Sistem Informasi Geografis Untuk Pemetaan Daerah Rawan Gempa Tektonik Dan Jalur Evakuasi Di Yogyakarta

  • View
    99

  • Download
    13

Embed Size (px)

DESCRIPTION

SIG

Text of Sistem Informasi Geografis Untuk Pemetaan Daerah Rawan Gempa Tektonik Dan Jalur Evakuasi Di...

  • Volume 14, No. 1, Juni 2012

    27Jurnal Penelitian IPTEK-KOM

    SISTEM INFORMASI GEOGRAFISUNTUK PEMETAAN DAERAH RAWAN GEMPA TEKTONIK

    DAN JALUR EVAKUASI DI YOGYAKARTAEdi IskandarSTMIK El RahmaJl. Sisingamangaraja 76 Yogyakartaemail : [email protected] HartatiDosen Program Magister Ilmu Komputer UGMGedung SIC Lt. 3 FMIPA UGM Sekip Utara Bulaksumur Yogyakarta 55281email : [email protected] diterima: 2 April 2012 dan disetujui: 4 Mei 2012AbstrakTragedi gempa bumi tanggal 27 Mei 2006 yang melanda DaerahIstimewa Yogyakarta dan sebagian Jawa Tengah masih menyisakanduka yang mendalam bagi masyarakat korban gempa. Ditinjausecara geologis, kepulauan Indonesia berada pada pertemuan duajalur gempa utama, yaitu jalur gempa sirkum pacifik dan jalurgempa Alpide Transasiatic, sehingga kepulauan Indonesia beradapada daerah yang mempunyai aktifitas gempa bumi cukup tinggi.Sistem Informasi Geografis yang dibangun mampu men-generatepeta yang tersimpan dalam database dan dapat menampilkan petadaerah rawan gempa secara visual dalam format XML SVG pada

    client, serta mampu mencarikan rute terpendek untuk evakuasikorban gempa dengan algoritma Dijkstra. Sistem InformasiGeografis Pemetaan Daerah Rawan Gempa terdiri dari layerKabupaten, layer Kecamatan, Layer Jalan, Layer Lokasi yang berupatitik lokasi serta rute asal dan rute akhir untuk mendapat ruteterpendek yang bisa membantu dalam pengambilan keputusanuntuk jalur evakuasi korban gempa.Kata kunci : system informasi geografis, gempa, pemetaan, ruteterpendek, algoritma Dijkstra

  • Volume 14, No. 1, Juni 2012

    28 Jurnal Penelitian IPTEK-KOM

    GEOGRAPHIC INFORMATION SYSTEM FOR MAPPINGOF TECTONIC EARTHQUAKE-PRONE AREASAND EVACUATION ROUTES IN YOGYAKARTA

    AbstractThe earthquake tragedy in 27th may 2006 that happened inYogyakarta and a part of central java still left behind the deep sorrowfor the society of earthquake victim. In term of geology, theIndonesian archipelago is on the meeting of two main earthquakestrips namelly Pacific circum earthquake strip and alpide transasiaticearthquake strip. So, Indonesian archipelago is on the area that hasthe activities for the high earthquake.The geographical information system that is built is able to generatethe map which is saved on the database and abel to show the map ofdisturbed earthquake area visually on the format of XML SVG onclient, and able to seek for the shortest route that can aid on takingthe decision for the evacuation stipe of earthquake victims.

    Keywords: Geographic information system, earthquake, thepartition, shortest route, Dikstra algorithm.

    PENDAHULUANLatar BelakangTragedi gempa bumi tanggal 27 Mei2006 yang melanda Daerah IstimewaYogyakarta dan sebagian Jawa Tengahmasih menyisakan duka yang mendalambagi masyarakat korban gempa.Kemudian disusul gempa bumi diBengkulu, di Tasikmalaya dan beberapagempa yang menimpa bumi pertiwi yangmenelan banyak korban jiwa dan harta.Secara geografis, kepulauanIndonesia berada di antara 60 LU dan 110LS serta diantara 950 BT dan 1410 BT danterletak pada perbenturan tiga lempeng

    kerak bumi yaitu lempeng Eurasia,lempeng pasifik dan lempeng IndiaAustralia. Ditinjau secara geologis,kepulauan Indonesia berada padapertemuan dua jalur gempa utama, yaitujalur gempa sirkum pacifik dan jalurgempa Alpide Transasiatic, karena itu,kepulauan Indonesia berada pada daerahyang mempunyai aktifitas gempa bumicukup tinggi.Sistem Informasi Geografis (SIG)sebagai salah satu alat yang bermanfaatuntuk menangani data spasial danmenyimpan format digital. SistemInformasi Geografis (SIG) juga dapat

  • Volume 14, No. 1, Juni 2012

    29Jurnal Penelitian IPTEK-KOM

    digunakan sebagai alat bantu utama yanginteraktif, menarik, dan menantang didalam usaha-usaha untuk meningkatkanpemahaman, pengertian, pembelajaranmengenai konsep lokasi, ruang (spasial),kependudukan dan unsur-unsur geografisyang terdapat di permukaan bumi berikutdata-data atribut terkait yangmenyertainya.SIG pemetaan daerah rawan gempadi Daerah Istimewa Yogyakarta serta jalurevakuasi korban gempa dengan ruteterpendek perlu dibangung karenadengan alasan : 1) SIG dapat memberikaninformasi kepada masyarakat luastentang daerah rawan gempa yang dibagidalam tiga zona yaitu zona merah, zonakuning dan zona hijau ; 2) SIG dapatmembantu mencarikan rute terpendekyang bisa dilewati untuk evakuasi korbangempa. Alasan inilah yang melatarbelakangi peneliti untuk membuatSistem Informasi Geografis pemetaandaerah rawan gempa tektonik di DaerahIstimewa Yogyakarta serta jalur evakuasikorban gempa dengan rute terpendek.Rumusan MasalahBagaimana Sistem Informasi GeografisPemetaan Daerah Rawan Gempa Tektonikdan Jalur Evakuasi Di Yogyakarta?LANDASAN TEORIAda banyak penelitian yangmembahas tentang Sistem InformasiGeografis dalam penentuan lokasi, namunpembahasan secara khusus tentangSistem Informasi Geografis untukpemetaan daerah rawan gempa tektonik

    di Daerah Istimewa Yogyakarta serta jalurevakuasi korban gempa dengan ruteterpendek belum pernah dilakukan.Mukhlis (2006) melakukanpenelitian tentang Sistem InformasiGeografis sebagai alat bantu untukmenentukan lokasi pemberian danabantuan SD di Banjarbaru KalimantanSelatan. Haryanto (2008) melakukanpenelitian tentang Implementasi WAPpada Telepon Seluler untuk PencarianRute Jalan Terpendek menggunakanAlgoritma Dijkstra (Studi kasus: KotaSurakarta). Sunjaya (2008) melakukanpenelitian tentang Sistem InformasiGeografis Wisata Kuliner di DaerahIstimewa Yogyakarta. Penelitian inimembuat perancangan Sistem InformasiGeografis untuk pencarian lokasi wisatakuliner di Daerah Istimewa Yogyakartaberdasarkan data spasial dan non-spasialyang dimiliki oleh wisata kuliner danmenampilkannya secara visual pada peta.

    Yuhanto (2008) melakukan penelitianuntuk mengetahui bagaimana BalaiMonitoring (Balmon) spectrum dan orbitsatelit mengetahui tentang lokasi, daerahcakupan atau coverage area radio FM.Ismanto (2008) melakukan penelitiantentang Sistem Informasi Geografis untukpenentuan arahan fungsi pemanfaatanlahan di Kabupaten Merauke ProvinsiPapua. Dwidasmara (2009) melakukanpenelitian dengan judul Sistem InformasiGeografis berbasis SVG untuk perjalananWisata dengan Dukungan TeknologiMobile dan Pencarian Rute Terpendekdengan Algoritma Dijkstra. Penelitian inimembuat Sistem Informasi Geografis

  • Volume 14, No. 1, Juni 2012

    30 Jurnal Penelitian IPTEK-KOMGambar 3.1 ER-D Data non Spasial

    dengan memetakan daerah wisata di Balidan mampu mencarikan rute terpendekyang bisa dilewati wisatawan yang bisadiakses lewat web danmobile.METODEPENELITIANMetode penelitian merupakan halyang penting dan sangat mendukungsuatu penelitian, jenis penelitian yangdilakukan adalah merekayasa sisteminformasi geografis diawali dari pengum-pulan data yaitu mengumpulkan datadaerah rawan gempa tektonik khususnyadi Daerah Istimewa Yogyakarta yangdibagi dalam tiga zona (zona merah, zonakuning dan zona hijau), data jalurevakuasi bagi korban gempa kemudianmelakukan digitasi peta ke dalam layerlayer yang dibutuhkan untuk pemetaandaerah rawan gempa dan jalur evakuasibagi korban gempa.Tahap selanjutnya membuat

    perancangan sistem, meliputi rancangandata spasial dan non spasial, rancangandatabase dan sistem alur data, rancanganuser interface dan rancangan pencarianrute terpendek, tahapan berikutnyamelakukan penulisan program dimanahasil rancangan dituangkan ke dalaminstruksi instruksi yang dikenali olehkomputer melalui bahasa pemrogramandan terakhir adalah tahap pengujian.PERANCANGAN SISTEMPerancangan Data non Spasial

    Entity Relationship Diagram (ER-D)merepresentasikan secara grafishubungan antar entitas dapat dilihat padaGambar 3.1.Gambar 3.1 dapat dijelaskan bahwasetiap Kabupaten (yang terdiri dariId_Kab, Label merupakan nama dariKabupaten, the_geom dan keterangan)memiliki banyak Kecamatan, dimana

  • Volume 14, No. 1, Juni 2012

    31Jurnal Penelitian IPTEK-KOMGambar 3.2 Diagram Konteks

    setiap Kecamatan (yang terdiri dariId_Kec, label merupakan nama dari Keca-matan, the_geom, keterangan) memilikizona gempa (zona merah, zona kuningatau zona hijau) dan setiap Kecamatanterdapat satu lokasi (tipe_lokasi dankecamatan) dan setiap lokasi terdapatJalan (Id_Jalan, Label merupakan namaJalan, the_geom dan status buka/tutupjalan) dan setiap Lokasi (Id_Lokasi, Labelmerupakan nama lokasi, the_geom danketerangan) memiliki satu Tipe_lokasi.Perancangan Data SpasialSIG Peta Gempa dan Jalur Evakuasiini dirancang agar dapat digunakan olehpengguna sebagai sarana untukmengetahui informasi tentang wilayahdaerah rawan gempa tektonik serta dapatmenentukan jalur terpendek sebagai jalurevakuasi korban gempa, Informasi spasialyang dibuat terdiri dari beberapa layer,yaitu : 1).Layer Kabupaten, layer ini

    berisikan peta wilayah kabupaten yangada di Daerah Istimewa Yogyakarta.2).Layer Kecamatan, layer kecamatan berisipeta wilayah Kecamatan yang ada disetiap Kabupaten beserta zona gempa(zona merah, zona kuning atau zonahijau) di setiap kecamatan. 3). Layer Jalan,layer ini memuat jalan berikut nama jalanyang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta.4). Layer Lokasi, layer lokasi berisi titiklokasi yang ada di wilayah DaerahIstimewa Yogyakarta. 5). Layer Rute, layerini berisi rute yang bisa dilewati untukjalur evakuasi, yang di dukung algoritmaDijkstra untuk menentukan ruteterpendek.Diagram KonteksAdministrator melakukan transaksidata kabupaten, data kecamatan, datajalan, data status jalan untuk menentukanstatus buka / tutup jalan, data lokasi, datatipe lokasi dan data zona gempa.

  • Volume 14, No. 1, Juni 2012

    32 Jurnal Penelitian IPTEK-KOMGambar 3.3 Relasi Antar Tabel

    Administrator juga menerima laporankabupaten, kecamatan, jalan besertastatusnya, lokasi serta tipe lokasi danzona gempa.User adalah pengguna yang mem-butuhkan informasi kabupaten, kecamat-an, jalan, lokasi serta rute asal dan rutetujuan dengan mencentang combo boxpada layar, maka akan mendapatkanaliran data yang dibutuhkan. (Gambar3.2)Relasi Antar TabelRelasi antar tabel menunjukkantabeltabel yang saling berelasi, tabelkecamatan berelasi dengan tabelkabupaten yang berfungsi untukmenentukan suatu kecamatan beradapada wilayah kabupaten tertentu, tabelkecamatan juga berelasi dengan tabelzona_gempa untuk menentukan suatusetiap kecamatan memiliki zona gempa(zona merah, zona kuning atau zonahijau).

    Tabel lokasi berelasi dengan tabelKecamatan, berfungsi untuk menentukansuatu lokasi berada pada suatu keca-matan tertentu, tabel lokasi juga berelasidengan tipe_lokasi dengan fungsi untukmenentukan suatu lokasi memiliki suatutipe lokasi, dan tabel lokasi berelasidengan tabel jalan dengan fungsi lokasitersebut terhubung dengan suatu jalantertentu. (Gambar 3.3)HASIL DAN PEMBAHASANAnalisa SistemSistem Informasi Geografis DaerahRawan Gempa Tektonik dan JalurEvakuasi ini secara umum dapat berjalandengan baik, MapServer mempunyaikemampuan mengolah data spasial dannon-spasial pada database postgreSQLmenjadi sebuah informasi peta rawangempa dengan format XML SVG yangdapat dibaca oleh MapClient, menganalisadata spasial jalan dengan algoritmaDijkstra yang dapat mengkalkulasi jalur

  • Volume 14, No. 1, Juni 2012

    33Jurnal Penelitian IPTEK-KOMGambar 4.1 Peta Daerah Rawan Gempa

    yang akan dilewati sehingga didapat jaluryang terpendek yang dapat digunakansebagai dasar pengambilan keputusansebagai jalur evakuasi korban gempa.MapClient mempunyai menampil-kan peta gempa dengan memilih layer layer yang ada seperti layer kabupaten,layer kecamatan, layer jalan, layer lokasi,selain itu juga mampu menampilkan jalurevakuasi korban gempa denganmenentukan titik awal dan titik akhir.

    Analisa Daerah Rawan GempaMenu Opsi Peta Rawan Gempa danJalur Evakuasi yang menyajikan pilihandalam bentuk chek box (Gambar 4.1)dapat dipilih salah satu layer atau semualayer kemudian tekan tombol tampilkanpeta akan terjadi proses request data petake server, server akan menerima requestdan mengolahnya menjadi sebuahtampilan peta dalam format XML SVG

    sesuai layer layer yang diminta olehclient, selain itu juga server melakukankalkulasi rute dari data spasial jalan yangada pada database menggunakanalgoritma Dijkstra serta menggabungkandengan layer layer yang lain sehinggamembentuk sebuah tampilan peta.

    Server akan mengirimkan kembaliresponse berupa XML SVG peta danditerima oleh objek XMLHttpRequestuntuk ditulis kembali ke dalam sebuahtarget element div html yang telahdisediakan sehingga akan muncultampilan pada halaman peta penyebarangempa.Daerah rawan gempa tektonik diYogyakarta dibagi dalam tiga zona yaitu :zona merah yang merupakan daerahberbahaya, zona kuning merupakandaerah rawan gempa dan yang terakhirzona hijau yang merupakan daerah relatifaman dari gempa (Gambar 4.1).

  • Volume 14, No. 1, Juni 2012

    34 Jurnal Penelitian IPTEK-KOM

    Gambar 4.2Menambahkan kriteria Zona Gempa

    Gambar 4.3 Update Status Zona Gempa

    Gempa bumi bisa terjadi sewaktu -waktu dan lokasinya sulit diprediksi,untuk mengatasi hal tersebut SistemInformasi Geografis daerah rawan gempadan jalur evakuasi menyediakan fasilitasupdate daerah rawan gempa baikpenambahan kriteria zona (Gambar 4.2)maupun update nama status zona(Gambar 4.3)Penambahan kriteria zona (zona

  • Volume 14, No. 1, Juni 2012

    35Jurnal Penelitian IPTEK-KOMGambar 4.4 Peta Hasil Update Zona Gempa

    merah, zona kuning dan zona hijau) bisadilakukan dari mapserver dengan memilihmenu kecamatan pilih add data makaakan tampil menu (Gambar 4.2), denganmengisi kolom yang ada lalu klik simpan.Update status zona gempa juga bisadilakukan misalnya pada kecamatanBambanglipuro dari zona merah berubahstatus ke zona hitam (pusat gempa) bisadilakukan dari mapserver pilih menukecamatan dan pilih update maka akantampil menu (Gambar 4.3) lalu kliktombol simpan.Penambah kriteria zona gempa(Gambar 4.2) dan update status zona(Gambar 4.3) jika dijalankan pada

    webClient akan menghasilkan perubahanzona gempa pada kecamatanBambanglipuro dari zona merah menjadizona hitam yaitu titik pusat gempa(Gambar 4.4).

    Analisa Pencarian Jalur EvakuasiSistem Informasi Geografis DaerahRawan Gempa Tektonik adalah pencarianjalur terpendek sebagai dasar pengambil-an keputusan untuk menentukan jalurevakuasi korban gempa (Gambar 4.5 danGambar 4.6) dengan menggunakanalgoritma Dijkstra.Evakuasi diilustrasikan darikecamatan Kretek (jalan Samas-Kretek)sebagai titik awal menuju kecamatanTemon (Jalan Temon-Purworejo) sebagaititik akhir. Algoritman Dijkstra akanmencarikan jalur terpendek yang bisadilewati sebagai jalur evakuasi antara titilawal dan titik akhir yang sudahditentukan, hasil pencarian dari algortimaDijksta ditampilkan pada Gambar 4.5 danGambar 4.6 dengan jarak tempuh 25,1km.

  • Volume 14, No. 1, Juni 2012

    36 Jurnal Penelitian IPTEK-KOM

    Gambar 4.5 Peta Jalur Evakuasi

    Gambar 4.6 Jalur EvakuasiAlgoritma membutuhkan graphyang berbobot sebagai acuan dalammenghitung jalur terpendek, dalam kasusSistem Informasi Geografis Daerah RawanGempa Tektonik dan Jalur Evakuasi dataspasial yang tersedia adalah layer jalan,karena layer jalan yang satu dengan layerjalan yang lainnya saling terhubung dan

  • Volume 14, No. 1, Juni 2012

    37Jurnal Penelitian IPTEK-KOM

    Tabel 1. Matrik KetetanggaanNode A B C D E F G H IA 0 2,93 6,2 B 2,93 0 2,02 C 6,20 0 3,29 D 3,29 0 2,13 E 2,13 0 4,50 18,08F 4,50 0 3.32 G 3.32 0 5,01 H 5,01 0 5,19I 18,08 5,19 0

    berpotongan satu sama lainnya, selain itusetiap layer jalan memiliki panjang ataujarak yang nantinya akan dijadikan bobotdari graph yang terbentuk.Analisis spasial yang dilakukan olehSistem Informasi Geografis Daerah RawanGempa Tektonik dan Jalur Evakuasiadalah melakukan pencarian titik potongantar jalan (intersection), titik potongtersebut dijadikan node yang memilikilabel dengan nama label yang sesuaidengan koordinat x,y dari masing masing node. Node node yang dihasilkanakan dihubungkan satu dengan yanglainnya sesuai dengan keadaan jalandengan penambahan bobot sesuaipanjang jalan, hubungan antar node

    disebut dengan link. Setelah semua dataterkumpul sistem akan membuat sebuahmatrik koneksi antar node yangmenggambarkan rangkaian graph(Gambar 4.5). Matrik yang dihasilkandapat dilihat pada Tabel 4.1.Matriks ketetanggaan pada Tabel4.1 merupakan graph yang digunakansebagai acuan dalam penentuan jalurevakuasi dengan algoritma Dijkstra sesuainode asal dan node akhir dari sebuah rute.Misalkan mengguna memasukan nodeawal adalah A menuju node I, maka yangdilakukan sistem adalah :1. Inisialisasi node awal dan node akhirdengan VS dan VD

  • Volume 14, No. 1, Juni 2012

    38 Jurnal Penelitian IPTEK-KOM

    Gambar 4.7 Node Awal sebagai T-Node

    Gambar 4.8 Pemilihan Jarak Terdekat dari Node A

    Gambar 4.9 Pemilihan jarak terdekat dari node B

    2. Set VS (A) menjadi T-Node, sepertiGambar 4.7.3. Mengubah status record A dari nodetetangga VS (A) yaitu B dengan jarak2,93 dan C dengan jarak 6,2, danmemilih jarak terdekat dari A yaitu Bdan diset menjadi T-Node (Gambar4.8).

  • Volume 14, No. 1, Juni 2012

    39Jurnal Penelitian IPTEK-KOM

    Gambar 4.10 Pemilihan Jalur Evakuasi selama T-Node Tidak Sama dengan NodeAkhir4. Mengubah status record (B) denganD (Gambar 4.9)5. Melakukan perulangan yang samaselama T-Node tidak sama dengan

    node akhir (VD) (Gambar 4.10).6. Mengkoleksi record set dari nodeawal sampai akhir yang nantinyasebagai rute atau jalur evakuasi.Kelebihan dan Kekurangan SistemSistem Informasi Geografis DaerahRawan Gempa Tektonik dan JalurEvakuasi yang dibangun memilikikelebihan dan kekurangan, KelebihanSistem adalah : Data peta daerah rawangempa tektonik dapat diakses oleh clientdi mana saja, asalkan client dapatmelakukan koneksi dengan server ; Dataterpusat pada server, sehingga client tidakharus menyimpan data dalam memorilokal sehingga perawatan data menjadilebih mudah ; Layer layer peta daerahrawan gempa merupakan data spasialvector sehingga kualitas gambar peta

    tidak akan berkurang walaupun petadiperbesar maupun diperkecil ; Gambarpeta merupakan rangkaian kode XML SVGsehingga lebih fleksibel dibaca oleh client;Sistem dapat mencarikan jalur evakuasidangan rute terpendek.Kekurangan Sistem InformasiGeografis Daerah Rawan Gempa Tektonikdan Jalur Evakuasi ini adalah Sistembelum mampu mendeteksi GPS dan BTSjaringan seluler untuk menentukan posisilokasi akses. Pencarian rute hanyaberdasarkan jarak antar node, sistembelum mampu memperhitungkan tingkatkemacetan suatu jalan, kecepatan suatukendaraan dan sebagainya. Pencarianrute terpendek menggunakan perpotong-an antar garis (intersection), sehingga jikaterdapat salah satu garis tidakberpotongan maka perulangan tidakpernah berhenti.

  • Volume 14, No. 1, Juni 2012

    40 Jurnal Penelitian IPTEK-KOM

    PENUTUP

    SimpulanPenelitian yang sudah dilakukanserta pembahasan pada bab babsebelumnya, Sistem Informasi GeografisPemetaan Daerah Rawan Gempa Tektonikdi Daerah Istimewa Yogyakarta serta JalurEvakuasi Korban Gempa dapatdisimpulkan bahwa :1. Sistem Informasi Geografis PemetaanDaerah Rawan Gempa Tektonik diDaerah Istimewa Yogyakarta sertaJalur Evakuasi Korban Gempamampu menyajikan peta daerahrawan gempa (sesuai zona), jugamampu mengupadate status zonadan menambahkan kriteria zonasesuai dengan kejadian gempaterakhir.2. Sistem Informasi Geografis PemetaanDaerah Rawan Gempa Tektonik diDaerah Istimewa Yogyakarta sertaJalur Evakuasi Korban Gempamemiliki kemampuan mencarikanrute terpendek dari jalur yang akandilalui, sehingga dapat membantumengambil keputusan untukpenentuan jalur evakuasi korbangempa dengan menggunakanalgoritma Dijkstra.3. Sistem Informasi Geografis DaerahRawan Gempa Tektonik memilikikelemahan yaitu pada analisis ruteterpendek, pada sistem ini belummampu mempertimbangkan faktorkemacetan suatu jalan, faktorkecepatan kendaraan dan belummampu mendeteksi GPS dan BTS

    Seluler untuk menentukan posisilokasi akses.SaranSesuai dengan kekurangan yangdiuraikan pada kesimpulan diatas, makapenulis menyarankan kepada penelitiselanjutnya untuk melengkapi penelitianini dengan :1. Pengembangan sistem yang dapatmendeteksi GPS atau BTS selulersehingga bisa mendeteksi posisilokasi akses.2. Pengembangan sistem yang dapatmempertimbangkan tingkatkemacetan suatu jalan dan faktorkecepatan kendaraan pada analisisrute terpendek.3. Analisis spasial jalan yang digunakandengan membaca perpotongan garispada spasial jalan sehingga jikaperpotongan tidak pada titik yangsama, maka sistem menganggap jalantersebut tidak saling terhubung,sehingga pengembang sistemselanjutnya mampu menutupikekurangan tersebut

  • Volume 14, No. 1, Juni 2012

    41Jurnal Penelitian IPTEK-KOM

    DAFTAR PUSTAKADwidasmara,I.B.G, 2009. Sistem InformasiGeografis berbasis SVG untuk perja-lanan Wisata dengan DukunganTeknologi Mobile dan PencarianRute Terpendek dengan AlgoritmaDijkstra, Tesis Program MagisterIlmu Komputer Sekolah PascaSarjana Universitas Gadjah Mada,Yogyakarta.Haryanto, 2008. Implementasi WAP padaTelepon Seluler untuk PencarianRute Jalan Terpendek MenggunakanAlgoritma Dijkstra (Studi Kasus :KotaSurakarta), Tesis ProgramMagister Ilmu Komputer SekolahPasca Sarjana Universitas GadjahMada, Yogyakarta.Ismanto, 2008. Sistem Informasi Geografisuntuk penentuan arahan fungsipemanfaatan lahan di KabupatenMerauke Provinsi Papua, TesisProgram Magister Ilmu KomputerSekolah Pasca Sarjana UniversitasGadjah Mada, Yogyakarta.Mukhlis, 2006. Sistem Informasi Geografissebagai alat bantu untuk menentu-kan lokasi pemberian dana bantuanSD di Banjarbaru Kalimantan Sela-tan, Tesis Program Magister IlmuKomputer Sekolah Pasca SarjanaUniversitas Gadjah Mada,Yogyakarta.

    Sunjaya, 2008. Sistem Informasi GeografisWisata Kuliner, Tesis ProgramMagister Ilmu Komputer SekolahPasca Sarjana Universitas GadjahMada, Yogyakarta.Yuhanto, 2008. Sistem Informasi GeografisRadio FM di Yogyakarta, TesisProgram Magister Ilmu KomputerSekolah Pasca Sarjana UniversitasGadjah Mada, Yogyakarta.

  • Volume 14, No. 1, Juni 2012

    42 Jurnal Penelitian IPTEK-KOM