Pencemaran Udara Ambien

  • View
    83

  • Download
    0

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Strategi Pengendalian dan Sistem Monitoring Terpadu Pencemaran Udara di Perkotaan

Text of Pencemaran Udara Ambien

6

Strategi Pengendalian dan Sistem Monitoring TerpaduPencemaran Udara di Perkotaan

*) Arpan Tombili

Strategi pemantauan dan pengendalian pencemaran udara di perkotaan sangat ditentukan oleh karakteristik sumber dan pencemar di udara (lihat Bab. 2 dan 3), kondisi kualitas udara perkotaan, dan regulasi dan program terkait pencemaran udara perkotaan (lihat Bab. 7). Dalam Bab ini akan dibahas mengenai gambaran kualitas udara perkotaan, sistem pemantauan kualitas udara perkotaan, dan strategi pengendalian pencemaran udara perkotaan. Pencemaran udara udara di suatu wilayah erat kaitannya dengan aktifitas manusia di wilayah tersebut maupun wilayah sekitarnya. Manusia melakukan berbagai kegiatan untuk memenuhi berbagai kebutuhan hidupnya, baik itu kebutuhan primer, sekunder hingga tersier. Sebagai contoh, untuk memenuhi kebutuhan akan makanan, mereka mengembangkan pertanian, membuat pabrik pengolah hasil pertanian, memasarkan hasil pertanian, dan lain-lain. Setiap aktivitas manusia pada dasarnya adalah sebuah proses pengubahan zat atau energi dari satu bentuk ke bentuk lainnya. Setiap proses tersebut tidak dapat sepenuhnya mampu diubah, melainkan selalu ada sisa yang kemudian menjadi sampah atau limbah yang masuk atau dimasukkan ke lingkungan sehingga dapat menurunkan kualitas tatanan lingkungan. T. J. McLoughin mendefinisikan pencemaran lingkungan adalah suatu pemaparan bahan buangan atau energi yang berlebihan ke lingkungan oleh manusia, baik langsung maupun tidak langsung, mengakibatkan kerugian bagi manusia dan lingkungannya sendiri, rumah tangganya, semua yang bekerja dengannya, dan terhadap siapa ia menjalin hubungan langsungnya (Suyono, 2013 : 5). Udara Ambien adalah udara bebas di permukaan bumi pada lapisan troposfer yang berada di dalam wilayah yuridiksi Republik Indonesia yang dibutuhkan dan mempengaruhinya kesehatan manusia, makhluk hidup dan unsur lingkungan hidup lainnya (PP No. 41 Tahun 1999). Udara terdiri atas beberapa unsur dengan susunan atau komposisi tertentu. Unsur-unsur tersebut diantaranya adalah nitrogen (N), oksigen, hidrogen, karbon dioksida, dan lain-lain. Jika ke dalam udara tersebut masuk atau dimasukkan zat asing yang berbeda dengan penyusun udara baik jenis maupun komposisinya, maka dikatakan bahwa udara tersebut telah tercemar. Pencemaran udara adalah masuk atau dimasukkannya bahan-bahan atau zat-zat asing ke udara yang menyebabkan perubahan susunan (komposisi) udara dari keadaan normalnya. Zat-zat asing tersebut mengubah komposisi udara dari keadaan normalnya dan jika berlangsung lama akan mengganggu kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya yang membutuhkan dan menggunakan udara dalam aktifitas kehidupannya. Terdapat banyak bahan-bahan atau zat-zat yang mencemari udara, namun yang paling banyak berpengaruh dalam pencemaran udara adalah karbon monoksida, nitrogen oksida, sulfur oksida, hidro karbon, partikel dan lain-lain, yang secara bersamaan maupun sendiri-sendiri memiliki potensi bahaya bagi lingkungan dan kesehatan masyarakat. Bahan-bahan atau zat-zat asing tersebut bersumber dari aktifitas alamiah maupun dari aktifitas manusia itu sendiri, seperti letusan gunung berapi, pembakaran bahan bakar fosil, aktifitas transportasi dan industri, dan lain-lain.Pencemaran udara khususnya di perkotaan saat ini semakin memprihatinkan, seiring dengan bencana alam yang semakin sering terjadi serta meningkatnya aktifitas manusia dari sektor transportasi, industri, perkantoran, dan perumahan yang memberikan kontribusi cukup besar terhadap pencemaran udara. Udara yang tercemar dapat menyebabkan gangguan kesehatan, terutama gangguan pada organ paru-paru, pembuluh darah, dan iritasi mata dan kulit. Hampir tidak ada kota di dunia ini yang dapat menghindar dari pencemaran udara. Bahkan kota-kota yang dulu terkenal dengan udaranya yang bersih misalnya Buenos Aires, Denver, dan Madrid saat ini telah mengalami pencemaran. Mengingat besarnya dampak pencemaran udara ini terhadap lingkungan dan kesehatan manusia, maka masalah penanggulangan terjadinya pencemaran udara harus menjadi perhatian yang serius, khususnya untuk kota-kota besar yang menjadi pusat kegiatan transportasi, industri dan perdagangan.

6.1 Kualitas Udara PerkotaanPopulasi penduduk di perkotaan dari hari ke hari semakin bertambah, selain karena faktor kelahiran dan kematian, peningkatan ini juga disebabkan adanya migrasi penduduk karena perkotaan merupakan pusat dari segala aktifitas sosial, budaya, perindustrian, perdagangan, dan lain-lain. Tingginya aktifitas di perkotaan menyebabkan wilayah perkotaan rentan bagi kerusakan lingkungan akibat pencemaran yang bersumber dari aktifitas manusia. Aktivitas transportasi khususnya kendaraan bermotor merupakan sumber utama pencemaran udara di daerah perkotaan, disamping sektor industri dan pemukiman. Konsekuensi dari pertambahan penduduk sudah tentu akan berpengaruh pemenuhan kebutuhan hidup seperti pangan, sandang dan papan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan lembaga internasional lainnya telah lama mengidentifikasi pencemaran udara perkotaan sebagai masalah kesehatan lingkungan dan kesehatan masyarakat yang penting. Banyak negara berkembang di dunia misalnya China, Indonesia, dan Meksiko, menempatkan pencemaran udara ke dalam daftar isu prioritas yang harus ditangani.Dampak dari pencemaran udara tidak hanya dalam hal penyakit dan kematian, tetapi juga dalam hal produktivitas yang hilang dan kehilangan kesempatan dalam pembangunan sumber daya manusia. Pencemaran udara dapat mempercepat kerusakan bangunan dan infrastruktur lainnya. Selain berdampak lokal, pencemaran udara perkotaan juga memiliki dampak regional dan global. Emisi perkotaan merupakan kontributor utama terhadap masalah penipisan lapisan ozon, pemanasan global dan perubahan iklim (melalui emisi gas rumah kaca). Data WHO(2014) tentang tingkat pencemaran kota-kota besar di dunia dengan menggunakan data PM10, kawasan Asia Tenggara merupakan penyumbang buruknya udara perkotaan di dunia. Buruknya udara perkotaan sudah barang tentu akan berakibat pada menurunnya kualitas hidup bagi penduduk. WHO memperkirakan bahwa sekitar 80% kematian penyakit jantung iskemik dan stroke, 14% kematian penyakit paru obstruktif kronik atau infeksi saluran pernapasan bawah akut, dan 6% dari kematian kanker paru-paru terkait dengan pencemaran udara ambien.Paparan Partikulat (PM10) Tahun 2008-2013

Sumber : WHO, 2014

Kematian Akibat Pencemaran Udara Ambien Tahun 2012Berdasarkan Jenis penyakit

Sumber : WHO, 2014*)ALRI: infeksi saluran pernapasan bawah akut; PPOK: Penyakit paru obstruktif kronis; IHD: penyakit jantung iskemik.Kondisi kualitas udara ambien di area perkotaan di berbagai negara berbeda untuk tiap kota, tergantung pada aktifitas yang dominan di wilayah perkotaan tersebut yang menjadi sumber pencemaran. Sulfur oksida (SO2) dan partikulat (PM) yang bersumber dari pemanasan ruangan dan incenerator menjadi masalah di New York, AS (Harris, D. N., Huffman, J. R., Weiland, J. H., 2012), NO2 yang umumnya bersumber dari kendaraan bermotor menjadi masalah di Montreal, Quebec, Kanada (Levy, I., et.al., 2014), sedangkan di kota Ulsan, Korea, sulfur oksida (SO2) dan partikulat (PM10) yang bersumber aktifitas masih menjadi masalah (Lee, H. D., et.al., 2014). Rilis terbaru terkait peringkat pencemaran udara ambien perkotaan dengan menggunakan parameter PM10 g/m3 masih didominasi oleh kota-kota di negara asia dan afrika. Kondisi pencemaran udara perkotaan ini berbanding lurus dengan posisi negara asia dan afrika sebagai negara padat penduduk yang sedang membangun.6.1.1 Kualitas Udara Perkotaan di Kawasan AsiaKota-kota di Asia mengalami pertumbuhan kota yang pesat, sementara pertumbuhan penduduk perkotaan diperkirakan akan terus berlanjut dengan meningkatnya konsentrasi penduduk di daerah perkotaan seiring dengan tingginya laju urbanisasi. Di Asia, tingkat urbanisasi diperkirakan akan meningkat dari 45% pada 2011 menjadi 64,4% pada tahun 2050, dimana sekitar 1,4 miliar orang akan tinggal di wilayah perkotaan. Kota-kota di Asia semakin giat mendorong pertumbuhan ekonominya. Tingkat pertumbuhan ekonomi di sebagian besar negara-negara Asia selama dua dekade terakhir rata-rata jauh lebih tinggi daripada rata-rata dunia. Pertumbuhan ekonomi tersebut diantaranya dialami oleh China dan India serta beberapa negara atau di Asia Tenggara, Asia Timur dan Asia Selatan. Tren pertumbuhan ekonomi dan peningkatan laju urbanisasi ini memiliki tantangan dan peluang. Masalah lingkungan seperti pengelolaan sumber daya alam, pembuangan limbah dan pencemaran udara harus ditangani dengan tepat. Trend Laju Urbanisasi menurut Wilayah Regional

Sumber : OECD, 2014

PDB Per Kapita Beberapa Negara di Dunia (1993-2012)

Sumber : World Bank, 2014 dalam OECD, 2014

Polutan di udara perkotaan dapat dibagi menjadi dua kelompok, yakni polutan udara umum/biasa (Major Air Pollutant / MAP) seperti NO2, SO2, CO, PM, O3 dan timah, dan polutan berbahaya (Hazardous Air Pollutant / HAP) seperti gas hidrokarbon (misalnya benzena, toluena dan xilena,) dan polutan organik beracun lainnya seperti Polycyclic Aromatic Hydrocarbons (PAH), dan Polychlorinated Biphenyl (PCB). Pembakaran bahan bakar merupakan sumber utama pencemaran udara kota-kota di Asia yang cenderung meningkat dengan ukuran populasi dan kegiatan ekonomi. Jenis bahan bakar umumnya batubara dan biomassa sebagai bahan bakar padat, bensin/solar dan minyak tanah sebagai bahan bakar cair, bahan bakar gas cair (LPG) dan gas alam. Pembakaran bahan bakar berkualitas rendah dalam perangkat pembakaran yang tidak efisien dengan pengendalian gas buang terbatas merupakan penyebab utama pencemaran udara di banyak kota di Asia. Penggunaan pada bahan bakar murah untuk memenuhi pesatnya pertumbuhan permintaan energi, mengakibatkan peningkatan yang signifikan dalam emisi pencemaran udara seperti sulfur oksida (SOx), partikulat (PM) dan nitrogen oksida (NOx). Sumber utama pence