MAKALAH III Problem Solving Kelompok 1

  • View
    457

  • Download
    2

Embed Size (px)

Text of MAKALAH III Problem Solving Kelompok 1

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Adapun yang melatarbelakangi penulisan makalah ini selain merupakan tugas laporan kelompok hasil diskusi problem solving tentang asuhan keperawatan pada klien yang menderita alergi (hipersensitivitas tipe I), juga merupakan materi bahasan dalam mata kuliah blok Sistem Imun. Dimana mahasiswa dari setiap kelompok akan membahas asuhan keperawatan pada klien yang mengalami alergi (hipersensitivitsas tipe I). Adapun dalam makalah ini akan dibahas tentang Asuhan Keperawatan pada Klien yang mengalami reaksi alergi (hipersensitivitas tipe I). Pada prinsipnya alergi adalah suatu keadaan yang disebabkan oleh suatu reaksi imunologik yang spesifik, suatu keadaan yang ditimbulkan oleh allergen atau antigen, sehingga terjadi gejala gejala patologik. Dewasa ini, umumnya diseluruh dunia lebih banyak menggunakan cara klarifikasi reaksi alergi menurut COOMBS dan GELL, karena dirasa lebih tepat. Reaksi alergi dibagi menjadi empat tipe: 1) Rekasi Tipe I/ Reaksi Tipe Anafilaktik, 2) Reaksi Tipe II/ Reaki Tipe Sitotoksik, 3) Reaksi Tipe III/ Reaksi Tipe Kompleks- Toksik, 4) Reaksi Tip IV/ Reaksi Tipe Seluler. Namun, pada pembahasan askepnya. Alergi termasuk keluhan yang sering diungkapkan oleh masyarakat. Pada umumnya, penanganan pasien yang terkena alergi memerlukan tindakan yang hampir sama tergantung tingkat keparahannya. Namun, pada kenyataannya pasien sering mengabaikan perawatan yang tepat, hal ini menimbulkan beberapa asumsi yang keliru terhadap penanganan alergi. Perawat merupakan faktor yang berperan penting dalam penanganan seorang pasien, khususnya dalam memfasilitasi dan mengarahkan koping pasien yang konstruktif agar pasien dapat beradaptasi dengan sakitnya.selain itu perawat juga berperan dalam pemberian dukungan social berupa dukungan emosional, informasi, dan material. makalah ini, penulis memfokuskan mengenai alergi pada hipersensitivitas Tipe I serta mengenai

Dalam makalah ini akan dibahas mengenai penanganan pada pasien yang mengalami alergi sehingga dapat meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan, terutama mengenai asuhan keperawatan yang merupakan aspek yang sangat penting bagi perawat untuk membantu koping pada pasien. Asuhan keperawatan yang dapat dilakukan pada penderita alergi harus diperhatikan tidak hanya oleh tenaga medis yang bersangkutan tetapi juga bagi pasien dan pihak keluraga. Untuk itulah makalah ini dibuat oleh penulisan sebagai sikap kepedulian terhadap tingkat kesehatan masyarakat terhadap gejala penyakit yang sering dialami, salah satunya adalah alegi. 1.2 Tujuan Penulisan Adapun beberapa tujuan penulisan makalah ini antara lain : 1.1.1. a) b) Bagi Pendidikan Sebagai bahan pertanggungjawaban mahasiswa dalam

mengerjakan tugas kelompok dari mata kuliah blok Sistem Imun. Sebagai bahan penilaian terhadap tugas yang di berikan terhadap mahasiswa, baik dalam penyusunan makalah maupun hasil diskusi kelompok. 1.1.2. a) b) Bagi Mahasiswa Sebagai bahan pembelajaran dalam diskusi kelompok. Mahasiswa mampu menguasai bahan makalah dan

mempresentasikan hasil diskusi kelompok 1.3 Batasan Masalah 1.3.1 Pendahuluan 1.3.1.1 Latar Belakang 1.3.1.2 Tujuan Penulisan 1.3.1.3 Batasan Masalah 1.3.1.4 Metode penulisan 1.3.2 Pembahasan 1.3.2.1 Pengkajian 1.3.2.2 Diagnosa Keperawatan 1.3.2.3 Perencanaan 1.3.2.4 Evaluasi

1.3.3 Kesimpulan dan Saran 1.3.3.1 1.3.3.2 1.4 Metode Penulisan 1.4.1 Library research/kepustakaan. Data dikumpulkan dari buku-buku yang membahas tentang hipersensitivitas, sampai kepada asuhan keperawatan pada pasien yang mengalami hipersensitivitas. 1.4.2 Situs Website Data dikumpulkan dari beberapa situs website di internet yang membahas tentang hipersensitivitas. Kesimpulan Saran

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Hipersensitivitas

Alergi / hipersensitivitas adalah reaksi tak diinginkan (kerusakan, ketidaknyamanan dan kadang-kadang fatal) akibat sistem imun normal. Antigen yang memicu reaksi alergi dinamakan alergen. Reaksi alergi digolongkan menjadi 4 macam yaitu tipe I, tipe II, tipe II dan tipe IV didasarkan pada mekanisme dan waktu terjadinya reaksi. (Coombs ang Gell) 2.1.1 Hipersensitivitas Tipe I (Hipersensitivitas Tipe Cepat Atau Anafilataksis) Reaksi hipersensitivitas tipe I merupakan reaksi alergi yang terjadi karena terpapar antigen spesifik yang dikenal sebagai alergen. Dapat terpapar dengan cara ditelan, dihirup, disuntik, ataupun kontak langsung. Perbedaan antara respon imun normal dan hipersensitivitas tipe I adalah adanya sekresi IgE yang dihasilkan oleh sel plasma. Antibodi ini akan berikatan dengan respetor Fc pada permukaan jaringan sel mast dan basofil. Sel mast dan basofil yang dilapisi oleh IgE akan tersensitisasi (fase

sensitisasi). Karena sel B memerlukan waktu untuk menghasilkan IgE, maka pada kontak pertama, tidak terjadi apa-apa. Waktu yang diperlukan bervariasi dari 15-30 menit hingga 10-20 jam. Adanya alergen pada kontak pertama menstimulasi sel B untuk memproduksi antibodi, yaitu IgE. IgE kemudian masuk ke aliran darah dan berikatan dengan reseptor di sel mastosit dan basofil sehingga sel mastosit atau basofil menjadi tersensitisasi. Pada saat kontak ulang dengan alergen, maka alergen akan berikatan dengan IgE yang berikatan dengan antibody di sel mastosit atau basofil dan menyebabkan terjadinya granulasi. Degranulasi menyebakan pelepasan mediator inflamasi primer dan sekunder. Mediator primer menyebabkan eosinofil dan neutrofil serta menstimulasi terjadinya urtikaria, vasodilatasi, meningkatnya permiabilitas vaskular, Sedangkan mediator sekunder menyebakan menyebakan peningkatan pelepasan metabolit asam arakidonat (prostaglandin dan leukotrien) and protein (sitokin and enzim) Faktor pemicu reaksi alergi : 1. Defisiensi sel T Penurunan jumlah sel T diasosiasikan dengan peningkatan dari jumlah serum IgE pada penyakit Eczema. Juga ada perbedaan jumlah sel T pada bayi yang disusui dengan ASI dan dengan susu bubuk. 2. Mediator feedback Menurut penelitian, inhibisi reseptor H2 oleh pelepasan enzim lisosom dan aktivasi penahan sel T oleh histamine akan meningkatkan jumlah IgE 3. Faktor lingkungan Polutan seperti SO2, NO, asap kendaraan dapat meningkatkan permeabilitas mukosa sehingga meningkatkan pemasukkan antigen dan respos IgE Dampak yang muncul akibat hipersensitivitas tipe 1 ada 2, yaitu : 1. Anafilatoksis lokal ( alergi atopik ) Terjadi karena adanya alergen yang masuk ke tubuh dan gejalanya tergantung dari tipe alergen yang masuk, misalnya :

a. Batuk, mata berair, bersin karena alergen masuk ke saluran respirasi (alergi rhinitis) yang mengindikasikan aksi dari sel mast. Alergen biasanya berupa : pollen, bulu binatangm debu, spora. b. Terakumulasinya mucus di alveolus paru-paru dan kontraksi oto polos kontraksi yang mempersempit jalan udara ke paru-paru sehingga menjadi sesak, seperti pada penderita asma. Gejala ini dapat menjadi fatal bila pengobatan tertunda terlalu lama c. Kulit memerah atau pucat, gatal (urticaria) karena alergi makanan. Makanan yang biasanya membuat alergi adalah gandum, kacang tanah, kacang kedelai, susu sapi, telur, makanan laut 2. Anafilatoksis sistemik Dampak ini disebabkan karena pemaparan alergen yang menyebabkan respon dari sel mast yang banyak dan cepat, sehingga mediatormediator inflamasi dilepaskan dalam jumlah yang banyak. Gejalanya berupa sulit bernafas karena kontraksi otot polos yang menyebabkan tertutupnya bronkus paru-paru, dilatasi arteriol sehingga tekanan darah menurun dan meningkatnya permeabilitas pembuluh darah sehingga cairan tubuh keluar ke jaringan. Gejala ini dapat menyebabkan kematian dengan hitungan menit karena tekanan darah turun drastis dan pembuluh darah collapse (shock anafilatoksis). Alergen dapat biasanya berupa penisilin, antisera, dan racun serangga dari lebah. Usaha penanganan dan pengobatan apabila terserang reaksi hipersensitivitas tipe I adalah sebagai berikut : 1. anafilatoksis lokal a. menghindari alergen dan makanan yang dapat menyebabkan alergi b. Bila alergen sulit dihindari (seperti pollen, debu, spora, dll) dapat digunakan antihistamin untuk menghambat pelepasan histamine dari sel mastosit., seperti Chromolyn sodium menghambat degranulasi sel mast, kemungkinan dengan menghambat influks Ca2+. Bila terjadi sesak nafas pengobatan dapat berupa bronkoditalor (leukotriene receptor blockers,seperti Singulair, Accolate) yang dapat merelaksasi otot bronkus dan ekspektoran yang dapat mengeluarkan mucus

c. Injeksi alergen secara berulang dapar dosis tertentu secara subkutan dengan harapan pembentukan IgG meningkat sehingga mampu mengeliminasi alergen sebelum alergen berikatan dengan IgE pada sel mast. Proses ini disebut desensitisasi atau hiposensitisasi. 2. Anafilatoksis sistemik Pengobatan harus dilakukan dengan cepat dengan menyuntikan epinefrin (meningkatkan tekanan darah) atau antihistamin (memblok pelepasan histamine) secara intravena.

2.2

Asuhan Keperawatan I. PENGKAJIAN Biodata / Data demografi Nama, umur, tempat tanggal lahir, jenis kelamin, ras, status perkawinan, alamat, pekerjaan, status imigrasi, perilaku beresiko . Nama anggota keluarga atau orang yang dapat mudah dihubungi dan juga pembiayaan. Riwayat Penyakit Terdahulu Penyakit berat yang pernah diderita Obat-obatan yan biasa dikonsumsi Kebiasaan berobat Alergi Alat bantu yang digunakan Keluhan utama Tanggal mulai sakit Proses terjadinya sakit Upaya yang dilakukan untuk menanggulangi

Riwayat Penyakit Sekarang

Riwayat Kesehatan Keluarga - Penyakit yang pernah diderita oleh anggota keluarga

- Penyakit yang sedang diderita oleh anggota keluarga- Alergi dalam keluarga

-

Riwayat Pengobatan konsumsi obat-obat alergi

-

Pemeriksaan Fisika.

Sistem Gastrointerstinal Pola BAB : Konsistensi/bentuk, frekuensi, volume, nyeri abdomen

Muntah : Frekuensi, warna, disretai sputum/tidak, rasa muntah ( Pahit/Asam)

b. c. d.

Bibir merah dan bengkak Sistem Integumen