Konflik Lcs (Tgs Pgl)

Embed Size (px)

Text of Konflik Lcs (Tgs Pgl)

Kurnia Alamsyah( 0935070010 )

Untuk Mata Kuliah Politik Global China

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN POLITIK UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1945 JAKARTA

SENGKETA LAUT CHINA SELATAN Titik sengketa Laut China Selatan adalah Kepulauan Spratly yang dibatasi oleh wilayah perairan dari beberapa Negara, seperti Filipina, Vietnam, Indonesia dan Malaysia. Kepulauan ini terletak kurang lebih 1.100 Km dari pelabuhan Yu Lin (Pulau Hainan, China) dan 500 Km dari pantai Kalimantan bagian Utara. China terlibat klaim wilayah Kepulauan Spratly, karena berbatasan dengan Kepulauan Paracel yang terletak di sebelah Utara Kepulauan Spratly, terletak 277,8 Km (Pulau Hainan, China). Dasar Klaim adalah sejarah penguasaan Paracel oleh Pemerintahan Dinasti Han antara 206 sebelum Masehi hingga 220 sesudah Masehi. Adapun, Vietnam mendasarkan tuntutannya pada aspek hukum internasional dan mengkombinasikan hal itu dengan aspek sejarah bahwa penguasaan atas kepulauan itu dilakukan sejak abad 17 di bawah distrik Binh Son. Namun, pangkal persoalan Laut China Selatan disebabkan adanya perkiraan cadangan minyak di Kep. Spratly sebesar 10 miliar ton. Sengketa di Laut China Selatan merupakan salah satu bentuk baru ancaman keamanan pasca perang dingin di wilayah Asia Tenggara. Konflik ini melibatkan enam negara sebagai pengklaim secara Iangsung dan menyangkut kepentingannya besar negara lainnya. Hal ini disebabkan lokasi strategis Laut China Selatan dan potensi yang terkandung didalamnya. Filipina, misalnya, menuduh China merusak perdamaian dan stabilitas di Asia dengan mengirim kapal-kapal angkatan laut untuk menakut-nakuti sejumlah negara yang mengklaim pulau-pulau yang disengketakan di Laut China Selatan. Manila memprotes insiden-insiden Fabruari -Mei 2011, ketika angkatan laut China dituduh menembaki para nelayan Filipina, mengintimidasi kapal yang mengeksplorasi minyak Filipina dan membangun pos-pos dan menempatkan

sebuah pelampung di daerah yang diklaim Filipina.1 Sementara itu, Vietnam mengeluhkan latihan militer China di dekat di kepulauan Truong Sa yang diperebutkan kedua Negara. Viet nam menuduh, te tangganya itu telah melanggar kedaulatannya.[4]2 Sengketa laut Cina Selatan antara Cina dengan beberapa negara di Asia Tenggara sebenarnya tidak diharapkan oleh para kepala negara ASEAN. Negara-negara ASEAN berharap sengketa di laut Cina Selatan bisa segera diselesaikan. Memang ada sejumlah masalah antara beberapa negara ASEAN dengan Cina, terkait isu di Laut Cina Selatan. Namun permasalahan tersebut sudah teratasi dengan adanya komitmen di ASEAN untuk menghasilkan sesuatu yang mengikat negara yang saling mengklaim wilayah di laut Cina Selatan, agar semuanya bisa dikelola dengan baik, tidak memunculkan konflik yang tidak dikehendaki.[5]3 Pangkal sengketa Laut China Selatan adalah Kepulauan Spratly yang dibatasi oleh wilayah perairan dari beberapa negara yaitu Filipina, Vietnam, Indonesia dan Malaysia. China terlibat klaim wilayah Kepulauan Spratly karena berbatasan dengan Kepulauan Paracel yang terletak di sebelah Utara Kepulauan Spratly, terletak 277,8 Km (Pulau Hainan, China). Dasar Klaim adalah sejarah penguasaan Paracel oleh Pemerintahan Dinasti Han antara 206 sebelum Masehi hingga 220 sesudah Masehi. Sementara Vietnam, selain mendasarkan tuntutannya pada aspek hukum Internasional juga mengkombinasikan dengan aspek sejarah bahwa penguasaan atas kepulauan itu dilakukan sejak abad 17 di bawah distrik Binh Son.

1

http://www.mediaindonesia.com/read/2011/06/06/231361/39/6/Filipina-Tuding-China-

Perusak-Perdamaian-Asia 2 http://internasional.rakyatmerdekaonline.com/news.php?id=200843

http://www.detiknews.com/read/2011/05/08/230249/1635043/10/asean-ingin-laut-

cina-selatan-menjadi-kawasan-damai

Dalam wilayah perairan Laut China Selatan terdapat gugusan kepulauan seperti Paracel, Spratly serta Hainan yang menjadi objek saling klaim teritorial dan jurisdiksional dari negara-negara yang terletak di sekitar Perairan Laut China Selatan. Perairan Laut China Selatan juga merupakan salah satu rute pelayaran yang paling strategis di dunia serta wilayahnya mengandung bahan-bahan energi dan kaya akan sumber daya alam. Karena itu tidak heran jika dinamika hubungan internasional diwilayah Laut China Selatan banyak diwarnai potensi konflik. Sekitar 85 % sumbersumber energi dari negara-negara di Asia Timur harus melewati laut Cina Selatan. Adanya gangguan maritim di Laut Cina Selatan akan mempengaruhi tidak saja pada persoalan investasi, perdagangan, dan pariwisata, tetapi juga kepada masalah kepercayaan atau ketahanan regional kawasan. Menteri Pertahanan Amerika Serikat Robert Gates pernah memperingatkan,bahwa bentrokan mungkin akan terjadi di Laut China Selatan kecuali negara-negara yang terlibat pertikaian wilayah itu menerapkan satu mekanisme untuk menyelesaikan sengketa tersebut secara damai.4 Amerika Serikat menyarankan agar negara-negara yang terlibat sengketa menerapkan satu perjanjian tahun 2002 antara ASEAN dan China yang menetapkan satu peraturan yang bertujuan menyelesaikan sengketasengketa itu secara damai. Ketegangan diplomatik meningkat di tahun 2011 ini menyusul tuduhan-tuduhan bahwa China meningkatkan kegiatan di daerah itu. Pada bulan Mei 2011, misalnya, kapal-kapal maritim China bentrok dengan satu kapal eksplorasi minyak Vietnam antara Paracel dan Spratly.5 Paling tidak ada 4 forum pertemuan penting yang membahas masalah sengketa di Laut Cina Selatan, dimana Indonesia peran yang signifikan mengingat posisi4

http://www.mediaindonesia.com/read/2011/06/04/231307/39/6/AS-Khawatir-Terjadi-

Bentrok-di-Laut-China-Selatan 5 Ibid

Indonesia adalah sebagai ketua ASEAN 2011. Keempat Forum tersebut adalah : 1) Lokakarya Laut Cina Selatan; 2) Pertemuan Menlu Cina dan Menlu ASEAN di Kunming; 3) Pertemuan di Medan; dan 4) KTT Asean ke 18 di Jakarta. Dalam perkembangan terakhir, sengketa Laut Cina Selatan telah mempengaruhi perubahan kebijakan pertahanan Amerika Serikat secara global. Mengacu pada Sustaining US Global Leadership: Priorities for 21stCentury Defense yang diumumkan oleh Presiden Amerika Serikat Barack Obama pada 5 Januari 2012, prioritas utama pertahanan Amerika Serikat saat ini dan ke depan adalah di kawasan Pasifik. Sebagai implementasi kebijakan tersebut, Amerika Serikat mulai

memusatkan kembali sumberdaya nasionalnya ke kawasan ini, misalnya dalam bentuk tidak adanya pemotongan anggaran pertahanan yang berkaitan dengan kawasan Pasifik dan peningkatan kehadiran militer Amerika Serikat di Australia.

PENGARUH KEAMANAN REGIONAL BAGI KEAMANAN NASIONAL INDONESIA Laut Cina Selatan kini telah menjadi salah satu flash point di kawasan Asia Pasifik. Sengketa wilayah di perairan itu bukan saja melibatkan enam negara yaitu Cina, Taiwan, Vietnam, Filipina, Brunei dan Malaysia, tetapi juga menyangkut kepentingan kekuatan besar di kawasan seperti Amerika Serikat. Akibatnya, sengketa wilayah di Laut Cina Selatan kini tidak lagi sebatas saling klaim wilayah dan perebutan sumberdaya alam, tetapi sudahmerambah pula pada isu kebebasan bernavigasi. Dalam perkembangan terakhir, sengketa Laut Cina Selatan telah mempengaruhi perubahan kebijakan pertahanan Amerika Serikat secara global. Mengacu pada Sustaining US Global Leadership: Priorities for 21stCentury Defense yang diumumkan oleh Presiden Amerika Serikat Barack Obama pada 5 Januari 2012,

prioritas utama pertahanan Amerika Serikat saat ini dan ke depan adalah di kawasan Pasifik. Sebagai implementasi kebijakan tersebut, Amerika Serikat mulai

memusatkan kembali sumberdaya nasionalnya ke kawasan ini, misalnya dalam bentuk tidak adanya pemotongan anggaran pertahanan yang berkaitan dengan kawasan Pasifik dan peningkatan kehadiran militer Amerika Serikat di Australia. Perubahan kebijakan pertahanan Amerika Serikat pada dasarnya merupakan respon terhadap pembangunan kekuatan pertahanan Cina yang dipandang tidak transparan. Sebagai salah satu negara pengklaim utama kawasan Laut Cina Selatan, dalam beberapa tahun terakhir negara itu semakin menunjukkan asertivitasnya yang ditandai oleh sejumlah insiden yang berpotensi merusak stabilitas kawasan. Asertivitas Cina pada dasarnya didasarkan pada kepentingan nasional negara tersebut, di mana selain mengandung sumberdaya alam yang cukup melimpah, kawasan Laut Cina Selatan juga merupakan bagian dari zona penyangga pertahanan Cina bersama dengan Laut Cina Timur dan Laut Kuning. Berdasarkan uraian singkat sebelumnya, nampak jelas bahwa dinamika politik dan keamanan yang berkembang di Laut Cina Selatan menghadap kekuatan-kekuatan besar kawasan dengan kepentingan yang berbeda. Pertemuan kepentingan yang berbeda tersebut lebih dominan pada bentuk kompetisi daripada kerjasama, di mana kompetisi tersebut khususnya menyangkut aspek pertahanan berpotensi mengancam stabilitas keamanan kawasan apabila tidak dikelola dengan baik. Munculnya instabilitas kawasan Asia Pasifik sebagai dampak dari persaingan Amerika Serikat dan Cina di Laut Cina Selatan akan merugikan pula negara-negara lain di kawasan yang secara langsung maupun tidak langsung berkepentingan pula terhadap stabilitas keamanan di sana. Indonesia sebagai negara terbesar di kawasan Asia Tenggara memiliki kewajiban internasional untuk menjaga stabilitas kawasan. Kewajiban tersebut bukan saja

merupakan konsekuensi sebagai warga dunia, tetapi pula karena Pembukaan Undangundang Dasar 1945 di antaranya mengamanatkan kepada bangsa Indonesia untuk turut menjaga perdamaian dunia. Dalam konteks kekinian, pengejawantahan dari amanat konstitusi tersebut tidak sebatas berpartisipasi dalam pengiriman pasukan perdamaian untuk mendukung misi PBB, tetapi mencakup pula upaya secara unilateral, bilateral dan multilateral guna menjaga perdamaian dan stabilitas kawasan di mana Indonesia berada. Terkait dengan sengketa Laut Cina Selatan, Indonesia sejak awal 1990-an telah memprediksi bahwa perairan itu akan muncul menj