Lapjag Isk 3 Maret

  • View
    228

  • Download
    11

Embed Size (px)

DESCRIPTION

LAPORAN JAGA INFEKSI SALURAN KEMIH

Transcript

Laporan Kasus

ISK

Oleh :

Dita IrmayaNIM. I1A010010

Pembimbing :

Dr. dr. Agus Yuwono, Sp.PD, K-EMD FINASIM

BAGIAN/SMF ILMU PENYAKIT DALAMFK UNLAM RSUD ULINBANJARMASIN

Mei, 2014

BAB IPENDAHULUAN

Diabetes mellitus adalah kelainan metabolik kronis yang ditandai oleh hiperglikemia yang disebabkan oleh gangguan pada sekresi insulin, resistensi insulin, atau kombinasi keduanya. Perubahan metabolisme lemak dan protein juga merupakan manifestasi penting dari gangguan pada kerja atau sekresi insulin. Kebanyakan penderita diabetes mellitus memiliki diabetes tipe I (yang diperantarai imun atau idiopatik) atau diabetes tipe 2 (dengan komplek patofisiologi yang menggabungkan resistensi insulin dan kegagalan sel dan dasarnya secara turun-temurun). Diabetes dapat juga berkaitan dengan lingkungan hormonal gestasional, defek genetik, infeksi lainnya, dan obat-obat tertentu.(Jurnal Farmasi)Diabetes mellitus tipe 2 mencakup susunan disfungsi ditandai dengan hiperglikemia dan merupakan akibat dari kombinasi resistensi insulin, inadekuat sekresi insulin, dan sekresi glukagon tidak sesuai atau berlebihan. Diabetes tipe 2 yang tidak terkontrol terkait dengan berbagai komplikasi neuropati, makrovaskular, mikrovaskular. (medscape)Komplikasi mikrovaskular dari diabetes mencakup retina, renal, dan kemungkinan penyakit neuropati. Komplikasi mikrovaskular mencakup arteri koroner dan penyakit vaskular perifer. Neuropati diabetik mempengaruhi saraf otonom dan perifer. (medscape)Tidak seperti diabetes mellitus tipe 1, pasien dengan diabetes tipe 2 tidak sepenuhnya bergantung pada insulin untuk hidup. Perbedaan ini menjadi dasar pada istilah lama untuk tipe 1 dan 2, diabetes tergantung insulin dan diabetes tidak tergantung insulin.(medscape)Diabetes mellitus merupakan penyakit kronis yang memerlukan perhatian medis jangka panjang untuk membatasi perkembangan komplikasi dan merawatnya jika terjadi. Ini merupakan penyakit yang membutuhkan biaya mahal, di Amerika Serikat pada tahun 2007, biaya yang langsung berhubungan dengan diabetes adalah 116 milyar dolar, dan total biaya sekitar 174 milyar dolar; orang dengan diabetes mengeluarkan biaya medis rata-rata 2,3 kali lebih besar dibandingkan dengan orang tanpa diabetes. (Medscape) Di Indonesia, 8.426.000 penduduk menderita diabetes pada tahun 2000, dan diperkirakan menjadi 21.257.000 pada tahun 2030. Sedangkan untuk dunia, 171.000.000 penduduk menderita diabetes, dan diperkirakan menjadi 366.000.000 pada 2030. Sepuluh negara dengan penderita diabetes terbanyak adalah India, China, Amerika Serikat, Indonesia, Jepang, Pakistan, Rusia, Brazil, Italia, dan Bangladesh.Predisposisi terjadinya infeksi saluran kemih (ISK) pada penderita diabetes melitus diakibatkan berbagai faktor. Kepekaan meningkat seiring lamanya durasi dan beratnya derajat diabetes. Kandungan glukosa darah yang tinggi menyebabkan gangguan faktor imun penjamu terhadap infeksi. Hiperkalsemia menyebabkan disfungsi neutrofil dengan meningkatkan kadar kalsium intraselular dan mengintervensi dengan aktin, diapedesis dan fagositosis. Kandidiasis vagina dan penyakit vaskular juga berperan penting pada infeksi yang berulang.(medscape)Sepanjang waktu, pasien dengan diabetes dapat berkembang sistopati, nefropati, dan nekrosis papilar renal, mempermudah terjadinya ISK. Efek jangka panjang sistopati diabetik mencakup refluks vesikouretral dan ISK berulang . Sebagai tambahan, sebanyak 30 persen wanita dengan diabetes mempunyai sistokel, sistouretrokel, atau rektokel dalam berbagai derajat. Semua hal ini berperan dalam frekuensi dan beratnya ISK pada wanita dengan diabetes. (medscape).Hipertensi merupakan kondisi komorbid diabetes yang sangat sering terjadi, mempengaruhi 20-60% pasien diabetes, tergantung pada obesitas, etnis, dan usia. Pada diabetes tipe 2, hipertensi sering terjadi sebagai bagian dari sindrom metabolik dari resistensi insulin juga mencakup obesitas sentral dan dislipidemia. Pada diabetes tipe 1, hipertensi dapat menandakan onset nefropati diabetik. Hipertensi meningkatkan risiko dari komplikasi makrovaskular dan mikrovaskular, meliputi stroke, penyakit arteri koroner, dan penyakit vaskular perifer, retinopati, nefropati, dan kemungkinan neuropati.

BAB IILAPORAN KASUS

3.1. Identitas pasienNama:Ny. SNUmur:55 tahunAgama: IslamSuku: JawaPendidikan:SMAPekerjaan:Ibu Rumah TanggaAlamat: Jl. Tunas Baru BanjarmasinMRS:21 April 2014 pukul 10.20 WITARMK: 70-02-723.2. AnamnesisAnamnesis dilakukan pada tanggal 21 April 2014.3.2.1 Keluhan UtamaDemam.3.2.2Riwayat Penyakit SekarangPasien datang dengan keluhan demam sejak 1 minggu sebelum masuk rumah sakit. Demam terus menerus dan muncul tiba-tiba. Demam disertai menggigil. Pasien sudah minum obat penurun panas tetapi demam cuma turun sebentar kemudian naik lagi. Pasien merasa badan lemas kurang lebih 1 minggu terakhir. Tidak ada mual muntah. Tidak ada keluhan sakit kepala, tidak ada pusing. Pasien mengaku sering kencing dalm 1 bulan terakhir. Kencing jernih, kencing kemerahan tidak ada, tidak ada nyeri kencing, tidak ada ada kencing berpasir, nyeri pinggang tidak ada. Pasien mengaku kurang lebih satu minggu yang lalu diperiksa gula darahnya dan ternyata tinggi, sejak itu pasien rutin mengkonsumsi obat gula darah setiap hari. Pasien juga mengatakan adanya rasa selalu ingin makan dan selalu ingin minum, dan pasien merasakan adanya penurunan berat badan. 3.2.3Riwayat Penyakit Dahulu Pasien tmemiliki riwayat penyakit Diabetes Melitus, hipertensi (sejak 2010), stroke. 3.2.4Riwayat Penyakit KeluargaPasien mengaku di keluarganya memiliki riwayat penyakit hipertensi. Pada keluarga tidak memiliki riwayat penyaki diabetes mellitus, stroke. 3.3. Pemeriksaan fisik21 April 2014Deskripsi UmumKesan sakit:SedangGizi:BaikBerat Badan: 62 kgTinggi Badan: 158 cmTanda vitalKesadaran:Compos mentisGCS: 4-5-6Tekanan darah:130/90 mm HgLaju nadi:95 kali/menitLaju nafas:28 kali/menitSuhu tubuh (aksiler):38,5oCKepala dan leherKepala:Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-), edema periorbita (-/-), konj. palpebra hiperemis (-/-)Leher:Peningkatan JVP (-), pembesaran KGB (-/-)ToraksPulmoI:Tarikan nafas simetris P:Fremitus raba simetrisP:Suara perkusi sonor (+/+)A:Suara nafas vesikuler, rhonkii (-/-), wheezing (-/-)JantungI:Ictus cordis (+)P:Ictus cordis teraba di ICS V linea midclavicula, getaran/ thrill (-)P:Suara perkusi pekak, batas kanan ICS III, IV, V linea parasternalis dextra, batas kiri ICS V linea midclavicula sinistraA:S1 dan S2 tunggal, reguler, dan tidak terdengar suara bisingAbdomenInspeksi:Cembung, distensi (-), venektasi (-)Auskultasi:Bising usus (+) normalPalpasi:Turgor cepat kembali, nyeri tekan epigastrik (-), hepar, lien, massa tidak terabaPerkusi:TimpaniEksremitasAtas:Akral hangat (+/+), edema (-/-), parese (-/-)Bawah:Akral hangat (+/+), edema (-/-), parese (-/-)3.4. Pemeriksaan penunjangTabel 1. Hasil pemeriksaan laboratorium tanggal 21 April 2014.PemeriksaanHasilNilai RujukanSatuan

Hemoglobin15,411.00 16.00g/dL

Lekosit7,24.0 10.5ribu/uL

Eritrosit5,074.0 5.50juta/uL

Hematokrit45,732.00 44.00vol%

Trombosit155150 450ribu/uL

MCV90,380.0 97.0Fl

MCH30,327.0 32.0Pg

MCHC33.632.0 38.0%

GDS92 5 leukosit per lapangan pandang besar. Pemeriksaan kultur urine dimaksudkan untuk menentukan keberadaan kuman, jenis kuman, dan sekaligus menentukan jenis antibiotika yang cocok untuk membunuh kuman itu. Untuk mencegah timbulnya kontaminasi sampel urine oleh kuman yang berada di kulit vagina atau prepusium, perlu diperhatikan cara pengambilan sampel urine. Sampel urine dapat diambil dengan cara: (1) aspirasi suprapubik yang sering dilakukan pada bayi, (2) kateterisasi per-uretram pada wanita untuk menghindari kontaminasi oleh kuman-kuman di sekitar introitus vagina, dan (3) miksi dengan pengambilan urine porsi tengah atau midstream urine. Dikatakan bakteriuria jika didapatkan lebih dari 105 cfu (colony forming unit) per mL, pada pengambilan sampel urine porsi tengah, sedangkan pada pengambilan melalui aspirasi suprapubik dikatakan bakteriruria bermakna jika didapatkan > 103 cfu per mL.Pemeriksaan darahPemeriksaan darah lengkap diperlukan untuk mengungkapkan adanya proses inflamasi atau infeksi. Didapatkannya leukositosis, peningkatan laju endap darah, atau didapatkannya sel-sel muda pada sediaan hapusan darah menandakan adanya proses inflamasi akut.Pada keadaan infeksi berat, perlu diperiksaa faal ginjal, faal hepar, faal hemostasis, elektrolit darah, analisis gas darah, serta kultur kuman untuk penanganan ISK secara intensif.PencitraanPada ISK sederhana tidak diperlukan pemeriksaan pencitraan, tetapi pada ISK rumit perlu dilakukan pemeriksaan pencitraan untuk mencari penyebab/sumber terjadinya infeksi. Foto polos abdomen. Pembuatan foto polos berguna untuk mengetahu adanya batu radio-opak pada saluran kemih atau adanya distribusi gas yang abnormal pada pielonefritis akut. Adanya kekaburan atau hilangnya bayangan garis psoas dan kelainan dari bayangan bentuk ginjal merupakan petunjuk adanya abses perirenal atau abses ginjal. Batu kecil atau batu semiopak kadangkala tidak tampak pada foto ini, sehingga perlu dilakukan pemeriksaan foto tomografi. PIV adalah pemeriksaan rutin untuk mengevaluasi pasien yang mendertia ISK complicated. Pemeriksaan ini dapat mengungkapkan adanya pielonefritis akut dan adanya obstruksi saluran kemih, tetapi pemeriksaan ini sulit untuk mendeteksi adanya hidronefrosis, pielonefrosis, ataupun abses ginjal yang fungsinya sangat jelek. Voiding sistouretrografi. Pemeriksaan ini diperlukan untuk mengungkapkan adanya refluks vesikoureter, buli-buli neurogenik, atau divertikulum ureta pada wanita yang sering menyebabkan infeksi yang sering kambuh. Ultrasonografi adalah pemeriksaan yang sangat berguna untuk mengungkapkan adanya hidronefrosis, pielonefrosis, ataupun abses pada perirenal/renal terutama pada pasien gag