Field workstudy report

  • View
    805

  • Download
    1

Embed Size (px)

Transcript

  • LAPORAN PELAKSANAAN

    KULIAH KERJA LAPANGAN (KKL)

    Pada Sub Kepaniteraan Perdata

    Pengadilan Negeri Bogor

    Oleh:

    ANNISSA APRILIA FITRIANI

    010108179

    Bagian H.T.N., H.A.N., H.I.

    dan Hukum Acara Administrasi Negara

    Konsentrasi Hukum Pemerintahan

    Di bawah bimbingan :

    Agus Satory, S.H., M.H.

    FAKULTAS HUKUMUNIVERSITAS PAKUAN

    BOGOR2011

  • LEMBAR PENGESAHAN

    LAPORAN PELAKSANAAN KULIAH KERJA LAPANGAN (KKL)

    Tentang

    Sub Kepaniteraan Perdata Pengadilan Negeri Bogor

    Menyetujui :

    Panitera Muda Perdata Dosen Pembimbing

    Pengadilan Negeri Bogor

    (Noverini, S.H.) (Agus Satory, S.H., M.H.)

    NIP. 220000969

    Mengetahui :

    Dekan Fakultas Hukum

    Universitas Pakuan

    (Dr. Sri Utari, S.H., M.H.)

  • BAB I

    PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang Pemilihan Tempat Kuliah Kerja Lapangan (KKL)

    Negara Indonesia berdasarkan atas hukum (Rechstaat) tidak berdasar

    kekuasaan belaka (Machstaat). Ini mengandung arti bahwa negara termasuk di

    dalamnya pemerintah dan lembaga-lembaga negara yang lain dalam

    melaksanakan tindakan-tindakannya harus dilandasi oleh hukum, atau harus

    dapat dipertanggungjawabkan secara hukum. Prinsip dari sistem ini merupakan

    pelaksanaan dari pokok-pokok pikiran yang terkandung dalam Pembukaan

    Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, yang

    diwujudkan dalam peraturan-peraturan hukum tertulis dan hukum yang tidak

    tertulis.1

    Bila dihubungkan dengan kenyataan sekarang ini banyak pendapat yang

    menyatakan bahwa pembangunan bathiniah, khususnya di bidang hukum

    keadaannya semakin memprihatinkan dan semakin terpuruk. Pelanggaran hukum

    dan pelecehan hukum terjadi dimana-mana, kewibawaan hukum dan kepatuhan

    kepada hukum makin jauh dari kenyataan, apalagi bila dihubungkan dengan

    keadaan yang akan kita hadapi bersama yaitu dalam proses globalisasi yang akan

    menyebabkan masuknya pranata-pranata hukum baru, khususnya Hukum

    1 Departemen Kehakiman R.I., Undang-Undang Dasar 1945 dan Undang-Undang Nomor 14

    Tahun 1970, (Jakarta: Ditjenkumdang, 1984), hal. 17.

  • Ekonomi / Business Law ke Indonesia, hal mana tidak dapat dielakkan karena

    merupakan suatu kebutuhan.

    Kesemua fakta-fakta tersebut menunjukkan semakin pentingnya peranan

    hukum khususnya peranan badan peradilan pada masa sekarang dan masa yang

    akan datang yang merupakan suatu tantangan yang harus dihadapi oleh pihak-

    pihak yang bergelut dibidang hukum, apakah dapat mengimbangi atau akan

    tertinggal dari perkembangan dunia dewasa ini khususnya dibidang hukum.

    Konsekuensi dari tantangan tantangan itu semua adalah salah satunya diperlukan

    persiapan-persiapan dan kesiapan dari sumber daya manusia dibidang hukum itu

    sendiri yaitu diperlukan kegiatan-kegiatan untuk meningkatkan dan

    memantapkan kedudukan dari badan-badan peradilan di Indonesia pada masa

    kini dan masa yang akan datang.

    Berangkat dari hal-hal tersebut di atas, maka penulis mencoba untuk

    mengetahui secara langsung dan menganalisis masalah-masalah yang

    berhubungan dengan seluk beluk dan praktik-praktik badan peradilan, khususnya

    peradilan umum, untuk dijadikan latar belakang Kuliah Kerja Lapangan bagi

    penulis sesuai dengan bidang ilmu yang sedang digeluti oleh penulis.

    Pengadilan Negeri Bogor adalah salah satu lembaga peradilan sebagai

    pelaksana kekuasaan kehakiman yang bertugas menyelenggarakan peradilan

    guna menegakkan hukum dan keadilan berdasarkan Pancasila yang berwenang

    memeriksa memutus dan menyelesaikan setiap perkara yang diajukan kepadanya

  • sesuai dengan kewenangannya. Dalam rangka penegakan hukum dan keadilan

    yang memberikan pengayoman kepada para justitiabelen Pengadilan Negeri

    merupakan tumpuan pertama dalam menyelesaikan setiap sengketa hukum, baik

    sengketa hukum antara sesama warganegara atau badan hukum ataupun antara

    warganegara dengan penguasa, maka sesuai dengan sistem negara hukum yang

    kita anut seperti yang tercantum dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik

    Indonesia Tahun 1945 maka apabila ditempuh proses penegakan hukum melalui

    peradilan, hal ini menyangkut dan ikut berperannya profesi penegak hukum dan

    pelaksanaan dari peraturan-peraturan hukum yang berlaku.2

    Dari hal-hal tersebut di atas maka penulis mencoba untuk mengetahui

    secara langsung dan menganalisis masalah-masalah yang berhubungan dengan

    seluk beluk dan praktik-praktik badan peradilan, khususnya peradilan umum,

    yang dalam hal ini penulis memilih tempat di Pengadilan Negeri Bogor sebagai

    salah satu lingkungan peradilan yang termaksud dalam Pasal 18 Undang-Undang

    Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman, serta dalam hal-hal yang

    erat kaitannya dengan bidang disiplin ilmu yang diselenggarakan di Fakultas

    Hukum Universitas Pakuan Bogor yang menuntut peningkatan profesionalisme

    mahasiswa untuk mengetahui dan mengenal langsung praktek-praktek yang yang

    ada dalam sistem lembaga hukum, khususnya dalam hal ini lembaga peradilan

    umum yang ada di Pengadilan Negeri Bogor.

    2 H.R.Purwoto S. Gandasubrata, Renungan Hukum, (Jakarta: Ikahi, 1998), hal .65.

  • B. Dasar Hukum

    Hukum itu hidup, dinamis, bergerak serasi dengan perubahan-perubahan

    yang terjadi dalam masyarakat, hal ini sejalan dengan istilah dalam hukum ibi

    ius ubi societas maka di dalam lapangan hukum antara hukum yang sedang

    berlaku dengan masa yang lampau erat sekali hubungannya.3 Bahwa eratnya

    hubungan hukum yang lampau dengan hukum yang berlaku sekarang tampak

    dengan adanya aturan ketentuan peralihan pada hampir setiap perubahan

    peraturan atau atau pada isi konsideran daripada peraturan baru tersebut.

    Hal di atas berlaku pula pada dasar hukum badan peradilan yang terdapat

    di Indonesia, yaitu terlihat dalam Pasal II Aturan Peralihan Undang-Undang

    Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Ketentuan yang berhubungan

    dengan peradilan di Indonesia sejak proklamasi terdapat dalam Undang-Undang

    Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Bab IX Tentang Kekuasaan

    Kehakiman yang terdiri dari dua pasal, yaitu Pasal 24 dan Pasal 25. Selanjutnya

    tidak boleh dilupakan Aturan Peralihan Undang-Undang Dasar Negara Republik

    Indonesia Tahun 1945, Pasal II yang berbunyi segala badan negara dan peraturan

    yang ada masih langsung berlaku selama belum diadakan yang baru menurut

    undang-undang dasar ini.

    3 Sudikno Mertokusumo, Sejarah Peradilan dan Perundang-undangannya di Indonesia Sejak

    1942 dan Apakah Kemanpaatannya Bagi Kita Bangsa Indonesia, (Disertasi Doktor Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, 1971), hal. 6.

  • Tentang susunan, kekuasaan serta acara pada badan peradilan di zaman

    Republik Indonesia secara garis besar sama dengan susunan, kekuasaan, serta

    acara dari pada badan-badan pengadilan di zaman pendudukan Jepang, yaitu

    seperti yang tercantum dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1942 dan

    Undang-Undang Nomor 34 Tahun 1945.4 Berbagai undang-undang yang

    mengatur tentang kedudukan, peranan, tugas, dan wewenang aparatur hukum

    dewasa ini telah ditetapkan sebagai berikut: Undang-Undang Nomor 3 Tahun

    2009 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985

    tentang Mahkamah Agung, Undang-Undang Nomor 49 Tahun 2009 tentang

    Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1986 tentang Peradilan

    Umum, Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua Atas

    Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara,

    Undang-Undang Nomor 50 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-

    Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama dan Undang-Undang

    Nomor 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan Republik Indonesia. dan Undang-

    Undang Nomor 9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian.

    Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua Atas

    Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung menyatakan

    bahwa Mahkamah Agung adalah Pengadilan tertinggi dari semua Lingkungan

    4 Ibid., hal. 4.

  • Peradilan5. Dalam Pasal 18 dari Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang

    Kekuasaan Kehakiman disebut bahwa Kekuasaan Kehakiman dilakukan oleh

    Pengadilan dalam Lingkungan:

    a) Peradilan Umum;

    b) Peradilan Agama;

    c) Peradilan Militer;

    d) Peradilan Tata Usaha Negara

    e) Mahkamah Konstitusi;6

    Dasar Hukum Pengadilan Negeri sebagai salah satu Peradilan Umum

    Tingkat Pertama diatur dalam Undang-Undang sebagai berikut:

    1. Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua Atas

    Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung.

    2. Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman.

    3. Undang-Undang Nomor 49 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua Atas

    Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1986 tentang Peradilan Umum.

    4. Keputusan Ketua Mahkamah Agung R.I Nomor KMA/009/SK/II/2004

    Tentang Organisasi dan Tata Kerja Kepaniteraan Pengadilan Tinggi dan

    Pengadilan Negeri.

    5 Indonesia (1), Undang-Undang tentang Mahkamah Agung, UU Nomor 3 Tahun 2009, LN

    No.3 Tahun 2009, TLN No. 4958, ps. 2.6 Indonesia (2)