Click here to load reader

BAB II KAJIAN TEORI A. Tinjauan Umum a. Product-Oriented Campaign Kegiatan dalam kampanye berorientasi pada produk, dan biasanya dilakukan dalam kegiatan komersial kampanye promosi

  • View
    224

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of BAB II KAJIAN TEORI A. Tinjauan Umum a. Product-Oriented Campaign Kegiatan dalam kampanye...

10

BAB II

KAJIAN TEORI

A. Tinjauan Umum

1. Perancangan

Menurut Al-Bahra Bin Ladjamudin dalam bukunya yang berjudul Analisis

& Desain Sistem Informasi (2005 : 39), menyebutkan bahwa : Perancangan

adalah suatu kegiatan yang memiliki tujuan untuk mendesign sistem baru yang

dapat menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi perusahaan yang diperoleh

dari pemilihan alternatif sistem yang terbaik.

Menurut My Earth dalam makalahnya yang berjudul Perancangan sistem

dan Analisis, menyebutkan bahwa: Perancangan adalah suatu kegiatan membuat

desain teknis berdasarkan evaluasi yang telah dilakukan pada kegiatan analisis.

Berdasarkan definisi di atas, kita dapat menarik kesimpulan bahwa

perancangan merupakan suatu pola yang dbuat untuk mengatasi masalah yang

dihadapi perusahaan atau organisasi setelah melakukan analisis terlebih dahulu.

2. Kampanye Sosial

Kampanye menurut Kamus besar Bahasa Indonesia berarti suatu gerakan

(tindakan) serentak (untuk melawan, mengadakan aksi). Sedangkan sosial adalah

semua hal yang berkenaan dengan masyarakat. Kampanye sosial merupakan suatu

gerakan yang dilakukan untuk mengubah perilaku sesuatu yang berkenaan dengan

11

kelompok masyarakat agar menuju ke arah tertentu sesuai dengan gerakan yang di

laksanakan oleh pembuat kampanye.

Pengertian kampanye secara umum menampilkan suatu kegiatan yang

bertitik tolak untuk membujuk. Kampanye menurut Lesie B. Snyder (2002),

kampanye komunikasi merupakan aktivitas komunikasi yang terorganisasi, secara

langsung situnjukan khalayak tertentu, pada periode waktu yang telah ditetapkan

untuk mencapai tujuan tertentu, pada periode waktu yang telah ditetapkan untuk

mencapai tujuan tertentu. Roger dan Storey (1987) mendefinisikan kampanye

sebagai serangkaian kegiatan komunikasi yang terorganisasi dengan tujuan untuk

menciptakan dampak tertentu terhadap sebagian besar khalayak sasaran secara

berkelanjutan dalam periode waktu tertentu. (Ruslan, 2003:23) Aktivitas

komunikasi dalam berkampanye biasanya berkaitan dengan suatu kepentingan dan

tujuan apa, siapa khalayak sasarannya, dalam rangka kegiatan apa, untuk

membujuk atau bahkan memotivasi khalayak. Dalam berbagai kegiatan tersebut

terdapat beberapa jenis program kampanye yang dilaksanakan secara prinsip

merupakan kegiatan yang bertitik tolak untuk memotivasi atau membujuk dan

mencapai tujuan tertentu. Menurut Charles U. Larson dalam bukunya, Persuasion,

Reception, and Responsibility (1992) membagi jenis-jenis kampanye kegiatan

menjual produk, kandidat, dan ide atau gagasan perubahan sosial, yaitu sebagai

berikut:

12

a. Product-Oriented Campaign

Kegiatan dalam kampanye berorientasi pada produk, dan

biasanya dilakukan dalam kegiatan komersial kampanye promosi

pemasaran suatu peluncuran produk yang baru.

b. Candidate-Oriented Campaign

Kegiatan kampanye yang berorientasi bagi calon (kandidat)

untuk kepentingan kampanye politik.

c. Ideologi or Cause-Oriented Campaign

Jenis kampanye ini berorientasi yang bertujuan bersifat khusus

dan berdimensi perubahan sosial.

Kampanye merupakan sebuah aktivitas promosi berupa pesan-pesan serial

bertema yang terencana dari sebuah merek kepada sasaran yang spesifik melalui

beragam alat komunikasi dalam sebuah periode tertentu. Ciri-ciri kampanye

diantaranya berkesinambungan, sasaran dapat melihat/mendengar/membaca hanya

satu tema dari beragam alat komunikasi. Rice dan Paisley menyebutkan bahwa

kampanye adalah keinginan seseorang untuk mempengaruhi kepercayaan dan

tingkah laku orang lain dengan daya tarik komunikatif. Tujuan kampanye adalah

menciptakan perubahan atau perbaikan dalam masyarakat. Oleh karena itu,

Rice dan Paisley menyebutkan bila dalam suatu lingkungan sosial terjadi

perubahan atau perbaikan maka kampanye telah berlangsung di lingkungan

tersebut (Rachmadi, 1994:134). Tiga tahapan yang perlu diperhatikan dalam

kampanye yaitu:

13

a. Pendidikan

Pada tahap ini isi kampanye diarahkan untuk mendidik masyarakat

b. Perencanaan

Di sini disiapkan berbagai hal sebelum kampanye dilaksanakan

c. Pelaksanaan

Hal ini dimaksudkan mengatur sanksi bagi pelanggar aturan. Sebagai

contoh, jika kita melancarkan kampanye anti merokok dan bahayanya

terhadap kesehatan, kita harus memberikan penerangan-penerangan

yang bersifat mendidik melalui media massa atau brosur-brosur kepada

masyarakat. Kemudian kampanye harus diikuti oleh tahap perencanaan.

Tahapan ketiga, pelaksanaan (enforcement), perlu ada peringatan keras

ataupun ancaman denda atau ancaman hukuman.

Dalam bukunya, Rachmadi (1994:135), dalam melaksanakan kampanye

ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan, antara lain:

a. Perkirakan terlebih dahulu kebutuhan, tujuan yang akan dicapai, dan

kemampuan dari khalayak sasaran.

b. Rencanakan kampanye secara sistematis.

c. Lakukan evaluasi secara terus-menerus.

d. Gunakan media massa dan komunikasi interpresonal.

e. Pilihlah media massa yang tepat untuk mencapai khalayak sasaran.

14

Sebelum profesional hubungan masyarakat memutuskan bagaimana dan

apa yang dikomunikasikan ke satu publik spesifik, situasi dan khalayaknya harus

diteliti dan dianalisis. Kampanye hubungan masyarakat biasanya dijalankan

menggunakan rumus R-A-C-E (research, analyze, create, dan evaluate). Pada

tahap riset, satu tim hubungan masyarakat bisa melakukan jajak pendapat dan

survei untuk menentukan sikap khalayak sekarang terhadap sebuah perusahaan,

produk, atau masalah. Setelah sikapnya dipahami, satu kampanye akan

direncanakan untuk menyampaikan tujuan-tujuan organisasi. (Lee & Johnson,

2004:365)

Pelaksanaan kampanye selalu berupa kelompok bukan individual, seperti

partai politik, pemerintah, lembaga, atau perusahaan. Satu hal yang perlu dicatat

adalah, kesuksesan suatu kampanye selalu dipengaruhi oleh seberapa jauh

kelompok tersebut dikenal di lingkungan khalayak, dan seberapa banyak pesan

kampanye itu disebarluaskan melalui beberapa media sekaligus. Apakah

kampanye diterima khalayak atau tidak, sangat bergantung dari jenis saluran

komunikasi yang digunakan, dan juga tergantung dari isi pesan kampanye

tersebut.

Isi pesan kampanye terkadang terhalang penyampaiannya kepada

khalayak. Hal ini disebabkan oleh tingkat kepentingan khalayak terhadap pesan

yang disampaikan. Di samping itu pesan selalu ditafsirkan sesuai dengan persepsi

khalayak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi yang berbeda dapat

mengakibatkan berbalik menentang. Oleh karena itu, para pelaksana kampanye

harus menghindarkan hal-hal yang dapat menimbulkan counter effect, yang

15

berakibat khalayak berbalik menentang dan tidak akan mengikuti/ menjalankan

pesan kampanye.

Walaupun pada intinya kegiatan kampanye bertitik tolak dengan tindakan

komunikasi persuasif dalam arti luas, namun bukan persuasif untuk tujuan

perorangan, dan paling tidak terdapat empat aspek komunisuasif dalam kegiatan

kampanye (Ruslan, 2005:27), yaitu sebagai berikut:

a. Kampanye secara sistematis berupaya menciptakan ruang tertentu

dalam benak pikiran khalayak mengenai tanggapan produk, kandidat,

dan suatu ide atau gagasan program tertentu bagi kepentingan khalayak

sasaran.

b. Kampanye berlangsung melalui berbagai tahapan-tahapan, yaitu

dimulai dari menarik perhatian, tema kampanye digencarkan,

memotivasi, dan mendorong untuk bertindak, serta berpartisipasi

khalayak sasaran melakukan tindakan yang nyata.

c. Kampanye harus mampu mendramatisasi tema pesan atau gagasan-

gagasan yang diekspos secara terbuka dan mendorong partisipasi

khalayak sasaran untuk terlibat, baik secara simbolis maupun praktis

untuk mencapai tujuan dari tema kampanye tersebut.

d. Keberhasilan atau tidaknya popularitas suatu pelaksana kampanye

tersebut melalui kerjasama dengan pihak media massa untuk

menggugah perhatian, kesadaran, dukungan dan mampu mengubah

perilaku atau tindakan nyata dari khalayaknya.

16

B. Tinjauan Khusus

1. Media

Media dapat berarti suatu bentuk dan saluran yang dapat digunakan dalam

suatu proses penyajian informasi (AECT, 1977:162). Kata Media merupakan

bentuk jamak dari Medium dari bahasa Latin Medius, yang berarti tengah.

Dalam bahasa Indonesia kata Medium berarti Antara atau Sedang,

sehingga pengertian media dapat mengarah pada sesuatu yang mengantar atau

meneruskan informasi antara sumber dan pemberi pesan.

Media pembelajaran adalah bahan, alat, maupun metode/teknik yang

digunakan dalam kegiatan belajar mengajar dengan maksud agar proses interaksi

komunikasi edukatif antar pengajar dan yang belajar dapat berlangsung dengan

efisien dan efektif sesuai dengan tujuan pengajaran yang diinginkan. Azhar

Arsyad (2011:4) mengutip dari Heinich, media pembelajaran adalah perantara

yang membawa pesan atau informasi bertujuan instruksional atau mengandung

maksud-maksud peng

Search related