Perjuangan diplomasi indonesia

Embed Size (px)

DESCRIPTION

This is once of more History from Indonesian State.

Text of Perjuangan diplomasi indonesia

  • 1. UPAYA MEMPERTAHANKAN KEMERDEKAAN MELALUI JALUR DIPLOMASI
  • 2. Mempertahankan Kemerdekaan Senjata Medan Area Pert. Surabaya Pert. Ambarawa Bandung Lautan Api Margarana Bali Agresi Militer I Agresi Militer II Diplomasi Linggarjati Renville Roem-Royen Konferensi Meja Bundar
  • 3. Merah: Senjata | Biru: Diplomasi | Oranye: Serangan Belanda | Hijau: Politik
  • 4. PERISTIWA MENJELANG DIPLOMASI Ibukota Indonesia dipindahkan dari Jakarta ke Yogyakarta. Perubahan Sistem pemerintahan dari Presidensiil menjadi Parlementer. Mau mengakui Republik sebagai salah satu unit negara federasi yang akan dibentuk sesuai dengan Deklarasi 10 Februari (Hooge Veluwe) Pengakuan pemerintahan de facto Republik atas bagian Jawa dan Madura yang belum berada di bawah perlindungan pasukan Sekutu. Perundingan Hooge Veluwe (14-24 April 1946) Ditolak Sjahrir. Sjahrir diculik (3 Juli 1946).
  • 5. Sjahrir dan Van Mook
  • 6. PERUNDINGAN LINGGAJATI (10 November 1946 25 Maret 1947) Tokoh Dr. Sudarono (Indonesia) Jenderal Sudirman (Indonesia) Jenderal Oerip Soemohardjo (Indonesia) H.J van Mook (Belanda) Lord Killern (Inggris)
  • 7. Tempat Desa Linggajati, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat Hasil Belanda mengakui secara de facto Republik Indonesia atas Sumatra, Jawa dan Madura. Belanda harus meninggalkan wilayah de facto paling lambat 1 Januari 1949. Republik Indonesia dan Belanda akan bekerja sama dalam membentuk Negara Indonesia Serikat, dengan nama Republik Indonesia Serikat, yang salah satu bagiannya adalah Republik Indonesia Republik Indonesia Serikat dan Belanda akan membentuk Uni Indonesia - Belanda dengan Ratu Belanda sebagai ketuanya
  • 8. Dampak Wilayah Indonesia sangat kecil. Rakyat Indonesia tidak puas dan menyatakan kegagalan proses diplomasi (Masyumi). Belanda membentuk negara bagian RIS (negara Boneka) ex. NIT Belanda mengeluarkan beberapa Ultimatum yang merugikan RI. Perdana Menteri Sjahrir jatuh dan digantikan oleh Amir Sjarifudin (3 Juli 1947) Agresi Militer Belanda I
  • 9. WILAYAH INDONESIA BERDASARKAN PERUNDINGAN LINGGAJATI
  • 10. AGRESI MILITER BELANDA I (21 JULI 1947) Latar belakang Perdana Menteri Sjahrir terlihat Pro terhadap Belanda hal ini mendapatkan reaksi keras dari kalangan parpol-parpol di Republik. Ultimatum ditolak oleh rakyat Indonesia melalui PM Amir Sjarifudin.
  • 11. Jalannya Agresi Belanda terus"mengembalikan ketertiban" dengan "tindakan kepolisian". Pada tanggal 20 Juli 1947 tengah malam (tepatnya 21 Juli 1947) mulailah pihak Belanda melancarkan 'aksi polisionil' mereka yang pertama. Aksi Belanda ini sudah sangat diperhitungkan mereka telah menempatkan pasukan-pasukannya di tempat yang strategis. Mereka menduduki Jakarta, Bandung untuk menguasai Jawa Barat, kemudian Surabaya untuk menduduki Madura dan Ujung Timur. Semarang dan semua pelabuhan perairan-dalam di Jawa serta Sumatera, perkebunan-perkebunan di sekitar Medan, instalasi- instalasi minyak dan batubara di sekitar Palembang, dan daerah Padang diamankan.
  • 12. Dampak Agresi Tentara Indonesia terpojok ke daerah-daeah terpencil (perang Gerilya) Reaksi dunia Internasional khususnya yang pro Indonesia (ex India) mengecam tindakan Agresi yang dilakukan Belanda PBB membuat KTN untuk meyelesaikan konflik. Autralia untuk indonesia (Richard Kirby) Belgia untuk Belanda (Paul van Zeeland. Amerika sebagai penengah (Dr. Frank Graham) Gencatan senjata. KTN memprakarsai Perundingan Renville.
  • 13. GAMBAR-GAMBAR UNTUK AGRESI MILITER BELANDA I
  • 14. PERUNDINGAN RENVILLE (8 Desember 1947 17 Januari 1948) Tokoh PM Amir Sjarifudin (Indonesia) Abdulkadir Wijoyoatmodjo (Belanda) Ali Sastroamidjojo (Indonesia) Agus Salim (Indonesia) Dr. Leimena (Indonesia) Mr. Latharhary (Indonesia) T.B. Simatupang (Indonesia)
  • 15. Tempat Geladak Kapal Perang USS Renville milik Angkatan Laut Amerika Serikat Hasil Segera dikeluarkanya perintah penghentian tembak- menembak di sepanjang Garis van Mook (Garis demiliterisasi) Penghentian tembak-menembak segera diikuti dengan perjanjian peletakan senjata dan pembentukan daerah kosong militer. Wilayah RI hanya meliputi sebagian kecil Jawa Tengah (Jogja dan delapan Keresidenan) dan ujung barat pulau Jawa -Banten tetap daerah Republik
  • 16. Dampak Wilayah Indonesia semakin kecil. Rakyat Indonesia semakin marah dan menimbulkan rekasi keras contoh PNI dan Masyumi. Negara boneka semakin gencar dibuat oleh Belanda ex. Negara Sumatera Timur. Kabinet (PM) Amir Sjarifudin jatuh (23 Januari 1948) digantikan kabinet Hatta. Agresi Militer Belanda II.
  • 17. WILAYAH INDONESIA BERDASARKAN PERUNDINGAN RENVILLE
  • 18. AGRESI MILITER BELANDA II (19 Desember 1948) Latar Belakang Ibukota RI dipindah dari Jakarta ke Yogyakarta karena secara politik maupun keamaan kondisi Jakarta tidak aman. Hal ini yang menjadikan Belanda menyerang Yogyakarta. Belanda mencari-cari alasan untuk melanggar dan tidak menyetujui perundingan Renville. Belanda terus melakukan pendekatan terhadap daerah-daerah karena ingin menguasai seluruh wilayah Indonesia.
  • 19. Jalannya Agresi Pada tanggal 18 Desember 1948 Belanda menyatakan kepada RI dan KTN tidak lagi terikat oleh perundingan renville. Belanda melakukan penyerangan terhadap Yogyakarta, ibu kota Indonesia saat itu, serta penangkapan Soekarno, Mohammad Hatta, Sjahrir dan beberapa tokoh lainnya. Merasa sudah berhasil menguasai Ibukota dan melumpuhkan TNI, ternyata dugaan Belanda meleset karena selang beberapa bulan dari itu serangan umum 1 maret yang dipimpin oleh Letkol Soeharto, dan gerilya Jenderal Sudirman.
  • 20. Dampak Agresi Terbentuknya PDRI di bukit tnggi yang dipimpin oleh Mr. Sjafrudin Prawiranegara Persiapan pembentukan Pemerintahan Pelarian di New Delhi pimpinan Mr. A.A Maramis. Longmarch Divisi Siliwangi Akibat dari Agresi Militer tersebut, pihak internasional melakukan tekanan kepada Belanda, terutama dari pihak Amerika Serikat yang mengancam akan menghentikan bantuannya kepada Belanda, Resolusi Dewan Keamanan PBB. KTN menjadi UNCI Perundingan Roem-Royen
  • 21. Foto di Brastagi Desember 1948
  • 22. FOTO-FOTO PADA MASA AGRESI MILITER BELANDA II
  • 23. PERUNDINGAN ROEM-ROYEN (14 April 1949) Tokoh Mr. Mohammad Roem (Indonesia) Dr. J.H. van Royen (Belanda) Merle Cochran (UNCI)
  • 24. Tempat Hotel Des Indies (sekarang Hotel Duta Merlin, Jakarta) Hasil Usulan Indonesia Pemerintah RI akan menghentikan Perang Gerilya Kerjasama dalam perdamaian Turut serta dalam KMB untuk penyerahan kedaulatan kepada RIS Usulan Belanda Belanda setuju pemerintahan RI bebas dalam melakukan kewajibannya (Yogyakarta) Membebaskan tawanan politik (pemimpin RI) B