan daerah tujuan. Hal yang paling banyak dipelajari tentang sebab sebab migrasi selama ini adalah masalah jarak, yang mungkin menyangkut transportasi dan informasi tempat tujuan. Contoh contoh penghalang lain adalah UU migrasi dan biaya ransportasi. Berat ringannya rintangan bermigrasi bagi setiap orang berbeda beda. Ada sebagian orang memandang rintangan tersebut mudah diatasi, tetapi ada juga yang memandang sebagai hal yang menjadi kendala untuk pindah tempat. Faktor pribadi juga banyak mempengaruhi keputusan seseorang untuk melakukan migrasi.Kepekaan pribadi, kecerdasan serta kesadaran tentang kondisi di tempat lain dapat mempengaruhi evaluasi seseorang tentang keadaan di tempat asal. Pengetahuan tentang tempat tujuan bergantung pada hubungan hubungan seseorang atau berbagai sumber informasi yang tidak tersedia secara umum. Dari hasil evaluasi tempat tujuan inilah yang menyebabkan

pertimbangan tersendiri pada setiap individu untuk mengambil keputusan melakukan migrasi, sehingga ada sebagian orang memutuskan bermigrasi jika benar benar ada alasan yang sangat urgen, tetapi ada juga sebagian orang dengan sedikit dorongan saja sudah dijadikan pertimbangan untuk pindah ( Lee, 1966) Adanya faktor faktor sebagai daya tarik ataupun pendorong merupakan perkembangan dari ketujuh hukum hukum migrasi yang dikembangkan oleh E.G. Ravenstein (1885), seperti dikutip oleh Bogue ( 1969), sbb : 1. Migrasi dan jarak Banyak migran bermigrasi dalam jarak yang pendek. Jika jarak dengan suatu tempat makin jauh, maka semakin sedikit migrant yang pergi dari tempat tersebut. 2. Migrasi bertahap Seseorang yang tinggal dekat dengan kota besar akan bermigrasi jika perekonomian kota tersebut berkembang.Kesempatan kerja yang ditinggalkan oleh orang orang ini akan diisi oleh migran dari daerah terpencil. Kota kota ini akhirnya berkembang secara bertahap mencapai daerah pedalaman. Dengan kata lain, seseorang akan bermigrasi secara bertahap dari desa ke kota kecil kemudian ke kota besar. 3. Arus dan arus balik Setiap arus migrasi utama menimbulkan arus balik penggantiannya. 4. Perbedaan antara desa dan kota dalam kecenderungan bermigrasi. Penduduk perkotaan cenderung tidak bermigrasi dibandingkan dengan penduduk pedesaan. 5. Perempuan lebih dominan melakukan migrasi jarak pendek. Dibandingkan dengan laki laki, perempuan lebih banyak bermigrasi pada jarak pendek. 6. Teknologi dan migrasi Perkembangan teknologi cenderung meningkatkan angka migrasi. 7. Motif ekonomi lebih dominan Walaupun berbagai factor pendorong dapat menyebabkan terjadinya migrasi, keinginan untuk memperbaiki kondisi ekonomi merupakan factor pendorong yang dominan.

Migrasi Seumur Hidup (Life Time Migration) Tahun 1971, 1980, 1985, 1990,1995, 2000 dan 2005

Provinsi

1971

1980

1985

1990

1995

2000

2005

Migrasi Masuk : 1 Nanggroe Aceh Darussalam 61,906 547,405 88,832 217,134 160,041 333,875 36,380 146,307 570,863 134,712 356,272 298,366 617,745 122,785 159,495 485,155 138,294 315,399 344,905 576,482 120,106 194,709 459,652 217,796 689,036 473,434 228,641 100,1661)

2 Sumatera Utara 3 Sumatera Barat 4 Riau 5 Jambi 6 Sumatera Selatan 7 Bengkulu 8 Lampung 9 Bangka Belitung 1 0 1 1 1 2 1 3 1 4 1 5 1 6 1 7 1 8 Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat

552,450 447,897 447,332 260,845 245,000 300,322 884,769 1,534,84 1,335,87 9 3

482,795 566,153 551,469

936,817 1,038,898 987,157 902,044 251,621 332,080 355,048 311,326 1,485,21 1,596,54 8 5 94,3343)

1,003,550 1,793,053 1,861,253 1,730,903 1,923,9282) 3) 2) 3) 2) 3) 2) 3) 2) 3)

95,129 542,811

1,821,833 2,599,367 3,079,693 3,170,215 3,371,384

3,541,97 3,337,16 2 1 3,271,88 3,764,88 383,560 1,003,758 1,367,377 2,408,626 3,615,099 2 9 260,308 101,204 297,9484)

350,724 180,367 465,9494)

530,385 229,125 567,1434)

516,315 266,500 575,5414)

672,978 708,308 741,588 347,245 385,117 466,941 808,995 781,590 660,6634)

1,758,40 1,731,08 8 1

22,758 34,117

65,271 56,081

53,897 61,539

124,919 69,466

157,902 221,722 249,951 75,227 107,605 100,811

1 9 2 0 2 1 2 2 2 3 2 4 2 5 2 6 2 7 2 8 2 9 3 0 3 1 3 2 3 3

Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Papua Barat

13,039 24,342 50,235 67,285 40,857 50,356 51,320 71,411 26,0245)

42,614 112,244 142,257 145,417 296,963 91,460 187,024 118,984 106,0275)

42,469 85,164 137,971 182,663 384,418 74,819 170,323 132,060 160,0355)

48,159 199,829 241,192 274,745 604,549 89,096 287,447 225,279 237,6025)

57,915 106,053 102,222 250,617 269,722 263,080 325,028 423,014 393,828 321,955 360,324 400,562 741,109 856,251 990,736 76,084 147,091 165,689 351,609 369,634 358,601 304,296 273,875 341,770 260,141 366,817 341,0575)

26,8886)

39,4876)

6)

6)

6)

6)

6)

43,5307)

130,1097)

119,2447)

186,7357)

160,4777)

75,540 60,834

73,356 63,384

33,9238)

96,0798)

156,7568)

262,8738)

274,276 332,015 430,1678) 8) 8)

Migrasi Keluar : 1 Nanggroe Aceh Darussalam 65,835 188,326 324,897 41,636 27,487 199,060 24,753 29,7282) 3)

116,010 417,659 558,804 86,540 47,151 333,024 39,019 57,6642) 3)

119,178 562,885 559,636 93,745 50,138 368,622 39,664 112,1442) 3)

125,563

181,574 244,314

1)

2 Sumatera Utara 3 Sumatera Barat 4 Riau 5 Jambi 6 Sumatera Selatan 7 Bengkulu 8 Lampung 9 Bangka Belitung 1 Kepulauan Riau 0

770,093 1,025,451 642,908 127,672 77,299 443,384 46,720 167,5652) 3)

1,336,77 1,314,11 2 7

837,493 937,799 921,180 169,941 164,358 208,049 112,204 149,376 134,793 580,077 525,954 573,865 66,7622) 3)

73,390

82,703

273,061 385,748 447,476 120,0273)

99,223 9,612

1 1 1 2 1 3 1 4 1 5 1 6 1 7 1 8 1 9 2 0 2 1 2 2 2 3 2 4 2 5 2 6 2 7 2 8 2 9 3 0 3 1 3 2 3 3

DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Papua Barat

1,836,66 2,045,63 4 0 2,046,27 1,984,62 1,192,987 1,487,935 1,660,517 1,751,879 1,891,615 9 0 5,354,45 5,538,95 1,798,001 3,227,892 3,305,362 4,524,988 5,014,822 9 2 132,215 400,767 593,936 1,052,234 1,589,285 266,933 253,447 656,190 508,215 861,679 784,154 814,289 3,063,29 3,220,15 7 8 475,440 444,503

749,848 1,597,851 1,822,761 2,479,487 2,879,3894) 4) 4) 4) 4)

57,072 12,764 26,222 35,109 11,514 84,257 23,723 60,837 34,274 241,726 30,7715)

117,828 44,487 47,534 72,358 25,086 169,561 34,059 121,231 33,912 511,725 89,9575)

159,011 42,163 58,460 72,646 35,590 195,946 48,115 150,142 31,513 541,446 68,6285)

221,599 96,774 99,442 116,735 47,700 201,936 63,533 153,466 48,360 641,961 107,6735)

230,149 250,724 248,007 107,261 145,546 143,435 118,625 156,602 173,884 126,834 154,620 156,631 57,448 53,291 87,712

245,595 255,595 297,766 88,646 90,635 97,498

218,240 151,326 166,157 47,793 74,463 75,776

792,342 874,338 968,140 125,4035)

95,189 122,593 113,050 100,6916) 6)

6)

6)

6)

6)

6)

36,6137)

64,7257)

83,5137)

95,3617)

135,727 157,066 170,6277)

43,712 46,8248)

47,039 46,8828)

6,4498)

15,5598)

25,4958)

30,7868)

47,3568)

Migrasi Neto : 1 Nanggroe Aceh -3,929 30,297 40,317 69,146 47,067 -144,1481)

Darussalam 2 Sumatera Utara 3 Sumatera Barat 4 Riau 5 Jambi 6 Sumatera Selatan 7 Bengkulu 8 Lampung 9 Bangka Belitung 1 Kepulauan Riau 0 1 DKI Jakarta 1 1 Jawa Barat 2 1 Jawa Tengah 3 1 DI Yogyakarta 4 1 Jawa Timur 5 1 6 1 7 1 8 1 9 2 0 2 1 2 2 2 3 2 4 2 5 2 6 Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan 359,079 153,204 -77,730 -310,441 -473,001 -888,875 -866,785 -421,342 -425,112 -576,648 -692,799 -620,858 221,654 294,767 207,860 80,442 561,364 396,135 493,433 204,901 714,828 1,370,49 1,127,82 4 1

-236,065 -424,092 175,498 132,554 134,815 11,627 269,732 251,215 284,721 83,766

370,591 416,777 416,676 458,821 461,203 328,179 265,318 281,658 228,623 1,099,47 1,149,06 9 0 -25,6933)

973,822 1,735,389 1,749,109 1,563,338 1,650,8672) 3) 2) 3) 2) 3) 2) 3) 2) 3)

-4,094 533,199

1,705,30 1,291,53 1 8 1,225,60 1,780,26 -809,427 -484,177 -293,140 656,747 1,723,484 9 3 -2,774,977 4,646,15 4,797,36 1,537,693 2,877,168 4,008,673 4,341,844 4 1 1,689,618 2,198,600 2,485,757 2,117,981 1,782,099 -165,729 -451,9004)

-73,080

-427,065 -241,715 -514,434 -399,037 -347,348

-1,255,618 2,281,70 2,559,49 1,131,902 1,903,946 2,070,394 5 7 4) 4) 4) 4) 1,282,96 1,286,57 8 8 -52,557 11,594 -4,920 39,886 117,171 -24,144 262,904 -29,771 153,112 -105,114 19,376 -15,991 12,518 102,381 -13,283 336,303 -75,323 138,810 -96,680 -27,308 -51,283 83,094 193,492 72,809 541,016 -72,247 -29,002 1,944

-34,314 21,353 -13,183 -10,767 38,721 -16,972 17,134 -10,481 17,046

-32,034 -37,941 -42,624 -60,710 -50,549 -71,662 123,783 115,102 106,449 267,580 369,723 306,116 76,360 104,729 102,796 652,463 765,616 893,238 -4,235 -468

-64,370 -142,156 239,087

303,816 295,171 282,825

-170,315 -392,741

-409,386 -416,682 -488,046 -600,463 -626,370

2 7 2 8 2 9 3 0 3 1 3 2 3 3

Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Papua Barat

-4,7475)

16,0705)

91,4075)

129,9295)

134,738 271,628 218,4645)

-86,162 -61,2046) 6)

6)

6)

6)

6)

6)

6,9177)

65,3847)

35,7317)

91,3747)

24,750 -81,526 -97,2717)

17,122

16,345

27,4748)

80,5208)

131,2618)

232,0878)

226,920 285,191 383,2858) 8) 8)

Sumber : Sensus Penduduk 1971, 1980, 1990, 2000 dan Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 1985, 1995, 2005

Catatan: Migrasi seumur hidup adalah migrasi dimana tempat tinggal seseorang pada saat pencacahan berbeda dengan tempat lahirnya1) NAD

tidak termasuk dalam cakupan SUPAS 2005 karena peristiwa gempa bumi dan tsunami 2) Bangka Belitung masih bergabung dengan Sumatera Selatan 3) Kepulauan Riau masih bergabung dengan Riau 4) Banten masih bergabung dengan Jawa Barat 5) Gorontalo masih bergabung dengan Sulawesi Utara 6) Sulawesi Barat masih bergabung dengan Sulawesi Selatan 7) Maluku Utara masih bergabung dengan Maluku 8) Papua Barat masih bergabung dengan Papua

2.4. Permasalahan Kependudukan sebagai dampak dari Migrasi dan cara

menanggulanginyaBerbagai jenis migrasi yang terjadi membawa dampak yang berbeda-beda bagi masyarakat asal maupun masyarakat tujuan.

2.4.1. Migrasi internasionala. Dampak imigrasi bagi Indonesia Masuknya budaya-budaya asing yang tidak sesuai Makin banyak orang asing yang masuk ke Indonesia berarti makin banyak pula budaya yang masuk, karena orang-orang asing tersebut juga membawa budaya Negara asalnya yang sudah melekat. Banyak budaya asing yang tidak sesuai dengan budaya asli bangsa Indonesia. Hal tersebut lambat laun dapat merusak budaya bangsa Indonesia.Contohnya adalah sikap konsumtif dan pergaulan bebas. Untuk mengatasi dampak negatif tersebut, kita harus menjaga budaya bangsa agar tidak terpengaruh dengan budaya luar. Di samping itu penduduk juga harus bersikap selektif dan mempertebal keimanan dan ketaqwaan sehingga terhindar dari budaya-budaya yang bertentangan dengan nilai agama dan budaya bangsa. Pemerintah juga dapat berperan dengan menciptakan iklim kondusif bagi berkembangnya budaya-budaya daerah dan nasional, seperti dengan menetapkan undang-undang dankebijakan-kebijakan yang mendukung upaya pelestarian nilai dan budaya bangsa. Imigran-imigran yang masuk ke Indonesia tidak semuanya berniat baik. Ada kalanya beberapa di antara imigran tersebut mempunyai tujuan yang tidak baik, seperti mengedarkan narkoba, menjual barang-barang ilegal, melarikan diri dari jeratan hukum di negaranya (buronan), untuk melakukan kegiatan memata- matai, dan lain-lain. Hal tersebut sangatlah mengganggu bagi kestabilan politik, ekonomi, sosial, dan budaya Indonesia. Untuk mengatasi hal tersebut diperlukan ketahanan nasional yang tinggi dengan melibatkan semua elemen bangsa. TNI dan Polri perlu meningkatkan kewaspadaan penjagaan terutama di daerah-daerah perbatasan dan melakukan spemeriksaan rutin dan disiplin terhadap imigran (WNA). Pemerintah melalui petugas keimigrasian dan bea cukai menerapkan aturan yang ketat dan disiplin dalam membuat ijin, memeriksa, dan menindak imigran beserta barang-barang yang masuk ke Indonesia. Masyarakat dapat bertindak proaktif dengan melaporkan ke pihak yang berwajib jika melihat kejanggalan-kejanggalan yang berkaitan dengan imigran (WNA).

b. Dampak negatif adanya emigrasi Banyak orang Indonesia yang bekerja di luar negeri enggan untuk kembali ke Indonesia. Mereka beralasan bahwa upah pekerja di luar negeri lebih tinggi bila dibandingkan dengan diIndonesia. Selain itu, juga suasana dan kehidupan di luar negeri dianggap lebih kondusif. Keengganan para pekerja tersebut terutama tenaga ahli untuk kembali ke Indonesia dapat mengurangi tenaga ahli di Indonesia. Usaha untuk menanggulangi hal tersebut dapat dilakukan dengan memperkokoh rasa nasionalisme. Juga dapat dilakukan dengan menciptakan iklim dalam negeri yang kondusif, terutama dalam dunia industri dan investasi, sehingga memicu membaik dan meningkatnya kehidupan ekonomi masyarakat.b) Rusaknya citra Indonesia di mata negara lain Rusaknya citra Indonesia di mata negara lain disebabkan oleh ulah orang-orang Indonesia di negara lain yang tidak bertanggung jawab, seperti melakukan tindak kejahatan dinegara lain, buron yang lari ke negara lain, dan lain-lain. Untuk menanggulangi masalah tersebut dapat dilakukan oleh pemerintah melalui pihak keimigrasian untuk lebih memperketat perijinan pengajuan paspor/visa ke negara lain. Pemerintah juga bisa menjalin kerja sama secara baik dengan aparat-aparat yang berwenang negara lain ataupun membuat kebijakan-kebijakan dan perjanjian-perjanjian dengan negara lain, misalnya perjanjian ekstradisi dan lain-lain.

2.4.2. Migrasi nasional Migrasi nasional antara lain transmigrasi dan urbanisasi. a. Dampak negatif adanya transmigrasi dan cara penanggulangannya - Memerlukan banyak biaya Program transmigrasi terutama yang bukan swakarsa memerlukan banyak biaya. Biaya-biaya tersebut untuk pemberangkatan sejumlah transmigran dan pembukaan lahan baru. Untuk menanggulangi masalah tersebut pemerintah dapat memprioritaskan transmigrasi swakarsa, sehingga biaya ditanggung oleh transmigran sendiri. Adapun pemerintah hanya sebatas menyediakan lahan baru saja. Namun untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat agar melakukan transmigrasi swakarsa bukanlah pekerjaan yang mudah. Oleh karena itu

pemerintah harus senantiasa memberikan penyuluhanpenyuluhan pada masyarakat. - Sering timbulnya konflik antar masyarakat Masyarakat setempat, khususnya masyarakat tujuan transmigrasi yang berada di pedalaman sangat sulit menerima pendatang baru, apalagi mereka menganggap bahwa transmigran mengambil lahan garapan mereka. Hal tersebut sering memicu kecemburuan antara masyarakat setempat terhadap para transmigran, bahkan di antara mereka sering terjadi konflik. Untuk menanggulangi masalah tersebut perlu dilakukan penyuluhan dan pembinaan terhadap masyarakat setempat di daerah tujuan transmigrasi. Di samping itu, juga diberikan bantuan berupa fasilitas-fasilitas yang serupa yang diberikan pada para transmigran sehingga dapat meminimalisir kecemburuan ssosial. Pemerintah juga bisa mengadakan forum bersama yang mempertemukan antara masyarakat setempat dan para transmigran, sehingga lebih mempererat hubungan di antara mereka. b. Dampak urbanisasi dan upaya penanggulangannya urbanisasi yang terus menerus berlangsung dapat meningkatkan jumlah penduduk di kota dengan cepat. Di sisi lain jumlah penduduk di desa makin berkurang. Hal ini menyebabkan ketimpangan pembangunan dan ketimpangan sosial antara desa dengan kota Dampak negatif urbanisasi bagi kota Meningkatnya jumlah pengangguran Urbanisasi mengakibatkan, persaingan kerja makin tinggi dan kesempatan kerja makin kecil, sehingga orang sulit mencari pekerjaan. Meningkatnya angka kriminalitas Kebutuhan hidup di kota sangatlah kompleks, namun usaha pemenuhannya kian sulit. Hal itulah yang membutakan mata sebagian orang, sehingga nekat menghalalkan segala cara demi memenuhi kebutuhan, seperti merampok, menipu, mencuri,korupsi, dan lainlain. Munculnya slum area (daerah kumuh) Dengan adanya urbanisasi menjadikan lahan pemukiman makin sempit. Jumlah lahan yang tersedia tidak sebanding dengan jumlah penduduknya, sehingga sulit untuk mencari lahan untuk mendirikan rumah. Meskipun ada, lahan tersebut harganya sangat mahal, karena banyak orang yang menginginkannya.Mahalnya harga tanah tersebut menjadikan masyarakat tidak mampu membeli. Akhirnya mereka lebih

memilih tinggal di kolong jembatan, bantaran sungai, membuat rumah kardus,bahkan ada yang tinggal di daerah pemakaman. Dampak negatif bagi desa Urbanisasi ternyata membawa pengaruh yang besar bagi masyarakat di desa. Pembangunan dan dinamisasi desa menjadi menurun. Hal tersebut disebabkan karena: Tenaga terampil di desa berkurang karena berpindah ke kota. Penduduk desa yang bersekolah di kota umumnya enggan kembali ke desa. Tenaga yang tertinggal di desa, umumnya orang-orang tua yang sudah tidak terampil dan produktif lagi. Untuk menanggulangi atau bahkan mencegah munculnya dampak-dampak negatif urbanisasi tersebut, perlu diupayakan untuk menekan dan memperkecil laju urbanisasi. Upaya tersebut dapat dilakukan dengan: - Pemerataan pembangunan industri sampai ke desa-desa. - Pembangunan infrastruktur jalan ke desa-desa, sehingga memperlancar hubungan desa dengan kota. - Mengoptimalkan usaha pertanian, sehingga tingkat pendapatan masyarakat desa. - Pembangunan fasilitas umum di desa, seperti listrik, puskesmas, sekolah, pasar, dan

BAB. III PENUTUP

Kesimpulan1. migrasi diartikan sebagai perpindahan yang relatif permanen dari suatu daerah (negara) ke daerah (negara) lain.

2. Jenis migrasi adalah pengelompokan migrasi berdasarkan dua dimensi penting dalamanalisis migrasi, yaitu dimensi ruang/daerah (spasial) dan dimensi waktu. Dalam konteks ruang terdapat dua jenis migrasi yaitu migrasi internasional dan mograsi internal. 3. Selain itu migrasi dapat dibedakan berdasarkan dimensi waktunya. Migran menurut dimensi waktu adalah orang yang berpindah ke tempat lain dengan tujuan untuk menetap dalam waktu enam bulan atau lebih. Migran sirkuler (migrasi musiman) dan commuter. Sementara itu menurut versi BPS, ada tiga kriteria migran: seumur hidup, srisen, dan total (dikutip dari http://demografi.bps.go.id/versi1)

4. Faktor faktor pendorong (push factor) dapat berupa hal hal seperti berikut ini : - Makin berkurangnya sumber sumber kehidupan, seperti menurunnya daya dukung lingkungan dan menurunnya permintaan atas barang barang tertentu yang bahan bakunya makin susah diperoleh, seperti hasil tambang, kayu, atau bahan dari pertanian. - Menyempitnya lapangan pekerjaan di tempat asal ( misalnya lahan pertanian), seiring dengan pertambahan penduduk. - Adanya tekanan tekanan politik, agama, dan suku sehingga mengganggu hak asasi penduduk di daerah asal. - Alasan pendidikan, pekerjaan atau perkawinan. - Bencana alam seperti banjir, kebakaran, gempa bumi, musim kemarau panjang, atau adanya wabah penyakit 5. Faktor faktor penarik (pull factor) antara lain sebagai berikut : - Adanya harapan akan memperoleh kesempatan untuk memperbaiki kehidupan. - Adanya kesempatan untuk memperoleh pendidikan yang lebih baik.

- Keadaan lingkungan dan keadaan hidup yang menyenangkan, seperti iklim,perumahan, sekolah, layanan kesehatan yang lebih baik, dan fasilitas fasilitas publik lainnya yang lebih baik. Adanya tempaat tempat hiburan, pusat kebudayaan, dll masih banyak lagi berbagai fasilitas yang menjadi daya tarik bagi orang orang daerah bermukim di kota besar.

DAFTAR PUSTAKA

Biro Pusat Statistik, Estimasi Fertilitas, Mortalitas dan Migrasi, Hasil Survei Penduduk Antar sensus (SUPAS) 1995, Jakarta, 1995.

Faturochman, Why People Move: A Psychological Analysis Of Urban Migration, Populasi, 1992. Gross, Jon D and Bruce Lindquist, Conseptualizing International Migration : A Structuration Perspective, International Migration Review, 1995. Kahar Suleman Hi. Abdul, Migrasi Keluar Dari Sulawesi Selatan Analisis Data SUPAS 1995 Jakarta, Program Pascasarjana Program Studi Kependudukan Dan Ketenagakerjaan, Universitas Indonesia, 2001. Lee Everent S, A Theory Of Migration, Demografi, 1966. Pernia, E.M, Individual and Household Migration Decision, The PEJ. No.36. Vol.XVII. Nos 1 dan 2 1978 Pernia, E.M, The Impact of Migration on Rural Areas in the Philippines, The PEJ, No.33.Vol.XVI. Nos 1 dan 2, 1977. Rusli. S, Pengantar Ilmu Kependudukan edisi revisi, Jakarta, LP3ES. Shryllock and Siegel dalam Munir, Dasar Dasar Demografi edisi 2000, Jakarta, Universitas Indonesia, 2000. Tjiptoheriijanto Prijono, Mobilitas Penduduk Dan Pembangunan Ekonomi, Warta Demografi, 2000 BPS Finalisasi Kelengkapan Data Sensus 2010", DetikCom - detik Finance, 23 Juni 2010.