MUATAN LOKAL DAYAK

  • View
    1.996

  • Download
    80

Embed Size (px)

Transcript

KEPERCAYAAN ORANG DAYAK TENTANG KESAKTIANKalimat tentang adanya kesaktian/kepercayaan tidak saja hanya dipakai sebagai hiasan kesusastraan belaka melainkan dapat dipandang sebagai pendapat yang berakar-akar dalam bumi kepercayaan bangsa Indonesia, dari masa lampau sampai sekarang masih mempercayai akan adanya benda halus yang bernama kesaktian, termasuk pengetahuan bathin orang-orang Dayak. Adapun nama-nama pengetahuan bathin orang-orang Dayak tersebut diantaranya sebagai berikut: 1. Parang-maya, yaitu orang yang kena mati badan separo, atau leher seakan-akan ada bekas luka, atau tangan mendadak tak bisa bergerak, atau badan biru, tangan sepotong. 2. Pipit Berunai, yaitu semacam binatang kecil seperti busuk dipelihara dalam botol, dikasih makan timah atau waja/besi, menurut kepercayaan binatang tersebut dapat diperintahkan menyerang musuh. 3. Tumbak Gahan, yaitu pengetahuan ini biasanya terdapat di daerah Barito Selatan, Barito Timur dan Pasir (Tanah Grogot). 4. Awoh, yaitu khusus pengetahuan untuk membengkak atau merusak mata jadi buta, atau koreng yang tak dapat diobati lagi, daging lepas-lepas. 5. Kiwang, Kibang, Pakihang, yaitu khusus untuk memelihara kebun, ladang, rumah dll, orang yang kena dapat bengkak, sakit perut, berak-berak mendadak, badan lemas. Ada juga yang dinamai Pakihang Leket, orang yang terkena lemas tak dapat berjalan/berpindah tempat. 6. Panikam Jantung, yaitu khusus kekuatan bathin menikam jantung, orang terus hilang nafas dan kelihatan bekas dibelakang atau didepan bersamaan tempat jantung. 7. Petak Malai, yaitu tanah malai, tanah yang berkhasiat untuk menjinak binatang-binatang yang liar, menjinak manusia. Tanah ini didapat dari Bukit Bondang, Bukit Raya, Bukit Kaminting, Gunung Kelam dan disungai Samba dekat kampung jala hulu sungai Katingan. 8. Dll..

TANDING TUNTANG TAMPENGAN BAHASA DAYAK NGAJU (PRIBAHASA DALAM BAHASA DAYAK NGAJU) 1. ANTANG TEMPUN TANDAK, SABARU TEMPUN TALATAK (Ruji) ARTINYA : Diibaratkan kepada seseorang yang bekerja keras, tetapi orang lain yang menikmati hasil atau nama baiknya. 2. KANGAJU DIA KUMAN MANUK, KANGAWA DIA KUMAN TABUAN (Linda Kristianei) ARTINYA : Diumpamakan kepada seseorang yang sedang sial 3. KILAU TANTELUH NYANGKELANG BATU (Sahdin Hasan) ARTINYA : Diumpamakan kepada seseorang yang hidup sebatang kara dan setiap saat berhadapan dengan bahaya.

4.

KILAU DANUM HUANG DAWEN KUJANG. (H. Arbaidi) ARTINYA : Diumpamakan kepada seseorang yang sulit menerima nasehat orang lain.

5.

PULAU ILUNG JADI BAHANTUNG (Atie Dieni) ARTINYA : Diumpamakan kepada seseorang yang sudah tidur nyenyak

6.

KARAS NYAHU TAPI JATUN UJAN (Perdinanset) ARTINYA : Diumpamakan kepada seseorang yang suka sesumbar, tetapi tidak ada buktinya.

7.

LAJU ALUR DARI KELOTOK (Ali Iswandi) ARTINYA : Anak buah atau bawahan harus tau diri

8.

LALAMPAR BAIWAK RABUK (Sugito)

ARTINYA ; Parut lapar mata mangantuk 9. BAKAHING ATEI (Effendy) ARTINYA ; Mempunyai tekat yang kuat 10. LAYA-LAYA KOTAM TAME BUWU (Asliman) ARTINYA; Diumpamakan kepada seseorang yang lengah di masa mudanya, pada masa tua akan sengsara. LAGU KEBANGSAAN KELOMPOK BERUANG

K LOMPOK BRUANG MAJU TERUS K LOMPOK BRUANG PANTANG MUNDUR TIDAK PERNAH BERSEDIH, TIDAK PERNAH MENGELUH K LOMPOK BRUANG JAYA SLALU K LOMPOK BRUANG JAYA SLALU

YEL-YEL KELOMPOK BERUANG

BRUANG - BRUANG - BRUANG MAJU .... SERBU .... MADU.....

PUISI HARI DEMI HARI KAMI LEWATI SATU PERSATU SATU MATERI KAMI IKUTI WALAUPUN PENAT RASA DIHATI TAPI TAK ADA KATA MENYERAH

KELUARGA DAN PEKERJAAN DITINGGALKAN DEMI MENGIKUTI DILATPIM III TIADA HARI TANPA BELAJAR MENUNTUT ILMU YANG SANGAT BERHARGA

LAGU DAYAK JUDUL : HAMPAHARI HUANG HETUH, ITAH HAMPAHARI HAMPAHARI NETEI JALAN, ITAH HAYA-HAYAK HAYA-HAYAK

PINTAR TUNTANG HA..RATI ELA ITAH HAKALIHI 2 x BESEI JUKUNG, AYU TUTU-TUTU TUTU-TUTU DIKLAT PIM TE..LU JALAN JE INYURU JE INYURU MANGAT ITAH MANGGATANG UTUS AYUN TATU HIANG 2 X

ARTI LAGU DALAM BAHASA INDONESIA

DISINI KITA BERSAUDARA BERSAUDARA MELALUI JALAN, KITA SAMA-SAMA SAMA-SAMA CERDAS DAN BERBUDI JANGAN KITA SALING TIDAK PEDULI 2 x

Jika mendengar sebutan kata Dayak pasti akan teringat akan nama sebuah suku yang hidup dan menetap di pulau Kalimantan. Suku Dayak adalah nama suku yang memiliki budaya yang bersifat daratan bukan budaya maritim. Budaya daratan yang dimaksud disini adalah sebuah budaya yang hampir di setiap segi kehidupan suku tersebut dilakukan di daratan bukan di daerah pesisir apalagi di lautan seperti budaya maritim. Hal itu dapat dilihat dari kegiatan sehari-harinya suku Dayak, seperti berburu, bertani, dan berkebun.

Tentang Dayak: Nila-Riwut.comOleh Rudy Gunawan Tokoh Senin, 14 Desember 2009 pukul 20:10 WIB 17 Komentar 1.079 dilihat Jika tahun 2009 dapat dikatakan sebagai era keemasan jejaring sosial di internet, maka boleh dikatakan pula bahwa tahun 2009 merupakan masa kebangkitan situs-situs internet yang mengangkat soal kebudayaan dan kearifan lokal. Salah satunya yang baru saja diluncurkan bulan Novermber lalu, sebuah situs berbahasa Inggris yang memuat segala informasi mengenai kebudayaan Dayak. Situs ini dikelola oleh putri Tjilik Riwut yang menjadi penyunting buku Maneser Panatau Tatu Hiang, mina Nila Riwut.

Saya, Nila Riwut, seorang perempuan dayak, ibu, dan juga nenek. Saya menetap di Yogyakarta, Indonesia; mencoba memberi makna dalam hidup dengan memperkenalkan kebudayaan Dayak, Kalimantan, Indonesia. Minat saya pada kebudayaan Dayak dimulai ketika masih remaja, saya diajarkan oleh almarhum ayah dan langsung jatuh cinta lalu memutuskan untuk lebih mendalaminya. Semua yang saya lakukan, dilakukan dengan hati dan rasa terimakasih sebagai dedikasi kepada mendiang kedua orangtua saya. Pengertian mengenai kebudayaan nenek moyang saya benar-benar diperkaya oleh catatan dan dokumentasi pribadi almarhum ayah saya, Tjilik Riwut. Dengan tujuan agar dokumendokumen tersebut dapat menjadi bahan akademis dan dapat memberikan kontribusi kepada ilmu pengetahuan, dalam prosesnya saya didampingi oleh Dr. G. Budi Subanar, dosen pascasarjana pada Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Dengan bimbingannya, beberapa buku telah diterbitkan. Sebagaimana adanya untuk situs ini, ditulis berdasarkan pengetahuan saya mengenai kebudayaan Dayak yang antara lain berasal dari catatan dan dokumentasi Tjilik Riwut. Sejarah dan kebudayaan sebuah bangsa adalah salah satu aset dunia yang tak ternilai harganya. Agar hal semacam itu tidak lantas punah, mari kita memberikan kontribusi padanya. Meskipun itu hanya sebagian kecil dan tak berarti, saya benar-benar berharap agar upaya ini tidak sia-sia. (diterjemahkan literal dari kalimat pembuka pada www.nila-riwut.com) Situs ini diluncurkan pada tanggal 17 November 2009. Tanggal tersebut dipilih karena merupakan nomor favorit dan keramat bagi Tjilik Riwut. Situs ini antara lain berisi mengenai kebudayaan, sejarah, obat tradisional, kuliner, dan lain sebagainya tentang Dayak. Juga akan dilengkapi dengan kamus bahasa Dayak Ngaju. Silahkan mengunjungi situs ini dengan mengakses alamat: www.nila-riwut.com

Diharapkan dengan memakai bahasa Inggris sebagai bahasa internasional, situs ini dapat memperkenalkan kebudayaan Dayak tidak hanya terbatas pada warga Indonesia, tetapi ke seluruh penjuru dunia.

www.kualalumpurcentral.com/Kuala%20Lumpur%20National%20Museum%20Dayak%20Head%20Hunter%20from%20Sarawak.jpg

Kata Dayak menurut R. Sunardi dan O. K. Rahmat, keduanya menyatakan bahwa Dayak adalah sebuah kata untuk menyatakan suatu kelompok yang tidak menganut agama Islam dan hidup menetap di pedalaman Kalimantan. Istilah ini juga yang diberikan oleh bangsa Melayu yang hidup di daerah pesisir Kalimantan yang berarti gunung. Bangsa Melayu pada waktu itu adalah sekelompok masyarakat yang tidak lain dan tidak bukan adalah masyarakat yang berasal dari daerah Melayu dan berbahasa Melayu pula. Tetapi akan lain pengertiannya jika yang disebut orang Melayu adalah orang Dayak yang sudah memeluk agama Islam. Jika dilihat dari pandangan orang Dayak sendiri, yang disebut sebagai orang Melayu adalah sekelompok orang yang berasal dari daerah Melayu dan para pendatang lain yang berdatangan ke Kalimantan, kecuali kelompok Tionghoa, yang mendiami Kalimantan. Orang-orang Melayu mengatakan bahwa Dayak itu berarti orang gunung. Tidak ada kamus atau para ahli yang menyatakan bahwa kata Dayak itu berarti orang gunung, hal itu disebabkan karena sebagian besar dari orang Dayak menetap di daerah hulu sungai dan topografi tanahnya bergunung-gunung tetapi tidak berarti orang Dayak adalah orang gunung. Di samping nama Dayak ada juga istilah Dyak. Istilah Dyak ini diberikan oleh orang Inggris dulu kepada suku-suku Dayak di Kalimantan Utara (Malaysia).

bolaeropa.kompas.com/photos/MATA%20AIR/5balian.jpg

Suku Dayak yang Menetap di pulau Kalimantan itu tersebar di seluruh bagian Kalimantan dan hidup tersebar-sebar, di daerah hulu sungai, di daerah yang tofografinya gunung-gunung, lembah-lembah, dan di kaki bukit. Untuk menyebut jati diri mereka, orang Dayak biasanya memakai nama aliran sungai besar yang daerah pesisirnya mereka diami. Misalnya orang Dayak yang mendiami daerah pesisir sungai Kahayan, mereka menyebut jati diri mereka sebagai uluh Kahayan (orang Kahayan). Ada uluh Katingan, uluh Barito, dan lain sebagainya. Di antara orang-orang Dayak itu sendiri, ada sekelompok orang yang berkeberatan memakai kata Dayak sehingga muncullah istilah yang lain, yairu Daya. Istilah Daya ini sangat populer di daerah Kalimantan Timur dan Kalimantan Barat. Kata Dayak dan Daya sebenarnya merujuk pada satu suku saja, yaitu suku Dayak. Dan dalam bahasa Dayak Ngaju kedua kata itu merupakan sebuah kata sifat yang menunjuk pada suatu kekuatan. Dalam bahasa Sangen kata Dayak dan Daya itu berarti bakena (gagah).PEPATAH-PETITIH DAN UNGKAPAN-UNGKAPAN BAHASA DAYAK NGAJU KALIMANTAN