mengukur ambien oleh menlh.PDF

  • View
    35

  • Download
    7

Embed Size (px)

DESCRIPTION

mengukur ambien

Text of mengukur ambien oleh menlh.PDF

Lampiran I Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor : Tanggal : RINCIAN KEGIATAN DANA ALOKASI KHUSUS BIDANG LINGKUNGAN HIDUP TAHUN ANGGARAN 2012 I. PEMANTAUAN KUALITAS LINGKUNGAN HIDUP a. Peralatan laboratorium permanen Pengadaan peralatan laboratorium permanen baik untuk uji kualitas air, udara dan tanah wajib mengacu pada ketentuan pasal 8 ayat (1) huruf a, b, c, dan d PermenLH No......tentang Petunjuk Tenknis Pemenfaatan DAK Bid. LH 2012. b. Peralatan laboratorium lainnya 1. Peralatan sampling air portable Peralatan sampling air portable diperlukan untuk pengujian sampel kualitas air untuk parameter DO, BOD, COD, TSS, Amonia, pH dan fecal coliform. Peralatan dengan fungsi yang sama dan sudah diadakan pada tahun sebelumnya, tidak diperbolehkan pengadaannya pada tahun berikutnya, kecuali untuk penggantian alat yang rusak. 2. Peralatan sampling udara ambien. Peralatan sampling udara ambien paling sedikit dapat digunakan untuk mengambil sampel untuk parameter: Sulfur dioksida (SO2), Nitrogen dioksida (NO2), Ozon (O3), Timah Hitam (Pb), Total Suspended Particulate (TSP), Particulate Matter dengan ukuran kurang dari 10 mikron (PM10) dan Particulate Matter dengan ukuran kurang 2,5 mikron (PM2,5). Pengadaan peralatan sampling udara ambien sebaiknya dilengkapi dengan alat ukur meteorologi yang dapat mengukur : kecepatan angin, arah angin, temperatur udara, kelembaban udara dan solar radiation (radiasi sinar matahari). Disamping itu peralatan sampling udara ambien diperlukan untuk melengkapi peralatan pengujian di laboratorium yang sudah tersedia sebelumnya. Bagi kota-kota yang sudah memiliki alat pemantauan kualitas udara ambien otomatis (AQMS). Pengadaan peralatan ini wajib mengacu pada ketentuan pasal 8 ayat (1) huruf a, b, c, dan d PermenLH No......tentang Petunjuk Tenknis Pemenfaatan DAK Bid. LH 2012. Peralatan dengan fungsi yang sama dan sudah diadakan pada tahun sebelumnya, tidak diperbolehkan pengadaannya pada tahun berikutnya, kecuali untuk penggantian alat yang rusak. 1

Peralatan Sampling Udara Ambien (Manual) No Parameter 1. Sulfur dioksida (SO2) 2. Nitrogen dioksida (NO2) 3. Ozon (O3)/ Oksidan fotokimia (Ox) 4. Total Suspended Particulate (TSP) 5. Particulate Matter < 10 um (PM10) 6. Peralatan Sampling Botol Impinger Midget Impinger Botol Impinger High Volume Air Sampler (HVAS) High Volume Air Sampler dilengkapi dengan Gent Sampler Gent Sampler

Particulate Matter < 2,5 Um (PM2,5)

3. Peralatan sampling udara emisi sumber tidak bergerak. Peralatan sampling udara emisi sumber tidak bergerak perlu diadakan terutama bagi kabupaten/kota yang mempunyai banyak industri, pertambangan, dan pembangkit listrik. Peralatan yang perlu diadakan adalah peralatan sampling yang mampu untuk melakukan pengukuran parameter : SO2, NOx, Amonia (NH3), CO, Total partikulat, dan parameter logam. Peralatan dengan fungsi yang sama dan sudah diadakan pada tahun sebelumnya, tidak diperbolehkan pengadaannya pada tahun berikutnya, kecuali untuk penggantian alat yang rusak. 4. Peralatan pengujian kualitas tanah Untuk pemantauan kerusakan tanah akibat produksi biomassa diperlukan seperangkat peralatan yang dapat digunakan untuk mengukur parameter fisik, kimia dan biologi tanah sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 150 Tahun 2000 tentang Pengendalian Kerusakan Tanah Untuk Produksi Biomassa, Pengadaan alat terdiri dari alat pengambilan sampel tanah dan alat pengujian sampel tanah. Peralatan dengan fungsi yang sama dan sudah diadakan pada tahun sebelumnya, tidak diperbolehkan pengadaannya pada tahun berikutnya, kecuali untuk penggantian alat yang rusak. c. Kendaraan operasional pemantauan dan pengawasan lingkungan Pengadaan kendaraan operasional pemantauan dan pengawasan lingkungan wajib mengacu pada ketentuan pasal 8 ayat (2) huruf a dan b PermenLH No......tentang Petunjuk Tenknis Pemenfaatan DAK Bid. LH 2012.

2

II. PENGENDALIAN PENCEMARAN LINGKUNGAN HIDUP 1. Pengadaan Instalasi Pengolah Air Limbah Usaha Kecil dan Menengah (IPAL UKM). Pembangunan IPAL UKM dirancang sesuai dengan debit, konsentrasi dan kapasitas pengolahan air limbah sehingga memenuhi baku mutu lingkungan seperti pada Gambar 1 di bawah ini. Gambar 1 Contoh Lay Out IPAL UKM

2. Pengadaan IPAL Fasilitas Kesehatan Pembangunan IPAL fasilitas kesehatan dimaksudkan untuk mengolah air limbah yang dihasilkan dari kegiatan fasilitas kesehatan. 3. Pengadaan Pemusnah Limbah Infeksius Fasilitas Kesehatan Untuk memusnahkan limbah medis yang bersifat infeksius dan patologis seperti bekas jarum suntik dan potongan tubuh, digunakan prinsip insinerasi dengan menggunakan alat yang disebut incinerator. Secara sederhana proses insinerasi dapat digambarkan dalam skema berikut :

3

Gambar 2. Proses Insinerasi SUPPLAI ENERGI TERKONTROLUDARA BAKAR TERKONTROL

LIMBAH INFEKSIUS

INCINERATOR

PANAS

PADATAN SISA

GAS BUANG

Limbah medis direaksikan dengan oksigen dari udara dengan bantuan suplai panas dari bahan bakar menghasilkan abu buang serta panas sisa pembakaran. Secara ideal reaksi kimia dari proses pembakaran adalah sebagai berikut : CxHyOz + (x+y/4-z/2) O2 x CO2 + y/2 H2O

Pembakaran dapat terjadi dengan sempurna jika tersedia cukup udara, bahan bakar tambahan untuk pembakar, dan waktu tinggal (time residence) untuk melangsungkan pembakaran. Titik nyala yang umumnya berkisar antara 200-500oC dicapai dengan pemberian panas yang disuplai oleh bahan bakar dari pilot burner di ruang bakar.

4

Gambar 3. Skema Incinerator

4. Pengadaan Pengolah Sampah dengan prinsip 3 R Pembangunan unit pengolah sampah terutama diarahkan dalam rangka penerapan prinsip 3R (reuse, recycle, recovery). Unit pengelolaan sampah, terdiri atas: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Bak sampah; Tong sampah; Gerobak sampah; Alat daur ulang sampah; Alat pencacah sampah; Alat pencacah plastik; Alat pembuat biji plastik; 5

8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16.

Alat pemilah sampah; Bangunan rumah atap pengolah sampah; Kendaraan roda dua pengangkut sampah; Truck sampah; Kontainer sampah; Composter conveyor pemilah sampah; dryer; arm roll. Gambar 4. Contoh Lay Out Pengelolaan Sampah Organik

6

Gambar 5. Contoh Bangunan Unit Pengolah Sampah

Gambar 6. Contoh Alat Transportasi Sampah

7

III. PENURUNAN EMISI GAS RUMAH KACA (GRK) A. Pembangunan Taman Hijau/Taman Kehati Pembangunan taman hijau /taman kehati merupakan salah satu upaya untuk menangkap gas CO2 yang merupakan salah satu GRK dan sekaligus sebagai paru-paru kota. Kegiatan pembangunan Taman Kehati juga bertujuan sebagai pencadangan sumber daya alam hayati guna penyelamatan tingkat ancaman sangat tinggi terhadap kelestariaannya. Taman Kehati mempunyai fungsi antara lain : a.Sumber bibit, b.Pengembangbiakan tumbuhan dan satwa pendukungnya, c.Sumber genetik tumbuhan dan tanaman asli/lokal yang dibudidayakan secara tradisional, d.Sarana pendidikan, penelitian, dan pengembangan ilmu pengetahuan, e.Ruang terbuka hijau, f. Penambahan tutupan vegetasi. Berikut contoh taman kehati sebagaimana gambar 7 di bawah ini: Gambar 7. Contoh Gambar Taman Hijau

8

B. Pengadaan Unit Biogas. Penanganan limbah organik yang baik dapat memperbaiki lingkungan dan menghasilkan nilai tambah ekonomi misalnya bagi para peternak dan petani. Pemanfaatan limbah organik yang tadinya tidak bermanfaat menjadi berhasil guna menjadi gas metan sebagai energi, pupuk cair dan pupuk padat organik. Sumber pencemar yang dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan biogas, antara lain: 1. kotoran ternak sapi , kerbau dan babi; 2. eceng gondok; 3. sisa proses pembuatan tahu dan ampas tahu; Dalam pembuatan biogas pertimbangan desain teknis perlu dilakukan. Beberapa faktor yang mempengaruhi pemilihan desain dan model instalasi biogas, antara lain: 1. desain sederhana, dalam hal konstruksi, operasional dan perawatan; 2. bahan baku mudah didapat, jenis bahan baku yang dapat digunakan adalah bahan bangunan dan bahan fabrikan (fiber); 3. mudah diperbaiki, aman dan bila memungkinkan mudah dipindahkan; 4. harga terjangkau oleh petani dan peternak, dan umur pemakaiannya lama.

9

Gambar 8. Contoh Desain Biodigiser (eceng gondok)

Desain Biodigister Tampak Samping dan Atas

Gambar 9. Contoh Rencana Desain Biodigiser (Kotoran Sapi)

10

Instalasi Penglolahan Air Limbah (IPAL) Biogas Industri Tahun dan Ternak Gambar 10. Prinsip kerja Teknologi Biogas

Gambar 11. Teknis IPAL Biogas Industri Tahu

11

Investasi awal yang diperlukan untuk membangun sarana fisik IPAL biogas industri tahu diperkirakan sebesar Rp. 9.5 juta per meter kubik bangunan, ditambah dengan biaya pemipaan Rp.125.000 per meter (LPTP, 2010). Penentuan kapasitas IPAL yang dirancang didasarkan pada volume air limbah produksi tahu dikalikan dengan waktu tinggal yang biasanya 3 hari, sebagai berikut: Volume limbah per hari (m3/hari) = Jumlah bahan baku kedelai (kg/hari) x 15 liter Kapasitas IPAL (m3) = Volume limbah (m3/hari) x 3 hari waktu tinggal Investasi Bangunan IPAL (Rp) = Rp. 9.5 X Kapasitas IPAL (m3) Sedangkan biaya pembangunan biodigester ternak sapi tergantung pada bahan bangunan yang digunakan. Biodigester dengan bahan utama fero semen diperkirakan memerlukan biaya sebesar Rp.10 juta rupiah untuk setiap unit biodigester terkecil yang efesien untuk dibangun. Unit biodigester terkecil tersebut kurang lebih berukuran 4 m3 yang dapat manampung kotoran sapi maksimal 4 ekor. Gambar 12. Teknis Biodigester Ternak Sapi Kapasitas 4 m3 dengan bahan ferro semen

12

Gambar 13. Teknis Biodigester Ternak Sapi Kapasitas 4 m3 dengan bahan Fiber

Gambar 14. Gambar Teknis Biodigester Ternak Sapi Kapasitas 4 m3 dengan bahan Fiber

13

IV. PERLINDUNGAN FUNGSI LINGKUNGAN HIDUP.

A. Sumur Resapan Dalam proses pembuatan sumur resapan terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan,