MAN SURABAYA Sukses Meraih Triple Juara Robotika Tingkat ... Apabila diberikan kesempatan seluas-luasnya

  • View
    11

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of MAN SURABAYA Sukses Meraih Triple Juara Robotika Tingkat ... Apabila diberikan kesempatan...

  • 1MPA 8/373 / 2017

    MAN SURABAYA

    INSPIRASI

    N O

    . 8 /3

    73 /

    20 17

    / TH

    . X X

    X X

    II

    Sukses Meraih Triple Juara Robotika Tingkat Nasional

    Kreasi Ispiratif dari Mapel Prakarya

  • 2 MPA 8/373 / 2017

    Para pejabat di lingkungan Kanwil Kemenag Prov Jatim dan Kakankemenag se-jatim dalam Upacara pembukaan Gebyar Muharram 1439 H di halaman Kanwil Kemenag Prov. Jatim pada 20 Septmber 2017.

    Kakanwil Kemenag Prov. Jatim dan Kabid Penaiszawa saat melepas burung merpati sebagai simbul dibukanya kegiatan fistival seni Islami dan drum band se-Jatim dalam rangka Gebyar Muharram 1439 H pada 20 September 2017.

    Upacara pembukaan Gebyar Muharram 1439 H di halaman Kanwil Kemenag Prov. Jatim pada 20 Septmber 2017.

    Kakanwil memberikan pembekalan kepada peserta dalam Upacara pembukaan Gebyar Muharram 1439 H di halaman Kanwil Kemenag Prov. Jatim pada 20 Septmber 2017.

  • 3MPA 8/373 / 2017

    MEDIA INFORMASI, KOMUNIKASI, DAN EDUKASI, KANTOR WILAYAH KEMENTERIAN AGAMA

    PROVINSI JAWA TIMUR

    MPA 8/373 / 2017

    PENANGGUNG JAWAB: Drs. H. Syamsul Bahri, M. Pd.I

    REDAKTUR: Drs. H. Moch Amin Mahfud, M. Pd.I

    H. Ramin Abd. Wahid H. Abd. Hadi AR

    H. Athor Subroto H. Hartoyo

    H. Ahmad Husein AR Mahsun Zain, S.Ag, M.Si

    PENYUNTING/EDITOR: Choirul Mustofa

    Suprianto M. Hisyam

    Syahriel Mohi Annie Athi’ah

    DESAIN GRAFIS: Muhammad Munib

    M. Tajuddin Nurcholis Nuris Setiahadi

    M. Mufl in

    FOTOGRAFER: Isnawati

    Bagus Budiman Rizki Diani

    KORESPONDEN: Berkedudukan di setiap Kankemenag

    Kabupaten/Kota se-Jawa Timur.

    ALAMAT REDAKSI: Jl. Raya Juanda No. 26 Sidoarjo,

    Telp. 031 - 8680490, Fax. 031 - 8680490

    e-mail: mimbarjatim@gmail.com

    DITERBITKAN OLEH: Kantor Wilayah Kementerian Agama

    Provinsi Jawa Timur.

    Suara madrasah kian berkibar. Banyak sekali yang telah meraih kejuaraan, baik tingkat nasional maupun internasional. Salah satunya, adalah MAN Surabaya. Madrasah ini berhasil meraih kejuaraan di bidang robotik tingkat nasional. Bahkan pada ajang ‘Java Robot Contest VIII’, tim robotik MAN Surabaya meraih double winner. Beritanya bisa Anda baca pada rubrik Serambi Madrasah.

    Tak kalah menariknya, adalah kreativitas siswa MTs. Amanatul Ummah Pacet, Mojokerto. Melalui mapel prakarya, mereka bisa membuat berbagai karya. Semisal membikin vas bunga dari botol-botol plastik bekas, mengolah sampah menjadi beragam hiasan, membuat bunga dari tali rafi a dan sebagainya.

    Alhasil, barang-barang bekas yang biasanya berserakan di rumah dan di sekitar madrasah, bisa disulap menjadi hiasan dan barang-barang berguna. Itulah yang membuat siswa-siswi madrasah tersebut, begitu antusias saat praktek prakarya. Bagi mereka, praktek prakarya dianggap sebagai ‘kegiatan refreshing’. Hasil liputannya bisa Anda simak di rubrik Ispirasi.

    Sementara untuk rubrik Lensa Utama edisi ini, kami sengaja mengangkat Hari Santri; dari Pesantren untuk Negeri. Sebab dengan adanya Hari Santri tersebut, keberadaan kaum santri kian mendapatkan pengakuan secara nasional. Ini adalah merupakan ruang bagi para santri untuk menunjukkan eksistensi mereka.

    Kiranya tepat apa yang pernah diungkapkan Menag Lukman Hakim Saifuddin; bahwa akan banyak sekali ditemukan mutiara-mutiara terpendam di pesantren. Apabila diberikan kesempatan seluas-luasnya kepada santri, tentu mereka akan tampil menjadi tokoh besar di negeri ini.

    Untuk mendalami tema tersebut, kami sengaja mewawancarai beberapa pihak yang berkompeten untuk mengurainya. Diantaranya adalah Mas’ud, M.PdI (Kabid PD Pontren Kanwil Kemenag Prov. Jawa Timur), da’i kondang KH. Imam Hambali (Pengasuh pondok pesantren Aljihad Surabaya), KH. Abdussalam Mujib (pengasuh Pondok Pesantren Al-Khoziny Sidoarjo) dan Dr. KH. Imam Ghazali Said, MA (Pegasuh Pesantren Mahasiswa ‘An-Nur” Surabaya).

    Semoga hasil liputannya dapat menambah wawasan kita tentang seputar kaum santri dan dunia pesantren. Sebab banyak hal yang bisa diambil dan kita jadikan sebagai bahan renungan. Khususnya bagi pondok pesantren itu sendiri, serta para orangtua yang telah memasukkan putra- putrinya di pondok pesantren.

    Selamat Membaca!

    Teropong ------------------------------- 4 Lensa Utama --------------------------- 5 Lensa Khusus --------------------------- 17 Agama ---------------------------------- 22 Khotbah -------------------------------- 28 Ta’aruf ---------------------------------- 30 Bilik Santri ----------------------------- 32 Serambi Madrasah --------------------- 34

    Edukasi --------------------------------- 36 Keluarga -------------------------------- 42 Figur ------------------------------------ 43 Selasar ----------------------------------- 44 Syifa ------------------------------------ 46 Annisa’ --------------------------------- 48 Lintas Peristiwa ------------------------ 49 Dunia Islam ---------------------------- 57

  • 4 MPA 8/373 / 2017

    Pesantren & Santri Peranannya dalam Perjuangan Kemerdekaan

    Baru-baru ini Men-teri Agama mem-buka Musya warah Pendidikan Islam Interna- sional di Tangerang. Di Indonesia terdapat banyak ragam Lembaga Pendidikan Islam. Dian taranya adalah Pesantren.

    Pesantren yang lazim disebut dengan Pondok Pe- san tren meru pakan lem- baga pendidikan Islam yang tertua. Sebelum berdiri Ma- dra sah yang bercirikan kla- sikal dan Perguruan Islam lainnya, Pesantren yang juga disebut Al-Ma’had telah berdiri dimana-mana. Lembaga ini mempunyai ciri-ciri yaitu muridnya disebut santri, mereka tinggal di asrama, dipimpin oleh Kiai yang dibantu oleh kiai lainnya dan para ustadz. Terdapat sebuah masjid sebagai pusat peribadatan. Bahan ajar berupa kitab-kitab tertentu yang ladzim disebut dengan kitab kuning dan kitab gundul. Sistem belajar disebut weton dan sorogam. Santri bebas memilih jenis kitab yang diikuti. Pada zaman penjajahan lokasi pondok pesantren biasanya di pelosok pedesaan. Hal itu untuk menghindari kalangan dan campur tangan dari pemerintah kolonial. Berbeda dengan sekarang yang tidak hanya di pelosok desa, tapi juga di kota-kota.

    Pesantren yang berfungsi mencerdaskan bangsa, sesuai dengan kondisi Indonesia saat itu dapat menghasilkan para pejuang yang memiliki ruhul jihad yang tinggi. Dikalangan para santri dikenal istilah Hubbul wathan minal iman, cinta tanah air sebagai bagian dari iman. Sekalipun ungkapan ini bukan suatu hadits Nabi, bagi para santri sangat memotivasi dalam perjuangannya.

    Istilah Bela Negara bagi para santri tidak asing lagi. Slogan ini direalisasikan dalam perjuangan nyata. Atas dalih membela hak-hak yang diamanatkan Allah kepadanya, mereka tidak gentar menghadapi dan melawan tentara kolonial. Dengan pimpinan Ulama’, para santri terlibat langsung dalam peperangan melawan penjajah. Peperangan mereka berhadapan dengan pemerintah kolonial dan tentaranya, biasanya disebabkan oleh hak-hak mereka yang dengan paksa diambil dengan semena-mena oleh pemerintah kolonial.

    Pasca kemerdekaan, negara Republik Indonesia yang kita

    cintai ini diserang oleh agresor Sekutu dan ditunggangi oleh Belanda. Bersama-sama dengan pemuda Indonesia dari berbagai lapisan masya- rakat, para santri maju dalam barisan untuk melawan agresor. Mereka tidak mau jika ke mer dekaan yang baru saja diproklamasikan oleh Bung Karno dan Bung Hatta sebagai wakil bangsa Indo nesia direbut kembali oleh agresor Sekutu dan Belanda.

    Sebagian diantara pa ra santri itu mengikuti Pang lima Perang Jenderal Sudirman

    yang juga seorang muslim yang taat. Tatkala Bung Karno dan Bung Hatta ditawan oleh Belanda, pemimpin Tentara Nasional Indonesia masih eksis. Bersama-sama dengan pasukan Barisan Keamanan Rakyat, Tentara Pelajar Indonesia dan tentara rakyat lainnya, para santri mengikuti Panglima Sudirman masuk hutan keluar hutan dan bergerilya mengajak rakyat melawan Belanda. Diantara para santri itu tergabung dalam pasukan Sabilillah dan Itizbullah pimpinan ulama.

    Ketika pasukan-pasukan rakyat yang tergabung dalam Barisan Keamanan Rakyat dan para santri bergabung dalam Sabilillah dan Itizbullah membela tanah air dari serangan agresor Sekutu dan Belanda sebagian orang yang dihimpun dalam wadah komunisme menggunting dalam lipatan. Pemberontak komunis yang dipimpin oleh Muso, Alimin, Syarifuddin, dan tokoh-tokoh komunis muda seperti DN Aidit, Nyoto, dan lain-lain memproklamasikan Negara Soviet Indnesia menggantikan Negara Republik Indonesia pimpinan Bung Karno dan Bung Hatta. Mereka orang- orang komunis itu menggantikan Pancasila dengan ideologi mereka sebagai dasar negara.

    Para ulama yang sebagian menjadi korban pembantaian oleh PKI dalam peristiwa Madiun tahun 1948, yang masih ada berjuang memimpin para santrinya melawan pemberontakan komunis bersama-sama dengan tentara Republik Indonesia dan komponen bangsa pembela Pancasila lainnya.

    Resolusi Jihad yang dikeluarkan oleh K. H. Hasyim Asy’ari dan ulama lainnya benar-bebar ampuh untuk meng- hidupkan ruhul jihad membela bangsa dan tanah air serta mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. •Raw

    “Diantara hamba Allah yang takut kepada Nya hanyalah pada ulama’”. Q.S. Fatin (35) : 28

    TEROPONG

  • 5MPA 8/373 / 2017

    Pondok pesantren punya sejarahnya sendiri. Jauh sebelum kemerdekaan RI, tepatnya pada tahun 1718, sudah berdiri sebuah pesantren di tanah Jawa. Tentu saja hal itu tak dapat dilepaskan dari keberadaan penjajah Belanda di Indonesia.

    Pemerintah Belanda waktu itu sangat membatasi rakyat untuk belajar m