of 15 /15
5 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Bekicot (Achatina fulica) Bekicot telah banyak digunakan sebagai bahan pengobatan sejak dulu hingga sekarang. Hewan ini memiliki manfaat teraupetik mulai dari cangkang hingga lendirnya. Bekicot bisa meningkatkan penyembuhan pada mimisan, nyeri perut serta nyeri akibat luka bakar (Joffre, M., 2004). 2.1.1 Taksonomi Menurut Asia-Pacific Forest Invasive Species Network (2009), taksonomi bekicot (Achatina fulica) adalah sebagai berikut Filum : Mollusca Kelas : Gastropoda Ordo : Stylommatophora Famili : Achatinidae Sub Famili : Achatinidae Genus : Achatina Sub Genus : Lissachatina Spesies : Achatina fulica 2.1.2 Morfologi Bekicot (Achatina fulica) memiliki sebuah cangkang yang sempit berbentuk kerucut yang panjangnya dua kali lebar tubuhnya dan terdiri dari tujuh sampai sembilan ruas lingkaran ketika dewasa. Cangkang bekicot umumnya memiliki warna cokelat kemerahan dengan corak

BAB 2 - eprints.umm.ac.ideprints.umm.ac.id/41372/3/jiptummpp-gdl-anugrahpus-46884-3-babii.pdf · elektromagnetik. Kulit dengan luka bakar dapat mengalami kerusakan di ketiga lapisan

Embed Size (px)

Text of BAB 2 - eprints.umm.ac.ideprints.umm.ac.id/41372/3/jiptummpp-gdl-anugrahpus-46884-3-babii.pdf ·...

  • 5

    BAB 2

    TINJAUAN PUSTAKA

    2.1 Bekicot (Achatina fulica)

    Bekicot telah banyak digunakan sebagai bahan pengobatan sejak dulu

    hingga sekarang. Hewan ini memiliki manfaat teraupetik mulai dari cangkang

    hingga lendirnya. Bekicot bisa meningkatkan penyembuhan pada mimisan,

    nyeri perut serta nyeri akibat luka bakar (Joffre, M., 2004).

    2.1.1 Taksonomi

    Menurut Asia-Pacific Forest Invasive Species Network (2009), taksonomi

    bekicot (Achatina fulica) adalah sebagai berikut

    Filum : Mollusca

    Kelas : Gastropoda

    Ordo : Stylommatophora

    Famili : Achatinidae

    Sub Famili : Achatinidae

    Genus : Achatina

    Sub Genus : Lissachatina

    Spesies : Achatina fulica

    2.1.2 Morfologi

    Bekicot (Achatina fulica) memiliki sebuah cangkang yang sempit

    berbentuk kerucut yang panjangnya dua kali lebar tubuhnya dan terdiri

    dari tujuh sampai sembilan ruas lingkaran ketika dewasa. Cangkang

    bekicot umumnya memiliki warna cokelat kemerahan dengan corak

  • 6

    vertikal berwarna kuning tapi warna tersebut tergantung pada lingkungan

    dan jenis makanan yang dikonsumsi. Bekicot dewasa panjangnya dapat

    mencapai 20cm tetapi rata-rata panjangnya sekitar 5-10cm. Sedangkan,

    berat bekicot kurang lebih adalah 20 gram (Cooling, 2005). Seperti tampak

    pada gambar 2.1.

    (Sumber : Integrated Taxonomic Information System, 2004)

    Gambar 2.1

    Bekicot (Achatina fulica)

    2.1.3 Kandungan

    Bekicot memiliki banyak sekali manfaatnya dari cangkang, daging,

    hingga lendirnya. Bekicot merupakan sumber protein hewani yang

    bermutu tinggi dengan kandungan sekitar 40% nya adalah protein dan

    kurang dari 3% adalah lemak (F. Aboua, 1990), di dalamnya juga

    mengandung asam amino esensial yang lengkap disamping itu juga

    memiliki kandungan zat besi yang tinggi (Udofia, U.S, 2009).

    Dari sebuah penelitian J. Jeong et all (2001) yang menganalisa tentang

    kandungan lendir dari bekicot (Achatina fulica) bahwa lendirnya terdapat

    kandungan dari komponen utama protein dan glikosaminoglikan.

    Glikosaminoglikan yang terisolasi dari bekicot (Achatina fulica) ini

  • 7

    merupakan golongan heparin dan heparin sulfat. Glikosaminoglikan

    merupakan turunan dari proteoglikan yang merupakan pengontrol aktif

    fungsi sel, berperan pada interaksi matriks sel, proliferasi fibroblast,

    spesialisasi, dan migrasi. Glikosaminoglikan ini disekresi oleh granula

    granula yang terletak di dalam tubuh dan di permukaan tubuh bekicot

    (Kim et al., 1996. Sen et al., 2002).

    2.2 Kulit

    2.2.1 Anatomi Kulit

    Kulit merupakan organ tubuh yang paling superficial yang langsung

    membatasi tubuh dengan dunia luar lingkungan hidup manusia. Kulit juga

    merupakan cerminan dari kebersihan dan kesehatan dari individu. Kulit ini

    sangatlah bervariasi tergantung pada keadaan iklim, suhu, suku, ras dan juga

    bergantung pada lokasi tubuh (Syarif M.W, 2007).

    Kulit adalah organ yang luas dengan berat sekitar 4 kg dan luas sekitar 2

    meter persegi. Ini memiliki fungsi utama yakni untuk proteksi, absorpsi,

    ekskresi, persepsi, pengaturan suhu tubuh atau termogulasi, pembentukan

    pigmen, pembentukan vitamin D, dan keratinasi (Syarif M.W, 2007). Kulit ini

    memiliki 3 lapisan struktural diantaranya lapisan epidermis, lapisan dermis,

    dan lapisan subkutis (Abdullah, B., 2009). Seperti yang terdapat pada gambar

    2.2 dibawah ini :

  • 8

    (www.dreamstime.com)

    Gambar 2.2

    Anatomi Kulit Normal

    2.2.1.1 Epidermis

    Epidermis adalah lapisan terluar dari kulit yang memiliki tebal sekitar 0,05

    0,2 mm, lapisan ini terdiri 5 lapisan yang dimulai dari lapisan paling bawah

    yaitu stratum basale hingga yang paling atas yaitu stratum korneum. Seperti

    yang tampak pada gambar 2.3.

    (sumber : www.dreamstime.com)

    Gambar 2.3

    Anatomi Epidermis Kulit, Lapisan Terluar

    http://www.dreamstime.com/
  • 9

    Sel pada epidermis ini melakukan pembelahan sel dan berdiferensiasi sel.

    Pembelahan dan diferensisasi terjadi pada sel basal di stratum basalis yang

    akan berdiferensiasi pada lapisan diatasnya, dan akhirnya menjadi sel mati

    yang berisi keratin di stratum korneum. Proses ini membutuhkan waktu sekitar

    2 minggu untuk bermigrasi dari stratum basalis ke stratum granulosum dan

    membutuhkan waktu 2 minggu untuk stratum korneum berdeskuamasi

    (Abdullah. B , 2009).

    Stratum basalis adalah lapisan kulit terbawah yang terdiri dari sel sel

    berbentuk kubus atau kolumnar (Syarif M.W, 2007). Suatu sel di stratum

    basale membutuhkan waktu sekitar 8- 10 minggu untuk mencapai di

    permukaan epidermis dan sel sel yang hilang diatasnya akan tertutupi dengan

    sel sel yang diproduksi oleh sel sel yang membelah dan berdiferensiasi dari

    lapisan stratum basalis sehingga ketebalan epidermis tetap, hal ini

    dipertahankan oleh stimulator stimulator dan inhibitor inihibitor

    pertumbuhan seperti EGF serta TGF- dan TGF- Transforming Growth

    Factor Alfa dan Beta (Brown, R.G, Tony, B., 2005)

    Stratum spinosum adalah lapisan kulit terletak di atas stratum basalis yang

    terdiri dari sel keratinosit yang memproduksi keratin sebagai komponen

    protein utama zat tanduk stratum korneum. Lapisan ini seperti gambaran paku

    yang dapat menghubungkan sel- sel yang berdekatan. Banyak tersebar sel

    sel Langerhans yang merupakan modifikasi dari makrofag berasal dari

    sumsum tulang dan bermigrasi ke epidermis. Sel-sel ini merupakan pertahanan

    imunologis lini pertama (Brown, R.G, Tony, B., 2005)

  • 10

    Stratum granulosum adalah lapisan diatas dari lapisan spinosum yang

    berbentuk semakin pipih. Di lapisan ini masih terdapat mekanisme

    diferensiasi. Selain itu sel ini juga berisi bentukan granular yang terdiri dari

    keratohialin yang dapat membantu pembentukan cement untuk mengikat sel

    stratum korneum satu dengan yang lain (Abdullah, B., 2009)

    Stratum korneum adalah lapisan terluar dari epidermis yang mengalami

    keratinisasi, saling berdekatan saling tumpang tindih dibagian tepi. Lapisan

    inilah yang berfungsi sebagai barrier utama kulit dari lingkungan luar.

    Ketebalannya sendiri bervariasi tergantung letaknya pada tubuh (Brown, G, et

    al, 2005., Benny Abdullah, 2009)

    2.2.1.2 Dermis

    Dermis adalah lapisan jaringan ikat yang terletak di bawah epidermis, dan

    merupakan bagian terbesar dari kulit. Lapisan dermis dengan epidermis saling

    mengikat melalui penonjolan penonjolan epidermis ke bawah (rete ridge)

    dan penonjolan epidermis ke atas (dermal papillae). Lapisan ini sebagian besar

    terdiri dari serat serat kolagen dan elastin yang merupakan protein, terbenam

    pada area dasar yang terdiri dari mukopolisakarida (glikosaminoglikan).

    Dermis juga banyak mengandung pembuluh darah, limfe, saraf, dan reseptor

    sensoris (Brown, R.G, Tony, B., 2005)

    2.2.1.3 Subkutis

    Lapisan lanjutan dari dermis yang terdiri atas jaringan ikat longgar berisi

    sel sel lemak di dalamnya. Lapisan sel sel lemak ini disebut panikulus

    adipose yang berfungsi sebagai cadangan makanan . Di lapisan ini juga

    terdapat ujung syaraf tepi, pembuluh darah, dan getah bening. Tebal tipisnya

  • 11

    jaringan lemak bervariasi tergantung lokasinya seperti contohnya lapisan di

    perut ketebalannya 3cm dan di daerah kelopak mata serta penis sangatlah

    sedikit (Syarif M.W, 2007).

    2.2.2 Fungsi Kulit

    Kulit memiliki fungsi yang bermacam - macam bagi tubuh diantaranya :

    a) Fungsi proteksi

    Kulit menjaga bagian dalam tubuh dari berbagai macam gangguan

    tubuh baik mekanis maupun fisis misalnya gesekan, tarikan, gangguan

    infeksi dari luar terutama dari kuman/ bakteri maupun jamur. Hal ini

    memungkinkan karena adanya bantalan lemak, tebalnya lapisan kulit

    dan serabut-serabut jaringan penunjang yang berperan sebagai

    pelindung terhadap gangguan fisis. Kulit juga menekskresi keringat dan

    sebum, yang menyebabkan pH kulit berkisar 5-6.5 sehingga dapat

    menjadi perlindungan kimiawi terhadap infeksi bakteri maupun jamur

    (Syarif M.W, 2007).

    b) Fungsi absorpsi

    Permiabilitas kulit terhadap O2, CO2, dan uap air memungkinkan

    kulit ikut mengambil bagian dari fungsi respirasi. Penyerapan dapat

    berlangsung melalui celah antara sel, menembus sel-sel epidermis atau

    melalui muara saluran kelenjar (Syarif M.W, 2007).

    c) Fungsi ekskresi

    Kelenjar kelenjar kulit mengeluarkan zat zat yang sudah tidak

    berguna lagi bagi tubu atau sisa sisa metabolisme dalam tubuh berupa

    NaCl, urea, asam urat, dan ammonia (Syarif M.W, 2007).

  • 12

    d) Fungsi persepsi

    Kulit mengandung ujung ujung saraf sensorik di dermis dan

    subkutis. Terhadap ransangan panas diperankan oleh badan-badan

    Ruffini di dermis dan subkutis. Terhadap dingin diperankan oleh badan

    badan Krause yang terletak di dermis. Terhadap rabaan diperankan

    oleh taktil Meissner di papilla dermis dan Merkel Ranvier di epidermis.

    Serta terhadap tekanan oleh Vater Paccini di epidermis (Syarif M.W,

    2007).

    e) Fungsi pengaturan suhu tubuh

    Kulit mengatur suhu tubuh dengan mengeluarkan keringat dan

    mengerutkan (otot berkontraksi) pembuluh darah kulit (Syarif M.W,

    2007).

    f) Fungsi pembentukan pigmen

    Sel yang membentuk pigmen terdapat di lapisan basal yaitu

    melanosit. Sel melanosit inilah yang memproduksi melanosom yang

    menentukan warna kulit masing masing individu (Syarif M.W, 2007).

    g) Fungsi keratinasi

    Pada lapisan epidermis terdapat 3 sel utama yaitu sel Langerhans,

    sel melanosit, dan sel keratinosit. Sel keratinosit ini mengadakan

    pembelahan dari sel basal yang berpindah ke atas dan berubah

    bentuknya menjadi sel spinosum, makin keatas makin gepeng dan

    bergranula menjadi sel granulosum dan makin lama inti makin

    menghilang dan keratinosit menjadi sel tanduk (Syarif M.W, 2007).

  • 13

    h) Fungsi pembentukan vitamin D

    Mengubah 7 hidroksi kolesterol dengan pertolongan sinar matahari

    (Syarif M.W, 2007).

    2.3 Luka bakar

    2.3.1 Definisi

    Luka bakar adalah kerusakan atau kehilangan jaringan yang

    disebabkan oleh adanya kontak dengan api, air panas, listrik, bahan kimia,

    dan radiasi. Luka bakar sendiri merupakan suatu jenis trauma dengan

    morbiditas dan mortalitas yang tinggi oleh karena itu diperlukan

    penatalaksanaan yang khusus sejak awal sampai fase lanjut. Dalam

    perjalanannya luka bakar terdapat 3 fase yaitu fase awal, fase akut, dan

    fase syok. Pada fase awal inilah yang perlu diperhatikan karena disini

    dapat terjadi gangguan keseimbangan sirkulasi cairan dan elektrolit yang

    dapat bersifat sistemik (Yefta Moenadjat, 2005).

    2.3.2 Patofisiologi

    Penyebab luka bakar adalah karena adanya perpindahan energy sumber

    panas ke tubuh, perpindahan ini dapat melalui konduksi atau

    elektromagnetik. Kulit dengan luka bakar dapat mengalami kerusakan di

    ketiga lapisan struktural kulit yang dapat menyebabkan kerusakan atau

    gangguan integritas kulit hingga kematian sel-sel kulit, ini tergantung pada

    lama paparan dengan sumber panas (Chrintine Effendy, 2000)

    Gangguan sirkulasi pada luka bakar disebabkan oleh perubahan

    permiabilitas kapiler, perubahan onkotik dan hidrostatik yang kemudian

    diikuti oleh ekstravasasi cairan dengan tanda hipovolemik dan

  • 14

    penimbunan cairan di jaringan intertisiel (Edema) (Yefta moenadjat,

    2005).

    Luka bakar mayor dapat menyebabkan beberapa gangguan fisiologis

    tubuh diantaranya adanya peningkatan pelepasan katekolamin yang

    menyebabkan vasokonstriksi yang akan memberikan efek signifikan pada

    aliran ginjal dan aliran limpa ke hepar, adanya peningkatan sekresi

    aldosterone oleh adrenal yang menyebabkan retensi Na+

    , adanya

    kehilangan H2O yang dapat menyebabkan hipovolemi, adanya

    peningkatan laju metabolic sehingga kebutuhan akan O2 meningkat,

    adanya penurunan sel darah merah, dan yang terakhir penyebabkan adanya

    peningkatan pada faktor depresan miokard yang dapat menurunkan curah

    jantung sehingga dapat membawa tubuh dalam keadaan yang asidosis

    (Hudak & Gallo, 2000).

    2.3.3 Klasifikasi

    Terdapat beberapa cara dalam mengklasifikasikan luka bakar

    diantaranya berdasarkan mekanisme atau penyebab, derajat dan kedalaman

    luka, serta jangkuan luka (WHO, 2008).

    2.3.3.1 Berdasarkan mekanisme atau penyebab

    a) Thermal burn yang ditunjukan dengan adanya :

    - Kulit melepuh, disebabkan oleh cairan atau uap panas.

    - Luka bakar kontak, disebabkan oleh benda padat seperti setrika,

    alat- alat masak, hingga rokok.

    - Nyala api, disebabkan oleh benda- benda dengan api yang

    menyala seperti rokok, lilin, lampu, kompor, dll.

  • 15

    - Luka bakar zat kimia, disebabkan oleh terpapar zat kimia yang

    reaktif

    - Luka bakar elektrik, disebabkan oleh kontak langsung dengan

    benda-benda elektrik yang panas (WHO, 2008).

    b) Inhalational burn yang disebabkan oleh menghirup gas panas, cairan

    panas atau produk produk berbahaya hasil dari pembakaran yang

    belum sempurna. Produk produk tersebut menyebabkan luka secara

    termal dan kimia pada jalan nafas dan paru. Telah terdapat 20% - 35%

    kasus dan sebagai penyebab utama kematian (WHO, 2008).

    2.3.3.2 Berdasarkan derajat dan kedalam

    a) Luka bakar derajat satu atau luka bakar superfisial yang didefinisikan

    sebagai luka bakar hingga epidermis serta adanya respon inflamasi.

    Pada umumnya disebabkan oleh paparan dari sun burn atau berkontak

    langsung dengan benda panas, cairan, atau nyala api. Penyembuhan

    pada derajat pertama sekitar selama 1 minggu tanpa adanya perubahan

    yang permanen (WHO, 2008).

    b) Luka bakar derajat dua atau partial thickness yang dapat merusak

    hingga lapisan dermis kulit serta dapat membuat destruksi pada

    beberapa elemen elemen kulit. Luka bakar derajat dua terbagi

    menjadi:

    - Luka bakar derajat dua superfisial, membutuhkan kurang dari 3

    minggu dalam penyembuhan

  • 16

    - Luka bakar derajat dua deep, membutuhkan lebih dari 3 minggu

    untuk penutupan luka dan terlihat bekas luka yang hipertrofi

    (WHO, 2008).

    c) Luka bakar derajat tiga atau full thickness yang merusak lapisan

    epidermis, dermis, subkutis hingga folikel folikel rambut. Pada derajat

    ini, luka bakar tidak dapat meregenerasi sendiri tanpa adanya grafting

    kulit (WHO, 2008).

    2.3.3.3 Berdasarkan jangkauan luka

    Biasanya diukur berdasarkan total luas permukaan tubuh yang terbakar.

    Beberapa metode mengatakan jangkauan diukur berdasarkan Rules of

    Nine yaitu 9% daerah kepala dan leher, 9% masing- masing lengan

    (termasuk tangan ), 18% masing masing kaki (termasuk telapak kaki), dan

    18% masing sisi dari badan (punggung, dada, dan perut). Rules of Nine

    ini berlaku untuk dewasa dan anak anak lebih dari 10 tahun (WHO,

    2008).

    2.4 Fase Penyembuhan Luka

    Penyembuhan luka adalah proses yang spontan yang membutuhkan faktor

    faktor tertentu yang terinisiasi. Pola penyembuhan luka sendiri di sebabkan

    oleh diantaranya sitokin, endokrin, dan perawatan secara farmakologi pada

    lingkungan luka (Pudner, R, 2005).

    2.4.1 Fase Inflamasi

    Fase ini merupakan fase awal terjadinya reaksi terhadap luka terjadi.

    Terdapat beberapa respon dari jaringan di tempat luka dengan ditunjukan

    melalui respon inflamasi akut. Jaringan dan sel yang luka akan mengalami

  • 17

    tahap tahap seperti pendaharan yang diikuti dengan fase pembekuan

    darah, inflamasi dari sitokin yang dilepaskan oleh sel yang membangkak,

    peningkatan permiabilitas kapiler, edema interseluler, dan adanya migrasi

    sel sel leukosit menuju area yang terluka, serta adanya proses fagositosis

    sel-sel mati dan debris oleh makrofag. Proses inflamasi ini berlangsung

    sekitar 3 hari yang kecepatan penyembuhannya dapat dipengaruhi oleh

    banyak faktor (Pudner, R, 2005).

    2.4.2 Fase Reparasi

    Fase ini merupakan perkembangan dari fase sebelumnya, namun pada

    fase ini terjadi regenerasi dari sel seperti peningkatan produksi kolagen

    dan adanya proliferasi sel sel hidup untuk menutupi defek (Pudner, R,

    2005).

    Pembuluh darah kapiler mulai terbentuk di daerah luka untuk memberi

    pasokan darah baru, sel sel baru seperti fibroblast untuk memproduksi

    kolagen, kemudian kolagen ekstraseluler mulai terdeposit. Deposit

    kolagen ini dimulai setelah fase inflamasi hingga puncaknya pada hari ke-

    5 (Young A, et al, 2011). Kemudian dengan banyaknya kapiler, fibroblast,

    dan kolagen maka kulit disekitar luka akan berkontraksi (Pudner, R,

    2005). Luka mulai berkontraksi pada hari ke-7 (Young A, et al, 2011).

    2.4.3 Fase Konsolidatif

    Setelah deposit kolagen berhasil, vaskularisasi luka akan berkurang dan

    permukaan luka akan lebih pucat. Untuk luka yang terbuka, jarak yang

    timbul antar epitel akan secara bertahap menutup dikarenakan kontraksi

  • 18

    namun bekas luka akan tetap ada dikarenakan adanya repitelisasi (Pudner,

    R, 2005).

    2.5 Debridement

    2.5.1 Definisi Debridement

    Debridement adalah pengangkatan jaringan mati dan

    terkontaminasi dari sebuah luka untuk mendukung keberhasilan

    penyembuhan luka, dengan cara membersihkan jaringan nekrotik, eschar,

    jaringan yang terinfeksi, debris, hyperkeratosis dll (Strohal, R., et al,

    2013).

    2.5.2 Macam-Macam Teknik Debridement

    2.5.2.1 Mechanical Debridement

    Teknik debridement ini sering dan telah lama digunakan di USA.

    Teknik ini menggunakan metode wet to dry dengan menggunakan kassa

    yang diaplikasikan dipermukaan luka sehingga jaringan yang nekrotik bisa

    terangkat bersama kassa yang diangkat setelah diaplikasikan (Strohal, R.,

    et al, 2013).

    2.5.2.2 Autolytic Debridement

    Debridement secara natural dengan menjaga kelembapan luka yang

    akan melepaskan enzim proteolitik endogen seperti kolagen, elastase,

    mieloperoksidase, asam hidroksilase atau lisosim dan mengaktifkan

    fagosit. Enzim-enzim ini yang akan menghancurkan jaringan nekrotik

    sehingga dapat dicerna oleh makrofag, contohnya pada bahan hydrogel

    (Strohal, R., et al, 2013).

  • 19

    2.5.2.3 Larvae Debridement

    Salah satu teknik mechanical debridement dengan menggunakan

    larva atau ulat atau belatung steril yang diletakkan diluka nekrosis

    sehingga dapat menurunkan perkembangan dari bakteri pada luka tersebut

    dikarenakan hasil sekresi dari larva yang mengandung antibacterial.

    Dengan demikian dapat mendukung kesembuhan luka dan aktivitas

    fibroblast (Strohal, R., et al, 2013).

    2.5.2.4 Surgical Debridement

    Teknik ini menggunakan prosedur bedah dengan membersihkan

    jaringan menggunakan scalpel atau gunting bedah serta dilakukan dengan

    anastesi dan alat-alat bedah yang lain. Dilakukan jika tidak dapat teratasi

    oleh teknik debridement yang lain (Strohal, R., et al, 2013).