Antara Idealisme Dan Elektabilitas

Embed Size (px)

Text of Antara Idealisme Dan Elektabilitas

  • Antara Idealisme dan Elektabilitas (Bayyanat untuk Jama'ah Tarbiyah UGM Part 1)

    January 12, 2014 at 8:28pm

    Ada dua hal yang ingin aku tekankan pada tulisanku kali ini; Di part 1 akan diuraikan sikap

    dan pandanganku terhadap Jama'ah tarbiyah kampus dan PKS. Di part 2 klarifikasi tentang

    dinamika musyawarah akbar partai bunderan dan pemira tahun 2013. Tulisan ini sebagai sebuah

    bayyanat terhadap berbagai macam prasangka yang berkembang pasca peristiwa musyawarah

    tersebut. Semoga dengan tulisan ini kita saling mengukuhkan kembali ber- wa tawaashobil haqq

    dan wa tawaa shoubi shobr.

    Izinkan Kami Menegakkan sebuah Prinsip!

    Ketika gerakan mahasiswa dilumpuhkan dengan pragmatisme dan transaksional politik

    yang telah terjadi, siapakah yang menjadi tangkup perubahannya?. Jujur saja, perihal inilah yang

    telah menyandera kekuatan mahasiswa saat ini.

    Kalimat diatas-lah yang sekiranya selalu terngiang-ngiang dalam diri ini. Kalau memang

    ingin menjadi kaya raya secara instan, cukuplah kita menjadi manusia tanpa idealisme yang

    mengejar jabatan di berbagai macam gerakan mahasiswa maupun Serikat Pekerja lalu menjual

    gerakan tersebut pada penguasa, pengusaha, broker politik, atau pun mafia proyek, mungkin kita

    akan kaya raya dengan seketika. Mengapa? karena gerakan-gerakan tersebut memiliki eskalasi

    massa yang begitu banyak. Atas dasar instruksi, mereka bisa merubah massa yang tadinya

    melawan, bisa jadi terdiam ataupun mengubah isu sesuai dengan keinginan pihak yang

    membayarnya. Sejarah selalu berulang, kematian gerakan mahasiswa di zaman Orde Baru

    maupun Orde Lama pun banyak yang tersandra dengan sikap yang seperti ini. Buat sebagian

    orang, aksi massa bisa dibuat pesanan dan tergantung mengambil paket yang harganya berapa.

    Disinilah mahasiswa yang rindu akan eksistensi ekonomi-politik melalui kekuasaan mulai

    bermunculan dimana-mana. Betapa tanpa adanya sikap independensi yang teguh, tidak adanya

    kontrol sosial yang ketat dalam pergerakan, maka yang terjadi adalah gerakan kita akan mudah

    diperjual belikan oleh sebagian pihak. Cukuplah kiranya sejarah negeri ini menjadi pelajaran

    yang berarti betapa aktivis mahasiswa pernah menjadi lumpuh ketika idealisme telah hilang

    diantara mereka. Dalam orasi ia berkata kita harus namun dibalik itu semua, secara sadar ia

    melanggarnya. Untuk apa berpandai-pandai mengasah retorika jika ujung-ujungnya tidak

    komitmen terhadap pernyataan kita sendiri.

    Antara Aktivis Dakwah Kampus dan PKS

    Izinkan aku berpikir tentang semua ini. Bukan berarti aku anti-pati terhadap politik praktis,

    melainkan ada waktunya yang tepat dimana kita harus berpolitik praktis, dan adanya waktu

    dimana kita harus menanam idealisme diri. Dinatara kami mungkin ada yang bertanya,

  • bagaimana hubungan anda selaku bagian dari Jamaah tarbiyah dengan PKS? Maka dengan

    tegas akan aku jawab; ketika kalian ingin menjawab antara syari dan tidak syari, maka saya

    katakan bahwa alasan berpolitik PKS adalah syari. Bahkan, cara PKS membangun basis

    kekuatan politik ditubuh mahasiswa pun juga termasuk dalam kategori syari. Mungkin kita akan

    bertanya-tanya, apakah dengan begitu kita harus menjadi agen politik PKS dikampus, atau

    menginfiltrasikan agenda politik 2014 PKS kedalam agenda setting gerakan mahasiswa hari ini

    karena sudah sesuai dengan syariat? Maka yang harus aku jawab selanjutnya adalah; benar,

    tapi tidak tepat.

    Berbicara tentang masuknya agenda politik PKS kedalam aktivisme kampus bukan hanya

    berbicara tentang syari atau tidak syari, melainkan juga kita sedang berbicara tentang konsisten

    atau tidak konsisten, tepat atau tidak tepat.

    Selama ini kita terlampau sering berbicara tentang Gerakan Mahasiswa harus

    independen, Gerakan Mahasiswa harus menjauh dari setting agenda politik praktis itulah

    wacana yang berkembang ketika kita berlembaga di gerakan mahasiswa. Bagiku, perihal

    tersebut adalah benar adanya. Fasilitas intelegensia maupun dinamika politik kampus adalah

    medium pembelajaran kita untuk mempelajari dan mencari solusi berbagai macam persoalan

    negeri ini. Kemandirian dalam bersikap maupun dalam berpijak menjadi penting agar kita tidak

    bergantung kepada siapa pun, ketika suatu hari nanti diantara kita memimpin negeri ini. Ketika ia

    salah, ia adalah suatu hal yang wajar. Karena dengan kesalahan itulah akhirnya kita belajar

    tentang bagaimana cara menyelesaikan suatu permasalahan dengan benar.

    Bimbingan adalah cara kita berguru dan berkonsultasi untuk menyelesaikan permasalahan,

    namun yang menelurkan ide dan yang bertindak untuk menyelesaikannya adalah kita sendiri. Hal

    ini tentunya berbeda dengan intervensi, dimana ide sudah terbentuk oleh pihak tertentu, tugas

    kita hanyalah tinggal menjalankannya.

    Yang terjadi saat ini adalah, sebagaian aktivis tarbiyah kampus terkesan terlalu mudah

    mengalami intervensi dan skenario politik yang dilakukan oleh elite atas nama partai dan

    jamaah terhadap sebagian aktivis tarbiyah kampus itu sendiri. Secara kuantitas dan

    pergumulan massa pemilih, mungkin ia sangat menguntungkan elektabilitas PKS, namun secara

    pembentukan kualitas kader, sikap intervensionis yang terlalu sering seperti ini justru terjadi

    pengeroposan terhadap kualitas kader di masa depan itu sendiri. Karena pasalnya kekuatan-

    kekuatan kader sebagai determinan sangat sedikit diberikan ruang dalam pembelajaran

    pengambilan sebuah keputusan, karena sifat sakralitas ketergantungan kader terhadap

    elite jamaah, seakan telah melumpuhkan pengembangan potensi kader untuk terlibat aktif dan

    mempelajari lebih jauh tentang pengambilan sebuah keputusan yang bersifat strategis. Jika ini

    yang terjadi, maka kita akan sulit untuk mempelajari negeri ini dalam menjawab tantangan-

    tantangan masa depan dan selalu menunggu menengadahkan keputusan. Hal ini juga

    diperkuat dari prilaku kita dalam berlembaga yang masih cenderung telat dalam menanggapi

    seuatu permasalahan dan cenderung mempertahankan cara-cara lama yang seharusnya mulai

    melakukan transformasi karena dinamika realita yang ada. Atau dengan kata lain, saat ini kita

    baru hanya menjadi kader, namun belum diarahkan seutuhnya untuk menjadi agen dimasa

    mendatang.

    Maksudku adalah; jika kita berpikir jangka panjang tentang kualitas Jamaah dimasa

    depan, prilaku intervensi politik PKS terhadap kadernya di kampus hari ini adalah boomerang

    bagi Jamaah itu sendiri. Bahkan yang terjadi saat ini adalah; syndrom memenangkan

  • kekuasaaan dan cara bersiasat politik praktis di tingkat kampus seakan jauh lebih bernilai

    harganya ketimbang menekankan setiap kader untuk menjadi bagian dari intelektual muslim

    yang mampu menghasilkan karya perjuangan yang sesungguhnya.[1] Untuk menjadi itu semua

    butuh pengorbanan waktu yang panjang untuk membaca, butuh banyaknya menuntut ilmu dan

    pengabdian terhadap umat dalam menjawab tantangan-tantangan umat dihadapannya. Perihal

    inilah yang jauh lebih penting untuk dikedepankan lebih jauh.

    Maka yang harus dilakukan oleh Jamaah adalah memandirikan kadernya ditingkat

    kampus secara independen dalam rangka menajamkan idealisme dan pengembangan potensi

    diri yang lebih matang untuk dipersiapkan menjawab berbagai macam tantangan dan

    menciptakan karya yang bermanfaat dimasa depan.

    Biarkan kader Jamaah tarbiyah dikampus hari ini benar-benar independen dari intervensi

    politik PKS dan benar-benar memegang ruh perjuangannya yang menolak politik praktis masuk

    kampus. Perihal tersebut sebagai sebuah pelajaran. Karena dengan begitulah, kita menjaga

    konsistensi untuk menjadikan kampus sebagai tempat yang steril untuk pembelajaran dan lebih

    mengedepankan nilai-nilai pengabdian dan perjuangan rakyat ketimbang pengakumulasian

    elektoral. Bahkan, seharusnya kader Jamaah tarbiyah kampus berfungsi menjadi social

    control terhadap partai politik apa pun, sebagai sebuah bukti tanda penyemaian idealisme itu

    sendiri.

    Dengan begitulah, setidaknya kedepan Jamaah tarbiyah mampu melahirkan kader-kader

    tangguh yang paradigma berpikirnya sejak awal sudah terbiasa dengan mengedepankan risalah

    perjuangan, mereka yang mengenal permasalahan masyarakat dan menjadi kader-kader yang

    lebih mementingkan kepentingan umat ketimbang hanya memikirkan kepentingan golongan,

    terlebih lagi hanya memikirkan demi kepentingan dirinya ansich. Sehingga, ketika pasca kampus

    mereka menjadi orang-orang yang militan, tangguh, dan kuat untuk selalu berorientasi

    kebermanfaatan bagi orang banyak. Mereka menjadi politisi ataupun menjadi ahli di bidang apa

    pun, adalah mereka yang matang dan mengetahui apa yang selama ini menjadi penderitaan

    masyarakat. Sehingga ruh perjuangan itu hidup, tidak hanya dengan berorientasi pada

    pergumulan elektabilitas semata.

    Cara Kita Memaknai al-jamaah hiya al-hizb

    Mungkin, yang akan menjadi permasalahan selanjutnya adalah ketika kita bertemu pada

    sebuah adagium al-jamaah hiya al-hizb, wa al-hizb huwa al-jamaah atau dengan kata lain;

    ketika kita menjadi bagian dari Jamaah tarbiyah, maka sudah sejatinya kita menjadi kader

    partai. Pertanyaan selanjutnya adalah, mengapa adagium seperti itu muncul? Maka yang harus

    kita pelajari selanjutnya adalah konteks sejarah sebelum memasuki masa reformasi. Arif

    Munandar menyatakan; memasuki tahun 1997, dalam rencana awal Jamaah Tarbiyah

    mencetuskan bahwa mereka akan m