Click here to load reader

OTOMASI SISTEM PRODUKSI

  • View
    237

  • Download
    20

Embed Size (px)

Text of OTOMASI SISTEM PRODUKSI

KELOMPOK : 1.DEASY M. PARDEDE 2.NOVAYANTI N. 3.MARITO MAGDALENA

080403089 080403090 080403091

Alat Tubuh Manusia yang Memiliki Konsep Otomasi 1. Payudara

1.1. Laktasi

Ketika bayi menghisap payudara, hormon yang bernama oksitosin membuat ASI mengalir dari dalam alveoli, melalui saluran susu (ducts/milk canals) menuju reservoir susu {sacs} yang berlokasi di belakang areola, lalu ke dalam mulut bayi. Proses produksi, sekresi, dan pengeluaran ASI dinamakan laktasi.

1.2. Pengaruh Hormonal

Mulai dari bulan ketiga kehamilan, tubuh wanita memproduksi hormon yang menstimulasi munculnya ASI dalam sistem payudara: 1.Progesteron: mempengaruhi pertumbuhan dan ukuran alveoli. Tingkat progesteron dan estrogen menurun sesaat setelah melahirkan. Hal ini menstimulasi produksi secara besar-besaran.

Pengaruh Hormonal Lanjutan 2. Estrogen: menstimulasi sistem saluran ASI untuk membesar. Tingkat estrogen menurun saat melahirkan dan tetap rendah untuk beberapa bulan selama tetap menyusui Karena itu, sebaiknya ibu menyusui menghindari KB hormonal berbasis hormon estrogen, karena dapat mengurangi jumlah produksi ASI. 3. Follicle stimulating hormone (FSH) 4. Luteinizing hormone (LH) 5. Prolaktin: berperan dalam membesarnya alveoil dalam kehamilan.

Pengaruh Hormonal Lanjutan 6. Oksitosin: mengencangkan otot halus dalam rahim pada saat melahirkan dan setelahnya, seperti halnya juga dalam orgasme. Setelah melahirkan, oksitosin juga mengencangkan otot halus di sekitar alveoli untuk memeras ASI menuju saluran susu. Oksitosin berperan dalam proses turunnya susu let down / milk ejection reflex. 7. Human placental lactogen (HPL): Sejak bulan kedua kehamilan, plasentamengeluarkan banyak HPL, yang berperan dalam pertumbuhan payudara, puting, dan areola sebelum melahirkan. Pada bulan kelima dan keenam kehamilan, payudara siap memproduksi ASI. Namun, ASI bisa juga diproduksi tanpa kehamilan (induced lactation).

1.3. Laktogenesis I Pada fase terakhir kehamilan, payudara wanita memasuki fase Laktogenesis I. Saat itu payudara memproduksi kolostrum, yaitu berupa cairan kental yang kekuningan. Pada saat itu, tingkat progesteron yang tinggi mencegah produksi ASI sebenarnya. Tetapi bukan merupakan masalah medis apabila ibu hamil mengeluarkan (bocor) kolostrum sebelum lahirnya bayi, dan hal ini juga bukan indikasi sedikit atau banyaknya produksi ASI sebenarnya nanti.

1.4. Laktogenesis II Saat melahirkan, keluarnya plasenta menyebabkan turunnya tingkat hormon progesteron, estrogen, dan HPL secara tiba-tiba, namun hormon prolaktin tetap tinggi. Hal ini menyebabkan produksi ASI besar-besaran yang dikenal dengan fase Laktogenesis II. Apabila payudara dirangsang, level prolaktin dalam darah meningkat, memuncak dalam periode 45 menit, dan kemudian kembali ke level sebelum rangsangan tiga jam kemudian. Keluarnya hormon prolaktin menstimulasi sel di dalam alveoli untuk memproduksi ASI, dan hormon ini juga keluar dalam ASI itu sendiri.

Laktogenesis II Lanjutan Hormon lainnya, seperti insulin, tiroksin, dan kortisol, juga terdapat dalam proses ini, namun peran hormon tersebut belum diketahui. Penanda biokimiawi mengindikasikan bahwa proses laktogenesis II dimulai sekitar 30-40 jam setelah melahirkan, tetapi biasanya para ibu baru merasakan payudara penuh sekitar 50-73 jam (2-3 hari) setelah melahirkan.

Laktogenesis II Lanjutan Kolostrum dikonsumsi bayi sebelum ASI sebenarnya. Kolostrum mengandung sel darah putih dan antibodi yang tinggi daripada ASI sebenarnya, khususnya tinggi dalam level immunoglobulin A (IgA), yang membantu melapisi usus bayi yang masih rentan dan mencegah kuman memasuki bayi. IgA ini juga mencegah alergi makanan. Dalam dua minggu pertama setelah melahirkan, kolostrum pelan pelan hilang dan tergantikan oleh ASI sebenarnya.

1.5. Laktogeneses III

Sistem kontrol hormon endokrin mengatur produksi ASI selama kehamilan dan beberapa hari pertama setelah melahirkan. Ketika produksi ASI mulai stabil, sistem kontrol autokrin dimulai. Fase ini dinamakan Laktogenesis III.

Laktogenesis III Lanjutan Pada tahap ini, apabila ASI banyak dikeluarkan, payudara akan memproduksi ASI dengan banyak pula. Penelitian berkesimpulan bahwa apabila payudara dikosongkan secara menyeluruh juga akan meningkatkan taraf produksi ASI. Dengan demikian, produksi ASI sangat dipengaruhi seberapa sering dan seberapa baik bayi menghisap, dan juga seberapa sering payudara dikosongkan.

Alat yang Memiliki Karakteristik Konsep Otomasi1. Mesin Press Type Hidrolik (Hydraulic Press Machine)

a. Merk dan Spesifikasi Alat Merk : BMI Type : MP-5b No. Test Report : LB.620/B4.BPMA/001/MSN.PRESS.NAK/IX/08 Tanggal : 10 September 2008 Unit Keseluruhan Panjang : 930 mm Lebar : 750 mm Tinggi : 2.100 mm Berat : 64 kg

Merk dan Spesifikasi Alat Lanjutan. Unit Pengepres Bentuk atas : tuas silinder pejal (pipa) Dimensi : 90 mm; P : 900 cm Bentuk bawah / dasar : plat besi persegi Dimensi : 570 x 690 mm Tebal plat : 6 mm, 12 mm (pelapis pinggir) Penyangga : 2 buah pipa besi Dimensi : 90 mm; P : 980 cm

Merk dan Spesifikasi Alat Lanjutan. Ruang Pengepres Bentuk : kotak persegi Dimensi : 590 x 700 x 590 mm Tebal plat : 6 mm, 12 mm (pelapis pinggir) Pintu Pengeluaran Letak : sisi kanan dan Kiri ruang pengepresan Dimensi : 693 x 590 mm Tebal plat : 6 mm, 12 mm (pelapis pinggir)

Merk dan Spesifikasi Alat Lanjutan. Rangka Rangka atas : 50 x 100 mm Tebal : 5 mm Rangka bawah : 50 x 100 mm Tebal : 7 mm Sistem Hidrolik Diameter pulley : 75 mm (2 alur); V-belt B-60 Kotak hidrolik : 550 mm x 440 mm Tinggi : 335 mm Diameter selang in : 21 mm Diameter selang out : 18 mm Dudukan motor & pompa : 1.400 x 850 x 570 mm

Merk dan Spesifikasi Alat Lanjutan. Sistem Hidrolik Tinggi : 335 mm Diameter selang in : 21 mm Diameter selang out : 18 mm Dudukan motor & pompa : 1.400 x 850 x 570 mm

Merk dan Spesifikasi Alat Lanjutan. Motor Penggerak Diesel Solar 6,6-12 HP 2.600 rpm, yang dilengkapi dengan selang oli serta pengukur tekanan pada tabung hidrolis Kapasitas Input : 146,18 kg/jam Ukuran : Panjang : 930 mm; Lebar : 750 mm;Tinggi : 2100 mm; Berat : 64 Kg

Merk dan Spesifikasi Alat Lanjutan.

b. Fungsi/Kegunaan : 1. Untuk mengepress benda-benda yang akan dibuat secara kontinue dengan bantuan alat-alat pencetak, misalnya tutup gelas, panci, sendok dll. 2. Mengepress biji-bijian yang berminyak. Bahan :Tabung hidrolis, rangka besi MS (Plat besi), cetakan dari baja sesuai keperluan ( dari Bhler).

Merk dan Spesifikasi Alat Lanjutan. c. Konsep Otomasi Alat : Alat ini tidak memelukan aliran listrik. Hasilnya bisa disesuaikan dengan cetakan. Tingkat presisi alat ini sangat tinggi karena dilengkapi dengan logam mutu tinggi. Alat ini dapat langsung bekerja setelah dilakukan set pada mesinnya.

d. Block Diagram Sistem Otomasi Alat

e. Prinsip Kerja : Setelah benda kerja disiapkan ke dalam cetakan, mesin mulai dihidupkan, benda kerja diletakkan di atas meja kerja. Katup penekan di buka maka akan menekan benda yang telah diletakkan dalam cetakan. Setelah itu katup penekan ditutup lagi, tuas penekan akan naik lalu cetakan ditarik dan diambil benda kerjanya demikian proses ini dilakukan secara berulang-ulang.

2. Hand Sealer

a. Merk dan Spesifikasi Alat Merek : Tipe PCS200A Spesifikasi : Tipe : Aluminum body Model Impulse Power : 300W Seal Length : 200mm Seal Width : 2mm Machine Weight : 2.7kg

b. Fungsi alat Alat ini digunakan untuk mengemas aneka produk ke dalam kemasan plastik c. Konsep Otomasi pada Alat Alat ini dapat menggantikan fungsi dari lilin yang digunakan secara manual untuk mengemas produk ke dalam plastik. Dengan hand sealer ini dapat secara otomatis mengemas aneka produk ke dalam kemasan plastik. Konsep otomasi terutama ditunjukkan oleh kecepatan dan panas yang terdapat pada hand sealer dalam mengemas produk ke dalam plastik.

d. Block Diagram Sistem Otomasi

e. Prinsip Kerja Sistem Otomasi Alat Suatu produk dimasukkan ke dalam kemasan plastik. Kemudian masukkan sebagian dari ukuran plastik tersebut ke dalam hand sealer. Kemudian arahkan tungkai ke plastik tersebut, sehingga kecepatan dan panas dari hand sealer tersebut dapat merekatkan plastik tersebut. Jika kemasan plastik tidak merekat maka ada kesalahan pada saat menggerakkan tungkai hand sealer tersebut.