Click here to load reader

Hak Euthanasia dalam perspektif hukum indonesia

  • View
    22

  • Download
    2

Embed Size (px)

DESCRIPTION

EUTHANASIA

Text of Hak Euthanasia dalam perspektif hukum indonesia

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Warahmatullah WabarakatuhPuji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah, SWT, karena berkat rahmat dan karuniaNYA penulis dapat menyelesaikan Makalah ini yang berjudul Euthanasia di tinjau dari segi Etis, Hukum HAM dan Agama Islam.

Penyusunan makalah ini merupakan salah satu metode pembelajaran pada mata kuliah Hukum dan HAM di Program Studi Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Mataram.

Dalam penyusunan makalah ini penulis menyadari masih jauh dari sempurna,untuk itu sangat diharapkan saran dan kritik yang sifatnya konstruktif dari semua pihak untuk perbaikan makalah ini.

Akhirnya penulis berharap semoga makalah ini bermanfaat bagi yang membaca dan bagi pengembangan ilmu hukum khususnya Hukum HAM.

Mataram, 18 September 2014

Penulis

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL.......................................................................................... iKATA PENGANTAR....................................................................................... iiDAFTAR ISI...................................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang................................................................................................... 31.2. Perumusan Masalah........................................................................................... 41.3. Tujuan ................................................................................................................41.4. Pembatasan Masalah......................................................................................... 4

BAB II PEMBAHASAN2.1. Pengertian Euthanasia........................................................................................ 52.2.Jenis-jenis Euthanasia....................................................................................... 72.3. Tinjauan Etis Euthanasia...................................................................................92.4. Tinjauan Hukum HAM terhadap Euthanasia....................................................112.5. Tinjauan Islam terhadap Euthanasia.................................................................15

BAB III PENUTUPA. Kesimpulan ........................................................................................................23B. Saran ............................................................................................................... 24DAFTAR PUSTAKA.........................................................................................25

BAB IPENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANGAda dua masalah dalam bidang kedokteran atau kesehatan yang berkaitan dengan aspek hukum yang selalu aktual dibicarakan dari waktu ke waktu, sehingga dapat digolongkan ke dalam masalah klasik dalam bidang kedokteran yaitu tentang abortus provokatus dan euthanasia. Dlam lafal sumpah dokter yang disusun oleh Hippokrates (460-377 SM), kedua masalah ini telah ditulis dan telah diingatkan. Sampai kini tetap saja persoalan yang timbul berkaitan dengan masalah ini tidak dapat diatasi atau diselesaikan dengan baik, atau dicapainya kesepakatan yangdapat diterima oleh semua pihak. Di satu pihak tindakan abortus provokatus dan euthanasia pada beberapa kasus dan keadaan memang diperlukan sementara di lain pihak tindakan ini tidak dapat diterima, bertentangan dengan hukum, moral dan agama.Euthanasia dalam perspektif HAM[footnoteRef:1] merupakan pelanggaran karena menyangkut hak hidup dari pasien yang harus dilindungi. Dilihat dari segi perundang-undangan dewasa ini, belum ada pengaturan yang baru dan lengkap tentang euthanasia. Adapun Pasal yang dapat dipakai sebagai landasan hukum guna pembahasan selanjutnya adalah apa yang terdapat dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Indonesia, khususnya pasal-pasal yang membicarakan masalah kejahatan yang menyangkut jiwa manusia. Pasal yang paling mendekati dengan masalah tersebut peraturan hukum yang terdapat dalam buku ke-2, Bab IX Pasal 344 KUHP. [1: Irna Tilamuhu, Euthanasia Ditinjau Dari Aspek Hukum dan Hak Asasi Manusia < http://irnatilamuhu.blogspot.com/2012/03/euthanasia-ditinjau-dari-aspek-hukum.html, diakses tanggal 15 September 2014. ]

Hak hidup harus dilindungi oleh negara terutama negara hukum. Itulah sebabnya negara hukum yang baik menjunjung tinggi hak asasi manusia. Hak asasi manusia dengan negara hukum tidak dapat dipisahkan. Pengakuan dan pengukuhan negara hukum salah satu tujuannya yaitu melindungi hak asasi manusia, berarti hak dan sekaligus kebebasan perseorangan diakui, dihormati dan dijunjung tinggi. Menyangkut jiwa manusia dalam KUHP terdapat pada Pasal 338, 339, 340, 341. Selain dapat membaca bunyi pasal-pasal itu sendiri, kita pun dapat mengetahui bagaimana pembentuk Undang-undang memandang jiwa manusia. Secara singkat, dari sejarah pembentukan KUHP dapat diketahui, bahwa pembentuk undang-undang pada saat itu (zaman Hindia Belanda) menganggap jiwa manusia sebagai miliknya yang paling berharga, dibandingkan dengan milik manusia yang lainnya.

1.2. RUMUSAN MASALAH1.2.1. Apa pengertian dari Euthanasia?1.2.2. Apa saja jenis-jenis Euthanasia?1.2.3. Bagaimana tinjauan Etis terhadap Euthanasia?1.2.4. Bagaimana tinjauan Yuridis terhadap Euthanasia?1.2.5. Bagaimana tinjauan Euthanasia dalam Agama Islam

1.3. TUJUAN1.3.1. Untuk mengetahui pengertian dari Euthanasia1.3.2. Untuk mengetahui jenis-jenis Euthanasia1.3.3. Untuk mengetahui tinjauan etis tehadap euthanasia1.3.4. Untuk mengetahui tinjauan Yuridis terhadap euthanasia1.3.5. Untuk mengetahui tinjauan euthanasia dalam Agama Islam

1.4.METODE PENULISANDalam penulisan makalah ini penulis menggunakan metode kepustakaan.

BAB IIPEMBAHASAN

2.1. PENGERTIAN EUTHANASIAIstilah euthanasia[footnoteRef:2] berasal dari bahasa Yunani, yaitu eu dan thanatos. Kata eu berarti baik, tanpa penderitaan dan thanatos berarti mati. Dengan demikian euthanasia dapat diartikan mati dengan baik tanpa penderitaan. Ada yang menerjemahkan mati cepat tanpa derita. [2: http://id.wikipedia.org/wiki/Euthanasia diakses pada tanggal 15 September 2014 ]

Euthanasia dikenal sebagai tindakan seseorang untuk mengakhiri hidupnya sendiri lantaran kehilangan peluang dan harapan[footnoteRef:3]. Hal ini biasanya dilakukan oleh penderita penyakit parah dengan peluang hidup yang sangat kecil. Tindakannya sendiri berupa suntik mati demi menepis penderitaan yang berkepanjangan. [3: Denissa Ningtyas, Euthanasia, < http://www.slideshare.net/densyaa/euthanesia,diakses tanggal 15 September 2014. ]

Secara etimologis euthanasia berarti kematian dengan baik tanpa penderitaan[footnoteRef:4], maka dari itu dalam mengadakan euthanasia arti sebenarnya bukan untuk menyebabkan kematian, namun untuk mengurangi atau meringankan penderitaan orang yang sedang menghadapi kematiannya. Dalam arti yang demikian itu euthanasia tidaklah bertentangan dengan panggilan manusia untuk mempertahankan dan memperkembangkan hidupnya, sehingga tidak menjadi persoalan dari segi kesusilaan. Artinya dari segi kesusilaan dapat dipertanggungjawabkan bila orang yang bersangkutan menghendakinya. [4: http://kiunissula.wordpress.com/2007/09/15/euthanasia-hak-untuk-mati/,diakses pada tanggal 15 September 2014]

Akan tetapi dalam perkembangan istilah selanjutnya, euthanasia lebih menunjukkan perbuatan yang membunuh karena belas kasihan, maka menurut pengertian umum sekarang ini, euthanasia dapat diterangkan sebagai pembunuhan yang sistematis karena kehidupannya merupakan suatu kesengsaraan dan penderitaan. Inilah konsep dasar dari euthanasia yang kini maknanya berkembang menjadi kematian atas dasar pilihan rasional seseorang, sehingga banyak masalah yang ditimbulkan dari euthanasia ini. Masalah tersebut semakin kompleks karena definisi dari kematian itu sendiri telah menjadi kabur.Beberapa pengertian tentang terminologi euthanasia:a. Menurut hasil seminar aborsi dan euthanasia ditinjau dari segi medis, hukum dan psikologi, euthanasia diartikan[footnoteRef:5]: [5: Arli Aditya Parikesit, Euthanasia dan Kematian Bermartabat: Suatu tinjauan Bioetika, dalam http://netsains.com/2007/11/euthanasia-dan-kematian-bermartabat-suatu-tinjauan-bioetika/ diakses pada 15 September 2014]

Dengan sengaja melakukan sesuatu untuk mengakhiri hidup seorang pasien. Dengan sengaja tidak melakukan sesuatu (palaten) untuk memperpanjang hidup pasienDilakukan khusus untuk kepentingan pasien itu sendiri atas permintaan atau tanpa permintaan pasien.b. Menurut kode etik kedokteran indonesia, kata euthanasia dipergunakan dalam tiga arti: Berpindahnya ke alam baka dengan tenang dan aman tanpa penderitaan, untuk yang beriman dengan nama Allah dibibir. Ketika hidup berakhir, diringankan penderitaan sisakit dengan memberinya obat penenang.Mengakhiri penderitaan dan hidup seorang sakit dengan sengaja atas permintaan pasien sendiri dan keluarganya.Dari beberapa kategori tersebut, dapat disimpulkan bahwa unsur-unsur euthanasia adalah sebagai berikut:a. Berbuat sesuatu atau tidak berbuat sesuatub. Mengakhiri hidup, mempercepat kematian, atau tidak memperpanjang hidup pasien.c. Pasien menderita suatu penyakit yang sulit untuk disembuhkan kembali.d. Atas atau tanpa permintaan pasien atau keluarganya.e. Demi kepentingan pasien dan keluarganya.

2.2. JENIS-JENIS EUTHANASIAEuthanasia bisa ditinjau dari berbagai sudut, seperti cara pelaksanaanya, dari mana datang permintaan, sadar tidaknya pasien dan lain-lain. Secara garis besar euthanasia dikelompokan dalam dua kelompok, yaitu euthanasia aktif dan euthanasia pasif. Di bawah ini dikemukakan beberapa jenis euthanasia[footnoteRef:6]: [6: http://id.wikipedia.org/wiki/Euthanasia diakses pada tanggal 15 September 2014 ]

1. Euthanasia aktifEuthanasia aktif adalah perbuatan yang dilakukan secara aktif oleh dokter untuk mengakhiri hidup seorang (pasien) yang dila

Search related