Agmon 2013 Indonesia Idn

  • View
    214

  • Download
    1

Embed Size (px)

DESCRIPTION

.

Transcript

  • Kebijakan-kebijakan dalam bidang Pertanian: Pemantauan dan Evaluasi 2013

    Negara-negara OECD dan Negara-negara Berkembang

    Indonesia

  • 2 BRAZIL

    BOOK TITLE IN CAPITALS OECD 2013

    Hasil karya ini diterbitkan di bawah tanggung jawab Sekretaris Jenderal OECD. Opini yang dikemukakan dan argumentasi yang diolah di dalamnya, mungkin tidak sama dengan pandangan-pandangan resmi Organisasi atau pemerintahan-pemerintahan Negara anggotanya. Dokumen ini dan map apapun yang termasuk di dalamnya, dibuat tanpa praduga terhadap kedaulatan atas wilayah apapun, tentang penetapan perbatasan-perbatasan atau garis-garis batas internasional, dan nama wilayah, kota atau daerah apapun juga. Foto sampul: Andrzej Kwieciski. Ralat untuk publikasi-publikasi OECD bisa ditemui di: www.oecd.org/publishing/corrigenda. OECD 2013

    Anda dapat menyalin, menggunduh atau mencetak isi OECD untuk Anda gunakan sendiri, dan Anda dapat menyertakan kutipan dari publikasi OECD, database dan produk multimedia dalam dokumen, presentasi, blog, situs web dan bahan pelajaran Anda sendiri, asal sumber dan hak cipta pemilik disebutkan. Semua permintaan untuk penggunaan umum atau komersial dan hak untuk menerjemahkan harus diajukan kepada rights@oecd.org. Permintaan izin untuk membuat fotokopi dari sebagian bahan ini untuk kepentingan umum atau komersial harus diajukan langsung kepada Copyright Clearance Center (CCC) di info@copyright.com atau Centre franais d'eksploitasi du droit de copie (CFC) di contact@cfcopies.com.

  • PEMANTAUAN DAN EVALUASI KEBIJAKAN PERTANIAN 2013 OECD 2013

    INDONESIA

    Bab Negara Indonesia mencakup evaluasi singkat tentang perkembangan-perkembangan

    dalam kebijakan dan dukungan-dukungan terkait untuk bidang pertanian, informasi

    kontekstual mengenai kerangka di dalam mana kebijakan-kebijakan pertanian diterapkan

    dan ciri-ciri utama sektor pertanian; evaluasi mengenai dukungan yang diberikan dalam

    tahun 2011-12 maupun dalam perspektif jangka panjang, dan uraian singkat tentang

    perkembangan-perkembangan kebijakan utama untuk tahun 2011-13.

    * Petikan Bab 11 tentang Pemantauan dan Evaluasi Kebijakan Pertanian 2013.

  • 2 INDONESIA

    AGRICULTURAL POLICY MONITORING AND EVALUATION 2013 OECD 2013

    Evaluasi Perkembangan-Perkembangan Kebijakan

    Tingkatan tunjangan untuk para produsen dalam bidang pertanian berfluktuasi, namun trennya naik dan pada 2010-12 mencapai tingkat rata-rata OECD. Bagian yang menentukan bagi tunjangan ini diberikan melalui tunjangan harga. Tingkatan tunjangan ini berfluktuasi dan tergantung pada perubahan-perubahan dalam tingkatan relatif harga-harga domestik, dibandingkan dengan pasaran-pasaran internasional. Tunjangan (dalam bentuk) anggaran bertumbuh, tetapi secara relatif tetap kecil.

    Lebih dari separuh dari tunjangan (yang diberikan) berupa dukungan untuk para produsen beras. Harga-harga tinggi bagi produsen untuk sebagian diimbangi oleh subsidi untuk menyediakan beras murah bagi keluarga-keluarga miskin, yang termasuk dalam distribusi dalam bentuk beras menurut sistem RASKIN. Untuk mengurangi ketergantungan pada pasokan beras, Indonesia bisa mempertimbangkan untuk mengubah sistem RASKIN dengan menggantikan distribusi beras dengan tunjangan uang tunai bersyarat, yang terbukti sukses di sejumlah negara, misalnya di Brasil.

    Sebagian besar dukungan anggaran diberikan melalui subsidi pupuk yang disalurkan melalui perusahaan-perusahaan pupuk. Hal ini mengurangi insentif untuk meningkatkan efisiensi produksi dan mengurangi keuntungan para petani. Cara yang lebih efisien mungkin dengan mengeluarkan voucher untuk para petani yang lalu bisa memilih jenis dan kuantitas input yang ingin mereka pakai. Penghematan dalam anggaran dari cara yang lebih efisien dapat dialokasikan untuk menguatkan kembali Sistem Inovasi Pertanian Indonesia dan meningkatkan produktivitas pertanian jangka panjang.

    Tujuan kebijakan utama Indonesia adalah memberi jaminan pangan. Cara yang paling efektif untuk mencapai tujuan ini adalah dengan menanggulangi kemiskinan dan merangsang produksi domestik dengan mengurangi kendala-kendala investasi di bidang pertanian. Investasi seperti itu tidak hanya akan meningkatkan ketersediaan pangan, tetapi juga akan meningkatkan pertumbuhan produktivitas pertanian, meningkatkan ketahanan, menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan, dan dengan demikian meningkatkan akses ke pangan.

    Jumlah persyaratan administratif yang diterapkan Indonesia berkaitan dengan impor pangan agro, semakin banyak. Sementara banyak di antaranya bisa dibenarkan dari perspektif keamanan pangan atau sanitas tanaman, ada juga di antaranya yang agaknya diterapkan untuk secara khusus mengurangi kuantitas impor. Ini perlu diubah, setidaknya dengan meningkatkan transparansi, penegakan yang transparan dan tidak diskriminatif untuk peraturan-peraturan yang berlaku, dan pemberitahuan yang patut kepada para mitra dagang.

    Gambar 11.1. Indonesia: Tingkatan PSE level dan komposisinya sesuai kategori penunjang, 1995-2012

    Sumber: OECD, PSE/CSE database, 2013.

    -30%

    -20%

    -10%

    0%

    10%

    20%

    30%

    1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012

    % pendapatan kotor pertanian

    Output komoditi Input penggunaan Pembayaran lain Persentase PSE

    Tunjangan berdasarkan:

    1998= -88%

  • INDONESIA 3

    PEMANTAUAN DAN EVALUASI KEBIJAKAN PERTANIAN 2013 OECD 2013

    Informasi kontekstual

    Indonesia adalah negara terpadat ke-4 di dunia dan produsen terbesar ke-10 dalam bidang pertanian.

    Lahan pertanian dalam negara ini langka: sepertiga dari angka rata-rata dunia kalau diukur secara per kapita,

    tetapi relatif kaya dalam sumber air. Kontribusi sektor pertanian kepada PDB Indonesia hampir tidak berubah

    dari 15-16% sejak pertengahan tahun 1990-an, namun pangsanya dalam total serapan tenaga kerja, dalam

    periode yang sama turun dari 56% menjadi 36%. Di mana produksi tanaman pangan dihasilkan oleh petani-

    petani kecil, pertanian-pertanian komersial yang besar berfokus pada tumbuhan yang tetap hijau, khususnya

    kelapa sawit. Bagian kelapa sawit dan karet merupakan kira-kira 60% dari total ekspor agrobisnis pangan dan

    memberi kontribusi yang signifikan kepada surplus perdagangan agrobisnis pangan Indonesia. Indonesia telah

    mencapai kemajuan yang signifikan dalam pengentasan kemiskinan, namun 13% dari jumlah penduduk masih

    tetap hidup di bawah garis kemiskinan yang ditetapkan secara nasional dan sekitar setengah dari penduduk

    masih hidup dari kurang dari USD 2 PPP / orang / hari. Sumber daya alam dan lingkungan hidup sangat

    tertekan, yang untuk sebagian disebabkan karena perluasan lahan pertanian menyebabkan penggundulan hutan

    dan erosi tanah dalam skala besar.

    Tabel 11.1. Indonesia: Indikator2 kontekstual, 1995, 2011*

    Gambar 11.2. Indonesia: Indikator ekonomi makro, 1995-2012

    Sumber: OECD statistics.

    Figur 11.3. Indonesia: Perdagangan pangan pertanian

    * Termasuk karet alam. Sumber: UN COMTRADE Database.

    1995 2011*

    Konteks ekonomis

    PDB (USD miliar) 223 846

    Juml.penduduk (juta) 200 244

    Luas tanah (ribuan km2) 1,911 1,911

    Kepadatan penduduk (penduduk/km2) 105 127

    PDB per kapita, PPP (USD) 2,517 4,679

    Perdagangan sbg. % dari PDB 19.3 22.5

    Pertanian dalam ekonomi

    Pertanian dalam PDB (% ) 15.5 14.7

    Bagian pertanian dalam lapangan kerja (% ) 44.0 35.8

    Ekspor pangan agro** (% dari total ekspor) 12.5 21.0

    Impor pangan agro** (% dari total impor) 11.7 10.7

    Ciri-ciri sektor pertanian

    Saldo perdagangan pangan agro** (USD juta) 912 23,764

    Total panen produksi pertanian (% ) 83 84

    Total ternak dlm produksi pertanian (% ) 17 16

    Areal pertanian (AA ) (ribuan ha) 42,187 53,600

    Tanah garapan dalam AA (dalam % ) 41 44

    Tanah yang diairi dalam AA (dalam % ) 14 17

    Konsumsi air oleh pertanian (dalam % ) .. 82

    Neraca nitrogen, Kg/ha .. ..

    * atau dari tahun terakhir y ang ada.

    ** Termasuk karet alam.

    Sumber: OECD statistical databases, UN COM TRADE, World Development

    Indicators and national data.

    -15

    -10

    -5

    0

    5

    10

    15

    20

    25

    %

    Pertumbuhan GDP nyata Inflasi

    Penganggurran

    58.9

    0

    5

    10

    15

    20

    25

    30

    35

    USD billion

    Ekspor pangan agro Impor pangan agro

  • 4 INDONESIA

    AGRICULTURAL POLICY MONITORING AND EVALUATION 2013 OECD 2013

    Tingkatan tunjangan untuk pertanian

    Tingkat dukungan di Indonesia berfluktuasi, dan untuk sebagian besar tergantung pada

    rasio harga domestik dibanding dengan pasaran internasional. Dalam jangka panjang, tingkat

    tunjangan cenderung meningkat dan diberikan hampir secara eksklusif melalui dukungan

    harga pasar dan subsidi input (yang sebagian besar diutamakan untuk pembelian pupuk dan

    benih). Total biaya tunjangan untuk pertanian sebagai persentase dari PDB pada 3,4%

    signifikan lebih tinggi dari rata-rata OECD. Ini menunjukkan bahwa untuk Indonesia, dengan

    sektor pertanian yang besar dan tingkat tunjangan pertanian yang relatif tinggi sebagaimana

    diukur dengan PSE, beban atas ekonomi relatif tinggi dan cenderung untuk bertumbuh.

    PSE sbg. % pemasukan (%PSE)

    Indonesia meningkatkan tunjangan untuk pertanian, yang sekarang sudah sama dengan rata-rata OECD. Tingkatan tunjangan menurun pada 2011, lalu naik sebanyak 6%, untuk sebagian besar karena peningkatan harga domest