5
Penatalaksanaan Eritroderma Pada Eritroderma golongan I obat yang tersangka sebagai kausanya segera dihentikan. Pada umumnya pengobatan ertroderma dengan kortikosteroid. Pada golongan I, yang disebabkan oleh alergi obat secara sistemik, dosis prednisone 4x10 mg. Penyembuhan terjadi cepat, umumnya dalam beberapa hari – beberapa minggu. Pada golongan II akibat perluasan penyakit kulit juga diberikan kortikosteroid. Dosis mula prednisone 4x 10mg – 4 x 15mg per hari. Jika setelah beberapa hari tidak tampak perbaikan dosis dapat dinaikkan.Setelah tampak perbaikan, dosis diturunkan perlahan-lahan. Jika eritroderma terjadi akibat pengobatan dengan ter pada psoriasis, maka obat tersebut harus dihentikan. Eritroderma karena psoriasis dapat pula diobati dengan etretinat. Lama penyembuhan golongan II ini bervariasi beberapa minggu hingga beberapa bulan, jadi tidak secepat seperti gologan I. Pada pengobatan dengan kortikosteroid jangka lama (long term), yakni jika melebihi 1 bulan lebih baik digunakan metilprednisolon dari pada prednisone dengan dosis ekuivalen karena efeknya lebih sedikit. Pengobatan penyakit Leiner dengan kortikosteroid memberi hasil yang baik.Dosis prednisone 3 x 1-2mg sehari. Pada sindrom Sezary pengobatannya terdiri atas kortikosteroid (prednisone 30mg sehari) atau metilprednisolon ekuivalen dengan sitistatik, biasanya digunakan klorambusil dengan dosis 2-6 mg sehari. Pada eritroderma kronis diberikan pula diet tinggi protein, karena terlepasnya skuama mengakibatkan kehilangan protein. Kelainan kulit perlu pula diolesi emolien untuk mengurangi radiasi akibat vasodilatasi oleh eritem, misalnya dengan salap lanolin 10% atau krim urea 10%.

Penatalaksanaan Eritroderma

Embed Size (px)

DESCRIPTION

dermatology

Citation preview

Penatalaksanaan Eritroderma

Pada Eritroderma golongan I obat yang tersangka sebagai kausanya segera dihentikan.

Pada umumnya pengobatan ertroderma dengan kortikosteroid. Pada golongan I, yang disebabkan oleh alergi obat secara sistemik, dosis prednisone 4x10 mg. Penyembuhan terjadi cepat, umumnya dalam beberapa hari beberapa minggu.

Pada golongan II akibat perluasan penyakit kulit juga diberikan kortikosteroid. Dosis mula prednisone 4x 10mg 4 x 15mg per hari. Jika setelah beberapa hari tidak tampak perbaikan dosis dapat dinaikkan.Setelah tampak perbaikan, dosis diturunkan perlahan-lahan. Jika eritroderma terjadi akibat pengobatan dengan ter pada psoriasis, maka obat tersebut harus dihentikan. Eritroderma karena psoriasis dapat pula diobati dengan etretinat. Lama penyembuhan golongan II ini bervariasi beberapa minggu hingga beberapa bulan, jadi tidak secepat seperti gologan I.

Pada pengobatan dengan kortikosteroid jangka lama (long term), yakni jika melebihi 1 bulan lebih baik digunakan metilprednisolon dari pada prednisone dengan dosis ekuivalen karena efeknya lebih sedikit.

Pengobatan penyakit Leiner dengan kortikosteroid memberi hasil yang baik.Dosis prednisone 3 x 1-2mg sehari. Pada sindrom Sezary pengobatannya terdiri atas kortikosteroid (prednisone 30mg sehari) atau metilprednisolon ekuivalen dengan sitistatik, biasanya digunakan klorambusil dengan dosis 2-6 mg sehari.

Pada eritroderma kronis diberikan pula diet tinggi protein, karena terlepasnya skuama mengakibatkan kehilangan protein. Kelainan kulit perlu pula diolesi emolien untuk mengurangi radiasi akibat vasodilatasi oleh eritem, misalnya dengan salap lanolin 10% atau krim urea 10%.

(Djuanda, adhi.dr. 2011. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin hal:199-200. Jakarta: FK-UI)

Pengobatan

Penyakit eritroderma memerlukan perawatan medis yang serius, oleh karena itu pasien dengan eritroderma perlu dirawat di rumah sakit.Prinsip pengobatan pasien eritroderma antara lain manajemen awal,menghindari faktor pencetus, mencegah hipotermia, diet cukup protein, menjagakelembaban kulit pasien, menghindari menggaruk, mencegah infeksi sekunder baik lokal maupun sistemik, mengurangi edema, penggunaan kortikosteroid sistemik,methotrexate, cyclosporin, dan mycophenolat mofetil.2Manajemen awal

Pada fase ini perlu dilakukan pengawasan dan pengontrolan asupan cairan danelektrolit karena dapat menyebabkan pasien menjadi dehidrasi ataupun menyebabkan pasien menjadi gagal jantung akibat overload.2Menghindari faktor pencetus

Semua obat yang dianggap sebagai faktor pemicu eritroderma harus dihentikan pemakaiannya, termasuk obat-obat yang mengandung lithium dan obat antimalariayang dapat menjadi pencetus pada pasien dengan psoriasis.2Mencegah hipotermiaPada pasien erittroderma dapat timbul komplikasi berupa hipotermia yangdisebabkan gangguan pada fungsi termoregulasi di kulit sehingga kulit akanmelepaskan panas tubuh secara spontan. Untuk mencegah komplikasi tersebut perludilakukan pengaturan suhu lingkungan sekitar pasien agar tetap hangat. Selain itu untuk mencegah penguapan panas tubuh yang berlebihan dapat dimanfaatkan wet dressings.2Diet cukup protein

Pada pasien eritroderma terjadi penggunaan protein yang berlebihan karenaterjadi peningkatan pembentukan skuama. Kehilangan banyak protein ini akanmenyebabkan terjadinya hipoalbuminemia. Karena itu asupan gizi yang cukup proteinsangat berguna dalam proses terapi pasien eritroderma.2Menjaga kelembaban kulit

Pada pasien eritroderma kulit akan cenderung kering dan bersisik. Kulit yangkering dan menjadi retak-retak berisiko untuk terjadi infeksi sekunder yang bersifatlokal. Untuk itu diperlukan bahan yang dapat menjaga kelembaban kulit.2

Emollient merupakan bahan yang melembutkan dan melembabkan kulit.Emollient merupakan bahan dasar untuk kosmetik dan berfungsi untuk membatasihilangnya cairan. Ada lima kategori emollient antara lain hidrokarbon, waxes, naturallipid poliester, ester, dan eter dengan berat molekul rendah dan silikon.2Menghindari menggaruk

Penggunaan antihistamin dapat diberikan pada pasien eritroderma sebagaiterapi simtomatis terhadap rasa gatal. Sensasi gatal yang timbul pada permukaan kulitmerupakan bagian dari alergi imunologi yang disebabkan oleh histamin yakni padareseptor H1. Sehingga antihistamin H1 akan menekan reseptor H1 akibatnya rasa gatalakan berkurang.2Mencegah infeksi sekunder

Antibiotik sistemik diperlukan bagi pasien yang terbukti mendapat infeksisekunder baik yang bersifat lokal maupun sistemik. Pemberian antibiotik sistemik pada pasien yang tidak terbukti mengalami infeksi sekunder juga memberikan keuntungankarena kolonisasi bakteri dapat menyebabkan eksaserbasi eritroderma.2Mengurangi edema

Pada pasien eritroderma akan terjadi peningkatan pembentukan skuama.Pembentukan skuama ini memerlukan protein sebagai bahan dasar. Akibatnya proteindi dalam tubuh menurun, terjadi hipoalbuminemia. Albumin yang rendah di dalamdarah menyebabkan tekanan onkotik menurun sehingga cairan intrasel akan mengisi jaringan interstitiel (terjadi edema). Untuk mengurangi edema dapat diberikan obat-obat diuretika.2Kortikosteroid sistemik

Kortikosteroid sistemik harus dihindari pada pasien eritroderma yangdicetuskan oleh psoriasis karena dapat menyebabkan reborn flare1. Eritroderma yangdisebabkan oleh psoriasis berespon baik metotrexat, cyclosporin, acitretin, danmycophenolat mofetil.2Kortikosteroid sistemik berguna untuk eritroderma yang dimediasi oleh reaksihipersensitivitas obat, spongiotic dermatitis dan papuloerythroderma of Ofuji.Selain itu kortikosteroid sistemik dapat digunakan sebagai terapi empiris padaeritroderma yang tidak diketahui etiologinya. Dosis kortikosteroid yang digunakanadalah 1-2mg/kg/hari dengan taper.2Methotrexate

Methotrexate adalah golongan antimetabolik yang awalnya ditujukan untuk pengobatan keganasan hematologi dan beberapa tumor epitel. Kemudian obat inidigunakan untuk mengobati penyakit yang tidak tergolong penyakit keganasan sepertirheumatoid arthritis, asma, penyakit graft versus host , psoriasis, cutaneus celllymphoma dan sarcoidosis.2CyclosporinCyclosporin adalah golongan obat imunosupresif. Selain digunakan sebagaiobat transplantasi, cyclosporin juga digunakan pada psoriasis, dermatitis atopik berat,kadang digunakan pada rheumatoid arthtritis.2Mycophenolat mofetil

Mycophenolat mofetil (MMF) termasuk dalam golongan obat imunosupresif yang merupakan etil ester asam mycofenolic yang dimetabolisme menjadi obat aktif mycofenolic acid (MPA).1Metabolit aktif MPA telah digunakan sejak dulu untuk mengobati psoriasis rekalsitrans yang berat. MMF efektif dan aman untuk pengobatan beberapa kelainan kulit autoimun dan inflamasi termasuk pemfigus, pemfigoid, lupuseritematosus, dermatomiositis, pioderma gangrenosa, lichen planus, penyakit graft versus host , dermatitis actinic kronik dan cutaneus vaskulitis.21.William D James, Timothy G Berger, Dirk M Elston. Exfoliative Dermatitis.Andrews Disease of The Skin Clinical Dermatology. 10Th ed . Canada: WBSaunders Company.2006:215-2162.Grant-Kels JM, Bernstein ML, Rothe MJ. Exfoliative dermatitis. In: Wolff K,Goldsmith LA, Katz SI, Gilchrest BA, Paller AS, Leffel DJ, eds. Fitzpatricks Dermatology in General Medicine, 7 Th ed. Chicago: McGraw-Hill Company,2008: 225-32.